Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Murid Jadi Soko Guru, Guru Jadi Murid Kecil…

Banyak dari masyarakat yang merasa dirinya kurang ilmu atau bodoh, namun tanpa sadar dia telah menobatkan dirinya menjadi orang paling berilmu.

Kok bisa?

Ya, ngakunya awam, tidak berilmu namun pada kenyataannya : membanding-bandingkan dalil, atau membanding-bandingkan pendapat atau ulama’. Mereka berkata: kalau menurut saya: pendapat ini yang lebih kuat atau ulama’ ini lebih berilmu dibanding yang itu.

Kok bisa ya, ngakunya tidak berilmu tapi bisa membandingkan bahkan menghakimi perbedaan pendapat atau memvonis bahwa ulama’ ini lebih berilmu dibanding ulama’ itu.

Ilmunya saja ndak punya, kok bisa mengatakan ini lebih berilmu dibanding itu, ini lebih benar dibanding itu?

Jawabannya sederhana: perasaannyalah dalil dan ilmunya, tatkala cocok dengan perasaannya maka dianggap benar dan kuat, namun tatkala tidak sesuai dengan perasaan atau seleranya, maka dianggap aneh bin lemah atau salah.

Logikanya: orang yang berilmu tuh bisa mengenali orang bodoh, karena sebelum menjadi orang berilmu, dia adalah orang bodoh, namun orang bodoh mana mungkin bisa mengenali kadar ilmu ulama’, padahal ia belum pernah menjadi orang berilmu walau hanya sehari saja.

Lalu siapakah yang bisa mengenali ulama’ bahkan ulama’ paling alim ? ya tentu saja ulama’, karena itu dahulu tradisi di kalangan para ulama’, tiada seorangpun yang berani berfatwa atau mengajar kecuali yang telah mendapat rekomendasi dari para ulama’ senior yang ada di zamannya.

Imam Malik berkata:

وليس كل من أحب أن يجلس في المسجد للحديث والفتيا جلس حتى يشاور فيه أهل الصلاح والفضل وأهل الجهة من المسجد فإن رأوه أهلاً لذلك جلس وما جلست حتى شهد لي سبعون شيخاً من أهل العلم أني موضع لذلك

Tidaklah pantas bagi seseorang untuk duduk berceramah di masjid atau memberi fatwa hingga ia bermusyawarah dengan orang-orang sholeh, para pemuka agama dan tokoh setempat. Bila mereka menganggapnya layak untuk melakukan hal itu. maka silahkan ia melakukannya, Dan aku tidaklah duduk di masjid untuk berceramah dan memberi fatwa sampai mendapatkan rekomendasi dari 70 orang syeikh ahli ilmu bahwa aku pantas melakukannya. (Ad Dibaaj Al Muzhab oleh 1/10)

Kini sebaliknya yang terjadi, murid yang merekomendasi guru, bila mereka cocok maka guru diundang, bila tidak cocok maka guru ditendang.

Murid mendesak guru agar berfatwa dan bersikap sesuai selera murid, bahkan sering kali murid pesan fatwa kepada gurunya., hasbunallahu wa ni’mal wakiil. Inilah wolak waliknya zaman, semoga Allah melimpahkan istiqomah kepada kita dan menjaga kita semua dari fitnahnya zaman, amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Kiat Mudah Menjadi ORANG SAKTI..

Banyak orang terkagum kagum melihat seseorang memiliki “kesaktian” alias mampu melakukan satu hal yang tidak dapat dilakukan orang lain atau orang biasa.

Bagi banyak orang asal mampu membuat kagum, maka serta merta dianggap wali, orang shoooleh, dan segera dieluk-elukkan dan diikuti.

Seakan lupa, bahwa setan bisa saja membantu pemujanya melakukan hal-hal yang di luar kemampuan manusia normal. Bila demikian, akankah anda mengangap para pemuja setan sebagai orang sholeh atau wali Allah Ta’ala ?

ٍSobat! ketahuilah bahwa kesaktian yang sejati ialah tatkala anda mampu menundukkan nafsu anda dan sebagaimana anda juga begitu sakti sehingga mampu mengalahkan bisikan setan dan godaannya, bukan tatkala anda menjadi budak atau pemuja setan dengan perantara membakar kemenyan dan menyuguhkan sesajian, hingga akhirnya setan membantu anda.

