Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Aku Tahu…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Aku tahu bahwa hidup ini bukan selamanya..
Aku tahu bahwa setelah kematian akan ada kebangkitan..
Aku tahu bahwa di sana ada hisab dan perhitungan..
Tapi..
Aku bagaikan kura kura..
Yang berjalan tertatih tatih..
Sementara jalan menuju surga terasa terjal..
Banyak aral yang melintang..
Ya Allah..
Engkau yang berfirman:
Apakah manusia mengira..
Akan dibiarkan berkata: kami beriman..
Sementara ia tidak diuji??
Al ankabut ayat 1

Ya..
Ujian pasti menerpa..
Menyaring keimanan..
Ya Rabbi..
Beri aku kekuatan..

Kaidah Mengenal Bid’ah…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

1. Setiap ibadah yang berdasarkan hadits yang palsu adalah bid’ah. Seperti shalat raghaib, nishfu sya’ban, dsb. (Al I’tisham 1/224-231).

2. Setiap ibadah yang hanya berdasarkan ra’yu dan hawa nafsu adalah bid’ah. (Al ibdaa’ hal 41).
Seperti hanya berdasar pendapat sebagian ulama, atau adat istiadat suatu tempat yang dijadikan ibadah, atau berdasar hikayat dan mimpi. Seperti khuruj.

3. Suatu ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah sementara pendorongnya ada dan penghalangnya tidak ada maka hukumnya bid’ah.(Al I’tisham 1/361, majmu’ fatawa ibnu taimiyah 26/172).

Karena sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak lepas dari tiga keadaan:

A. Tidak dilakukan karena belum ada pendorongnya atau belum dibutuhkan.

B. Tidak dilakukan karena masih ada penghalangnya.

Dua poin ini, bila pendorongnya telah muncul atau penghalangnya telah hilang, dan amat dibutuhkan dan mashlahatnya jelas maka melakukannya tidak dianggap bid’ah, seperti mengumpulkan alqur’an, membuat ilmu nahwu dsb.

C. Tidak dilakukan padahal pendorongnya ada, dan penghalangnya tidak ada, maka melakukannya bid’ah. Seperti adzan dan qamat untuk shalat ied, perayaan-perayaan yang tidak disyari’atkan dsb.

4. Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para shahabat padahal pendorongnya ada, dan penghalangnya tidak ada, maka melakukannya bid’ah. (Al Ba’its hal 48).

Contohnya perayaan maulid nabi yang baru muncul pada tahun 317H, yang pertama kali melakukannya banu fathimiyah syi’ah ekstrim, demikian juga perayaan isra mi’raj.

5. Setiap ibadah yang menyelisihi kaidah syari’at dan maksud tujuannya adalah bid’ah. (Al I’tisham 2/19-20).

Contohnya baca alqur’an keras-keras dengan mikrophon, karena sangat mengganggu, sedangkan mengganggu kaum muslimin adalah haram, dan kaidah berkata: “Menghindari mafsadah lebih didahulukan dari mendatangkan mashlahat”.

6. Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan sesuatu dari adat kebiasaan atau mu’amalah dari sisi yang tidak dianggap oleh syari’at adalah bid’ah. (Al I’tisham 2/79-82).
Contoh: beribadah dengan cara diam terus menerus, atau menganggap memakai pakaian yang terbuat dari kain wol adalah ibadah.

Yang harus difahami adalah bahwa masalah adat dan mu’amalat pada asalnya adalah mubah, dan bisa berubah hukumnya bila dijadikan sebagai wasilah, namun ketika dijadikan sebagai ibadah yang berdiri sendiri dapat menjadi bid’ah.

7. Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan apa yang Allah larang adalah bid’ah. (Jami’ul uluum wal hikam 1/178).
Contohnya Allah melarang tasyabbuh, maka bertaqarrub kepada Allah dengan cara bertasyabbuh adalah haram, seperti merayakan kelahiran Nabi karena ini menyerupai kaum nashara yang merayakan natal.

8. Setiap ibadah yang telah ditentukan oleh syari’at tata caranya, tempat, waktu, jumlah, sebab dan jenisnya, maka merubah-rubahnya adalah bid’ah. (Al I’tisham 2/34).

Contoh tata cara shalat telah ditentukan tata caranya, maka merubah-rubah atau menambah-nambah dari yang disyari’atkan adalah bid’ah.

