Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Kisah Imam Syafi’i…

Muhammad bin Abdul Hakam mengisahkan:

لم يزل الشافعي يقول بقول مالك ولا يخالفه إلا كما يخالف بعض أصحابه، حتى أكثر فتيان عليه فحمله ذلك على ما وضعه على مالك، وإلا فإنه كان الدهر كله إذا سئل عن الشيء قال: هذا قول الأستاذ.

Dahulu Imam Syafii tiada henti mengikuti pendapat gurunya, yaitu Imam Malik, ia tiada pernah menyelisihi gurunya kecuali sedikit sekali sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid imam Malik yang lain. Hingga Fityan bin Abi As Sameh terlalu sering memperadukan ucapan As Syafii dengan ucapan gurunya yaitu Imam Malik, maka imam Syafii akhirnya sengaja menulis kritikan dan bantahan kepada imam Malik. Adapun sebelumnya, beliau bila ditanya tentang sesuatu, beliau menjawab: ini adalah pendapat Ustadzku. (Tartiibul Masaalik 385)

Dalam versi lain beliau berkata:

إنما رجعت إلى أقوالي الجديدة لأني لما دخلت مصر بلغني أن بالمغرب قلنسوة من قلانس مالك يستسقي بها الغيث فخفت أن يتمادى الزمان ويعتقد فيه ما أعتقد في المسيح فأظهرت خلافه ليعلم الناس أنه أمام مجتهد يخطىء ويصيب

Alasan aku merubah mazhabku ke mazhab yang baru ini, karena ketka aku tiba di negri Mesir, sampai kepadaku satu kabar bahwa di negri Maroko terdapat salah satu peci milik Imam Malik, yang dikeramatkan, digunakan untuk meminta hujan. Karena itu aku kawatir, bila berkepanjangan, akan ada orang yang mengkultuskannya, dan meyakini pada diri beliau seperti kaykinan orang-orang Nashara pada diri Al Masih putra Maryam. Aku sengaja menampak perselisihanku kepada beliau agar semua orang sadar bahwa Imam Malik adalah seorang Imam Mujtahid (manusia biasa) yang bisa salah dan juga bisa benar. (Al Waafi Bil Wafiyaat 1/177)

Subahanallah, betapa besar keteguhan Imam As Syafii dalam menjaga kemurnian tauhid dan manhaj ummat Islam kala itu. Beliau sama sekali tidak bermaksud merendahkan atau menuduh gurunya, namun sebaliknya beliaulah simbol murid yang berbakti kepada guru, meneruskan perjuangan gurunya, walaupun menurut orang-orang yang telah diselimuti oleh fanatik buta, beliau adalah murid durhaka, sampai sampai kala itu ada sebagian murid Imam Malik yang berdoa agar Imam Syafi segera dicabut nyawanya. Dan tatkala info perihal doa salah seorang yang fanatik kepada Imam Malik ini sampai ke telinga Imam Syafii, maka beliau meresponnya dengan melantunkan satu bait sayir:

تَمَنَّى رِجَالٌ أَنْ أَمُوتَ وَإِنْ أَمُتْ * فَتِلْكَ سَبِيْلٌ لَسْتُ فِيْهَا بِأَوْحَدِ
فَقُلْ لِلَّذِي يَبْغِي خِلاَفَ الَّذِي مَضَى * تَهَيَّأْ لأُخْرَى مِثْلِهَا فَكَأَن قَدِ
وَقَدْ عَلِمُوا لَوْ يَنْفَعُ العِلْمُ عِنْدَهُمْ * لَئِنْ مِتُّ مَا الدَّاعِي عَلَيَّ بِمُخْلَدِ

Ada sebagian lelaki yang mengharap agar aku mati, dan kalaupun aku benar-benar mati.
Kematian adalah satu jalan yang aku tempuh bukan seorang diri.
Katakan kepada orang yang mengharap suatu hal yang berbeda dari yang telah terjadi.
Bersiaplah engkau menghadapi kematian serupa yang pasti menghampiri.
Mereka juga tahu, andai ilmu yang mereka ikuti.
Andai aku mati, maka orang yang mendoakan kematian padaku tiada mungkin hidup abadi.

Subahanallah! Ya Allah rahmatilah mereka semua, dan wariskanlah ilmu mereka kepada kami. Amiin

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Berteduh Di Bawah Payung Ulama’ Besar…

Dari dulu, salah satu cara praktis menjadi orang terkenal ialah ikut berteduh di bawah payung orang besar, cepat deh dikenal dan punya pengikut..

