Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Segera Beraksi

Ustadz Badrusalam, Lc

Syi’ah terus beraksi..
Di TV one dan TV lainnya..
Dengan membawa para anteknya..
Di dukung oleh sebagian tokoh yang dungu..

Di dauroh kemaren syaikh Saad menasehati demikian, “Jangan kalian kira peristiwa suriah tidak mungkin terjadi di negeri ini. Kalian harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk membendungnya.”

Tentu kita tidak ingin sebatas berkomentar..
Kita harus beraksi..
Cetak buku saku tentang syi’ah sebanyak banyaknya..
Bagikan ke masyarakat..
Ingatlah.. Ini jihad yang agung..

Ya Rabb..
Beri kami kekuatan dan kesabaran..
Beli kami ketakwaan dan kemenangan..

Hati-Hati Dalam Berucap Dan Bertingkah Laku

Ust. Badrusalam, Lc

Dalam berdakwah, Syiah mengucapkan kata2 halus dan mengajak simpati dengan mengajukan tema persatuan umat Islam.
Sedangkan kaum sunni seperti emosi dg berkata: bodoh, dungu, tukang zina, dsb.

Jika orang awam yg melihat & mendengar, manakah yg akan dipilih? Perkataan syiah yg halus atau perkataan sunni yg kasar?
Wahai ikhwan aswaja, mari kita berkata/berbuat dengan lebih baik.. Jangan sampai kita terperangkap dlm perang emosi.

Fawaid Kitab I’lamul Muwaqqi’in Karya Ibnu Qayyim Rahimahullah

Ust. Badrusalam Lc

Beliau berkata:
“Para umaro (pemimpin) hanyalah ditaati sesuai dengan ilmu. Mentaati mereka mengikuti ketaatan kepada ulama. Karena ketaatan hanya dalam yang ma’ruf saja.

Ketaatan pada ulama mengikuti ketaatan kepada Rasul, dan ketaatan kepada umaro mengikuti ketaatan kepada ulama.

Tegaknya islam dengan dua kelompok: ulama dan umaro. Kebaikan dan keburukan alam mengikuti kedua kelompok ini.

Abdullah bin Mubarok dan ulama salaf lain berkata, “Dua golongan manusia apabila keduanya baik, maka manusia akan baik. Apabila keduanya rusak, maka manusia akan menjadi rusak.”
Ditanya, “Siapa mereka?”
Beliau menjawab, “Ulama dan umaro.”

Beliau bersya’ir:
“Aku melihat dosa mematikan hati..
melanggengkannya mewariskan kehinaan..
Meninggalkan dosa adalah kehidupan hati..
Memaksiati nafsu adalah kebaikan untukmu..
Bukankah yang merusak agama adalah para raja..
Juga para ahli ibadah dan ulama yang buruk..

(Hal 18-19).

Segera Beraksi

Syi’ah terus beraksi..
Di TV one dan TV lainnya..
Dengan membawa para anteknya..
Di dukung oleh sebagian tokoh yang dungu..

Di dauroh kemaren syaikh Saad menasehati demikian, “Jangan kalian kira peristiwa suriah tidak mungkin terjadi di negeri ini. Kalian harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk membendungnya.”

Tentu kita tidak ingin sebatas berkomentar..
Kita harus beraksi..
Cetak buku saku tentang syi’ah sebanyak banyaknya..
Bagikan ke masyarakat..
Ingatlah.. Ini jihad yang agung..

Ya Rabb..
Beri kami kekuatan dan kesabaran..
Beli kami ketakwaan dan kemenangan..

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Fawaid Kitab I’lamul Muwaqqi’in Karya Ibnu Qayyim Rahimahullah

Ust. Badrusalam Lc

Setelah beliau menyebutkan keutamaan generasi shahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in dan generasi keempat yang lebih mengagungkan nash al qur’an dan hadits dari pendapat dan ro’yu beliau berkata:

“Kemudian datanglah setelah mereka sebuah generasi yang mencerai beraikan agama mereka.. Yang menjadikan fanatik madzhab sebagai keyakinan yang harus diterima.. Mereka merasa puas dengan sebatas taqlid.

Imam Asy Syafi’I rahimahullahu berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa siapa yang telah jelas kepadanya sunnah Rasulullah, ia tidak boleh meninggalkannya hanya karena mengikuti pendapat seseorang”.

Imam Abu Umar ibnu AbdilBarr dan ulama lainnya berkata, “Manusia bersepakat bahwa muqallid (pembeo) tidak dianggap sebagai ahli ilmu. Karena ilmu itu adalah mengenal al haq dengan dalilnya.”

ijma’ ini menunjukkan bahwa orang yang fanatik dan taqlid buta keluar dari kumpulan ulama, dan gugur sebagai pewaris para Nabi..

Bagaimana bisa disebut pewaris para Nabi orang yang berusaha menolak dalil untuk mengikuti imam yang ia ikuti, dan menghabiskan umurnya dalam fanatik madzhab. Sungguh ia adalah fitnah yang membabi buta..

(Dari hal 15-17).

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Tj Bonus Dari Keuntungan Riba…

152. Tj – 2

Pertanyaan:
Di koprasi tempat saya kerja, Ada namanya SHU (sisa hasil usaha) dari koprasi. Dan di berikan kepada setiap anggota tiap akhir tahun, Dan SHU itu didapat dari keuntungan hasil simpan pinjam, Itu gimana bagi solusinya? Sementara simpan pinjam ada bunga 1 persen. Makasih

Jawaban:

Keuntungan hasil simpan pinjam adalah riba. Ijma ulama bahwa setiap hutang piutang yang menghasilkan keuntungan maka riba. Sedangkan SHU tampak seperti bonus dari keuntungan
riba itu.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…

Nasehat Mu’adz Bin Jabal

Ust. Badrusalam Lc

Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu berkata:
“Wahai bangsa Arab..
Bagaimana sikap kalian terhadap tiga:
Dunia yang memutuskan leher kalian..
Kesalahan ulama..
Dan jidal munafiq dengan menggunakan Al Qur’an..

Merekapun diam.
Beliau berkata:
“Adapun ulama..
Jika ia di atas hidayah..
Maka jangan kalian taqlid kepadanya dalam agama kalian..
Jika ia salah..
Jangan kalian putuskan hubungan dengannya..
Karena seorang mukmin terkadang terfitnah..
Kemudian ia bertaubat..

adapun Al Qur’an..
Ia memiliki tanda bagaikan tanda jalan..
Tidak tersembunyi pada siapapun..
Apa yang kalian ketahui ilmunya..
Jangan mempertanyakannya..
Dan apa yang kalian merasa ragu padanya..
Maka serahkan kepada ‘alimnya..

Adapun dunia..
Siapa yang Allah berikan kekayaan dalam hatinya..
Sungguh ia beruntung..
Dan siapa yang tidak diberikan..
Maka dunia tidak bermanfaat untuknya..

(Shahih jami’ bayanil ‘ilmi wa fadlihi hal 390).

Bid’ah Hasanah

Ust. Badrusalam Lc

Kata kiyai ada bid’ah hasanah..
Jadi tidak semua bid’ah sesat..
Kata kiyai..
kiyai atau ulama bukan Nabi..
Semuanya boleh diterima atau ditolak perkatannya..
Kecuali Nabi..

Bid’ah hasanah.. Berarti bid’ah yang baik..
Bila kebaikan itu menurut pandangan kita..
Maka semua orang yang berbuat bid’ah pasti memandang baik perbuatannya..
Ahmadiyah memandang baik bid’ahnya….
Kaum Syi’ah memandang baik bid’ahnya…

Lia Eden pun sama..

Bahkan Fir’aun pun memandang dirinya di atas kebaikan.
Dengarkan Firman Rabbuna:
قال فرعون ما أريكم إلا ما أري وما أهديكم إلا سبيل الرشاد
“Berkata Fir’aun, “Aku tidak memandang untukmu kecuali yang aku pandang baik. Dan aku tidak membimbing kalian kecuali kepada jalan yang lurus.” (Ghafir: 29).

Tahukah anda..
Memandang baik itu sama dengan mensyari’atkan..
Camkan baik-baik perkataan imam Asy Syafi’I, “Siapa yang menganggap baik maka ia telah membuat syari’at.”
Padahal hak membuat syari’at adalah hak tunggal bagi Allah semata..

Oleh karena itu..
Allah mengecam orang-orang yang membuat syari’at..

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang membuat syari’at untuk mereka dengan sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?”
Asy-syuura 21

Abdullah bin Umar berkata, “Semua bid’ah sesat walaupun dipandang baik oleh manusia.”

Shalat Pakai Sandal

Imam Abu Dawud dan Al Hakim meriwayatkan dari Syaddaad bin Aus bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خالفوا اليهود فإنهم لا يصلون في نعالهم ولا خفافهم
“Selisihilah Yahudi, karena mereka sholat tidak menggunakan sendal tidak juga khuff.”

Pernah sholat pake sendal??
Risih ya..
Padahal itu sunnah..
Mungkin di zaman ini..
Masjid masjid beralaskan karpet..
Bila sholat pake sendal..
Bisa kotor karpetnya..
Sedangkan mengotori masjid tidak boleh..
Tapi di rumah kan bisa..
Coba deh..
Sunnah Nabi yuk hidupkan..

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Bolehnya Memegang Mushaf Ketika Berhadats

Oleh : Ust. Badrusalam Lc حفظه الله تعالى

Dari Abdullah bin Abi Bakr, bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Amru bin Hazm: “Janganlah memegang Al Qur’an kecuali orang suci.” HR Malik secara mursal, dan disambung oleh An Nasai dan ibnu Hibban, dan ia ma’lul.

Derajat hadits:
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih jami’ ash shaghier no 13738.

Fawaid hadits:
1. Hadits ini dijadikan dalil tidak boleh orang yang berhadats memegang al qur’an, terutama wanita haidl dan junub.

Namun kata: “suci” mempunyai banyak makna:
A. Suci dari najis.
B. Suci dari hadats besar.
C. Suci dari hadats kecil.
D. Seorang muslim juga suci, sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Sesungguhnya muslim itu tidak najis.”
Dan makna makna ini tidak diketahui mana yang dimaksud dari hadits di atas.

Kaidah mengatakan: “Sebuah dalil bila mempunyai beberapa makna yang sama kuatnya, maka ia gugur menjadi dalil.”

Dan tidak ada satupun hadits yang shahih dan sharih yang melarang wanita haidl dan junub untuk memegang mushhaf.

Kesimpulannya bahwa boleh memegang mushaf bagi orang yang berhadat kecil maupun besar, karena tidak adanya dalil yang melarang.

Wallahu a’lam