All posts by BBG Al Ilmu

976. Pemimpin Amanah

976. BBG Al Ilmu – 199

Tanya:
Mohon penjelasan tentang pemimpin yang amanah.

Jawab:
Syaikhul Islam dalam karyanya as-Siyasah as-Syar’iyah tentang kriteria pemimpin yang baik. Beliau menjelaskan,
”Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal, itu memiliki dua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah.”

Sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. Al-Qashas: 26).

Sifat amanah, itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allah, tidak memperjual belikan ayat Allah untuk kepentingan dunia, dan tidak takut dengan ancaman manusia. Tiga kriteria inilah yang Allah jadikan standar bagi setiap orang yang menjadi penentu hukum bagi masyarakat.

Kemampuan dan amanah jarang bersatu pada diri seseorang. Karena itu, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah mengadu kepada Allah, ”Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu: orang fasik yang kuat (mampu) dan orang amanah yang lemah.”

Di sinilah Syaikhul Islam menyarankan untuk menerapkan skala prioritas. Mana karakter yang lebih dibutuhkan masyarakat, itulah yang dikedepankan.

Dalam posisi tertentu, sifat amanah lebih dikedepankan. Namun di posisi lain, sifat mampu dan profesional lebih dikedepankan.

Syaikhul Islam membawakan riwayat dari Imam Ahmad, ketika beliau ditanya,

’Jika ada dua calon pemimpin untuk memimpin perang, yang satu profesional tapi fasik, dan yang satu soleh tapi lemah. Mana yang lebih layak dipilih?’

Jawab Imam Ahmad:
Orang fasik yang profesional, maka kemampuannya menguntungkan kaum muslimin. Sementara sifat fasiknya merugikan dirinya sendiri. Sedangkan orang soleh yang tidak profesional, maka kesolehannya hanya untuk dirinya, sementara ketidak mampuannya merugikan kaum muslimin. Dipilih perang bersama pemimpin yang profesional meskipun fasik.

Sebaliknya, jika dalam posisi jabatan itu lebih membutuhkan sifat amanah, maka didahulukan yang lebih amanah, sekalipun kurang profesional, seperti bendahara atau semacamnya.

Kemudian, beliau memberikan kesimpulan dalam menentukan pemimpin:
“…Diutamakan yang lebih menguntungkan untuk jabatan itu, dan yang lebih sedikit dampak buruknya…”

Rujukan:
http://www.konsultasisyariah.com/bagaimana-kriteria-pemimpin-yang-baik-dalam-islam/#

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Perbedaan Kalimat ‘Andai Kemarin’ Dan ‘Andai Besok’

‘Andai kemarin’ dan ‘andai besok.’

Sobat..! Dua ucapan yang sekilas sama saja, namun ketahuilah bahwa keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar.

Ucapan “ANDAI KEMARIN” menggambarkan adanya penyesalan dan keinginan untuk merubah masa lalu. Tentu saja keinginan merubah masa lalu adalah sikap pandir dan sia-sia.

Wajar saja bila Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ – حديث صحيح رواه مسلم

“Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah/tidak berdaya.

Bila engkau ditimpa sesuatu maka jangan pernah berkata: “andai aku berbuat demikian niscaya kejadiannya akan demikian dan demikian..”

Namun ucapkanlah: “ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi/terwujud..” karena sejatinya ucapan “andai” hanyalah membuka pintu godaan setan..” [Riwayat Muslim]

Walau demikian, perlu anda ketahui bahwa larangan ini berlaku bila ucapan “ANDAI” diucapkan dalam konteks menyesali kodrat ILAHI, bukan dalam rangka mengambil pelajaran/ibroh agar tidak mengulang kembali kesalahan atau untuk meningkatkan amalan.

Adapun bila diucapkan dalam rangka mengambil ibroh atau antisipasi maka itu ucapan terpuji. Karena itu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

: ((لولا حداثة عهد قومك بالكفر لنقضت الكعبة، ولجعلتها على أساس إبراهيم، فإن قريشاً حين بنت البيت استقصرت، ولجعلت لها خلفاً)

“Andailah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekufurannya niscaya aku memugar bangunan Ka’bah, dan aku kembalikan sesuai pondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim, karena sejatinya pada saat quraisy memugar Ka’bah, mereka kekurangan biaya, dan niscaya aku buatkan pula pintu keluarnya..” [Riwayat Muslim]

Pada kisah lain Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

(لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدى ولجعلتها عمرة…)

“Andai aku masih di awal perjalananku dan belum terlanjur, niscaya aku tidak membawa hewan sembelihan (Al Hadyu) dan aku jadikan ihromku ini sebagai ihrom umroh terlebih dahulu ( sehingga menjadi haji tamattu’)..”. [Riwayat Muslim]

Ucapan “ANDAI” untuk hari esok adalah indikator orang cerdas nan bijak. “ANDAI BESOK” berarti rencana, persiapan atau antisipasi, dan semua itu mencerminkan sikap bijak dan sudah barang tentu tidak terlarang.

Karena itu ungkapan semacan ini banyak kita temukan dalam hadits dan ucapan para sahabat.

Diantaranya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

” لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Andai aku berumur panjang hingga tahun depan niscaya aku puasa pula pada hari ke sembilan (dari bulan Muharrom).” [Riwayat Muslim]

Penulis,
Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Keimanan Sumber Kebahagian

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Kebahagian adalah dambaan setiap orang. Tak seorangpun yang ingin hidup sengsara.

Kebahagiaan merupakan sebuah cita-cita yang semua orang berusaha untuk meraihnya.

Lalu bagaimana meraih kebahagian yang hakiki?

Keimanan kepada Allah merupakan faktor utama dalam meraih kebahagiaan.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan 3 tanda kebahagian:

1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah ‘Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin
bahwa itu semua atas kehendak Allah ‘Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah ‘Azza wa jalla.
Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
” Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Semoga kita dapat meraih kebahagian yang hakiki.

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

975. Bagaimana Bila Sudah Sepuh Dan Lupa Bilangan Ataupun Bacaan Dalam Sholat ?

975. BBG Al Ilmu – 271

Tanya:
Ayah saya sudah sepuh 83 tahun, akhir2 ini beliau sering lupa jumlah raka’at dan bacaan. Ibu saya sudah mengingatkan dengan menepuk tangan tapi beliau tetap bingung kesalahan dimana. Akhirnya ibu saya sholat dahulu, baru menjaga sholat ayah saya dengan memberitahu kesalahan dimana, tapi ayah tetap bingung. Mohon petunjuknya.

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله

Hal pertama yang harus diketahui, bahwa hukum sholat fardhu (yang lima waktu) berjama’ah bagi setiap laki-laki muslim yang berakal dan baligh, mukim, sadar dan mampu datang ke masjid adalah WAJIB berdasarkan perintah Allah ta’ala di dlm Al-Qur’an dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits2 yang shohih.

Oleh karena itu, ayah anda wajib sholat berjama’ah di masjid. Sedangkan ibu anda boleh sholat sendirian di rumah karena sholat fardhu berjama’ah di masjid wanita muslimah adalah TIDAK WAJIB.

Kemudian, hal kedua; jika ayah anda sholat berjamaah di rumah bersama ibu anda karena sakit atau hujan deras yang menghalanginya untuk pergi ke masjid, sementara keadaannya sebagaimana yang anda ceritakan, yakni sering lupa jumlah roka’at sholat; maka kewajiban ibu anda mengingatkan ayah anda (suaminya) dengan tepuk tangan ketika lupa.

Jika sudah diingatkan berulang kali, namun ayah anda tetap saja lupa dengan jumlah roka’atnya, maka yang nampak bagi kami, sebaiknya ibu anda sholat sendirian dalam rangka menjaga kekusyu’an sholatnya.

Dan ayah anda diberitahu agar memilih jumlah roka’at yang paling sedikit jika ia lupa atau ragu2 dengan jumlah roka’at sholatnya. Sebagai contoh; ayah anda ragu2 atau lupa, apakah ia sudah sholat 2 atau 3 roka’at? Maka hendaknya ia memilih 2 roka’at. Karena itulah yang dianggap sebagai suatu yang yakin.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: (Da’ Maa Yariibuka ilaa Maa Laa Yariibuka)

Artinya: “Tinggalkanlah apa yang membuatmu ragu-ragu, untuk memilih (atau mengikuti) sesuatu yang tidak meragukanmu.”

Di dalam kaedah fiqih disebutkan: (Al-Yaqiinu Laa Yazuulu Bi Asy-Syakk)

Artinya: “Sesuatu yang yakin tidak dapat dihilangkan dengan sebab adanya keragu-raguan.”

Dan hal yang terakhir, jika ayah anda sudah berupaya untuk mengingat-ingat jumlah roka’at sholatnya, namun ternyata masih tetap saja lupa dan keliru, maka hal tersebut dimaafkan oleh Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: (innallah Tajaawaza ‘An Ummatii ‘anil Khotho’i wan-Nisyaani Wa Mastukrihuu ‘Alaihi)

Artinya: “Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan umatku yang dilakukan karena keliru, LUPA, dan TERPAKSA.”

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat.
والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

974. Apakah Hidayah Taufik Itu ?

974. BBG Al Ilmu – 271

Tanya:
Apakah hidayah ilmu dan hidayah taufik itu ?

Jawab:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Hidayah itu ada dua macam:

1. Hidayah berupa keterangan (hidayatul irsyad wal bayan).

2. Hidayah berupa pertolongan (hidayatut taufiq wal ilham).

Kedua macam hidayah ini bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan hidayatul bayan saja.

Artinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal, hidayatul bayan tanpa disertai taufiq untuk beramal bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.

Maka wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Seorang ‘alim (orang yang berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh) selama dia belum beramal dengan ilmunya.

Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

973. Mengapa Tidak Ada Kata “Sayyid” Dalam Bacaan Sholawat ?

973. BBG Al Ilmu – 425

Tanya:
Ada sebuah hadits:
“Saya adalah sayyid keturunan adam pada hari kiamat. Sayalah orang yang pertama kali terbelah kuburnya.” (HR.Muslim 2278)

Berdasarkan hadits diatas, mengapa kata “sayyid” tidak dipakai dalam shalawat ?

Jawab:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Karena ketika Rasulullah mengajarkan shalawat kepada Para sahabat tidak menggunakan kata sayyid. Para sahabat Nabi, orang yang paling mencintai beliau jauh lebih cinta dari kita semua, mereka tidak pernah mengarang-ngarang shalawat. Mereka bahkan bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam cara bershalawat:

يا رسول الله ، أما السلام عليك فقد عرفناه ، فكيف الصلاة ؟ قال : ( قولوا :اللهم صل على محمد وعلى آل محمد ، كما صليت على إبراهيم ، إنك حميد مجيد ، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد ، كما باركت على إبراهيم ، إنك حميد مجيد )
 
“Wahai Rasulullah, tata cara salam terhadapmu, kami sudah tahu. Namun bagaimana cara kami bershalawat kepadamu ? Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: ‘Ucapkanlah: Allahumma Shalli ‘ala Muhammad Wa ‘ala Aali Muhammad, Kamaa Shallaita ‘ala Ibrahim Innaka Hamiidum Majid. Allahumma Baarik ‘ala Muhammad Wa ‘ala Aali Muhammad, Kamaa Baarakta ‘ala Ibraahim, Innaka Hamiidum Majid‘”. (HR. Al-Bukhari 4797).

Dalam hadits itu sangat jelas, para sahabat bertanya cara bershalawat, dan
Nabi صلى الله عليه و سلم mengajarkan tanpa adanya lafzdz SAYYID.

Jadi harus dibedakan antara hadits dalam bentuk berita (kabar) dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan hadits perintah bershalawat.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Menggunakan Hak Suara Bukan Berarti Masuk Parlemen Atau Partai

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Sobat! Fatwa beberapa ulama’ besar yang saya unggah di status saya beberapa waktu lalu, hanyalah menjelaskan bolehnya menggunakan hak pilih untuk memilih yang paling ringan madharatnya. Harapannya, gerakan tokoh tokoh pembawa kerusakan dapat dibendung, bukan dalam rangka mencari pemimpin yang dapat menegakkan Hukum hukum islam.

Sobat! Camkan baik baik sabd Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:

«أنه لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة، وأن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر»

Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini dengan perantaraan orang fajir/ keji.” ( Muttafaqun Alaih)

Karena tanggapan sebagian teman terhadap fatwa tersebut dengan anggapan : ” sia sia keberadaan orang orang baik di parlemen, atau partai adalah hasil demokrasi yang sudah barang tentu menyimpang dari ajaran Islam” adalah tanggapan yang sangat mengherankan dan salah sasaran.

Menggunakan hak suara dalam pemilu bukan dalam rangka mencari pemimpin yang akan menegakkan islam, namun dalam rangka meminimalkan ruang gerak para penjahat dan musuh Islam.

Dahulu, pada awal kedatangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau Shallallahu alaihi wa sallam membuat perjanjian damai/ kerjasama dengan kaum Yahudi untuk mempertahankan kota Madinah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sepenuhnya memahami bahwa Yahudi tidak akan membela Islam apalagi menegakkan Islam, namun beliau melakukan hal itu untuk meminimalkan ancaman dan resiko serangan Kafir Quraisy dan sekutunya. Kisah perjanjian tersebut dimuat dalam kitab kitab sirah dan juga dikisahkan oleh para ulama’ dalam kitab kitab mereka.

Demikian pula fatwa ulama’ yang membolehkan penggunaan hak suara pada pemilu mendatang. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan menepis kesalah pahaman sebagian saudara kita. wallallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

 Oleh Ustadz Dr. Arifin Badri حفظه الله تعالى

Perjalanan Ini…

Ust. Jafar Salih حفظه الله تعالى

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke mesjid.
Buktinya banyak orang kaya raya tidak sanggup mengerjakannya.

Jangankan sehari lima waktu, bahkan seminggu sekali pun terlupa.

Tidak jarang pula seumur hidup tidak pernah singgah kesana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke mesjid. karena orang pintarpun sering tidak mampu menemukannya.

Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga kuliah di Universitas Eropa atau Amerika, dapat melangkahkan kaki Ke Jepang dan Korea, dengan semangat yang membara.

Namun ke mesjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh walau telah bertitel S3.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke mesjid. Karena para pemuda kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke mesjid.

Alasan mereka pun beragam, ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman dicap alim.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke mesjid.

Maka berbahagialah dirimu bila dari kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki di mesjid.

Karena bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke mesjid.

Biar kuberi tahu rahasia kepadamu, sejatinya perjalananmu ke mesjid adalah perjalanan untuk menjumpai Rabbmu. Dan itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lupa akan Rabbnya.

Perjalanan terjauh dan terberat itu adalah perjalanan ke mesjid. Maka lakukanlah walau engkau harus merangkak dalam gelap shubuh demi mengenal Rabbmu.

Semoga Allah Memberi HidayahNya Buat Kita dan Keluarga… Aamiin

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Lebih Mulia Dari Khalifah

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Khalifah Harus Ar Rasyid bertanya kepada Yahya bin Aktsam, “Apa kedudukan yang paling mulia?”

Yahya: “Jabatan yang engkau duduki wahai amirul mukminin.”

Khalifah: “Apakah kamu mengetahui ada jabatan yang lebih tinggi dariku?”

Yahya: “Tidak.”

Khalifah: “Tetapi saya mengetahuinya.. Seorang yang berada dalam halaqoh dan berkata, “Haddatsana fulan dari fulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda…

Yahya: “Ya amirul mukminin, apakah itu lebih tinggi? Sementara engkau adalah keturunan anak paman Rasulullah dan pemimpin kaum muslimin?”

Khalifah: “Ya, itu lebih tinggi karena namanya selalu beriringan dengan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak akan mati selamanya. Sedangkan nama kami akan mati dan hilang dan para ulama itu akan senantiasa harum selama lamanya.”

(Al Adab Asy Syar’iyah karya ibnul muflih 2/138)

– – – – – •(*)•- – – – –

Pentingnya Peran Media Massa

Ustadz Abu Riyadl Nurkholis Majid, Lc

Dizaman arab jahiliah.. peran media sangat penting.. namun media tersebut berbentuk puisi (syair) yang maknanya dapat memengaruhi pemikiran masyarakat..

Mereka bisa tergiring kepada suatu politik tertentu dan ketersohoran seseorang yang dimuat dalam syair tsb..

Pada masa khilafah bani umayyah dan abasyiyah pun juga demikian.. pengaruh media ini sangat dapat bermanfaat untuk memberi info.. bahkan info keilmuan sekalipun..

Adapaun sekarang media tsb telah berubah bentuk menjadi tv, radio dan alat telekomunikasi lainnya baik jejaring sosial dll.

Nah sangat disayangkan.. pemilik stasiont televisi yang pengaruhnya sangat kuat tidak dikuasai oleh muslim yang sejati..

Pembentukan opini dan pemikiran dari segi keyakinan, muamalat, akhlaq, politik dll bukan ditangan kita wahai sahabatku..

Rata rata manusia itu awam..
Mereka hanya tau dari apa yang mereka lihat dan dengar..

Kata pepatah jawa:
Tresno songko kulino..

Monggo mari kita berfikir untuk ini.. bagi yang bermodal besar marilah berupaya mewujudkan impian ini.. sehingga masyarakat luas dapat memanfaatkannya. Dan menjadi amal jariyah di akhirat kelak..

~~»»•««~~