Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Kematian…

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badrin MA, حفظه الله تعالى

Pernahkah terpikir di hati ketika anda hendak keluar rumah bahwa bisa jadi malaikat maut sedang menanti di depan pintu?

Atau barang kali ketika anda hendak pergi ke suatu tempat, bisa jadi malaikat maut sedang menanti anda di tempat tersebut?

Simak dan renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

لَا يُقَدَّرُ لِأَحَدٍ يَمُوتُ بِأَرْضٍ، إِلَّا حُبِّبَتْ إِلَيْهِ وَجُعِلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَةٌ “

“Bila Allah telah menentukan kematian bagi seseorang terjadi di suatu negri, maka Allah pasti akan menjadikannya cinta atau merindukan negri itu, dan Allah akan menjadikannya merasa berkepentingan untuk pergi ke negri itu.” (Riwayat Ahmad dll)

Pikirkan baik-baik sobat, diri anda, jangan-jangan malaikat maut saat ini sedang menanti anda di tempat yang hendak anda tuju pagi ini.

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami. Amiin.

Diundang Natalan, Sungkan Kalau Tidak Hadir?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badrin MA, حفظه الله تعالى

Bagi banyak orang, menyikapi undangan perayaan natalan atau yang serupa terasa dilematis. Tidak datang, ndak enak sama yang ngundang, tapi kalau datang kok itu perayaan agama lain? Aduuuh, bingung deh jadinya.

Ada lagi yang mendadak jadi ahli ijtihad, atau paling kurang ahli fatwa. Kan hanya datang untuk ikut makan makan, tidak untuk ikut merayakan atau menjalankan ibadahnya, Mengapa dirisaukan?

Berbicara masalah seperti ini, saya yakin sudah sering dibicarakan dan dibahas, terlebih pada hari hari ini. Karena itu saya rasa sudah cukup banyak dalil yang diutarakan dan alasan yang dikemukakan untuk melarang ummat islam ikut serta merayakan natalan. Namun pada status ini saya ingin menyoroti ucapan di atas: “ndak enak perasaan bila tidak hadir pada undangan teman dekat, atau atasan atau kerabat, padahal mereka sudah baik kepada kita selama ini”.

Mendengar atau membaca ucapan di atas, terasa disambar petir. Kok bisa orang islam merasa sungkan, tidak enak perasaan menolak undangan natalan?!

Di saat yang sama orang nashara tanpa sungkan mengundang anda menghadiri perayaannya, padahal ia tahu bahwa anda membenci agamanya, meyakini bahwa agama dia sesat, bahkan bentuk kejahatan dan penipuan terbesar.

Betapa tidak, setiap orang yang berakal sehat akan heran, kok ada anak tuhan atau bahkan tuhan kalah oleh teroris, sehingga mati dibunuh dengan sadis? Walau demikian, mereka Dengan enaknya mengundang anda untuk menghadiri perbuatan jahat alias hina dan bodoh mereka. Namun anehnya, anda merasa malu atau sungkan untuk menunjukkan kecerdasan, kebenaran dan keadilan anda?

Mereka tanpa sungkan menunjukkan keyakinannya, dan bahkan menawarkannya kepada anda dalam bentuk undangan “makan&minum” namun aneh sekali, anda malu untuk menyuarakan dan menunjukkan keyakinan anda?

Mungkinkah, adanya “makan & minum” telah berhasil melunturkan kehormatan iman dan harga diri keyanikan anda?

Seharusnya mereka menjaga perasaan anda yang sakit hati dan murka bila menyaksikan perbuatan kufur mereka. Namun kenyataannya sangat aneh, andalah yang kini merasa sungkan dan merasa perlu untuk menjaga perasaan mereka, sedangkan mereka merasa bangga sehingga berani mengundang anda, seakan undangan mereka ini adalah bentuk kehormatan yang mereka berikan kepada anda. Padahal sejatinya undangan ini adalah bentuk penghinaan dan penistaan terhadap agama dan keyakinan anda.

Kenapa kok seakan telah tidak ada rasa sakit hati sedikitpun pada diri anda atau amarah karena mengetahui mereka menghinakan Allah, Tuhan Yang Maha Suci? Kemanakah, suara iman anda? Kemanakah semangat ingkar mungkar dan amar ma’ruf anda?

