All posts by BBG Al Ilmu

1267. Apa Itu Al Wala Wal Bara’?

1267. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apa itu Al Wala Wal Bara’ ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wala’ adalah mashdar dari fi’il “waliya” yang artinya dekat. Yang dimaksud dengan wala’ di sini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan mencintai, membantu dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka dan bertempat tinggal bersama mereka.

Sedangkan bara’ adalah mashdar dari bara’ah yang berarti memutus atau memotong. Maksudnya ialah memutus hubungan atau ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai, membantu dan menolong serta tidak tinggal bersama mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan kebahagiaan hakiki bagi orang yang mengikuti & melaksanakan agama Islam dengan sungguh-sungguh sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan kesengsaraan & kehinaan bagi orang yang memerangi agama Islam.

Sesungguhnya pokok agama Islam adalah kalimat tauhid Laa ilaha illallah, tak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Dengan mengucapkan & mengamalkan kalimat inilah dibedakan muslim dan kafir, dipaparkan keindahan surga & panasnya neraka.

Dan tidaklah tauhid seseorang sempurna sampai ia mencintai dan membenci karena Allah, memberi dan tak memberi karena Allah. Inilah yang disebut al wala’ wal baro’.

Al Wala’ secara bahasa berarti dekat, sedangkan secara istilah berarti memberikan pemuliaan penghormatan & selalu ingin bersama yang dicintainya baik lahir maupun batin. Dan al bara’ secara bahasa berarti terbebas/lepas, sedangkan secara istilah berarti memberikan permusuhan & menjauhkan diri.

Ketahuilah bahwa seseorang yang mencintai Allah dituntut untuk membuktikan cintanya pada Allah dengan mencintai hal yang Allah cintai & membenci hal yang Allah benci. Hal yang dicintai Allah adalah ketaatan pada perintah Allah & orang yang melakukan ketaatan, sedangkan hal yang dibenci Allah adalah kemaksiatan (pelanggaran terhadap larangan Allah) & orang yang melakukan kemaksiatan & kesyirikan.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Banyak Beristighfar, Tapi Dimurkai Allah ?

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

قال يحيى بن معاذ الرازي – رحمه الله -: كم من مستغفر ممقوت وساكت مرحوم. ثم قال يحيى: هذا استغفر الله وقلبُه فاجر، وهذا سكت وقلبُه ذاكر .

» Yahya bin Mu’adz Ar-Rozi rahimahullah berkata: “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai (Allah). Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati (Allah).” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar (dengan lisannya), akan tetapi hatinya diliputi kefajiran atau dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berdzikir (selalu ingat kepada Allah).” (Lihat Mukhtashor Shifatu Ash-Shofwah I/411, dan Al-Muntakhab Min Kitab Az-Zuhdi Wa Ar-Raqoo’iq, karya Al-Khothib Al-Baghdadi, Hal. 69).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga kita senantiasa beristighfar dan berdzikir kepada Allah dengan lisan, hati dan anggota badan kita dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhir hayat. Amiin.

(Klaten, 11 September 2014).

Ketika Bahasa Dan Budaya Islam Digugat

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Ada yang mengatakan:

“Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’… Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya arabnya”.

========

Kita katakan:

1. Dalam masalah budaya, tidak mengapa kita menyerap budaya bangsa lain, selama budaya itu bermanfaat bagi kita dan tidak menyelisihi Ajaran Islam dan nilai-nilainya.

2. Bahkan kita harus mengganti sebagian budaya kita, bila memang menyelisihi Islam dan nilai-nilainya, lihatlah bagaimana dahulu Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- berjuang keras untuk mengubah budaya-budaya Arab yang menyelisihi prinsip Risalah Islam yang dibawa beliau.

3. Tentang menyerap bahasa asing, itu juga sudah sangat lazim di lisan masyarakat kita… I love you, oke, leadership, yes, no, well, problem, amazing, sorry, thank you, please, dst, adalah rentetan kata yang banyak digunakan masyarakat kita tanpa ada pengingkaran yang berarti.

Jika itu TIDAK diingkari, mengapa ketika obyek serapannya Bahasa Arab diingkari?! Bukankah yang lebih pantas adalah sebaliknya, karena bahasa arab adalah bahasa yang dipilih Allah untuk kitab suci yang paling agung, dia juga bahasa yang Allah pilih untuk Nabi yang paling mulia.

4. Jika kita memperhatikan Syariat Islam secara menyeluruh, kita akan menemukan Isyarat dari Allah, bahwa Dia menghendaki agar Bahasa Arab bisa menyebar dan membumi bersama Islam.

Lihatlah bagaimana Bahasa Al Qur’an tidak boleh diganti dengan bahasa lain, bahasa sholat tidak boleh diganti dengan bahasa lain, dan bahasa dzikir-dzikir yang sangat banyak tidak boleh diganti dengan bahasa lain.

Lihat pula bagaimana Allah menghendaki sumber-sumber utama Ilmu-Ilmu Islam menggunakan bahasa arab, sehingga untuk mempelajarinya harus paham Bahasa Arab dengan baik.

5. Sangat wajar bila lisan kita terbawa oleh kebiasaan, orang yang biasa belajar Bahasa Arab, atau hidup di Arab; lisannya akan terbawa dengan kebiasaannya… Begitu pula orang yang biasa belajar Bahasa Barat, atau hidup di sana; lisannya juga akan terbawa dengan kebiasaannya.

Dan yang lebih mengherankan lagi, di sekeliling kita banyak sekali budaya barat yang diserap oleh masyarakat, semisal: pakaian ketat, rok mini, pacaran, dansa, dst, tapi seringkali tidak diingkari… Sebaliknya ketika ada yang bercadar, berjenggot, memakai jilbab besar, menjaga pandangan, rajin ke masjid, dst, malah diingkari, digunjing, dan dipersoalkan, wallohul musta’an.

———

Kesimpulannya: Kata-kata di atas sangat tidak obyektif, diskriminatif terhadap bahasa arab, dan sangat tidak pantas diucapkan oleh orang yang cinta kepada Islam, Al Qur’an, dan Nabi Agung Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Wallohu a’lam.

Apa Yang Mau Kau Banggakan ?

Ustadz Firanda Andirja, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Apa yang mau kau banggakan sementara engkau akan menjadi bangkai yang dipendam dalam kuburan…

Abul ‘Atahiyah berkata :

يَاعَجَباً لِلنَّاسِ لَوْ فَكَّرُوا .. وَحَاسَبُوا أَنْفَسَهُمْ أَبْصَرُوا
“Duhai sungguh mengherankan kondisi para manusia, jika mereka merenungkan dan menghisab diri mereka, tentulah mereka akan mengetahui…

عَجِبْتُ لِلإنْسَانِ فِي فَخْرِِهِ .. وَهُوَ غَداً فِي قَبْرِهِ يُقْبَرُ
Sungguh menakjubkan seorang manusia tatkala sedang berbangga/sombong…
Padahal dia esok hari dikuburkan dalam kuburannya…

مَا بَالُ مَنْ أَوَّلُهُ نُطْفَةٌ .. وَجِيْفَةٌ آخِرُهُ، يَفْجُرُ
Kenapa orang yang awalnya adalah mani dan akhirnya adalah bangkai berani berbuat kemaksiatan (dengan kesombongannya, dll) ?..”

Bersama Orang Yang Dicintai Pada Hari Kiamat

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc,

Setiap orang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai meski mungkin saja amalnya jauh dari mereka. Ini adalah dorongan untuk berteman dengan orang sholih. Juga menunjukkan bahayanya berteman dengan orang kafir.

Zir bin Hubaisy berkata,

أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ الْمُرَادِىَّ أَسْأَلُهُ عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ يَا زِرُّ فَقُلْتُ ابْتِغَاءَ الْعِلْمِ فَقَالَ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ.

“Saya mendatangi Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu ‘anhu. Saya bertanya tentang mengusap dua sepatu khuf. Shafwan berkata, “Apakah yang menyebabkan engkau datang, wahai Zir?” Saya menjawab, “Untuk mencari ilmu.” Ia berkata lagi, “Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia cari.”

Faedah dari penggalan hadits di atas:

1- Para ulama sangat semangat untuk mencari ilmu.

2- Di antara keutamaan menuntut ilmu adalah sampai malaikat pun membentangkan sayapnya sebagai tanda ridha dan menghormati setiap orang yang mencari ilmu. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i.

3- Setiap yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampaikan mengenai perkara ghaib seperti perihal malaikat yang memiliki sayap dan mereka meletakkan sayapnya pada penuntut ilmu, wajib untuk dibenarkan seakan-akan hal itu kita lihat langsung.

قُلْتُ إِنَّهُ حَكَّ فِى صَدْرِى الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ بَعْدَ الْغَائِطِ وَالْبَوْلِ وَكُنْتَ امْرَأً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَجِئْتُ أَسْأَلُكَ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِى ذَلِكَ شَيْئًا قَالَ نَعَمْ كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَوْ مُسَافِرِيِنَ أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ.

Maka saya berkata, “Sebenarnya sudah terlintas di hatiku untuk mengusap di atas dua sepatu khuf itu sehabis buang air besar atau kecil, sementara engkau termasuk salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, saya datang untuk menanyakannya kepadamu. Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut?” Shafwan menjawab, “Ya pernah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan jika kami bepergian, supaya kami tidak melepaskan khuf kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami terkena janabah. Namun, kalau hanya karena buang air besar atau kecil atau karena sehabis tidur, boleh tidak dilepas.

Faedah dari penggalan hadits di atas:

4- Jika seseorang mengenakan sepatu atau kaos kaki, maka lebih afdhol ia mengusap daripada ia mencopot dan mencuci kakinya.

5- Hendaklah orang yang memiliki kebingungan dalam hati tentang suatu masalah agar menanyakannya kepada orang yang berilmu sehingga keragu-raguan tersebut bisa hilang dari hatinya. Jadi jangan biarkan kebingungan terpendam dalam hati begitu saja.

6- Boleh seseorang yang bertanya menanyakan dalil apakah itu dari ayat atau hadits atau mungkin dari hasil ijtihad. Menjawab sembari membawakan dalil menunjukkan akan keikhlasan dan kejujuran seseorang yang memberikan jawaban.

7- Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya mengusap khuf. Hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits yang mutawatir. Mengusap khuf ini jadi pegangan Ahlus Sunnah sampai-sampai para ulama mencantumkan hal ini dalam kitab akidah mereka. Karena ternyata Rafidhah (baca: Syi’ah) menyelisihi hal ini. Mereka tidak menetapkan adanya mengusap khuf dan bahkan mengingkarinya. Tapi sungguh mengherankan, padahal yang meriwayatkan masalah mengusap khuf adalah sahabat ‘Ali bin Abi Tholib yang mereka agungkan. Mengusap khuf inilah yang menjadi syi’ar Ahlus Sunnah. Imam Ahmad berkata, “Hatiku tidak ada ragu sama sekali mengenai perintah mengusap khuf.”

8- Jangka waktu mengusap khuf bagi musafir adalah tiga hari tiga malam (3 x 24 jam), sedangkan orang mukim adalah sehari semalam (1 x 24 jam).

9- Hadats besar atau junub membatalkan mengusap khuf. Sedangkan hadats kecil seperti buang air besar, buang air kecil dan tidur tidak membatalkan mengusap khuf.

فَقُلْتُ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِى الْهَوَى شَيْئًا قَالَ نَعَمْ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَبَيْنَا نَحْنُ عِنْدَهُ إِذْ نَادَاهُ أَعْرَابِىٌّ بِصَوْتٍ لَهُ جَهْوَرِىٍّ يَا مُحَمَّدُ. فَأَجَابَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى نَحْوٍ مِنْ صَوْتِهِ هَاؤُمُ وَقُلْنَا لَهُ وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ فَإِنَّكَ عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَقَدْ نُهِيتَ عَنْ هَذَا. فَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَغْضُضُ. قَالَ الأَعْرَابِىُّ الْمَرْءُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ. قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Saya berkata lagi, “Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah hawa nafsu (cinta)?” Dia menjawab, “Iya pernah. Suatu ketika kami bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Di kala kami berada di sisi beliau, tiba-tiba ada seorang Arab Badui (pegunungan) memanggil beliau dengan suara keras sekali. Ia berkata, “Hai Muhammad!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab dengan suara yang sama kerasnya, “Mari ke mari.” Saya pun berkata kepada Arab Badui tersebut, “Celaka engkau ini, perlahankanlah suaramu. Sebab engkau ini benar-benar berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan aku dilarang seperti itu.” Namun Arab Badui itu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memelankan suaraku.” Kemudian ia berkata kepada beliau, “Ada seseorang mencintai suatu golongan, tetapi ia tidak dapat bertemu (menyamai) mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.”

Faedah dari penggalan hadits di atas:

10- Orang yang jauh dari ilmu biasa jauh dari adab atau akhlak yang baik seperti yang terdapa pada Arab Badui yang memanggil Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan suara keras.

11- Seseorang harus pintar meladeni orang yang jahil (bodoh) dengan cara yang baik.

12- Jika seseorang mencintai suatu kaum dan amalnya tidak bisa menggapai amal mereka, masih bisa ia bersama mereka karena setiap orang akan bersama dengan siapa yang ia cintai pada hari kiamat kelak. Semoga kita dapat bersama dengan Rasul, bersama dengan para khulafaur rosyidin, bersama dengan para sahabat karena kecintaan kita pada mereka dan mau mengikuti jalan mereka.

13- Keutamaan berkumpul dan berteman dengan orang baik dan sholih. Setiap orang akan tergantung pada teman baiknya. Karena disebutkan dalam pepatah Arab,

الصاحب ساحب

“Sahabat itu akan mudah mempengaruhi temannya.”

14- Setiap orang wajib membenci orang kafir agar ia tidak dikumpulkan bersama dengan mereka di hari kiamat kelak.

فَمَازَالَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى ذَكَرَ بَابًا مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ مَسِيرَةُ عَرْضِهِ أَوْ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِى عَرْضِهِ أَرْبَعِينَ أَوْ سَبْعِينَ عَامًا قَالَ سُفْيَانُ قِبَلَ الشَّامِ خَلَقَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مَفْتُوحًا يَعْنِى لِلتَّوْبَةِ لاَ يُغْلَقُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْهُ »

Tidak henti-hentinya beliau memberitahukan apa saja kepada kami. Sehingga akhirnya menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu yang perjalanan luasnya jika ditempuh seseorang dengan berkendara, memakan waktu empat puluh atau tujuh puluh tahun perjalanan.”

Sufyan, salah seorang perawi hadits ini mengatakan, “Dari arah Syam, pintu itu dijadikan oleh Allah sejak hari Dia menciptakan seluruh langit dan bumi. Akan senantiasa terbuka untuk taubat, tidak pernah ditutup sampai matahari terbit dari sana.” (HR. Tirmidzi no. 3535. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Faedah dari penggalan terakhir dari hadits di atas:

15- Taubat itu berakhir sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya.

16- Wajib menyegerakan taubat sebelum datang waktu yang tiada manfaat penyesalan.

Selengkapnya di website kami Rumaysho.Com >> http://rumaysho.com/akhlaq/bersama-orang-yang-dicintai-pada-hari-kiamat-3397

Faedah-Faedah Berharga Dari Ayat-Ayat Allah Ta’ala

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA, حفظه الله تعالى

1. Urutan waktu berfungsinya 3 anggota tubuh.

“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui apapun, dan Allah menjadikan PENDENGARAN, MATA, dan HATI agar kalian bersyukur”. [Annahl: 78].

Subhanalloh, kenyataan inilah yang terjadi, bahwa ketika bayi dilahirkan, dia tidak mengetahui apapun, lalu Allah memfungsikan pendengarannya sebelum matanya, kemudian Allah memfungsikan matanya sebelum hatinya, dan setelah itu Allah memfungsikan hatinya untuk merenung dan berfikir.

————

2. Hidayah itu harusnya dicari, bukan dinanti.

“Ibrohim mengatakan: ‘Sungguh aku akan PERGI kepada Rabb-ku, dan Dia akan memberiku hidayah (petunjuk)”. [Ash-Shooffat: 99].

Perhatikanlah, Nabi Ibrohim menggunakan kata “pergi” untuk mendapatkan hidayahNya, ini adalah isyarat bahwa hidayah itu dicari, bukan dinanti.

————

3. Pentingnya masjid sebagai pusat untuk mendakwahkan kebenaran.

“Ingatlah ketika Ibrohim dan Ismail meninggikan pilar-pilar RUMAH ALLAH (Masjidil Harom)” … … kemudian Nabi Ibrohim berdoa: “Ya Rabb kami utuslah kepada mereka seorang Rosul dari mereka yg membacakan ayat-ayatMu kepada mereka, mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, dan membersihkan (jiwa) mereka, sungguh Engkau adalah Tuhan yang maha kuasa lagi maha bijaksana”. [Albaqoroh: 127, dan 129].

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrohim mendirikan masjid dahulu atas perintah Allah, kemudian dilanjutkan dengan berdoa agar ada da’i yang memanfaatkan masjid tersebut untuk mendakwahkan ajaran-ajaranNya.

Wallohu a’lam.

Pekerjaan Haram Dan Tidak Mampu Beribadah Dengan Semestinya…

Seseorang mencari nafkah dari pekerjaan haram dan membuatnya sibuk hingga tidak dapat beribadah dengan semestinya, bagaimana seharusnya ?

Simak jawaban Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى  berikut ini:

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…