Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Aduuh Sombongnya…

Kerongkongan terasa kering keronta, perut terasa lapar, akibatnya badan terasa lemas, konsentrasi berkurang, dan produksi turun. Mood andapun berantakan; emosional, mudah tersinggung, dan empati kepada orang sekitarpun tak menentu.

Coba anda berdiri di depan kaca, amatilah raut wajah anda. Lesu, muram dan mungkin ketampanan atau kecantikan yang selama ini melekat di wajah anda terkikis atau bahkan telah sirna.

Mungkin demikianlah gambaran tentang diri anda pada setiap siang hari di bulan Ramadhan, terlebih-lebih bila pada pagi harinya anda tertidur sehingga tidak sempat menyantap makan sahur.

Apa gerangan yang menjadikan diri anda demikian adanya?
Bukankah selama ini anda dikenal sebagai seorang yang gagah perkasa,cerdas, cakap, sigap dan berpenampilan menawan?

Mengapa semua ini terjadi pada diri anda? Apa yang menjadikan diri anda berubah total sedemikian rupa, padahal anda tidak sedang menderita sakit, atau didera masalah berat, juga tidak sedang dililit hutang?

Selanjutnya, coba bandingkan diri anda setelah anda meneguk seteguk air dan menyantap sesuap nasi. Semuanya jadi berubah, anda kembali ceria, raut wajah anda kembali menawan, mood andapun kembali normal, ketangkasan dan kecerdasan andapun kembali seperti sedia kala.

Subhanallah! Ketampanan, kecerdasan, ketangkasan, kegagahan, yang selama ini anda sandang ternyata tergantung dengan sesuap nasi dan seteguk air. Sedemikian besarkah peranan sesuap nasi dan seteguk air dalam hidup anda, sampai-sampai kehidupan anda menjadi berubah hanya karena telat makan dan  minum?

Mungkinkah kepandaian anda, kegagahan, dan ketampanan anda selama ini sebenarnya terletak pada nasi sesuap dan air seteguk?
Bila demikian adanya, mengapa selama ini ada keangkuhan dan kesombongan dalam kehidupan anda? Mengapa kecongkakan senantiasa menghiasi lembaran sejarah hidup anda?

Bila demikian, mengapa anda seakan tidak butuh kepada kasih sayang dan pertolongan Allah, sehingga anda jarang mengangkat tangan untuk berdoa kepada-Nya?

Saudaraku! Simaklah petuah Luqman Al Hakim kepada putranya:

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً الإسراء 37

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”  (Al Isra’ 37)

Apa yang dapat anda lakukan bila ternyata segala kehebatan anda tergantung kepada sesuap nasi dan seteguk air? Mungkinkah dengan kesombongan dan keangkuhan anda mampu menembus bumi dan mengalahkan ketinggian gunung

Saudaraku! Apalah artinya kesombongan dan keangkuhan, bila ternyata nilai kegagahan, kecakapan, dan kecerdasan anda hanya seberat sesuap nasi dan seteguk air, sehingga sekedar anda telat makan dan minum sejenak saja, semuanya mulai meredup.
Coba anda bayangkan, andai rasa lapar dan haus yang anda rasakan sekarang ini berkepanjangan sebagaimana yang dirasakan oleh banyak orang, akankah kegagahan, ketampanan dan ketangkasan masih melekat pada diri anda?

Subhanallah! Ternyata semua yang anda miliki tidak lagi berguna, di saat anda terhalang dari seteguk air dan sesuap nasi. Betapa hinanya kehidupan dunia yang anda perjuangkan selama ini.
Pada suatu hari Ibnu As Simaak manemui Harun Ar Rasyid. Tak berapa lama, Harun Ar Rasyid merasa haus, sehingga iapun segera memerintahkan agar diambilkan air minum. Tanpa pikir panjang seorang pelayan segera membawa bejana yang berisi air dingin. Sebelum Harun Ar Rasyid meminum air itu, ia berkata kepada Ibnu As Simaak: Berilah aku petuah! Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Ibnu As Simaakpun segera berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin! Berapakah engkau akan menebus air minum itu bila engkau sedang kehausan dan ternyata aku kuasa menghalangimu darinya? Harunpun menjawab: Dengan separoh kerajaanku. Selanjutnya Ibnu As Simaak berkata: Silahkan engkau menikmati air minummu.

