Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Dari Dekapan Bidadari Dunia Ke Pelukan Bidadari Akhirat

Kata orang: ‘Hidup di dunia ini memang serba susah, gini salah gitu salah. .’

Mereka bilang: ‘Punya uang masalah bahkan pusing, bingung nyimpan dan menginvestasikannya. Ndak punya uang juga buat kepala puyeng..’

Memiliki kendaraan bermasalah tidak memiliki kendaraan juga bermasalah..’

‘Punya istri cantik, seakan nyepake tanggane (nyiapkan untuk tetangga). Punya suami guanteng juga repot, makan hati; karena sering jadi godaan banyak wanita. Namun punya istri atau suami jelek juga susah, gini masalah, gitupun masalah, repot..’

‘Aisyah rodhiallahu ‘anha mengisahkan: suatu malam Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam secara diam-diam keluar dari rumahku dan meninggalkanku seorang diri di tempat tidur. Kepergian beliau ini menjadikan aku merasa cemburu. Sekembalinya beliau dari luar rumah, beliau memahami sikapku yang sedang hanyut dalam rasa cemburu. Segera beliau bertanya kepadaku: ‘apakah engkau sedang ditimpa rasa cemburu..?’

Mendapat pertanyaan seperti ini, Aisyah menjawab:

وما لي لا يغار مثلي على مثلك؟

‘Mana mungkin wanita seperti aku tidak terus ditimpa rasa cemburu karena memiliki suami seperti engkau (suami idaman setiap wanita)..?’ (Riwayat Muslim)

Pada kisah lain, suatu hari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumah ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha seusai mengiringi jenazah ke kuburan Baqi’. Kala itu ‘Aisyah sedang mengeluhkan rasa pening di kepalanya, sehingga ‘Aisyah berkata kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam: ‘aduh, peningnya kepalaku..’

Namun ternyata Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga mengeluhkan hal yang sama dan bersabda: ‘aku juga merasakan pening di kepalaku..’ Selanjutnya beliau seakan ingin mencairkan suasana, dan mencandai istrinya dengan bersabda:

«ما ضرك لو مت قبلي، فغسلتك وكفنتك، ثم صليت عليك، ودفنتك؟»

Apa salahnya bila engkau meninggal duluan sebelumku, maka aku sendirilah yang akan memandikanmu, lalu mengkafanimu, selanjutnya menyolatimu, dan aku pula yang akan menguburkanmu..”

Mendengar candaan Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam ini, ‘Aisyah berkata:

لكأني بك، والله لو فعلت ذلك لقد رجعت إلى بيتي فأعرست فيه ببعض نسائك،

‘Sungguh aku mengira, bila hal itu terjadi, maka aku sudah bisa bayangkan bahwa sepulangmu ke rumahku dari menguburkanku, niscaya engkau segera bersenang senang dengan sebagian istrimu yang lainnya di rumahku ini..’

Mendengar jawaban ‘Aisyah ini, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum-senyum..” (Riwayat Ahmad dan lainnya)

Demikianlah sobatku, memiliki suami seperti Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu kebahagiaan dan kebanggaan. Namun dari sisi lain, membutuhkan jiwa besar dan lapang dada, karena ternyata istri-istri beliau sering dirundung kekawatiran (kecemburuan) kalau kalau suaminya diambil orang, alias menikah lagi dengan wanita lainnya.

Betapa bahagianya ‘Aisyah Rodhiallahu ‘Anha yang telah mendapat karunia menjadi salah satu istri Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan bahkan menjadi istri beliau yang paling beliau cintai, sampai-sampai tatkala beliau meninggal dunia, beliau menghembuskan nafas akhirnya di pangkuan dan pelukan Aisyah rodhiallahu ‘anha.

‘Aisyah rodhiallahu ‘anha mengisahkan kejadian romantis ini dengan berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ فِي بَيْتِي، وَفِي يَوْمِي، وَبَيْنَ سَحْرِي وَنَحْرِي، وَأَنَّ اللَّهَ جَمَعَ بَيْنَ رِيقِي وَرِيقِهِ عِنْدَ مَوْتِهِ: دَخَلَ عَلَيَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَبِيَدِهِ السِّوَاكُ، وَأَنَا مُسْنِدَةٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ، فَقُلْتُ: آخُذُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ: «أَنْ نَعَمْ» فَتَنَاوَلْتُهُ، فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ، وَقُلْتُ: أُلَيِّنُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ: «أَنْ نَعَمْ» فَلَيَّنْتُهُ، فَأَمَرَّهُ،

‘Tatkala Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, beliau sedang berada di dalam rumahku, pada hari giliranku, di dalam pelukanku, aku medekap beliau dengan dada dan leherku, dan di mulut beliau sungguh demi Allah telah bercampur air liurku bersama air liur beliau..

