All posts by BBG Al Ilmu

Kisah Sahaabat Yang Diperintahkan Untuk Bercadar Di Zaman Khalifah ‘Umar Ibnu Al Khattab

Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc, حفظه الله تعالى

Bila memandang laki-laki, baik itu Ustadz atau bukan, bisa menimbulkan fitnah, maka para wanita diperintahkan untuk menundukkan pandangan mereka.

Perintah bercadar adalah bagi kaum wanita KECUALI sekali perintah tersebut dikeluarkan untuk seorang sahaabat bernama Dihyah bin Kholifah Al Kalbi radhiyallahu ‘anhu.

Bagaimana kisahnya ? simak penjelasan Ustadz Abu Zubair  حفظه الله تعالى

Antara Khalifah, Raja Dan Presiden

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Tiga sebutan di atas adalah tiga model kepemimpinan, yang tentunya memiliki metode dan cara yang berbeda.

Pada saat ini saya tidak ingin membandingkan antara ketiganya secara terperinci, apalagi memilihnya, karena saat ini bukan kapasitas kita semua apalagi saya seorang diri untuk menentukan pilihannya. Saat ini kita hanya mengikuti atau lebih tepatnya hanya menjadi penonton dan obyeknya saja, sedangkan wewenang memilihnya ada di tangan orang lain.

Saya hanya mengajak anda sedikit merenung, bahwa ketiga model kepemimpinan di atas sejatinya hanyalah sarana dan cara. Sedangkan intinya terletak pada apa dan bagaimana ketiga model pemimpin di atas dalam menjalankan roda roda pemerintahannya.

Kalaupun modelnya adalah kerajaan namun bila yang dijadikan pedoman kepemimpinannya adalah produk manusia dan dan dijalankan dengan semena-mena maka tidak ada artinya.

Bahkan kalaupun sistemnya disebut dengan khilafah, namun bila yang dijalankan adalah peraturan hasil rekayasa manusia ditambah lagi peraturan itu dijalankan secara sewena wena maka, juga tiada artinya.

Apalagi bila sistemnya adalah sistem demokrasi atau sistem hasil rekayasa menusia lainnya.

Saudaraku! Saya mengangkat tema ini karena sedang kepikiran tentang sikap konyol segelintir orang yang mencemooh sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih sistem kerajaan, seakan sistem kerajaan adalah dosa besar atau bahkan bentuk kekufuran yang wajib diperangi.

Namun di saat yang sama mereka rajin meratapi keluarga atau cucu cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dipilih menjadi pemimpin, seakan sistem kerajaan dengan proses turun temurunnya itu adalah satu kepastian yang tidak boleh diganggu gugat.

Sebagian sekte sesat saat ini rajin mengangkat isu ini sebagai jargon mereka dalam mempropagandakan paham sesatnya. Mereka berkedok sebagai pembela dan simpatisan cucu cucu keturunan Nabi yang dalam sejarah islam tidak seorangpun dari mereka dipilih menjadi khalifah atau pemimpin, kecuali sahabat Hasan bin Ali saja.

Saudaraku! Anda pasti tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah seorang raja, sehingga wajar bila kepemimpinan di tengah tengah ummatnya ditentukan dengan cara syura’ (musyawarah, bukan dengan sistem turun temurun). Karena itu waspadalah terhadap propaganda murahan mereka yang berusaha mempermainkan perasaan anda.

Yang Istimewa Bagi Seorang Mukmin

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Diantara kebahagiaan luar biasa yang dirasakan seorang mukmin adalah kebahagiaan dalam berdoa dan bermunajat kepada Rabbnya untuk meminta semua kebaikan yang diinginkannya.

Setelah itu dia akan bahagia untuk menanti terkabulnya doanya, jika memang dia yakin dengan doanya dan berbaik sangka kepada Rabbnya.

Kemudian akan disusul dengan kebahagiaan ketika Allah mengabulkan doanya, sehingga dia memuji dan bersyukur kepadaNya

Setelah itu dia akan bahagia ketika dia sadar bahwa apa yang diraihnya bukan karena usaha dan kekuatannya, namun semuanya adalah karena taufiq dan karunia dariNya.

Sungguh, kebahagiaan yang datang silih berganti…

Kalau Ada Yang Lebih Baik dari “Ah…”…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Jika ada perkataan yang lebih baik dari perkataan “uff../ ah..” yang menunjukan kejengkelan kepada orang tua, tentulah sudah Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Akan tetapi itulah (ah…) kalimat yang paling sopan yang menunjukan kejengkelan atau ketidak setujuan terhadap orang tua.

Allah berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia” (QS Al-Isroo’ : 23)

Ternyata Allah mengharamkan kalimat “ah” untuk diucapkan kepada orang tua…bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hal itu adalah termasuk bentuk durhaka kepada orang tua….

Sebaliknya membuat orang tua tersenyum….juga merupakan bentuk berbakti kepada orang tua…berpahala besar…, apalagi yang lebih daripada itu.

Mari Sempatkan Untuk ‘Bercengkrama’ Dengan Al Qur’an…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ibnu Qudamah -rohimahulloh- mengatakan: “Makruh bila sampai lebih dari 40 hari belum selesai hatam Qur’an”. [Al-Mughni: 2/127].

Al Qurthubi -rohimahulloh- mengomentari: “Waktu 40 hari itu adalah waktunya para pemalas dan mereka yang banyak kesibukan”. [Attidzkar fi Afdholil Adzkar, hal: 84].

Sudah berapa bulan dan waktu ’40 hari’ lewat namun kita belum mengkhatamkan Qur’an, harusnya hati kita miris jika memikirkan hal ini.

Ingatlah bahwa Al Qur’an mengandung banyak keberkahan, maka bergantunglah kepada Al Qur’an, Anda akan mendapati keberkahan itu, renungkanlah firman Allah ta’ala:

“Itulah Kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan KEBERKAHAN agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya” [Surat Shod: 29].

Diantara berkahnya Al Qur’an, Allah memberikan keberkahan kepada akal pembaca dan penghapalnya.

Ibnu Abbas -rodhiallohu anhuma- mengatakan: “Orang yang membaca (menghapal) Al Qur’an, dia tidak akan dikembalikan kepada usia pikun.” [Shohih Targhib wat Tarhib: 1435].

Abdul Malik bin Umair -rohimahulloh- mengatakan: “Dahulu dikatakan bahwa manusia yang paling tahan akalnya adalah para penghapal Al Qur’an.” [Mushonnaf bin Abi Syaibah 6/120].

Diantara berkahnya Al Qur’an, Allah akan memudahkan urusan-urusan para pembacanya.

Ibrohim Al-Maqdisi -rohimahulloh- mengatakan: “Perbanyaklah membaca Al Qur’an dan jangan kau meninggalkannya, karena hajatmu akan dimudahkan sesuai banyaknya bacaan Qur’anmu”. [Adz Dzail ala Thobaqotil Hanabilah 2/98].

Al Qur’an sangat bermanfaat bagi jasmani dan rohani kita.

Sebagian ulama mengatakan: “Aku tidak melihat sesuatu yang bisa memberi ‘asupan’ untuk akal dan jiwa, dan bisa menjaga jasad, serta dapat menjamin kebahagiaan seseorang, melebihi kegiatan melihat (membaca) Kitabullah secara kontinyu”. [Hakadza Allamatnil hayah: 184-185].

Dan sebagian ahli tafsir mengatakan: “Kami sibuk dengan Al Qur’an, maka keberkahan-keberkahan dan kebaikan-kebaikan menyelimuti kami di dunia ini”. [Al Adzbun Namir, karya Syeikh Muhammad Amin Syinqithi 1/7].

1306. Ibadah Saat Jam Kantor

1306. BBG Al Ilmu – 307

Tanya :
Jika kita pada jam kantor, dan sedang tidak ada kerjaan, bolehkah kita (halalkah) memanfaatkan waktu “kosong” tersebut untuk beribadah semisal: membaca Quran, atau Dhuha atau bahkan pergi mengikuti kajian ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Boleh karena ibadah tersebut tidak mengganggu waktu kerja nya. Jika mengambil waktu kerjaan tentu tidak boleh.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