All posts by BBG Al Ilmu

Apakah Ikhlas Berarti Tidak Boleh Mengharap Pahala Dan Surga?

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat dan yang berhak disembah. Shalawat dan salam kepada penutup para Nabi, yaitu Nabi Muhammad, istri-istri beliau, keluarga, para sahabat yang berjuang keras membela Islam dan setiap orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga akhir zaman.

Sebagian ulama dan ahli ibadah punya keyakinan bahwa jika seseorang beribadah dan mengharap-harap balasan akhirat yang Allah janjikan maka ini akan mencacati keikhlasannya. Walaupun mereka tidak menyatakan batalnya amalan karena maksud semacam ini, namun mereka membenci jika seseorang punya maksud demikian.

 

Mereka pun mengatakan, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Perkataan ini juga dikemukakan oleh Robi’ah Al ‘Adawiyah, Imam Al Ghozali dan Syaikhul Islam Ismail Al Harowi.1 Di antara perkataan Robi’ah Al Adawiyah dalam bait syairnya, “Aku sama sekali tidak mengharap surga dan takut pada neraka (sebagai balasan ibadah). Dan aku tidak mengharap rasa cintaku ini sebagai pengganti.

Jadi intinya mereka bermaksud mengatakan bahwa janganlah seseorang beramal karena ingin mengharap pahala, mengharap balasan di sisi Allah, ingin mengharap surga atau takut pada siksa neraka. Ini namanya tidak ikhlas.

Namun jika kita perhatikan kembali pada Al Qur’an dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh pendapat mereka-mereka jauh dari kebenaran. Berikut beberapa buktinya. Semoga Allah memberikan kepahaman.

Allah Memerintahkan untuk Berlomba Meraih Kenikmatan di Surga

Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al Muthaffifin, Allah Ta’ala pun memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya,

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. ” (QS. Al Muthaffifin: 26)

Dalam Al Qur’an pun Disebutkan Balasan dari Suatu Amalan

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا (108)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (QS. Al Kahfi: 107-108)

Al Qur’an Memberi Kabar Gembira dan Peringatan

Allah Ta’ala berfirman,

قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

Al Qur’an sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.” (QS. Al Kahfi: 2)

Sifat Orang Beriman, Beribadah dengan Khouf (Takut) dan Roja’ (Harap)

Allah Ta’ala berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ” (QS. Al Israa’: 57)

Sifat ‘Ibadurrahman Berlindung dari Siksa Neraka

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. ” (QS. Al Furqon: 65)

Sifat Ulil Albab juga Berlindung dari Siksa Neraka

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194)

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” ” (QS. Ali Imron: 191-194)

Malaikat pun Meminta pada Allah Surga

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan keadaan para malaikat, beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,

فَمَا يَسْأَلُونِى قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ

Apa yang para malaikat mohon pada-Ku?” “Mereka memohon pada-Mu surga,” sabda beliau.
Lihatlah malaikat pun meminta pada Allah surga, padahal mereka adalah seutama-utamanya wali Allah. Sifat-sifat para malaikat adalah,

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Malaikat-malaikat itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Asiyah, istri Fir’aun yang Beriman Meminta Rumah di Surga

Allah Ta’ala berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. ” (QS. At Tahrim: 11). Padahal Asiyah lebih utama dari Robi’ah Al Adawiyah, namun ia pun masih meminta pada Allah surga.

Para Nabi Beribadah dengan Roghbah (Harap) dan Rohaba (Cemas/Takut)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. ” (QS. Al Anbiya’: 90)2

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun Meminta Surga

Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim -kholilullah/ kekasih Allah-,

وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85) وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (86) وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ

Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy Syu’ara: 85-87)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun Meminta Surga

Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, “Do’a apa yang engkau baca di dalam shalat?”

أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ

“Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan ‘Allahumma inni as-alukal jannah wa a’udzu bika minannar‘ (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu’adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).”3

Nabi Menyuruh Meminta Tempat yang Mulia untuknya di Surga

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.”4
Yang dimaksud dengan wasilah adalah kedudukan tinggi di surga. Sebagaimana terdapat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الوَسِيْلَةَ دَرَجَةٌ عِنْدَ اللهِ لَيْسَ فَوْقَهَا دَرَجَةٌ فَسَلُّوْا اللهَ أَنْ يُؤْتِيَنِي الوَسِيْلَةَ عَلَى خَلْقِهِ

Sesungguhnya wasilah adalah kedudukan (derajat yang mulia) di sisi Allah. Tidak ada lagi kedudukan yang mulia di atasnya. Maka mintalah pada Allah agar memberiku wasilah di antara hamba-Nya yang lain.5

Setelah Kita Menyaksikan

Setelah kita melihat sendiri dan menyaksikan dengan seksama berbagai ayat al Qur’an dan riwayat hadits yang telah kami kemukakan di atas, ini menunjukkan bahwa seluruh ajaran agama ini mengajak setiap hamba untuk mencari surga dan berlindung dari neraka-Nya. Dalil-dalil tersebut juga menunjukkan bahwa para rasul, para nabi, para shidiq, para syuhada’, para malaikat dan para wali Allah yang mulai, mereka semua beramal karena ingin meraih surga dan takut akan siksa neraka. Mereka adalah hamba Allah terbaik, lantas pantaskah mereka disebut pekerja yang jelek?!
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ

“Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).”6

Salah Paham dengan Kenikmatan di Surga dan Siksa Neraka

Mengenai perkataan sebagian sufi,

لَمْ أَعْبُدْكَ شَوْقًا إلَى جَنَّتِكَ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِكَ

Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan nikmat surga-Mu dan takut pada siksa neraka-Mu”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban,

“Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.”7

Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ».

“Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta’ala pun mengatakan pada mereka, “Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian?” “Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?”, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka ‘azza wa jalla.8

Siksaan di neraka yang paling berat adalah karena tidak memperoleh nikmat yang besar ini yaitu melihat Allah Ta’ala. Orang-orang kafir tidak merasakan melihat wajah Allah yang merupakan nikmat terbesar yang diperoleh oleh penduduk surga. Inilah kerugian dan siksaan bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari melihat wajah Tuhan mereka. ” (QS. Al Muthaffifin: 15). Imam Syafi’i berdalil dengan mafhum (makna tersirat) ayat ini,

هذه الآية دليل على أن المؤمنين يرونه عز وجل يومئذ

“Ayat ini adalah dalil bahwa orang-0rang beriman akan melihat Allah ‘azza wa jalla pada hari itu (hari kiamat).”9

Inilah pikiran picik yang membatasi kenikmatan di surga hanya dengan merasakan berbagai nikmat, seperti sungai, bidadari, buah-buahan, namun ada nikmat yang lebih daripada itu yaitu nikmat melihat Allah Ta’ala.

Kesimpulan

Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas.
Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita keikhlasan dalam beramal, harapan yang kuat untuk meraih surga-Nya dan rasa takut akan siksa neraka-Nya.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.com
Disempurnakan di Pangukan-Sleman, 26 Muharram 1431 H

Footnote:
1 Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Dr. Sayid bin Husain Al ‘Afani, hal. 365-366, Darul ‘Affani, 1421 H. [Pembahasan selanjutnya banyak kami ambil faedah dari kitab ini]
2 Ada dua tafsiran mengenai surat Al Anbiya’ ayat 90. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Zakariya dan istrinya. Ada pula sebagian ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah semua nabi yang disebutkan dalam surat Al Anbiya’. Lihat penjelasan Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir ketika menjelaskan surat ini.
3 HR. Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih wa Dhoif Sunan Abu Daud no. 792.
4 HR. Muslim no. 875
5 HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Awsoth. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Fadhlu Sholah ‘alan Nabi no. 49
6 Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 10/701, Darul Wafa’,cetakan ketiga, 1426 H
7 Majmu’ Al Fatawa, 10/240-241.
8 HR. Muslim no. 181.
9 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 14/287, Muassasah Qurthubah

1312. Menyemir Rambut Uban

1312. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, mau tanya, apa hukumnya mencat rambut yang sudah beruban, ini merupakan pertanyaan dari akhwat yang ingin tampil baik didepan suaminya.

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.
Merubah warna rambut yang sudah putih, dibolehkan selagi bukan dengan warna hitam, akan tetapi dengan warna coklat, merah, dan semisalnya. Karena terdapat larangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist sohih tentang larangan mewarnai rambut dengan warna hitam.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1311. Mencukur Janggut Karena Peraturan Institusi

1311. BBG Al Ilmu – 349

Tanya :
Uztadz, seperti kami yang berprofesi sebagai abdi negara memiliki aturan untuk tidak bisa memelihara jenggot. Sedangkan dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa tidak ada ketaatan dalam berbuat maksiat, yang ada hanya taat dalam berbuat kebaikan. Tapi di satu sisi mencukur jenggot adalah perintah pimpinan, yang juga di dalam Islam diharuskan untuk kita taat kepada ulil amri. Mohon solusinya uztadz.

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إنما الطاعة في المعروف “.

“sesungguhnya ketaatan hanyalah didalam kebajikan.”

Hadis ini sangat jelas dan tegas bahwa taat itu hanya dalam perkara yang baik, seperti halnya digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist lain, tatkala seorang pemimpin memerintahkan rakyat nya untuk memasuki kobaran api menjerumuskan diri dengan membakar tubuhnya, maka hal semacam ini dilarang untuk di ikuti.

Dengan demikian hendaknya mendahulukan taat kepada Allah Ta’ala dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai mana ini adalah iman, dengan mengutamakan Allah Ta’ala dan Rosulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

والله أعلم بالصواب

1310. Menyewakan Ruko Untuk Bank/Minimarket Yang Menjual Rokok

1310. BBG Al Ilmu – 307

Tanya :
Bolehkah menyewakan ruko untuk bank konvensional/bank syariah/mini market (yang juga menjual rokok) ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Menyewakan ruang untuk bank yang jelas menjalankan riba tidak dibolehkan. Hendaknya menyewakan kepada pihak yang lebih aman untuk akhirat nya, jika untuk toko yang menjual segala keperluan dan disana menyediakan rokok, maka ini lebih ringan dari pada disewa oleh pihak bank. Dan jika ada yang lebih baik maka berikan kepada yang lebih baik.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Deteksi Diri Anda…

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia :

– Jika dia mendapat kenikmatan maka sesak dada anda

– Jika ia dipuji orang lain maka anda tidak suka

– Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain, serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda

– Jika dia dijatuhkan atau dighibahi di hadapan anda, maka berat bagi anda untuk membelanya

Solusi :

– Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang

– Usahakan memuji dia, paksakan diri anda melawan nafsu hasad

– Kalau perlu kunjungi rumahnya dan bawakan hadiah buat dia

– Ingat bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya, sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya, justru andalah yang tersiksa !!, merana..!!

Tahukah Anda…?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

1. Hajar Aswad pernah dicongkel dan dibawa pergi ke daerah Qatif ( pesisir teluk Arab) selama beberapa tahun?

2. Pembantaian keji terhadap jamaah haji dan mayatnya banyak yang dikuburkan di dalam sumur ZAM ZAM, tempat thawaf dan antara Shof dan Marwah?

3. Meledakkan beberapa bom di sekitar Masjid Al Haram pada musim haji, sehingga banyak menelan korban dari jamaah haji?

4. Menyemprotkan gas beracun di terowongan Mina, sehingga menewaskan banyak jamaah haji?

Tahukah saudara, siapa yang pernah melakukan kejahatan keji semacam ini? Kejahatan yang tidak pernah dipikirkan apalagi dilakukan oleh Yahudi, Nasrani atau Kelompok kafir lainnya ?

Itulah sebagian kekejaman penganut Syi’ah alias Rafidhah.

Dan tahukah anda, mengapa mereka melakukan semua itu?

Jawabannya sederhana, karena mereka sedang mempersiapkan kebangkitan tokoh fiktif “imam mahdi mereka”, yang salah satu misinya ialah memindahkan hajar aswad dari Ka’bah di Mekkah ke ka’bah syi’ah di Kufah – Iraq.

Dan ka’bah syi’ah itu kini benar benar telah mereka bangun dan mereka telah memobilisasi pengikutnya untuk “berhaji” ke sana.

Apapun Keadaannya

1. Kebanyakan orang maunya sesukanya, mereka hanya memikirkan apa menguntungkan mereka.. Sayangilah mereka apapun keadaannya..!

2. Jika Anda berbuat baik, akan Ada yang menuduh bahwa Anda menyembunyikan ambisi pribadi.. Berbuat baiklah apapun keadaannya..!

3. Jika Anda sukses, akan ada banyak ‘kawan palsu’ dan banyak ‘lawan nyata’… Jadilah orang sukses apapun keadaannya..!

4. Kebaikan yang Anda lakukan hari ini, nantinya akan dilupakan orang… Lakukanlah kebaikan apapun keadaannya..!

5. Sikap jujur dan terbuka akan menjadikan Anda sasaran kritikan.. Jadilah orang yang jujur dan terbuka apapun keadaannya..!

6. Orang paling hebat sekalipun dengan ide-ide paling briliannya, bisa saja dikalahkan oleh orang yang paling bodoh dengan akal paling kerdilnya.. Bawalah ide-ide brilian apapun keadaannya..!

7. Kebanyakan orang menyukai kaum yang lemah, tapi mereka mengikuti kaum yang kuat.. Tetaplah membela orang-orang yang lemah apapun keadaannya..!

8. Bangunan yang telah kamu rintis bertahun-tahun bisa saja hancur dalam waktu yang singkat. Tetaplah membangun apapun keadaannya..!

9. Manusia sangat butuh bantuan, tapi bisa saja mereka memusuhi Anda ketika Anda berusaha membantu mereka.. Bantulah mereka apapun keadaannya..!

10. Jika Anda memberikan yang terbaik kepada dunia; sebagian dari mereka akan membalasnya dengan keburukan.. Berikanlah yang terbaik pada dunia, apapun keadaannya..!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sudahkah Kita..?

Ustadz Muhammad Nuzul, Lc, حفظه الله تعالى

Seorang Ulama Ahlus Sunnah , Imam Ibnu Mubarok sering memilih duduk (membaca Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi) di rumah beliau.

Beliau pun ditanya:
“Apakah engkau tidak jenuh berada di rumah?”

Beliau menjawab:
“Bagaimana mungkin aku jenuh sedangkan aku bersama Rasulullah dan para shahabatnya?!”
(Kitab Siyar A’laamin Nubalaa’)

Inilah perasaan seorang pecinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia menikmati saat-saat ia membaca dan mengkaji sunnahnya.

Pernahkah kita mendapatkan sepucuk surat dari orang yang kita cintai?
Bagaimana perasaan kita?
Apakah kita bosan dan jenuh?
Tentu tidak..

Hati kita berbunga, kita menikmati kebersamaan kita dengan dirinya walaupun hanya dengan sepucuk surat.

Kita tidak beranjak dari tempat kita sampai kita menyelesaikan seluruh isi surat itu, bahkan tidak jarang kita baca kembali dari awal untuk yang kedua kalinya.

Itulah perasaan yang bersemi di dalam lubuk hati pencinta Allah dan Rasul-Nya saat ia membaca firman-Nya atau hadits Nabi-Nya.

Pertanyaan yang masih mengganjal..

Bagaimana dengan kita?
Sudahkah kita memiliki perasaan tersebut saat kita membaca Al Qur’an, Hadits atau berada di majlis ilmu??

Allaahul Musta’aan..

Antara Indigo, Kesurupan Dan Keturunan Setan?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Akhir akhir ini banyak dibicarakan adanya anak anak yang memiliki kemampuan luar biasa, mengetahui hal gaib, melihat barang gaib dan lainnya. Anak anak tersebut sering kali disebut dengan sebutan indigo.

Saya tidak ingin mempermasalahkan ada atau tidaknya anak anak dengan kemampuan tersebut. Namun saya ingin mengajak anda berpikir tentang siapakah sejatinya mereka?

Sobat, sekedar mengetahui hal yang diluar kemampuan banyak orang belum tentu disebut dengan gaib. Bisa jadi anda mengetahui ada benda di balik tembok karena sebelumnya anda telah melihatnya, sedangkan saudara anda yang belum mengetahuinya tidak bias menceritakan perihal keberadaan benda tersebut di balik tembok

Bisa jadi anda heran dengan pengetahuan teman tersebut, sehingga anda heran dan bertanya: kok engkau mengetahuinya, padahal di balik tembok?

Namun bila anda mengetahui bahwa ia telah melihat benda tersebut sebelumnya maka keherranan anda sekejap sirna.

Demikian juga halnya dengan apa yangterjadi dengan anak indigo, BISA JADI mereka telah melihatnya atau mendapat informasi dari makhluq lain (setan atau jin) yang menceritakan atau memperlihatkannya kepada anak tersebut.

Anda heran? Tidak perlu heran sobat tentang kemungkinan adanya jin atau setan yang menampakkan dirinya dan berinteraksi dengan seseorang, terlebih anak kecil yang terlahir dari orang tua yang ceroboh ketika menjalani “proses kehadiran anaknya” ke dunia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إذا أتى أَهْلَهُ وقال: بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا، فَرُزِقَا وَلَدًا، لم يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ ولم يُسَلَّطْ عليه. متفق عليه

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya salah seorang dari kamu bila mendatangi istrinya, dan ia membaca :

بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut Nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami” kemudian mereka berdua dikaruniai anak, niscaya ia (anak) itu tidak akan diganggu (dikuasai) oleh setan, dan setan tidak akan dapat untuk menguasainya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Imam Mujahid menyatakan: “Suami yang menggauli istrinya namun tidak terlebih dahulu membaca basmalah (doa di atas) maka setan akan menempelkan dirinya di batang kemaluan lelaki itu untuk turut serta menggauli istrinya”

Hiiiii, mengerikan kalau ini yang terjadi pada anak indigo, BISA JADI mereka adalah anak yang terlahir dari kombinasi air mani manusia dan jin, atau bahkan memang anak yang terlahir dari air mani jin, ATAU PALING KURANG BERINTERAKSI ALIAS KESURUPAN hiiii ngeriiii.

SOLUSINYA : banyak banyak bacakan AL Qur’an kepada anak anak yang demikian itu halnya, semoga ALlah melindungi kita dan anak anak kita semua dari gangguan jin dan lainnya.