9. Setiap ibadah yang TIDAK ditentukan oleh syari’at tata caranya, tempat, waktu, jumlah, sebab dan jenisnya, maka menentukannya dengan tanpa dalil adalah bid’ah. (Al ba’its hal 47-54).

Contoh: dzikir dengan cara berjama’ah dan suara koor, atau membuat jumlah dzikir tertentu tanpa dalil, atau membuat do’a tertentu tanpa dalil.

10. Berlebih-lebihan dalan ibadah dengan cara menambah-nambah dari batasan yang disyari’atkan adalah bid’ah. (Majmu’ fatawa 10/392).

Contoh melafadzkan niat, atau shalat malam semalaman gak tidur, atau tidak mau menikah untuk ibadah dsb.

11. Setiap keyakinan atau pendapat atau ilmu yang bertentangan dengan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah atau bertentangan dengan ijma’ salafushalih adalah bid’ah. (I’laamul muwaqqi’in 1/67).

Kaidah ini mencakup tiga macam:

A. Semua kaidah-kaidah yang mengandung penolakan terhadap al Qur’an dan sunnah, seperti: keyakinan bahwa kabar ahad tidak boleh dijadikan dalil dalam aqidah, atau cukup al qur’an saja dan tidak perlu hadits dsb.

B. Berfatwa dalam agama dengan tanpa ilmu.

C. Menggunakan ra’yu dalam kejadian-kejadian yang belum terjadi, dan menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu yang aneh dan nyeleneh.

12. Setiap aqidah yang tidak terdapat dalam al qur’an dan sunnah dan tidak juga diyakini oleh para shahabat dan tabi’in adalah bid’ah. (Ahkaamul janaaiz hal 242).

Masuk dalam kaidah ini adalah:
A. Ilmu kalam dan mantiq.
B. Tarikat-tarikat sufi.
C. Menggunakan lafadz-lafadz global untuk menentapkan sifat atau menolaknya. Seperti kata tempat untuk menolak keyakinan bahwa Allah bersemayam di atas ‘arasy.

 

Mendahulukan Yang Kanan…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Dari Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat suka mendahulukan yang kanan dalam memakai sendal, menyisir dan bersuci, dan dalam semua urusannya (yang baik)”. Muttafaq ‘alaih.

Fawaid hadits:
1. Disunnahkan mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, menyisir, bersuci dan perbuatan baik lainnya.

2. An Nawawi rahimahullah berkata: “Memulai yang kanan itu berlaku pada setiap urusan yang mulia dan bersih, adapun kebalikannya, maka disunnahkan mendahulukan yang kiri.

3. Mendahulukan mencuci anggota kanan sebelum kiri adalah sunnah dengan ijma’ ulama, bukan wajib.

4. Seorang muslim menjadikan kebiasannya menjadi ibadah, karena ketika ia berupaya melakukannya sesuai sunnah, dan berharap pahala Allah, maka kebiasaannya itu menjadi ibadah.

5. Syari’at islam datang untuk memberi mashlahat kepada manusia dan bimbingan dalam kehidupan mereka.

Wallahu a’lam

Sibuk Memikiran Sesuatu

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata, “Berfikir adalah asal segala ketaatan, dan asal semua kemaksiatan..”

(Miftah Daar As Sa’adah hal. 226).

Kok bisa begitu ya..?
Setelah direnungkan.. Betul juga..
Memikirkan sesuatu biasanya akan merubah suasana hati..
Lalu menimbulkan niat dan keinginan..
Sedangkan niat adalah awal perbuatan..

Ketika seseorang memikirkan tujuan kehidupannya..
Ia ingat kehidupan setelah kematian..
Suasana hatipun berubah..
Timbullah keinginan untuk berbuat ketaatan..

Ketika seorang istri melihat keburukan suaminya..
Ia sibuk memikirkan keburukan tersebut..
Hingga hilang semua kebaikan suaminya..
Timbullah perbuatan nusyuz.. Atau setidaknya berkurang rasa cintanya..
Padahal mungkin suaminya sudah banyak berbuat baik kepadanya..

Ketika seorang lelaki melihat wanita jelita..
Lalu ia sibuk membayangkan keindahannya..
Ia pun lupa dari berdzikir kepada Allah..
Lupa bahwa bidadari surga lebih indah dan jelita..
Lalu muncul keinginan yang terlarang..

Ketika melihat gemerlapnya dunia..
Ia berfikir.. Dan terus sibuk memikirkannya..
Seperti orang yang melihat kemewahan si Qorun..
Ia berkata, “Andai aku kaya seperti dia.. Duhai beruntung sekali rasanya..”
Suasana hatinya berubah.. Ia menilai kehormatan sebatas dengan kekayaan.. kedudukan.. dan kenikmatan dunia..

Sementara temannya yang mukmin berkata..
“Celaka kamu.. Pahala Allah lebih baik dan lebih kekal..”
Dunia hanyalah kesenangan sesaat..
Lalu ia akan hancur dan musnah..

Hari ini..
Esok dan lusa..
Kita sibuk berfikir apa..??
Moga Allah memberi kita kekuatan untuk selalu berfikir positif..
Amin..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Zuhud Di Dunia…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Ibnu Syihab Az Zuhri rahimahullahu berkata, “Zuhud di dunia adalah agar yang haram tidak mengalahkan kesabaranmu dan yang halal tidak mengalahkan syukurmu.”
(Shahih Jami’ Bayanil ilmi wa fadllihi hal. 262).

Pernahkah anda berfikir..
Mengapa banyak keharaman di dunia ini..
Riba haram..
Bunga bank haram..
tabarruj haram..
Ketika hendak berbisnis..
Di hadapkan kepada banyak transaksi yang haram..
Kening menjadi mengkerut..
Lalu berujar, “Semua haram.. Ini haram.. Itu haram..
Tak akan maju dunia ini..
Akhirnya..
kesabaran mulai sirna..
Ia memandang syari’at ini hanya beban dan batu sandungan..
Kalau Allah tidak memberinya rahmat..
ia akan hanyut dan binasa..
Karena yang haram itu kini telah mengalahkan kesabarannya..
Ya Rabb..
Beri kami kesabaran..

Keutamaan Sholat Dengan Bersiwak…

Hadits Aisyah radliyallahu ‘anha:

تَفْضُلُ الصَّلاَةُ الَّتِى يُسْتَاكُ لَهَا عَلَى الصَّلاَةِ الَّتِى لاَ يُسْتَاكُ لَهَا سَبْعِينَ ضِعْفًا

Keutamaan shalat yang dikerjakan setelah bersiwak adalah lebih utama dari pada tujuh puluh raka’at tanpa bersiwak”.

Hadits Aisyah ini diriwayatkan dari beberapa jalan (Al Badrul Muniir (2/13-22) (klik LINK berikut)

http://cintasunnah.com/2013/04/19/takhrij-hadits-keutamaan-shalat-dengan-bersiwak/

Dari jalan-jalan hadits ini tampak kepada kita bahwa hadits ‘Aisyah ini dapat terangkat kepada derajat HASAN. Wallahu a’lam. Dan hadits ini juga mempunyai syawahid dari hadits ibnu Umar, ibnu Abbas dan Jabir radliyallahu ‘anhum yang semuanya dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dan disebutkan oleh ibnul Mulaqqin dalam Al Badrul munir dan ibnu Daqiq Al ‘Ied dalam kitab Al Imam. Namun Al Hafidz berkata: “Sanad-sanadnya ma’lul”. (Talkhisul Habiir 1/168).

Fiqih Hadits

Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat dengan bersiwak, dan ini sangat dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

kalau bukan karena aku takut memberatkan umatku, aku benar-benar akan perintahkan mereka untuk bersiwak di setiap kali shalat”. (HR Muslim).

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

Kunci Khusyu’ Dalam Shalat…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Banyak orang bertanya..
Bagaimana cara khusyu’ dalam shalat?..
Seminar dan kursus pun diadakan..
Agar bisa khusyu’ dalam shalat..
Padahal..
Kunci khusyu’ itu ada di awalnya..
Ia adalah ucapan: Allahu Akbar..
Allahu Maha besar..

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Membuka shalat dengan lafadz ini mempunyai rahasia yang agung..
Seorang hamba ketika berdiri di hadapan Allah..
Ia yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang lebih besar dari Allah..
Dan hatinya merasakan dan masuk ke dalam relungnya..
Ia akan malu kepada Allah..
Keagungan dan kebesaranNya..
Menghalangi hatinya memikirkan yang lain..