Belum Siap Diganggu…

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Sebagai manusia, anda pasti punya perasaan. Dan karena berperasaan, tentu anda ingin untuk selalu merasa nyaman dan senang.

Saya yakin, siapapun anda tidak akan pernah mengharapkan adanya rasa tidak nyaman walau hanya sedikit. Rasa tidak nyaman sekecil apapun sebisa mungkin anda hindari dan jauhkan.

Siapapun diri anda saya yakin pasti anda tidak pernah bercita cita untuk menjadi korban keusilan orang lain.

Menurut hemat anda, Adakah yang salah dengan sikap di atas?

Namun demikian sangat mengherankan bila kemudian ada tetangga atau teman anda yang MENDUGA bahwa anda mencurigai dirinya. Setiap usaha anda mencari rasa nyaman ia anggap sebagai bentuk kekecewaan anda kepada dirinya. Ia meyakini bahwa dengan upaya semacam itu berarti anda meyakini bahwa tetangga atau teman andalah yang menjadi biang rasa tidak nyaman. Demikian seterusnya, ia merasa sebagai pihak yang tertuduh.

Cara berpikir semacam ini bisa jadi benar namun kenyataannya lebih sering sebagai bentuk suuzzhon/buruk sangka. Betapa tidak, siapakah orangnya yang sakit hati atau kecewa bila mendapat kesenangan?

Dan sebaliknya, siapakah orangnya yang siap disakiti atau diusik atau diganggu kepentingannya?

Karena itu, sikapilah dengan baik usaha teman anda mencari kenyamanan dan tidak perlu merasa sebagai yang tertuduh. Karena ternyata anda juga melakukan hal yang sama.

Sebagaimana bila anda merasa tidak siap untuk disakiti maka sepatutnya anda jangan pernah menyakiti. Dan sebagaimana anda merasa perlu untuk membentengi diri agar tidak diganggu, maka jangan pernah anda mengorbankan orang lain apalagi menjadikan orang lain sebagai tumbal demi kenyamanan diri anda sendiri.

Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam setiap kali keluar rumah, beliau berdoa:

اللهم إني أعوذ بك من أن أزل أو أضل أو أظلم أو أظلم أو أجهل أو يجهل علي

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tersesat/berbuat kesalahan atau disesatkan, tindak kelaliman atau menjadi korban kelaliman, bersikap bodoh atau menjadi korban kebodohan orang.” ( Abu Dawud dll)

Kisah Cinta Dan Pernikahan Yang Mengharukan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Abdullah bin Umar mengisahkan: Tatkala Hafshah ditinggal wafat oleh suaminya Ibnu Huzafah, dan masa iddahnya telah berlalu, maka ayahnya yaitu Umar bin Al Khatthab mulai berusaha mencarikan jodoh untuknya. Tatkala beliau berjumpa dengan sahabat Utsman, beliau segera menawarkan putrinya kepada sahabat Utsman.

Mendapat tawaran ini, sahabat Utsman berkata: aku akan berpikir dulu. Setelah berlalu beberapa hari, sahabat Utsman menjumpai sahabat Umar, lalu berkata: Saat ini aku memutuskan untuk tidak menikah lagi.

Selanjutnya sahabat Umar menjumpai sahabat Abi Bakar, untuk menawarkan putrinya. Sahabat Umar berkata kepadanya: Sudikah engkau aku nikahkan engkau dengan putriku Hafshah? Namun ternyata sahabat Abu Bakar diam dan tidak menanggapi tawaran sahabat Umar. Akibatnya, sahabat Umar sangat kecewa dengan sikap sahabat Abu Bakar yang tidak memberikan jawaban atas tawarannya ini.

Selang beberapa hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melamar Hafshah, maka segera sahabat Umar menikahkan putrinya Hafshah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah Hafshah dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera sahabat Abu Bakar menjumpai sahabat Umar dan berkata kepadanya: Barang kali engkau merasa kecewa ketika engkau menawarkan putrimu Hafshah kepadaku?

Sahabat Umar menjawab: Benar.

Sahabat Abu Bakar berkata: Tiada alasan apapun yang menghalangiku untuk memberikan jawaban atas tawaranmu itu kecuali karena aku telah mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut-nyebut putrimu Hafshah. Sedangkan aku tidak ingin membocorkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Andai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan niatnya, niscaya aku menikahi putrimu.

Selanjutnya Sahabat Umar menceritakan bahwa dirinya telah mengadukan sikap sahabat Utsman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata beliau menjawab pengaduanku dengan bersabda:

تزوج حفصة خير من عثمان ويزوج عثمان خيرا من حفصة فزوجه النبي صلى الله عليه و سلم ابنته

“Hafshah akan dinikahi oleh lelaki yang lebih mulia dibanding Utsman, sedangkan Utsman akan menikahi wanita yang lebih mulia dibanding Hafshah, dan ternyata beliau menikahkan sahabat Utsman dengan putri beliau (Ummu Kultsum).” (Riwayat Abu Ya’la Al Mushily dan lainnya)

Semoga Allah Ta’ala menyatukan kita semua dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga-Nya.

Emang Gua Pikirin…!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badrin MA, حفظه الله تعالى

Emang gua pikirin…!

Mungkin ucapan di atas telah menjadi slogan dan peta pikiran sebagian kita. Ucapan yang memancarkan akan sikap acuh tak acuh, egois alias “ndableg”, hanya mikir diri sendiri. Segala urusan hanya ia ukur dengan dirinya sendiri. Apapun urusannya, asal ia suka, bisa atau terbiasa maka tanpa ragu sedikitpun ia makukannya.

Masalah orang lain celaka atau paling kurang tidak suka maka itu sama sekali tidak mereka pikirkan.

Bisa anda bayangkan, betapa susahnya hidup anda bila memiliki pasangan hidup, teman, tetangga, guru atau murid yang bersikap semacam itu.

Sebagai contoh: Bila imam di masjid anda memiliki sikap dan cara pikir semacam itu, tentu jamaahnya ditimpa banyak masalah. Ia sholat sesukanya, memanjangkan, memendekkan menunda dan menyegerakan sholat semaunya. Semua itu ia lakukan hanya mempertimbangkan dirinya tanpa sedikitpun peduli dengan kondisi jamaahnya.

Imam itu hanya berpikir: ah saya saja kuat untuk sholat puanjaaang, masak kalian tidak kuat? Ego banget

Anda ingin tahu, bagaimana pola pikir dan sikap Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika menjadi imam? Temukan jawabannya pada riwayat berikut:

إني لأقوم في الصلاة أريد أن أطول فيها، فأسمع بكاء الصبي فأتجوز في صلاتي، كراهية أن أشق على أمه

“Sungguh kadang kala ketika shalat, aku hendak memanjangkan shalatku, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka akupun memendekkan sholatku kawatir aku memberatkan ibu anak kecil yang menangis tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam dakwah juga demikian, juru dakwah yang ego bagaikan katak dalam tempurung akan bersikap serupa. Ia akan berkata: saya saja sudah tahu masak kalian belum? Saya saja bisa masak kalian tidak bisa? Saya saja sudah paham masak kalian belum paham? ….. Ego dan sarat dengan kesan sombong.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering kali mengurungkan niatkan atau melakukan sesuatu hanya karena mempertimbangkan daya nalar, kemampuan ummatnya. Bahkan bukan sembarang orang, ummatnya yang masih lemah iman dan pemahaman yang beliau jadikan pertimbangan dalam mengambil tindakan.

Anda tidak percaya? Renungkan hadits berikut:

لولا أن قومك حديث عهد بجاهلية لهدمت الكعبة وجعلت لها بابين

“Kalaulah bukan karena kaummu (quraisy) yang baru masuk islam dan meninggalkan kekafirannya, niscaya aku memugar Ka’bah dan aku buat memiliki dua pintu.” ( Abu Dawud dll)

Andai beliau bersikap ego, dan berkat Quraisy sudah kalah perang, kenapa masih ditakuti?

Ketahuilah; bukan karena takut kepada Quraisy, namun beliau kawatir bila quraisy salah memahami pemugaran Ka’bah dan akhirnya murtad kembali.

