Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Gurindam Tentang Kesesatan Rafidhah

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Sungguh mulia siapa terjaga
Dari kelamnya Rafidhah durjana

Mengaku Ali titisan Tuhan
Jibril khianat sampaikan pesan

Agama buatan manusia terlaknat
Abdullah bin Saba’ si Yahudi pengkhianat

Pembawa fitnah penumpah darah
Penyebab Utsman tewas di rumah

Bila Rafidhah dustakan Quran
Jadilah Syetan sebagai pimpinan

Bila Sunnah tiada dihirau
Syiah gembira agamapun kacau

Bila Abu Bakar dan Umar dihina
Runtuhlah Islam jangan ditanya

Bila Aisyah dan Hafsah dicerca
Nabi Mulia ikut tercela

Bila mut’ah jadi syariat
Pastilah Aids melanda masyarakat

Bila taqiyyah pilar agama
Dusta dan nifaq jadi idola

Bila Husein dijadikan berhala
Alamat akhirat jadi merana

Bila sahabat dianggap kafir
Runtuhlah hadis tak dapat dipungkir

Bila Ka’bah tiada diziarah
Jadilah Karbala tempat berhaji berumrah

Bila suka darah Sunni bersimbah
Itulah ciri agama Syiah Rafidhah

Bila Syiah di negeri ini subur
Tunggulah NKRI segera kan hancur

Ilmu Dan Kasih Sayang…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Do’a malaikat pemikul arasy..
wahai Rabb kami, sungguh ilmu dan kasih sayangmu meluasi segala sesuatu..
surat ghafir: 7..

Renungkanlah ayat ini..
Ilmu hendaknya selalu disertai kasih sayang..
Agar memberi pesona keindahan..
Kasih sayang kepada manusia..
agar mereka mendapat hidayah..

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata..
“Ahlussunnah adalah yang paling mengetahui kebenaran..
dan paling sayang kepada manusia..”

Namun..
Ketika ilmu tidak disertai kasih sayang..
Lisan seringkali menjadi tajam..
Vonis seringkali menjadi tujuan..
Mata pun jeli melihat kesalahan..
Baginya sifat lembut adalah kehinaan..
Sikap arogan dianggap keperkasaan..

Allahul Musta’an..

Utsman bin Affan berkata..
“Penyakit umat ini adalah..
orang orang yang lisannya suka mencela..
dan mencari cari aib manusia..”

Tertipu Oleh Kepintaran

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Ada Kisah seorang ikhwah..
Yang amat mencintai istrinya. .
Namun istrinya tak mencintainya. .
Ia mengharapkan lelaki lain. .
Yang lebih darinya. .

Wanita itu telah pandai Bahasa Arab. .
Sementara suaminya. .
Hanya memahami Bahasa Indonesia. .

Wanita itu telah lama mengaji. .
Sementara suaminya. .
Sibuk membanting tulang mencari nafkah. .
Tuk membahagiakan kekasihnya. .

Wanita itu telah banyak menghafal al-Qur’an. .
Sementara suaminya tak banyak bisa menghafal. .

Mungkin. .
Kini suaminya sudah tak berharga di matanya. .
Mungkin. .
Kini cintanya telah pudar di hatinya. .
Karena tak sesuai harapannya. .

Demikianlah. .
Kisah cinta yang bertepuk sebelah. .
Karena istrinya tertipu oleh kepintarannya. .

Ilmu tak membuatnya semakin sayang pada
suaminya. .
Ilmu tak membuatnya semakin berbakti kepada
suaminya. .
Ilmu membuatnya angkuh. .
Tak ada lagi cinta dihatiku, kilahnya. .

Saudariku. .
Engkau boleh lebih berilmu dari suamimu. .
Tapi mungkin suamimu lebih takut kepada Allaah darimu. .

Engkau boleh punya banyak kelebihan di atas
suamimu. .
Tapi, suamimu. .
Mungkin lebih dicintai oleh Robbmu karena
ketawadhu’annya. .

Al Hasan Al Bashri rohimahullaah berkata. .
“Ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal
riwayat. Namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada Allaah.”

Dimanakah hadits yang telah engkau hafal,
“Suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu..”

Ya Robb. .
Berilah kami ilmu yang bermanfaat…

Iman Mengalahkan Amal

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Abu Bakar adalah orang yang paling utama setelah para nabi dan rosul.

Keutamaan Abu Bakar melebihi keutamaan seluruh para sahabat. Padahal banyak dikalangan para sahabat yang gugur sebagai syahid di jalan Allah taala. Apa rahasia keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq ?

jawabnya adalah APA YANG ADA DALAM HATINYA berupa keimanan.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang amalan yang paling utama lalu beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Berjihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Haji yang mabrur.” (HR Bukhari)

Ibnul Qoyyim mengatakan: ”perhatikanlah hadits ini, bagaimana Rosulullah lebih mengutamakan iman kepada Allah daripada amalan berjihad di jalan Allah. Padahal jihad lebih melelahkan..”

Umar bin al khaththab mengatakan : “Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, (selain nabi dan rosul) niscaya lebih berat iman Abu Bakar.”

Abu Bakar Su’bah al Qaari berkata : “Tidaklah Abu Bakar mendhaului kalian dengan banyaknya sholat dan shodaqoh, namun dengan iman yang menancap di hatinya”

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Klik :

http://salamdakwah.com/videos-detail/amalan-qalbu.html

Kulit Yang Disamak…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Hadits 16.

Dari ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kulit telah di samak, maka ia menjadi suci.” Dikeluarkan oleh Muslim, dan dalam riwayat yang empat: “Kulit mana saja yang disamak”.

Hadits 17.

Dari Salamah bin Al Muhabbiq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “penyamakan Kulit bangkai adalah pensucian untuknya.” Dishahihkan oleh ibnu Hibban.

Fawaid hadits:

Hadits ini menunjukkan bahwa kulit apabila telah disamak maka ia menjadi suci, namun apakah semua kulit binatang menjadi suci bila disamak? Yang rajih adalah bahwa yang menjadi suci hanya kulit binatang yang halal di makan dagingnya.

Adapun binatang yang tidak halal dimakan, tidak menjadi suci dengan disamak, berdasarkan riwayat: “Penyamakan kulit binatang adalah penyembelihan untuknya”. (HR Muslim).

Dalam hadits ini, Nabi menyamakan penyamakan dengan penyembelihan, sedangkan binatang buas tetap tidak halal walaupun disembelih.

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hadits penyamakan kulit sudah dimansukh oleh hadits: “Abdullah bin Ukaim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat ke kabilah Juhainah: Dahulu aku memberikan keringanan kepada kalian mengenai kulit bangkai, apabila suratku ini telah sampai maka janganlah kalian menggunakan ihab.” (Abu Dawud).

Namun hadits ini dijawab: bahwa yang dilarang oleh Nabi adalah ihab, dan ihab adalah kulit yang belum disamak.”

Ngapain Sih Ngeributin Bid’ah…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Celetukan yang selalu menghiasi banyak orang yang belum memahami hakikat bid’ah dan bahayanya..
Padahal, tiap hari kita membaca al
fatehah: “Ghairil maghdluubi ‘alaihim waladlaalliin”.
Bukan jalannya orang-orang yang dibenci bukan jalan orang yang sesat..

Yang sesat adalah nashrani, karena mereka suka beramal tanpa dasar ilmu..alias suka berbuat bid’ah dalam agama mereka..

Dalam Riwayat Muslim, acapkali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, selalu bersabda:
“Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk Rasulullah, seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (muhdats), dan setiap muhdats adalah bid’ah.”

Jadi yang pertama kali meributkan bid’ah siapa??

Kenapa harus diributkan?
Karena bid’ah merusak kesempurnaan Islam..

Tanyakan kepada pelaku bid’ah:
Apakah Islam baru sempurna dengan perbuatan bid’ah anda?
Ataukah sudah sempurna tanpa perbuatan bid’ah anda?

Jawaban yang pasti: sudah sempurna.. Jadi buat apa mengada ada?

Karena bid’ah sama saja menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhianat..

Imam Malik berkata: “Siapa yang membuat sebuah bid’ah, maka ia telah menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhianat..

Karena kewajiban Nabi adalah menyampaikan risalah..
Dan lisan pelaku bid’ah seakan berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum menyampaikan semua jalan kebaikan dan keburukan..
Sehingga saya butuh membuat sebuah ibadah yang mengantarkan ke surga..

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’uun.. Musibah..

Dua Panutan Kebaikan…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
(Fawaid kitab I’lamul muwaqqi’in karya ibnu Qayyim rahimahullah)

Beliau berkata:
“Para umaro (pemimpin) hanyalah ditaati sesuai dengan ilmu. Mentaati mereka mengikuti ketaatan kepada ulama. Karena ketaatan hanya dalam yang ma’ruf saja.”

Ketaatan pada ulama mengikuti ketaatan kepada Rasul, dan ketaatan kepada umaro mengikuti ketaatan kepada ulama.

Tegaknya Islam dengan dua kelompok: ulama dan umaro. Kebaikan dan keburukan alam mengikuti kedua kelompok ini.

Abdullah bin Mubarok dan ulama salaf lain berkata, “Dua golongan manusia apabila keduanya baik, maka manusia akan baik. Apabila keduanya rusak, maka manusia akan menjadi rusak.”
Ditanya, “Siapa mereka?”
Beliau menjawab, “Ulama dan umaro.”

Beliau bersya’ir:
“Aku melihat dosa mematikan hati..
melanggengkannya mewariskan kehinaan..
Meninggalkan dosa adalah kehidupan hati..
Memaksiati nafsu adalah kebaikan..
Bukankah yang merusak agama adalah para raja..
Juga para ahli ibadah dan ulama yang buruk..

(Hal 18-19).

Tujuan Ilmu…

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Abu Qilabah pernah berkata kepada Ayyub As Sakhtiyani:
“Apabila kamu mendapat ilmu, maka timbulkanlah ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia.”
(Al Adab Asy Syar’iyyah 2/45)

Sebuah pelajaran berharga..
Tujuan ilmu bukan hanya untuk disampaikan saja..
Namun yang terpenting adalah untuk diamalkan..

Di jejaring jejaring sosial..
Di BBM dan media lainnya..
Kita berlomba menyampaikan ilmu..
Baik dengan copas ataupun cara lainnya..

Namun kita sering lupa..
Untuk meraih tujuan ilmu..
Sehingga rasa ujub sering menghinggapi hati..
Merasa senang bila yang berkomentar banyak..
Merasa sedih ketika tidak ada yang komen..
Padahal bukan itu tujuan ilmu..
Tapi tujuan ilmu adalah untuk menambah rasa takut kepada Allah..
Dan menambah keikhlasan..