Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Jewer Mendidik

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Dahulu…ibnu Abbas pernah ikut shalat malam bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam..

ia berdiri di sebelah kiri Nabi..
Nabi pun memegang telinga ibnu Abbas..

memutarnya ke sebelah kanan..
ibnu Abbas berkata..
setiap kali aku mengantuk..
beliau menarik daging telingaku..

dahulu..
imam Asy Syafii suka menarik telinga muridnya Ar Rabie..
Ar Rabie berkata, “Ketika aku membaca hadits ibnu Abbas..
aku baru tahu bahwa ada asalnya..
(syarhussunah 4/11 albaghowi)

– – – – – •(*)•- – – – –

Membiasakan Diri

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Ibnu Qayim rahimahullah berkata:
“Siapa yang membiasakan diri untuk beramal karena Allah..

Maka tidak ada yang paling berat baginya..dari beramal untuk selain Allah..

Dan siapa yang membiasakan dirinya untuk beramal karena nafsu dan keuntungan diri..
Maka tidak ada yang paling berat baginya..dari beramal karena Allah..
(uddatushobirin hal 82)

– – – – – •(*)•- – – – –

Menilai Kebenaran Berdasar Kedudukan Pengikut

Ust. Abu Yahya Badrusalam, Lc

Menilai kebenaran karena pengikutnya adalah orang-orang kaya, bangsawan, para ilmuwan dan orang-orang yang berkedudukan. Adapun bila pengikutnya rakyat jelata dan orang-orang lemah, ia anggap sesuatu yang batil.

Ini adalah parameter kaum jahiliyah yang tertipu dengan kedudukan dan pangkat. Dahulu para Nabi diikuti oleh orang-orang yang lemah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah perbincangan raja Heraklius dengan Abu Sufyan yang masih kafir.

Diantara pertanyaan Heraklius tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, “Apakah pengikutnya dari kalangan rendahan atau para bangsawan?”

Abu Sufyan menjawab, “Justru kebanyakan dari kaum yang lemah.” 

Padahal dahulu kaum ‘Aad dan Tsamud adalah kaum yang kuat dan berkedudukan. Namun Allah menghancurkan mereka akibat kekafiran mereka.

Di zaman ini, masih banyak orang yang yang mempunyai parameter seperti ini. Bila yang berbicara orang tidak punya titel ia acuhkan, walaupun yang diucapkan adalah kebenaran. Tapi bila yang mengucapkannya adalah orang yang bertitel apakah itu profesor atau doktor atau pejabat tinggi, maka ia anggap sebagai sebuah kebenaran.

Padahal kebenaran tidak terletak pada titel atau kedudukan. Kebenaran adalah yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Yang dapat mengikuti dakwah para Nabi hanyalah orang-orang yang menundukkan dirinya di hadapan Rabbnya dan membuang semua kesombongan dan keangkuhannya. 
 
Adapun orang yang tertipu oleh kecerdasan, kekayaan dan kedudukan, amat sulit untuk tunduk dan taslim (menerima, pent) kepada Rabbnya. Masih menimbang-nimbang dengan akalnya, kekayaan dan kedudukan yang ia banggakan.

Maka sungguh mengagumkan orang yang tidak tertipu oleh semua itu, lalu ia tunduk dan mengakui kelemahannya di hadapan Sang Pencipta. Ia mengakui dirinya seorang hamba, kalaulah bukan karena Allah yang memberinya nikmat tentu ia akan binasa.

http://m.salamdakwah.com/#/baca-artikel/diantara-perangai-jahiliyah–1.html

– – – – – •(*)•- – – – –

Ketika Itu Ia Berwibawa

Ust. Badrusalam, حفظه الله

beliau ditanya: “Kapan seseorang itu akan berwibawa di hadapan kaumnya?
Beliau menjawab..
Ketika ia mempergauli kaumnya dengan kelemah lembutan..
ketika ia bertawadlu’..
ketika ia bertemu dengan wajah yang berseri dan dada yang lapang..
ketika ia berbagi dengan mereka pada harta dan keni’matanya..
jika ia lakukan itu..
kaumnya akan memuliakannya..
(Diwan Asy Syafii hal 29)

Cinta Dan Benci Yang Bid’ah

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Diantara manusia..
ada yang apabila mencintai seseorang..
ia tak peduli dengan kesalahannya sebesar apapun..
diantara mereka juga..
ada yang apabila membenci seseorang..
ia lupakan seluruh kebaikannya..
ini adalah perbuatan bid’ah..
seperti perbuatan khowarij dan jahmiyah..
(Majmu fatawa 3/347)

– – – – – •(*)•- – – – –

Sebab-Sebab Munculnya Cinta

Ust. Badrusalam LC

Pernahkah anda mencintai ?? Bila ya, coba tanya mengapa anda mencintai..??

Ada beberapa sebab yang memunculkan cinta di hati..

1. Keelokan jasad.
Bila kita melihat pemandangan yang indah, atau sesuatu yang cantik dan elok, hati kita akan tertambat kepadanya.. Namun akan segera sirna tatkala keelokan itu pudar atau kebosanan menghantui diri..

2. Keindahan agama dan akhlak.
Walaupun wajahnya biasa saja, atau mungkin di bawah nilai 6, namun akhlaknya yang mulia dan agamanya yang kokoh memberi pesona tersendiri..
Cinta ini muncul dari keimanan.. Dan ia lebih merekat di hati.. Bahkan akan kekal abadi.. Berjumpa setelah mati..

3. Harta yang melimpah..
Cinta karena ketamakkan dan kerakusan.. Yang menunjukkan kepada kekerdilan jiwa dan cinta dunia..
Seperti orang yang berangan menjadi si qorun, lalu ditegur oleh temannya yang shalih: “Celaka kamu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar”. (QS 28 : 80).
Sebab ini memang fitrah manusia yang cinta harta, namun ia adalah cinta yang tidak mulia.

4. Fitrah manusia.
Seperti seorang ayah yang mencintai anaknya, dan juga sebaliknya, cinta ini tidak berhubungan dengan walaa dan baraa..
Dan cinta ini menjadi ancaman tatkala lebih didahulukan dari mencintai Allah RasulNya.

Cobalah periksa.. Karena apa kita mencintai..??

– – – – – •(*)•- – – – –

Seperti Hujan Dan Tanah

Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengumpamakan ilmu dan hati seperti hujan dan tanah..
Beliau bersabda, “Perumpamaan apa yang Allah utus aku dengan membawa petunjuk dan ilmu..
Bagaikan air hujan yang mengguyur tanah..
Riwayat Bukhari dan Muslim..

Perhatikanlah air hujan itu..
Ia turun membawa keberkahan untuk bumi..
Dengannya Allah hidupkan tanah yang telah mati..
Beraneka ragam pepohonan tumbuh bertasbih memujiNya..
Sebagai kenikmatan bagi hamba-hambaNya..
Pohon itu adalah pohon iman..
Yang membuahkan buah amal yang ranum dan manis..

Ketika hujan tak kunjung datang..
Tanah menjadi kering kerontang..
Pepohonan menjadi layu..
Manusia dan binatangpun kehausan..
Berakhir dengan kematian..
Demikianlah hati..
Akan menjadi kering dan pohon imanpun menjadi layu..
Namun, adakah hamba yang merasakan kekeringan jiwanya..

Lihatlah tanah itu..
Ia butuh pengolahan yang sempurna..
Agar menjadi subur nan gembur..
Sehingga dapat menyerap air hujan dengan baik..
Lalu menumbuhkan pepohonan iman dan buah buahan amal..
Ketika tanah menjadi keras..
Ia hanya bisa menampung air hujan..
Sementara manusia dan binatang mereguk kesegarannya..
Sedang ia hampa hanya sedikit merasakan manfaatnya..
Ketika tanah menjadi licin dan tandus..
Air hujan berubah menjadi malapetaka..
Membawa banjir dan longsor..
Menghancurkan kehidupan..

Sungguh perumpamaan yang indah saudaraku..
Kita hanya berharap..
Moga hati ini dapat menerima hujan itu dengan baik..
Memberi secercah kebahagiaan..
Amiin..

¤ Di Tulis Ustadz Badrusalam Lc ¤

Pakaian Mewah

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Siapa yang meninggalkan pakaian (mewah) karena tawadlu’ kepada Allah..
Maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan para makhluk..
Lalu Allah memberinya pilihan dari jubah-jubah keimanan yang ia mau untuk memakainya..”
(HR At Tirmidzi).

Pakaian yang membuat ujub di hati..
Pakaian yang sebatas riya dan pamer..
Itulah yang dimaksud hadits..

Dahulu..
Pakaian salaf kasar..
Namun hatinya selembut sutra..
Sedangkan kita..
Pakaian yang halus nan lembut..
Namun hati kita keras dan kasar..

Allahul musta’an..

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

1 Dirham Melebihi 100 Ribu Dirham

Ust. Badrusalam LC

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “1 dirham melebihi 100 ribu dirham”.
Mereka berkata: “Bagaimana itu wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Ada orang yang mempunyai harta yang sangat banyak, lalu ia mengambil 100 ribu dirham untuk disedekahkan.
Dan ada lagi yang mempunyai harta hanya 2 dirham, lalu ia sedekahkan satu dirham”.
(HR An Nasai, Ibnu Hibban dan Al Hakim, dan dihasankan oleh syaikh Al Bani dalam shahih targhib no 883).

Mengapa yg satu dirham lebih banyak pahalanya ??

Karena ia lebih berat di hati..
Bagi si kaya, 100 ribu dirham tidak ada apapanya dibandingan hartanya yang melimpah ruah..
Sehingga hatinya tidak bersusah payah melawan kekikiran..

Namun, bagi yang punya uang hanya dua dirham..
Betapa beratnya untuk ia sedekahkan..
Ketika ia berjuang, dan melemparkan kekikiran, serta berharap ridla Rabbnya..
Disanalah pahala berlipat ganda ia raih..

Masya Allah..

Jangan Bertetangga

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Umar bin Al Khathab menulis surat kepada Abu Musa:

“Perintahkan para karib kerabat itu untuk saling berkunjung, dan jangan saling bertetanggaan.”(Al ‘Aqdul Fariid 2/164).

Kata orang..Saudara itu kalau jauh sewangi bunga..Tapi kalau berdekatan sebau tinja..bisa jadi benar..karena..Hubungan kekerabatan amat rawan retak..Mudah putus..Kecuali orang yang dirahmati oleh Allah..

– – – – – •(*)•- – – – –