“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.”
(HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)
Hijrah bagi seorang artis dan aktor bukanlah sesuatu yang mudah. Karena ia harus meninggalkan dunianya yang gemerlap dan meletakkan ketenarannya. Meninggalkan hiburan yang melalaikan yang selalu diwarnai oleh syahwat. Karena hijrah mengharuskan ia tunduk dan patuh kepada aturan Allah dan rasul-Nya yang sering kali tak sejalan dengan dunianya.
Ketika ia hendak hijrah, perasaan perasaan ketakutan mulai membayangi hatinya. Karena memang setan selalu berusaha menggembosi orang orang yang ingin hijrah. Hanya orang orang yang diberikan karuniaNya yang mampu mengokohkan kakinya untuk tetap hijrah kepada Allah.
Namun iblis dan bala tentaranya tak pernah diam untuk menggoda. Ia berusaha memasuki pintu pintu yang terkadang tak ia sadari.. Orang yang terbiasa tenar tentu keakuannya amat tinggi dan keinginan untuk tampak di depan manusia amat kuat. Kebiasaan dihormati orang menimbulkan rasa jaim dan keegoan yang besar. Terkadang disertai dengan keangkuhan. Terlebih bila ia terbiasa dengan kemewahan. Rasa takut kehilangan dunia akan sangat menjadi beban. Itulah pintu pintu yang digunakan oleh iblis dan balatentaranya. jika ia tidak berusaha menutup pintu tersebut. ia akan terjerat dalam jaring jaring iblis yang sulit untuk keluar darinya.
iapun hijrah tapi keinginan tampil amat kuat di hatinya. ia menuntut ilmu lalu ia dihiaskan bahwa ia telah banyak keilmuan.. ia harus tampil maka setan memberikan hembusan syubhat menggunakan ketenarannya untuk menarik kaum awam.. iapun tampil dan mulailah berbicara tentang dien.. Ia tak sadar bahwa itu adalah jerat jerat iblis untuk menjatuhkannya dalam berbicara dengan tanpa ilmu. Sebatas akal dan perasaan. Lalu meremehkan ucapan para ulama kecuali yang sesuai dengan pendapat dan keinginannya.
Padahal para ulama terdahulu menghabiskan waktu muda mereka untuk menuntut ilmu sebelum tampil di depan umum. Mereka kuasai dahulu berbagai macam disiplin ilmu dan mengokohkan keilmuan.
Tulisan ini kugoreskan sebagai nasehat untuk diriku dan orang orang yang hendak hijrah terutama dari kalangan artis dan yang semisalnya. Agar fokuskan dulu dalam menuntut ilmu dan memperbaiki jiwa. Jangan sampai pujian manusia menipunya dari jalan hijrah yang ingin ia tempuh.
Semoga Allah memberikan kepada kita semua hidayah dan taufiqNya untuk senantiasa istiqomah di atas manhaj Rasulullah dan para shahabatnya sampai akhir hayat.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka Kami akan percepat untuk dia dalam kehidupan dunia tersebut bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami jadikan untuk dia sebagai sesuatu yang tercela dan hina“
Ayat ini tegas mengatakan bahwa orang yang tujuannya hanya dunia dan tidak mengharapkan sama sekali kehidupan akhirat, maka orang seperti ini akan di berikan apa yang dia inginkan, jika Allah kehendaki, namun di akhirat ia akan mendapatkan api neraka.
“kalau ia di beri baru ia ridho“ kalau ia di beri dunia baru ridho.
وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
“jika ia tidak diberi dunia dia marah“ Artinya ridho dan marahnya karena dunia,bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian kata beliau (Syaikh Al Ubailaan): “Pelaku bid’ah, dia adalah pengikut hawa nafsu, dimana ia beramal sesuai dengan hawa nafsunya, bukan karena sesuai dengan agamanya, dan ia berpaling dari kebenaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya.”
Maka orang seperti ini akan Allah berikan sangsi sesuai dengan hawa nafsunya. Orang seperti ini berhak untuk mendapatkan siksa di dunia dan akhirat.
Para Ulama Salaf yang menganggap fasik orang-orang khawarij dan yang sejenisnya, sebagaimana di riwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, bahwa ia menafsirkan firman Allah [ QS Al-Baqarah 26-27]
وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
“Tidaklah Allah menyesatkan kecuali orang-orang fasik“
“Yaitu orang-orang yang membatalkan perjanjian Allah setelah ia mengambilnya dan mereka memutuskan apa yang telah Allah perintahkan untuk disambung dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itu orang-orang yang merugi“
Dan bisa jadi tujuannya ini, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan). Terlebih apabila manusia telah berpecah belah dan ia termasuk orang-orang yang mencari kedudukan untuk dirinya dan untuk teman-temannya.
Apabila seorang muslim saja yang memerangi orang-orang kafir hanya karena sebatas keberanian atau karena riya’ ingin di puji. Itu bukan dijalan Allah.
Bagaimana dengan orang-orang ahli bid’ah yang berdebat, yang berjidal, diatas hawa nafsunya maka tentu mereka lakukan itu karena fanatik yang buta, maka tentu mereka lebih berhak lagi untuk dikatakan tidak di jalan Allah.
👉🏼 Maka dari itulah kewajiban kita adalah jangan sampai menjadikan ibadah ataupun agama ini sebagai wasilah untuk meraih dunia.
Sehingga pada waktu itu niat kita, tujuan kita hanya sebatas dunia saja.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Imam Ahmad, Tarmidzi dan yang lainnya:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ
“Tidaklah 2 ekor serigala yang lapar di lepaskan pada sekelompok kambing lebih berbahaya dari pada orang yang tamak terhadap harta dan kedudukan yang sangat bahaya untuk agamanya.“
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.