Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Sahur Dini Hari ?

Ust. Badrusalam Lc
Anas bin Malik bertanya kepada Zaid bin Tsabit..
Berapa jarak sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan shubuh..
Beliau menjawab, “Sekitar membaca 50 ayat..
HR Abu Dawud dll..

Coba hitung.. Berapa menit kita membaca 50 ayat..
Itulah waktu sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam..
Secara bahasa..
Sahur itu dari kata sahar yang berarti akhir malam..

Tapi aneh..
Banyak kaum muslimin yang sahur dini hari..
Entah..
Syari’at siapa yang mereka ikuti..
Mereka juga mengganggu manusia dengan berteriak teriak di masjid..
Sahuuur !!.. Sahuur !!..
Sebagian lagi memukul gendang sambil berkeliling desa..
Mereka anggap itu ibadah..
Begitukah ibadah? Dengan mengganggu manusia..
Musibah..

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Fitnah Mana Yang Lebih Besar ?

Ust. Badrusalam Lc

Imam Malik pernah ditanya:
“Dari mana aku mulai berihram?”

Beliau menjawab,
“Dari tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai berihram yaitu Dzulhulaifah.”

Ia berkata, “Aku ingin berihram dari sisi kuburan Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Jangan, aku khawatir kamu tertimpa fitnah.”

Ia berkata, “Fitnah apa? Aku hanya menambah beberapa mil saja.”

Beliau menjawab, “Fitnah mana yang lebih besar dari orang yang mendahului kepada sebuah perkara yang dianggap utama, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya?”
(Ilmu ushul bida’).

Cobalah renungkan..
Banyak orang ketika melakukan sebuah bid’ah berkata, “Inikan baik.” Atau “Apa bahayanya”.
Jawaban iman Malik ini sudah cukup untuk melempar syubhat seperti itu..

Fitnah yang paling besar..
Ketika seseorang menganggap utama..
Sesuatu yang tidak dianggap utama oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam …

Waspadalah.. Waspadalah..

. Ust. Badrusalam Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜 ✽ 〜- – – – – –

Mereka Menutup Telinga

Ust. Badrusalam LC

Tafsir Al Baqoroh: 18.

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
“Atau seperti hujan dari langit yang ada padanya kegelapan, guruh dan kilat. Mereka meletakkan jari di telinga-telinga mereka karena mendengar petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang kafir.”

(Ka shoyyibimminassamaa)
Ibnu Abbas berkata, “Shoyyib adalah hujan,

(Fiihi zulumaat)
Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas berkata, “Maknanya ibtilaa (ujian).”
Sa’I’d bin Jubair dari ibnu Abbas, “Mereka dalam kegelapan berupa kekafiran dan ketakutan dari dibunuh, selain mereka sendiri berselisih.”

(Waro’duwabarq)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya kepada ibnu Abbas, bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah dan bertanya dentang Ro’du (halilintar)?” Beliau bersabda, “Ia adalah malaikat yang ditugaskan mengatur awan dan di tangannya ada percikan api. Ia memerintahkan dan mengatur awan dengannya sesuai dengan perintah Allah.”
Yahudi itu berkata, “Lalu apakah suara halilintar itu suaranya?” Beliau bersabda, “Kamu benar.”

(Wallahu muhiithumbilkafirin)
Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan adzab kepada mereka, karena Dia meliputi orang-orang kafir.”
Ibnu Katsir berkata, “Artinya Rasa takut mereka itu tidak bermanfaat karena Allah meliputi mereka dengan kekuasanNya, dan mereka berada di bawah kehendakNya.”

Segera Beraksi

Ustadz Badrusalam, Lc

Syi’ah terus beraksi..
Di TV one dan TV lainnya..
Dengan membawa para anteknya..
Di dukung oleh sebagian tokoh yang dungu..

Di dauroh kemaren syaikh Saad menasehati demikian, “Jangan kalian kira peristiwa suriah tidak mungkin terjadi di negeri ini. Kalian harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk membendungnya.”

Tentu kita tidak ingin sebatas berkomentar..
Kita harus beraksi..
Cetak buku saku tentang syi’ah sebanyak banyaknya..
Bagikan ke masyarakat..
Ingatlah.. Ini jihad yang agung..

Ya Rabb..
Beri kami kekuatan dan kesabaran..
Beli kami ketakwaan dan kemenangan..

Hati-Hati Dalam Berucap Dan Bertingkah Laku

Ust. Badrusalam, Lc

Dalam berdakwah, Syiah mengucapkan kata2 halus dan mengajak simpati dengan mengajukan tema persatuan umat Islam.
Sedangkan kaum sunni seperti emosi dg berkata: bodoh, dungu, tukang zina, dsb.

Jika orang awam yg melihat & mendengar, manakah yg akan dipilih? Perkataan syiah yg halus atau perkataan sunni yg kasar?
Wahai ikhwan aswaja, mari kita berkata/berbuat dengan lebih baik.. Jangan sampai kita terperangkap dlm perang emosi.

Fawaid Kitab I’lamul Muwaqqi’in Karya Ibnu Qayyim Rahimahullah

Ust. Badrusalam Lc

Beliau berkata:
“Para umaro (pemimpin) hanyalah ditaati sesuai dengan ilmu. Mentaati mereka mengikuti ketaatan kepada ulama. Karena ketaatan hanya dalam yang ma’ruf saja.

Ketaatan pada ulama mengikuti ketaatan kepada Rasul, dan ketaatan kepada umaro mengikuti ketaatan kepada ulama.

Tegaknya islam dengan dua kelompok: ulama dan umaro. Kebaikan dan keburukan alam mengikuti kedua kelompok ini.

Abdullah bin Mubarok dan ulama salaf lain berkata, “Dua golongan manusia apabila keduanya baik, maka manusia akan baik. Apabila keduanya rusak, maka manusia akan menjadi rusak.”
Ditanya, “Siapa mereka?”
Beliau menjawab, “Ulama dan umaro.”

Beliau bersya’ir:
“Aku melihat dosa mematikan hati..
melanggengkannya mewariskan kehinaan..
Meninggalkan dosa adalah kehidupan hati..
Memaksiati nafsu adalah kebaikan untukmu..
Bukankah yang merusak agama adalah para raja..
Juga para ahli ibadah dan ulama yang buruk..

(Hal 18-19).

Segera Beraksi

Syi’ah terus beraksi..
Di TV one dan TV lainnya..
Dengan membawa para anteknya..
Di dukung oleh sebagian tokoh yang dungu..

Di dauroh kemaren syaikh Saad menasehati demikian, “Jangan kalian kira peristiwa suriah tidak mungkin terjadi di negeri ini. Kalian harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk membendungnya.”

Tentu kita tidak ingin sebatas berkomentar..
Kita harus beraksi..
Cetak buku saku tentang syi’ah sebanyak banyaknya..
Bagikan ke masyarakat..
Ingatlah.. Ini jihad yang agung..

Ya Rabb..
Beri kami kekuatan dan kesabaran..
Beli kami ketakwaan dan kemenangan..

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Fawaid Kitab I’lamul Muwaqqi’in Karya Ibnu Qayyim Rahimahullah

Ust. Badrusalam Lc

Setelah beliau menyebutkan keutamaan generasi shahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in dan generasi keempat yang lebih mengagungkan nash al qur’an dan hadits dari pendapat dan ro’yu beliau berkata:

“Kemudian datanglah setelah mereka sebuah generasi yang mencerai beraikan agama mereka.. Yang menjadikan fanatik madzhab sebagai keyakinan yang harus diterima.. Mereka merasa puas dengan sebatas taqlid.

Imam Asy Syafi’I rahimahullahu berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa siapa yang telah jelas kepadanya sunnah Rasulullah, ia tidak boleh meninggalkannya hanya karena mengikuti pendapat seseorang”.

Imam Abu Umar ibnu AbdilBarr dan ulama lainnya berkata, “Manusia bersepakat bahwa muqallid (pembeo) tidak dianggap sebagai ahli ilmu. Karena ilmu itu adalah mengenal al haq dengan dalilnya.”

ijma’ ini menunjukkan bahwa orang yang fanatik dan taqlid buta keluar dari kumpulan ulama, dan gugur sebagai pewaris para Nabi..

Bagaimana bisa disebut pewaris para Nabi orang yang berusaha menolak dalil untuk mengikuti imam yang ia ikuti, dan menghabiskan umurnya dalam fanatik madzhab. Sungguh ia adalah fitnah yang membabi buta..

(Dari hal 15-17).

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Tj Bonus Dari Keuntungan Riba…

152. Tj – 2

Pertanyaan:
Di koprasi tempat saya kerja, Ada namanya SHU (sisa hasil usaha) dari koprasi. Dan di berikan kepada setiap anggota tiap akhir tahun, Dan SHU itu didapat dari keuntungan hasil simpan pinjam, Itu gimana bagi solusinya? Sementara simpan pinjam ada bunga 1 persen. Makasih

Jawaban:

Keuntungan hasil simpan pinjam adalah riba. Ijma ulama bahwa setiap hutang piutang yang menghasilkan keuntungan maka riba. Sedangkan SHU tampak seperti bonus dari keuntungan
riba itu.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…

Nasehat Mu’adz Bin Jabal

Ust. Badrusalam Lc

Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu berkata:
“Wahai bangsa Arab..
Bagaimana sikap kalian terhadap tiga:
Dunia yang memutuskan leher kalian..
Kesalahan ulama..
Dan jidal munafiq dengan menggunakan Al Qur’an..

Merekapun diam.
Beliau berkata:
“Adapun ulama..
Jika ia di atas hidayah..
Maka jangan kalian taqlid kepadanya dalam agama kalian..
Jika ia salah..
Jangan kalian putuskan hubungan dengannya..
Karena seorang mukmin terkadang terfitnah..
Kemudian ia bertaubat..

adapun Al Qur’an..
Ia memiliki tanda bagaikan tanda jalan..
Tidak tersembunyi pada siapapun..
Apa yang kalian ketahui ilmunya..
Jangan mempertanyakannya..
Dan apa yang kalian merasa ragu padanya..
Maka serahkan kepada ‘alimnya..

Adapun dunia..
Siapa yang Allah berikan kekayaan dalam hatinya..
Sungguh ia beruntung..
Dan siapa yang tidak diberikan..
Maka dunia tidak bermanfaat untuknya..

(Shahih jami’ bayanil ‘ilmi wa fadlihi hal 390).