All posts by BBG Al Ilmu

Saat Imam Memimpin Do’a Dalam Sholat

Shaykh al-Islam Ibnu Taymiyyah berkata,

“Seorang imam wajib menggunakan bentuk jamak dalam do’a qunut dan mendo’akan para jamaah, bukan untuk dirinya sendiri saja.

Dan apabila seorang makmum mengamini do’a imam, maka imam hendaknya berdo’a dengan kata ganti bentuk jamak (kita/kami), sebagaimana do’a dalam surah Al-Fatihah pada firman-Nya: (Ihdinash-shiroothol mustaqiim) ‘Tunjukkanlah kami jalan yang lurus..’

Karena sesungguhnya makmum mengamini do’a tersebut semata-mata karena keyakinannya bahwa imam sedang mendo’akan mereka semua.

Jika imam tidak melakukan hal itu (berdo’a untuk bersama), maka sungguh ia telah mengkhianati makmum.

Adapun pada bagian-bagian di mana setiap orang berdo’a untuk dirinya sendiri, seperti :
– do’a pembuka (Istiftah),
– do’a setelah Tasyahud, dan sejenisnya,
maka sebagaimana makmum berdo’a untuk dirinya sendiri, imam pun berdo’a untuk dirinya sendiri.

Sebagaimana pula makmum bertasbih saat rukuk dan sujud, (imam juga bertasbih untuk dirinya sendiri)..”

(Majmu al-Fatawa 23/118)

Apabila Malam Ini ..

Allah Ta’ala berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Turun para malaikat dan Jibril pada malam itu dengan izin Robb mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan keselamatan sampai terbit fajar.” (Al-Qodr: 4-5)

● Syaikh Al Albani rohimahullah berkata,

“Dan di antara masa/waktu, ada yang telah Allah jadikan seluruh amalan baik padanya lebih utama (dari waktu-waktu selainnya), seperti pada sepuluh Dzulhijjah .. dan pada malam Laylatul Qodr yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu seluruh amalan pada malam itu lebih utama (lebih baik) dari amalan selama seribu bulan (yang) tidak ada Laylatul Qodr di dalamnya..”

(Ats-Tsamrul Mustathab – 2/576)

JUMLAH MALAIKAT YANG TURUN DARI LANGIT

Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى

“Sesungguhnya malaikat di malam tersebut di muka bumi lebih banyak dari jumlah batu-batu kerikil..” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah rodhiyallahu ’anhu, Ash-Shohiihah: 2205)

● Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Banyaknya malaikat yang turun di malam tersebut karena keberkahannya yang melimpah, dan malaikat turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/444)

📌 Sebagian ulama menjelaskan bahwa saking banyaknya jumlah malaikat yang turun di malam Laylatul Qodr menyebabkan cahaya matahari di pagi harinya tidaklah menyilaukan, karena banyaknya jumlah malaikat yang kembali ke langit.

Maka bahagialah dan bersyukurlah kepada Allah bagi siapa yang telah diberikan anugerah hidayah untuk memperbanyak ibadah di malam Laylatul Qodr yang pahalanya lebih baik dari 1,000 bulan (83 tahun dan 4 bulan).

Keutamaan & Beberapa Adab Dalam Membaca Alqur’an

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berdabda,

“Orang yang mahir membaca Alqur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Alqur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala..” (HR. Muslim)

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda,

“Sesungguhnya jika seorang hamba bersiwak, kemudian melakukan sholat, maka ada seorang malaikat yang berdiri di belakangnya untuk mendengarkan bacaannya. Malaikat itu akan mendekat kepadanya hingga meletakkan mulutnya pada mulut orang tersebut. Dan tidaklah keluar dari mulut orang tersebut berupa bacaan Alqur‘an kecuali akan masuk ke dalam perut malaikat, maka bersihkanlah mulut kalian bila hendak membaca Alqur‘an..”

(HR. Al-Bazzar, hasan)

● Ibnus Ṣalaḥ rohimahullah berkata,

“Membaca Alqur’an adalah sebuah kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan umat manusia. Para malaikat tidak diberikan (keistimewaan) ini, dan mereka sangat berhasrat untuk mendengarkannya dari manusia..”

(Al-Itqan fī ʿUluum Alqurʾ’an 1/275 – As Suyuti)

📌 Dalam kitabnya tsb, Al Imam As Suyuti rohimahullah menjelaskan beberapa adab yang seharusnya dijaga oleh seorang pembaca Alqur’an,

1. KONDISI FISIK DAN TEMPAT

Bersuci (Wudhu) : Disunnahkan dalam keadaan suci. Meskipun boleh membaca tanpa menyentuh mushaf bagi yang berhadats kecil, namun dalam keadaan suci adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Siwak : Membersihkan mulut sebelum membaca sebagai bentuk pemuliaan terhadap kalimat-kalimat Allah.

Menghadap Kiblat : Memilih posisi duduk yang sopan, tenang, dan jika memungkinkan menghadap ke arah kiblat.

2. MENGAWALI DENGAN ISTI’ADZAH DAN BASMALAH

Membaca Isti’adzah (A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim) untuk memohon perlindungan dari gangguan setan agar fokus terjaga.

Membaca Basmalah di setiap awal surat (kecuali Qs At-Taubah).

3. TARTIL DAN TADABBUR (PERENUNGAN)

Tartil : Membaca dengan perlahan, tidak terburu-buru, dan sesuai dengan hukum tajwid.

Tadabbur : Menghadirkan hati untuk memahami makna ayat. Al Imam As Suyuthi rohimahullah menekankan bahwa tujuan utama membaca adalah untuk memahami pesan Allah.

Menangis : Berusaha untuk tersentuh hatinya hingga menangis saat membaca ayat-ayat tentang adzab atau rahmat Allah sebagai tanda kelembutan hati.

4. MERESPONS AYAT – SAJDAH DAN DO’A

Sujud Tilawah : Melakukan sujud ketika melewati ayat-ayat sajdah.

Berdo’a : Disunnahkan memohon rahmat saat membaca ayat tentang surga, dan memohon perlindungan saat membaca ayat tentang neraka.

(Al-Itqan fī ʿUluum Alqurʾ’an)

Berharap Hanya Kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Yusuf ‘Alaihissalam,

وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ ࣖ (٤٢)

Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu..” Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Qs Yusuf ayat 42)

Imam Ath Thobari rohimahullah menafsirkan,

وهذا خبرٌ من الله جل ثناؤه عن غفلة عَرَضت ليوسف من قبل الشيطان، نسي لها ذكر ربه الذي لو به استغاث لأسرع بما هو فيه خلاصه ، ولكنه زلَّ بها فأطال من أجلها في السجن حبسَه، وأوجع لها عقوبته

“Ini pengabaran dari Allah Ta’ala tentang kelalaian Yusuf yang berasal dari setan. Beliau lupa untuk mengingat Robbnya.

Padahal jika beliau beristighotsah kepada-Nya pasti Allah segera membebaskannya. Namun beliau tergelincir sehingga Allah semakin panjangkan penjaranya sebagai sanksi untuknya..” (Tafsir Ath Thobari)

Berharap kepada makhluk dan menyandarkan hati kepada ya hanya membuat penderitaan semakin panjang..

Berharaplah hanya kepada Allah..


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tips Menghadapi Celaan Manusia

Ibnu Hazm rohimahullah berkata,

الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون

Kecerdasan dan tenang (istirahat) adalah dengan sikap :

●  tidak memperdulikan perkataan/komentar manusia, dan
●  memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta ‘Azza wa Jalla.

Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barangsiapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.

[ Al-Akhlaaq wa As-Siyar Fii Mudawaatin Nufuus hal 17 ]

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/59216

Posisi Duduk Yang Terlarang

Syariid bin Suwaid rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang punggungku. Beliau bersabda, “apakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang orang yang dimurkai Allah..?”

(HR. Abu Dawud no. 4848)
Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih

● Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Duduk dengan bersandar pada tangan kiri disifatkan dengan duduk orang yang dimurkai
Allah.

Adapun meletakkan kedua tangan di
belakang badan lalu bersandar pada keduanya, maka tidaklah masalah. Juga ketika tangan
kanan yang jadi sandaran, maka tidak mengapa.

Yang dikatakan duduk dimurkai sebagaimana disifati Nabi adalah duduk dengan menjadikan tangan kiri di belakang badan dan tangan kiri
tadi diletakkan di lantai dan jadi sandaran.
Inilah duduk yang dimurkai sebagaimana yang
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan..”

(Syarh Riyadhus Sholihin)

📌 Saat duduk di lantai sambil membaca Alqur’an atau dzikir setelah selesai sholat.. apakah kebiasaan anda duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang punggung dan menjadikannya sebagai sandaran atau tumpuan..?

 

jika iya, maka rubahlah kebiasaan tersebut.

Bilamana ada pertanyaan, “kenapa sampai duduk seperti itu dilarang ?”

Maka jawabannya, bahwa duduk semacam itu adalah duduknya orang orang yang dimurkai Allah (maghdhuub ‘alaihim) sebagaimana yang disabdakan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dalam haditsnya (lihat poster 1).

Jika sudah disebutkan demikian, maka sikap kita adalah SAMI’NAA WA ATHO’NAA, kami dengar dan taat. Tidak perlu mencari dahulu hikmahnya baru kemudian mengamalkannya..

Memperbanyak Do’a Saat Sedang Berpuasa

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang do’anya tidak tertolak :
– orang yang berpuasa sampai ia berbuka,,
– pemimpin yang adil, dan
– do’a orang yang dizholimi.

(HR. Ahmad 2/305)

Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.

(Al-Majmu’, 6: 273)

Al Imam Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

Do’a orang yang sedang berpuasa mustajab, baik saat ia sedang berpuasa maupun saat ia berbuka puasa.

Oleh sebab itulah sahabat Ibnu Umar dahulu apabila berbuka puasa ia mengucapkan,

اَللَّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ اِغْفِرْ لِيْ

ALLAAHUMMA YAA WAASI’AL MAGHFIROH, IGHFIR LII

“Ya Allah, wahai Dzat yang Maha Luas Pengampunan-Nya, ampunilah aku..”

(Lathoiful Maa’rif, 1/211)

Beberapa Dzikir & Do’a Saat Mengalami Kesedihan & Kesulitan

Diantara do’a dan dzikir yang diajarkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam saat menghadapi kesedihan dan kesulitan, seperti yang terkait dengan :

– musibah banjir bandang,
– tanah longsor,
– kehilangan orang yang dicintai,
– kehilangan harta benda,
– ekonomi,
– penyakit,
– masalah rumah tangga, dll

qoddarallah wa maa syaa-a fa’al.

jangan lupa adab sebelum berdo’a