Ketika saudaraku Abdurrahman masuk ke rumahku, dan di tangannya terselip sebatang kayu siwak, dan aku sedang menyandarkan tubuh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ke dadaku, aku melihat beliau memandangi kayu siwak yang ada di tangan Abdurrahman, sehingga aku paham bahwa beliau menginginkan siwak tersebut.

Segera aku bertanya kepada beliau: ‘aku mintakan siwak itu untukmu..?’

Beliau menaganggukkan kepalanya sebagai pertanda beliau benar-benar menginginkannya. Segera aku mengambilnya dari tangan Abdurrahman dan aku serahkan kepada beliau, namun ternyata kayu siwak itu terasa keras bagi beliau.

Segera aku bertanya kepada beliau: ‘apakah engkau mau aku lunakkan terlebih dahulu kayu siwak itu..?’

Kembali beliau mengangguk setuju. Akupun segera melunakkan kayu siwak itu dengan gigiku, setelah lunak aku berikan kepada beliau dan beliau menggosok giginya dengan kayu siwak itu.

Pada riwayat lain ‘Aisyah berkata :

فَجَمَعَ اللَّهُ بَيْنَ رِيقِي وَرِيقِهِ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الآخِرَةِ

‘Dengan demikian, Allah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada hari terakhir beliau di dunia dan hari pertama beliau di alam akhirat..’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Romantis sekali, bidadari dunia menghantar suami tercinta ke pelukan bidadari akhirat dari pangkuannya.

Ya Allah, karuniakan hamba-Mu ini keharmonisan dalam rumah tangga seperti yang Engkau karuniakan kepada Nabi-Mu shollallahu ‘alaihi wa sallam bersama istri beliau tercinta ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha. Amiin

Dan semoga Allah Ta’ala membinasakan orang orang yang membenci ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Gini Lo Sikap Orang Yang Berilmu…

Gini lo sikap orang yang berilmu, berbeda dengan sikap orang yang fanatik buta.

Imam Yunus As Shadafy menyatakan: aku tiada pernah menyaksikan orang yang lebih pandai dibanding As Syafii. Suatu hari aku berdiskusi dengannya dalam suatu masalah, selanjutnya kami berpisah tanpa ada kata sepakat. Dan di kemudian hari, aku berjumpa lagi dengan beliau, segera beliau menggandeng tanganku, lalu beliau berkata: 

يا أبا موسى، ألا يستقيم أن نكون إخوانا وإن لم نتفق في مسألة

Wahai Abu Musa, bukankah indah bila kita tetap bersaudara (menjaga persaudaraan), walaupun kita tidak bersepakat (berbeda pendapat) pada suatu masalah ? (Tarikh Ibnu ‘Asaakir 14/403 & Siyar A’alam An Nubala’ 10/16)

Betapa indahnya andai kita dapat bersikap seperti Imam Syafii dengan Imam Yunus As Shadafy di atas. Betapa banyak dari kita yang gara gara bebeda pendapat, dalam masalah sepele, semisal menggerakkan jari ketika tasyahhud atau tidak, atau masalah sekolah formal atau sistem mulazamah, dan lainnya – ternyata sebagian kita telah kalang kabut mengobral tuduhan dan bersiap diri mengusir saudaranya dari “ahlissunnah wa al jama’ah”.

Anda tidak percaya? tunggu saja, kemungkinan akan ada yang nongol di kolom komentar (semoga saja tidak ada yang nongol)

Ya Allah, satukanlah ummat Islam di atas sunnah, dan jauhkanlah dari segala bentuk fitnah (kekacauan berpikir dan sikap) dan perpecahan. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Kisah Imam Ahmad bin Hambal…

Ahli sejarah mengisahkan, Dahulu Imam Ahmad tiada pernah duduk mengajarkan ilmu Hadits atau untuk berfatwa kecuali setelah berumur 40 tahu, dan setelah namanya dikenal di berbagai penjuru negri Islam. dampaknya, tatkala beliau mulai duduk mengajarkan ilmu, masyarakat berbondong-bondong membanjiri majlis beliau, sampai-sampai menurut sebagian ahli sejarah jumlah orang yang menghadiri majlis beliau ditaksir mencapai 5 ribu orang. Namun demikian dari jumlah tersebut hanya ada 500 orang yang mencatat ilmu dari beliau. Adapun sisanya, hanya mau belajar dari akhlaq, meneladani perilaku dan dan sikap beliau.

Biasanya beliau duduk menyampaikan ilmu setelah sholat Ashar, majlis beliau penuh dengan nuansa kewibawaan, penghormatan kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Manaqib Imam Ahmad bin Hambal oleh Ibnu Al Jauzi dan S÷yar A’alam An Nubala’ oleh Az Zahaby 11/316)

Nah, ini terjadi pada diri Imam Ahmad bin Hambal, kondisi serupa pasti juga terjadi dengan imam-imam lainnya. Karena itu sepatutnya kini kita, saya dan juga anda bercermin, tidak mudah-mudah mengaku sebagai murid seorang syiekh atau ulama’ atau kiyai atau ustadz, karena bisa jadi selama ini anda hanya menjadi penggemar. yang hanya duduk sesaat, sepekan sekali, atau sebulan sekali, dan atau bahkan hanya seingatnya atau sesempatnya, dan itupun tidak sepenuhnya menimba ilmu, bisa jadi hanya mengisi waktu liburan atau luang belaka.

Bila demikian, layakkah anda mengaku sebagai murid syeikh yang anda hadiri majlisnya? sehingga dengan status tersebut anda layak merepresentasikan pendapat, sikap dan akhlaq syeikh atau guru anda? Jangan-jangan anda bagaikan orang yang mengenakan baju kebesaran, kepanjangan dan kelebaran, ya tentu ndak pantes, bahkan memalukan.

Contohnya saya sendiri: saya pernah hadir beberapa majlisnya Syeikh Ibnu Utsaimin, Syeikh Ibnu Baaz, Syeikh SHoleh bin Fauzan, Syeikh Rabi’ Al Madkhaly, Abdul Muhsin Al ‘Abbad dll, namun demikian tentu sangat memalukan bila saya mengaku sampai lancang petentang petenteng mengaku sebagai murid mereka, karena saya sadar bahwa saya tidak layak menyandang status tersebut, karena saya menyadari betapa bodoh dan sedikit ilmu dan amal yang saya miliki sangat berbeda dengan para syeikh tersebut.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Berkat Jasa Orang Tua..

SObat! anda merasa letih dan lelah mendidik anak anda? jangan kawatir, esok anda akan menikmati hasilnya, simak hasil yang tidak lama lagi akan menjadi milik anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sejatinya Allah sungguh akan meninggikan derajat seorang hamba yang sholeh di dalam surga, hingga ia keheranan dan berkata: Wahai Tuhanku, dari mana aku mendapatkan kedudukan setinggi ini? Allah menjawab: Berkat anakmu yang senantiasa memohonkan ampunan untukmu. (Ahmad, Al Baihaqi dan lainnya).

Inilah investasi yang sebenarnya, jadi untuk apa ada rasa lelah atau letih atau bahkan putus asa dalam mendidik anak anda ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ulama’ Arab Tidak Tahu Fiqih Waqi’ Indonesia…

Akhir akhir ini mulai terdengar kembali suara suara sumbang tentang fatwa fatwa ulama’ besar, sekaliber Bin Baz, Al Utsaimin, Al Albani, Al Abbaad, dll bahwa fatwa fatwa mereka tidak relevan dengan apa yang terjadi di indonesia. Dalihnya bukan karena dalil mereka lemah atau terbukti salah, namun karena fatwa mereka dianggap tidak sesuai dengan fakta yang di lapangan atau negri kita. Ulama’ ulama’ tersebut tidak memiliki fiqih waqi’ Indonesia.

Ulama’ ulama’ lokal yang hanya boleh atau layak memberikan fatwa tentang problematika yang terjadi di Indonesia, karena ulama’ indoensia lebih tau tentang waqi’ (realita) yang ada di Indonesia, dibanding ulama’ ulama’ arab.

Ya Fiqih Waqi’ yang kala itu disuarakan oleh ahlul bid’ah, khowarij, dan anak keturunannya untuk menentang fatwa fatwa ulama’ ulama’ besar, kini mulai disuarakan kembali.

Namun anehnya, bila para ahli fiqih waqi’ diminta agar merinci lebih detail tentang fiqih waqi’ yang mereka kuasai, dan tidak dikuasai ulama’ arab, sehingga menyebabkan fatwa fatwa ulama’ arab tidak relevan dengan apa yang terjadi di negri kita, mereka semua bungkam.

Bagaimana tidak bungkam? Para pengagum fiqih waqi’ bukanlah ahli ijtihad dan juga bukan ahli fatwa, sehingga wajar bila tidak mampu merinci berbagai hal seputar waqi’ (realita) yang memiliki korelasi dengan hukum syari’at.

Ya, topeng fiqih waqi’ kembali diproduksi secara masal dan diobral, untuk menjadi senjata pamungkas mempertahankan sikap atau pendapat yang mereka ingin paksakan. Faqih waqi’ dijadikan tameng terakhir untuk melindungi sikap fanatik buta dan kesombongan terhadap orang lain.

Padahal, kalau memang mau menolak atau membandingkan fatwa ulama’, seharusnya berani merinci, apa saja realita realita yang berbeda sehingga menyebabkan fatwa para ulama’ tidak relevan, agar dapat dikaji secara terbuka, bukan asal klaim menyelisihi waqi’ (realita) tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Kalau sekedar klaim tanpa bukti nyata, maka itu namanya ASMUNI alias asal muni, dan seperti itu mudah dilakukan oleh siapapun.

Hasbunallah wa ni’mal wakil.

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Dilema Senioritas…

Di berbagai masjid, ditemukan banyak sekali imam dan muazzin yang sangat dilematis menyikapinya, dilihat dari umur, ya sudah cukup bahkan sangat tua, dilihat dari konsistensinya, juga tidak diragukan lagi, seakan tiada pernah luput dari sholat di masjid, pokoknya masyaAllah banget gitu.

Namun di sisi lain, mereka memiliki banyak kekurangan, yang paling menonjol ialah kekurangan ilmu, bacaannya ndak faseh, makharij hurufnya wallahu a’alam, tajwidnya juga seakan tidak tercium sama sekali. Belum lagi masalah suaranya yang sudah nampak payah, dan masih banyak lagi kekurangannya. Semoa Allah Ta’ala menerima semua amalan mereka, keteguhan mereka dalam memakmurkan masjid, namun haruskah semua itu tetap dipertahankan, padahal di barisan belakangnya sudah banyak anak-anak muda yang jos bacaannya, juga rajin sholat berjamaahnya, dan suaranya juga luar biasa, seakan imam Masjidil Haram Mekkah atau Masjid Nabawi Madinah.

Kalau secara aturan hukum syari’at maka jelas, sebagaimana yang disebutkan pada hadits berikut:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة فإن كانوا في الهجرة سواء فأكبرهم سنا

Yang paling berhak menjadi imam (sholat) di suatu masyarakat ialah yang paling banyak bacaannya (hafalannya), dan bila mereka sama dalam hal bacaan (hafalan) maka orang yang paling mengetahui sunnah (berilmu), dan bila dalam hal ilmu sama, maka orang yang paling dahulu hijrah, dan bila dalam hal hijrah sama, maka orang yang paling tua. (Muslim, At Tirmizy dan ini adalah teks riwayat Imam At Tirmizy)

Skala prioritas dalam hal ini terletak pada yang paling banyak hafalan, lalu paling banyak ilmu dan paling dahulu hijrah (islam) dan selanjutnya barulah mempertimbangkan aspek umur.

Mungkin dahulu, di saat belum ada yang lebih pantas dibanding beliau-beliau, mereka adalah pilihan paling tepat, namun kini, setelah banyak santri santri lulus dari pesantren, masihkah pilihan zaman duhulu relevan dipertahankan?

Kalau anda berkata: hormatilah orang tua, maka sudah sepatutnya yang tua juga menyayangi yang muda. Hormat dan kasih sayang itu tidak buta, dan juga bukan dalil, Sudah sepatutnya ada regenerasi imam dan muazzin, agar sepeninggal yang tua, masjid tidak mengalami kevakuman imam atau muazzin.

Sebagaimana, mumpung yang tua masih ada, mereka bisa memberikan arahan dan pengawasan kepada yang muda, sehingga kelak bisa istiqamah sebagaimana orang-orang tua dapat istiqamah menjadi imam hingga masa tua. Senioritas tidak sepatutnya diposisikan sebagai alasan untuk mematikan kreatifitas, regenerasi dan kesempatan untuk berkarya bagi yang muda.

Semoga ke depan senioritas tidak lagi dijadikan alat untuk memupus anak anak muda dan kelebihan anak anak muda tidak dijadikan sebagai senjata untuk merendahkan yang tua.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Nabi Domokrasi Terbukti Palsu…

Tuh, Ameriko rusuh, hayo, gimana coba?, masih mau dikibuli atau dikadali pakai doktrin domokrasi, atau kebebasan mengutarakan pendapat atau memilih? buktinya, Amerikono rusuh, padahal mereka itu bak nabinya demokrasi, bahkan selama ini yang selalu memaksakan domokrasi kepada negara negara Islam.

Eeeh, tahunya, dusta,.

Sudah lah, hayo kembali saja ke Islam, pada masuk Islam, dan pada mempelajari lagi agama Islam, lalu mengamalkannya dalam setiap sendi kehidupan, percaya deeh, aman dan tentram.

Simak janji Allah Ta’ala berikut:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur 55)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Indonesia Pasti Berjaya Bila Semua Umat Islam Ngaji Tauhid… aaah masaaaak ? Salah kali…

Banyak orang yang ragu, bahkan seakan tidak lagi percaya bahwa solusi carut marut negri kita ialah dengan cara kembali mengaji dan mendalami agama kita, lalu mengamalkan dan mendakwahkannya.

Sampai-sampai banyak orang yang berkata: La kalau kita tidak ikut nyebur ke dunia politik, atau ikut memperebutkan kursi yang ada maka orang-orang kafirlah yang akan menguasai negri kita. Gitu to, gumam anda? La sekarang sudah jungkir balik saja kursi berhasil dikuasai oleh orang kafir, dan cecunguknya.

Betul sobat,
gara-gara anda jungkir balik rebutan kursi akhirnya anda lupa bahwa kursi itu sebenarnya milik Allah Ta’ala. Anda kira kursi itu milik rakyat, sampai-sampai anda terjerambab dalam kebutaan idiologi sesat: “suara rakyat adalah suara Tuhan”

Karena anda lupa pemilik kursi yang sebenarnya, akhirnya anda hanya berbekalkan otot, sedangkan otot anda tak sekuat otot orang-orang kafir, ya pantes saja anda kalah.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran 26)

Barang kali anda berkata: Waah, tambah ngawur saja nih, la kalau kita hanya ngaji dan ngaji, lalu beribadah dan berdoa saja, apa ya mungkin Islam dapat berkuasa ? Atau malah sebaliknya, Islam malah tersingkirkan ?

Sobat!
Inilah ujian iman yang sebenarnya. Barang kali ini salah satu hikmah yang dapat kita petik dari membaca surat Al Kahfi setiap hari Jum’at. Dalam surat ini dikisahkan bagaimana para pemuda Ashabul Kahfi, yang telah kehabisan akal dan cara untuk bisa mengislamkan ummatnya, hingga akhirnya mereka bersembunyi di dalam suatu gua, dan kemudian mereka tertidur selama 309 tahun.

Dan subhanallah, tatkala mereka terjaga dari tidurnya ternyata kaumnya telah berubah 100 %, mereka semua telah beriman.

Allah Ta’ala juga menceritakan kisah kaumnya Nabi Yunus ‘alaihissalam. Tatkala Nabi Yunus telah merasa kehabisan cara dan asa untuk mengislamkan kaumnya, beliau pergi agar tidak ikut terkena azab, namun subhanallah setelah kepergian beliau, ternyata kaumnya mendapat hidayah dan beriman, sedangkan beliau harus menerima takdir, ditelan ikan besar hingga beberapa saat.

Bagaimana sobat, masih ragu bahwa pemilik kursi yang sebenarnya adalah Allah ? mintalah kursi tersebut kepada pemiliknya yang sebenarnya. Bagaimana ya ? tentu dengan menegakkan iman anda, ibadah anda, rasa cinta anda, rasa takut anda dan pengagungan anda hanya kepada-Nya.

Percayalah, bila jiwa jiwa ummat Islam Indonesia telah suci dari noda noda syirik dan bid’ah, tiada akan pernah telat atau tertunda, kursi segera menjadi milik ummat Islam. Demikianlah janji Allah Ta’ala:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur 55)

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sesama Bis Kota Dilarang Saling Mendahului…

Menipu itu dosa, sedangkan lupa itu dimaafkan, akan tetapi betapa banyak penipu yang berkedok lupa. Akankah kedoknya menjadikan ia terbebas dari dosa ?

Ngemplang hutang itu dosa, sedang menunda pembayaran karena belum mampu itu dimaafkan, namun betapa banyak pengemplang hutang berkedok belum mampu, akankah kedoknya itu membebaskannya dari dosa ?

Taqlid tuh dianjurkan bagi orang yang tidak berilmu, sedangkan fanatik itu terlarang dan biang onar. Betapa banyak orang fanatik berkedok sedang bertaqlid, akankah kedoknya itu dapat membebaskan dirinya dari celaan dan dosa ?

Tahukah Anda bedanya antara taqlid dan fanatik ?
Orang taqlid tuh, tahu diri, kalau dirinya bodoh, sehingga menghargai pilihan orang lain,
sedangkan orang fanatik tuh hobinya hajar sana sini, bak jagoan turun gunung, seakan pintu surga tuh hanya miliknya sendiri.

Menjadi sopir bis kita tuh biasa saja, sedangkan mengendarai mobil balap di sikuit balapan tuh butuh keahlian dan kehebatan, betapa banyak pengemudi bis kota yang berperilaku seperti pembalap dengan mobil balapnya di sikuit balapan, akankah statusnya sebagai sopir bis kota membebaskannya dari kesalahan?.
Semoga sesama bis kota tidak saling mendahului apalagi balap balapan.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Islam Yang Ori Bukan Islam Hasil Modifikasi…

Yah, apapun dalil yang dikemukakan, bila bertentangan dengan perkataan pemimpin, atau panutan, atau aliran kelompok, dengan entengnya ditinggalkan. Padahal syahadat kita adalah LAA ILAHA ILLALLAHU dan MUHAMMAD RASULULLAH.

Namun demikian mengapa menerima dalil dan meninggalkan pendapat ketua kelompok atau aturan main golongan terasa berat, sedangkan meninggalkan dalil terasa lebih ringan? Bukankah kita semua telah membaca, bahkan berkali kali firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(An Nur 51)

Sudah sepatutnya ummat Islam berbesar jiwa dengan menanggalkan segala baju dan atribut, dan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sesuai pemahaman yang orisinel alias asli, yaitu pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sadarilah, bahwa sekedar mengaku beriman dan beragama Islam belum cukup sebagai bukti, bukti keislaman dan keimanan anda ialah kepatuhan anda kepada agama Islam yang orisinel dan bukan islam yang telah dimodifikasi dan dikombinasi dengan pemikiran, aliran atau budaya atau AD/ART ormas atau kelompok.

Sudah tiba saatnya ummat Islam mampu membedakan antara pemahaman seseorang terhadap Islam dengan Islam, pemahaman bisa saja salah sedangkan Islam pasti benar. Hal ini berlaku pada perorangan, kelompok semisal Ikhwanul Muslimin, Jamaahtabligh, atau Hizbuttakhrir, Partai politik atau ormas.

Sobat! Cari spare part kendaraan saja maunya yang orisinel, masak urusan agama kita mau yang KW.

Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda:

(لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِى مَا أَتَى عَلَى بَنِى إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً، لَكَانَ فِى أُمَّتِى مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بَنِى إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً) قَالُوا: وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: (مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى)

“Suatu saat, umatku pasti mengalami nasib serupa dengan nasib yang telah menimpa Bani Israil. Tingkat keserupaannya bagaikan terompah dibanding dengan terompah (sama persis). Andaikata dari mereka ada orang yang menzinai ibunya di hadapan khalayak ramai, niscaya akan ada dari umatku orang yang melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Sedangkan umatku akan terpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan dan semua golongan akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja. Spontan para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah satu golongan itu? Beliau menjawab: (golongan yang menetapi) ajaran yang aku amalkan bersama para sahabatku.” Riwayat At Tirmizy dan Al Hakim.

Jadi ayo, kita kaji, dan kita cari bagaimana dan seperti apa Islam yang orisinel dan jangan puas mendapatkan Islam yang KW.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى