Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Ushul Imam Ahmad

1. Nash Al Qur’an dan hadits.
Bila telah ada nash, beliau tidak akan mengambil pendapat siapapun yang menyelisihinya.

2. Fatawa para shahabat.
Apabila fatwa sebagian shahabat tidak diketahui adanya shahabatlain yg menyelisihinya, beliau tidak melihat yang lainnya.

3. Memilih pendapat shahabat yang paling kuat bila mereka berselisih.

4. Lebih mendahulukan hadits lemah diatas qiyas.
Yang dimaksud hadits lemah di sini adalah hadits lemah yang ringan dan dikuatkan oleh jalan lain. Atau disebut hasan lighairihi.
Karena di zaman imam Ahmad, hadits hanya dibagi jadi 2; shahih dan dla’if. Dan hasan lighairihi asalnya dla’if namun dikuatkan oleh jalan lain yg dla’if juga.

5. Menggunakan qiyas ketika darurat.
Darurat maksudnya bila telah tidak ditemukan lagi nash, dan fatwa shahabat. Maka beliau menggunakan qiyas.

(I’lamul Muwaqqi’in hal 29-32 tahqiq Raid bin Sabri bin abi ‘alafah).

Para Malaikatpun Memperbincangkannya

Suatu malam Rosulullah-shollallahu alaihi wasallam- bermimpi bahwa Allah mendatangi beliau. Allah bertanya,” Wahai Muhammad, tahukah kamu apa yang sedang diperbincangkan para Malaikat yang mulia ?” Beliau menjawab,” Aku tidak tahu ya Allah.”

Maka Allah meletakkan tangan-Nya diantara dua pundak nabi hingga beliau merasakan dinginnya dada beliau. Nabipun mengetahui apa saja yang ada dilangit dan dibumi.

Allah kembali bertanya,” Wahai Muhammad, tahukah kamu apa yang sedang diperbincangkan para malaikat yang mulia?” Nabi menjawab,” Iya, aku tahu ya Allah..”

Para malaikat yang mulia tidaklah berbincang kecuali dalam perkara yang besar. Begitu agungnya, Allahpun mengabarkan perkara itu kepada nabinya.

Perkara apa yang diperbicangkan para malaikat mulia itu ?

Simak penjelasan Ust Abu Yahya Badrusalam,Lc. Klik:

http://salamdakwah.com/videos-detail/amalan-perbincangan-malaikat.html

Kendaraan Yang Terbaik

Mobil..
Motor..
Kebutuhan hidup..
Keinginan kita tentu yang terbaik..
Yang terbaik bukan selalu yang mewah..
Atau mahal harganya..
Tapi..
Yang membantu untuk menaati Allah..
Yang tidak membuat ujub dan bangga diri..
Yang tidak menodai hati dengan kesombongan..
Yang tidak menyibukkan dari mengingat Allah..
Ya..
Memang..
Inginnya punya kendaraan yang wah..
Namun..
Buat apa wah..
Bila mendatangkan kemurkaan Allah..
Buat apa mewah..
Jika membuat lupa dan bangga diri..
Tapi..
Semua itu butuh qona’ah..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

Hadits Tentang Takbiran

Ust. Badrusalam Lc

Tidak ada satupun hadits yang shahih tentang kapan dimulai takbir.
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya bersama beberapa shahabat sambil bertakbir.
Ia adalah lemah, penjelasannya sbb:
Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang lemah yaitu:
1. Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb.
2. Abdullah bin Umar Al ‘Umari.
Dan keduanya diselisihi oleh para perawi tsiqah yang meriwayatkannya secara mauquf sampai kepada ibnu Umar saja. Yaitu:
1. Al Walid bin Syujaa’ di katakan oleh Al Hafidz, “Tsiqah.” Ia meriwayat meriwayatkan dari ibnu wahb secara mauquf.
2. Wakii’ bin Al Jarraah, ia meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Al Umari secara mauquf juga.
Kesimpulannya bahwa riwayat yang marfu’ adalah munkar.

Namun hadits tsb diriwayatkan dari jalan lain secara mursal, yaitu dari jalan Yazid bin Harun dari Ibnu Abi Dziib dari Az Zuhri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada ‘iedul fithri sambil bertakbir…
Namun, periwayatan ibnu Abi Dziib dinyatakan lemah oleh Yahya bin Ma’in.
Bahkan periwayatannya guncang. Karena terkadang diriwayatkan dari Az Zuhri secara mursal dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Terkadang menghikayatkan dari manusia, dan dalam riwayat lain dari perkataannya sendiri.
Oleh karena itu imam Ahmad berkata, “Hadits ini munkar.”
Imam Ahmad berkata, “Syu’bah pernah masuk kepada Ibnu Abi Dziib untuk melarang, Ia berkata, “Jangan ceritakan hadits ini, dan Syu’bah mengingkarinya.”