Kiyai “Mogol” Alias Setengah Mateng

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Mungkin anda pernah membakar singkong atau jagung? Atau paling kurang mengkonsumsi nasi yang belum sepenuhnya masak. Masakan semacam itu dalam bahasa jawa disebut dengan masakan “mogol”. Bila dimakan bisa menyebabkan perut anda kembung namun bila dibuang sayang.

Oleh masyarakat, kata “mogol” alias “setengah matang” sering kali dijadikan ilustrasi untuk menggambarkan orang-orang yang “setengah matang.” Pakar bukan bodoh juga tidak sepenuhnya bodoh, namun demikian sikapnya yang “petentang petenteng”, hantam sana sini, seakan jagoan tak terkalahkan sering merugikan dan meresahkan masyarakat. Kondisi semacam ini terjadi dalam berbagai aspek, termasuk dalam urusan ilmu dan agama.

Karena “mogol” mereka sering kali berkata aneh dan nyleneh, kaku dan beku, akibat dari keterbatasan ilmunya, sehingga kurang mampu menerapkan ilmunya dengan “luwes” dan bijak.

“Pada suatu hari, ada seorang wanita menemui Abdullah bin Mughaffal radhaiallahu ‘anhu, untuk bertanya kepadanya tentang wanita yang berzina, kemudian hamil, dan setelah ia melahirkan, ia membunuh anaknya tersebut.

Menjawab pertanyaan ini Abdullah bin Mughaffal radhaiallahu ‘anhu berkata: “Wanita itu masuk neraka”.

Mendengar jawaban yang demikian, wanita tersebut segera berpaling pergi sambil terisak-isak menangis.

Melihat wanita itu menangis terisak isak, Abdullah bin Mughaffal segera memanggilnya kembali, lalu berkata kepadanya : “Menurutku, permasalahanmu ini hanya ada satu dari dua alternatif berikut :

ومن يعمل سوء أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما

“Dan barang siapa yang melakukan kejahatan, atau mendlalimi dirinya, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” Mendengar jawaban beliau yang kedua ini, wanita tersebut mengusap matanya dan segera pergi. (Ibnu Jarir At Thabary)

Sikap serupa juga pernah dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Sa’ad bin Ubaidah, ia menuturkan: “suatu hari datang seorang lelaki menjumpai sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, lalu ia bertanya: Apakah diterima taubat orang yang dengan sengaja membunuh seorang mukmin ? Beliau menjawab: Tidak diterima, dan hanya ada satu balasan baginya yaitu neraka.

Setelah lelaki itu pergi, segera murid-murid beliau bertanya karena keheranan: Sebelumnya tidak demikian engkau mengajarkan kami masalah ini. Sebelumnya engkau mengajarkan kepada kami bahwa taubat orang yang dengan sengaja membunuh seorang mukmin masih bisa diterima.

Menanggapi pertanyaan murid-muridnya ini, sahabat Ibnu Abas radhiallahu ‘anhu menjawab: Aku mengira lelaki yang bertanya tadi adalah orang yang sedang marah dan berencana membunuh seorang mukmin.

Mendengar alasan gurunya ini, mereka segera mencari tahu perihal lelaki yang bertanya tersebut dan ternyata mereka mendapatkannya tepat seperti yang diperkirakan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallal ‘anhuma.

Berdasarkan praktek para ulama’ semacam inilah selanjutnya Imam Qarafy menyimpulkan: “Sikap kaku /saklek dalam menerapkan perkataan ulama’ yang termaktub dalam kitab kitab dalam segala kondisi dan waktu adalah satu kesesatan dalam beragama. Sikap tersebut juga mencerminkan kebodohan dalam memahami keinginan para ulama’ kaum muslimin dan generasi terdahulu. (Al Furuq 1/321)

Imam Ibnu Al Qayyim menimpali ucapan Imam Qarafy ini dengan berkata: “Ucapan beliau ini ialah pamahaman yang sangat tepat. Karena siapapun yang berfatwa kepada masyarakat hanya berdasarkan keterangan yang ia dapatkan di dalam kitab, tanpa perduli dengan perbedan tradisi, budaya, zaman, situasi dan kondisi masyarakat maka ia telah terjerumus dalam kesesatan dan menyesatkan orang lain. (I’ilamul Muwaqiin 3/78)

Sobatku! Karena itu selektiflah dalam bertanya dan menimba ilmu, karena bisa jadi anda mendapatkan orang yang hafal banyak ucapan ulama’ namun kenyataannya mereka adalah orang orang yang digambarkan dalam ucapan Imam Qarafy dan Ibnul Qayyim di atas. Maksud mereka baik, namun karena kapasitasnya terbatas, sehingga tersesat dan menyesatkan, hasbunalahu wa ni’mal wakil. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan baik disengaja ataupun tidak disengaja.

Andai Semua Orang Jadi Seperti Aku

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Demikianah kira kira fakta kehidupan kita, saling tarik menarik dan pengaruh mempengaruhi. Siapapun diri anda, biasanya anda merasa bahwa anda adalah orang baik dan anda ingin agar orang lain menjadi seperti anda.

Lebih parah lagi, dalam banyak kesempatan, kita menjadikan diri kita sebagai standar penilaian. Sering kali kita merasa, bahwa kalau saya bisa, berarti semua orang pasti bisa. Dan sebaliknya bila saya tidak mampu berarti semua orang juga tidak mampu.

Lebih jauh lagi, betapa sering kita merasa tidak rela bila ada orang yang lebih baik dari kita. Demikianlah sikap “katak terperangkap dalam tempurung”, yang tanpa kita sadari sering menjangkiti kita.

Kondisi semacam ini bukan hanya berlaku pada urusan dunia dan kekayaan semata bahkan dalam urusan agama juga terjadi. Betapa sering kita yang menyalahkan orang lain hanya karena pengalaman pribadi kita, sudut pandang kita, padahal potensi kita sudah barang tentu berbeda dengan potensi orang lain, sudut pandang orang lain bisa jadi berbeda.

Betapa bijaknya pepatah orang arab yang berkata:
رحم الله امرأً عرف قدر نفسه

“Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya sendiri.”

Sobat! Marilah kita membiasakan diri untuk menyadari bahwa saudara kita memiliki kemampuan dan sudut pandang yang berbeda dari kemampuan dan sudut pandang kita. Selama perbedaan tersebut memiliki alasan yang kuat, mengapa kita tolak dan bahkan kita musuhi?

Sebagai contohnya: dalam urusan makan ikan, bisa jadi anda lebih memilih untuk membeli ikan di pasar, cepat dan praktis. Namun salahkah bila saudara anda lebih memilih untuk pergi ke laut dan memancing ikan sendiri?

Dalam urusan dakwah juga demikian, sah sah saja anda memilih untuk berdiam diri di belakang garis aman, sehingga berdakwah di kalangan sendiri. Boleh boleh saja anda memilih untuk menjauhi setiap pihak yang bersebrangan karena anda merasa tidak mampu untuk memberikan pengaruh. Namun itu tidak cukup sebagai alasan untuk mengharuskan orang lain bersikap yang sama.

Sahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu mengisahkan: dahulu di saat musim haji di padang Arafah, (semasa fase dakwah di Makkah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan diri beliau kepada masyarakat. Beliau berkata kepada mereka:

)أَلاَ رَجُلٌ يَحْمِلُنِى إِلَى قَوْمِهِ فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِى أَنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبِّى(

“Adakah lelaki yang sudi membawaku kepada kaumnya, karena sejatinya Quraisy telah menghalang-halangiku dari menyampaikan wahyu Tuhan-ku.” (Abu Dawud dan Lainnya)

Demikianlah, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam agresif menawarkan diri kepada kabilah kabilah yang ada dengan tujuan mendapatkan peluang untuk menyampaikan Islam. Bahkan beliau juga mengutus para sahabat untuk pergi ke berbagai kabilah arab untuk berdakwah. Dan sudah barang tentu kabilah kabilah yang di datangi oleh utusan utusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dalam kondisi musyrik. Namun demikian beliau optmis bahwa bila beliau diberi kesempatan untuk berdakwah, maka segalanya dapat berubah atas izin Allah Azza wa Jalla.

Sobat bisa anda bayangkan! Andai Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya bersikap menjauh, maka siapa yang akan mendakwahi kaum musyrikin kala itu? Bila saat ini anda yang berilmu menjauhi masyarakat hanya karena mereka berbeda dengan anda, maka siapa yang akan mendakwahi mereka?

Dan kalau anda berkilah: saya tidak mau mendatangi mereka karena kawatir saya terpengaruh oleh kebodohan mereka, maka sepenuhnya saya memaklumi dan menerima sikap anda ini. Namun tentu tidak bijak bila kemudian semua orang harus bersikap demikian. Pendek kata, betapa indahnya pepatah di atas:

رحم الله امرأً عرف قدر نفسه

“Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya sendiri.”

Awas! Ada Setan Di Sisi Anda…..Hii

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! Bayangkan di tengah malam yang sunyi senyap dan gelap gulita, hujan turun rintik rintik, tiba tiba anda terjaga dari tidur. Anda berusaha untuk tidur kembali namun ternyata mata anda seakan enggan untuk dipejamkan, akibatnya anda gelisah.

Atau barangkali anda sedang asyik berselancar di dunia maya membuka buka situs yang memajang gambar “toples” atau “ayam kampus”.

Dalam kondisi semacam itu, tiba tiba anda mendengar suara seseorang yang memanggil anda: “fulaaan, engkau susah tidur ya? Fulan, apa yang engkau tonton? Fulan, segera lakukan ini dan itu, pikirkan ini dan itu ….”

Anda penasaran dengan suara itu, sehingga anda menoleh ke kanan atau kekiri, untuk mengetahui siapakah yang memanggil anda. Namun anehnya, walau lampu di kamar anda terang benderang, ternyata tak seorangpun ada di kamar anda selain anda sendiri.

Walau demikian, bisikan suara itu tetap saja terdengar oleh anda, bahkan semakin banyak kata kata yang anda dengar dan seakan semakin keras.

Sobat, kira kira apa yang anda lakukan bila mengalami kondisi semacam ini? Anda menjerit meminta pertolongan? Atau anda segera melarikan diri keluar kamar untuk meminta pertolongan? Ataukah anda akan segera kembali ke kasur anda untuk meneruskan tidur anda? Atau melanjutkan perselancaran anda di dunia maya?

Mungkin anda berkata: aduuh, kok ustadz nakut nakuti saya siih! Ngerii, takuut, hiiiii……..sereeem

Sobat! Tahukah anda bahwa sejatinya kondisi tersebut benar benar telah anda alami dan akan terus anda alami.

Anda tidak percaya? simak sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

{ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الملائكة وقرينه من الجن. قالوا: وإياك يا رسول الله قال: وإياي إلا أن الله أعانني عليه فأسلم وفي رواية فلا يأمرني إلا بخير}

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali ia didampingi selalu oleh qariin (teman dekat) dari bangsa Malaikat dan qariin dari bangsa jin.”

“Spontan para sahabat bertanya: apakah engkau juga demikian ya Rasulullah? Beliau menjawab: termasuk aku, hanya saja Allah menolongku, sehingga pendampingku (dari bangsa jin) masuk islam, dan ia tiada membisikkan kepadaku kecuali kebaikan.” (Muslim)

Sobat! Sadarkah anda apa yang selama ini terjadi pada diri anda? Selama ini Betapa sering dan betapa banyak anda hanyut dalam bisikan setan, terlebih lagi di saat anda berada di tempat sunyi atau jauh dari keramaian orang.

Ketahuilah bahwa ide ide nakal yang terdengar oleh batin anda sejatinya adalah seruan seruan setan. Masihkah anda merasa aman dari gangguan setan di saat anda dalam kesunyian? Adakah anda masih merasa bahwa anda bebas dari pengaruh atau godaan setan?

Jadilah Mukmin Sejati Walau Kekacauan Mulai Melanda Negri Ini

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, berusah menjadi mukmin sejati memang terasa berat. Mukmin sejati berani memperjuangkan keyakinannya dengan segala resiko yang harus ia pikul. Dan kalaupun belum berhasil maka mukmin sejati tidak akan pernah mengkambing hitamkan orang lain.

Mukmin sejati selalu meyakini bahwa kegagalan hari ini sepahit apapun, maka sepenuhnya itu adalah kehendak ilahi yang harus dijalani dengan dada lapang. Namun demikian bukan berarti diam dan berputus asa, atau hanyut dalam meratapi kegagalannya.

Mukmin sejati harus kembali bangkit dan berjuang sesuai kondisi dan potensi yang ada. Bila kemaren hidup terasa nyaman dan kini semuanya telah berubah sehingga dipenuhi dengan kekawatiran dan ancaman, maka semua itu pantang mengikis keimanannya kepada pertolongan ilahi. Apa yang terjadi sejatinya hanyalah ujian dan tantangan ilihi yang harus ia hadapi.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan biji bijian dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang sabar.”

Mukmin sejati hanya percaya kepada kehendak ilahi dan pertolongan-Nya:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu orang orang yang bila ditimpa musibah mereka berkata: sejatinya kami adalah milik Allah dan sejatinya kami hanya kepada-Nya akan kembali.” ( al Baqarah 155-156)

Susahnya Jadi Orang Islam

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sahabatku, betapa banyak orang islam yang berkata: “susahnya menjadi orang Islam, gini haram gitu haram”. Ada pula yang berkata: apa nilai lebih yang saya dapat dari Islam? Ada pula yang berkata: “kapan ummat Islam bisa maju, kalau kita masih sibuk ngurusi qunut sunnah atau bid’ah, bunga bank haram, …..?

Mungkin anda pernah mendengar atau bahkan pernah mengucapkan kata kata semisal di atas.

Ketahuilah sahabatku sekalian, sejatinya pemikiran semisal di ataslah yang menjadikan ummat Islam mundur dan terus mundur. Ucapan di atas dengan berbagai teks dan modelnya sejatinya adalah gambaran nyata tentang rendahnya mental dan keinginan kita.

Sahabatku; sadarilah bahwa Islam tidak butuh kepada kehadiran saya dan tidak pula anda. Namun saya dan andalah yang butuh kepada Islam. Islam akan tetap eksis dan jaya dengan saya dan anda ataupun tanpa saya dan juga tanpa anda.

Karena itu, tidak pantas bagi anda untuk berkata: kapan Islam bisa menjadikan saya berjaya atau kaya. Namun katakanlah kapan dan bagaimana saya bisa berkorban demi tegaknya Islam.

Sahabat Syaddad bin Al Haad radhiallahu anhu mengisahkan: suatu hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dalam peperangan, datanglah seorang arab baduwi. Ia datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengutarakan keislamannya.

Tidak beberapa lama, kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sllam segera membagikan rampasan perang kepada seluruh pasukan.

Lelaki baduwi tersebut walau belum sempat ikut berperang , namun demikian ia turut mendapat bagian dari rampasan perang.

Walau mendapat bagian, lelaki baduwi tersebut enggan untuk menerima bagian tersebut, dan ia mengutarakan alasan dari sikapnya dengan berkata:

ما على هذا بايعتك، إنما بايعتك على أن أرم في سبيل الله بسهم هاهنا فأقتل فأدخل الجنة

“Bukan karena ini aku berbaiat kepadamu. Aku berbaiat kepadamu agar leherku ini terkena anak panah di jalan Allah sehingga aku terbunuh lalu masuk surga.”

Nabi shallahu alaihi wa sallam menimpali ucapan lelaki baduwi ini dengan bersabda:

إن تصدق الله يصدقك

“Jika engkau jujur maka Allah pasti mengabulkan ucapanmu.”

Tidak selang beberapa lama, peperangan kembali berkecamuk, dan lelaki baduwi itupun turut berperang melawan musuh. Dan kemudian lelaki baduwi itu dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan leher yang telah ditembus anak panak, tepat di tempat yang ia tunjuk ketika berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkafani lelaki itu dengan jubbah beliau, lalu menshalatinya.

Diantara ucapan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk lelaki itu ialah:

اللهم هذا عبدك خرج مهاجرا في سبيلك فقتل شهيدا أنا شهيد على ذلك

“Ya Allah, ini adalah hamba-Mu datang untuk berhijrah di jalan-Mu, lalu ia terbunuh sebagai seorang syahid, dan aku sebagai saksinya.” ( An Nasai dan lainnya)

Demikianlah sobat, mereka masuk Islam bukan agar dapat hidup, maju, untung atau sukses. Namun sebaliknya, mereka hidup agar Islam jaya. Kalaupun kejayaan Islam harus ditebus dengan hidupnya maka mereka rela mengorbankan hidupnya demi kejayaan Islam.