MALAM SABTU – 01 Rojab 1445

MALAM SABTU – 01 Rojab 1445

Sebagian orang beranggapan bahwa pahala amal sholeh hanya akan dirasakan di akhirat.. Begitu pula akibat buruk dari dosa hanya akan dirasakan di hari kiamat.
Padahal sebenarnya,
– AMAL SHOLEH seorang mukmin akan mendatangkan kebaikan, baik ketika di dunia maupun saat di akhiratnya.
– Begitu pula KEMAKSIATAN akan mendatangkan keburukan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.
—–
Renungkanlah dua firman Allah berikut ini:
“Barangsiapa melakukan amal sholeh -baik lelaki maupun perempuan- dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan akan Kami beri balasan (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..”
(QS. An-Nahl: 97)
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit (di dunia), dan pada hari kiamat nanti Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta..”
(QS. Thoha: 124)
Penulis:
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Allah Ta’ala berfirman,
{ وَیَـٰقَوۡمِ ٱسۡتَغۡفِرُوا۟ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوۤا۟ إِلَیۡهِ یُرۡسِلِ ٱلسَّمَاۤءَ عَلَیۡكُم مِّدۡرَارࣰا وَیَزِدۡكُمۡ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمۡ وَلَا تَتَوَلَّوۡا۟ مُجۡرِمِینَ }
“Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku..! Mohonlah ampunan kepada Tuhan kamu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa..”
(Qs Huud : 52)
Al-Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata,
من اتصف بصفة الاستغفار، يسر الله عليه رزقه، وسهل عليه أمره، وحفظ عليه شأنه وقوته.
“Barangsiapa memiliki sifat suka istighfar, maka Allah akan menggampangkan rezekinya, memudahkan urusannya, dan menjaga keadaan dan kekuatannya..”
(Tafsir Qs Huud : 52)
Berikut ini adalah beberapa amalan penggugur dosa dan lafazh istighfar berdasarkan hadits shohih dari Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam :
Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah berkata,
كان السلف يجتهدون في أعمال الخير ويعدون أنفسهم من المقصرين المفرطين المذنبين. ونحن مع إساءتنا نعد أنفسنا من المحسنين.
“Dahulu para salaf bersungguh-sungguh dalam melakukan amal-amal kebaikan. Namun, mereka menganggap diri mereka termasuk orang-orang yang melakukan kekurangan, menyia-nyiakan, dan banyak dosa.
Sedangkan kita bersamaan dengan perbuatan buruk kita, kita menganggap diri kita termasuk orang-orang yang berbuat baik..”
(Majmu’ Rosail Ibnu Rojab al-Hanbali, 1/254)
Bakr bin Abdillah Al-Muzany rohimahullah berkata,
● Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu maka katakanlah, ‘Dia mendahuluiku dengan iman dan amal sholeh, sehingga dia lebih baik dariku..’
● Dan jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu maka katakanlah, ‘Aku mendahuluinya melakukan dosa dan kemaksiatan, sehingga dia juga lebih baik dariku..’
● Jika engkau melihat teman-temanmu menghormati dan memuliakan dirimu maka katakanlah, ‘Ini karena kemuliaan jiwa mereka..’
● Dan jika engkau melihat mereka kurang dalam memuliakan dirimu maka katakanlah, ‘Ini adalah akibat dosa yang kulakukan..!
(Shifatush Shofwah, karya Ibnul Jauzy – Daarul Ma’rifah, 3/248)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,
ينبغي للإنسان أن يغتنم عمره بصالح الأعمال لأنه سوف يندم إذا جاءه الموت إن أمضى ساعة من دهره لا يتقرب بها إلى الله عز وجل كل ساعة تمضي عليك وأنت لا تتقرب إلى الله بها فهي خسارة فانتهز الفرصة بالصلاة والذكر وقراءة القرآن.
“Sebaiknya seorang insan itu senantiasa memanfaatkan umurnya untuk beramal sholih. Karena ia akan menyesal jika ia dijemput kematian, tatkala berlalu satu waktu yang ia tidak memakainya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Setiap waktu yang engkau lalui dalam keadaan engkau tidak mendekatkan diri kepada Allah dengannya, maka itu adalah kerugian. Maka manfaatkanlah kesempatan ini untuk sholat, berdzikir dan membaca Al-Qur’an..”
(Syarh Riyadh Ash-Sholihin 5/154)
Syeikh al ‘Utsaimin -rohimahulloh- berkata :
“Diantara tawadhu’nya Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-; bila beliau di rumah, beliau membantu istrinya, memeras susu kambing, memperbaiki sandal, beliau membantu mereka di rumah mereka.
Hal ini berdasarkan penuturan ‘Aisyah -rodhiallohu ‘anha- ketika ditanya apa yang dilakukan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- saat di rumah: “Beliau dahulu biasa mengerjakan pekerjaan istrinya..”, yakni membantu istrinya.
Misalnya, jika seseorang di rumahnya, maka termasuk sunnah, bila dia membuat teh untuk dirinya sendiri, memasak sendiri bila dia bisa, mencuci apa yang butuh dicuci, ini semua termasuk sunnah Nabi.
Jika kamu melakukan hal itu, maka kamu akan mendapatkan pahala menjalankan sunnah.
Karena (kamu melakukan hal itu untuk tujuan) mengikuti Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan bertawadhu’ (merendah) kepada Allah -azza wajall-.
Hal ini juga akan menumbuhkan rasa cinta antara kamu dan istrimu. Jika istrimu merasa kamu banyak membantunya, tentu dia akan mencintaimu dan dirimu akan semakin berharga di matanya.. dan ini merupakan masalahat yang besar..”
(Syarah Riyadhus Sholihin 2/264)
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Terkait makna kalimat Silaturrohim yang sebenarnya, Ibnu Atsir rohimahullah menjelaskan,
تكرر في الحديث ذكر صلة الرحم: وهي كناية عن الإحسان إلى الأقربين من ذوي النسب، والأصهار، والتعطف عليهم، والرفق بهم، والرعاية لأحوالهم، وكذلك إن بَعُدُوا أو أساءوا, وقطعُ الرحم ضِدُّ ذلك كله
“Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturrohim.
Silaturrohim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturohim adalah kebalikan dari hal itu semua..”
(An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5)
Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin rohimahullah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut :
PERTANYAAN:
Apakah silaturrohim memiliki batasan waktu tertentu..?
JAWABAN:
Wajib kita mengetahui suatu kaedah yang sangat berguna bagi penuntut ilmu dan selain penuntut ilmu, yaitu apabila Allah menyebutkan tentang suatu hal dan tidak membatasinya, maka perkaranya kembali kepada adat dan kebiasaan manusia.
Silaturrohim datang dalam al-Qur’an dan sunnah dengan tanpa pembatasan, sehingga perkaranya kembali kepada adat kebiasaan manusia. Dan adat kebiasaan manusia tentu berbeda-beda selaras dengan perbedaan zaman, negeri, dan keadaan.
Misal: Pada sebagian daerah engkau harus mengunjungi kerabatmu setiap bulan. Bila engkau tidak melakukannya berarti engkau telah memutus hubungan silaturrohim. Demikian juga pada sebagian suku (kabilah), pada sebagian masa, dan sebagian keadaan tertentu. Manusia butuh untuk tetap saling berhubungan dan seseorang tidak meninggalkan yang lainnya.
Namun pada sebagian keadaan tidaklah demikian. Demikian juga kerabat terkadang sakit, butuh untuk berkali-kali dikunjungi. Atau terkadang dia itu fakir yang membutuhkan bantuan materi.
Kesimpulannya, selama silaturrohim itu tidak ada batasan ketentuannya, tidak di dalam al-Qur’an, tidak pula di dalam sunnah, maka urusannya dikembalikan kepada kebiasaan manusia.
Di zaman sekarang ini, kita dapat menjalin hubungan silaturrohim kepada kerabat dengan menggunakan telepon, meskipun engkau menghubunginya setiap hari.
Namun suatu hal yang telah diketahui bila engkau menghubunginya setiap hari tentu hal ini akan membuatnya jenuh.
Kalau engkau menjadikannya setiap pekan sekali, setengah bulan sekali, atau dua bulan sekali sesuai dengan keadaan, tentunya hal ini akan lebih baik.
Kemudian kerabat juga berbeda-beda tingkat kekerabatannya, maksudnya anak paman tentu tidaklah sama dengan saudara (kandung).
(Silsilatu Liqo’atil Baabil Maftuh – 126)
=====
MAKNA KALIMAT SILATURROHIM YANG SEBENARNYA
Terkait makna kalimat Silaturrohim yang sebenarnya, Ibnu Atsir rohimahullah menjelaskan,
تكرر في الحديث ذكر صلة الرحم: وهي كناية عن الإحسان إلى الأقربين من ذوي النسب، والأصهار، والتعطف عليهم، والرفق بهم، والرعاية لأحوالهم، وكذلك إن بَعُدُوا أو أساءوا, وقطعُ الرحم ضِدُّ ذلك كله
“Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturrohim.
Silaturrohim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturahim adalah kebalikan dari hal itu semua..”
(An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,
ﻗﻮﻟﻪ -ﷺ:َ (ﻣَﺎ ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ)
ﻓﻠﻮ ﺗﻮﺍﺿﻊ ﻟﻴﺮﻓﻌﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺘﻮﺍﺿﻌﺎ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻘﺼﻮﺩﻩ ﺍﻟﺮﻓﻌﺔ ﻭﺫﻟﻚ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﺍﻟﺘﻮﺍﺿﻊ.
Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
َﻣَﺎ ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ.
“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, kecuali justru akan Allah tinggikan derajatnya..”
(HR. Muslim no. 2588)
Jadi seandainya seseorang bersikap tawadhu hanya bertujuan agar Allah Subhanah meninggikan derajatnya, maka dia bukan orang yang tawadhu. Sebab, sesungguhnya tujuan (dia) sebenarnya adalah ingin meraih ketinggian derajat, dan hal itu justru bertentangan dengan sifat tawadhu itu sendiri..”
(Al-Fatawa al-Kubro, jilid 2 hlm. 272)