Seusai Harun Ar Rasyid minum air itu, Ibnu As Simaak  kembali bertanya: Bayangkan, andai aku kuasa menghalang-halangi air minum yang telah engkau minum untuk keluar dari tubuhmu (menyumbat saluran air senimu), berapakah biaya yang akan engkau keluarkan agar air senimu dapat keluar? Harun Ar Rasyidpun kembali menjawab: Sebesar sisa kerajaanku.
Mendengar jawaban ini, Ibnu As Simakpun menimpalinya dengan berkata: “Suatu kerajaan yang separohnya dihargai dengan seteguk air, dan sisanya dihargai dengan air seni, tidaklah pantas untuk diperebutkan.” Mendengar petuah ini, spontan Harun Ar Rasyidpun menangis tersedu-sedu. (Tarikh At Thobary 6/538 & Al Bidayah wa An Nihayah 10234)

Demikianlah fakta diri anda, masihkah anda tergoda untuk bersikap angkuh, sombong dan merasa hebat?

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya kesempurnaan diri anda terletak pada kerendahan hati anda, semakin anda rendah hati, maka semakin tinggi derajat anda disisi Allah dan di sisi masyarakat.

Akan tetapi semakin anda merasa angkuh dan merasa tinggi, maka semakin rendah kedudukan anda di sisi Allah dan juga di sisi masyarakat.

(مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ) رواه أحمد وغيره وحسنه الألباني

“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya.” Riwayat Ahmad dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani.

Dan sebagian ulama’ terdahulu berkata:

مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ ، فَهُوَ فِي نَفْسِهِ صَغِيرٌ ، وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ عَظِيمٌ ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ، فَهُوَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ صَغِيرٌ ، وَفِي نَفْسِهِ كَبِيرٌ ، حَتىَّ لَهُوَ أَهْوَنَ عَلَيهِمْ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيرٍ

“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya. Dengan demikian ia merasa dirinya kecil tidak berarti, akan tetapi masyarakat memandangnya sebagai orang yang mulia nan terhormat. Dan barang siapa yang berlaku sombong, niscaya Allah menghinakannya, sehingga masyarakat memandangnya sebagai orang hina, walaupun ia merasa sebagai orang besar, sampai-sampai di mata masyarakat ia lebih hina dibanding anjing atau babi.”

Demikianlah saudaraku! Ibadah puasa telah menyingkap siapa sebenarnya jati diri anda. Bersyukurlah kepada Allah Yang masih memberi kesempatan kepada anda untuk mengenal siapa sebenarnya diri anda. Dengan demikian anda tidak hanyut oleh kenikmatan Allah sehingga lupa daratan dan bersikap angkuh lagi sombong.

Apa yang saya paparkan di atas, bukan berarti larangan anda menikmati makanan yang lezat, mengenakan pakaian yang bagus dan menikmati kehidupan dunia lainnya. Nikmatilah karunia Allah, akan tetapi pada waktu yang sama, ketahuilah bahwa kekayaan dunia bukanlah standar kemuliaan seseorang.

(إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلاَقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ اللهَ لَيُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ أَحَبَّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الدِّينَ إِلاَّ مَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ) رواه الحاكم وغيره وصححه الألباني

“Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi akhlaq /perangai kalian, sebagaimana Allah telah membagi-bagi rizqi kalian. Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan kekayaan dunia kepada orang yang Ia cintai dan juga kepada orang yang tidak Ia cintai. Sedangkan Ia tidak pernah memberi kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) kecuali kepada orang yang Ia cintai. Dengan demikian, orang yang telah dikaruniai kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) berarti Allah telah mencintainya.” Riwayat Al Hakim dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani

Jelaslah, bahwa apa yang selama ini didoktrinkan oleh sebagian orang tua: “harga diri seseorang dipandang dari penampilannya”, tidak pada tempatnya. Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang dinilai dari kesucian jiwa dan keluhuran akhlaqnya.

(رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ) رواه مسلم
“Mungkin saja orang yang berpenampilan kusut, senantiasa diusir dari pintu rumah orang, akan tetapi bila bersumpah memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah mengabulkannya.”  Riwayat Muslim.

Bila anda berjiwa luhur dan berakhlaq mulia, maka dimata anda segala gemerlap dunia menjadi remeh.

Semoga ibadah puasa anda dapat meninggikan derajat jiwa anda dan merubah akhlaq anda menjadi semakin mulia. Wallahu a’alam bisshowab.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Pandai Ngaji Namun Pelitnya Melilit…

Saudaraku! Apakah anda rajin membaca Al Qur’an, terutama di bulan suci ini? Atau mungkin juga rajin menghadiri pengajian, sehingga telah banyak menguasai ilmu agama?

Mungkin jawaban anda: Wah kurang tahu ya, apakah saya telah tergolong yang banyak membaca Al Qur’an, atau bukan?!. Dan saya juga bingung, apakah saya telah berhasil mendapatkan ilmu agama yang cukup banyak dari pengajian-pengajian yang saya hadiri atau belum?

Anda ingin mengetahui posisi diri anda dalam dua hal tersebut?

Tenang saudaraku tidak usah bingung, tidak sulit kok mengetahui posisi anda. Anda penasaran ingin mengetahuinya? Mudah saudaraku, renungkan hadits berikut dengan baik, niscaya anda dapat mengetahui posisi anda dalam dua hal tersebut di atas.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه

“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar Al Asqalaani menjelaskan bahwa kedermawanan dalam syari’at adalah memberi sesuatu yang pantas/layak kepada yang pantas/layak menerimanya. Dengan demikian, kedermawanan lebih luas cakupannya dibanding sedekah. (Fathul Bari 1/31)

Saudaraku! Kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan terutama setelah bertadarus Al Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihissalam mencapai puncaknya. Tahukah anda, apa sebabnya kedermawanan beliau berubah mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan?

Bukankah pada bulan ini produktifitas seseorang berkurang, sehingga kemungkinan besar penghasilannyapun berkurang ? 

Bukankah pada bulan ini kita berpuasa sehingga lapar dan haus, akibatnya kitapun semakin berambisi untuk menguasai dan menikmati seluruh makanan dan minuman yang kita miliki? Coba antum ingat-ingat kembali apa yang anda lakukan ketika persiapan berbuka? Rasanya, seluruh hidangan yang tersedia di meja makan hendak disantap seorang diri. Bukankah demikian?

Para ulama’ menjelaskan hikmah perubahan kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ramadhan, terlebih-lebih seusai bertadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam. Dijelaskan bahwa membaca Al Qur’an dan memahami kandungannya mendorong beliau untuk semakin merasa kecukupan, dan terbebas dari sifat tamak.

Perasaan berkecukupan semacam inilah yang mendasari setiap kedermawanan. Ditambah lagi pada bulan Ramadhan karunia Allah kepada umat manusia berlipat ganda, karenanya beliau senang untuk meneladani sunnatullah dengan melipat gandakan kedermawanan beliau. Dengan bersatunya beberapa hal di atas, keutamaan waktu ditambah perjumpaan dengan Malaikat Jibril bersatu padu dalam diri beliau sehingga kedermawanan beliau berlipat ganda. (Fathul Bari 1/31)

Anda ingin mengetahui sejauh mana kedermawanan beliau? Berikut adalah salah satu contohnya:

عن أنس رضي الله عنه قال: جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ.

“Sahabat Anas radhiallahu ‘anhu mengisahkan: “Pada suatu hari ada seseorang yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberinya hadiah berupa kambing sebanyak satu lembah. Spontan lelaki itu berlari menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, hendaknya kalian semua segera masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang sangat besar, seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” Riwayat Muslim.

Saduaraku! Coba saudara kembali membaca hadits di atas.

Pada hadits itu kedermawanan beliau digambarkan lebih baik dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus. Ini adalah pertanda bahwa kedermawanan beliau tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, akan tetapi dapat dirasakan oleh seluruh orang, tanpa ada perbedaan, walaupun diantara mereka ada perbedaan martabat, kekerabatan atau lainnya. Sebagaimana ini sebagai isyarat bahwa kedermawanan beliau terus mengalir dan tidak pernah terhenti.

Nah, sekarang anda sudah mengetahui apakah anda telah banyak membaca Al Qur’an dan telah banyak mendapatkan ilmu agama?

Ketahuilah saudaraku! bila bacaan Al Qur’an dan pengajian yang anda hadiri memotivasi anda untuk semakin bersikap dermawan, berarti anda termasuk orang yang benar-benar rajin membaca Al Qur’an dan telah berhasil menguasai ilmu agama . Sebaliknya, bila bacaan Al Qur’an anda dan juga pengajian anda di hadapan para ustad dan juru ceramah tidak menjadikan anda bersikap dermawan, maka bacaan Al Qur’an anda dan pengajian anda perlu dikoreksi ulang.

Al Qur’an dan ilmu agama senantiasa menuntun anda untuk bertambah iman kepada Allah Ta’ala dan janji-janji-Nya kepada orang yang berlaku dermawan. Ilmu anda membimbing anda untuk semakin beriman bahwa setiap uluran tangan anda kepada orang lain pasti mendapatkan gantinya dari Allah.

(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.) 

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun padanya, kemudian salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah orang yang berinfaq pengganti, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfaq) kehancuran.”Muttafaqun ‘alaih.

Saudaraku! Bagaimanakah dengan diri anda di bulan suci ini, apakah anda semakin bertambah dermawan atau sebaliknya? Hanya anda yang mengetahui jawaban pertanyaan ini, karenanya buktikan pada diri anda bahwa anda pada bulan suci ini juga bertambah dermawan.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita pada bulan suci ini termasuk orang-orang terbukti bersifat dermawan. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Aroma Mulut Anda Pengorbanannya…

Ah, aku malu untuk banyak berbicara, mulutku berbau kurang sedap.