Siapa yang tidak merasakan makna ini..
Ia akan berdiri dengan jasadnya saja..
Sementara hatinya..
Tenggelam dalam lembah waswas dan pikiran lain..
Kalaulah Allah lebih besar dari segala sesuatu di hatinya..
Tentu ia tidak akan sibuk memikirkan yang lainnya..
(Jami’ fiqih ibnul qayyim 2/41).

Tak akan khusyu’ hati yang tak membesarkan Allah..
Walau lisan berucap Allahu Akbar..
Walau seribu kursus dihadiri..
karena..
Khusyu’ adalah perbuatan hati..
Yang muncul dari rasa takut kepada sang pencipta..
Dan takut itu karena hati membesarkan dan mengagungkan Allah..

Ya Allah..
Beri kami kekhusyu’an..

Sebelum Dipanggil

قال سفيان الثوري : ” مجيئك إلى الصلاة قبل الإقامة توقير للصلاة ” .
“فتح الباري” لابن رجب (3/533)

Sufyan ats-Tsaury rohimahullah berkata, “Kedatangan kamu sebelum iqomat adalah penghormatan untuk sholat..”
(Fathul Ibnu Rojab 3/533).

وقال إبراهيم التيمي : ” إذا رأيت الرجل يتهاون في التكبيرة الأولى فاغسل يدك منه ” . “سير أعلام النبلاء” (5/84)

Ibrahim At Taimi rohimahullah berkata, “Apabila
kamu melihat orang yang meremehkan untuk mendapatkan
takbirotul ihrom, maka cucilah tanganmu darinya..” (Siyar A’laam An Nubalaa 5/84).

وكان وكيع بن الجراح يقول : ” من لم يدرك التكبيرة الأولى فلا ترجُ خيره ” .
رواه البيهقي في “شعب الإيمان” (3/74) .

Wakie’ bin Al Jarraah rohimahullah berkata, “Siapa yang selalu tidak mendapatkan takbiirotul ihrom, maka jangan kamu harapkan kebaikannya..” (Riwayat Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/74).

قال سفيان بن عيينة :
” لا تكن مثل عبد السوء ، لا يأتي حتى يُدعَى ، إيت الصلاة قبل النداء ” .
التبصرة لابن الجوزي. (131)

Sufyan bin Uyainah rohimahullah berkata, “Jangan kamu seperti hamba yang buruk, yang baru datang jika dipanggil saja. Datangilah sholat sebelum dipanggil..” (At Tabshiroh Ibnul Jauzi).

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Waktu Terlalu Panjang…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman:

ألم يأن للذين ءامنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله و ما نزل من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم وكثير منهم فاسقون

“Belumkah saatnya untuk orang-orang yang beriman.. 
agar hati mereka merasa khusyu’ dengan mengingat Allah.. 
dan apa yang Allah turunkan dari alhaq (al qur’an)..
Dan jangan mereka seperti ahli kitab terdahulu.. 
waktu berlalu panjang kepada mereka..
lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka orang-orang yang fasiq.” (Al Hadiid: 16).

Belumkah saatnya ?
Ya.. Sudah saatnya..
sekarang juga saatnya..
Membuka lembaran baru..
Menghidupkan hari hari dengan berdzikir dan membaca al qur’an..
Namun..
Allah melarang kita seperti ahli kitab..
Panjangnya waktu kepada mereka ternyata tidak menambah kekhusyu’an..
Malah menjadi keras hati mereka..
Sungguh..
Peringatan untuk kita semua..
Sudah berapa tahun kita sholat?
Sudah berapa tahun kita menuntut ilmu?
Sudah berapa tahun kita membaca alqur’an?
Apakah semua itu menambah rasa takut kita kepada Allah?
Ataukah menambah kerasnya hati..
Laa ilaaha illallah..

Ya Allah.. Jangan jadikan hati kami keras dengan panjangnya waktu..
Tambahkan kekhusyu’an di hati kami..
Wahai yang membolak balikkan hati..
Kokohkan hati kami..
Untuk senantiasa istiqomah di jalanMu..
Sampai akhir hayat kami..
Amiin

Menebar Cahaya Sunnah