Dulu washil bin atha’ juga demikian, ikut hadir di majlis ulama’ besar semisal Al Hasan Al Bashri. Setelah mulai dikenal, barulah ia menampakkan taring dan bisanya, meruntuhkan apa yang dibangun oleh gurunya sendiri. Imam Hasan Al Bashri mengajarkan akidah ahlussunnah wa al jamaah, sedangkan washil bin atha’ mengajarkan idiologi mu’tazilah.

Metode ini nampaknya digunakan oleh sebagian orang yang gurunya mengajarkan anti fanatik, anti taasshub, menggalang persatuan, eeeh ada saja sebagian orang yang berhasil berteduh di bawah payung besar sang guru untuk melancarkan gerakan yang berlawanan arah.

Guru menyeru agar ummat islam meninggalkan fanatik, pendompleng tersebut dengan bahasa lembut menyeru agar ummat islam fanatik kepada sang guru.

Guru pontang panting, peras keringat dan banting tulang menyatukan ummat islam di bawah islam yang benar, eeh murid malang melintang dibawah naungan payung sang guru menjadi tukang kepruk. Ia memanfaatkan rindangnya payung sang guru untuk menciptakan perpecahan dan permusuhan semu antara sang guru dengan guru guru lainnya.

Kalau memang mau jadi murid, bukan sekedar pendompleng, apalagi moto moto, mbok yo niru gurunya, fokus dan santun, bukan malah jadi tukang kepruk, kepruk sana , kepruk sini, dan penabuh genderang permusuhan semu antara sang guru dan guru guru lainnya.

Ya Allah satukanlah ummat islam dinatas agama-Mu dan jauhkanlah kami dari para penebar kebencian

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Benih-Benih Syirik & Kultus Mulai Bersemi di Sebagian Majlis Taklim…

Dahulu, dan hingga akhir zaman, syirik itu mulai tumbuh berkembang dari sikap ghuluw, kekaguman dan sanjungan yang berlebih atau kelewat batas.

Mau tidur ingat dia, mau makan ingat dia, dan setiap disebut namanya atau mendengar suaranya, jantung berdejak keras, dag dig dug der.

Bahkan di kalangan wanita, melihat foto ustadznya seakan menjadi aktifitas rutin, rasanya rinduuuu gitu untuk bertemu, padahal dia sudah bersuami. Nama ustadznya lebih sering disebut dan menyejukkan hatinya dibanding nama suaminya.

Bisa jadi ada wanita wanita bersuami yang berbisik di hatinya: andai aku tidak menikah dengan dia, niscaya kini aku kan menawarkan diriku kepada sang ustadz pujaan hati. Anehnya, para suami bungkam seribu bahasa seakan tiada rasa cemburu atas sikap istrinya. Hiiih ngeriiii…

Diantara indikator benih benih cinta ekstrim mulai bersemi, adalah adanya sebagian orang yang jungkir balik demi dapat berselfi atau mencium tangan sang ustadz.

Subhanallah tauhid mulai luntur, pintu kultus kepada orang Sholeh dan cinta ekstrim mulai bersemi, sudah waktunya benih kultus semacam ini dikubur dalam dalam.

Ayo, kita ngaji tauhid, bukan hanya teorinya namun ayo berusaha menerapkan tauhid dalam setiap ucapan dan tindakan kita.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam murka ketika ada yang menyanjung beliau, dan segera tanpa ditunda sedikitpun beliau mengingkari pelakunya: 

قولوا بقولكم او ببعض بقولكم ولا يستجرينكم الشيطان

“Ucapkan kalian ini atau sebagian ucapan kalian ini, dan jangan sampai setan menyeret kalian kepada kesesatan.” ( Abu Dawud dan lainnya)

Pada hadits lain beliau bersabda: 

لا تطروني كما اطرت النصارى عيسى بن مريم انما انا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku, sebagaimana orang orang Masyarakat berlebih lebihan dalam memuji Isa putra Maryam. Sejatinya aku hanyalah seorang hamba Allah dan utusannya.” ( Bukhari)

Beliau dengan tegas menegur para pemuji yang berlebihan di tempat , tanpa menunda, atau dengan kata kata yang melankolis yang malah semakin mengobarkan sanjungan para pemuja “masyaAllah semakin nampak tawadhu’ “.

