Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Imsak ??

Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Kata orang, “Imsak itu untuk kehati-hatian saja.. Agar tidak bersahur ketika fajar menyingsing..

Apa betul alasan itu?..
Coba perhatikan hadits ini:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda..

إذا سمعتم النداء والكأس على يد أحدكم فلا يضعه حتى يقضيه منه

“Apabila kalian mendengar adzan, sementara gelas berada di tangan, maka janganlah ia meletakkannya sampai menyelesaikan hajatnya.”

Hadits ini membatalkan imsak sampai ke akar-akarnya..

Perhatikan juga kaidah berikut:

الأصل بقاء ما كان على ما كان

“Pada asalnya tetap pada keadaan sebelumnya.”

Pada asalnya malam masih ada..
Sampai jelas masuknya waktu fajar..
bila ada yang makan sahur dengan dugaan waktu sahur masih ada..
Ternyata fajar sudah masuk..
Maka puasanya sah berdasarkan kaidah itu..

Kaidah ini juga membatalkan imsak..

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullahu berkata..:

Termasuk bid’ah yang mungkar..
Yang terjadi di zaman ini..
Mematikan lampu-lampu sebagai tanda haramnya makan dan minum..
Bagi orang yang ingin berpuasa..
Dengan alasan kehati-hatian dalam ibadah.. (Fathul Baari 4/199).

Tampak jelas..
Bahwa imsak bukan sunnah..
Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Jauhi Debat Terbuka Dengan Ahlul Hawa

Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Betapa berat jiwa seseorang untuk mengakui kesalahannya. Meski nasehat sudah disampaikan secara rahasia, egonya tetap saja mengalahkan ilmunya.

Lantas bagaimana kondisi orang yang berdebat di depan khalayak secara terbuka ? Gengsi semakin mengalahkan akalnya. Iman pun tergilas demi mempertahankan kehormatannya dimata manusia.

Saat itulah HAWA NAFSU yang kan berbicara. Dia lupa atau pura-pura lupa, tujuan berdebat dalam agama adalah untuk mencari kebenaran bukan kemenangan.

Apalagi jika dia bukanlah ahlinya. Hanya orang yang hobby bantah-membantah. Maka percuma berdialog agama dengan orang bodoh yang suka ngeyel. Meninggalkannya jauh lebih utama.

Membuka pintu dialog di forum terbuka dengan ahlul bid’ah sama saja membuka pintu keburukan yang banyak. Kalah atau menang, mereka TELAH BERKESEMPATAN untuk menyampaikan dakwah syubhatnya ditengah-tengah umat. Padahal syubhat itu menyambar dan hati itu lemah.
Maka jauhilah memperdebatkan agama dengan ahlul bid’ah secara terbuka. Kecuali apabila PENGUASA yang memerintahkannya, dan Anda adalah AHLInya.

Simak penjelasan Ust Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Klik
http://salamdakwah.com/videos-detail/mujmal-ushul-ahlissunnati-fil-aqidah-sesi-3.html

View

Menuntut Ilmu Adalah Jihad

Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Abu Darda Radliyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang beranggapan bahwa pergi menuntut ilmu bukan jihad maka telah berkurang akalnya.” (Jami’ bayanil ‘ilmi hal 60).

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah hasanah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, dan membahasnya adalah jihad.” (Jami’ bayanil ‘ilmi hal. 94).

Al Hafidz ibnu Rajab berkata, “Demikian pula orang yang menyibukkan diri dengan ilmu, ia adalah salah satu dari dua macam jihad. Menyibukkan diri dengan ilmu sama dengan jihad fii sabilillah.” (Jami’ Rosail ibnu Rojab 1/244).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata, “Diantara jihad yang paling agung adalah meniti jalan ilmu dan mengajarkannya, karena sibuk dengan ilmu bila niatnya lurus tidak ada amalan yang dapat mengimbanginya. Karena dengan ilmu agama menjadi hidup, orang-orang bodoh menjadi terbimbing, juga seruan kepada kebaikan dan larangan dari keburukan dan kebaikan lain yang amat banyak dimana para hamba selalu butuh kepadanya.”

(Al Fatawa As Sa’diyah hal 45).

View

Pemilu ? Pilpres ?

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Pemilu dan Pilpres selalu menjadi polemik diantara kaum muslimin. Terkadang tidak sungkan-sungkan untuk mencela dan tanpa sadar malah mengghibah kepada sesama muslim. sudah seharusnya kita selalu menyikapi segala sesuatu itu dengan adil. Bagaimanakah Seorang muslim menyikapi polemik terhadap pemilihan sesuatu ?

Mari kita Simak video berikut ini (13:44)
Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc dalam Menyikapi Seputar Polemik PILPRES

https://www.facebook.com/photo.php?v=245303812329737

atau

http://youtu.be/ZPBX6WMuj_8

View

10 Cara Agar Bisa Mencintai Allah

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Ibnu Qayyim menyebutkan 10 cara agar bisa mencintai Allah:

1. Membaca Al Qur’an, mentadabburi, dan memahami makna-maknanya.

2. Bertaqarrub kepada Allah dengan mengamalkan amal-amal yang sunnah.

3. Selalu berdzikir kepada Allah di setiap keadaan, dengan lisan, hati dan amal.

4. Lebih mementingkan apa yang dicintai oleh Allah di atas yang dicintai oleh hamba ketika bertabrakan.

5. Menyelami nama-nama Allah dan sifatNya serta pengaruh dan kesempurnaan yang ditunjukkan olehnya.

6. Memikirkan nikmat-nikmat Allah yang bersifat lahiriyah dan batiniyah. Serta menyaksikan kebaikan-kebaikaNya kepada hambaNya.

7. Menundukkan hati di hadapan Allah dan selalu merasa faqir kepadaNya.

8. Bermunajat kepada Allah di saat sepertiga malam terakhir dengan shalat, membaca alqur’an dan istighfar.

9. Bershahabat dengan orang-orang shalih dan mengambil faidah dari mereka.

10. Menjauhi semua yang menghalangi hati dari Allah.

(Madarijussalikin 3/17, diambil dari kitab Al Irsyad ilaa shahihil I’tiqad hal 79-80 karya Syaikh Shalih Fauzan).

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Adab Menebar Berita

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rosul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)..” (An Nisaa : 83)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy rohimahullah menafsirkan ayat tersebut. Beliau berkata:

“Ini adalah adab dari Allah untuk hamba-hambaNya..

Apabila datang perkara yang penting.. yang berhubungan dengan keamanan dan kegembiraan kaum muslimin..
Atau ketakutan yang ada padanya musibah untuk mereka..

Agar memeriksa dengan teliti..
Dan jangan tergesa gesa menyebarkannya..
Tetapi hendaklah mereka mengembalikan kepada Rosul..
Dan kepada alim ulama..
Yang amat memahami kemashlahatan dan mudhorotnya..

Jika mereka memandang mashlahat untuk disebarkan..
Memberikan kegembiraan kepada kaum muslimin dan terlindung dari musuh mereka..
Mereka lakukan..

Namun jika memandang mudhorotnya lebih besar..
Mereka tidak menyebarkan..”

(Taisir Karimirrohman hal 154).

Buat anda yang suka menshare berita..
Renungkanlah ucapan beliau ini..

Baarakallahu fiikum..

Ditulis oleh,
Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى