Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Dunia Konspirasi…

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat, di dunia ini penuh dengan konspirasi. Para penjahat menyusun berbagai strategi atau konspirasi untuk menjebak orang orang baik terutama yang lugu agar akhirnya mereka memenangkan persaingan.

Demikianlah ketetapan yang berlaku di dunia ini. Karena itu sudah sepatutnya kita waspada dan tidak menilai berbagai masalah hanya dari satu sudut pandang.

Namun demikian, percayalah bahwa pada akhirnya nanti, kehendak Allah-lah yang pasti unggul dan orang orang yang berimanlah yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Mereka menyusun konspirasi dan Allah membalas konspirasi (tipu daya) mereka sedangkan Allah adalah Sebaik baik pembalas konspirasi.” (Ali Imran 54)

Sobat! Kembalikan sepenuhnya semua urusan anda kepada Allah, niscaya semuanya berakhir dengan baik.

Kalaulah anda meyakini bahwa kenaikan BBM adalah suatu konspirasi jahat sebagian pihak untuk mengeruk keuntungan buesaar saat ini, dan agar dapat menurunkannya kembali bila dirasa perlu dan pada momentum yang dirasa tepat, maka percayalah Allah pasti membalas konspirasi jahat tersebut, asalkan anda beriman dan menyerahkan urusan anda kepada Allah. Percayalah dengan cara ini maka akhirnya nanti andalah yang memetik keuntungan dari kenaikan ini, sehingga buat apa risau?

Apalagi bila anda berkhusnuzzon dengan kenaikan harga BBM maka sudah barang tentu anda patut bersyukur bukan malah risau.

Demikianlah sepatutnya kita menyikapi segala kondisi yang terjadi, agar kita selalu beruntung dan tetap hidup bahagia.

Harga Barang Mahal, Salah Siapa ?

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, diantara hal yang sedang hangat menjadi pembicaraan saat ini ialah kenaikan harga barang akibat kenaikan harga BBM.

Beraneka ragam tanggapan, analisa dan sikap. Namun tahukah anda bahwa kenaikan harga seperti yang saat ini terjadi bukanlah hal baru. Sudah sekian kali harga barang naik dan kembali naik. Dan sudah sekian kali pula kita membicarakan dan mempersoalkan kenaikan harga tersebut.

Sobat, sadarkah saudara bahwa sejatinya kenaikan yang terjadi adalah semu?

Sadarkah saudara bahwa salah satu sebab utama atau bahkan sebab utama kenaikan harga ialah hilangnya standar nilai barang dan jasa?

Ketika anda berbicara tentang nilai barang, anda pasti mengukurnya dengan uang. Namun sadarkah anda bahwa di saat yang sama nilai suatu mata uang termasuk rupiah dinilai pula dengan barang?

Bila demikian yang terjadi, manakah yang sejatinya menjadi standar nilai, uang atau barang?

Karena itu, bila kita terus mengkambing hitamkan BBM sebagai biang kenaikan harga maka kita akan terus menjadi korban permainan kaum kapitalis.

Tahukah anda bahwa sejak dahulu kala hingga kini nilai jual seekor kambing dewasa adalah sekitar 1 dinar, yaitu seberat 4,5 gram emas?

Ketahuilah saudaraku! Andai kita kembali kepada syariat islam niscaya terwujud stabilitas ekonomi.

Betapa tidak, dalam syariat islam ditetap bahwa uang -apapun bahan bakunya- adalah alat transaksi dan standar nilai. Sehingga kita dilarang untuk menjadikannya sebagai obyek ekonomi dengan memperdagangkan secara bebas.

Islam memberikan batasan yang ketat; harus tunai dan senilai, demi terwujudnya stabilitas nilai mata uang yang merupakan alat ekonomi dan standar nilai barang dan jasa.

Dalam syariat islam, obyek ekonomi adalah barang dan jasa, karena dengan keduanyalah kita memenuhi kebutuhan kita, yaitu dengan cara memakannya, atau mengenakannya, atau menghuninyya atau cara cara lainnya.

Adapun uang, maka hingga saat ini tidak seorangpun yang bisa makan uang atau berteduh dibawah uang atau berbaju uang. Namundengan uang kita bisa membeli makanan, pakaian, rumah dan berbagai kebutuhan kita lainnya.

Karena itu, marilah sobat kita membuka mata untuk dapat memahami masalah yang sebenarna, yaitu jauhnya kita dari ajaran Allah. Padahal kita beriman bahwa dunia ini adalah ciptaan Allah. Namun demikian kita membangun dunia ini dengan aturan hasil rekayasa manusia, bukan sembarang manusia, namun manusia hina dina yang kufur kepada Allah.

Fakta kehidupan kita saat ini bagaikan orang yang inhin mengoprasikan pesawat tempur canggih dengan cara cara pak kusir mengoprasikan dokar/pedatinya.

Logika sehat mengharuskan kita untuk menggunakan aturan dan syariat Allah agar dapat membangun dan memakmurkan bumi ini.

Karena itu, marilah kita kembali kepada syariat Allah, mempelajarinya, kemudian mengamalkannya dan mendakwahkannya, niscaya kedamaian dan kemakmuran terwujud.Simak janji Allah berikut:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapapun yang beramal sholeh baik lelaki ataupun wanita sedangkan ia beriman niscaya Kami memberinya kehidupan yang indah dan Kami memberinya pahala amalan mereka dengan yang lebih baik dibanding apa yang telah mereka amalkan.” (An Nahel 97)

Tidak LARI, Mengapa DIKEJAR… Tidak HILANG Mengapa KHAWATIR ?!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Biasanya Anda berlari karena mengejar sesuatu agar dia tidak menjauh… Dan biasanya Anda cemas pada sesuatu yang tertinggal karena takut dia hilang.

Namun anehnya selama ini Anda berlari mengejar rejeki, padahal rejeki Anda itu tidak akan pernah lari.

Begitu pula anda menjadi panik, bila menyadari ada harta Anda yang ketinggalan, padahal dia tidak akan hilang -jika memang itu jatah Anda-.

Sobat! ketahuilah sikap semacam ini sejatinya adalah sikap salah yang selama ini melilit Anda.

Percayalah, bahwa rejeki Anda tidak akan pernah menjauhi Anda, sehingga Anda tidak perlu berlari mengejarnya.

Sebaliknya, rejeki anda juga tidak akan hilang diambil orang, walaupun telah ketinggalan di tempat sana.

Cukuplah anda berusaha sewajarnya, yaitu dengan tetap mengindahkan batasan dan hukum syari’at, niscaya seluruh rejeki Anda pasti tetap berhasil Anda dapatkan dan tetap bisa Anda nikmati.

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda:

إن الروح الأمين نفث فى روعى أنها لا تموت نفس حتى تستوفى رزقها فأجملوا فى الطلب

“Sungguh Malaikat Jibril (Ruhul Amin) telah membisikkan ke dalam jiwaku, bahwa siapapun tidak akan mati, hingga dia benar-benar telah menikmati jatah rizkinya dg lengkap, karena itu tempuhlah jalan-jalan yang baik dalam mencarinya.” [Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqy dan lainnya].

Peringatan Dan Himbauan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Himbauan, telah menjadi kebiasaan, di saat siang tiba kita menyesali kepergian malam yang ternyata indah. Dan sebaliknya di saat malam telah tiba, kita meratapi siang yang telah pergi dan ternyata indah juga.

Di saat malam kita seakan tidak sabar menanti terbitnya mentari yang menyinari, dan ternyata setelah mentari terrik menyinari, kitapuntidak sabar menanti datangnya gelap yang menyelimuti.

Itulah manusia, yang tidak lelah untuk berkeluh kesah.

Kemarin kita menghujat, mengkritik dan seakan tidak sabar untuk melihat perubahan. Dan kini setelah perubahan terjadi, kita meratapi perginya masa lalu yang ternyata indah. Sebobroknya hari kemarin ternyata kini terasa lebih indah dibanding hari ini. Dan bisa jadi hari ini akan lebih indah dibanding hari esok dan demikian seterusnya.

Karena itu sahabatku sekalian, waspada dan waspada, perubahan bisa jadi terus melaju, bukan ke arah yang lebih baik namun semakin jauh ke arah yang lebih buruk.

Kekacauan mulai bermunculan, keamanan mulai menyingkir dan berganti dengan kekerasan.

Waspadalah dengan ucapan, tulisan, status, pertemanan, berbagai aktifitas anda, bisa jadi anda saat ini sedang dibidik oleh demit maya, atau demit manusia berhati setan atau demit jin berwajah manusia. Hasbunallah wa ni’mal wakil, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Semoga praduga dan pemahaman saya yang salah.

Yang Baik Banyak Kenapa Pilih Yang Buruk ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di dunia ini banyak terjadi keanehan, jikalau anda pikirkan, niscaya pusing kepala anda. Betapa banyak orang yang dengan sengaja mencelakakan diri sendiri, ibarat ” kutuk marani sunduk” (ikan tabus mendatangi tusuk). Betapa banyak orang yang sadar merokok itu buruk, menyebabkan banyak penyakit, uang dibakar dan bau mulut serta badan menjadi hiii, gitu, namun demikian banya yang bangga merokok dan “sombong” sehingga enggan berhenti.

Mengapa “sombong”, karena banyak dari mereka merasa “anti” alias kebal dari berbagai penyakit tersebut, bahkan tidak peduli dengan ancaman yang ia tebar melalui asap rokoknya kepada orang lain.

Betapa banyak orang yang memilih tindakan ceroboh nan berbahaya, semisal mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi, melanggar rambu lalu lintas dan tidak berhelem lagi. Seakan kepalanya “anti” terhadap kerasnya aspal jalanan, atau paling kurang memiliki kulit yang “anti gores” atau bahkan merasa punya “nyawa serep”, apalagi mengira dirinya “dijamin masuk surga”.

Ada pula orang orang yang memilih makanan atau minuman haram, dan sarat dengan resiko berat, semisal daging babi, darah ular, ganja, dan bahkan pil “koplo”, daripada makanan makanan uuuenak nan halal lagi.

Ada lagi orang orang yang memilih nama atau sebutan buruk, semisal : gentolet, cuk, gile, rawon setan, bakso bledek, getuk ketek, dari pada menyebutnya dengan kata: saudara atau antum atau sebutan baik lainnya.

Betapa banyak orang yang dengan bangga meniru perilaku hewan semisal: anjing kencing, monyet mabuk, nyengir kuda dan ucapan lainnya, dan masih banyak lagi.

Apa susahnya bagi kita apalagi bila kita menyadari bahwa kita adalah ummat islam, dan mengaku sebagai pengikut Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Agama kita mengajarkan kesantunan dalam segala hal, termasuk ketika membuat sebutan, panggilan nama, membuat ilustrasi dan lainnya.

Segala hal yang baik sepatutnya disebut dengan sebutan dan nama yang baik pula. Dan kalaupun harus membuat ilustrasi agar lebih memudahkan ingatan atau pemahaman, maka buatlah ilustrasi yang baik pula.

Sebutan dan gambaran yang buruk hanya pantas digunakan untuk menyebut dan menggambarkan kejelekan pula. Demikianlah dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita melalui sabda beliau berikut ini:

العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ، لَيْسَ لَنَا مَثَلُالسَّوْءِ»

“Orang yang menarik kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang memakan kembali muntahan yang keluar dari perutnya. Tidak pantas bagi kita ( ummat Islam ) untuk memiliki sifat atau diperumpamakan dengan sesuatu yang buruk (hina).” ( Bukhari).

imam Ibnu Hajar al Asqalany menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan bahwa menarik kembali hibah yang telah diserah terimakan adalah perbuatan tercela dan haram, sama buruk dan menjijikan dengan perilaku anjing yang dikenal sebagai hewan paling serakah ( ambisi) yang selalu menjulurkan lidahnya. Akibat dari ambisi dan keserakahan anjing menjadikannya senang melahap kembali muntahan yang telah keluar dari perutnya.

Seikhlas Buang Air Besar (Sekilas Nampak Cerdas Namun Ternyata Kejam)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Dalam banyak kesempatan bisa jadi anda berpikir pintas dan bertindak ceroboh. Akibatnya, di kemudian hari anda menyesali ucapan dan sikap anda. Terlebih setelah anda terbentur dan menyadari konsekwensi ucapan atau silap anda.

Imam Al Hasan Al Bashri mengisahkan:

” كَانُوا يَقُولُونَ إِنَّ لِسَانَ الْحَكِيمِ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِهِ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُولَ رَجَعَ إِلَى قَلْبِهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ قَالَ ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ . وَإِنَّ الْجَاهِلَ قَلْبُهُ عَلَى طَرْفِ لِسَانِهِ ، لَا يَرْجِعُ إِلَى قَلْبِهِ ، مَا أَتَى عَلَى لِسَانِهِ تَكَلَّمَ ” .

“Dahulu orang orang bijak/ ulamak berkata: sesungghnya lisan orang bijak selalu diposisikan di belakang akalnya, sehingga setiap hendak berkata sesuatu, terlebih dahulu ia memikirkannya. Bila ia merasa ucapan itu bermanfaat baginya maka ia mengucapkannya, namun bila ia anggap dapat merugikannya, maka ia menahan dirinya.

Sedangkan orang pandir, akal pikirannya seakan berada di ujung lisannya. Sehingga ia tidak pernah memikirkan ucapannya (ceroboh), apapun yang ingin ia ucapkan maka spontan ia ucapkan.”

Diantara ucapan ceroboh ialah perkataan: gambaran orang ikhlas bagaikan orang yang buang air besar atau air kecil, tidak pernah ada pamrih atau keberatan, benar-benar direlakan, bahkan kalaupun harus bayar untuk dapat BAB atau BAK maka andapun rela membayar.

Sekilas ilustrasi ini baik namun bila dipikirkan baik baik ini adalah gambaran keji yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang beriman.

BAB atau BAK anda lakukan karena anda sadar itu adalah sampah dan anda terganggu dengan keduanya sehingga andapun rela membuangnya, kalaupun tidak ada yang tahu anda tidak lagi sudi menyimpannya apalagi memanfaatkannya lagi.

Sedangkan ibadah, sedekah dan amal kebaikan lainnya maka bukan sampah yang anda berikan atau anda lakukan, namun harta yang paling bagus atau minimal bagus dan anda menyayanginya.

Harta yang anda cintailah yang anda sedekahkan dan amal kebaikan yang anda lakukan. Andai bukan karena mengharap balasan dari Allah niscaya anda tidak rela memberikannya, dan dengan senang menyimpannya. Demikianlah gambaran sedekah yang anda salurkan dengan ikhlas. Allah Taala berfirman:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kalian tidaklah dapat mencapai derajat kebajikan hingga kalian rela menginfakkan sebagian harta yang kalian sayangi. Dan tidaklah ada harta sedikitpun yang engkau infakkan melainkan Allah pasti mengetahuinya (dan membalasnya).” ( Ali Imran 92 )

Dan pada ayat lain Allah mencela orang yang hanya menginfakkan harta yang telah rusak atau cacat sehingga pemiliknya saja risih untuk melihat atau memilikinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Wahai orang orang yang beriman, infakkanlah sebagian harta yang baik dari yang kalian peroleh dan dari sebagian dari yang Kami keluarkan dari perut bumi untuk kalian. Janganlah engkau sengaja memilih harta yang buruk lalu darinya kalian berinfak, padahal kalian tidak lagi sudi mengambilnya kecuali dalam kondisi memercingkan mata (risih). Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” ( Al Baqarah 267 )

Tahukah Anda…?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

1. Hajar Aswad pernah dicongkel dan dibawa pergi ke daerah Qatif ( pesisir teluk Arab) selama beberapa tahun?

2. Pembantaian keji terhadap jamaah haji dan mayatnya banyak yang dikuburkan di dalam sumur ZAM ZAM, tempat thawaf dan antara Shof dan Marwah?

3. Meledakkan beberapa bom di sekitar Masjid Al Haram pada musim haji, sehingga banyak menelan korban dari jamaah haji?

4. Menyemprotkan gas beracun di terowongan Mina, sehingga menewaskan banyak jamaah haji?

Tahukah saudara, siapa yang pernah melakukan kejahatan keji semacam ini? Kejahatan yang tidak pernah dipikirkan apalagi dilakukan oleh Yahudi, Nasrani atau Kelompok kafir lainnya ?

Itulah sebagian kekejaman penganut Syi’ah alias Rafidhah.

Dan tahukah anda, mengapa mereka melakukan semua itu?

Jawabannya sederhana, karena mereka sedang mempersiapkan kebangkitan tokoh fiktif “imam mahdi mereka”, yang salah satu misinya ialah memindahkan hajar aswad dari Ka’bah di Mekkah ke ka’bah syi’ah di Kufah – Iraq.

Dan ka’bah syi’ah itu kini benar benar telah mereka bangun dan mereka telah memobilisasi pengikutnya untuk “berhaji” ke sana.

Antara Indigo, Kesurupan Dan Keturunan Setan?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Akhir akhir ini banyak dibicarakan adanya anak anak yang memiliki kemampuan luar biasa, mengetahui hal gaib, melihat barang gaib dan lainnya. Anak anak tersebut sering kali disebut dengan sebutan indigo.

Saya tidak ingin mempermasalahkan ada atau tidaknya anak anak dengan kemampuan tersebut. Namun saya ingin mengajak anda berpikir tentang siapakah sejatinya mereka?

Sobat, sekedar mengetahui hal yang diluar kemampuan banyak orang belum tentu disebut dengan gaib. Bisa jadi anda mengetahui ada benda di balik tembok karena sebelumnya anda telah melihatnya, sedangkan saudara anda yang belum mengetahuinya tidak bias menceritakan perihal keberadaan benda tersebut di balik tembok

Bisa jadi anda heran dengan pengetahuan teman tersebut, sehingga anda heran dan bertanya: kok engkau mengetahuinya, padahal di balik tembok?

Namun bila anda mengetahui bahwa ia telah melihat benda tersebut sebelumnya maka keherranan anda sekejap sirna.

Demikian juga halnya dengan apa yangterjadi dengan anak indigo, BISA JADI mereka telah melihatnya atau mendapat informasi dari makhluq lain (setan atau jin) yang menceritakan atau memperlihatkannya kepada anak tersebut.

Anda heran? Tidak perlu heran sobat tentang kemungkinan adanya jin atau setan yang menampakkan dirinya dan berinteraksi dengan seseorang, terlebih anak kecil yang terlahir dari orang tua yang ceroboh ketika menjalani “proses kehadiran anaknya” ke dunia ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إذا أتى أَهْلَهُ وقال: بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا، فَرُزِقَا وَلَدًا، لم يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ ولم يُسَلَّطْ عليه. متفق عليه

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya salah seorang dari kamu bila mendatangi istrinya, dan ia membaca :

بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut Nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami” kemudian mereka berdua dikaruniai anak, niscaya ia (anak) itu tidak akan diganggu (dikuasai) oleh setan, dan setan tidak akan dapat untuk menguasainya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Imam Mujahid menyatakan: “Suami yang menggauli istrinya namun tidak terlebih dahulu membaca basmalah (doa di atas) maka setan akan menempelkan dirinya di batang kemaluan lelaki itu untuk turut serta menggauli istrinya”

Hiiiii, mengerikan kalau ini yang terjadi pada anak indigo, BISA JADI mereka adalah anak yang terlahir dari kombinasi air mani manusia dan jin, atau bahkan memang anak yang terlahir dari air mani jin, ATAU PALING KURANG BERINTERAKSI ALIAS KESURUPAN hiiii ngeriiii.

SOLUSINYA : banyak banyak bacakan AL Qur’an kepada anak anak yang demikian itu halnya, semoga ALlah melindungi kita dan anak anak kita semua dari gangguan jin dan lainnya.

Antara Khalifah, Raja Dan Presiden

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Tiga sebutan di atas adalah tiga model kepemimpinan, yang tentunya memiliki metode dan cara yang berbeda.

Pada saat ini saya tidak ingin membandingkan antara ketiganya secara terperinci, apalagi memilihnya, karena saat ini bukan kapasitas kita semua apalagi saya seorang diri untuk menentukan pilihannya. Saat ini kita hanya mengikuti atau lebih tepatnya hanya menjadi penonton dan obyeknya saja, sedangkan wewenang memilihnya ada di tangan orang lain.

Saya hanya mengajak anda sedikit merenung, bahwa ketiga model kepemimpinan di atas sejatinya hanyalah sarana dan cara. Sedangkan intinya terletak pada apa dan bagaimana ketiga model pemimpin di atas dalam menjalankan roda roda pemerintahannya.

Kalaupun modelnya adalah kerajaan namun bila yang dijadikan pedoman kepemimpinannya adalah produk manusia dan dan dijalankan dengan semena-mena maka tidak ada artinya.

Bahkan kalaupun sistemnya disebut dengan khilafah, namun bila yang dijalankan adalah peraturan hasil rekayasa manusia ditambah lagi peraturan itu dijalankan secara sewena wena maka, juga tiada artinya.

Apalagi bila sistemnya adalah sistem demokrasi atau sistem hasil rekayasa menusia lainnya.

Saudaraku! Saya mengangkat tema ini karena sedang kepikiran tentang sikap konyol segelintir orang yang mencemooh sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih sistem kerajaan, seakan sistem kerajaan adalah dosa besar atau bahkan bentuk kekufuran yang wajib diperangi.

Namun di saat yang sama mereka rajin meratapi keluarga atau cucu cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dipilih menjadi pemimpin, seakan sistem kerajaan dengan proses turun temurunnya itu adalah satu kepastian yang tidak boleh diganggu gugat.

Sebagian sekte sesat saat ini rajin mengangkat isu ini sebagai jargon mereka dalam mempropagandakan paham sesatnya. Mereka berkedok sebagai pembela dan simpatisan cucu cucu keturunan Nabi yang dalam sejarah islam tidak seorangpun dari mereka dipilih menjadi khalifah atau pemimpin, kecuali sahabat Hasan bin Ali saja.

Saudaraku! Anda pasti tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah seorang raja, sehingga wajar bila kepemimpinan di tengah tengah ummatnya ditentukan dengan cara syura’ (musyawarah, bukan dengan sistem turun temurun). Karena itu waspadalah terhadap propaganda murahan mereka yang berusaha mempermainkan perasaan anda.

Sekejam Memperkosa Ibu Kandung

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! kejahatan antara sesama manusia memang beraneka ragam, terlebih di zaman seperti saat ini. Nilai nilai agama telah luntur dan hawa nafsu terus diumbar seluas luasnya.

Begitu merajalelanya kejahatan dan kemaksiatan sampai sampai dianggap “biasa alias wajar “oleh masyarakat. Terutama bila mengetahui bahwa pelaku kejahatan adalah seorang yang dikenal sebagai penjahat, apalagi penjahat berdarah dingin.

Namun demikian sangat menyakitkan bila ternyata pelaku kejahatan tersebut adalah orang yang selama ini anda kenal sebagai orang baik, rajin ibadah, penampilannya santun dan bahkan agamis.

Saudaraku! Tahukah anda bahwa diantara kejahatan yang barang kali tidak anda sadari dan banyak dari orang orang yang nampaknya baik, bahkan agamis ialah kejahatan memakan riba?

Tahukah anda, seberapa berat kejahatan pemakan riba? temukan jawabannya pada sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut:

الربا ثلاثة وسبعون بابا أيسرها مثل أن ينكح الرجل

“Riba itu ada tujuh puluh tiga model (pintu) dan dosa model riba yang paling ringan bagaikan dosa orang yang memerkosa ibu kandungnya sendiri.” (al Hakim)

Sobat! Setelah mengetahui beratnya dosa riba, Masihkah anda dapat merasa tenang menikmati atau memungut riba walaupun dengan sebutan bunga?

Masihkah anda merasa aman dengan menyimpan riba di rumah atau di brangkas atau di rekening anda?