All posts by BBG Al Ilmu

1166. Bila Imam Terbiasa Salah Baca Surat, Apakah Sholat Kita Sah ?

1166. BBG Al Ilmu

Bagaimana hukumnya jika kita sholat berjamaah dan imam rowatibnya salah dalam membaca surat di dalam sholat dengan sengaja karena sudah terbiasa dengan kesalahan-kesalahan dalam membaca surat-suratnya ? Apakah kita wajib mengulang sholat kita atau bagaimana ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan maka imam yang menanggung dosa salahnya, sedangkan makmum tidak berdosa. Dan tidak perlu mengulang kembali sholat nya. Karena bacaan surat hukum nya sunnah. Bukan rukun ataupun syarat sah sholat. Meskipun demikian tetap agar membenarkan bacaan yang salah, baik di dalam sholat maupun di luar sholat. Bisa mengajarkan kepada nya ilmu tajwid.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1165. Bolehkah 3 Niat Dalam Satu Waktu ?

1165. BBG Al Ilmu – 461

Tanya:
Bolehkah 3 niat 1 waktu (dari terbit fajar sampai terbit matahari), misal:
1. Mengerjakan 2 rokaat fajar, sholat subuh berjamaah di masjid, lalu dzikir setelah sholat, dzikir pagi, lalu dzikir membaca alquran sampai terbit matahari, setelah -/+15 menit sholat duha.

2. Membaca surat al kahfi di hari jumat.

3. Memperbanyak membaca alquran di bulan ramadan.

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Niat tempat nya di dalam lubuk hati, maka bisa meniatkan banyak niat dalam sekejap, maka tatkala ia keluar rumah menuju masjid ia bisa dan boleh meniatkan rencana rencana tersebut, sunnah fajar, subuh, sunnah dhuha, dzikir, tatkala pulang mampir menjenguk orang sakit, sedekah dll.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1164. Puasa Dan Sakit Berkepanjangan

1164. BBG Al Ilmu – 173

Tanya:
Di Ramadhon ini sudah 2 minggu Ayah saya masih di rawat di Rumah Sakit dan TIDAK PUASA. Saya berniat untuk membayar FIDYAH, bagaimana aturan; besaran dan sunnahnya.

Jawab:
Ustadz M. Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Berkaitan dengan hukum orang sakit yang tidak mampu berpuasa di Bulan Romadhon, maka para ulama memberikan penjelasan secara terperinci, yaitu sebagai berikut:

1. Jika sakitnya masih diharapkan kesembuhannya, dan orang tersebut masih sanggup untuk meng-Qodho’ (bayar utang) puasa, maka kewajiban orang sakit tersebut setelah ia sembuh dari sakitnya adalah Qodho’ Puasa sejumlah hari yang ia tinggalkan puasanya.

2. Jika sakitnya menahun dan berkepanjangan, atau sudah tidak diharapkan kesembuhannya menurut tim medis, maka orang sakit tersebut atau keluarganya berkewajiban membayarkan Fidyah kepada orang-orang fakir dan miskin sejumlah hari-hari yang ia tidak puasa padanya.

* Adapun jumlah Fidyah puasa ialah setengah Sho’ atau setara dengan 1,5 kg makanan pokok (beras, gandum, dsb.) untuk setiap harinya.

* Jika ia tidak puasa selama sebulan atau 30 hari, maka jumlah Fidyah yang harus dibayarkan ialah:

30 hari X 1,5 kg = 45 Kg.

* Cara Bayar Fidyah: Boleh diberikan kepada satu orang miskin, dan boleh juga diberikan ke beberapa orang miskin. Boleh dibayarkan setiap hari dan boleh juga dibayarkan satu kali untuk 30 hari ia tidak puasa.

* Jangan lupa, agar ibadahnya Sah, hendaknya menetapkan NIAT bayar Fidyah di dalam hatinya ketika membayarkannya ke orang fakir dan miskin.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1163. Shalat Tarawih Di Rumah

1163. BBG Al Ilmu – 393

Tanya:
Mohon penjelasan tentang sholat taraweh dirumah bersama keluarga (anak istri yang jadi makmumnya).

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Boleh melakukan sholat malam tarawih berjamaah bersama keluarga, sebagai mana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa kali mengerjakan sholat tarawih di masjid, kemudian meninggalkan nya, dan melakukan tarawih di rumah.