Kira-kira demikianlah desah batin anda tatkala menyadari bahwa bau mulut anda mulai terasa tidak sedap karena anda sedang berpuasa. Dan mungkin saja anda merasa perlu berkumur dengan cairan penyegar mulut. Selanjutnya, andapun merasa lebih pede setelah berkumur untuk berbicara dan berinteraksi dengan orang lain.

Sobat! Tidak perlu berkecil hati! Bau mulut anda yang kurang sedap karena berpuasa, inilah salah satu pengorbanan yang harus Anda jalani untuk menjadi orang yang bertaqwa dengan berpuasa.

Percayalah bahwa aroma mulut Anda yang tidak sedap itu ternyata tidak sia-sia. Walau terasa tidak sedap pada penilaian orang, namun tidak demikian di sisi Allah. Aroma mulut Anda itu cerminan dari pengorbanan Anda dalam menunaikan ibadah dan tentu layak mendapat nilai tinggi.

Rasulullah shalallahu alaihi wa Sahlan bersabda:

(وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ) متفق عليه

“Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibanding aroma misik.” Muttafaqun ‘alaih

Saudaraku! coba anda renungkan, mengapa bau mulut Anda ketika berpuasa yang kurang sedap kok dicintai Allah, sehingga di akhirat mendapatkan balasan yang sangat berarti? Mungkin pernah terbetik pikiran: iih agama Islam ini kok terkesan jorok ya.

Atau barangkali Anda berpikir: Aduuh, gimana sih, agama yang aku cintai ini; bau mulut orang berpuasa yang kurang sedap dianggap bernilai ibadah.

Di kesempatan lain; penampilan orang yang berhaji dibuat sedemikian rupa, dilarang mengenakan wewangian, memotong kuku, penampilannya tidak rapi, akibatnya bau keringatpun jadi menyengat.

Bila sholat, menempelkan wajah ke tanah atau lantai masjid yang mungkin saja karpetnya telah lama tidak dibersihkan.

Semuanya mengesankan keterbelakangan, kolot, kumuh dan kotor.

Saudaraku! Mungkin demikianlah iblis membisikkan ke dalam hati anda, dengan suara yang santun nan lirih, sehingga terkesan ia sedang membela kepentingan anda.

Tentu sebagai orang yang beriman, anda langsung memberangus berbagai bisikan biadab tersebut dan tidak pernah memberinya peluang untuk melekat di batin anda. Akan tetapi betapa banyak dari saudara-sadara kita yang lemah iman menjadi termenung dan kebingungan memikirkannya.

Ketahuilah saudaraku! Bahwa efek samping dari berbagai amal ibadah di atas, walaupun terasa tidak baik dan kurang menyenangkan, akan tetapi itu merupakan bagian dari uji pengorbanan ada mempertahankan iman.

Akankah dengan adanya efek samping yang kurang menyenangkan itu, anda menjadi hanyut oleh badai bisikan setan ataukah anda tetap tegar berjuang mencari keridhaan Allah?

Segala hal yang kurang menyenangkan yang menimpa anda semasa menjalankan ibadah kepada Allah adalah bagian dari duri dan aral yang melintang  di jalan-jalan menuju surga Allah.

Demikianlah ketetapan Allah yang berlaku pada kehidupan dunia. Pintu-pintu surga bertabirkan duri dan kesusahan. Sedangkan pintu-pintu neraka diselimuti oleh kesenangan.

Walau demikian, rasa sakit dan hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut tidak akan sia-sia begitu saja.

Semuanya bernilai ibadah dan mendapatkan balasan yang setimpal dan bahkan lebih baik.

Bau mulut anda semasa berpuasa akan berubah menjadi aroma yang lebih harum dibanding aroma misk.

Penampilan anda yang kusut lagi berdebu semasa berihram menjalankan manasik haji dan umrah, berbuah ampunan dari Allah.
(انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي شُعْثاً غُبْراً، اشْهَدُوا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ذُنُوبَهُم)
“Saksikanlah hamba-hambaku yang sedang berpenampilan kusut lagi berdebu. Persaksikanlah bahwa aku telah mengampuni seluruh dosa-dosa mereka.” Riwayat At Thabrani, Ibnu Hibban dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani.

Bekas sujud yang melekat di dahi, hidung, lutut, tangan dan kaki anda akan terhindar dari sengatan api neraka.

(حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ مِنِ ابْنِ آدَمَ أَثَرَ السُّجُودِ)

“Allah mengharamkan atas api neraka untuk menyentuh anggota tubuh manusia yang membawa bekas sujud.” Riwayat Bukhary
Tidakkah anda mengimpikan untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang kelak di hari kiamat mulutnya berbau harum bak misk, dan tubuh anda selamat dari sengatan api neraka.?

Saudaraku! Besarkan hatimu dan ridhailah Islam sebagai agamamu, niscaya Allahpun meridhaimu sebagai hamba-Nya.

Sadarlah, bahwa jalan menuju ke surga penuh dengan duri tajam, dan aral yang melintang. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan hati anda dan membulatkan tekad anda, dan menjadikan perjumpaan kita di surga. Amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Berpuasa Berlatih Jadi Orang Miskin…

Sebagian mubaligh atau penceramah menjelaskan bahwa diantara hikmah berpuasa ialah melatih diri menjadi orang miskin. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan berpuasa anda sedikit mencicipi rasa derita yang di alami oleh orang miskin.

Sekilas ucapan di atas sungguh rasional, namun tatkala anda renungkan lebih mendalam ucapan di atas kurang sejalan dengan ayat berikut:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah 183)

Dengan jelas alasan berpuasa ialah agar anda menjadi orang yang bertaqwa, bukan agar anda menjadi orang miskin atau minimal memiliki kesiapan mental menjadi orang miskin.

Tentu dua hal ini sangatlah berbeda jauh, karena anda pasti tahu bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa tidaklah harus menjadi miskin terlebih dahulu. Kalaupun anda adalah orang kaya paling kaya, anda memiliki peluang besar menjadi orang yang bertakwa, sama besarnya dengan orang yang miskin.

Faktanya, betapa banyak orang miskin kafir, fasik dan sesat, sebaliknya betapa banyak orang kaya raya yang bertakwa, salah satunya ialah anda wahai saudaraku yang sedang membaca tulisan ini, bukankah demikian?

Saudaraku, sadarilah sejatinya taqwa ialah kemampuan anda mengendalikan hawa nafsu anda, sehingga hawa nafsu anda senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan syari’at agama. Bukan hanya tunduk dan patuh, bahkan anda berhasil menjadikan hawa nafsu anda bagian dari ibadah anda. Sebagaimana ketika berpuasa, anda menuruti nafsu makan dan minum karena menjalankan perintah dan mengharapkan pahala, bukan hanya sekedar melampiaskan selera belaka.

ANda menyantap hidangan buka puasa dan makan sahur, karena menjalankan perintah dan keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

“Ummatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahurnya.” (Ahmad dan lainnya)

Sebagaimana pula anda menghentikan nafsu anda dalam rangka menjalankan perintah, sebagaimana tergambar pada firman Allah berikut ini:

)أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ
الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ(

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqarah 187)

Kemampuan untuk senantiasa menundukkan hawa nafsu alias mengendalikan hawa nafsu semacam inilah hakikat dari ketakwaan.

Orang yang bertaqwa adalah orang yang benar-benar berhasil menundukkan hawa nafsunya, sehingga tiada yang ia inginkan atau cintai kecuali yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dan tiada yang ia benci kecuali sesuatu yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya benci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وولده وأهله والناس أجمعين

“Tidaklah engkau dianggap beriman hingga diriku lebih ia cintai dibanding dirinya, anak keturunannya, keluarganya dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi ndak perlu berlatih kelaparan atau mencicipi hidup dalam kemiskinan. Silahkan anda menjadi orang kaya, namun berlatihlah mengendalikan hawa nafsu anda, agar tiada mendorong anda untuk berbuat maksiat, bahkan sebaliknya terus mengobarkan semangat dalam diri anda untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala Sang Penciptanya.

Karena itu sangat ironis bila selama bulan puasa; di siang hari anda berjuang mengendalikan hawa nafsu, namun ketika malam telah tiba anda kembali mengumbar hawa nafsu anda seakan anda kehilangan kekang atau kendali. Bila demikian ini sikap anda, maka dapat dipastikan anda gagal mengilhami nilai-nilai taqwa yang bertujuan menghantarkan anda menjadi orang yang benar-benar bertaqwa.

Selamat berpuasa, semoga Allah memudahkan anda untuk mengendalikan hawa nafsu anda.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Musuh Dalam Selimut Bukan Musuh Yang Berselimut…

Sobat keberadaan musuh dalam selimut tuh nyata, bahkan jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan akan keberadaan musuh dalam selimut. Bahkan menurut beliau, keberadaan musuh dalam selimut tersebut lebih berbahaya dibanding musuh-musuh yang nyata-nyata kafir, berbeda agama.

Musuh dalam selimut, rupa serupa, perilaku juga terkesan serupa, namun jiwanya tidak sama. Mereka bahagia bila ummat Islam sengsara, dan mereka juga bangga bila orang-orang kafir berjaya atau selamat.

Sahabat Tsauban radliallahu ‘anhu menuturkan : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggulung bumi dan menunjukkannya kepadaku, sehingga aku dapat melihat bumi belahan timur dan barat. Sesungguhnya kekuasaan ummatku akan sampai ke semua belahan bumi yang tunjukkan untukku. Aku juga diberi dua harta simpanan; satu berwarna kemerahan dan yang lain berwarna putih (kerajaan Persia dan Romawi). Aku memohonkan kepada Tuhanku agar ummatku tidak dibinasakan dengan cara ditimpa paceklik yang merata, dan agar mereka tidak dikuasai oleh musuh yang dapat menghabisi seluruh kekuasaan kaum muslimin, selain musuh dalam selimut, yaitu dari kalangan mereka sendiri. Dan Tuhanku telah berfirman kepadaku : 

يا محمد، إنِّي قضيت قضاءً فإنَّه لا يُرَدَّ، وإِنِّي أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة بعامة، وأن لا يسلِّط عليهم عدوّاً من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، ولو اجتمع عليهم مَنْ بأقطارها، حتى يكون بعضهم يهلك بعضاً، ويسبي بعضهم بعضاً

“Wahai Muhammad, sesungguhnya bila Aku telah memutuskan sesuatu keputusan, maka tidak bisa ditolak. Aku telah mengabulkan permintanmu untuk umatmu; agar Aku tidak membinasakan mereka dengan paceklik yang merata, dan agar mereka tidak dikuasai musuh, yang kuasa menghabisi seluruh kekuasaan kaum muslimin, selain musuh dari diri mereka sendiri (musuh dalam selimut). Sekalipun seluruh penduduk dunia bersekongkol memerangi mereka, kecuali bila kaum muslimin telah saling menghancurkan dan memenjarakan sesama mereka sendiri”. (Imam Muslim)

Bahkan Allah Ta’ala telah terlebih dahulu telah memberikan peringatan tersebut, pada firman-Nya:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Anfal 60)

Dua dalil di atas, membuktikan bahwa pola menghancurkan ummat dengan menyusup tuh bukan hal yang baru, dan bukan hal yang aneh bin ajaib. Karenanya, waspada tuh bukan hanya dari musuh yang dari luar saja, tapi waspada dari musuh dalam selimut juga perlu.

Musuh dalam selimut tuh, di siang hari bersama kita namun di malam hari mereka segera menyusun laporan kepada juragannya. Hobi mereka ialah menjadi juru bisik, dan juru usik agar ummat Islam centang berentang dan akhirnya saling gebug dan ujung-ujungnya hancur. Hobinya adu-adu antara ummat Islam, adu ustad, adu kelompok ummat, adu tokoh ummat, dan adu adu lainnya.

Eeh, iya, status ini bukan untuk menghasut dan mengobarkan kecurigaan, namun semata seruan untuk waspada dan membuka mata tentang adanya potensi tukang bisik berbulu musang dan berhati serigala.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Batu Akik Berkhodam…

Beberapa waktu lalu, gonjang ganjing tentang batu akik, sampai-sampai ada yang membual: batu akik berkhodam, berguna untuk ini dan itu.

Eh, masih ingat pula ada tanah pekuburan yang diyakini berguna mengobati penyakit mata, padahal penghuninya saja semasa hidupnya menderita sakit mata, tak kunjung sembuh atau menemukan obatnya.

Kadang kala saya heran, kok bisa keyakinan semisal ini menyebar di masyarakat terpelajar, terlebih beragama Islam. Padahal Hajar Aswad saja yang jelas jelas batu mulia dan terhormat dikisahkan sebagai berikut:

Suatu hari, Khalifah Umar bin Khatthab ketika mencium hajar aswad, beliau berkata: “Sungguh demi Allah aku menyadari bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak bisa memberi manfaat atau madlarat, dan seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak sudi menciummu” (HR. Bukhori dan Muslim).

Sobat! Masihkah anda percaya dengan isu-isu sampah adanya batu keramat, tanah kuburan keramat yang mampu mendatangkan kekayaan atau yang serupa?

Na’uzubilah min zalika.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Menyembah Manusia, Namun Ndak Merasa…

Suatu hari sahabat Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat :

( اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ )

“Mereka menjadikan ulama’-ulama’ dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah ” (Surat At Taubah 31),

Merasa ada yang janggal dan kurang sesuai dengan apa yang ia alami semasa menjadi pemeluk agama Nasrani, segera ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata:
Sesungguhnya dahulu kami tidak pernah menyembah para pendeta dan ahli ibadah di antara kami.

Menanggapi pertanyaan sahabatnya ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

( أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونَهُ، وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ الله فَتُحِلُّونَهُ؟!) 

”Bukankah mereka mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan, kemudian kalianpun turut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan sesuatu yang Allah haramkan, lalu kalianpun turut menghalalkannya?!”

Sahabat Adi menjawab : Benar.

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ) 

”Itulah wujud peribadatan kepada mereka”. (Hadits riwayat Ahmad dan At Tirmizi).

Jadi, melek dalil dan melek argumentasi tuh penting, ndak asal nurut agar tidak terjerumus dalam praktek kultus buta kepada sesama manusia, yaitu dengan mengikuti pendapat tokoh yang telah terbukti secara meyakinkan menyimpang dari dalil. Bila ndak, maka ngaku atau ndak ngaku, sadar atau ndak sadar, berniat atau ndak berniat, maka sejatinya telah terjerumus pada praktek penyembahan sesama manusia.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Pertanyaan Di Kubur Itu Tentang Wali Atau Nabi…?

Eh, kalau dikubur tuh ditanya tentang wali atau tentang nabi ya?

Banyak dari ummat Islam yang menjadikan ucapan atau pendapat guru, atau imam atau walinya bagaikan wahyu yang turun dari langit, bahkan melebihi wahyu yang telah terbukti turun dari langit.

Apapun ayat dan haditsnya dengan mudah diabaikan dan dicampakkan, kalau terbukti menyelisihi ucapan wali atau qutub timur atau selatan atau  yang serupa. Dan sebaliknya apapun kata wali dan qutub timur atau selatan, utara atau selatan, niscaya dipercayai tanpa perlu ditakwil apalagi ditolak.

Kadang kala saya sendiri heran, sebanarnya para wali tuh siapa ya? apakah mereka itu lebih tinggi maqamnya dibanding para rasul dan nabi? atau mungkin juga mereka telah disandingkan dengan Allah Ta’ala? na’uzubillah min zalika.

Sabar mas, baca status ini ndak usah sambil terengah-engah nafasnya. Akan labih bijak bila anda mencoba meneeladani sikap bijak seorang muslim sejati berikut ini:

Sahabat Ibnu Abbas menuturkan :

يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُم حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُولُ: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى اله عليه وسلم، وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
”Hampir-hampir diturunkan atas kalian bebatuan dari langit, aku katakan kepada kalian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalian membantahnya dengan perkataan Abu Bakar dan Umar”.

Imam Ahmad bin Hambal menuturkan :”Aku sangat heran terhadap orang-orang yang mengetahui sanad dan keabsahannya, akan tetapi mereka malah memilih pendapat Sufyan, padahal Allah Ta’ala telah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasulullah) akan ditimpa fitnah, atau ditimpa azab yang pedih” (Surat An Nur 63), Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan fitnah disini? Maksud fitnah disini adalah syirik, karena mungkin saja bila ia menolak sebagian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan terbetik dihatinya suatu kesesatan, sehingga ia binasa”.

Setahu saya, di alam kubur kelak kita tuh ndak ditanya: ikut qutub timur, atau barat atau selatan atau utara. atau sulthanul auliya’ syeikh abdul Qadir Al Jailany atau lainnya, namun yang ditanya tuh 3 hal:
1. Siapa Tuhan-mu?
2. Siapa nabimu?
3. Apa agamamu?

Jadi woles aja kali, cukup baca syahadatain, belajar Al Qur’an dan As Sunnah dengan benar, walau ndak kenal sama sulthanul auliya’ atau lainnya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله

Miliki Pesugihan Yang Cepat Bikin Sugih…

Mau jadi orang kaya? Terbayang deh, jadi kaya tuh bisa punya apartemen, vila, kendaraan yang serba mewah dan harta yang tentu saja melimpah?

Mudah kok, miliki saja pesugihan. Ndak usah kawatir, karena ndak perlu tumbal, atau sesajian, atau mantra dan kemenyan. Cukup heningkan cipta, lalu pusatkan pikiran, daaaaaan sekejap anda menjadi orang kaya raya, bahkan bisa jadi yang paling kaya.

Mau tahu, caranya? Temukan resepnya pada hadits berikut:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah kaya raya itu karena anda memiliki harta benda yang melimpah, namun kekayaan yang sejati ialah jiwa yang senantiasa merasa berkecukupan. (Muttafaqun ‘alaih)

Alaaaah, kalu ini caranya yang miskin tetap saja miskin, yang susah tetap saja susah, hidup di gubuk tetap saja di gubuk, tidak akan berubah menjadi istana yang megah. Mungkin demikian gumam anda, bukankah demikian sobat?

Tenang sobat, ketahuilah bahwa inilah sejatinya biang kemiskinan yang sejati, ketika anda pesimis alias tidak beriman kepada ajaran agama anda sendiri. Kalau demikian cara berpikir anda, maka anda tidak akan pernah merasa menjadi orang kaya raya, walaupun anda telah memiliki segalanya.

Sahabat Abu Said mengisahkan: Suatu hari ia mengalami kelaparan hebat hingga ia mengikatkan batu ke perutnya. Untuk mengatasi kemiskinan ini, istrinya menyarankan agar ia meminta harta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Istri beliau mengusulkan hal ini karena ia mengetahui banyak orang yang meminta kepada beliau dan beliau memberi harta kepada mereka .

Setiba di rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat Abu Said mendapatkan beliau sedang berkhutbah dan bersabda : 
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعُفَّهُ الله ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ الله 
Barang siapa berupaya menjaga kehormatan dirinya, niscaya Allah menjaga kehormatannya. Barang siapa berusaha untuk merasa berkecukupan (kaya), niscaya Allah melimpahkan kecukupan (kekayaan) kepadanya.

Mendengar ucapan beliau ini, segera sahabat Abu Said membalikkan badannya dan pulang. Tidak selang berapa lama, Allah Ta’ala benar-benar melimpahkan kekayaan kepadanya, hingga beliau mejadi lelaki Anshar yang paling kaya. (Bukhari, Muslim dll)

Sobat! Percayalah, semua itu sangatlah mudah, bagi Allah, karena seluruh rejeki adalah milik-Nya, dan Ia kuasa memberi anda apapun yang Ia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman:

فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ 
Maka carilah rezqi di sisi Allah dan beribadahlah kepada-Nya. (Surat Al Ankabut 17)

Hanya saja yang jadi masalah! Benarkah anda sudah mempersiapkan kantong dan gudang untuk menyimpan kekayaan yang akan Allah berikan? Dan sudahkan anda menyiapkan mental anda agar pantas dan layak menjadi orang kaya.

Betapa banyak orang yang kekayaannya telah melimpah, namun jiwanya masih saja kerdil dan sempit tak ubahnya orang fakir, bahkan ia merasa dirinya sebagai orang termiskin di dunia. Ia bersikap kikir, nan pelit, bukan hanya kepada orang lain, bahkan kepada dirinya sendiri, hartanya terus ia simpan dan simpan, bukan dinikmati.

Kalau anda berkata: la bagaimana lagi, perut hanya cukup menampung sepiring makanan, badan hanya bisa memakai sepasang baju, kantong hanya bisa membawa beberapa kartu ATM dan alasan lain yang serupa.

Ya, betul alasan anda, namun bila anda cerdas niscaya anda dapat membawa seluruh harta anda kemanapun anda pergi dan menikmati seluruh harta anda. Ingin tahu caranya? Percayakan kepada para malaikat pencatat amalan, sehingga mereka akan terus membawakannya untuk anda agar dapat anda nikmati semuanya, kelak di surga.

Selamat menjadi orang kaya raya, di dunia hingga di akhirat.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Wedus Kesasar = Domba Tersesat…

Mas, mbak, pak dan ibu! relakah anda disebut dengan domba atau kambing atau wedus? Bahkan bukan sekedar domba biasa namun domba yang tersesat?

Mereka selalu menganggap anda sebagai domba yang tersesat, la kok bisa-bisanya mereka tersinggung bila anda melakukan hal yang serupa, dengan berkata mereka itu tersesat alias kafir?

  1. Mereka ingin agar anda melunak dengan berkata: kita sama-sama di atas jalan yang benar, bersaudara, dan sama-sama masuk surga. la kok enakeeee. Sedangkan mereka tetap dengan keyakinannya : sekali domba tersesat maka anda terus dianggap sebagai domba tersesat sampai anda mengikuti jalan mereka.

Mereka mendoktrin sebagian ummat Islam agar mengatakan semua agama sama, eeh ternyata mereka sendiri terus tiada henti menganggap anda sebagai domba mbeling, ndak nurut alias tersesat.

Sobat! Percayalah kepada Al Qur’an dan As Sunnah yang jelas-jelas mengatakan mereka tuh kafir.

Sekali kafir ya kafir, mereka kekal di neraka, mereka tersesat di dunia hingga di akhirat. Kita berbeda tingkatan, mereka salah jalan, alias tersesat sedangkan kita berada di jalan yang benar.

Inilah ikrar kita setiap sholat, hanya Islam yang benar, sedangkan yang lain adalah “domba yang tersesat”. Simak firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka (Muhammad 12)

Sobat! Menurut anda; siapakah yang lebih pantas disebut sebagai domba tersesat, anda sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau mereka yang nyata nyata beribadah kepada selain Allah ?

Toleransi yang benar tuh, bukan dengan cara bertepuk sebelah tangan: anda menjaga perasaan mereka, sedangkan mereka bebas leluasa menganggap anda sebaga domba tersesat.

Toleransi yang benar tuh, masing -masing dengan keyakinannya, asal jangan saling mengganggu dan memprovokasi, demikianlah toleransi yang ALlah ajarkan pada ayat ayat berikut:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ {1} لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ {2}
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {3} وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ {4}
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6}

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir,

aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (Al Kafirun 1-6)

Jadi: terserah mereka mau mengatakan kita domba tersesat, namun kita juga akan tetap mengatakan mereka kafir kekal di neraka.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى