Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bila ada teman yang kita melihat adanya salah satu sifat kekufuran yang melekat padanya namun ia masih sholat, bagaimana sikap kita ?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bila ada teman yang kita melihat adanya salah satu sifat kekufuran yang melekat padanya namun ia masih sholat, bagaimana sikap kita ?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Ada pendapat yang coba disebarluaskan di masyarakat bahwa berkelompok dalam Islam di perlukan. Begitupula dengan pendapat bahwa Allah Maha Kuasa sehingga tidak perlu dibela. Bagaimana yang sebenarnya sesuai pemahaman salafush sholih ?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
1266. BBG Al Ilmu – 307
Tanya:
Ana dapat share Broadcast Massage :
“Mempelajari sunnah (hadits) lebih baik daripada beribadah 100 tahun.” Apakah benar ustadz ? Jika benar cara mengamalkannya bagaimana ya ustadz ?
Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى
Saya tidak tau kebenaran nya. Secara umum belajar sunnah memiliki keutamaan yang besar, akan tetapi dengan lipatan ganda yang sedemikian besar saya belum tahu.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ketika safar, apakah kita boleh melakukan Tahajjud dan Dhuha ? ataukah sebaiknya tidak kita lakukan ?
Simak jawaban Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Perkara Apa Saja Yang Dapat Membatalkan Amalan ?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Apakah benar rasa malu adalah bagian dari iman ?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
RAJIN SHOLAT merupakan sebab utama seseorang bisa mengendalikan emosinya.
Cobalah renungkan Firman Allah ta’ala (yang artinya):
“Sungguh manusia itu diciptakan dengan SIFAT berkeluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia BERKELUH KESAH. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.
KECUALI orang-orang yang mengerjakan SHOLAT, yang mereka itu RUTIN dalam mengerjakan sholatnya..”
[Al-Ma’arij: 19-23]
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Apakah sikap seseorang yang berlebihan dalam beribadah, seperti masalah khilafiyah, dapat menyeret orang tersebut ke kufuran ?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
أركان الكفر أربعة:
Rukun kufur itu ada 4
Artinya, kebanyakan 4 perkara ini yang menyebabkan seseorang kufur kepada Allah.
الكبر والحسد والغضب والشهوة
1. Sombong,
2. Dengki,
3. Marah,
4. Syahwat.
الكبر يمنعه الانقياد،
“Sombong mencegah seseorang untuk tunduk kepada Allah.”
Karena, kalau kita perhatikan orang-orang yang sombong yang tidak mau tunduk kepada Allah itu akibat dari kesombongan mereka, seperti Fir’aun yang sombong kepada Allah, juga Abu Jahal dan Abu Lahab yang sombong kepada Allah.
والحسد يمنعه قبول النصيحة وبذلها ،
“Dan penyakit hasad / dengki itu mencegah untuk menerima nasihat.”
والغضب يمنعه العدل،
“Dan marah mencegah ia berbuat adil.”
والشهوة تمنعه التفرغ للعبادة.
“Dan penyakit syahwat mencegah ia untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.”
فإذا انهدم ركن الكبر سهل عليه الانقياد،
“Apabila telah hancur rukun sombong, maka akan mudah bagi dia untuk taat dan tunduk kepada Allah.”
وإذا انهدم ركن الحسد سهل عليه قبول النصح وبذله ،
“Dan apabila telah hancur rukun kedengkian, maka akan mudah bagi dia untuk menerima nasihat dan kritikan (yang bermanfaat bagi dirinya).”
وإذا انهدم ركن الغضب سهل عليه العدل والتواضع ،
“Dan apabila telah hancur rukun kemarahan, maka akan mudah bagi dia berbuat adil dan bertawadhu’.”
وإذا انهدم ركن الشهوة سهل عليه الصبر والعفاف والعبادة.
“Dan apabila telah hancur rukun syahwat, maka akan mudah bagi dia untuk bersabar, memelihara kehormatan diri, dan terus-menerus beribadah kepada Allah.”
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى
SILATURAHMI
Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;
Agama islam memiliki tujuan membangun masyarakat islami yang saling kasih sayang, merahmati diantara mereka, cinta kebaikan, berbagi sesama, menjalin kebersamaan dan ukhuwah, bahu membahu dalam kebaikan dan ketakwaan serta menjaga tali silaturahmi.
Sebagai mana islam juga mengajarkan untuk menguatkan tali persaudaraan dan kekeluargaan, dan menjadikan silaturahmi sebagai pondasi yang wajib di jaga diantara mereka.
Allah Ta`ala telah perintahkan kepada umat manusia agar menjaga tali silaturahmi semenjak zaman dahulu kala, dan dianjurkan pula dalam syariat islam agar menyambung silaturahmi.
Allah Ta`ala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling “. (QS. Al Baqarah 83).
Tali silaturahmi terwujud lantaran benih pasangan suami istri yang disana pula terdapat anjuran agar saling kasih sayang.
Allah Ta`ala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum 20~21).
Aly bin Abi Thalib radhiyallahu`anhu berkata, “Mereka itulah keluarga kalian, kepada mereka engkau menyambung dan menjadi banyak Mereka adalah kekuatan disaat engkau lemah”