Boleh juga tatkala ikut tarawih dan witir berjama’ah bersama imam di masjid, kemudian sholat malam lagi bersama keluarga di rumah, dengan tidak melakukan witir.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Perang Badar

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu `ala Rosulillah, wa ba`du;

Dalam bulan yang suci penuh berkah ini Allah Ta`ala telah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dalam pertempuran Badr Kubro melawan musuh kafir dari kalangan musyrikin, yang kemudian dikenal dengan yaumul furqon, dimana Allah Ta`ala telah memisahkan antara kebenaran dan kebathilan, menolong Rasul-Nya dan kaum mukminin, dan menghinakan kafir musyrikin, dan peperangan tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijrah.

Sebab terjadinya peperangan ini dikarenakan Rosulullah sallallahu `alaihi wa sallam mendengar kabar bahwa Abu Sufyan beserta kafilah dagang perjalanan pulang dari negeri Syam menuju Makkah, maka Nabi sallallahu `alaihi wa sallam mengajak para sahabat untuk menghadang dan merampas kafilah tersebut, karena tidak ada perjanjian dan perdamaian antara mereka, dan sebelumnya telah dikeluarkan dari rumah dan tempat kelahiran serta merampas harta harta kaum muslimin dan memerangi dakwah islam.

Maka Nabi beserta para sahabat yang berjumlah 313 bermaksud untuk menghadang kafilah bukan bertujuan perang, akan tetapi Allah Ta`ala berkehendak lain, kaum muslimin dipertemukan dengan pasukan perang Quraish.
Dikarenakan Abu Sufyan mengetahui rencana kaum muslimin sehingga meminta bantuan kepada Quraish agar mendatangkan pasukan perang dan rombongan kafilah berputar arah berjalan menyusuri tepian pantai sehingga tidak bertemu dengan kaum muslimin.

Adapun kafir quraish mempersiapkan pasukan sekitar seribu kekuatan dengan seratus penunggang kuda dan tujuh ratus penunggang onta.

Tatkala rombongan kafilah selamat dari penghadangan kaum muslimin, Abu Sufyan memerintahkan agar pasukan perang kembali dan mengurungkan niat untuk memberikan pengamanan. Akan tetapi abu jahal enggan untuk kembali, dan bertekad menuju Badr dan melakukan tiga aksi, menyembelih onta, berpesta bersama pasukan perang dan minum arak, agar seluruh bangsa arab mengetahui kekuatan Quraish dan senantiasa ditakuti.

Nabi sallallahu `alaihi wa sallam mengetahui keberadaan pasukan perang Quraish dan bermusyawarah dengan para sahabat, “Allah Ta`ala telah menjanjikan antara dua pilihan kelompok, antara kafilah dagang atau pasukan perang !?”. Kemudian seorang sahabat Miqdad Bin Al-Aswad lalu berdiri dan berkata : “Ya Rasulullah, teruskanlah apa yang Allah telah perintahkan padamu, Maka kita senantiasa bersamamu. Demi Allah, kita tidak akan berkata kepadamu seperti perkataan kaum Bani Israil kepada Nabi Musa pada zaman dahulu, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, maka berperanglah engkau berdua.  Kita sesungguhnya akan duduk termenung saja”.  Akan tetapi kita berkata kepadamu, Wahai Rasulullah, sekarang “Pergilah engkau bersama Tuhanmu Dan berperanglah, kita sesungguhnya bersertamu ikut berperang.  Demi Allah, jikalau engkau berjalan dengan kita sampai ke desa Barkul Ghamad, niscaya kita berjuang bersamamu, Kita akan berperang bersamamu dari sebelah kanan dan kiri, depan dan belakang”.
Ketika itu Rasulullah juga ingin kepastian dari kaum Anshar.  Melihat keadaan itu, Sa’ad Bin Muaz lalu berdiri dan berkata dengan kata-kata yang memberi keyakinan pada Rasulullah sama seperti kaum Muhajirin. Di ikuti pula oleh seluruh Ansor.

Setelah mendengar ungkapan para sahabat, bercahayalah muka Nabi seraya tertampak kegirangannya.  Pada saat itu juga Allah menurunkan wahyunya yang tercatat di Surah Al-Anfal ayat 5-7:
“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.
Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir”.
     
Setelah itu, Nabi sallallahu `alaihi wa sallam bersabda pada seluruh sahabat, “Berjalanlah kamu dan bergiranglah kerana sesungguhnya Allah telah memberi janji kepadaku salah satu daripada dua golongan (yaitu Al-Ier dan An-Nafier).  Demi Allah, sungguh aku seakan-akan sekarang ini melihat tempat kebinasaan kaum Quraisy”.
Mendengar perintah Rasulullah yang sedemikian itu, segenap kaum muslimin melakukan perjalanan dengan tulus ikhlas dan berangkatlah mereka menuju ke tempat yang dituju oleh Nabi.
Maka tatkala sampai pada suatu tempat maka Nabi sallallahu `alaihi wa sallam berhenti, kemudian sahabat Khobab ibnu Mundzir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ini wahyu yang telah di perintahkan atau ini hanya sekedar pendapat yang dapat diubah dan dimusyawarahkan?” Maka Nabi mengatakan bahwa ini hanya sebuah gagasan. Maka Khobab menyarankan agar lebih mendekati sumur Badr.

Kemudian pada malam harinya turun hujan sangat lebat hingga dipihak Quraish menjadikan tempat mereka berlumpur sehingga menyebabkan sulit untuk melakukan persiapan perang. Adapun bagi muslimin menjadikan pasir-pasir memadat hingga mengokohkan kaki-kaki mereka.
Di malam itu Rasulullah tidak henti-henti memanjatkan do’a kepada Allah memohon pertolongan. Untuk menebalkan iman tentaranya dan meneguhkan semangat barisannya, Rasulullah menghadapkan mukanya kepada sahabat sambil memohon kepada Allah, “Ya Allah, kaum quraish telah datang dengan kesombongannya, mereka mendustakan-Mu dan Rasul-Mu, Ya Allah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan, berikanlah kepada kami kemenangan, sekiranya kami terkalahkan niscaya Engkau tidak lagi diibadahi”.

Diriwayatkan di waktu itu, Nabi berulang-ulang memohon kepada Allah sehingga Abu Bakar yang senantiasa berada disisinya telah memegang selendang dan bahu Nabi sambil berkata bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya sebagai mana yang telah Allah janjikan.

Allah Ta`ala menurunkan ayat-Nya, “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka”. (QS Al Anfal: 12-14).

Selanjutnya, sebagai kebiasaan bangsa Arab, sebelum berperang maka diantara pahlawan-pahlawannya lebih dulu bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan musuh. Dipihak kaum Quraisy, tiga pahlawan yang keluar adalah, Utbah Bin Rabi’ah, Syaibah Bin Rabi’ah dan Walid Bin Utbah.  Dan dari tentera Islam ialah, Auf bin Al-Harits, Mu’adz bin Harts dan Abdullah bin Rawahah. Mereka bertiga adalah dari kaum Anshar.

Tetapi kerana kesombongan kaum Quraisy yang merasakan bangsanya lebih baik, tidak mau menerima kaum Anshar, dan meminta Rasulullah mengeluarkan tiga orang pahlawan dari kaum Quraish sendiri. Maka Rasulullah mengeluarkan, Hamzah Bin Abdul Muthalib, Ali Bin Abi Thalib dan ‘Ubadah Bin Al-Harits. Mereka berenam beradu tenaga sehingga akhirnya tentera Quraisy jatuh ketiga-tiganya dan tentera Islam hanya ‘Ubaidah Bin Al-Harits yang syahid. 

Kemudian bertemulah dua pasukan perang saling bertempur dengan sengit, sedangkan Nabi sallallahu `alaihi wa sallam ditemani Abu Bakar dan Saad ibnu Muadz, memberikan semangat kepada para sahabat seraya berkata, “Demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang berperang di hari ini kemudian terbunuh dengan sabar dan tidak meninggalkan medan pertempuran kecuali ia akan mendapatkan surga”.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah dan menebarkannya kearah pasukan musuh hingga mengenai mata mata mereka sementara perang berkecamuk berpuluh-puluh tentara musyrikin menghembuskan nafasnya, melayang jiwanya meninggalkan badannya bergelimpangan di atas tanah bermandikan darah.

Rasulullah pula tidak henti-henti memanjatkan do’a pada Allah memohon kemenangan kaum muslimin.

Pasukan musuh Quraish porak poranda dan sebanyak 70 orang kaum Quraish terbunuh dan 70 yang lain tertawan.  sementara menimpa kaum muslimin 14 sahabat syahid (6 dari Muhajirin dan 8 dari Anshar). Umat Islam mendapat kemenangan dari sebab keteguhan dan ketabahan hati mereka. Bangkai-bangkai kaum musyrikin dilempar dan dikuburkan di dalam sebuah sumur di Badr.

Nabi sallallahu `alaihi wa sallam menghampiri sumur tersebut seraya berkata dengan lantang memanggil nama nama mereka, “Wahai fulan ibnu fulan, bagaimana sekiranya kalian taat kepada Allah dan Rasul Nya?? Bukankah sekarang kalian merasakan janji Allah kepada kalian adalah benar adanya??”, maka umar bertanya, “Bukankah mereka telah mati wahai Rasulullah?”, maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh mereka lebih mendengar dari pada kalian!!”.

Rasulullah kemudian bermusyawarah dengan para sahabat tentang nasib tawanan Badar.  Maka umar menyatakan agar dibunuh, kerana mereka telah ingkar dengan Allah dan mengusir kaum Muhajirin dari Makkah.

Abu Bakar mengisyaratkan agar menerima tebusan dengan harapan mudah-mudahan mereka akan insaf dan tertarik dengan Islam.  Setelah berbincang, mereka akhirnya mengambil keputusan untuk melepaskan mereka dengan mengenakan tebusan sekadar yang sepatutnya melihat keadaan masing-masing. Antara 4000 dirham dan 1000 dirham.  Bagi yang miskin tetapi memiliki pengetahuan membaca dan menulis maka diperintahkan supaya mengajar sepuluh orang anak-anak dari kaum muslimin. Mereka semua dibebaskan apabila tebusan telah dibayar atau kanak-kanak itu telah pandai. Dan sebagian diberikan hukuman mati dikarenakan gangguannya pada kaum muslimin sangat banyak dan dahsyat.

Pelajaran yang kita petik dari peperangan ini adalah kemenangan kelompok yang sedikit melawan musuh kafir yang jumlahnya berlipat, kemenangan tersebut diraih karena tegar di atas agama dan berjuang untuk Islam, maka jikalau kita menghendaki suatu kemenangan dan kejayaan sepantasnya kita berpegang teguh dengan agama islam nan suci ini.

Semoga Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin diseluruh penjuru dunia dan menjadikan kita bersatu di atas agama islam yang murni dan menyatukan hati-hati kaum muslimin untuk meninggikan kalimat Allah sehingga tetap berjaya.

Penerima Zakat

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu `ala Rosulillah, wa ba`du;

Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At Taubah: 60).

Di dalam ayat mulia ini Allah Ta`ala jelaskan tentang orang-orang yang berhak menerima zakat yang sesuai ketentuan dan keputusan yang penuh dengan hikmah dan keadilan serta rahmat-Nya.

» Yang pertama dan kedua, mereka adalah kaum fakir dan miskin yaitu yang tidak memiliki kecukupan dirinya beserta keluarganya, maka diberikan zakat yang mencukupi kebutuhan makanannya selama satu tahun. Demikian pula dengan orang yang memiliki penghasilan tetapi tidak mencukupi untuk keluarganya, maka ia diberikan zakat agar mencukupi kebutuhan makanannya, karena semacam ini tergolong orang yang memiliki hajat.

Adapun orang yang mampu maka tidak dibolehkan untuk menerima zakat, jikalau ia meminta maka hendaknya ia dinasehati agar tidak meminta sesuatu yang tidak halal baginya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meminta minta manusia dalam rangka memperbanyak harta maka sesungguhnya ia adalah meminta bara api neraka”. (HR muslim).

» Yang ketiga, adalah Amil, yaitu seseorang yang diberikan tugas oleh pemerintah atau penguasa untuk menarik zakat dan menyimpannya serta membagikannya, maka ia diberikan setimpal dengan tugasnya, adapun para perwakilan penyaluran zakat perorangan maupun individu maka ia tidak berhak untuk menerima zakat, jikalau melihat maslahat maka diusahakan dari luar zakat.

» Yang keempat, mualaf, yaitu orang yang lemah iman ataupun orang yang dikhawatirkan keburukan dan kejahatannya,

maka mereka diberikan zakat sesuai dengan masalah yang ada.

» Yang kelima, budak dan Muslim yang tertawan dan tersandra, maka diberikan zakat hingga dapat membebaskan diri.

» Yang keenam, orang yang terlilit hutang, maka ia diberikan zakat agar terbebas dari hutangnya, demikian pula orang yang sedang menanggung beban dalam suatu pertikaian dan perselisihan, seperti beban jaminan dalam perdamaian antara kelompok yang bertikai.

» Yang ketujuh, Fi Sabilillah, yaitu jihad di jalan Allah Ta`ala yang bertujuan menegakkan kalimat Allah, bukan fanatik kelompok atau golongan atau bangsa. maka mereka diberikan zakat untuk kebutuhan perang dari perbekalan makan dan senjata hingga kalimat Allah menjadi berkibar.

Yang kedelapan, Ibnu Sabil, yaitu seseorang musafir yang kehabisan perbekalan, maka diberikan zakat hingga mencukupi kebutuhannya dan kembali ke asalnya.

Tidak boleh zakat diberikan kepada orang kafir non muslim, kecuali jika dalam keadaan ta`lif kulub (mualaf), demikian pula tidak boleh memberikan zakat kepada orang kaya kecuali jika ia sebagai amil atau sebagai mujahidin yang berperang di jalan Allah.

Tidak boleh memberikan zakat kepada orang yang menjadi tanggungjawab nafkahnya, seperti tamunya, istrinya, orang tuanya, kerabat yang menjadi tanggungjawabnya.

Adapun seseorang yang bukan merupakan tanggung jawabnya maka dibolehkan, seperti seorang istri memberikan zakat kepada suaminya, kepada kerabat yang bukan tanggung jawabnya.

Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dan melipatgandakan zakat, sedekah, serta amalan sholeh kita di bulan suci ini.

Berbuka Sebelum Waktunya Tanpa Udzur

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Begitu segar melihat para peminum es di pinggir jalan..

Kasihan mereka..
Para lelaki sepertinya tidak datang bulan..

Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا فَقَالَا لِي: اصْعَدْ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ فَإِذَا أَنَا بِصَوْتٍ شَدِيدٍ فَقُلْتُ: مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟ قَالَ: هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ, ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا, فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ فَقِيلَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ,

“Ketika aku tidur, (aku bermimpi) melihat ada dua orang yang mendatangiku, kemudian keduanya memegang lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Mereka mengatakan, ‘Naiklah!’ Ketika aku sampai di atas gunung, tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat keras. Aku pun bertanya, ‘Suara apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah teriakan penghuni neraka.’ Kemudian mereka membawaku melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, aku melihat ada orang yang digantung dengan mata kakinya (terjungkir), pipinya sobek, dan mengalirkan darah. Aku pun bertanya, ‘Siapakah mereka itu?’ Kedua orang ini menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktunya (meninggalkan puasa).’
(HR. Ibnu Hibban, no. 7491; Al-Hakim, no. 2837; Ibnu Khuzaimah, no. 1986; dinilai sahih oleh banyak ulama, di antaranya Al-Albani dan Al-A’dzami).

Semoga kita dan anak cucu kita gak berbuat seperti itu..

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Masih Berat Membaca Al Qur’an ?

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Jika anda berat membaca Alqur’an maka tanyakan kepada lisanmu hari ini engkau makan apa? Halal apa haram? Hari ini engkau berkata apa? Baik atau tidak? Maksiat atau taat ?

Jika masih juga tidak ketemu jawabannya… maka katakan bahwa engkau suatu saat pasti akan masuk kubur… hanya menunggu giliran yang pasti… tidak ada yang ragu akan datang giliran itu…

Senyap jika telah memasukinya.. hanya amal ibadahmu yang engkau andalkan tentu dengan rahmatNya…

Masih malas pula? Terbuat dari apa hatimu?

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Keutamaan Luar Biasa Shohibul Qur’an

Ustadz M Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Berikut adalah beberapa keutamaan bagi orang yang mengkaji, memahami, merenungkan dan menghafalkan Al Qur’an.

[1] Mendapat Syafa’at di Hari Kiamat

Dari Abu Umamah Al Bahiliy, (beliau berkata), “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

“Bacalah Al Qur’an karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya. Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut. Bacalah pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.” (HR. Muslim no. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di At Taisir bi Syarhi Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/388, Asy Syamilah)

[2] Permisalan Orang yang Membaca Al Qur’an dan Mengamalkannya

Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

“Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari no. 5059)

[3] Keutamaan Memiliki Hafalan Al Qur’an

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ dalam hadits ini adalah menghafalkan Al Qur’an. Perhatikanlah perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2440. “Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan shohibul qur’an (orang yang membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (Al Qur’an).’ Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga nanti tergantung dari banyaknya hafalan seseorang di dunia dan bukan tergantung pada banyak bacaannya saat ini, sebagaimana hal ini banyak disalahpahami banyak orang. Inilah keutamaan yang nampak bagi seorang yang menghafalkan Al Qur’an, namun dengan syarat hal ini dilakukan untuk mengharap wajah Allah semata dan bukan untuk mengharapkan dunia, dirham dan dinar. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا

“Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan Al Qur’an dengan niat yang jelek).” (HR. Ahmad, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).” [Makna qurro’uha di sini adalah salah satu makna yang disebutkan oleh Al Manawi dalam Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 2/102 (Asy Syamilah)]

[4] Keutamaan Mengulangi Hafalan Al Qur’an.

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

“Sesungguhnya orang yang menghafalkan Al Qur’an adalah bagaikan unta yang diikat. Jika diikat, unta itu tidak akan lari. Dan apabila dibiarkan tanpa diikat, maka dia akan pergi.” (HR. Bukhari no. 5031 dan Muslim no. 789).

Dalam riwayat Muslim yang lain terdapat tambahan,

وَإِذَا قَامَ صَاحِبُ الْقُرْآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ذَكَرَهُ وَإِذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ نَسِيَهُ

”Apabila orang yang menghafal Al Qur’an membacanya di waktu malam dan siang hari, dia akan mengingatnya. Namun jika dia tidak melakukan demikian, maka dia akan lupa.” (HR. Muslim no. 789)

Al Faqih Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin memiliki kebiasaan menghafal Al Qur’an di pagi hari sehingga bisa menguatkan hafalannya. Beliau rahimahullah mengatakan, “Cara yang paling bagus untuk menghafalkan Al Qur’an -menurutku- adalah jika seseorang pada suatu hari menghafalkan beberapa ayat maka hendaklah dia mengulanginya pada keesokan paginya. Ini lebih akan banyak menolongnya untuk menguasai apa yang telah dia hafalkan di hari sebelumnya. Ini juga adalah kebiasaan yang biasa saya lakukan dan menghasilkan hafalan yang bagus.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 105, Darul Itqon Al Iskandariyah)

Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan syafa’at melalui amalan Al Qur’an.

Rasa Malu Yang Hilang dari Sebagian Perokok

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sebagian perokok tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya yang batuk-batuk karena menghirup asap rokok yang dikebulnya.

Bahkan meskipun yang batuk-batuk tersebut adalah anak-anak kecil..bahkan balita??. Si perokok dengan santai aja –tanpa malu sedikitpun- terus asyik mengebulkan asap rokoknya.

Demikianlah rasa malu yang hilang…tidak memikirkan perasaan orang lain… tidak memperdulikan penderitaan orang lain… yang penting ia bisa senang dan puas !!!.

Sungguh Menakjubkan tatkala terpampang di beberapa plakat yang besar di tengah-tengah kota Jakarta tentang sindiran bagi para perokok. Diantara tulisan yang terpampang di plakat-plakat tersebut –seingat saya- adalah :
((Dia sendirian enak-enak, kita sakit bareng-bareng))

Ini adalah sindiran kepada perokok yang jika sedang berlezat-lezat dengan rokoknya maka banyak merugikan orang lain disekililingnya yang menjadi perokok pasif.

Demikian juga tertampang tulisan yang lain yang menyindir para pemilik pabrik rokok yang kaya raya. ((Mereka yang kaya, kita yang masuk rumah sakit))

Akan tetapi ya…plakat tersebut hanya 2 atau 3 plakat, sementara plakat-plakat dan poster-poster tentang iklan rokok sangat banyak dan mentereng !!!