Dari paparan ini, tampak jelas bahwa hujjah yang menghasankan hadits ini adalah lemah. Wallahu a’lam

– – – – – •(*)•- – – – –

10 Perkara Yang Tidak Ada Manfaatnya

Ada sepuluh perkara yang tidak bermanfaat:

1. Ilmu yang tidak diamalkan.

2. Amal yang tidak ikhlas dan tidak sesuai dengan contoh Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam .

3. Harta yang tidak diinfakkan. Pemiliknya tidak dapat menikmatinya di dunia tidak juga menjadi pahala di akhirat.

4. Hati yang kosong dari mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengannya.

5. Badan yang tak digunakan untuk ketaatan.

6. Cinta yang tak diikat dengan keridlaan yang dicintai dan menjalani perintahnya.

7. Waktu yang kosong dari kebaikan.

8. Pikiran yang berfikir dalam perkara yang tak bermanfaat.

9. Berkhidmat kepada orang yang tidak mendekatkan diri kita kepada Allah tidak juga untuk kebaikan dunia.

10. Takut dan berharap kepada sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat tidak juga mudlarat, tidak memiliki kehidupan tidak juga kematian.

(Al Fawa-id hal. 146).

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Perangai Jahiliyah

Ust. Badrusalam Lc

Menilai kebenaran karena pengikutnya adalah orang-orang kaya, bangsawan, para ilmuwan dan orang-orang yang berkedudukan. Adapun bila pengikutnya rakyat jelata dan orang-orang lemah, ia anggap sesuatu yang batil.

Ini adalah parameter kaum jahiliyah yang tertipu dengan kedudukan dan pangkat. Dahulu para Nabi diikuti oleh orang-orang yang lemah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah perbincangan raja Heraklius dengan Abu Sufyan yang masih kafir.
Diantara pertanyaan Heraklius tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, “Apakah pengikutnya dari kalangan rendahan atau para bangsawan?”
Abu Sufyan menjawab, “Justru kebanyakan dari kaum yang lemah.”

Padahal dahulu kaum ‘Aad dan Tsamud adalah kaum yang kuat dan berkedudukan. Namun Allah menghancurkan mereka akibat kekafiran mereka.
Di zaman ini, masih banyak orang yang yang mempunyai parameter seperti ini. Bila yang berbicara orang tidak punya titel ia acuhkan, walaupun yang diucapkan adalah kebenaran. Tapi bila yang mengucapkannya adalah orang yang bertitel apakah itu profesor atau doktor atau pejabat tinggi, maka ia anggap sebagai sebuah kebenaran.

Padahal kebenaran tidak terletak pada titel atau kedudukan. Kebenaran adalah yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Yang dapat mengikuti dakwah para Nabi hanyalah orang-orang yang menundukkan dirinya di hadapan Rabbnya dan membuang semua kesombongan dan keangkuhannya.

Adapun orang yang tertipu oleh kecerdasan, kekayaan dan kedudukan, amat sulit untuk tunduk dan taslim kepada Rabbnya. Masih menimbang-nimbang dengan akalnya, kekayaan dan kedudukan yang ia banggakan.

Maka sungguh mengagumkan orang yang tidak tertipu oleh semua itu, lalu ia tunduk dan mengakui kelemahannya di hadapan sang pencipta. Ia mengakui dirinya seorang hamba, kalaulah bukan karena Allah yang memberinya nikmat tentu ia akan binasa. 

Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

10 Tidak Ada Manfaatnya

Ustadz Badru Salam Lc

Ada sepuluh perkara yang tidak bermanfaat:
1. Ilmu yang tidak diamalkan.

2. Amal yang tidak ikhlas dan tidak sesuai dengan contoh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam .

3. Harta yang tidak diinfakkan. Pemiliknya tidak dapat menikmatinya di dunia tidak juga menjadi pahala di akhirat.

4. Hati yang kosong dari mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengannya.

5. Badan yang tak digunakan untuk ketaatan.

6. Cinta yang tak diikat dengan keridlaan yang dicintai dan menjalani perintahnya.

7. Waktu yang kosong dari kebaikan.

8. Pikiran yang berfikir dalam perkara yang tak bermanfaat.

9. Berkhidmat kepada orang yang tidak mendekatkan diri kita kepada Allah tidak juga untuk kebaikan dunia.

10. Takut dan berharap kepada sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat tidak juga mudlarat, tidak memiliki kehidupan tidak juga kematian.
(Al Fawa-id hal. 146).

Sekuntum Mursi

Ust. Badrusalam Lc,

Betapa bahagianya rakyat mesir ketika ia telah menjadi pemimpin..
Di negeri firamid sana..
Ucapan selamat mengharu biru..
Memberi pesona senyum yang merekah..
Cita cita itu seakan telah menjadi kenyataan..
Menegakkan syari’at di negeri fir’aun..
Namun..
Ternyata Allah berkehendak lain..
Tiba tiba lebah sisi menyengatkan bisanya..
Membuat sekuntum mursi menjadi layu..
Menjadi kenangan..