Saudaraku! Mari kita tebarkan tauhid, jaga tauhid ummat, dan berkorban demi murninya tauhid. Kita berjuang untuk mengikis syirik, kultus kepada figur yang berujung pada kesyirikan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Akupun Ingin Bahagia Seperti Dia…

Akupun ingin bahagia seperti dia…

Sobat, mungkin kata di atas adalah kata yang terucap di lisan anda atau paling kurang di batin anda tatkala melihat orang lain yang nampak begitu bahagia.

Atau bisa saja anda berkata: akupun ingin kaya, di saat anda melihat orang lain sedang menikmati kekayaannya.

Namun, mungkinkah kebahagian dan kekayaan segera menjadi kenyataan hanya bermodalkan ucapan dan keinginan anda itu?

Tentu saja tidak, alih-alih bahagia atau menjadi kaya, seringkali ucapan di atas semakin menambah derita dan sengsara pada diri anda.

Sobat! Tahukah anda bahwa bisa jadi ketika anda sedang terkagum-kagum kepada mereka ternyata mereka juga sedang terkagum-kagum kepada anda.

Bisa jadi merekapun pada saat yang sama berkata : akupun ingin bahagia; bebas dari beban pikiran dan beban pekerjaan seperti dia, kemanapun, kapanpun pergi dan berbuat apapun tidak ada yang mempermasalahkan .

Sobat! Sadarilah bahwa apapun yang terjadi pada diri anda sejatinya adalah ujian dari Allah. Jalanilah semua itu dengan lapang dada dan berbahagialah dengannya. Simak sabda Nabi shallah alaihi wa sallam berikut:

إن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضى ومن سخط فله السخط

“Sejatinya bila Allah mencintai suatu kaum niscaya Allah menimpakan suatu ujian kepada mereka. Barang siapa yang rela menjalani ujian itu maka Allahpun ridho kepada mereka. Namun sebaliknya siapapun yang benci dengan ujian itu maka Allah pun benci kepada mereka” (At Tirmizy dan lainnya).

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Air Beriak Tanda Tak Dalam…

Pepatah kuno warisan nenek moyang, penuh dengan hikmah dan pertanda kebijaksanaan.

Coba, pepatah ini diterapkan, mayoritas ummat Islam bangun subuh, sholat lima waktu, berbondong bondong aksi damai yaitu dengan mengadakan kajian, menghadiri kajian Islam, memupuk subur Iman, membersihkan kotoran mata dari noda noda yang ditabur oleh bangsa JIN.

Adapun urusan hukum, aparat, dan pemerintah dipercayakan kepada perwakilan dari kalangan tokoh masyarakat, tokoh ormas, ulama’, insyaAllah menjadikan orang kafir gentar. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An Nisa’ 83)

Betapa tidak, sekejap semua toko ditutup, yaitu setiap kali azan dikumandangkan.

Semua orang berbondong-bondong ke masjid, aparat, pegawai sipil, karyawan, swasta dan lainnya melakukan hal ini, masjid bergemuruh dengan suara @Aamiin@ di saat imam usai membaca surat Al Fatihah.

Pasar, kantor, jalan jalan, menjadi riuh dengan suara ummat Islam menjawab seruan muazzin, Allahu Akbar, Allahu Akbar, syahadat, laa haula wa la quwwata illa billah …. dst.

Semua muslimah sekejap menutup auratnya dengan jilbab, ….dst

Pusat pusat kemaksiatan sepi senyap, lembaga riba gulung tikar, bar tutup, tempat karauke sunyi, dan….. dan ….

Andai ini terwujud, niscaya orang orang kafir panik dan bingung lalu lari tunggang langgang.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Alaah, jangan bawa-bawa agama…

Sobat, betapa sering kita mendengar ucapan semisal di atas, di dunia pendidikan katanya: jangan bawa bawa agama, di urusan politik, katanya: jangan bawa bawa agama, dalam urusan dagang, katanya : jangan bawa bawa agama, dalam urusan sosial, katanya: jangan bawa bawa agama,……. dst.

Sobat! Kalau demimikian, lalu kapan Anda akan membawa agama Anda?

Dan coba Anda jawab: di saat anda tidak membawa agama, apa berarti anda tidak beragama alias Anda sedang KAFIIIIIR? Lalu kalau saat itu Anda lagi tidak beragama, kapan anda kembali beragama?

Sobat! Tahukah Anda bahwa agama Anda ini agama Islam, mengajarkan agar Anda masuk Islam secara kaafah, menyeluruh dalam semua urusan, waktu, dan tempat.

يأيها الذين امنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين

Wahai orang orang yang beriman, hendaknya engkau masuk ke dalam agama Islam secara menyeluruh, dan janganlah engkau mengikuti langkah langkah setan sejatinya setan adalah musuh yang nyata bagimu. ( Al Baqarah 208)

Jadi, sudikah Anda menjadi orang kafir di saat berada di sekolah atau kampus? Atau kafir ketika di pasar, atau kita bicara tentang politik?

Sebagai orang Islam, anda pasti bersemboyan, sekali Islam ya selamanya Islam, di manapun, kapanpun dan dalam urusan apapun.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Murid Maksa Gurunya Jadi Orang Bodoh Seperti Dirinya…

Namanya murid, biasanya kurang ilmu, sedangkan guru biasanya lebih banyak ilmu, -biasanya loo, ndak selalu, sehingga wajar bila guru mengetahui banyak hal yang belum dan tidak diketahui atau dipahami oleh murid. Karenanya, satu kepastian bila murid bersikap santun dan sabar dalam menuntut ilmu, dan bersyukur bila gurunya mengajarinya atau mencontohkan kepadanya berbagai hal yang belum ia ketahui atau belum pernah ia dengar sebelumnya. Sebagaimana, guru juga sepatutnya bersabar mengajari muridnya berbagai ilmu yang belum dipahami dan dikuasai oleh muridnya.

Kondisi menjadi berubah seutuhnya, bila murid menjadi berang setiap kali mendengar gurunya menyampaikan hal yang belum ia pahami atau dengar, dengan tanpa santun, sang murid berkata: wahai guru! Sangat aneh apa yang engkau sampaikan ini, karena selama aku belajar, belum pernah mendengar dan belum pernah mengetahui apa engkau sampaikan ini! Seakan murid lupa kalau dia belajar tuh untuk menimba sesuatu yang belum dia pahami atau ketahui.

Sebagaimana kondisi akan kacau balau bila guru selalu berang bila mengetahui muridnya belum paham banyak hal yang telah lama ia pahami, lalu berkata: muridku, masalah begini saja engkau belum paham dan belum tahu, padahal sudah sekian lama saya mengetahui masalah ini.

Murid bengal, guru congkak, tamatlah ilmu, dan berakhir pula kisah panjang menuntut ilmu dan mengajarkannya. Bila sudah demikian, maka kebodohanlah yang tersisa.

Abdullah bin Syaqiq bercerita: Suatu hari selepas shalat Asar, sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkhutbah, untuk menenangkan masyarakat yang sedang terprovokasi untuk melakukan pemberontakan. Karena begitu gentingnya kondisi saat itu, beliau dengan berapi api terus berkhutbah, hingga matahari terbenam. Sepontan sebagian masyarakat yang hadir kala itu, mulai kasak-kusuk dan berkata: sholat, sholat . Namun sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu terus berkhutbah berusaha meredam gejolak perang saudara. Merasa seruan mereka agar beliau berhenti dari khutbahnya dan segera mendirikan sholat Maghrib, ada seorang lelaki dari Bani Tamim yang bangkit, seakan tidak dapat dikendalikan lagi, berteriak dengan suara lantang: sholat, sholat.


Mendengar teriakan lelaki tersebut, sahabat Ibnu Abbas berkata:

أَتُعَلِّمُنِى بِالسُّنَّةِ لاَ أُمَّ لَكَ. ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ.

Apakah engkau hendak mengajariku tentang sunnah (agama)? Engkau lelaki yang tiada memiliki ibu. Selanjutnya beliau berkata: Sungguh aku pernah menyaksikan Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam menjama’ (menggabungkan) sholat Zuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya’.


Abdullah bin Syaqiq merasa ragu dengan pernyataan sahabat Ibnu Abbas ini, sehingga ia merasa perlu untuk mencari tahu dengan cara mendatangi sahabat Abu Hurairah radhiallau ‘anhu, untuk menanyakan pernyataan sahabat Ibnu Abbas di atas, dan ternyata sahabat Abu Hurairah membenarkan pernyataan sahabat Ibnu Abbas radhiallau ‘anhuma (Muslim dan lainnya)

Para ulama’ menjelaskan bahwa bila ada kebutuhan yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda, semisal yang sedang dihadapi oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, atau semisal dokter yang harus menjalankan oprasi pasiennya, dan tidak bisa dihentikan atau ditunda walau hanya sesaat, semisal petugas pemadam kebakaran yang harus menjalankan tugasnya, maka mereka dibolehkan menjama’ sholat, walau tidak sedang dalam kondisi safar.

Namun lihatlah, perbedaan sikap kedua orang di atas, lelaki dari Bani Tamim bersikap tidak santun, alias bengal, hanya berdasar keterbatasan ilmunya ia menentang, akhirnya ia kehilangan ilmu. Sedangkan Abdullah bin Syaqiq, bersikap santun dan menyadari keterbatasannya, sehingga ia mencari tahu dengan mendatangi sahabat Abu Hurairah yang terkenal paling banyak menghafal hadits hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, dan akhirnya ia mendapatkan kejelasan dan tambahan ilmu.

Ya kisah di atas adalah contoh sederhana sikap murid bengal yang memaksa gurunya menuruti kebodohannya. Ia tidak menyadari bahwa dirinya belum gaduk kuping, alias minim ilmu, namun tanpa ragu ragu menghardik orang yang berilmu.

Kisah di atas juga menyimpan kisah sikap seora ng murid bijak dan pandai, semisal Abdullah bin Syaqiq. Contoh sikap penuntut ilmu yang kini mulai luntur, oleh semboyan: ndak kenal basa basi, dan keterbukaan informasi.

Kisah di atas juga merupakan contoh sikap seorang guru yang tegar dengan ilmunya, ia berusaha memadamkan api perang saudara, dengan menggunakan keringanan (rukhshah), yaitu menjama’ sholat. Dengan ilmunya, beliau dapat mengurutkan berbagai masalah sesuai dengan skala prioritasnya, dan dapat menerapkan sunnah secara proporsional.

Sobat! Awas ya, jangan jadi murid bengal dan jangan pula menjadi guru congkak.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Wong Printer Kelewat Pinter…

Sobat jadi orang pinter atau pandai itu bagus, namun bila Kelewat pinter, bisa berbahaya, barangkali salah satu sikap orang yang kelewat pinter ialah bila ia berkata kepada saudaranya yang sudah basah kuyup bahkan sudah kebanjiran: Awas, bawalah payung agar tidak kehujanan!

Ya, sikap seperti ini namanya kebablasan pinter. Serupa dengan orang yang berkata: Awas, jangan mengganggu tetangga nanti dibalas, padahal tetangga sudah menginjak leher Anda.

Serupa pula dengan orang yang berkata: awas jangan meludahi teman, padahal wajahnya sudah basah kuyup diludahi temannya.

Serupa pula jangan menghina tuhan orang lain, padahal orang lain sudah seenak perutnya menghina Allah Ta’ala.

Kalau ada yang berkata: Lo kan orang lain hanya menghina ucapan atau Kalamullah, tidak menghina Allah! La ini namanya apa ya? apa sudah pada lupa bahwa Kalamullah adalah sifat Allah?

Wallahu a’alam bisshawab

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Resep Manjur Penangkal Penyakit Hasad…

Sobat !
Anda merasa kawatir dijangkiti penyakit hasad? Atau bahkan anda merasa bahwa diri anda benar-benar telah dijangkiti penyakit kronis ini?

Bisa jadi, ketika anda membaca status ini anda merasa tersinggung dan berkata: aaah, sori ya, saya tuh orangnya baik, jadi pantang hasad kepada siapapun.

Ya, saat ini anda berkata demikian, namun benarkah faktanya demikian? Coba diingat-ingat lagi, sikap anda tatkala mengetahui atau melihat saudara anda mendapat nikmat baru. Anda acuh tak acuh atau anda hanyut dalam pembicaran tentang nikmat tersebut, minimal anda kagum dengan nikmat yang dia dapat dan tidak anda miliki tersebut ?
Ya, sadarilah bahwa sikap anda ini adalah awal dari jalan pintas masuknya hasad atau iri pada hati anda.

Sekarang anda memuji, atau kagum, dan membicarakannya, namun tatkala anda telah menyendiri, anda mulai berpikir, bagaimana caranya anda bisa memiliki kenikmatan serupa, dan bisa jadi di hati anda terbetik ucapan: mengapa dia kok bisa mendapatkannya sedangkan anda tidak atau belum bisa memilikinya? Itulah benih-benih hasad mulai tumbuh dan bersemi di hati anda.