Imam Syafii berkata:

إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء أو يطير في الهواء فلا تصدقوه ولا تغتروا به حتى تعلموا متابعته للرسول صلى الله عليه وسلم

Bila engkau menyaksikan seorang lelaki yang dapat berjalan di atas air, atau terbang di udara, maka janganlah engkau mempercayainya, dan jangan pula engkau terperdaya dengannya, hingga engkau benar-benar mengetahui bahwa ia benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (ِAdabussyafii wa manaqibuhu oleh Ibnu Abi Hatim 141)

Jadi untuk jadi orang sakti tuh bukan dengan menggandakan uang, atau bisa terbang atau berjalan di atas air, atau bisa sholat subuh di jawa dan jum’atan di Makkah, lalu Ashar di jawa kembali, namun bila anda dapat istiqamah di atas agama Allah Ta’ala dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan selamat dari gadaan syahwat, harta, jabatan dan lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنْ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kagum kepada seorang pemuda yang tegar dan tidak tergoda oleh nafsu mudanya. (Ahmad dan lainnya)

Ya Allah, limpahkanlah istiqamah kepada hamba-Mu yang lemah ini.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Mereka Tinggalkan Negrinya Demi Beriman, Bukan Demi Lapangan Pekerjaan…

Para sahabat terusir dari Makkah ke negri Habasyah (Etiopia) agar bisa mempertahankan imannya, kemudian mereka terusir kembali ke Madinah untuk tujuan yang sama. Kampung halaman, rumah, harta dan segala kepentingan mereka di Makkah mereka Tinggalkan demi tegaknya iman.

الذين إخرجوا من ديارهم بغير حق الا أن يقولوا ربنا الله

Orang orang yang diusir dari Negrinya tanpa alasan yang benar selain karena mereka berkata: Tuhan kami hanyalah Allah. ( Al Haj 40)

Kemudian selang beberapa tahun mereka kembali ke Makkah bukan untuk mengambil kembali kekayaannya dan bukan pula karena terbuka lapangan pekerjaan yang untuk mereka. Mereka kembali untuk mengibarkan bendera Islam, dan menyingkirkan berhala dan berbagai praktek kesyirikan.

Mereka menjual dunianya demi mendapatkan akhiratnya, bukan sebaliknya menjual agamanya demi mendapatkan kekayaan atau pekerjaan.

Merekalah para sahabat Radhiallahu anhum, atas izin Allah kemudian berkat perjuangan mereka, kini Anda masih menikmati indahnya Islam. Bersyukurlah dan cintailah m, bukan sekedar slogan namun pembuktian. Ikuti jejak mereka dan teruskan perjuangan mereka, karena mereka adalah generasi terbaik dan bahkan telah mendapat jaminan masuk surga. 

أولئك الذين هدى الله فبهداهم اقتده

Merekalah orang orang yang telah mendapat petunjuk, maka dengan petunjuk merekalah hendaknya engkau mengambil teladan. ( Al An’am 90)

Ya Allah, satukan kami dengan para sahabat Nabi-Mu di dalam jannah-Mu, walau kami sadar terlalu kecil bekal kami untuk dapat menyamai kedudukan mereka, namun karnia-Mu sangat luas untuk kami.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Wanita Paling Siip, Lelaki Paling Oye…

Tips jitu untuk para jomblo memilih pasangan paling siip, dan bagi yang telah memiliki pasangan, tips ini juga tokcer menjadikan anda suami atau istri yang heeem gitu .

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:

(عقل المرأة جمالها، وجمال الرجل عقله)

Kecerdasan wanita terletak pada kepandaiannya mempercantik dirinya sedangkan ketampanan lelaki terletak pada kecerdasan nalarnya.
ً
Kecerdasan wanita tatkala ia mampu menjadikan suaminya selalu klepek klepek, ketagihan sampai KO, sehingga tidak bermata keranjang jelalatan ke wanita lainnya.

Sedangkan ketampanan lelaki bila ia cerdas, tiada pernah kehilangan akal untuk mengantarkan keluarganya menuju kepada setiap kebaikan dunia dan akhirat.

Selamat mencoba, semoga berhasil.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Awas! Ulama’ Gadungan Di Medsos…

Di medsos, atau internet banyak sekali orang-orang yang sekilas bagaikan seorang jagoan, bahkan paling jagoan. Tanpa terkecuali dalam urusan ilmu dan dakwah, semua urusan dia komentari, dia tanggapi dan dia bahas, dan tentunya modalnya hanya “katanya” atau “menurutku”.

Namun giliran komputernya dimatikan atau koneksinya putus, nampaklah aslinya, blegak bleguk, bahkan baca Al Fatihah saja susah payah.

Waspada dan rajin rajinlah bercermin, agar anda tidak terperangkap dalam perseteruan dengan ulama’ gadungan yang banyak betebaran di medsos, dan juga tidak jadi ulama’ gadungan di medsos.

Sobat! Tahukah saudara bahwa salah satu karakter orang yang beriman ialah selalu waspada agar tidak terpleset dalam perdebatan dengan ulama’ gadungan semisal yang banyak ditemukan di medsos. Mereka sadar bahwa ilmu bukan modal untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, namun untuk mengajari orang-orang bodoh. Sehingga bila orang bodoh diajari malah mendebat, maka para ulama’ akan menyingkir.

( من طلب العلم ليماري به السفهاء أو ليباهي به العلماء أو ليصرف وجوه الناس إليه فهو في النار )

Siapapun yang menuntut ilmu untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau berbangga bangga di hadapan ulama’ atau untuk memalingkan perhatian orang lain kepadanya, maka kelak ia berada di neraka. (At Tirmizy, Ibnu Majah dll)

Para ulama’ berilmu bukan untuk diobral kepada orang orang yang tidak menghargainya, namun untuk dihadiahkan kepada orang yang menghargainya.

Para ulama’ sadar bahwa berdebat melawan orang-orang bodoh sedikit manfaatnya, banyak madharatnya dan hanya akan menyemai permusuhan di antara mereka, bahkan bentuk dari kebodohan. Karenanya, Setiap kali anda merasa geram untuk berdebat di medsos, ingat kembali sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Aku memberi jaminan berupa rumah di pinggiran surga, bagi orang-orang yang menjauhi perdebatan kusir walaupun ia berada pada pihak yang benar. (Abu Dawud dan lainnya)

Belum lagi, bila perdebatan ternyata tanpa anda sadari telah menjadi ajang unjuk gigi, alias mringis, atau media nyinyir alias menghina dan mengolok-olok orang lain, bukan lagi untuk menegakkan kebenaran dan mengingkari kemungkaran. Pada perbedatan yang baik, yang ada hanya dalil dan bukti, sedangkan pada perolok-olokan dipenuhi oleh ejekan, hinaan dan cemoohan, hiiih, menjijikkan.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Persamaan Ustadz Dan Artis…

Dalam beberapa hal, kedua figur ini memiliki kesamaan, terutama sama sama memiliki banyak penggemar yang ngefans, pusat perhatian publik dan panutan mereka. Dan sebagai salah satu konsekwensi adanya sikap ngefans ialah adanya cikal bakal cinta yang suatu saat bisa berubah menjadi benih cinta yang dengan cepat tumbuh dan bersemi di hati para fans.

Bagi banyak orang ngefans tuh beda dengan cinta, namun semua sadar beda antara keduanya terlalu tipis, sehingga orang yang sudah ngefans akan mudah sekali jatuh cinta, apalagi bila orang yang dia fanskan merespon dan mengumbar sinyal – sinyal yang menggoda, aduuh bisa klepek klepek deh para fans.

Kondisi serupa juga berlaku pada para penyiar radio islam, tv islam dan panitia kajian, Suara mereka yang terdengar merdu, selalu membawakan petuah penyejuk hati, dan tutur katanya yang selalu terdengar santun, bisa jadi memakan korban, sebagian pendengar atau pemirsanya.

Kondisi ini bisa menjadi parah bila ternyata ustadz atau artis, atau penyiar tersebut berwajah cukup imut, atau gimana gitu.

Dalam banyak kasus ustadz atau penyiar tidak menyadari apa yang dirasakan oleh para fansnya, mereka merasa adem ayem, namun tidak demikian dengan orang yang terlanjut ngefans banget, sampai kebablasan rasa ngefansnya hingga nyangkut di sudut hatinya, panas dingin sering kali menyengat hatinya.

Karena itu, saya rasa ada baiknya bila pada saat ini saya mengingatkan semua dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِى النَّاسِ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Sepeninggalku nanti, tiada satu godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki dibanding godaan wanita. (Muttafaqun ‘alaih)

Waspadalah, senantiasa koreksi hati anda wahai para ustadz dam juga saudaraku sekalian yang terlanjur ngefans kepada seorang ustadz atau penyiar radio atau TV Islam.

Waspadalah, agar anda tidak ceroboh menebar angin surga bagi fans anda, kasihanilah mereka bisa tersiksa hidupnya karena tak kuasa menahan sengatan asmara yang tidak kesampaian.

Dan sebaliknya, waspadailah diri anda jangan sampai, sikap fans anda yang telah menjadi korban angin surga yang berhembus dari senyum manis dan tutur kata anda yang santun, menjadikan anda tersanjung hingga akhirnya angin surga berbalik bak bumerang bagi anda.

Tidak semua orang mampu tegar ketika diterpa angin surga yang berhembus sepoi sepoi selembut sutra, seharum kasturi dan seindah bunga, salah salah anda mabok kepayang, dan lupa daratan.

Ya Allah jauhkanlah kami semua dari godaan yang menyesatkan dan menyengsarakan.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaranku, dan dari kejelekan penglihatanku, dan dari kejelekan lisanku, dan dari kejelekan hatiku dan dari kejelekan air maniku. (ِAbu Dawud dan lainnya)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Para penonton Tinju Dalam Selimut Dakwah Salaf..

Akhir akhir ini terjadi banyak penolakan terhadap acara kajian atau tabligh akbar yang diadakan oleh teman teman kita, para penggiat dakwah salaf. Banyak analisa dan banyak pula kambing berwarna hitam yang telah dikorbankan. Namun, benarkah kambingnya berwarna hitam? dan benarkan analisa analisa yang ada mampu menyelesaikan masalah dan mencegah agar tidak terulang di kemudian hari?

Sobat! Hal pertama yang sepatutnya kita lakukan untuk mengurangi kejadian serupa, demi terciptanya ukhuwah yang benar-benar Islamy dan berlangsungnya dakwah yang sarah dengan hikmah dan mau’izah hasanah, adalah introspeksi diri: sudahkah anda ikhlas dalam setiap ucapan dan kegiatan anda? Yang pro dan kontra, sudahkah sikap anda karena Allah atau karena emosional sesaat dan fanatis golongan semata?

Hal kedua yang juga sepatutnya dilakukan ialah mewaspadai adanya porovakor, bisa dari dalam selimut anda sendiri dan bisa pula dari luar selimut anda. Dahulu dinyatakan dalam pepatah:

عدو عاقل خير من صديق جاهل

Memiliki musuh yang cerdas seringkali lebih menguntungkan dibanding memiliki teman yang pandir.

Betapa sering teman mendatangkan petaka dalam kehidupan anda, dan sebaliknya betapa sering musuh menjadikan anda sadar untuk waspada dan bersikap bijak dan semakin bijak.

Di antara hal yang barangkali menjadi biang kerok berbagai kejadian di masyarakat ialah adanya orang-orang yang hobi petentang petenteng seakan jagoan debat dan diskusi. Mereka hobi mendebat, memaki, dan menghina orang yang berbeda dengannya, baik via offline terlebih via online Betapa di berbagai media sosial dan net sering terjadi perdebadan kusir, dan caci maki yang mencerminkan akan rendahnya moral pelakunya.

Seakan mereka lupa firman Allah Ta;ala:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (Al Furqan 63)

Dan seakan mereka lupa bahwa perdebatan, makian dan perkelahian walau secara online dapat berbuntut panjang.

Dan kadang kala banyak murid yang puas bila ustadznya bersitegang atau menyerbu ustadz lain, dengan cara mengajukan pertanyaan yang sengaja di kondisikan agar ustadznya nyerang dan nyerang.

Karena itu dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada sahabatnya agar tidak bersikap seperti kawan yang pandir, mencelakakan kawan sendiri dengan dalih membelanya.

Suatu hari sahabat Mu’az bin Jabal meminpin sholat Isya’ dan karena ingin menyempurnakan sholat dan pahalanya, maka beliau membaca surat surat yang panjang.

Ditengah-tengah sholat ada seorang lalaki yang keluar dari shaf dan memisahkan diri dari jamah. Lelaki itu berprofesi sebagai petani yang seharian penuh bekerja di ladangnya, sehingga ia tidak sanggup untuk sholat dengan bacaan yang panjang.

Mengetahui kejadian ini, sahabat Mua’z bin Jabal berkata: sejatinya lelaki itu adalah seorang munafiq.

Merasa tidak terima dengan celaan sahabat Mua’z ini, lelaki itu kejadianya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menjelaskan duduk masalahnya dan berkata: Wahai Rasulullah, sejatinya kami pekerja keras, kerja dengan tangan sendiri (tidak punya karyawan), menyirami ladang dengan bantuan hewan ternak kami. Dan sesunguhnya tadi malam, Mu’az mengimami kami sholat isya’ dan ia membaca surat Al Baqarah, makanya aku mundur dan menyelesaikan sholatku sendiri. Kemudian ia menuduhkan sebagai seorang munafiq. 

( يا معاذ أفتان أنت – ثلاثا – اقرأ { والشمس وضحاها } . و { سبح اسم ربك الأعلى } . ونحوها )

Wahai Mu’az, apakah engkau hobi membuat kekacauan 3x, bacalah surat Was Syamsi wa Dhuhaaha, dan surat Sabihismarabbikal a’ala atau surat lain yang serupa dengannya. (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam kasus lain yang serupa , beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

Wahai ummat manusia, sesungguhnya sebagian kalian menyebabkan orang lain menjauh dari Islam (kebenaran), siapapun dari kalian memimpin sholat, hendaknya ia meringankan sholatnya, karena di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang tergesa gesa karena ada keperluan. (Muttafaqun ‘alaih)

Sudahkah anda menyadari keberadaan provokator dalam selimut anda? atau sudahkah anda mewaspadai setiap ucapan dan sikap anda agar tidak menjadi penyebab menjauhnya masyarakat dari kebenaran?

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Mengapa Seakan Anda Ingin Mengaudit Malaikat..?

Sobat! Sadarkah anda bahwa apapaun yang anda ucapkan atau lakukan pasti dicatat oleh Malaikat pencatat amalan? Mungkinkah ada satu ucapan atau amalan anda yang luput dari catatan Malaikat?

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ َصغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun” (Al Kahfi 49)

Bila semua sudah dicatat, dan kelak di hari qiyamat anda pasti mempertanggung jawabkannya kepada Allah, lalu mengapa saat ini seakan anda merasa perlu untuk membuat catatan atau mendokumentasikan amalan anda ? Mungkinkah anda kawatir ada yang terselip dari catatan malaikat atau luput dari perhitungannya ?

Kalau anda berkata: aah, inikan untuk kenang-kenangan, sekedar untuk bercerita kepada karib kerabat dan teman.

Luar biasa, alasan yang terkesan cerdas dan manusiawi, namun coba sesaat anda merenung: sebenarnya anda beribadah untuk bercerita atau menjadi kenangan ? bukankah anda beribadah untuk mencari ridha Allah Ta’ala? lalu mengapa tanpa anda sadari ada niat lain, kenangan, atau bahan cerita kepada orang ? apakah anda tidak kawatir terperangkap dalam riya’ ? ataukah anda telah merasa memiliki proteksi yang ampuh dari penyakit riya’?

Kalau mau menghitung dan mengenang, maka kenanglah dosa anda, agar anda selalu rajin beristighfar dan memohon ampunan, bukan untuk dibanggakan atau diceritakan.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata:

عدوا سيئاتكم؛ فأنا ضامن أن لا يضيع من حسناتكم شيء

“Hendaknya kalian menghitung dosa dosa kalian, dan aku jamin bahwa tiada satupun kebaikan kalian yang terluputkan.” (At Tirmizy, Ad Darimy dll)

Sadar sobat, tata kembali niat anda, jangan sampai budaya selfie merusak ibadah anda tanpa anda sadari, akibatnya hanya selfie yang anda dapatkan dari ibadah anda, sedangkan pahala bisa saja sirna, karena ternyata ada niat lain, yaitu kenangan atau bahan cerita kepada kerabat atau teman.

Ya Allah limpahkan keikhlasan kepada hamba-Mu yang lemah ini.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Nabi Ditolak Orang Kafir, Ndak Emosi, Kok…

Sobat, anda berdakwah lalu ditolak itu adalah satu hal yang wajar, anda bukan korban pertama namun demikianlah dinamika dakwah sepanjang masa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami hal yang serupa bahkan lebih parah, demikian pula dengan nabi nabi sebelumnya.

Pada tahun keenam hijriah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menunaikan ibadah umrah bersama para sahabatnya. DIperkirakan beliau membawa sekitar 1.400 orang sahabat dengan berbagai perlengkapan perang untuk mempertahan diri.

Kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukan segitu banyak menyebabkan orang-orang Quraisy kebakaran kumis. Betapa tidak, kemarin, enam tahun silam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar meninggalkan kota Makkah hanya ditemani oleh seorang sahabat, yaitu Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, sedangkan kini beliau kembali dengan membawa pasukan besar.

Secara fsikologi, ini merupakan pukulan berat bagi orang-orang Quraisy, bagi mereka kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kali ini mereka anggap sebagai show of power, yang dapat berdampak pada runtuhnya wibawa Quraisy yang selama ini berperan sebagai super power di negri arab.

Karenanya, dengan segala kekuatan dan daya yang dimiliki, Quraisy berusaha mempertahankan kedudukan sosialnya sebagai super power di negri arab. Mereka menolak kehadiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Makkah yang tanpa “kulo nuwun” terlebih dahulu kepada mereka. Quraisy ingin membuktikan kepada bangsa arab bahwa mereka tetap memiliki power untuk memimpin dan mempertahankan mahkota “super powernya”.

Negoisasi antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan delegasi Quraisy terus terjadi, hingga akhirnya dicapai kesepakatan bahwa :

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama seluruh sahabatnya kembali ke Madinah dan menunda umrahnya hingga tahun depan.

2. Setiap penduduk Makkah yang melarikan diri ke kota Madinah harus dikembalikan ke Quraisy dengan suka rela, walaupun dia adalah orang Iaslam. Sedangkan setiap penduduk Madinah yang elarikan diri ke Makkah tidak wajib dikembalikan ke Madinah, walau di adalah orang Islam.
Dua poin ini sekilas bentuk kekalahan dan kehinaan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Tak ayal lagi para sahabat geram dan merasa terhina dengan kesepakatan ini, sampai-sampai sahabat Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ قَالَ « بَلَى ». قَالَ أَلَيْسَ قَتْلاَنَا فِى الْجَنَّةِ وَقَتْلاَهُمْ فِى النَّارِ قَالَ « بَلَى ». قَالَ فَفِيمَ نُعْطِى الدَّنِيَّةَ فِى دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ « يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِى اللَّهُ أَبَدًا

“Wahai Rasulullah, bukankah kita di atas kebenaran sedangkan mereka di atas kebatilan. ? Beliau menjawab: Tentu. Lalu sahabat Umar kembali berkata: Bukankah orang yang terbunuh dari kita akan masuk surga sedangkan korban dari mereka pasti masuk neraka? beliau menjawab: Tentu. Selanjutnya sahabat Umar berkata: Bila demikia, mengapa kita rela menerima kehinaan dalam urusan kebenaran (agama) kita, sedangkan Allah belum memberikan keputusan-Nya antara kita dan mereka (belum terjadi peperangan) ? beliau menjawab: Wahai putra Al Khatthab, sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan selamanya Allah tiada mungkin menyia-nyiakan aku.


Merasa belum puas, sahabat Umar radhiallahu ‘anhu mendatangi sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk menumpahkan kekecewaannya, dan terjadilah komunikasi seperti di atas anatara mereka berdua.” (Bukhari & Muslim)

Ya, dalam kondisi penuh dengan kekecewaan dan sakit hati seperti ini sangatlah berat untuk menggunakan nalar sehat, apalagi hanya bermodalkan iman semata. Kebanyakan orang akan hanyut dalam amarah, kekecewaan dan ambisi membalas, apalagi bila merasa mampu dan kuat. Namun tentu sekedar perasaan mampu dan kekecewaan tidaklah cukup untuk menghadai masalah besar dan dalam kondisi susah seperti ini. Sepatutnya dalam kondisi seperti ini, ilmu dan iman kepada pertolongan Allah haruslah lebih di dahulukan.

Langkah yang diambil oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menerima persyaratan Quraisy ternyata terbukti efektif untuk mengakhiri perseteruan dengan Quraisy. Karena diantara poin kesepakatan antara mereka ialah kedua belah pihak berkomitmen untuk tidak lagi saling mengganggu dan memberi kebebasan kepada seluruh kabilah untuk bergabung dengan siapapun dari kedua kelompok ini.

Poin kesepakatan ini menjadi kredit poin penting dan sekaligus titik balik dari perseteruan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang Quraisy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat keleluasaan untuk mendakwahi kabilah kabilah lain, tanpa gangguan yang berarti dari Quraisy. Dan sebaliknya qabilah lain mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk berinteraksi dan mengenal Islam lebih dekat, hingga akhirnya banyak dari mereka masuk Islam. Berbagai qabilah yang sebelumnya mendukung Quraisy, kini berbalik arah dan masuk Islam, sampaipun berbagai qabilah yang ada di sekitar Makkah.

Qabilah berbondong bondong menyatakan keislamannya, hingga akhirnya Quraisy terkucilkan dan kehilangan dukungan dari banyak qabilah, dan akhirnya kekuatan Quraisypun melemah. Kondisi inilah yang Allah Ta’ala sebutkan sebagai pertolongan Allah Ta’ala dan sekaligus kemenangan kaum Muslimin. Allah berfirman :

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ {1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.” (An Nasher 1&2)

Pada kisah ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi pelajaran bahwa mundur selangkah bukan berarti kekalahan selamanya. Sebagaimana diantara strategi yang sepatutnya kita terapkan dalam mewujudkan kemenangan ialah merontokkan kekuatan penopang dan basis dukungan yang dimiliki oleh lawan.

Walaupun kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memiliki pasukan yang kuat dan tangguh, namun beliau memilih untuk mundur selangkah, guna menempuh jalur lunak, yaitu dengan mengikis dukungan lawan, sebelum benar-benar berkonfrontasi degan musuh utamanya. Secara kalkulasi kala itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukannya mampu melawan Quraisy dan mengalahkan mereka, namun tentu saja membutuhkan waktu panjang, biaya besar, korban jiwa yang banyak dan… dan …

Namun dengan mundur selangkah, beliau berhasil mengikis basis dukungan Quraisy, sehingga setelah dirasa waktunya tepat beliau mengumumkan peperangan terbuka, dan berterus terang hendak menyerang kota Makkah tanpa kawatir akan dihadang oleh qabilah loyalis Quraisy yang sebelumnya betebaran di sepanjang jalan menuju kota Makkah.

Belumkah tiba saatnya anda meneladani strategi dakwah dan perjuangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas? Mengapa kita begitu bernafsu dengan berbagai kegiatan yang bernuansa show of power ?

Tidakkah akan lebih bijak bila dakwah dengan cara gerilya, dari masjid masjid kampung terus digiatkan, dari rumah ke rumah dilipat gandakan, dari instansi ke instansi lain terus disemarakkan, hingga suatu saat nanti, bila telah kondusif maka acara yang beraroma show of power dapat dilaksanakan tanpa ada kekawatiran akan ada gangguan yang perlu dikawatirkan. Toh, tanpa kegiatan yang bernuansa show of power dakwah anda tetap berjalan dengan lancar. Dengan demikian gengsi sebagian orang yang selama ini merasa sebagai “raja hutan”, atau sebagai super power di tengah ummat Islam, dapat dikikis atau taringnya dijadikan tumpul dan aumanya dibuat merdu sehingga tidak lagi menakutkan.

Mengapa ada kesan bahwa bila kegiatan yang bernuansa show of power ditolak, berarti dakwah berhenti dan berakhir? Apalagi kehormatan dakwah tercoreng? Mengapa para punggawa dakwah lupa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

من تواضع لله رفعه الله

“SIapapun yang merendahkan dirinya karena Allah, niscaya Allah meninggikan derajatnya.” (Abu Nuim dan lainnya)

Sobat, ingat, dan sekali lagi ingat, anda hidup di tengah tengah saudara anda sendiri sesama ummat Islam, sejauh apapun perbedaan anda dengan mereka toh mereka tetap saudara anda sesama ummat yang bersyahadat :
لا إله إلا الله ومحمد رسول الله

Sobat, mari kita semua menjadi perekat di tengah tengah Ummat Islam, dan jangan sampai kita menjadi pemecah di tengah tengah saudara kita. Ummat kita yang sudah terpecah jangan ditambah pecah, kalaupun sebagian saudara kita bersikap lancang dan melampaui batas, bukan berarti itu alasan untuk bersikap yang serupa

Dan kalau anda berkata: negara kita negara hukum, kita tempuh saja jalur hukum, kita gugat, kita perkarakan, kita memiliki para pungawa peradilan dan lainnya, maka dengar pesan khalifah Umar bin Al Khatthab tentang penyelesaian masalah melalui jalur hukum:

رُدُّوا الْخُصُومَ حَتَّى يَصْطَلِحُوا ، فَإِنَّ فَصْلَ الْقَضَاءِ يُورِثُ بَيْنَ الْقَوْمِ الضَّغَائِنَ.

“Upayakan agar kedua orang yang bersengketa menempuh jalur perdamaian, karena menyelesaikan persengketaan melalui jalur hukum pasti menyisakan dendam dan kebencian antara keduanya.” (Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah dan lainya)

Ini pesan beliau padahal peradilan di zaman beliau peradilan Islam dan benar-benar adil, bagaimana halnya dengan peradilan zaman kita yang seperti ini?

Lalu solusinya bagaimana dong? Ya, kembali lagi solusinya sabar, dan sabar, dan terus sabar.

Maaf saudaraku, status ini mungkin terlalu panjang untuk anda baca, namun maafkan saudaramu ini, yang sedang dihantui oleh kemungkinan adanya “tikus tikus penyusup” yang sengaja menghendaki adanya gesekan dan benturan di tengah-tengah ummat Islam.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Kajian Salaf Ditolak, Dilawan Atau Diam..?

Akhir akhir ini, kajian salaf semakin semarak, dan menjangkau semua lapisan. Berbagai media, dan sarana mulai dimanfaatkan yang berdampak pertumbuhan dan penyebaran dakwah salaf semakin pesat. Semua itu tentu semata mata berkat pertolongan dan karunia Allah, bukan karena kehebatan atau jasa seseorang atau kelompok tertentu. Hanya Allah yang pantas dipuji atas semua kebaikan ini.

Dakwah salaf, ya benar dakwah salaf, seruan untuk kembali memurnikan ajaran Islam yang hanya berlandaskan kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Dan pada level penerapan berbagai syari’at keduanya senantiasa bercermin kepada keteladanan generasi terdahulu, dari kalangan para sahabat, tabiin dan ulama’-ulama’ setelah mereka yang benar-benar mumpuni, jauh dari aspek fanatik golongan atau kelompok, atau figur tertentu, rekayasa atau modifikasi atau normalisasi agama, karena Islam telah sempurna sehingga tidak butuh kepada segala hal di atas. Bahkan sebaliknya segala budaya, undang undang, tatanan masyarakat atau lainnya harus beradaptasi dengan Syari’at Islam. Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maidah 3)

Inilah yang dimaksud dari memurnikan Islam, dan dengan cara inilah Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin benar benar menjadi kenyataan.

Namun demikian, telah menjadi sunnatullah bahwa siapapun diri anda dan apapun amalan atau keyakinan anda, pasti ada saja orang-orang yang memusuhi dan membenci anda. Jika anda adalah orang baik paling baik, orang Islam paling sempurna keislamannya maka sadarilah bahwa ada saja orang yang membenci dan bahkan dengan lantang mengobarkan permusuhan kepada anda, yaitu orang buruk paling buruk atau orang kafir paling kafir.

Dan bila anda adalah seorang muslim yang kadang baik dan kadang hanyut dalam nafsu dan kebodohan, maka sadarilah bahwa pasti ada orang yang membenci dan memusuhi anda. Dan bisa jadi diantara yang memusuhi anda ialah sesama orang Islam yang juga kadang baik dan kadang hanyut dalam nafsu dan kebodohannya. Allah Ta’ala berfirman :

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian yang lain.” (Al An’am 53)

Dan sudah barang tentu orang kafir dan bahkan orang kafir paling kafir juga turut membenci dan memusuhi anda.

Kalau anda bertanya, lalu bagaimanakah agar anda bisa selamat dari permusuhan dan kebencian orang lain?

Jawabannya: tidak ada, karena inilah dunia dan demikianlah sunnatullah.

Lalu bagaimana solusinya? Benarkah anda ingin tahu solusinya? Simak jawabannya langsung dari Allah Ta’ala :

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar ? dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (Al Furqan 20)

Ya betul, sabar itulah solusinya, sabar ketika mendapat cobaan dan ditimpa kesusahan sehingga cobaan itu tidak menyebabkan anda terhenti dari mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran.

Dan sabar ketika menghadapi godaan nafsu dan bisikan setan sehingga anda tidak menyimpang dari jalan kebenaran dan terperangkap dalam dosa dan maksiat.

Sabar sehingga anda istiqomah dalam mempelajari, lalu mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran, tidak putus asa dan tidak congkak.

Menuruti emosi, rasa kesal, amarah bukanlah solusi, membalas kejahatan dengan tindakan serupa bukan pula solusi walaupun dibolehkan. Solusinya hanya ada satu yaitu sabar, Allah Ta’ala berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fusshilat 34)

Sabar, benar hanya sabar solusinya, terlebih bila yang mengganggu atau mengusik laju dakwah anda ternyata adalah orang yang serupa dengan anda, sesama ummat Islam, yang banyak memiliki persamaan dengan anda walau banyak pula perbedaannya.

Kalau anda berkata: ooh cemen, kenapa mesti penakut, mereka menggunakan kekerasan, kita juga berani melakukannya. Kita yakin benar mengapa takut?

Inilah nafsu dan emosi, kebodohan dan nafsu dilawan dengan yang serupa, kalau anda merasa kesal, dan tidak kuasa menahan amarah, maka sadarilah bahwa memang dakwah ini besar dan hanya orang orang yang berjiwa besar yang kuasa memikulnya dengan sebenarnya. Anda tersinggung? Tenang sobat, baca dulu ayat berikut:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai karunia yang besar (dari Allah)” (Fusshilat 35)

Kalau anda berkata: alah, lawan saja, kenapa mesti takut mati, bukankah kita berada pada pihak yang benar dan membela kebenaran? Betul sobat, namun sadarkah bahwa anda berada pada pihak yang benar bukan berarti serta merta menjadi alasan untuk membuka pintu kekacauan yang lebih besar apalagi hingga terjadi pertumpahan darah.

Ketahuilah, bila dua kelompok masa telah berhadap hadapan, maka sangat dengan mudah bagi pemancing di air keruh, yang bisa saja menyusup di barisan anda atau barisan mereka, memanfaatkan kesempatan. Mereka memulai dengan melempar batu, dan akhirnya anda merasa diserang dan merasa perlu mempertahankan diri atau bahkan membalas. Dan bisa jadi sebaliknya “tikus” sengaja menyusup di barisan anda memulai melempar batu, dan akhirnya mereka merasa diserang dan perlu membalas dan mempertahankan diri. Bila seperti ini kejadiannya bagaimana coba?

Jangankah orang sehebat anda, orang sebesar sahabat Thalhah, ‘Aisyah, Azzubair, dan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ketika berada dalam kondisi seperti ini tidak kuasa mendeteksi dan mencegah kelakuan “tikus tikus penyusup”, seperti digambarkan di atas, hingga akhirnya terjadi perang saudara antara mereka.

Bila pertumpahan darah terlah terjadi di antara kaum muslimin, siapkah anda menanggung resikonya di dunia dan di akhirat? Anda mau tahu berapa besar tanggung jawab yang harus anda pikul bila nyawa seorang muslim melayang gara gara anda? SImak sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلم

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibanding dosa membunuh seorang muslim.” (At Tirmizy)

Ustadz, dan para panitia kajian, berpikirlah baik-baik, dan sadarilah walaupun anda adalah seorang ustadz atau seorang yang telah berratus ratus tahun mengaji, tetap saja anda adalah manusia biasa yang punya nafsu dan rentan digoda setan. Berlindunglah dari godaan setan dan belengu nafsu amarah diri anda.

Jangan kawatir sobat, saya adalah orang pertama yang saya maksudkan dari nasehat ini, semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari bisikan setan, nafsu angkara murka dan kebodohan. Ya Allah limpahkanlah hidayah-Mu untuk seluruh ummat Islam dan seluruh ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wallahu Ta’ala A’alam Bisshawab.

Maaf, bila terlalu panjang.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى