All posts by BBG Al Ilmu

Yang Penting Berusaha

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى.

Usaha tidak mesti mendatangkan keberhasilan, toh keberhasilan bukanlah ditangan hamba, akan tetapi ditentukan oleh Allah.

Karenanya Yang Allah nilai sesungguhnya adalah usaha dan perjuangan disertai firmanNya “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya”.

Jika usaha kita berhasil maka karunia di atas karunia, namun jika tidak berhasil maka tetap bernilai di sisi Allah.

Dalam dakwah, para Nabi ada yang pengikutnya hanya 1, ada yang 2, ada yang 3, dan ada yang tanpa pengikut. Nabi Nuuh berdakwah 950 tahun namun pengikutnya hanya sedikit. Apakah mereka dinilai gagal oleh Allah?, tentu tidak !!. Mereka telah berdakwah sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya, sudah maksimal. Maka Allah tetap memuliakan dan memuji mereka.

Namun jangan disalah pahami sehingga ada seseorang yang malas berdakwah, atau berdakwah dengan cara yang kasar dan tanpa ilmu, lalu menghibur diri dengan berkata, “Toh nabi ada yang tanpa pengikut, apalagi kita?:. Tentu beda, para nabi telah berusaha sebaik-baiknya, maka jangan disamakan dengan orang yang malas.

Ini dalam dakwah, dan demikian juga usaha dalam perkara-perkara yang lainnya.

Berusahalah dan Tetap Optimis, semua tetaplah bernilai di sisiNya…

Maukah anda mendapatkan penghapusan dosa setahun lalu ?…

Untuk download dp dakwah, klik :
http://pic.twitter.com/VmVkevTKBE

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46.

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501

Ref : http://rumaysho.com/puasa/keutamaan-puasa-asyura-3750

Dua hari puasa ‘Asyura (9 dan 10 Muharram 1436 H) jatuh pada tanggal 2 dan 3 November 2014 (besok hari Ahad dan Senin).

1308. Mertua Menyuruh Menantu Meninggalkan Istri Karena Kondisi Ekonomi

1308. BBG Al Ilmu – 307

Tanya :
Apa hukumnya bila mertua menyuruh menantunya pergi meninggalkan istri karena ekonominya lagi susah sedang mertua berkecukupan?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Mertua tidak lagi punya hak atas anak wanita nya ketika telah menikah dalam urusan ekonomi. Sehingga tidak dibenarkan meminta suami pergi meninggalkan istri nya. Kecuali pergi untuk cari nafkah. Dan suami tidak boleh hidupnya tergantung kepada mertua, karena suaminya wajib hukumnya memberikan nafkah sesuai urf atau adat setempat sesuai kemampuan.

والله أعلم بالصواب

Renungan Ayat

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Allah berfirman yang artinya..
“Hai orang orang yang beriman..
Allah pasti akan mengujimu dengan hewan buruan yang mudah ditangkap oleh tangan dan tombakmu..
agar Allah mengetahui siapa yang takut kepadaNya disaat gaib..
dan barangsiapa yang melanggar batasan setelah itu..
maka baginy adzab yang pedih..”
al maidah : 94..

Renungkanlah ayat ini..
Allah menguji para shahabat di saat ihram..
dengan hewan buruan yang mudah ditangkap..
bahkan hewan itu sengaja mendekat..
demikian pula di zaman ini..
internet amat mudah di dapat..
di gadget, smartphone dan lainnya..
amat mudah melihat maksiat..
agar Allah mengetahui siapa yang takut kepadaNya di saat sendiri..
dan siapa yang melanggar batasan allah..
maka bagi dia adzab yang pedih..
ya Rabb..

Tawanan Syahwat (Agar Segera Menikah…)

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sungguh Malang…
Pemuda yang tertawan oleh syahwatnya…

Tak berdaya menyandang pedang apalagi mengunuskannya untuk melawan syahwatnya…
Syahwatnya lebih ia dahulukan dari Robnya….

Berulang ulang ia terjatuh tersimpuh tak berdaya…
Dihadapan syahwatnya yang menawarkan kenikmatan sesaat…

Ia tahu bahwa kenikmatan sesaat itu akan berakhir dgn kegelisahan dan penyesalan…
Akan tetapi ia tetap tekuk lutut tak berdaya…

Ia tahu kemurkaan Allah dekat dengannya…
Akan tetapi belas dan kasih sayang Allah lebih ia yakini…

Ia tak tahu ini tipuan syaitan ataukah memang rahmat Allah yang selalu membuka harapan…

Iya yakin kematian selalu mengintainya..,,
Iapun tahu bahwa jika maut menjemputnya sementara ia sedang bermaksiat maka itu isyarat akan neraka…

Akan tetapi ia tetap tak kuasa…
Tetap bertekuk lutut di bawah syahwatnya….

Tiadakah seseorang wanita yang mengasihini-nya…?

Mau menikah dengannya -dengan kondisinya yang serba seadanya- menemaninya melabuhkan bahtera cinta…
Menerjang dan memecahkan lautan syahwat yang telah mengombang-ambingkan dan menenggelamkannya…

Gadis yang membebaskannya dari tawanan syahwatnya…
Menundukan pandangannya dari yang haram sehingga membuka harapan untuk bisa memandang wajah Allah di surga kelak…

Ya Allah…banyakkah pemuda dan pemudi yang senasib dengannya….?
Takut dengan adzab Robnya namun tak kuasa berlari dari pelukan syahwatnya…

Ya Rob…ampunilah dia…, berilah udzur kepadanya…, mudahkanlah ia untuk menikah…datangkanlah gadis sholehah yang akan menyambut belaian tangannya…

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك

“Ya Allah cukupkanlah diriku dengan perkara yang halal Mu sehingga aku tidak butuh dengan perkara yang Engkau haramkan…”

Al Qur’an Bagi Mereka Yang Masih Hidup

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Harusnya Alqur’an untuk yang masih hidup, (agar dibaca, ditadabburi, dan diamalkan), Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Itulah Kitab (Alqur’an) yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh keberkahan, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya, dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”. [Surat Shod: 29].

Tapi fenomena di lapangan mengatakan lain:

1. Suara bacaan Alqur’an lebih identik dengan adanya orang mati dan acara kematian.

2. Alqur’an lebih banyak dibaca di rumah orang yang sudah mati (kuburan) daripada di rumah orang yang masih hidup.

3. Mengkhatamkan Alqur’an di rumah seringnya untuk mengirim pahala kepada kerabat yang sudah meninggal, terutama di bulan ruwah/sya’ban.

———-

Mari kita renungkan, seperti itukah keadaan masyarakat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, bukankah ketika itu sudah ada kematian, sudah ada kuburan, dan sudah ada bulan sya’ban?!

Jika keadaannya beda, manakah yang lebih pantas kita tiru dan lestarikan?!

Sungguh Hidayah Itu Di Tangan Allah…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Masih saja ada yang mengatakan, bahwa ada bid’ah hasanah dalam Syariat Islam, padahal Imam Malik -rohimahulloh- yang dijuluki sebagai ‘Imamnya Kota Nabi’ sudah sangat tegas dan lugas mengatakan:

“Barangsiapa melakukan bid’ah APAPUN dalam Islam dan dia melihat bid’ah itu baik, maka dia telah menganggap bahwa (Nabi) Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah MENGKHIANATI risalah (yang diembannya), karena Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian”, sehingga apapun yang bukan agama pada hari itu, maka dia juga bukan agama pada hari ini”. [Kitab: Ali’tishom 1/64].

Bahkan Ibnu Umar -rodhiallohu anhuma- yang merupakan sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga telah menegaskan:

“SEMUA bid’ah adalah sesat, meskipun orang-orang melihatnya BAIK”. [Sanadnya shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Battoh: 205].

Bahkan Nabi tercinta -shollallohu alaihi wasallam- juga telah menyabdakan:

“SEMUA bid’ah itu sesat”. [Shohih Muslim: 867].

———-

Kalaupun ada perkataan ulama yang menyelisihi sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ini, bukankah seharusnya perkataan mereka yang ditakwil atau diselaraskan maknanya dengan sabda Nabi di atas?!

Bukan malah sebaliknya, sabda Nabi yang dita’wil dan dipelintir maknanya sehingga seakan selaras dengan perkataan ulama tersebut.

Jika memang Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan sabdanya lebih agung kedudukannya di hati seseorang, harusnya langkah yang pertama yang dia ambil, yaitu mentakwil atau menyelaraskan perkataan ulama itu agar tidak bertentangan hadits Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Atau jika terpaksa harus memilih salah satu, maka harusnya dia memilih perkataan orang yang WAJIB dicintainya melebihi orang tuanya, anaknya, bahkan manusia semuanya, dialah Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Semoga Allah memberikan kaum muslimin hidayah untuk menghidupkan sunnahnya dan mematikan bid’ah yang dimasukkan dalam agamanya, amin.