Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Orang Paling Tampan & Cantik…

Sobat, menurut anda seperti apakah orang paling tampan atau paling cantik jelita?

Barang kali anda berkata: yang paling tampan atau cantik jelita adalah orang yang hidungnya mancung, kulitnya putih, langsing, atau tegap, senyumnya manis , rambutnya berombak dan ……

Namun tahukah saudara bahwa semua itu sejatinya adalah semu belaka, semua akan sirna bila ternyata dia membenci anda, memaki anda, menzolimi, dan merampas hak anda.

Saat seperti ini bisa jadi anda akan mengumpatnya dengan seluruh nama hewan yang pernah anda kenal, bahkan segala bentuk kotoran yang terlintas di benak anda.

Ketahuilah bahwa sejatinya orang paling cantik jelita dan tampan rupawan ialah orang yang senantiasa damai hidupnya karena kedua matanya senantiasa dijaga sehingga hanya memandang sesuatu yang Allah ridhai, raganya hanya berbuat amalan yang Allah ridhai dan lisannya bertutur kata santun sebagaimana yang Allah cintai, batinnya lebih suci dibanding raganya.

imam Ibnul Qayyim berkata:

من قرت عينه بالله قرت به كل عين

“Orang yang kedua matanya menjadi damai karena dekat kepada Allah, maka damai pula semua mata tatkala memandangnya.”
( Thariqul Hijratain 8)

Mereka
Ah orang orang yang tampan rupawan dan cantik jelita walau hidung tidak mancung, kulit tidak putih, dan tidak pernah mengenakan berbagai macam perhiasan. Cahaya iman dan akhlak menerangi raga mereka sehingga semua menjadi Tampan dan cantik jelita.

Bagaiman dengan diri anda ?

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Benarkah Anda Orang Baik..?

Benarkah anda orang baik? Ataukah sejatinya anda adalah …

Sobat, anda ingin tahu siapa diri anda? Sederhana, simak kiat praktis yang terungkap pada riwayat berikut:

Qurrah bin Khalid mengisahkan bahwa suatu hari Al Hasan Al Bashri menafsirkan ayat berikut:

{وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ} [القيامة: ٢]

“Dan aku tiada bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela.” ( Al Qiyamah 2)

Beliau berkata:

” إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا تَرَاهُ إِلَّا يَلُومُ نَفْسَهُ يَقُولُ: مَا أَرَدْتُبِكَلِمَتِي، يَقُولُ: مَا أَرَدْتُ بِأَكْلَتِي، مَا أَرَدْتُ بِحَدِيثِ نَفْسِي، فَلَا تَرَاهُ إِلَّا يُعَاتِبُهَا، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَمْضِي قُدُمًا فَلَا يُعَاتِبُ نَفْسَهُ ”

“Sejatinya tiadalah engkau mendapatkan orang yang benar benar beriman melainkan ia selalu sibuk dengan mencela dirnya sendiri; ia selalu berkata kepada dirinya sendiri: apa tujuanku berbicara? Apa tujuanku makan? Apa tujuanku bermuhasabah (introspeksi diri)? Sehingga tiada pernah engkau menemuinya kecuali ia sedang sibuk mencela dirinya sendiri. Sedangkan orang keji, maka ia selalu merasa bebas melakukan apa saja, tanpa pernah merasa perlu untuk mencela dirinya sendiri.” ( Ahmad dalam kitab Az Zuhud)

Bagaimana dengan anda sobat! Mungkinkah anda lebih peka membaca kesalahan orang lain dan buta akan kekurangan diri anda sendiri? Semoga saja sebaliknya, anda lebih jeli mengenali kekurangan diri sendiri dibanding kesalahan saudara anda. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Orang Hebat Paling Hebat…

Menemukan kebenaran adalah satu “kehebatan”, namun tahukah anda bahwa mengamalkan kebenaran itu lebih hebat dibanding sekedar menemukannya?

Dan tahukah anda bahwa bersabar dalam mengamalkan kebenaran itu lebih hebat dibanding sekedar orang yang mengamalkannya? Betapa banyak orang mengamalkan kebenaran namun disertai oleh keluh kesah dan rasa keterpaksaan.

Dan tahukah anda bahwa menjadikan orang lain mengetahui kebenaran hingga akhirnya turut mengamalkan kebenaran, lebih hebat dibanding orang yang hanya mampu mengamalkan kebenaran pada dirinya sendiri?

Hebat, benar hebat, akan tetapi orang yang mampu menjaga hatinya agar tetap rendah hati ketika berhasil menjadikan orang lain mengamalkan kebenaran tentu lebih hebat lagi, karena betapa banyak orang yang berhasil menjadikan orang lain mengamalkan kebenaran akhirnya membusungkan dadanya, merasa dirinya orang paling hebat, dan hobinya nyinyir orang yang dia anggap di bawahnya. Mereka merasa bahwa dirinya benar benar hebat, lupa bahwa kebenaran yang ia amalkan dan dia ajarkan sejatinya adalah karunia Allah Ta’ala bukan kehebatan dirinya.

Sobat sadarilah bahwa hidup bersama orang orang yang berpegang teguh pada kebenaran membutuhkan kebesaran jiwa sehingga tetap rendah hati dan tabah sehingga tidak dijangkiti rasa hasad dan dengki.

Inilah kesabaran para nabi dan rasul, sabar hidup bersama orang orang baik, bukan sekedar sabar menghadapi orang orang jelek atau tatkala ditimpa musibah. Sabar mengamalkan kebenaran, dan menerima saudaranya sesama orang yang mengamalkan kebenaran, tanpa ada kesombongan atau perasaan bahwa dirinya paling hebat dibanding yang lainnya.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا 

“Dan bersabarlah engkau bersama orang orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi hari di di sore hari, mereka mengharapkan keridhaan Allah, dan janganlah engkau palingkan wajahmu dari mereka karena engkau mengharapkan kehidupan dunia.” ( al kahfi 28 )

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Dampak Penyakit Buta Warna…

Orang yang mengalami buta warna akan kesusahan bahkan tidak mampu membedakan warna, baginya semua warna sama, hitam atau putih saja. Apapun warna yang anda suguhkan kepadanya, maka baginya sama, hitam atau putih. Bila dalam kondisi semacam ini, mungkinkah anda dapat mempercayakan pilihan warna baju anda kepadanya?

Kondisi serupa juga terjadi dengan orang orang yang buta agama, baginya semua agama sama, yang ada hanya beragama atau tidak beragama. Islam, Nasrani, Yahudi, Hindu, Buda baginya sama yaitu sama sama agama, walaupun bagi orang yang melek mata hati dan mata kepalanya maka jelas berbeda antara Islam dengan lainnya. Karena itu, mungkinkah bagi anda yang masih memiliki mata hati alias iman dan mata kepala ilias nalar sehat untuk mempercayai orang yang ditimpa penyakit buta agama yang percaya bahwa semua agama sama?

Di zaman ini, banyak orang yang tidak sadar telah ditimpa penyakit buta agama, nyata nyata kufur kepada Allah dan menyembah kayu atau batu atau benda lainnya masih saja dianggap sama dengan orang Mukmin yang hanya beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Sebagaimana penyakit buta warna bisa saja berlarut larut hingga menjadi akut dan berlanjut menjadi buta mata, maka buta agama juga demikian, bisa saja orang yang buta agama meyakini bahwa penyembah batu atau kayu lebih baik daripada orang Islam yang hanya rela mengabdi kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dalam kondisi seperti ini, sudah sepatutnya kita membaca firman Allah Ta’ala:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sejatinya tidaklah mata mereka yang buta namun hati yang ada dalam dada merekalah yang buta.” (Al Haj 46)

Jadi tidak perlu heran dengan orang orang yang buta agama yang kini banyak berkomentar lantang seakan mereka ahli agama atau tokoh agama padahal mereka itu buta mata bahkan buta agama.Yang mengherankan adalah adanya orang-orang yang mampu membedakan anatara Islam dari lainnya, namun masih saja terperdaya oleh orang-orang buta agama yang telah menjual agamanya demi mendapatkan secuil harta.

Ya Allah, selamatkan negri dan kaum muslimin di negri tercinta ini dari para begundal begundal buta agama.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Bahaya Penyakit “Bebal”..

Tahukah anda bahwa salah satu penyakit yang berbahaya ialah penyakit “bebal”? Orang-orang kaya lama yang setiap hari dan di berbagai tempat menyaksikan orang-orang miskin, tanpa dia sadari dijangkiti penyakit “bebal”. Rasa iba yang kemarin ada dalam hatinya menipis bahkan sirna, akhirnya tiada lagi greget untuk menyantuni atau menyayangi mereka.

Suatu hari ada lelaki yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal hatinya yang terasa “bebal” alias keras. Mendengar keluahan ini beliau bersabda:

إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Bila engkau ingin hatimu menjadi lembut, maka biasakan memberi makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak-anak yatim.” (Ahmad dan lainnya)

Orang tua yang terbiasa duduk-duduk dengan pelaku kemaksiatan, cepat atau lambat hatinya ditimpa penyakit “bebal” sehingga tiada lagi greget untuk mengingkari perbuatan mereka bahkan bisa jadi ia tanpa sadar turut hanyut dalam kemaksiatan mereka. Karena itu jauhi para pelaku dosa dan jangan pernah menyepelekan urusan duduk-duduk dengan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يَقْعُدْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ

“Siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah duduk di meja makan yang disajikan minuman khamer padanya.” (At Tirmizy dan lainnya)

Bila penyakit bebal juga bisa saja menimpa orang-orang yang terbiasa tinggal di masyarakat atau negri orang-orang kafir. Cepat atau lambat ia terbiasa dengan perbuatan kakufuran dan bisa jadi suatu saat nanti ia mulai menikmati pemandangan orang-orang kafir berbuat kekufuran dan selanjutnya ia mulai kagum kepada mereka, dimulai dari kagum urusan dunianya dan berlanjut kagum akhlaqnya dan dan akhirnya kagum dengan urusan agamanya alias kekufurannya, dan berkata “kafir-kafir ndak masalah asal pandai, cerdas nan sukses”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” أنا بَرِيءٌ من كلّ مسلم يُقِيمُ بين أظْهُرِ المشركين “.قالوا: يا رسول الله! لِمَ؟ قال: ” لا تراءى ناراهما “.

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang berdomisili di tengah-tengah orang-orang musyrikin/ kafir. Para sahabat bertanya: mengapa, ya Rasulullah? Beliau menjawab: agar keduanya (muslim dan kafir) tidak saling berdekatan.” (Abu Dawud dan lainnya).

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Malu Tuh Bisa Putus Alias Hilang…

Sebagian orang bahkan thullabul ilmu, saking girangnya menikah sampai lupa daratan alias kalap hingga matapun gelap.

Istrinya yang dipoles habis difoto lalu dipajang di halaman Facebook, atau Twitter atau lainnya. Mereka merasa bangga mendapat like atau ucapan selamat, padahal tanpa ia sadari sejatinya itu ucapan selamat atas telah tersesat, karena tanpa sadar dengan pemajangan foto istrinya tesebut ia telah menjejakkan kakinya di tangga DAYYUTS, alias suami yang rasa malunya luntur bin hancur lebur.

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي.

“3 golongan orang yang klak pada hari qiyamat Allah Azza wa Jalla tiada sudi melihat kepada mereka : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang meniru lelaki dan lelaki DAYYUTS alias tiada memiliki rasa cemburu atas istrinya.” (Ahmad dan An Nasai).

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Tukang Kepruk…

Di dunia ini ada orang orang yang berprofesi bahkan memiliki hobi menjadi tukang kepruk. Dari mereka ada yang melakukannya dengan imbalan, ada pula yang melakukannya karena hobi dan kepuasaan karena ingin unjuk kekuatan.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di pasar induk, atau pusat perbelanjaan atau masyarakat umum. Di kalangan orangan orang khusus semisal para penuntut ilmu juga demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ»

“Siapapun yang menuntut ilmu agar dapat mendebat orang orang bodoh, atau unjuk kebolehan di hadapan para ulama’, atau mendapatkan perhatian masyarakat, maka tempat tinggalnya di neraka.” (Ibnu Majah)

Waspadalah sobat, tuntutlah ilmu untuk diamalkan, dan diajarkan. Mari kita belajar untuk beramal dan berdakwah, bukan untuk berdebat atau unjuk kebolehan.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Beda Selera Beda Rasa, Beda …. Beda ….

METODE PENGAJARAN TAUHID

Pagi hari ini tersebar sebuah postingan di sebagian media sosial, yang kami pribadi tidak mengetahui siapa penulisnya. Sebab di akhir tulisan tidak dicantumkan nama sang penulis. Hanya saja kami cukup menyayangkan sebagian isi postingan tersebut. Karena kurang sesuai dengan fakta yang ada.

Kami hanya akan menukil potongan postingan yang bermasalah tersebut, bukan semuanya.

Berikut potongannya:

“Fawaa-id Dari Liqaa Maftuuh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-:
1- Ada pertanyaan:
Bolehkah kita mengajarkan Tauhid di sela-sela pelajaran Tafsir dll. dikarenakan masyarakat sensitif kalau kita langsung mendakwahkan Tauhid.

Jawaban beliau:
Yang perlu diperhatikan: yang terjadi adalah bahwa sifat sensitif itu muncul dari diri Da’i itu sendiri!!
Dia takut kepada para mad’u-nya untuk mengajarkan Tauhid!!!”.

Komentar kami:

Jawaban Syaikh yang dinukil dalam postingan di atas kurang lengkap. Sebab, sebenarnya secara garis besar, jawaban beliau terbagi menjadi dua poin. Sedangkan yang dinukil dalam postingan tadi hanya poin pertama saja. Sedangkan poin kedua tidak disampaikan. Dan itu berakibat munculnya pemahaman yang berbeda dengan apa yang beliau sampaikan.

1. Poin pertama: Adalah apa yang sudah dipaparkan dalam postingan di atas.

2. Poin kedua: Beliau menyampaikan, bahwa bilamana kondisi masyarakat seperti apa yang digambarkan dalam pertanyaan itu, yakni mereka sangat sensitif dengan pembahasan tauhid. Maka bagi seorang dai yang menghadapi mereka, yang terpenting baginya adalah tetap menyampaikan pembahasan tauhid, lewat pintu apapun yang syar’i.

Bisa dengan cara mengajarkan tafsir, tauhid, tazkiyatun nufus, sirah nabawiyah, lalu memasukkan tauhid melalui berbagai pintu tadi.

Mengajarkan tauhid tidak harus dengan membaca Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kemudian kita juga perlu berupaya untuk menjadikan masyarakat senang dengan tauhid. Antara lain dengan memperbaiki uslub (cara penyampaian) kita dalam mengajarkan tauhid. Juga dengan memaparkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah yang mereka kenal, semisal Imam Syafii dan yang lainnya.

Demikian global jawaban yang disampaikan Syaikh Sulaiman ar-Ruhailiy hafizhahullah.

Dalam kesempatan ini, kami merasa perlu menyampaikan nasehat untuk kami pribadi dan para ikhwah agar lebih AMANAH dalam menyampaikan ilmu. Betapa banyak problematika dakwah muncul akibat penyampaian ilmu yang sepotong-sepotong.

Meringkas sebuah tema ilmu atau fatwa ulama diperbolehkan, asalkan tidak merubah inti pembahasan.

Wallahu yahdi ila sawa’is sabil…

Kusuma Agrowisata Batu, 16 Syawal 1437 H

Abdullah Zaen,  حفظه الله تعالى 

Posted on FB by :
Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Eeeuh, Banyak Sekali Musuhku..!

Sobat,
barang kali itulah gumaman anda ketika menyadari betapa banyak orang yang mengganggu, menyakiti, memusuhi dan membenci anda. Orang kafir dengan berbagai modelnya membenci anda , ahlul bid’ah dengan berbagai produk bid’ahnya juga membenci anda, pelaku maksiat juga membenci anda, bahkan banyak pula orang yang berbeda pendapat dengan anda juga turut membenci anda.

Sobat!
sepatutnya sebagai orang yang beriman anda tidak bersikap cengeng, namun sebaliknya, tumbuhkan keteguhan dan ketegaran dalam diri anda, karena anda pasti yakin bahwa menjadi baik itu bukan karena mengikuti banyaknya orang, sebagaimana kebenaran tidak diukur dengan sedikit atau banyaknya orang, Kebenaran diukur dengan dalil dan bukti.

Seiring dengan keyakinan anda bahwa kebanyakan orang jauh dari kebenaran atau bahkan menyimpang maka anda sepatutnya sadar bahwa setiap yang menyimpang besar kemungkinan membenci anda, karena setiap manusia senang bila orang lain mengikuti jejaknya, agar hidupnya terasa gayeng nan semarak.

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al An’am 116)

Karena itu, tidak perlu risau dengan kebencian orang, pusatkan pikiran, tenaga dan perhatian anda untuk mengasihani dan menyayangi orang-orang yang terjerumus dalam kesalahan agar mereka selamat dari kesesatannya dan mengikuti langkah anda menjadi orang baik.

Sebagaimana ketahuilah bahwa menjadi orang bak itu adalah satu keberhasilan, namun sadarkah anda bahwa keberhasilan yang lebih besar adalah tatkala anda bersabar, tabah menghadapi, mengajari, membimbing, mendakwahi orang yang tersesat hingga berhasil menjadikannya menjadi baik seperti diri anda ? Bukanlah satu keberhasilan bila anda mentertawakan apalagi memperolok-olok orang yang terjerumus dalam kesesatan.

Kesesatan bukan untuk dijadikan bahan perolok-olokan. namun untuk dikikis dan dihapuskan. Sebaliknya kebenaran bukan untuk dibangga-banggakan, namun untuk diamalkan, diajarkan dan ditularkan.

Karenanya jangan puas dengan menjadi orang baik, kerahkan segala kemampuan anda untuk menjadikan orang lain baik seperti anda atau bahkan lebih baik dari diri anda.

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Siapapun yang menyeru kepada kebaikan, niscaya ia mendapatkan pahala seperti yang didapatkan oleh setiap orang yang mengikuti seruannya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. Dan sebaliknya siapapun yang menyeru kepada kesesatan, niscaya ia menanggung dosa seperti yang dipikul oleh setiap orang yang mengiuti seruannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa mereka. (Muslim)

Sebaliknya, bersedihlah tatkala anda menemukan saudara anda tersesat dan menyimpang, sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedih karena menyadari betapa banyak dari ummatnya yang menyimpang dan menolak ajakannya untuk masuk Islam.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (Al Kahfi 6)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

100% Atau Tidak Usah Saja…

Diantara pekerjaan besar yang harus dilakukan oleh para kiyai, ustadz, atau dai ialah bercokolnya pemikiran : 100% kawan, bila tidak maka 100 % musuh.

Ketika ada kawan berbuat jujur sekali, buru buru dibongkar sepuluh kebohongannya, bukannya diapresiasi kejujurannya agar esok ia kembali jujur.

Ketika ada kawan berbuat kebaikan, buru buru sebagian kita mengekspos kesalahan kawan tersebut, bukannya didorong agar semakin baik.

Izinkan saya bertanya: adakah dari Anda yang saat ini telah menjadi orang baik 100%.? Atau adakah dari Anda yang sekali berbuat baik tiada lagi pernah melakukan kesalahan lagi.?

Sadarilah sobat! Mencari musuh tuh mudah, menjadikan kawan berubah menjadi musuh juga ringan, namun menjaga persahabatan dan merubah musuh menjadi kawan, itulah pekerjaan besar yang harus Anda upayakan dan perjuangkan. Allah Taala berfirman:

ادفع بالتي هي احسن فاذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم وما يلقاها الا الذي صبروا وما يلقاها الا ذو حظ عظيم

Balaslah dengan cara cara yang lebih baik, niscaya orang yang memusuhimu segera berubah menjadi pembelamu yang setia. Dan tiada yang kuasa melakukan hal itu kecuali orang orang yang bersabar dan tiada yang kuasa melakukannya kecuali orang yang mendapatkan bagian besar (dari karunia Allah) .( Fusshilat 34-35)

Ya Allah, satukanlah hati ummat ISLAM di atas iman dan akidah yang benar, bersihkan jiwa kami dari kedengkian kepada sesama muslim. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله