Category Archives: Firanda Andirja

Jadilah Da’i Dengan Harta Anda

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

لا حَسَدَ إِلا فِي اثْنَيْنِ. رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي حَقٍّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak ada hasad kecuali pada 2 orang:

1. Seseorang yang Allah berikan harta kemudian dia salurkan harta tersebut untuk perkara-perkara yang benar

2. Seseorang yang Allah berikan kepada dia hikmah (ilmu) maka dia berhukum dengan ilmu tersebut dan dia mengajarkan ilmu tersebut.

Inilah 2 orang yang berhak kita cemburui.

Ada apa gerangan dengan orang tersebut..?

Dua orang ini kalau kita perhatikan adalah 2 komponen penting dalam dakwah.

Dakwah membutuhkan 2 model manusia, yaitu:

❶ manusia yang berilmu yang kemudian menyampaikan dakwahnya

❷ manusia yang memiliki harta sebagai donasi untuk menyokong harta tersebut.

Oleh karenanya lihatlah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam diawal dakwahnya, Allah mentakdirkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menikah dengan seorang wanita yang kaya raya.

Dialah Khadijah radhiyallahu Ta’ala ‘anha yang dengan harta Khadijah tersebut digunakan seluruhnya untuk menyokong dakwah suaminya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Dan juga dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah menjadikan orang dewasa yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakr radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, diapun seorang yang kaya raya.

Oleh karenanya harta Abu Bakr sangat bermanfaat dizaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
“Tidak ada manfaat yang diberikan sebagaimana manfaatnya harta Abu Bakr radhiyallahu Ta’ala ‘anhu.”

Abu Bakr, dialah yang telah membebaskan budak-budak yang masuk Islam ketika mereka disiksa, seperti Bilal bin Rabah ketika disiksa oleh Umayyah bin Khallaf.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika itu tidak mampu membebaskan Bilal, yang mampu membebaskan Bilal tatkala itu adalah Abu Bakr radhiyallahu Ta’ala ‘anhu.

Dengan hartanya dia infaqkan untuk membebaskan Bilal dari perbudakan yang dia rasakan.

Sampai-sampai ayah dari Abu Bakr mengatakan:
“Wahai Abu Bakr, kalau engkau hendak membebaskan budak maka pilihlah budak-budak yang kuat, jangan engkau bebaskan budak-budak yang lemah.”

Tapi kata Abu Bakr :
“Aku ingin mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Karenanya, donasi dalam berdakwah adalah perkara yang sangat penting. Dengan adanya 2 komponen ini maka berjalanlah dakwah.

Bahkan terkadang seorang da’i cemburu kepada pemilik harta karena yang bersusah payah untuk menyampaikan ilmu, yang berhadapan langsung dengan masyarakat, yang terkadang dicerca dan dicela adalah da’i tsb.

Sementara pemilik harta, terkadang dia hanya duduk dirumahnya. Dia hanya menyalurkan hartanya sebagai donasi untuk dakwah.

Tatkala ternyata ada orang-orang yang berhasil didakwahi oleh sang da’i maka pahalanya mengalir kepada sang da’i dan juga mengalir kepada pemilik harta tersebut yang telah memberi donasi dalam dakwah.

Padahal yang bersusah payah adalah sang da’i, yang berjalan jauh, yang berhadapan dengan masyarakat, dicerca, dimaki, dikatakan bodoh, dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak adalah sang da’i, bukan pemilik harta.

Tapi pahalanya mengalir kepada sang da’i dan juga mengalir kepada pemilik harta yang dia mungkin, tatkala sang da’i sedang bersusah payah, dia (pemilik harta) sedang duduk dan bercanda dengan anak dan istrinya namun pahala terus mengalir.

Oleh karenanya, anda yang diberikan kelebihan harta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadilah anda seorang da’i.. bukan dengan ilmu, tapi dengan harta. Anda juga bisa berperan sebagai seorang da’i.

Jangan meremehkan diri anda, ingat tadi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyamakan antara 2 orang ini (tidak ada hasad kecuali pada 2 orang ini, yang berilmu dan berharta).

Jika keduanya dimanfaatkan untuk dakwah maka ini 2 orang yang sangat mulia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan jangan khawatir, harta anda akan diganti oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits disebutkan:

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْك.

“Wahai bani adam, berinfaqlah, Allah akan ganti infaqmu hartamu.”

Ini hadits umum berkaitan dengan infaq dalam segala perkara.

Barangsiapa berinfaq maka akan diganti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.. bagaimana lagi dengan berinfaq dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, disuatu amalan yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang Allah berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33)

“Dan perkataan siapa yang lebih indah daripada menyeru dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan perkataan siapa yang lebih baik daripada orang yang berdakwah dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala..” (Fushilat 33)

Infaq yang anda keluarkan pada tempatnya (dakwah), menyeru manusia untuk mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengingat akhirat, mengingatkan bahwa dunia ini hanya sementara.

Ini adalah perkataan yang sangat indah.

Maka, para da’i membutuhkan partisipasi saudara-saudara sekalian yang diberikan kelebihan harta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadilah anda seorang da’i dengan harta yang diberikan Allah kepada anda, niscaya anda diberkahi dan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dunia dan akhirat.

Dan ingatlah betapa banyak pahala yang akan mengalir kepada anda karena sebab harta anda tersebut.

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Kapan Musafir Tetap Sholat Sunnah Rawatib?…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Pertanyaan : Ustadz kami yang sedang umroh atau hajji apakah boleh bagi kami melaksanakan sholat rawatib di mesjid Nabawi dan di Mesjid Al-Harom, mengingat pahala sholat yang dilipat gandakan?

Jawab :

Kondisi seorang musafir tatkala sholat ada dua :

Pertama : Dia melakukan sholat qosor (dan qosor adalah yang disunnahkan bagi musafir). Maka dalam kondisi ini yang disyaria’tkan adalah meninggalkan sholat sunnah rowatib, kecuali 2 raka’at sebelum fajar.

Adapun sholat witir, sholat sunnah mutlaq, sholat-sholat sunnah yang ada sebabnya seperti sholat sunnah wudu, sholat dua raka’at setelah thowaf, sholat duha, dan sholat tahajjud maka tetap disyari’atkan. (Lihat fatwa Syaikh Bin Baaz rahimahullah 11/391 atau di http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=4&View=Page&PageNo=3&PageID=1937)

Kedua : “Jika dia sholat bermakmum kepada imam yang sholatnya sempurna (4 raka’at), sebagaimana kondisi para jama’ah haji dan umroh yang biasanya bermakmum di masjid Nabawi dan Masjidil Harom. Maka yang lebih afdol adalah mereka tetap melaksanakan sholat-sholat sunnah rawatib karena kondisi sholatnya seperti sholatnya orang yang muqim.”

Dalam fatwa Nuur ‘ala ad-Darb (10/382)

Pertanyaan :

س : هل على المسافر سنة الراتبة إذا صلى مع الذين يتمون

Apakah seorang musafir hendaknya melakukan sholat sunnah rowatib jika ia sholat bersama orang-orang yang sholatnya sempurna (4 raka’at-pen)?

Jawab :

ج : إذا صلى مع المتمين فالأفضل أن يأتي بالراتبة لأنه صار له حكم المقيمين فيصلي الراتبة ، وإن ترك فلا بأس ، لكن إذا أتم فالأفضل أن يأتي بالراتبة ، وإن قصر فالأفضل ترك الراتبة للظهر والعشاء ، أما الفجر فإن سنتها ثابتة في السفر والحضر ، وهكذا الوتر المسافر يوتر ويصلي سنة الفجر ، أما سنة المغرب وسنة الظهر وسنة العشاء فالأفضل تركها للمسافرين إذا قصروا

“Jika ia sholat bersama orang-orang yang sholatnya sempurna maka yang lebih afdol adalah ia melakukan sholat sunnah rowatib, karena jadilah baginya hukum orang-orang yang muqim, maka ia melaksakana sholat sunnah rawatib.

Dan jika ia tinggalkan maka tidak mengapa, akan tetapi jika ia sholatnya sempurna maka yang lebih afdol adalah ia sholat sunnah rawatib. Jika ia sholatnya qosor maka yang terbaik adalah meninggalkan sholat rawatib dzuhur, (maghrib-pen) dan isya. Adapun sholat dua rakaat sebelum subuh maka tetap dikerjakan dalam safar dan tidak safar.

Demikian juga sholat witir bagi musafir, ia kerjakan sholat witir dan ia kerjakan sholat sunnah dua raka’at sebelum subuh. Adapun sunnah rawatib magrib, dzuhur, dan isya, maka yang lebih afdol adalah meninggalkannya bagi para musafir jika mereka sholatnya qosor.”

(lihat http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=2364&PageNo=1&BookID=5)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-05-1436 H / 04-03-2015 M

Bahagianya Orang Yang Ikhlas…

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling ikhlas. Semakin dia meningkatkan keikhlasannya, maka dia akan semakin berbahagia.

Bagaimana dia tidak berbahagia ? ALLAH Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kebaikannya, ALLAH mengetahui amalannya dan dia menyerahkan ibadahnya semata-mata hanya untuk ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang di atas muka bumi ini bahagia kalau dia bisa dikenal oleh orang yang mulia. Dia dikenal oleh pejabat misalnya bupati, apalagi presiden. Lantas bagaimana jika yang mengenalnya adalah Rabbul’alamin, Pencipta dan Penguasa alam semesta ini? Yang jika menghendaki sesuatu hanya mengatakan, “Kun, fayakun”.

Orang yang ikhlas adalah orang yang paling bahagia.

Suatu saat RasuluLLah shallaLLahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ubay bin Ka’ab, Abu Mundzir radhiaLLahu’anhu:

يَا أُبَيٍّ إِنَّ الله أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ القرآن

“Wahai Ubay, sesungguhnya ALLah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan aku untuk membacakan Al-Qur’an kepadamu.”

Maka Ubay berkata:

هَلْ سَمَّانِي لك

“RasuluLLah, apakah ALLah menyebutkan namaku kepadamu?”

Kata RasuluLLah shallaLLahu ‘alaihi wa sallam:

سَمَّاكَ لي

“Ya, ALLah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebut namamu di hadapanku.”

فَجَعَلَ أُبَيٌّ يَبْكِي

“Maka Ubay bin Ka’ab pun menangis.”

Kenapa? Ubay menangis karena sangat gembira. ALLah Subhanahu wa Ta’ala mengenalnya, ALLah menyebut namanya.

Orang yang ikhlas, dia tahu bahwasanya ALLah mengetahui amal ibadahnya. Meskipun mungkin orang lain tidak ada yang melihatnya. Mungkin orang lain tidak mempedulikannya, mungkin orang lain merendahkannya, tapi dia tahu dan yakin, bahwasanya apa yang dia lakukan, kebaikan yang dia lakukan diketahui oleh ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahuLLah dalam kitabnya “Al Wasaail Al Mufidah Lil Hayati Sa’iidah” (Kiat-kiat Untuk Meraih Kabahagiaan), beliau menyebutkan:

“Di antara hal yang bisa mendatangkan kebahagian yaitu seseorang tatkala sedang berbuat baik kepada orang lain, jangan dia menganggap sedang bermuamalah dengan orang tersebut, tetapi sedang bermuamalah kepada ALLah Subhanahu wa Ta’ala.”

Tatkala dia memberikan sumbangan kepada orang lain, tatkala dia memberikan bantuan uang kepada orang lain, dia ingat bahwasanya sekarang ini dia sedang bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala; ALLah sedang melihat dia memberi sumbangan. Muamalah dia bukan dengan orang yang dia bantu, tapi muamalah dia dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga jika perkaranya demikian, yang dia harapkan hanyalah pujian ALLah Subhanahu wa Ta’ala, yang dia harapkan ALLah mengetahui siapa dirinya.

Semakin dia ikhlas, semakin tidak ada orang yang mengetahui amalannya, ALLah akan semakin mengetahui dia, ALLah akan semakin mengenalnya, ALLah akan semakin mencintainya. Oleh karenanya, dia tidak peduli dengan komentar orang-orang yang dia bantu, dia tidak perlu dengan komentar orang lain.

Dan syi’arnya sebagaimana orang-orang bertakwa yang ALLah sebutkan dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ الله لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Kami memberi makan kepada kalian karena ALLah Subhanahu wa Ta’ala, muamalah kami dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dengan kalian. Kami tidak butuh dari kalian terima kasih dan kami tidak butuh dari kalian balasan.” (QS. Al-Insaan: 9)

Inilah orang yang paling ikhlas, orang yang paling bahagia.

Adapun orang yang tidak ikhlas, dia senantiasa sibuk mendengar komentar orang lain tentang bagaimana amalan dia. Apakah dia dipuji, apakah dia dicela.

Tapi orang ikhlash, dia tidak peduli dengan perkataan orang lain, yang penting dia baik di hadapan ALLahSubhanahu wa Ta’ala. Dia tahu bahwasanya pujian manusia tidak akan meninggikan derajatnya, dan dia tahu bahwa celaan manusia pun tidak akan merendahkan derajatnya, yang penting dia baik di hadapan ALLahSubhanahu wa Ta’ala. Benar-benar konsentrasinya untuk bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Karenanya, di antara 7 golongan yang akan ALLah naungi pada hari kiamat kelak, ada dua orang yang RasulullahshallaLLahu ‘alaihi wa sallam sebutkan tentang ciri khusus mereka, yaitu ikhlas.

Yang pertama, kata Nabi shallaLLahu ‘alaihi wa sallam:

رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِ يَمِينِهِ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Seseorang yang dia berinfaq dengan tangan kanannya kemudian dia sembunyikan sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan olah tangan kanannya.”

Dia bahagia tatkala dia tahu bahwasanya hanya ALLah yang mengetahui amalannya. Dia tidak pedulikan komentar orang lain, bahkan dia sengaja menyembunyikan amalannya, agar yang mengetahui hanyalah ALLahSubhanahu wa Ta’ala. Dia tidak butuh pujian orang lain.

Yang kedua, kata Nabi  shallaLLahu ‘alaihi wa sallam:

رَجُلٌ ذَكَرَ الله خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Seseorang yang tatkala dia mengingat ALLah dalam bersendirian, maka kemudian matanya mengalirkan air mata.”

Orang ini, dia bersendirian dan dia begitu merasakan kelezatan tatkala mengingat ALLah Subhanahu wa Ta’ala, dan tatkala mengagungkan ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Dia seakan-akan sedang berbicara langsung dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga diapun menangis meskipun tidak ada yang melihatnya; dia mengeluarkan air mata kebahagiaan. Kenapa? Karena ALLah mengetahui tangisannya; ALLah mengetahui dia mengagungkan ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Bahkan di antara tafsiran para ulama: “Demikian pula seseorang yang tatkala di hadapan orang banyak, namun saking ikhlasnya, dia bisa mengkondisikan dirinya seakan-akan dia sedang sendirian.”

Kenapa? Karena dia tidak mempedulikan komentar orang lain. Sehingga dia tetap menangis meskipun di hadapan banyak orang. Dia yakin sedang bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga meskipun di hadapan banyak orang, dia tetap menangis karena mengagungkan ALLah Subhanahu wa Ta’ala.

Anda akan bahagia jika anda mengikhlashkan amalan ibadah Anda hanya kepada ALLahSubhanahu wa Ta’ala.

Adapun jika Anda kemudian sibuk dengan komentar orang lain, sibuk dengan pujian orang lain atau sibuk dengan cercaan orang lain, maka anda tidak akan pernah bahagia. Karena tidak mungkin ada seorangpun yang akan dipuji oleh semua orang, tidak mungkin, mustahil. Betapapun baiknya anda, pasti ada yang memuji dan pasti ada yang mencela.

ALLah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbul ‘ālamīn, Pencipta alam semesta ini tidak selamat dari celaan ciptaan-Nya, seperti orang-orang yahudi yang mengatakan bahwasanya:

يَدُ الله مَغْلُولَةٌ

“Tangan ALLah terbelenggu,”

Mereka juga mengatakan:

إِنَّ الله فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ

“Sesungguhnya ALLah miskin dan kamilah yang kaya.”

ALLah Subhanahu wa Ta’ala saja tidak selamat dari cercaan makhluknya. Nabi shallaLLahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki akhlak super mulia pun tidak selamat dari cercaan kaumnya. Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan Anda? Tentunya, mengharapkan keridhaan seluruh manusia adalah sesuatu yang mustahil, sebagaimana perkataan Imam Syafi’iy rahimahuLLah:

رضا الناس غاية لا تدرك

“Bahwasanya mencari keridhaan manusia adalah suatu hal yang mustahil (tujuan yang mustahil) untuk diraih.”

Karenanya, ikatkan hati Anda hanya kepada ALLah Subhanahu wa Ta’ala. Yakinlah bahwasanya saat Anda sedang bermuamalah dengan ALLah Subhanahu wa Ta’ala, maka Anda akan bahagia karena ALLah yang akan membahagiakan Anda dan Anda tidak akan memperdulikan komentar manusia.

WaLLahu Ta’ala a’lam bish shawwab.

Ref : http://www.bimbinganislam.com/materi-tematik-002/

Melawan Lupa

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Allah berfirman :

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya” (QS Al-‘Adiyaat : 6)

Al-Hasan rahimahullah berkata :

هُوَ الَّذِي يَعُدُّ الْمَصَائِبَ، وَيَنْسَى نِعَمَ رَبِّهِ.

Yaitu orang yang menghitung-hitung musibah (yang sedikit-pen) dan melupakan kenikmatan-kenikmatan Robnya (yg telah banyak diberikan kepadanya-pen) (Tafsir Ibnu Katsir 8/467)

Akan terlihat hakikat kita sesungguhnya tatkala kita ditimpa musibah, apakah kita termasuk كَنُوْد (ingkar) ? Atau termasuk sabar (yang tidak lupa dengan karunia-karunia Allah sehingga menjadikan kita lebih sabar dalam menerima keputusan Allah)?

Musibah yang menimpa kita hanyalah sesekali, sementara kenikmatan terus tercurah kepada kita tiada hentinya dengan berbagai macam modelnya. Namun demikianlah karena kurang kuatnya iman sebagian kita sehingga tatkala terkena musibah yang diingat-ingat hanyalah beratnya musibah tersebut, sementara anugerah dan karunia Allah terlupakan…

Contoh kecil :

–  Ada yang mobilnya mogok, maka iapun mengeluh sejadi-jadinya, ia lupa bahwa mobilnya mogok hanya sekali-sekali, selama ini sekian ribu kilo meter mobilnya jalan dengan baik tanpa halangan.

–  Ada yang uangnya hilang, iapun marah dan mengeluh, padahal selama ini uang yang Allah berikan kepadanya tidak pernah hilang, namun ini semua terlupakan, yang diingat hanya uangnya yang hilang tersebut.

–  Ada yang tubuhnya sakit, lalu iapun mengeluh dan tidak sabar, padahal puluhan tahun Allah menjadikan tubuhnya sehat, lantas apakah sakit yang sebentar tersebut membuatnya lupa dengan kesehatan puluhan tahun lamanya?

–  Ada yang mengalami kegagalan, maka iapun marah, padahal kegagalan tersebut hanya sesekali, dan bisa jadi sekali saja. Sementara kemudahan dan keberhasilan sudah sering ia raih, namun terlupakan karena kegagalan tersebut.

–  Yang lebih berat, adalah ada yang anaknya meninggal karena sakit atau sebab yang lainnya. Maka iapun meronta dan menangis sejadi-jadinya dengan mengangkat suara, seakan-akan protes dengan keputusan Allah. Ia lupa bahwasanya Allah telah banyak memberikan kepadanya banyak anak, dan yang lainnya dalam kondisi sehat wal afiyat.

Jika kita terkena musibah maka berusahalah mengingat kebaikan-kebaikan Allah kepada kita, sehingga hal ini akan meringankan beban musibah kita dan kita tetap berhusnuzon (berbaik sangka) kepada Allah.

As-Suddiy rahimahullah berkata :

تَسَاقَطَ لَحْمُ أَيُّوْبَ حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلاَّ الْعَصبُ وَالْعِظَامُ، فَكَانَتْ امْرَأَتُهُ تَقُوْمُ عَلَيْهِ وَتَأْتِيْهِ بِالزَّادِ يَكُوْنُ فِيْهِ، فَقَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ لَمَّا طَالَ وَجْعُهُ: يَا أَيُّوْبُ، لَوْ دَعَوْتَ رَبَّكَ يُفَرِّجُ عَنْكَ؟ فَقَالَ: قَدْ عِشْتُ سَبْعِيْنَ سَنَةً صَحِيْحًا، فَهَلْ قَلِيْلٌ للهِ أَنْ أَصْبِرَ لَهُ سَبْعين سنة؟

“Daging nabi Ayub berjatuhan (karena sakit parah) maka tidak tersisa di tubuhnya kecuali urat dan tulang. Istrinya mengurusnya dan membawakan makanan diletakan di sisi nabi Ayub. Maka istrinya berkata tatkala lama sakitnya nabi Ayub : “Wahai Ayub, kenapa engkau tidak berdoa kepada Robmu untuk menghilangkan sakitmu?” Maka nabi Ayub ‘alaihis salam berkata, “Aku telah hidup selama 70 tahun dalam kondisi sehat, maka bukankah perkara yang sedikit karena Allah jika aku bersabar karena-Nya 70 tahun pula? (Tafsir Ibnu Katsir : 5/360)

Disebutkan bahwa nabi Ayub sakit selama 7 tahun atau 18 tahun –sebagaimana disebutkan dalam buku-buku tafsir-, maka bagi beliau itu ringan dibandingkan kenikmatan kesehatan yang Allah telah berikan kepadanya selama 70 tahun.

Demikianlah mengingat-ingat kenikmatan menjadikan musibah terasa lebih ringan.

Wallahu A’lam bis-showab.

NEO KANIBAL…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS Al-Hujurot : 12)

Penggibah disamakan dengan pemakan bangkai mayat saudaranya karena :

1) Mayat ruhnya tidak hadir, sebagaimana yang dighibah juga tidak hadir tatkala dighibahi

2) Mayat tidak bisa membela diri tatkala dicincang dagingnya untuk dimakan, sebagaimana orang yang dighibah juga tidak bisa membela dirinya tatkala dia digibahi, karena ia tidak menghadiri majelis ghibah tersebut

3) Mayat tatkala dimakan jasadnya terkoyak, sebagaimana orang yang dighibah harga dirinya terkoyak dan dijatuhkan.
Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa harga diri lebih mulia daripada darah dan daging.

4) Memakan bangkai asalnya tidak diperbolehkan kecuali jika dalam kondisi darurat dan hanya dibolehkan dimakan seperlunya untuk menghilangkan kondisi darurat tersebut.
Maka demikian juga ghibah diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan seperlunya saja, tidak boleh berlebih-lebihan.
Adapun ghibah tidak dalam kondisi darurat sama seperti makan bangkai tidak dalam kondisi darurat.

(Adapun memakan bangkai manusia dalam kondisi darurat tatkala tidak ditemukan bangkai hewan sama sekali, maka ada khilaf diantara para ulama. Sebagaian ulama membolehkan, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak diperbolehkan sama sekali, karena manusia memiliki kehormatan baik tatkala masih hidup ataupun setelah menjadi mayat http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=1&View=Page&PageNo=1&PageID=116)

5) Orang yang berlezat-lezat tatkala mengghibah saudaranya maka sama seperti ia sedang berlezat-lezat menikmati daging bangkai saudaranya yang ia makan dan masukan dalam mulutnya.

6) Sebagaimana mengoyak dan memakan daging saudara adalah dosa besar maka demikian juga ghibah merupakan dosa besar

7) Ghibah adalah perbuatan yang sangat menjijikan. Jika memakan bangkai hewan saja menjijikan apalagi memakan bangkai manusia?, apalagi bangkai saudara sendiri?, tentu sangat menjijikkan !

8) Allah menyebutkan ((memakan daging bangkai saudaramu)), mengisyaratkan hubungan persaudaraan yang kuat antara pengghibah dengan yang dighibahi. Mereka berdua adalah bersaudara se-Islam dan se-Iman. Ini menunjukkan seharusnya seseorang membela saudaranya bukan malah mengghibahnya, menjatuhkan dan merendahkannya.

Ini juga mengisyaratkan bahwa kebanyakan ghibah yang terjadi adalah antara seseorang dengan orang yang dekat dengannya, apakah saudaranya, ataukah teman dan sahabatnya.

Maka bencilah ghibah karena Allah maka niscaya Allah akan memberikan pahala bagimu, karena Allah yang memerintahkan kita untuk membenci ghibah dengan sebenci-bencinya. Jika ada yang berghibah ria di depanmu maka tunjukkan ketidaksukaanmu dengan perbuatan tersebut, dan tunjukkan bahwa perbuatan ghibah tersebut adalah perbuatan yang menjijikkan. Dan kalau kau mampu maka bela-lah saudaramu yang sedang dighibahi tersebut.

Bencilah ghibah sebagaimana engkau benci jika daging saudaramu dikoyak dan dimakan !!

Jangan  sampai engkau menjadi kanibal !, dan jangan pula kau biarkan kanibal beraksi dihadapanmu !

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 28-04-1436 H / 17-02-2015 M

Terlalu Banyak Yang Terlupakan…

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Meskipun banyak kenikmatan yang kita sadari, akan tetapi masih terlalu banyak yang terlupakan dan terlalaikan.

Bukankah banyak dari organ tubuh yang bergerak dengan sendirinya –diluar kesadaran manusia- demi kemanfaatan badan dan berlangsungnya kehidupan badan ?

Allah berfirman :
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Ad-Dzaariyat : 21)

Sungguh betapa sering kenikmatan Allah giringkan kepadamu –wahai manusia- manjadikanmu menimatinya sementara engkau tidak menyadarinya. Betapa banyak keburukan dan musibah yang Allah tolak darimu sementara engkau tidak menyadarinya.

Allah berfirman tentang penjagaan manusia :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS Ar-Ro’du : 11)

Maka sungguh benar firman Allah :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim : 34)

Yakin Dikabulkan…

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»

“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR At-Thirmidzi)

Jika doa iblis saja dikabulkan, Allah berfirman :

قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.”

قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS Al-A’raaf :14-15)

Jika orang musyrik terkadang doanya dikabulkan…, Allah berfirman :

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-Ankabuut : 25)

Lantas bagaimana tidak dikabulkan seorang mukmin yang berdoa di sepertiga malam terakhir, seraya mengadahkan kedua tangannya, disertai aliran air mata???

Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetikpun…

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Kapan terbetik dalam hatimu bahwa hartamu akan menambah umurmu, maka sungguh engkau seperti yang disebutkan oleh Allah tentang orang yang terus mengumpulkan harta dan pelit karena menyangka hartanya akan menambah usianya…

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

dia mengira bahwa hartanya itu km dapat mengkekalkannya
(QS : Al-Humazah 2-3)

Justru sikap pelitlah yang merusak umur dan menghilangkan keberkahannya, sebaliknya perbuatan baik terlebih lagi bersedekah bagi kerabat akan menambah umur.

Ingatlah engkau dilahirkan dalam kondisi tidak membawa sepeserpun harta, maka demikian pula tatkala kau dibangkitkan tidak membawa sepeserpun harta yang selama ini engkau kumpulkan siang dan malam tanpa mengenal lelah…

Namun jika hartamu kau sedekahkan maka amal sedekahmu akan menemanimu pada hari kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كل امرء في ظل صدقته حتى يقضى بين الناس

“Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia”.
(HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)