



Kepada Seorang pemuda yang ragu melangkah maju untuk menikah, khawatir tidak bisa menghidupkan rumah tangga..
Kepada orang tua yang membatasi anaknya hanya dua atau tiga saja, karena khawatir miskin..
Kepada siapapun yang bingung hidup.. takut miskin..
Kepada orang yang selalu mengeluh kesusahan hidup..
Simaklah perkataan Ulama besar Al Hasan Al Bashri rohimahullah berikut ini,
قال الحسن البصري: قرأت في تسعين موضعا من القرآن أن الله قدر الأرزاق وضمنها لخلقه ، وقرأت في موضع واحد ” الشيطان يعدكم الفقر” : فشككنا في قول الصادق في تسعين موضعا ، وصدقنا قول الكاذب في موضع واحد
“Aku telah membaca di SEMBILAN PULUH tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Quran, bahwa sesungguhnya ALLAH TELAH MENETAPKAN REZEKI dan MENJAMIN (menggaransi) REZEKI itu untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada SATU tempat syaitan menakut-nakutimu akan kefakiran, lantas, (apakah layak) kita ragu terhadap perkataan yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong (hanya) di satu tempat..?”
Apakah setelah ini, kita masih ragu terhadap rezeki kita yang telah ditetapkan Allah untuk kita..?
Bersemangatlah… maju.. Langkahkanlah kaki anda untuk maju ke depan..
Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Elvi Syam MA, حفظه الله تعالى
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Jika seluruh pintu-pintu dunia telah tertutup, seluruh jalan-jalan telah buntu dihadapanmu, segeralah angkat kedua tangan ke langit….sesungguhnya pintu-pintu langit tidak akan pernah tertutup bagi orang yang merendah memohon kepadaNya.
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An-Naml : 62)
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى
Himbauan, telah menjadi kebiasaan, di saat siang tiba kita menyesali kepergian malam yang ternyata indah. Dan sebaliknya di saat malam telah tiba, kita meratapi siang yang telah pergi dan ternyata indah juga.
Di saat malam kita seakan tidak sabar menanti terbitnya mentari yang menyinari, dan ternyata setelah mentari terrik menyinari, kitapuntidak sabar menanti datangnya gelap yang menyelimuti.
Itulah manusia, yang tidak lelah untuk berkeluh kesah.
Kemarin kita menghujat, mengkritik dan seakan tidak sabar untuk melihat perubahan. Dan kini setelah perubahan terjadi, kita meratapi perginya masa lalu yang ternyata indah. Sebobroknya hari kemarin ternyata kini terasa lebih indah dibanding hari ini. Dan bisa jadi hari ini akan lebih indah dibanding hari esok dan demikian seterusnya.
Karena itu sahabatku sekalian, waspada dan waspada, perubahan bisa jadi terus melaju, bukan ke arah yang lebih baik namun semakin jauh ke arah yang lebih buruk.
Kekacauan mulai bermunculan, keamanan mulai menyingkir dan berganti dengan kekerasan.
Waspadalah dengan ucapan, tulisan, status, pertemanan, berbagai aktifitas anda, bisa jadi anda saat ini sedang dibidik oleh demit maya, atau demit manusia berhati setan atau demit jin berwajah manusia. Hasbunallah wa ni’mal wakil, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.
Semoga praduga dan pemahaman saya yang salah.
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى
Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala’ Rosulillah, wa ba’ du ;
Allah Ta’ala berfirman, ” Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ya-Sin 12).
Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Didalam ayat mulia ini terkumpul dua kitab catatan amal manusia, yaitu kitab catatan amal yang telah ada sebelum diciptakan dan kitab catatan amal yang mengiringi amal perbuatan manusia.
Didalam ayat ini dikabarkan bahwa Allah Ta’ala membangkitkan manusia setelah kematian dan membalasi amal perbuatannya sebagai mana telah tercatat dalam kitab catatan amal dan memberikan balasan atas apa yang mereka tinggalkan dari jejak jejak dan bekas-bekas yang baik dan buruk yang diikuti oleh para manusia sepeninggal hidupnya.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Bekas-bekas dan jejak jejak mereka adalah sesuatu yang mereka contohkan dan mereka kerjakan ketika masih hidup sehingga diikuti dan ditiru oleh para manusia setelah sepeninggal nya dari perbuatan baik dan buruk, sebagaimana difirmankan, ” Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (QS. Al-Qiyamah 13).
Di sini terdapat suatu faedah yaitu bahwa Allah Ta’ala telah menulis dan mencatat amal perbuatan hamba dan buah dari amalan tersebut, seakan akan buah dan hasil amalan nya juga telah mereka kerjakan.
Diriwayatkan dari Ikrimah, Ibnu Abbas dan Anas berkata, ayat ini turun pada kabilah bani Salimah yang hendak berpindah rumah hingga dekat dengan masjid yang mana rumah mereka jauh darinya, sehingga tatkala ayat ini turun mereka mengurungkan niat mereka untuk berpindah dan mereka berkata, “Kita tetap tinggal di tempat asal kita.” (HR. Bukhary dan Muslim).
Berkata Masruq, ” Tidaklah seorang hamba melangkahkan kaki nya kecuali telah tertulis padanya suatu kebajikan atau keburukan.
Mungkin banyak yang belum tahu sunnah ini, sehingga jarang yang melakukannya.
Dalil sunnah ini diambil dari kisah Ka’ab bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu- ketika dia BERTAUBAT dari ‘ketergelincirannya’ tidak ikut dalam Perang Tabuk.
Setelah Allah menurunkan wahyu kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tentang diterimanya taubatnya, yaitu dalam Surat Attaubah: 118, maka dia mengatakan kepada beliau shollallahu ‘alaihi wasallam:
“Wahai Rosululloh, sungguh termasuk dari (kesungguhan) TAUBATKU adalah aku akan melepaskankan diri dari hartaku sebagai SEDEKAH kepada Allah dan kepada Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wasallam-..”
Maka beliau mengatakan: “Tahan sebagian hartamu untukmu, karena itu lebih baik bagimu..” [HR. Bukhori: 2757, dan Muslim: 2769].
———-
Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- ketika mensyarah hadits di atas mengatakan,
“Dalam hadits ini … terdapat anjuran BERSEDEKAH ketika bertaubat, dan bahwa orang yang bernadzar untuk bersedekah dengan SELURUH hartanya; dia tidak wajib menunaikan semuanya..” [Fathul Bari 8/124-125].
* Dalam hadits ini juga terdapat pelajaran, bahwa BELUM TENTU bersedekah dengan seluruh harta lebih afdhol daripada bersedekah dengan sebagian harta.. karena kemampuan dan tingkat keimanan yang berbeda pada setiap orang.
Lihatlah bagaimana Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengijinkan Abu Bakar -rodhiyallohu ‘anhu- menyedekahkan SELURUH hartanya [HR. Abu Dawud: 1678, hasan], namun tidak mengizinkan Ka’ab bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu-, wallohu a’lam.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ
“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)
Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat.
Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى
Ikhlas.
Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka.
Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”
Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:
* Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
* Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
* Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).
Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”
Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas.
* Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
* Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
* Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
* Mengharap balasan dari amalannya di akhirat.