Sobat! Jangan kawatir, ada resep manjur penawar dan sekaligus penangkal penyakit hasad. Resep ini murah, mudah dan tentu berkah. Setiap kali anda melihat saudara anda memiliki satu kelebihan atau nikmat, segera angkat kedua tangan anda dan pusatkan hati anda untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan melimpahkan kepada anda kenikmatan serupa atau bahkan lebih darinya.

Ingat! Allah Ta’ala tiada pernah kehabisan stok kenikmatan serupa bahkan yang lebih baik dari yang dimiliki saudara anda, dan Allah Ta’ala juga kuasa memberikannya kepada anda.

SImak dan camkanlah kisah berikut:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ {37} هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء {38} فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” (Ali Imran 37-39)

Cermatilah, bagaimana nabi Zakaria ‘alaihissalam setelah mendapat jawaban bahwa itu adalah karunia Allah, nabi Zakaria alaihissalam, segera berdoa, bukan hanyut dalam kekaguman atau ikut sibuk mencicipi atau mendengarkan cerita kronologi datangnya makanan tersebut.

Sobat! Sejak sekarang, mari kita rubah kebiasaan lama anda, setiap kali anda melihat atau mengetahui saudara anda mendapat nikmat baru, segera sibukkan diri dengan berdoa meminta kepada Allah Ta’ala kenikmatan serupa atau yang lebih baik darinya. Jangan sampai anda hanyut dalam kekaguman apalagi sampai melotot terbelalak karenanya.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Dan janganlah kamu pusatkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha 131)

Selamat mencoba resep ini, semoga anda terbebas dari benih-benih hasad dan iri kepada siapapun yang mendapat karunia dan nikmat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kabar Gembira..!

Kabar Gembira! Jual semua BUMN, pecat mentri keuangan, gantinya angkat seorang yang pandai menggandakan uang. beres semua! Percaya?

Sobat, orang kalau sudah keblinger, ya susah semua, dalil tidak mempan, nalar sehat macet, peraturan tidak digubris. Ummat Islam, gunakan nalar sehat anda, dan hayati dalil-dalil dalam Al Qur’an dan As Sunnah dengan baik, bawa serta iman dan akidah anda ke manapun anda pergi dan dalam urusan apapun.

Namun bila akidah telah luntur, atau bahkan tidak pernah belajar akidah, yang dipelajari hanya masalah bacaan dan bacaan, puji-pujian, namun ndak pernah belajar akidah yang benar, ya gini inilah akibatnya.

Lupa kalau urusan rejeki itu harus diupayakan lalu bertawakkal, ndak cukup doa apalagi baca mantra. Andai sekedar doa saja cukup, maka dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencukupkan dirinya dengan berdoa, namun kenyataannya beliau berdagang dan berbelanja di pasar. Allah Ta’ala berfirman:

وَما أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (Al Furqan 20)

Sayang, kalaupun belajar tauhid, yang dipelajari hanya sekitar karamah wali, Kalaupun belajar ibadah, maka tetap saja didoktrin bahwa sekali baca pujian ini, atau sholawat itu, maka pahalanya melampaui sholat, puasa, baca al qur’an sekian juta kali.

Bahkan dipatenkan bahwa syarat utama menjadi ulama’ bila ia bisa menunjukkan karamah, sepandai apapaun kalau ndak bisa menunjukkan kehebatan maka diragukan keilmuan dan keshalehannya.

Andai kesholehan seseorang ditandai dengan kemampuan menggandakan uang, enak dong, negara kita ndak usah susah-susah ngurus BUMN yang sampai saat ini banyak yang merugi, cukup saja piara orang-orang sakti, dan tugasi mereka menggandakan dolar, euro, yen, dan uang lainnya, beres deh.

Sobat! sadarilah bahwa ilmu dan kesholehan bukanlah ditunjukkan atau dibuktikan dengan kemampuan yang aneh aneh, namun dibuktikan sekuat apa anda menahan hawa nafsu dan mentaati perintah dan meninggalkan larangan Karenanya, Allah Ta’ala menjadikan ilmu sebagai indikasi ketaqwaan, yang membuktikan bahwa antara ilmu dan ketaqwaan yang terefleksi pada kepatuhan keada setiap perintah dan larangan.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir 28)

Jadi semakin berilmu semakin rajin ibadah dan jauh dari maksiat, bukan semakin hebat bisa terbang atau menggandakan uang.

Sobat! mari pelajari islam dengan benar, kokohkan akidah, agar tidak mudah goyah dan runtuh hanya karena silau oleh tipu muslihat setan dan kroni-kroninya.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى