All posts by BBG Al Ilmu

HADITS : Setiap Muslim Bersedekah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

على كل مسلم صدقة
‏فقالوا : يا نَبِيَّ اللَّهِ فمن لم يجد؟
‏قال : يَعمل بيَدِهِ فَيَنفَعُ نَفْسَهُ ويَتَصَدَّقُ
‏قالوا : فإن لم يجد ؟
‏قالَ : يعين ذا الحاجة الملهوف
‏قالوا : فإن لم يَجد ؟
‏قال :
‏فليعمل بالمعروف وليمسك عن الشر
‏⇦ فإنها له صدقة.

“Setiap muslim hendaklah bersedekah..”

Mereka berkata, “Jika tidak mampu..?”
Beliau bersabda, “Bekerja dengan tangannya agar ia memberi manfaat dirinya dan bersedekah..”

Ditanya lagi, “Jika tidak mampu juga..?”
Beliau bersabda, “Membantu orang yang membutuhkan pertolongan..”

Ditanya lagi, “Jika tidak mampu juga..?”
Beliau bersabda, “Hendaklah ia beramal kebaikan dan menahan diri dari keburukan..”

(HR Al Bukhari no 1445)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Mintalah Hidayah Hanya Kepada Allah

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rohimahullah berkata,

ومن حكمة الرب تعالى في عدم هداية أبي طالب إلى الإسلام ليبين عباده أن ذلك إليه، وهو القادر عليه دون من سواه

“Di antara hikmah Allah tidak memberi hidayah kepada Abu Thalib untuk masuk Islam adalah Allah hendak menjelaskan kepada para hamba-Nya bahwa hidayah hanya kembali kepada-Nya.

Allah lah yang Mahakuasa memberi hidayah, bukan selain-Nya.

فلو كان عند النبي -الذي هو أفضل خلقه- من هداية القلوب وتفريج الكروب ومغفرة الذنوب والنجاة من العذاب ونحو ذلك شيء، لكان أحق الناس بذلك وأولاهم به عمه الذي كان يحوطه ويحميه وينصره ويؤويه

Seandainya Nabi -yang merupakan makhluk Allah yang paling utama- memiliki sedikit kekuasaan untuk :

– memberi hidayah
– menghilangkan kesulitan
– mengampuni dosa, dan
– menyelamatkan seseorang dari adzab

niscaya yang berhak mendapatkan itu semua adalah pamannya. Paman beliaulah yang melindungi, menjaga, membantu, dan mendukung beliau (dan dakwahnya).

فسبحان من بهرت حكمته العقول، وأرشدت العباد إلى ما يدلهم على معرفته وتوحيده، وإخلاص العمل له وتجريده

Mahasuci Allah, Yang hikmah-Nya menyinari akal manusia, Yang memberi petunjuk kepada para hamba-Nya untuk mengenal, bertauhid, dan mengikhlaskan amal hanya kepada-Nya..”

(Fathul Majid – hlm. 223-224)

SELESAI : Bukber Puasa Senin-Kamis : Desember 2023

AHAD PAGI –  31 DESEMBER 2023 / 18 JUMADAL AAKHIROH 1445

Jadwal bukber berikutnya di bulan January 2024, insyaa Allah, silahkan baca artikel berikut  :

UPDATE : Bukber Puasa Senin-Kamis : Desember 2023

===============

BANK SYARIAH INDONESIA
748 000 4447
AL ILMU TA’AWUN
info : 0838 0662 4622

===============

BACKGROUND :
Program rutin, insyaa Allah, menghidangkan ratusan porsi ifthor (makanan dan minuman) untuk kegiatan buka-bersama (bukber) ratusan santri/santriwati penghafal Alqur’an dan penuntut ilmu yang rutin berpuasa dan buka bersama di setiap hari senin-kamis di beberapa ma’had di lombok timur dan  RPQ di kota bima (sumbawa timur).

SATU porsinya senilai antara Rp. 15.000 s/d Rp. 20.000. Silahkan berapapun partisipasinya, semoga menjadi bekal amal kebaikan yang melimpah, aamiin.. Dalam program ini, kami bekerjasama dengan Assunnah Peduli, Lombok Timur.

DOKUMENTASI
SENIN : 27 Nov 2023 : 190 Santri
KAMIS : 30 Nov 2023 : 168 Santri
SENIN : 04 Des 2023 : 249 Santri
KAMIS : 07 Des 2023 : 105 Santri
SENIN : 11 Des 2023 : 230 Santri
KAMIS : 14 Des 2023 : 350 Santri
SENIN : 18 Des 2023 : 150 Santri

================

● saldo 30/12 pkl. 05.00 wib  : Rp. 15.8 Juta
—————————–
● tambahan partisipasi   >>     : Rp. 0.0 Juta
bukber 04/01 – .. santri  >> : Rp. (0.0) Juta
—————————–
● saldo 31/12 pkl. 05.00 wib : Rp. 15.8 Juta

Laporan bukber bulan NOVEMBER 2023 dapat dilihat di link berikut ini :

SELESAI : Bukber Puasa Senin-Kamis : November 2023

Dalam hadits lainnya, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.” [HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]
.
FAQ :
Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Teman Karib Yang Sudah Meninggal
Siapa Saja Dari Ummat Islam Yang Bisa Dihadiahkan Pahala Sedekah..?
================
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus karena Allah menyisihkan sebagian hartanya untuk menghidangkan ifthor bagi ratusan santri/santriwati penghafal Alqur’an yang melaksanakan ibadah puasa sunnah secara rutin in-syaa Allah di setiap senin-kamis, semoga Allah menerimanya…
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alayhi wa sallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
Semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

MUTIARA SALAF : Pokok Dan Cabang Keimanan

Syaikh as-Sa’di rohimahullah berkata,

“Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan.

Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah.

Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama :

(1) membenarkan berita dari Allah dan Rosul-Nya,

(2) menjalankan perintah Allah dan Rosul-Nya, dan

(3) menjauhi larangan-larangan keduanya…”

( al-Qaul as-Sadid fi Maqoshid at-Tauhid, hal. 105 dan 106 )

MUTIARA SALAF : Tujuan Membaca Alqur’an

Al Imam Al Ajurri rohimahullah berkata,

«ومَن تدبَّر كلامَه عرف الربَّ عزَّ وجلَّ، وعَرَفَ عظيمَ سلطانه وقدرتِه، وعظيمَ تفضُّله على المؤمنين، وعَرَف ما عليه مِن فرض عبادته، فألزم نَفْسَه الواجبَ، فحَذِر ممَّا حذَّره مولاه الكريم، فرَغِب فيما رغَّبه، ومَن كانت هذه صفتَه عند تلاوته للقرآن وعند استماعه مِن غيره كان القرآنُ له شفاءً فاستغنى بلا مال ، وعَزَّ بلا عشيرةٍ، وأَنِسَ ممَّا يستوحش منه غيرُه، وكان همُّه عند التلاوة للسورة إذا افتتحها: «متى أتَّعظُ بما أتلو؟»، ولم يكن مرادُه: «متى أختم السورةَ؟»، وإنما مراده: «متى أَعْقِلُ عن الله الخطابَ؟ متى أزدجِرُ؟ متى أعتبر؟»، لأنَّ تلاوة القرآن عبادةٌ لا تكون بغفلةٍ، واللهُ الموفِّق لذلك

“Barang siapa mentadabburi firman-Nya, maka dia akan :
– mengetahui tentang Robbnya, agungnya kerajaan dan kekuasaan-Nya,
– besarnya karunia yang diberikan kepada kaum mukminin,
– kemudian sadar kewajiban untuk beribadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, dia akan mengharuskan dirinya :
– mengerjakan kewajiban,
– menjauhi dari apa yang diperingatkan Robbnya yang Mahamulia, dan
– mencintai apa yang Dia perintahkan.

Barang siapa memiliki sifat ini ketika membaca dan mendengarkan Alqur’an, maka Alqur’an akan menjadi obat baginya. Dia akan berkecukupan tanpa harta, mulia tanpa suku (pendukung), dan tenang menghadapi apa yang biasa membuat orang lain gelisah.

Tujuannya saat membuka surat untuk dibaca adalah : ‘kapan aku bisa mengambil pelajaran dari apa yang kubaca..’ dan bukan : ‘kapan aku menyelesaikan surat ini..’

Namun keinginannya hanyalah :
– kapan aku bisa memahami firman Allah
– kapan aku terhenti (dari larangan-Nya setelah membaca)
– kapan aku bisa mengambil pelajaran

Sebab, membaca Alqur’an adalah ibadah yang tidak dapat diamalkan dengan kelalaian. Hanya Allah yang memberi taufik atas semua itu..”

(Akhlaq Hamalatil Qur’an, hlm 10)

MUTIARA SALAF : Diantara Tanda Keikhlasan

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Seseorang (yang ikhlas) tidak akan merasa senang ketika orang lain menerima ucapannya karena dia yang mengucapkannya, tetapi dia senang ketika manusia menerima ucapannya karena menilainya itu sebagai kebenaran, bukan karena dia yang mengucapkannya.

Demikian juga dia tidak disedihkan ketika orang lain menolak ucapannya karena dia yang mengucapkannya, karena jika demikian hakekatnya dia mengajak kepada pribadinya, akan tetapi dia hanyalah sedih ketika yang mereka tolak itu adalah kebenaran.

Dengan seperti inilah keikhlasan akan terwujud. Jadi ikhlas itu sangat sulit. Hanya saja jika seseorang menuju kepada Allah dengan jujur dan bersih di atas jalan yang lurus, maka sesungguhnya Allah akan membantunya dan memudahkan untuknya..”

(Al-Qoulul Mufid – 1/123)

Bukanlah Bukti Akan Keilmuan Seseorang

Kehebatan berbicaramu..
Bukanlah bukti tentang keilmuanmu..

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam justru tidak menyukai orang yang memfasih fasihkan lisannya agar terlihat kelebihannya..

Beliau bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya.

Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat adalah :

tsartsarun (orang yang banyak berbicara dengan cara membagus baguskan ucapannya agar terlihat lebih),

mutasyaddiqun (memfasih fasihkan lisan saat berbicara agar terlihat hebat), dan

mutafaihiqun.

Mereka bertanya, ‘Siapakah mutafaihiqun..?’

Beliau bersabda, ‘Orang yang sombong..”

(Shohih At Tirmidzi no 2018)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tentang Hujjah

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

وليس لأحد أن يحتج بقول أحد في مسائل النزاع، وإنما الحجة النص والإجماع، والدليل مستنبط من ذلك، تقرر مقدماته بالأدلة الشرعية، لا بأقوال بعض العلماء، فإن أقوال العلماء ويحتج لها بالأدلة الشرعية.

“Tidak boleh bagi seorangpun untuk berhujjah dengan pendapat seseorang dalam masalah yang diperselisihkan.

Hujjah itu adalah nash dan ijma serta dalil yang diambil istinbath darinya. Dan pendahuluannya ditetapkan oleh dalil syariat bukan ditetapkan oleh pendapat sebagian ulama. Karena pendapat ulama itu dijadikan hujjah bila berdasarkan dalil syariat..”

(Majmu Fatawa 26/202)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata memberikan faidah ayat 20 surat Ali Imran pada faidah yang keenam,

لا يمكن أن يكون قول أحد من أهل العلم حجة على الأخرين لأن الكل تابعون لا متبوعون

“Tidak mungkin pendapat salah seorang ulama menjadi hujjah atas (ulama) yang lainnya. Karena semua mereka pengikut (Nabi) bukan yang harus diikuti..”

(Tafsir Ali Imron 1/136)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Jangan Tinggalkan Sholat Berjama’ah Di Masjid

● Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

“Siapa yang senang bertemu Allah besok dalam keadaan muslim maka jagalah sholat-sholat (berjama’ah) di tempat asal panggilan (adzan) nya.

Karena Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian shollallahu ‘alayhi wasallam sunnah-sunnah hidayah. Dan itu (sholat berjama’ah di masjid) termasuk dari sunnah-sunnah hidayah.

Jika kalian sholat di rumah-rumah kalian, seperti pembangkang yang sholat di rumahnya ini, maka itu artinya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.

Aku sudah melihat bahwa tidak ada seorang pun yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali munafik yang jelas kemunafikannya.

(Karena sedemikian bahayanya meninggalkan sholat berjama’ah) sampai-sampai orang yang lemah harus dipapah dua orang laki-laki untuk bisa berbaris di dalam shof..”

(HR. Muslim no. 654)

● Dalam riwayat Muslim yang lain, Abdullah bin (Ibnu) Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِى الْمَسْجِدِ الَّذِى يُؤَذَّنُ فِيهِ

“Sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam telah mengajarkan pada kami suatu petunjuk yang baik. Yang termasuk ajaran yang baik tersebut adalah sholat di masjid yang dikumandangkan adzan di sana..”

(HR. Muslim no. 654)

● Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah menerangkan,

“Setiap ajaran Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam itu adalah petunjuk, cahaya dan syari’at dari Allah. Dan yang dimaksud dalam hadits adalah sholat yang lima waktu.

Sholat tersebut adalah bagian dari petunjuk Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam. Maka benarlah apa yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud. Bahkan sholat lima waktu adalah petunjuk terbesar setelah dua kalimat syahadat dalam rukun Islam..”

(Syarh Riyadhus Sholihin, 5: 76).

● Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan  hafizhohullah mengatakan,

“Seseorang yang meninggalkan sholat berjama’ah menunjukkan akan beratnya dia menjalankan sholat. Ini pertanda bahwa hatinya terdapat sifat kemunafikan. Untuk lepas dari sifat tersebut, marilah menjaga sholat berjama’ah..”

(Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Maram, 3: 365)

ARTIKEL TERKAIT
WAHAI KAUM PRIA.. ANDA AKAN MENYESAL TIDAK SHOLAT BERJAMA’AH DI MASJID

https://bbg-alilmu.com/archives/38030

MUTIARA SALAF : Ujub Menghancurkan Amal

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

– Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

– Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

– Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Bisa jadi :
– orang yang tidur,
– orang yang tidak berpuasa, dan
– orang yang tidak berjihad,
dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu.

Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan sholat, namun di pagi hari engkau merasa ujub.

Sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak akan ada yang naik (diterima oleh Allah).

(Madaarijus Saalikiin, 1/177)