Hati hati pun terbakar..
Tak rela sekuntum itu jatuh tersungkur..
Teriakan jihad pun dikumandangkan..
Lautan manusia berduyun meminta keadilan..
Tak rela..

Mungkin..
Kalimat sabar sudah tak ada guna..
Mungkin..
Fatawa ulama sudah dianggap usang..
Karena mata telah ditutup kabut kemarahan..
Apa kata mereka bila kita bacakan fatwa Al Hafidz ibnu Hajar:
“Para fuqoha telah bersepakat wajibnya menaati penguasa yang menang (dalam revolusi)..
Dan bahwa menaatinya lebih baik dari pada melawannya..
Karena itu lebih menahan tertumpahnya darah dan fitnah..
(Fathul baari 13/7)..

Mungkin mereka akan berteriak..
Pengkhianat.. Antek yahudi.. Bunglon..
Itulah..
Ketika ilmu telah kalah..
Tak ada lagi kata dan fatwa..

Di Al jazair sana..
Masih tersisa kenangan pahit..
Ketika partai islam menang mutlak..
Ternyata..
Penguasa membatalkan hasil pemilu..
Huru hara pun terjadi..
Kembali darah kaum muslimin bersimbah..
Akankah kenangan pahit itu terulang di negeri piramid..

Seakan Allah tidak ridla dengan jalan itu..
Kejayaan melalui demokrasi..
Ternyata hanya patamorgana..
Ya.. Allah..
JalanMu lah yang terbaik..
Jalan yang dititi oleh para Nabi dan Rasul..
Jalan ilmu dan amal..
Jalan tauhid dan ittiba’..
Tashfiyah dan tarbiyah..
قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله و ما أنا من المشركين
“Katakan, “Inilah jalanku aku berdakwah kepada Allah di atas bashiroh aku dan orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, dan aku bukanlah orang-orang yang menyekutukanNya.” (Yusuf: 108).

Lebih Mulia Dari Ka’bah

By Ustadz Badrussalam, LC.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat ka’bah, lalu bersabda:
مرحبا بك من بيت ما أعظمك و أعظم حرمتك وللمؤمن أعظم حرمة عندالله منك إن الله حرم منك واحدة وحرم من المؤمن ثلاثا دمه وماله وأن يظن به ظن السوء
“Selamat bagimu wahai rumah..
Betapa agungnya dirimu..
Dan agung kehormatanmu..
Namun..
Mukmin lebih agung kehormatannya darimu..
Karena Allah mengharamkan darimu satu saja..
Sedangkan mukmin, Allah haramkan darinya tiga:..
Hartanya..
Darahnya..
Dan agar tidak berburuk sangka kepadanya..

(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul iman no 6706. Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 3420).

Renungan Suriah

Ust. Badrusalam Lc

Subhanallah..!!
Sungguh keji & kejam..
Perbuatan kaum syi’ah di suriah sana..
Akal & fitrah mana yg bisa menerima kenyataan ini..
Dada terasa geram menahan amarah..
Hati terasa panas bergolak..
Ingin rasanya membalas dengan balasan yang setimpal..
Namun.. Ku tak mampu berbuat apa-apa..
Hanya do’a yang terucap..
Ya Rabb.. Tolonglah hamba-hambaMu di sana..
Hancurkan musuh-musuhMu..

Saudaraku..
Kemarahan.. Geram.. & hati yang panas..
Terkadang menjadikan emosi kita mudah terpancing..
Terlebih bila mereka bertingkah menyebalkan..
Di negeri kita ini..
Keadaan seperti ini terkadang tidak menguntungkan..
Sikap arogan kita telah ditunggu olh mereka..
Agar memojokkan kita & memburukkan citra dakwah..
BC tentang kekejaman suriah disebar..
Mengobarkan api kemarahan..
sementara Robbuna Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman..

وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول و إلى أولى الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منكم

“Apabila datang kepada mereka perkara dari keamanan atau ketakutan, mereka segera menyebarkannya. Kalaulah mereka kembalikan urusan itu kepada rosul & ulil amri (ulama) diantara mereka, tentu akan tahulah orang-orang yang mampu istinbath diantara kamu.” (An Nisaa: 83).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata:
“Ini adalah pelajaran dari Allah untuk hamba-hambaNya..
Selayaknya, bila datang berita penting yg berhubungan dengan kemashlahatan umum..
Yang berhubungan dengan keamanan atau rasa takut berupa musibah yg menimpa mereka..
Agar berhati-hati & jangan segera menyebarkannya..
Hendaklah mereka mengembalikannya kepada rasul & ulil amri..
Yaitu para ahli ilmu, akal, nasehat & kedewasaan..
Bila mereka memandang mashlahat untuk menyebarkannya..
Silahkan disebarkan..
Bila tidak.. Maka jangan disebarkan..
(Taisiir al kariimirrahman hal 154).

Berhati-hatilah saudaraku..
Dada boleh panas..
Tapi akal tetap tenang & terbimbing dgn ilmu..
Barakallahu fiikum

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى