All posts by BBG Al Ilmu

Yang Baik Banyak Kenapa Pilih Yang Buruk ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di dunia ini banyak terjadi keanehan, jikalau anda pikirkan, niscaya pusing kepala anda. Betapa banyak orang yang dengan sengaja mencelakakan diri sendiri, ibarat ” kutuk marani sunduk” (ikan tabus mendatangi tusuk). Betapa banyak orang yang sadar merokok itu buruk, menyebabkan banyak penyakit, uang dibakar dan bau mulut serta badan menjadi hiii, gitu, namun demikian banya yang bangga merokok dan “sombong” sehingga enggan berhenti.

Mengapa “sombong”, karena banyak dari mereka merasa “anti” alias kebal dari berbagai penyakit tersebut, bahkan tidak peduli dengan ancaman yang ia tebar melalui asap rokoknya kepada orang lain.

Betapa banyak orang yang memilih tindakan ceroboh nan berbahaya, semisal mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi, melanggar rambu lalu lintas dan tidak berhelem lagi. Seakan kepalanya “anti” terhadap kerasnya aspal jalanan, atau paling kurang memiliki kulit yang “anti gores” atau bahkan merasa punya “nyawa serep”, apalagi mengira dirinya “dijamin masuk surga”.

Ada pula orang orang yang memilih makanan atau minuman haram, dan sarat dengan resiko berat, semisal daging babi, darah ular, ganja, dan bahkan pil “koplo”, daripada makanan makanan uuuenak nan halal lagi.

Ada lagi orang orang yang memilih nama atau sebutan buruk, semisal : gentolet, cuk, gile, rawon setan, bakso bledek, getuk ketek, dari pada menyebutnya dengan kata: saudara atau antum atau sebutan baik lainnya.

Betapa banyak orang yang dengan bangga meniru perilaku hewan semisal: anjing kencing, monyet mabuk, nyengir kuda dan ucapan lainnya, dan masih banyak lagi.

Apa susahnya bagi kita apalagi bila kita menyadari bahwa kita adalah ummat islam, dan mengaku sebagai pengikut Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Agama kita mengajarkan kesantunan dalam segala hal, termasuk ketika membuat sebutan, panggilan nama, membuat ilustrasi dan lainnya.

Segala hal yang baik sepatutnya disebut dengan sebutan dan nama yang baik pula. Dan kalaupun harus membuat ilustrasi agar lebih memudahkan ingatan atau pemahaman, maka buatlah ilustrasi yang baik pula.

Sebutan dan gambaran yang buruk hanya pantas digunakan untuk menyebut dan menggambarkan kejelekan pula. Demikianlah dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita melalui sabda beliau berikut ini:

العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ، لَيْسَ لَنَا مَثَلُالسَّوْءِ»

“Orang yang menarik kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang memakan kembali muntahan yang keluar dari perutnya. Tidak pantas bagi kita ( ummat Islam ) untuk memiliki sifat atau diperumpamakan dengan sesuatu yang buruk (hina).” ( Bukhari).

imam Ibnu Hajar al Asqalany menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan bahwa menarik kembali hibah yang telah diserah terimakan adalah perbuatan tercela dan haram, sama buruk dan menjijikan dengan perilaku anjing yang dikenal sebagai hewan paling serakah ( ambisi) yang selalu menjulurkan lidahnya. Akibat dari ambisi dan keserakahan anjing menjadikannya senang melahap kembali muntahan yang telah keluar dari perutnya.

Yaa Allah… mudahkanlah hisabku…

Untuk download dp ukuran BBM, klik :

http://pic.twitter.com/FgY54LtpPz

Berkata ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ في بعض صلاته

Aku mendengar Rasulullah berdo’a dalam sebagian shalatnya :

يَا رَسُولَ اللَّهِ , مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ ؟ فَقَالَ : ” هُوَ أَنْ يَنْظُرَ فِي سَيِّئَاتِهِ فَيَتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهَا , فَإِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ فَقَدْ هَلَكَ , وَمَا أَصَابَ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَكْبَةٍ إِلا كَفَّرَ بِهَا عَنْهُ مِنْ سَيِّئَاتِهِ , حَتَّى الشَّوْكَةِ يَشُوكُهُ

Wahai Rasulallah, apa itu hisab yang mudah? Rasulullah bersabda: Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa seorang MUKMIN (yang ia bersabar pada musibah tersebut), maka Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.”

(Diriwayatkan Ahmad, shahiih dengan syarat Muslim; disepakati adz Dzahabi)

Tidak Cukup Niatan Baik Dalam Beramal

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Amal itu bukan hanya perlu niatan baik, namun juga harus sesuai dengan petunjuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Fudhail bin Iyadh ditanya apa yang dimaksud amalan yang ikhlas dan benar?

Beliau jawab:

إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل حتى يكون خالصا وصوابا فالخالص أن يكون لله والصواب أن يكون على السنة

Yang namanya amalan jika niatannya ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Sama halnya jika amalan tersebut benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Amalan tersebut barulah diterima jika ikhlas dan benar. Yang namanya ikhlas, berarti niatannya untuk menggapai ridho Allah saja. Sedangkan disebut benar jika sesuai dengan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jamiul Ulum wal Hikam)

Jadi tidak cukup niatan baik ketika beramal, namun juga harus mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bersholawat

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala’ Rosulillah, wa ba’du;

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Pertama kali yang akan di putuskan perkara seorang anak cucu adam adalah urusan darah.”

Diriwayatkan oleh sahabat muliya, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan sholawat kepadaku sekali, niscaya Allah Ta’ala mendoakan kepada orang tersebut sepuluh kali.” (HR.Muslim).

Berkata Ibnul Aroby, Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman, “Barang siapa yang datang membawa satu kebajikan maka baginya sepuluh kali lipat semisalnya.” (QS.Al-‘An’am: 160).
Di dalam ayat muliya ini diterangkan, bahwa siapa saja yang berbuat kebaikan sekali, ia akan mendapat sepuluh kali lipat balasan dari Allah Ta’ala. Demikian pula mengucapkan Sholawat untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sekali maka baginya mendapat sholawat atau do’a dari Allah Azza wa Jalla sepuluh kali. Dan do’a dari Allah adalah jauh lebih baik dan muliya dari hanya sekedar satu pahala kebajikan.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang betebaran di muka bumi yang menyampaikan salam kepadaku dari para umatku.” (HR.Ahmad dan Nasa’i).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari terbaik bagi kalian adalah hari Jum’ah, hari tersebut diciptakan Adam, di hari itu ia diwafatkan, di hari itu ditiup sangkakala, dan manusia dibangkitkan, maka perbanyaklah bersholawat kepadaku, sesungguhnya sholawat kalian dihantarkan kehadapanku.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dihantarkan ke hadapanmu sedang engkau sudah menjadi tanah?” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi.” (HR.Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Seikhlas Buang Air Besar (Sekilas Nampak Cerdas Namun Ternyata Kejam)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Dalam banyak kesempatan bisa jadi anda berpikir pintas dan bertindak ceroboh. Akibatnya, di kemudian hari anda menyesali ucapan dan sikap anda. Terlebih setelah anda terbentur dan menyadari konsekwensi ucapan atau silap anda.

Imam Al Hasan Al Bashri mengisahkan:

” كَانُوا يَقُولُونَ إِنَّ لِسَانَ الْحَكِيمِ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِهِ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُولَ رَجَعَ إِلَى قَلْبِهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ قَالَ ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ . وَإِنَّ الْجَاهِلَ قَلْبُهُ عَلَى طَرْفِ لِسَانِهِ ، لَا يَرْجِعُ إِلَى قَلْبِهِ ، مَا أَتَى عَلَى لِسَانِهِ تَكَلَّمَ ” .

“Dahulu orang orang bijak/ ulamak berkata: sesungghnya lisan orang bijak selalu diposisikan di belakang akalnya, sehingga setiap hendak berkata sesuatu, terlebih dahulu ia memikirkannya. Bila ia merasa ucapan itu bermanfaat baginya maka ia mengucapkannya, namun bila ia anggap dapat merugikannya, maka ia menahan dirinya.

