Category Archives: Firanda Andirja

Agar Bisa Khusyu’ Dalam Sholat

Sebelum sholat, ingatlah kenikmatan yang tiada terhingga yang telah Allah berikan kepada kita, nikmat iman, kesehatan, keluarga, anak istri, tempat tinggal, kebahagiaan, rasa aman, dll

Sekarang kita mau ngucapin syukur kita kepada Allah, hanya menghadap Allah sekitar 5 menit, dan lagi pula kalau kita pandai bersyukur dengan sholat kita, maka Allah akan menambah anugrahNya kepada kita.

Apakah waktu yang sebentar ini lantas kita tetap saja tidak pandai bersyukur..?!

Menghadap Allah mau berterima kasih tapi pikirannya kemana-mana..?!

Semoga memudahkan kita khusyuk, karena amalan yang pertama Allah nilai dari kita pada hari kiamat adalah sholat.

Jangan sampai kita pandai dalam amalan yang lain sementara sholat kita berantakan..

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Hindari Debat Kusir…(penghematan energi)

Hendaknya jauhi diskusi apalagi perdebatan di dunia maya (apalagi FB), karena banyak lawan/kawan diskusi kita tidak kita ketahui statusnya.

Bisa jadi yang sedang diskusi dengan kita ternyata anak kecil, atau yang tidak bependidikan sama sekali, preman yang bermulut kotor, bencong, dll.

Akhirnya diskusi tidak terarah, dan hanya menghabiskan energi.

Energi kita sebaiknya digunakan untuk yang lebih bermanfaat daripada melayani cacian dan makian. Kita doakan saja semoga para pencaci diampuni Allah dan mendapatkan hidayah sehingga hati kitapun lebih lega dan lebih siap menghadapi cacian dan makian tersebut.

Apalagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjamin istana di surga bagi yang meninggalkan perdebatan.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Merindukan Pemimpin Umat…

Umat Islam sekarang ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Umat Islam membutuhkan pemimpin-pemimpin yang kuat imannya, ahli ibadah, jujur, amanat, berakhlak mulia, cerdas, ikhlas, kapabel dan sayang kepada umat bahkan kepada seluruh manusia dan hewan sekalipun. Alhamdulillah, kita tidak kekurangan contoh pemimpin teladan. Para Rasul dan Nabi Alaihimush Shalatu Wassalam adalah teladan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah contoh teladan terbaik. Setelah para Rasul dan Nabi, Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhum dan masih banyak lagi pemimpin teladan dari generasi sahabat dan sesudah mereka. Kita mempelajari sirah mereka untuk kita contoh dan kita teladani. Dalam kesempatan ini penulis memuat salah satu contoh pemimpin umat yaitu Abdullah bin Qais Al Jasi rahimahullah.

Di masa kekhalifahan Utsman radhiallahu anhu, Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhu mengangkat Abdullah bin Qais Al Jasi sebagai panglima angkatan laut yang pertama. Kaum muslimin belum pernah memiliki armada angkatan laut selama ini. Abdullah bin Qais sering berdoa memohon kepada Allah agar melindungi dan menyelamatkan tentaranya, agar tidak ada satupun di antara tentaranya yang tenggelam di laut. Rupanya Abdullah bin Qais khawatir kalau sampai terjadi prajuritnya yang tenggelam karena badai ombak di lautan akan mengakibatkan trauma bagi prajuritnya untuk naik kapal. Allah kabulkan doanya, doa dari seorang pemimpin yang adil, sayang kepada prajuritnya. Abdullah bin Qais telah mengikuti lima puluh pertempuran laut baik di musim panas maupun musim dingin. Selama itu tidak seorang pun dari prajuritnya yang tenggelam di laut.

Beliau lebih mengutamakan mengorbankan dirinya daripada bawahannya. Suatu hari beliau menaiki perahu ditemani seorang awak perahu pergi ke Marfa (pelabuhan) di daerah kekuasaan Romawi untuk memata-matai tentara musuh. Padahal sudah sewajarnya bagi seorang pemimpin untuk mengutus anak buahnya menjalankan tugas ini.

Awak perahu diperintahkannya untuk menjaga perahu, kemudian Abdullah bin Qais pergi sendiri. Abdullah bin Qais yang menyamar sebagai pedagang melihat kerumunan orang-orang miskin dari orang-orang kafir yang mendekatinya. Mereka adalah pengemis, Abdullah mengetahui dari pakaian mereka yang compang camping tapi mereka tidak meminta secara langsung. Mereka masih menjaga kehormatan diri mereka. Beliau terenyuh hatinya melihat orang-orang yang miskin dan dalam kesulitan ekonomi, lalu memberi uang yang banyak untuk setiap pengemis. Ia berharap uang tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk sebulan atau lebih. Orang-orang miskin itu sangat gembira dan langsung pulang ke daerah asal mereka semuanya untuk berkumpul dengan keluarga mereka.

Masya Allah! Alangkah lembut hati panglima perang ini. Apabila kepada orang kafir saja ia menolong dan membantu kesulitan mereka apalagi terhadap saudara sesama muslim. Islam mengajarkan kaum muslimin agar bersedekah kepada yang meminta secara langsung dan kepada orang yang membutuhkan bantuan tapi tidak menampakkan kesusahannya karena menjaga kehormatan dirinya.

Allah berfirman,

“…dan berilah makan kepada orang yang menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta dan kepada orang yang meminta…” (QS. Al Hajj 36)

Di antara pengemis ada seorang perempuan yang pulang ke daerahnya dan melaporkan apa yang dilihatnya di Marfa kepada tentara Romawi.

Pengemis perempuan: “Apakah kalian sedang mencari Abdullah bin Qais?”
Tentara Romawi: “Dimana dia?”
Pengemis perempuan: “Di Marfa.”
Tentara Romawi: “Bagaimana anda tahu bahwa dia Abdullah bin Qais!?”
Pengemis perempuan: “Dia seperti pedagang, tapi pemberiannya seperti pemberian seorang Raja. Dari situ aku tahu bahwa dia adalah panglima angkatan laut kaum muslimin Abdullah bin Qais yang sedang kalian cari.”

Astaghfirullah Al Adziim…! Ujian bagi orang beriman, dia telah berbuat baik tapi orang yang dibaikinya itu malah membalasnya dengan keburukan. Pengemis perempuan tadi tidak tahu berterima kasih. Yang penting baginya adalah keuntungan dan kebutuhannya terpenuhi. Dia tidak peduli dan tidak memikirkan untuk setia kepada orang yang telah berjasa kepadanya. Semoga Allah menghindarkan dan menjauhkan diri kita dari sifat khianat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang setia, pandai berterimakasih kepada manusia dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang bersyukur kepada Nya.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu berdzikir kepadaMu, untuk selalu mensyukuri nikmatMu dan untuk selalu beribadah kepadaMu dengan baik.”

Pasukan tentara Romawi segera mengejar ke Marfa dan langsung mengeroyok dan menyerang panglima Abdullah bin Qais. Abdullah bin Qais berusaha melawan mereka tapi musuh yang banyak menyebabkan Abdullah terdesak dan terbunuh. Semoga Allah menjadikannya sebagai syahid dan meninggikan derajatnya di Jannah. Semoga Allah kumpulkan bersama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, amin.

Awak perahu yang menunggu di pantai segera pulang memberitahukan tentara kaum muslimin. Tentara kaum muslimin segera berangkat ke Marfa, terjadilah pertempuran di sana dan sebagian tentara muslimin  gugur sebagai syuhada insya Allah.

Sufyan bin Auf Al Azdi diangkat menjadi pemimpin baru pengganti Abdullah bin Qais. Pada awal memimpin perang, ia sering marah, berteriak dan memaki prajurit. Budak perempuan Abdullah bin Qais menegur panglima baru, “Sungguh kami kehilangan Abdullah, beliau tidak pernah berkata kasar saat memimpin perang!” Panglima baru bertanya, “Apa yang beliau katakan?”

Budak perempuan: “Berpetualang kemudian datang jalan keluar!”

Panglima baru menerima nasehat budak perempuan Abdullah bin Qais, ia meninggalkan sikap arogansinya kepada bawahannya. Ia selalu memberi semangat kepada prajuritnya dengan ucapan “Berpetualang kemudian datang jalan keluar!” Masya Allah! Seorang pemimpin yang tidak gengsi menerima nasehat dari seorang budak perempuan. Pemimpin-pemimpin yang beriman, bertakwa, merdeka jiwanya, bukan budak dari musuh Islam dan kaum muslimin, amanat serta berakhlak mulia, merekalah yang diharapkan dapat memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan izin Allah.

#####

Semoga dari kisah di atas kita mendapatkan inspirasi dan berusaha untuk memulai dari diri kita sendiri untuk menjadi pemimpin yang baik semampu kita. Jika kita sebagai pemimpin rumah tangga, maka berupayalah untuk menjadi pemimpin yang dicintai seluruh anggota keluarga. Kita berupaya menjadi pemimpin keluarga yang jika pergi meninggalkan rumah dinanti kehadirannya dan jika datang mereka bergembira dan tidak diharapkan kepergiannya, bukan sebaliknya.

Begitu pula pemimpin pemimpin di sekolah, di rumah sakit, di kantor, di lembaga atau yayasan, pemimpin di tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri maupun Presiden. Hendaknya kita mengingat bahwa jabatan itu amanat dan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Di akhirat, manusia akan berusaha untuk menebus dengan dunia dan seisinya, yang penting agar bisa selamat di akhirat. Tapi hal ini mustahil kita lakukan, yang ada tinggal penyesalan. Maka di dunia inilah kesempatan untuk menebus dosa-dosa kita dengan bertaubat dan mengorbankan harta, waktu, ilmu dan apa yang kita miliki bahkan dengan jiwa kita sekalipun untuk menggapai keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.

Disamping kita berlatih terus untuk menjadi pemimpin yang terbaik di lingkungan kita masing-masing maka kita juga berdoa bermunajat kepada Allah,

“Ya Allah! Jadikan kami merasa aman di tanah air kami. Perbaikilah para pemimpin dan orang-orang yang memegang urusan kami. Jadikan pemimpin kami orang yang takut kepadaMu, bertaqwa kepadaMu, dan senantiasa mengikuti ridhaMu, wahai Rabb alam semesta.”

“Ya Allah! Berilah taufik kepada pemimpin kami terhadap perkara yang Engkau cintai dan ridhai, baik dari perkataan maupun perbuatan. Wahai Rabb yang Maha hidup dan Maha menjaga. Ya Allah! Perbaikilah orang-orang yang ada di sekelilingnya. Wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

“Ya Allah, karunikanlah untuk kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan (karuniakanlah untuk kami) ketaatan kepada-Mu yang dapat mengantarkan kami kepada surga-Mu, serta (karuniakanlah untuk kami) keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia. Jadikankan kami bisa menikmati dan memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama kami hidup. Dan jadikan semua itu sebagai pewaris bagi kami (tetap ada pada kami sampai kematian). Balaslah sakit hati kami kepada orang-orang yang telah menzalimi kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. (Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah kami pada dien kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.”

“Ya Allah, tambahkanlah untuk kami dan jangan kurangkan kami, muliakanlah kami dan jangan hinakan kami, berikanlah kepada kami dan jangan Engkau tahan kami, pilihlah (pemimpin yang baik) untuk kami dan jangan Engkau biarkan kami (dipimpin pemimpin yang zalim), jadikanlah kami ridha dengan apa-apa yang Engkau putuskan dan ridhailah kami.”

(Dinukil dari buku “Keteladanan dan Kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu anhu)

Fariq Gasim Anuz,  حفظه الله تعالى
Posted by Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى

Hanya di Surga Cinta Tanpa Perpisahan….

Hanya di surga cinta tanpa perpisahan….

فِي الْجَنَّةِ حُبٌ بِلاَ فِرَاقٍ

Adapun di dunia… betapapun kuat tali cinta tersebut… maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ، فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ

“Cintailah siapa yang kau kehendaki…sungguh engkau akan berpisah dengannya” (silsilah al-ahaadits as-shahihah no 831)

Cinta di dunia pasti diakhiri dengan perpisahan…
Cinta di dunia pasti diakhiri dengan kesedihan…
Jika engkau telah menjalin cinta…telah mencintai…telah jatuh cinta…telah menyayangi… maka bersiaplah suatu hari engkau akan berpisah dengannya…engkau yang meninggalkannya atau dia yang meninggalkanmu.

Tidak ada kebahagiaan dan cinta yang sempurna kecuali hanya di surga…

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى

Memberi Udzur Kepada Saudara Yang Bersalah

Ibnu Hibban rohimahullah berkata :

الإعتذار يُذهب الهموم، ويُجلي الأحزان، ويَدفع الحقد، ويُذهب الصدّ..
فلو لم يكن في اعتذار المرء إلى أخيه خصلة تحمد إلا نفى التعجب عن النفس في الحال لكان الواجب على العاقل أن لا يفارقه الاعتذار عند كل زلة

“Memberi udzur (kepada orang lain) menghilangkan kegelisahan, melenyapkan kesedihan, menolak kedengkian, menyirnakan penghalang dari saudara…

Seandainya sikap memberi udzur kepada saudara (yang bersalah) hanya memiliki satu keutamaan yang terpuji yaitu menghilangkan sikap ujub dari jiwa seketika itu juga, maka wajjb bagi orang yang berakal untuk tidak meninggalkan sikap memberi udzur kepada saudara pada setiap kekeliruan…”

(Roudhotul ‘Uqolaa’ hal 186)

Orang yang suka memberi udzur apalagi memaafkan saudaranya yang bersalah maka akan mensucikan jiwanya dan membahagiakan hatinya.

Adapun jika tidak suka memberi udzur apalagi suka mencari cari kesalahan dan suka mendendam maka hanya menyiksa hati dan menjadikannya ujub.

Penulis :
Ustadz Dr. Firanda Andirja MA,  حفظه الله تعالى 

Saudari Perempuanmu… (silaturahmi yang terkadang terlupakan)

Sambunglah silaturahmi dengan berkhidmat kepadanya…
Berbuat baiklah kepada anak-anaknya (yang merupakan keponakanmu)…
Sisihkan dan korbankanlah waktu untuk mengantarnya ke pasar dll…
Waktumu yang terbuang untuknya itulah silaturahmi… demikian juga hartamu yang kau keluarkan untuk membuatnya bahagia…

Buatlah ia bangga bahwa engkau adalah kakaknya atau bangga engkau adalah adiknya…
Telponlah dia..tanyakan tentang kabarnya…

Jangan sampai istrimu membuatmu lupa bahwa kau punya saudara perempuan yang harus kau berbuat baik kepadanya…

Diantara bentuk bakti kepada ayah jika ayah telah meninggal adalah memperhatikan saudari-saudari perempuanmu.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu rela menikahi janda dan tidak menikahi gadis demi untuk memperhatikan adik-adik perempuannya.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Hakekatnya Kita Dianggap Baik Bukan Karena Kebaikan-Kebaikan Tapi Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita

Muhammad bin Waasi’ rohimahullah berkata, 

لو كان للذنوب ريح ما جلس إلي أحد

“Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku..”

Jangan pernah ujub dengan amalan kita, jangan pernah terpedaya dengan pujian mereka yang memujimu.

Kalau ada satu aib kita saja diungkap oleh Allah maka semua pujian akan menjadi celaan..

AmpunanMu senantiasa hamba harapkan wahai Dzat yang menutupi aib-aib hambaNya.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Agar Selalu Merindukan Kenikmatan Surga Yang Sempurna

Tidak ada kenikmatan yang sempurna di dunia ini, kenikmatannya sulit diraih, dan jika telah diraihpun tidak kekal kenikmatannya.

Memakan kepiting yang begitu lezatnya pun butuh kepayahan untuk membuka cangkang kulitnya, setelah terbuka tidak bisa memakannya sebanyak-banyaknya dikarenakan kemampuan lambung terbatas dan kepiting berkolesterol tinggi.

Betapa banyak makanan yang lezat – lezat ternyata berkolestrol tinggi
Durian yang begitu lezatnya pun memiliki kulit berduri dan bau yang sangat tajam serta berbahaya bagi yang berpenyakit kolesterol

Gulai kambing yang begitu lezatnya.., cumi, udang, telur puyuh, otak.. tidak ada yang sempurna kenikmatannya.

Kenikmatan yang sempurna hanyalah di surga, mudah diraih, mudah untuk disantap, kelezatan yang tak terbatas dan kekal..

Ya Allah lindungilah kami dari pedihnya neraka dan celupkanlah kami dalam kelezatan surgamu yang abadi..

آمــــــــــــــــــين يا ربّ العالمين

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Untaian Syair Zainal Abidin, رحمه الله تعالى 

لَيْس الغرِِيبُ غرِيبَ الشَّامِ وَاليمنِ إنَّ الغَريب غَريبُ اللحْد والكَفَنِ

Orang asing bukanlah orang yang merantau ke negeri syam atau yaman
Tapi orang asing adalah orang yang asing dalam liang lahad bersama kain kafan

إنَّ الغريبَ لَهُ حَق لِغُربَتِهِ علَى المُقِيمينَ فى الأوْطَانِ والسَّكَنِ

Sungguh orang yang terasing memiliki hak yang harus dipenuhi
Oleh penduduk daerah yang sedang dilaluinya

لاَ تَنْهَرَنّ غَرِيْباً حَالَ غُرْبَتِهِ الدَّهْرُ يَنْهَرُهُ بِالذُّلِّ وَالْمِحَنِ

Janganlah kau hardik orang asing ketika sedang dalam perantauan
Karena masa telah menghardiknya dengan kehinaan dan berbagai cobaan

سَفْرِي بَعِيْدٌ وَزَادِي لَنْ يُبَلِّغَنِي وَقُوَّتِي ضَعُفَتْ وَالْمَوْتُ يَطْلُبُنِي

Perantauanku jauh… padahal bekalku tidak mencukupi
Kekuatanku semakin rapuh… sedang kematian terus mencariku

وَلِي بَقَايَا ذُنُوْبٌ لَسْتُ أَعْلَمُهَا اللهُ يَعْلَمُهَا فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ

Aku tentu punya banyak sisa dosa, yang aku tak mengetahuinya
Allah mengetahui dosa-dosaku yang tersembunyi di saat bersendirian atau yang nampak

مَا أَحْلَمَ اللهَ عَنِّي حَيْثُ أَمْهَلَنِي وَقَدْ تَمَادَيْتُ فِى ذَنْبِي وَيَسْتُرُنِي

Betapa sayangnya Alloh padaku… karena telah menangguhkan hukuman-Nya
Bahkan Dia tetap menutupi dosaku… meski aku terus melakukannya

تَمُرُّ سَاعَاتُ أَيَّامِي بِلاَ نَدَمِ وَلاَ بُكَاءٍ وَلاَ خَوْفٍ وَلاَ حَزَنِ

Hari-hariku terus berjalan (dan aku terus melakukan dosa-dosa)
Tanpa ada rasa penyesalan, tangisan, ketakutan, ataupun kesedihan

أَنَا الَّذِى أَغْلَقَ الأَبِوَابَ مُجْتَهِدًا عَلَى الْمَعَاصِي وَعَيْنُ اللهِ تَنْظُرُنِي

Akulah orang yang telah menutup pintu
Untuk giat dalam maksiat, padahal Mata Alloh selalu mengawasiku

يَا زَلَّة كُتِبَتْ فِي غَفْلَةٍ ذَهَبَتْ يَا حَسْرَة بَقِيَتْ فِي الْقَلْبِ تُحْرِقُنِي

Salah sudah tercatat, dalam kelalaian yang telah lewat
Dan sekarang, tinggal penyesalan di hati yang terus membakar diriku

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى