Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Hakikat Faqih

Ust. Badrusalam LC

Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu berkata,
“Sesungguhnya orang yang faqih adalah orang yang tidak membuat manusia merasa berputus asa dari rahmat Allah,,,

Tidak memberi keringanan dalam maksiat kepada Allah,,,

Tidak menjadikan mereka merasa aman dari adzab Allah,,,

tidak meninggalkan al qur’an karena sibuk dengan yang lainnya..

Sesungguhnya tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak ada ilmunya,,,

dan tidak ada kebaikan pada ilmu yang tidak difahami,

dan tidak ada kebaikan pada membaca al qur’an yang tidak ditadabburi..”

(Al Jami’ li ahkamil qur’an, karya al qurthubi).

Mutiara Nasehat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Bismillah,
Dari Abu Juroyy bin Jabir bin Sulaim radliyallahu’anhu berkata:
“Aku melihat seorang lelaki yang manusia selalu mengikuti perkataannya. Tidaklah ia mengucapkan sesuatupun kecuali dipatuhi.”

Aku berkata, “Siapa lelaki ini ?”

Mereka berkata, “Ini rosulullah.”

Aku berkata, “‘Alaikassalam ya rasulullah
2x.”

Beliau menjawab, “Jangan berkata, “alaikassalam! Karena ia adalah tahiyat mayat. Ucapkan, “Assalaamu’alaika.”

Aku berkata, “Engkau utusan Allah?”

Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila kamu ditimpa bahaya, lalu kamu berdo’a kepadaNya, niscaya Dia akan menghilangkannya darimu. Bila kamu ditimpa kekeringan lalu kamu berdo’a kepadaNya, maka Dia akan menumbuhkan pepohonan untukmu. Bila kamu berada di tanah tandus, lalu untamu hilang dan kamu berdo’a kepadaNya, pasti Dia akan mengembalikannya kepadamu.”

Aku berkata, “Beri aku wasiat.”

Beliau menjawab, “Jangan mencela siapapun.”

Semenjak itu aku tidak pernah mencela siapapun baik orang merdeka, budak, unta ataupun kambing.”

Beliau bersabda, “Jangan meremehkan perbuatan baik sekecil apapun.
Berbicaralah dengan temanmu dengan wajah yang berseri, karena itu termasuk perbuatan yang ma’ruf.
Angkatlah kainmu sampai pertengahan betis. Jika kamu enggan, maka sampai mata kaki.
Jauhilah isbal, karena ia termasuk kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan.
Jika ada orang yang mencaci dan memburuk-burukkanmu dengan apa yang ada padamu, maka jangan kamu balas memburuk-burukkannya dengan apa kamu ketahui ada padanya. Karena dialah yang akan mendapat dosanya.”

(HR Abu Dawud no 4084, At Tirmidzi (2722), Ahmad (5/63,64). Sanadnya shahih).

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Untuk Beramal

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
“Siapa yang mencari ilmu untuk diamalkan,,
maka ilmu menjadikannya tawadlu’ dan menangisi dosa-dosanya..

Siapa yang menuntut ilmu agar bisa mengajar di sekolah,,
bisa berfatwa,,
berbangga dan riya,,
ia akan menjadi bodoh,,
sombong,,
menganggap remeh manusia,,
dibinasakan oleh ujub,,
Dan akan dibenci oleh jiwa..
قد أفلح من زكاها وقد خاب من دساها
“Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 9-10).

(Siyar A’laamin Nubalaa 18/192).

Kuruskan Setan

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن المؤمن ليُنضي شياطينه ؛ كما يُنضي أحدكم بعيره في السفر

“Sesungguhnya mukmin itu membuat kurus setannya sebagaimana seseorang darimu membuat kurus untanya dalam safar.” (HR Ahmad, hadits hasan. Lihat silsilah shahihah 3586).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Dzikir kepada Allah dapat menyakiti setan bagaikan cambuk. Oleh karena itu, setannya mukmin menjadi kurus kering karena diazdab dengan dzikir dan ketaatan.

Setiap kali setan menggoda, segera disiram dengan dzikir, istighfar dan ketaatan. Sehingga setannya berada dalam adzab yang pedih..

Siapa yang di dunia ini tidak mengadzab setannya dengan dzikir, tauhid, istigfar dan ketaatan, maka setannya akan membuat ia diadzab dalam Neraka.

Maka setiap kita harus mengadzab setannya, jika tidak maka ia akan diseret kpd adzab oleh setannya.

(Madarijussalikin).

Nasihat Diri

Ust. Badrusalam LC

Ali bin Abi Thalib berkata: Kesabaran dalam iman itu bagaikan kepala pada jasad, mungkinkah jasad akan hidup tanpa kepala??

Demikian pula iman, butuh kesabaran..
Ia memberi nutrisi hati tuk mentaati ilahi..
Namun sabar itu mudah tuk diucapkan, tetapi sulit.. Panas.. Dan berat..

Ketika iman berkata: “tujuan hidupku mencari keridlaan ar Rahman..
Kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan..
Disanalah kesabaran mendapat kesegaran..

Bukankah Rabbuna berfirman:
“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, ia berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun..
Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami akan dikembalikan..
Mereka itu mendapat pujian dari Rabb, dan rahmatNya, dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah..

Saudaraku..
Apakah kita mengira dibiarkan mengucapkan: “Kami beriman”. Setelah itu kita tidak diuji ??
Tidak, demi Allah..
Ujian pasti kan menerpa..
menyaring keimanan..

Dikala ujian silih berganti..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan umatnya agar semakin mendekat kepada ilahi..

Suatu malam beliau bangun tiba-tiba dan bersabda: Subhanallah.. Fitnah apa yang diturunkan di malam ini?..
Bangunkanlah para pemilik kamar itu..
Berapa banyak orang berpakaian di dunia, ia telanjang di akhirat..

Moga untaian kata ini sedikit memberi kehidupan di hati kita..
Untuk menempuh jalan menuju Allah..
Bersabarlah..
Sampai berjumpa di telaga haudl..
Dengan Rasul kita yang tercinta..

Macam-Macam Ro’yu Yang Terpuji

1. Ro’yu para shahabat.
Imam Asy Syafi’iy dalam risalah baghdadiyah yang diriwayatkan oleh Al Hasan bin Muhamad Az Za’faroni berkata:
“…mereka di atas kita pada setiap ilmu, ijtihad, waro’, akal, dan istinbath. Ro’yu mereka lebih terpuji utk kita dan lebih layak kita ikuti dari ro’yu kita sendiri..”.

2. Ro’yu yang menjelaskan dalil dengan penjelasan yang benar dan gamblang.
Abdullah bin Al Mubarok berkata, “Ambillah atsar sebagai sandaran, dan ambil ro’yu yang menjelaskan hadits (dengan benar). Inilah pemahaman yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki.”

3. Ro’yu yang menjadi kesepakatan para ulama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerima kesepakatan mimpi para shahabat, beliau bersabda:
أرى رؤياكم قد تواطات في السبع الأواخر فمن كان منكم متحريها فليتحرها في السبع الأواخر
“Aku melihat mimpi kalian telah bersepakat di tujuh malam terakhir. Siapa yang mau mencari malam lailatul qodar, hendaklah ia cari di tujuh malam terakhir.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerima kesepakatan mimpi para shahabat. Maka kesepakatan umat ini terpelihara dari kesalahan.

4. Ro’yu setelah melihat alqur’an, hadits, dan ro’yu shahabat. Bila tidak menemukan nash, maka berijtihad dengan dengan melihat yang lebih dekat kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya serta fatawa para shahabat.

(I’lamul muwaqi’in hal 61-64. Tahqiq Raid bin Sabri).

Macam-Macam Ro’yu

Ro’yu ada tiga macam: ro’yu yang terpuji, ro’yu yang tercela dan ro’yu yang masih samar apakah ia haq atau batil.

Salaf terdahulu menggunakan ro’yu yang terpuji dan membuang ro’yu yang tercela.

Adapun ro’yu yang masih samar, mereka
gunakan ketika amat dibutuhkan.
Namun mereka tidak memaksakan orang lain mengamalkannya, tidak pula melarang untuk menyelisihinya. Mereka tidak menganggap orang yang menyelisihinya telah menyelisihi agama. Ro’yu yang seperti ini diberikan pilihan antara menerima atau menolak.

(I’laamul muwaqqi’iin hal. 53 tahqiq 3aid bin Sabri).

Komentar:
Ro’yu yang ketiga ini adalah masalah ijtihadiyah yang tidak ada nash yang menunjukkannya.
Para ulama mengeluarkan kesungguhan mereka untuk berijtihad, namun tidak memaksakan orang lain mengamalkannya.
Coba perhatikan di zaman ini, banyak perselisihan yang berakibat saling menyahdzir ternyata dalam masalah ijtihadiyah semata. Seperti masalah menerima bantuan dari yayasan yang dianggap hizbiy. Atau masalah menyikapi sebagian ahlul bid’ah.

Allahul Musta’an.

Makruh Menurut Ulama Salaf

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Salaf terdahulu menggunakan kata makruh sesuai dengan makna yang tertera dalam firman Allah dan sabda rasulNya. Akan tetapi kalangan ulama terakhir membuat istilah makruh untuk sesuatu yang bukan haram, lalu membawa perkataan para salaf kepada istilah baru tersebut, sehingga terjadi kesalahan.”

Imam Ahmad pernah berfatwa ttg hukum menikahi adik kakak, beliau berkata, “Makruh.” Maksud beliau adalah haram.
Imam Abu Hanifah berkata, “Makruh minum di bejana emas dan perak bagi laki-laki dan wanita.” Maksud beliau adalah haram.
Imam Malik sering kali menjawab, “Aku memakruhkannya.” Maksudnya adalah haram.
Demikian pula imam Asy Syafii.

Kemudian para pengikutnya di belakangan hari banyak yang tidak memahami makna makruh yang diucapkan oleh imam mereka, dan membawanya kepada istilah yang muncul di belakangan hari.
Hingga terjadilah kesalahan besar terhadap syari’at dan ulama.

(I’laamul muwaqqi’in hal 37-39 tahqiq Raid bin Sabri).

Hukum Mujtahid

Dalam hadits riwayat Muslim (no 1731), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang panglimanya untuk memutuskan keputusan dengan mengatakan, “Ini hukum Allah.”

Beliau besabda, “Kamu tidak tahu, apakah hukummu sesuai dengan hukum Allah atau tidak. Tapi putuskanlah dengan hukummu dan hukum kawan-kawanmu.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Lihatlah, bagaimana beliau membedakan antara hukum Allah dengan hukum mujtahid. Beliau melarang menamai hukum mujtahid sebagai hukum Allah.”
Ketika sekretaris umar menulis surat putusan dari Umar, ia menulis: “Ini adalah yang Allah perlihatkan kepada Umar.”
Umar berkata, “Jangan tulis begitu, tapi tulis: “Ini adalah pendapat Umar.”

Ibnu Wahb berkata, “Aku mendengar imam Malik berkata, “Bukanlah kebiasan salaf untuk berkata, “Ini halal ini haram.” Tetapi mereka berkata, “Kami memandang makruh, kamu memandang ini baik..

(I’laamul muwaqqi’in hal 37, tahqiq Raid bin Sabri).