Sedangkan orang pandir, akal pikirannya seakan berada di ujung lisannya. Sehingga ia tidak pernah memikirkan ucapannya (ceroboh), apapun yang ingin ia ucapkan maka spontan ia ucapkan.”

Diantara ucapan ceroboh ialah perkataan: gambaran orang ikhlas bagaikan orang yang buang air besar atau air kecil, tidak pernah ada pamrih atau keberatan, benar-benar direlakan, bahkan kalaupun harus bayar untuk dapat BAB atau BAK maka andapun rela membayar.

Sekilas ilustrasi ini baik namun bila dipikirkan baik baik ini adalah gambaran keji yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang beriman.

BAB atau BAK anda lakukan karena anda sadar itu adalah sampah dan anda terganggu dengan keduanya sehingga andapun rela membuangnya, kalaupun tidak ada yang tahu anda tidak lagi sudi menyimpannya apalagi memanfaatkannya lagi.

Sedangkan ibadah, sedekah dan amal kebaikan lainnya maka bukan sampah yang anda berikan atau anda lakukan, namun harta yang paling bagus atau minimal bagus dan anda menyayanginya.

Harta yang anda cintailah yang anda sedekahkan dan amal kebaikan yang anda lakukan. Andai bukan karena mengharap balasan dari Allah niscaya anda tidak rela memberikannya, dan dengan senang menyimpannya. Demikianlah gambaran sedekah yang anda salurkan dengan ikhlas. Allah Taala berfirman:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kalian tidaklah dapat mencapai derajat kebajikan hingga kalian rela menginfakkan sebagian harta yang kalian sayangi. Dan tidaklah ada harta sedikitpun yang engkau infakkan melainkan Allah pasti mengetahuinya (dan membalasnya).” ( Ali Imran 92 )

Dan pada ayat lain Allah mencela orang yang hanya menginfakkan harta yang telah rusak atau cacat sehingga pemiliknya saja risih untuk melihat atau memilikinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Wahai orang orang yang beriman, infakkanlah sebagian harta yang baik dari yang kalian peroleh dan dari sebagian dari yang Kami keluarkan dari perut bumi untuk kalian. Janganlah engkau sengaja memilih harta yang buruk lalu darinya kalian berinfak, padahal kalian tidak lagi sudi mengambilnya kecuali dalam kondisi memercingkan mata (risih). Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” ( Al Baqarah 267 )

Perbaiki Cara Pandang

Sahabatilmu.

Keliru dalam cara memandang sesuatu, akan menjadikan kita salah dalam melangkah.

A. Dunia Ke Bawah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Apabila seseorang dari kalian melihat orang yang dilebihkan dalam harta dan bentuk tubuh,

Maka hendaklah ia memandang orang yang berada di bawahnya…” (HR. Bukhari: 6490)

Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya,

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam harta dan dunia) dan janganlah engkau melihat orang yang berada di atasmu.

Demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu…” (HR. al-Bukhari: 6490, Muslim: 2963)

B. Akhirat Ke Atas.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad melainkan kepada dua orang:

1. Seorang yang dikaruniakan Allah harta, lalu ia membelanjakannya dalam kebajikan.

2. Seorang yang Allah beri ilmu, maka ia memutuskan perkara dengan ilmu itu dan mengajarkannya..” (HR. Al-Bukhari: 73, Muslim: 816)

Pandanglah ke bawah dalam urusan dunia, agar kita bisa bersyukur…

Lihatlah ke atas dalam perkara akhirat, supaya kita tetap semangat…

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam urusan dunia, maka kalahkan ia dalam perkara akhirat…”

Sudah siap…?

Do’a setelah tasyaahud akhir dan sebelum salam… yuk kita hafalkan dan amalkan…

Untuk download dp ukuran BBM, klik :

http://pic.twitter.com/Ydq0bMimVb

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :

“Jika salah seorang di antara kalian (duduk) tasyahud, maka hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Yaitu dia berdoa: “ALLAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA, WAMIN ‘ADZAABIL QABRI, WAMIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAATi, WAMIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAL (Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masih Dajjal).” (HR. Muslim)