All posts by BBG Al Ilmu

Peringatan Bagi Orang Yang Berharap Balasan Do’a Dan Ucapan Terima Kasih Ketika Memberi

Allah Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا (٨)

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.. (Qs Al-Insan ayat 8)

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا (٩)

(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu..” (Qs Al-Insan ayat 9)

● Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

من طلب من الفقراء الدعاء أو الثناء خرج من هذه الآية

“Siapa yang meminta dido’akan oleh fakir miskin (setelah memberinya) maka ia keluar dari ayat ini..”

(Majmu’ Fatawa 11/111)

Hukuman Bagi Pelaku Maksiat

Al Hafizh Ibnul Jauzi rohimahullahu ta’ala berkata,

ربّما رأى العاصي سلامةَ بدنِهِ ومالِه، فَظَنَّ أن لا عقوبة! وغَفْلَتُه عما عُوقِب به عقوبة! وقد قال الحكماء: المعصية بعد المعصية عقابُ المعصية، والحسنةُ بعد الحسنة ثوابُ الحسنة.

Seringkali seorang pelaku maksiat mendapati keselamatan badan dan hartanya, sehingga ia pun mengira bahwa tidak ada hukuman baginya. Padahal, kelalaiannya dari dosa yang membuatnya pantas menerima hukuman, justru merupakan salah satu bentuk hukuman itu.

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “melakukan kemaksiatan setelah kemaksiatan adalah merupakan hukuman (dari perbuatan) maksiat, sedangkan menjalankan kebaikan setelah melakukan kebaikan adalah merupakan buah (dari perbuatan) kebaikan.

(Shoidul Khothir, hlm. 65)

Diantara Sebab Seseorang Suka Berburuk Sangka

Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,

وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
‏ فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.

“Semua orang yang kamu lihat suka berburuk sangka kepada manusia dan ingin menampakkan aib mereka adalah karena busuknya batin dan hatinya.”

(Az Zawaajir 1/143)

Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Teruslah Berjalan Di Atas Kebaikan

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ للشَّيطانِ لمَّةً بابنِ آدمَ وللملَك لمَّةً فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكذيبٌ بالحقِّ وأمَّا لمَّةُ الملَك فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ فمن وجدَ ذلِك فليعلم أنَّهُ منَ اللهِ فليحمدِ اللَّهَ ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ باللَّهِ منَ الشَّيطانِ الرَّجيمِ ثمَّ قرأ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ الآيةَ

Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam .. dan malaikatpun memiliki bisikan.

Bisikan setan adalah janji dengan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah janji dengan kebaikan dan membenarkan kebenaran.

Siapa yang merasakan itu (yaitu bisikan malaikat) maka hendaklah ia memuji Allah .. dan siapa yang merasakan yang lain (yaitu bisikan setan) maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, ‘Setan itu menjanjikan kefakiran dan menyuruh kepada dosa..’

(Shohih Sunan At Tirmidzi)

Ketika hendak menuntut ilmu..
Setan membisiki, ‘nanti kamu tidak mampu mengamalkannya..’
Ketika hendak mengamalkan sunnah..
Setan membisiki, ‘nanti kamu akan dijauhi orang atau disebut wahabi..’

Maka teruslah berjalan di atas kebaikan..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Bentuk Ujian Keimanan Seorang Hamba

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

الله يبتلي المرء بتيسير أسباب المعصية حتى يعلم سبحانه من يخافه بالغيب.

Allah ‘Azza wa Jalla akan menguji seorang hamba dengan mudahnya jalan untuk berbuat maksiat, sehingga dengan hal tersebut, Allah mengetahui orang yang benar-benar takut kepada-Nya, walaupun ia tidak melihat-Nya.

(Al Qoulul Mufid – 1/200)

Sikap Seorang Mukmin Terkait Aib Orang Lain

Al Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullahu ta’ala (w. 187 H) berkata,

المؤمن يستر ويعظ وينصح، والفاجر يهتك ويعيّر ويفشي.

Seorang mukmin itu :
– menutup aib saudaranya,
– memperingatkan, dan
– menasehatinya.

Sedangkan seorang fajir (pendosa) itu :
– membongkar aib orang lain,
– mencelanya, dan
– menyebarkannya.

(Hilyatul Auliyaa’ – 8/95)

Bagaikan Dedaunan Kering Yang Berjatuhan Dari Pohon

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam suatu hari berjalan bersama para sahabatnya, dan ketika itu beliau membawa tongkat di tangannya.. lalu beliau melewati pohon yang dedaunannya telah kering dan memukul pohon itu dengan tongkat yang ada di tangannya maka daun-daun yang kering itu berguguran.

Dan saat para sahabat melihat dedaunan pohon itu berguguran di depan mereka, maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“sesungguhnya kalimat :

SUBHAANALLAH
WALHAMDULILLAH
WALAA ILAAHA ILLALLAH
WALLAHU AKBAR

menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran..”

( HR. at-Tirmidzi – shohih )

Maka sudah seharusnya seseorang itu mengucapkan EMPAT KALIMAT ini sesering mungkin sepanjang hari dan malamnya .. sungguh terdapat padanya pahala yang sangat besar.

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى

Ketergesa-Gesaan Yang Tidak Tercela

Hatim al-Ashom (w. 237 h) rohimahullah berkata,

كَانَ يُقَالُ العَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ فِي خَمْسٍ إِطْعَامِ الطَّعَامِ إِذَا حَضَرَ الضَّيْفُ وَتَجْهِيْزِ المَيِّتِ إِذَا مَاتَ وَتَزْوِيْجِ البِكْرِ إِذَا أَدْرَكَتْ وَقَضَاءِ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا أَذْنَبَ.

Dikatakan, ketergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara :

1. Bersegera menghidangkan makanan ketika ada tamu.

2. Bersegera mengurus penyelenggaraan jenazah setelah kematiannya.

3. Bersegera menikahkan anak gadis jika sudah bertemu jodohnya.

4. Bersegera membayar hutang jika telah jatuh temponya.

5. Bersegera bertaubat jika telah berbuat dosa

(Hilyatul Auliyaa – 8/78)

Memperbagus Amalan

Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

وكـان الســلـف يـوصــون بـإتــقان الــعمــل وتـحسـينـه دون الإكـثــار مـنــه،

فــإن الــعمــل القــليـل مــع التـحـسيـن والإتــقان، أفضــل مــن الـكثيــر مــع الغــفلـة وعــدم الإتــقـان.

Dahulu para salaf, mereka mewasiatkan untuk menyempurnakan dan memperbagus amalan, bukan sekadar memperbanyaknya.

Maka sesungguhnya amalan yang sedikit, tetapi diperbagus dan disempurnakan, itu lebih utama dibandingkan dengan amalan yang banyak yang disertai dengan kelalaian dan ketidak sempurnaan.

(Majmu Rosail Ibnu Rojab – 1/352)