All posts by BBG Al Ilmu

Hukum Tato Pada Wanita

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Ancamannya sangat berat sekali jika bertato, apalagi tato pada wanita, apalagi juga jadi public figure dan dicontoh …

Dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

“Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut, perempuan yang meminta disambungkan rambutnya, begitu pula perempuan yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato.” (HR. Bukhari no. 5933, 5937 dan Muslim no. 2124).

Silahkan baca pembahasan lengkapnya yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Klik :
http://rumaysho.com/umum/hukum-tato-pada-wanita-9272

Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

Ingin Menguasai Bahasa Inggris …

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Ada perkataan yang sangat menarik sekali bagi para penuntut ilmu dari seorang ‘alim Robbani, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –semoga Allah senantiasa merahmati beliau-.

Perkataan ini akan menepis anggapan sebagian orang yang terlalu antipati jika ada yang ingin menguasai bahasa Inggris karena disangka ini adalah bahasa orang kafir. Padahal Syaikh Ibnu ‘Utsaimin sendiri punya angan-angan agar bisa menguasai bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris bukan hanya menjadi bahasa non muslim saat ini, bahkan bahasa ini sudah tersebar di berbagai negeri termasuk negeri kaum muslimin. Dan satu sisi begitu manfaat, terutama bagi dakwah pada mereka yang non muslim.

Coba perhatikan perkataan beliau berikut ini.

وإن كنا نرى كما هو واقع أن اللغة العربية أفضل اللغات وأشرفها؛ لأنها لغة القرآن الكريم ولغة سيد المرسلين عليه الصلاة والسلام، لكن هذه لغة عالمية مشهورة يتكلم بها المسلم والكافر، ثم هي مقررة عليك حتى وإن كانت لغة الكفار، فإنك ربما تحتاجها في يوم من الأيام، أنا أتمنى أني أعرف هذه اللغة؛ لأني وجدت فيها مصلحة كبيرة، يأتي رجل ليسلم بين يديك فلا تستطيع أن تتفاهم معه

“Kami berpandangan–sebagaimana realitas yang ada–bahwa bahasa Arab tetap adalah bahasa yang paling mulia. Karena bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an Al Karim dan juga menjadi bahasa para Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam. Akan tetapi bahasa Inggris adalah bahasa dunia yang begitu masyhur. Bahasa ini digunakan oleh muslim dan kafir (sehingga sekarang tidak bisa lagi disebut bahasa khas orang kafir, pen). Di samping itu, bahasa Inggris itu menjadi bahasa yang wajib Anda pelajari (diberbagai jenjang pendidikan, pen). Andai bahasa Inggris adalah bahasa khas orang kafir, boleh jadi pada suatu waktu Anda membutuhkannya.

Aku sendiri berangan-angan, andai saja aku bisa menguasai bahasa Inggris. Sungguh, aku melihat terdapat manfaat yang amat besar bagi dakwah jika saja bahasa Inggris bisa kukuasai. Karena jika kita tidak menguasai bahasa tersebut, bagaimana kita bisa berdakwah jika ada yang masuk Islam di hadapan kita.”

Pelajaran yang patut direnungkan. Jadi sebenarnya mempelajari bahasa Inggris dilihat dari pemanfaatannya. Jika menguasai bahasa Inggris supaya bisa sekedar melancong ke negeri-negeri kafir, tentu saja niatan yang keliru. Namun jika tujuannya adalah untuk dakwah, ini sungguh sangat mulia.

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam dakwah untuk memperjuangkan agama-Mu dan meninggikan kalimat-Mu yang mulia “laa ilaha illallah” dengan ikhlas selalu mengharapkan wajah-Mu.

Ref: http://rumaysho.com/teladan/ingin-menguasai-bahasa-inggris-1265

Perlindungan Allah Ta’ala

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ‘alaa Rosulillah, wa ba`du;

Allah Ta`ala berfirman, “Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah “. (QS. Al Ahzab 17).

Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauzy berkata, ” Didalam ayat yang mulia ini Allah Ta`ala mengkhabarkan bahwasanya bagi seorang hamba tidak memiliki suatu perlindungan dan penjagaan terhadap diri mereka dari selain Allah Ta`ala, seperti halnya jika Allah Ta`ala menghendaki kematian yang mereka senantiasa lari menjauh dari nya, yang mana hakikat nya ia lari menuju kepada suatu keburukan yang lebih besar yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta`ala.

Demikian pula tatkala seorang muslim yang lari dari mati di suatu peperangan di jalan Allah Ta`ala, yang hakikat nya ia lari menuju kepada suatu keburukan yang lebih besar bagi dirinya.

Demikian pula tatkala seorang bakhil dari infak fi sabilillah, hakikat nya ia lari dari suatu kebaikan menuju kepada suatu keburukan, perbuatan bakhil nya tidak berguna didunia dan akherat, tidak menguntungkan dirinya, bahkan menghantarkan kepada petaka dan bencana, karena sesungguhnya simpanan hartanya cepat atau lambat akan berpindah tangan kepada orang lain.

Demikian pula tatkala seorang merasa lelah dari berbuat ibadah, maka niscaya Allah Ta`ala membikin dirinya lelah dengan perkara perkara yang tidak di ridhoi.

Tentunya kita mengingat kisah iblis yang enggan untuk sujud kepada Adam, karena ia tidak menghendaki dirinya rendah dihadapan Adam bahkan merasa lebih mulia dan utama, hingga Allah Ta`ala berikan hukuman kepada iblis menjadi makhluk yang hina lagi terlaknat, dan rela untuk menjadi rekanan dan pembantu anak cucu Adam yang berbuat dosa dan durhaka.

Sebagian salaf berkata, ” Barangsiapa yang enggan berjalan bersama saudaranya dalam meniti suatu kebaikan, niscaya Allah Ta`ala melangkahkan kakinya pada jalan yang tidak ridhoi.”

1307. Puasa Sunnah Yang Kecepatan Satu Hari, Haruskah Mengulang ?

1307. BBG Al Ilmu – 175

Tanya :                                                                                                                               Tadi  saya sudah puasa ayyamul bidh kecepatan 1 hari, apakah besok saya mengulangi lagi atau melanjutkan hari ke dua?

Jawab :
Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA  حفظه الله تعالى

Bismillah. Hendaknya antum mengulangi lagi dengan melakukan puasa Ayyaamul Biidh yang dimulai pada hari ini (tanggal 13 Shofar 1436 H) sebagai hari pertama dari puasa sunnah tersebut. Adapun puasa yang sudah dilakukan pada hari kemarin karena kekeliruan dalam menghitung hari atau tanggal, maka sudah dicatat oleh Allah sebagai amal sholih dan diberi pahala dengan niat baiknya tersebut, In syaa Allah.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Tidak Akan Sama…

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Bagaimanapun berbaktinya seorang anak terhadap orang tuanya maka ia tidak akan bisa membalas jasa kedua orang tuanya…dengan balasan yang setimpal.

Bahkan tatkala seorang anak dengan begitu sabarnya merawat ibunya atau ayahnya yang jompo, harus memapahnya… atau menggendongnya ke kamar mandi… bahkan harus mencebokinya…!!!

Karena ibu kita tatkala mencebok dan merawat kita tatkala kita masih bayi maka ia merawat kita dengan penuh semangat…penuh kebahagiaan dan kegembiraan…penuh harapan agar kita terus hidup hingga besar…

Adapun seorang anak yang mencebok orang tuanya…meskipun ia sabar akan tetapi perasaan yang hadir berbeda…tidak sama dengan perasaan seorang ibu tatkala mencebok kita tatkala masih bayi…

Kalaupun perasaan tersebut bisa dihadirkan oleh sang anak, tetap tidak akan sama karena orang tuanyalah yang lebih dahulu berbuat baik kepadanya…, dengan sebab orang tuanyalah ia ada di atas muka bumi ini…tidak akan bisa menyamai ibunya yang berada pada kondisi antara hidup dan mati tatkala melahirkan…bahkan tidak jarang ibu yang bila diberi pilihan antara keselamatannya atau keselamatan bayinya maka ia akan rela berkorban demi keselamatan bayinya…

Riya’, Ujub, Dan Senang Pujian = Perusak Pahala Amalan !!!

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA,  حفظه الله تعالى

Sufyan Ats-Tsauri -rohimahulloh- mengatakan:

“Waspadalah terhadap perkara yang dapat MERUSAK amalanmu, maka sungguh yang dapat merusak amalanmu adalah RIYA.

Jika bukan riya, maka rasa ‘UJUB’ (kagum) terhadap diri sendiri, hingga kamu merasa bahwa kamu lebih baik dari saudaramu, padahal bisa jadi kamu tidak bisa melakukan amal yang bisa dilakukan olehnya, dan mungkin saja dia lebih waro’ (takut) terhadap hal-hal yang diharamkan Allah dan lebih murni amalannya daripada kamu.

Jika kamu tidak ‘ujub’ terhadap dirimu sendiri, maka waspadalah jangan sampai kamu menyenangi ‘PUJIAN MANUSIA’. Dan (senang) ‘pujian manusia’ adalah bila kamu senang ketika mereka memuliakanmu karena amalanmu, dan (kamu senang) ketika mereka melihatmu punya kemuliaan dan kedudukan di hati mereka, atau (kamu senang) hajat yang bisa kamu minta dari mereka dalam banyak urusan, padahal kamu mengaku mengharapkan pahala akhirat dari amalanmu itu, tidak menginginkan dari amalanmu itu pahala selainnya.

[Hilyatul Aulia: 6/391].

——–

Ana hanya bisa katakan: Allahul musta’an tentang keadaan diriku sendiri… Semoga Allah menjaga hati kita semua dari 3 sifat di atas… Sungguh Dia Maha Penyayang dan Maha Mendengar doa hambaNya.

Solusi Dan Jalan Keluar Bagi Yang Bertakwa

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Allah berfirman :

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS At-Tholaq:2)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah tidaklah mencegah dan menghalangi seorang mukmin terjebak dalam kesulitan akan tetapi Allah menjanjikan solusi dan jalan keluar bagi yang bertakwa.

Maka janganlah kaget jika anda terjebak dalam kesulitan, akan tetapi kagetlah jika anda tidak menemukan solusi, maka perbaikilah ketakwaan anda. Betapapun besar kesulitan, dengan ketakwaan maka akan datang kemudahan.

Lebih Baik Tidak Meminta Do’a Kepada Orang Lain, Itu Yang Lebih Afdhol…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Intinya:

1. Jangan meminta do’a kepada orang lain untuk diri sendiri, kecuali karena ada sebab tertentu.

2. Tidak mengapa meminta do’a kepada orang lain bila do’a itu untuk semua kaum muslimin.

3. Sebaiknya ketika meminta do’a yang menjadi tujuan utama adalah memberikan maslahat kebaikan kepada yang dimintai do’a.

4. Jangan dengan cara merendahkan diri di hadapannya.

5. Jangan sampai mendatangkan mudhorot kepada yang dimintai doa.

=========

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

Adapun meminta do’a untuk diri sendiri, misalnya: kamu meminta kepada orang lain agar dia mendoakanmu, maka lebih baik tidak kamu lakukan, karena bisa jadi itu masuk dalam sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam- ketika membai’at para sahabatnya: “Agar mereka tidak meminta apapun kepada manusia”.

Oleh karena itulah Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- mengatakan: bila seseorang meminta do’a kepada orang lain untuk dirinya; sebaiknya yang menjadi tujuan utama adalah memberikan maslahat kepada orang yang mendoakan, bukan untuk mendatangkan maslahat kepada dirinya sendiri, bagaimana bisa demikian? Karena saudaramu seiman jika mendoakanmu dari jauh, malaikat akan mengatakan kepadanya: “Amin, dan bagimu juga seperti itu”. DAN KARENA JIKA TUJUANMU INI, BERARTI TUJUANMU BERBUAT BAIK KEPADANYA, BUKAN MEMINTA AGAR DIA BERBUAT BAIK KEPADAMU, DAN DIANTARA KEDUANYA ADA PERBEDAAN.

Intinya dalam masalah ini pada asalnya tidak (meminta do’a kepada orang lain). Oleh karenanya para sahabat dahulu, tidak setiap orang dari mereka mendatangi Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dan mengatakan: “Doakanlah aku kepada Allah”, kecuali karena ada sebab tertentu, sebagaimana perkataan Ukkasyah bin Muhshon: “Doakanlah aku termasuk mereka” dan Nabi mengatakan: “kamu termasuk dari mereka”. Dan sebagaimana perempuan yang berpenyakit ayan mengatakan: “Doakanlah aku kepada Allah”. Maka ketika ada sebab, para sahabat meminta do’a kepada Rosul -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu juga ketika do’a itu untuk seluruh kaum muslimin, sebagaimana permintaan do’a kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- agar diturunkan hujan, maka ini tidak mengapa, karena kamu tidak meminta untuk dirimu.

Kemudian kita harus memperhatikan, bahwa tidak boleh seseorang meminta do’a untuk dirinya sendiri dengan sikap merendahkan diri kepada orang yang dimintai do’a, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang yang meyakini kewalian seseorang, maka dia mendatanginya seakan dia adalah seorang hamba yang rendahan, bisa jadi dia merendah di hadapannya sebagaimana dia merendah kepada Allah azza wajall, dan dia mengatakan: “Wahai junjunganku, doakanlah aku kepada Allah”, dan perkataan yang semisalnya. Maka ini menjadi haram, karena sesuatu yang menyertainya, yaitu sikap merendahkan diri kepada makhluk.

Kita juga harus memperhatikan ketika meminta doa kepada orang lain, jangan sampai ada mudhorot bagi orang yang dimintai doa, karena bisa jadi hal itu akan mendatangkan rasa ujub pada dirinya, bahwa dia adalah orang yang pantas dimintai doa, sehingga dia mengira dirinya termasuk wali Allah yang doanya mustajab. Karena bisa jadi sebagian orang membayangkan dirinya seperti itu, bila melihat setiap kali orang bersalam (menyapanya) mengatakan: “Jangan lupakan kami dalam doamu” “Doakanlah aku kepada Allah”, mungkin saja dia mengatakan pada dirinya: “Memang siapa aku”, sehingga dia terlena pada dirinya.

Semua masalah ini harus menjadi perhatian, dan intinya lebih afdhol kamu tidak meminta (doa kepada orang lain), ini yang lebih afdhol, sesaleh apapun dalam pandanganmu orang yang kau temui.