Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Takmir Masjid Perusak Pahala Shalat Jamaah

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Saya yakin anda menyadari bahwa para takmir masjid memiliki jasa yang sangat besar. Mereka bekerja siang dan malam guna memikirkan kemaslahatan dan kemakmuran masjid; rumah Allah Taala.

Namun demikan kadang kala karena semangat besar menjadikan sebagian mereka lalai akan sebagian hukum shalat. Kelalaian mereka berakibat fatal, alias rusaknya pahala shalat jamaah satu masjid.

Sobat, sebagian takmir masjid begitu bersemangat untuk menggalang dana dari jamaah masjid guna membiayai kepentingan masjid, sehingga mereka mengedarkan kotak infaq pada saat khatib jum’at berkhutbah. Dengan harapan mendapatkan dana sebanyak mungkin dan memudahkan jamaah masjid untuk menyalurkan donasinya.

Namun demikian, nampaknya mereka lalai bahwa perputaran kotak infak di saat khathib berkhutbah mengancam keutuhan Pahala shalat jum’at.

Seharusnya perputtan itu dilakukan sebelum khathib berkhutbah atau setelah shalat atau dengan meletakkan kotak infak di pintu masjid. Dengan demikian setiap jamaah bisa menyalurkan donasinya pada saat masuk atau keluar dari masjid tanpa mengganggu kekhidmatan shalat jum’at.

Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda:

من توضأ فأحسن الوضوء ثم أتى الجمعة، فاستمع وأنصت، غفر له ما بينه وبين الجمعة وزيادة ثلاثة أيام، ومن مس الحصى، فقد لغا رواه مسلم.

“Barang siapa berwudlu lalu ia menyempurnakan wuunya, selanjutnya ia pergi ke masjid untuk mendirikan shalat jum’at. Setibanya di masjid ia diam dan dengan khidmat mendengarkan khutbah. Maka dosa dosanya selama satu pekan diampuni ditambah lagi dosa dosanya selama tiga hari lainnya juga diampuni. Dan barang siapa menyentuh kerikil alias berpaling dari mendengarkan khutbah karena menyentuh kerikil maka ia telah berbuat sia sia ( kehilangan pahala).” Riwayat Muslim.

Bila menyentuh kerikil saja tercela apalahi sampai memasukkan uang lalu menggeser kotak kepada jamaah di sebelahnya.

Allahu al musta’an.

Pahit, Namun Nyata, Karena Itu Anda Harus Waspada

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Cemburu adalah satu hal yang sering kali menjadi awal dari permasalahan. Bukan sekedar masalah kecil, namun bisa jadi masalah yang terus membesar dan akhirnya meledak karena terlalu besar.

Rumah tangga sering kali berantakan berawal dari cemburu yang tidak dikendalikan. Sahabat berbalik menjadi musuh juga sering terjadi akibat dari cemburu yang terus diikuti.

Demkianlah seterusnya, cemburu yang tidak disikapi dengan bijak dapat menjadi awal dari permasalahan. Kondisi ini menimpa setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk para ulama’, ustadz, dan da’i. Sesama mereka terjadi rasa cemburu yang harus diwaspadai dan dikendalikan. Bila tidak, niscaya terjadi permasalahan serius lalu berkembang liar kemana mana, dan akhirnya memakan korban, bukan hanya mereka namun menyeret seluruh murid dan pengikutnya.

Sahabat Ibnu Abbas mengutarakan fakta ini dan memberikan resep tepat dalam mensikapinya:

اسْتَمِعُوا عِلْمَ الْعُلَمَاءِ وَلَا تُصَدِّقُوا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمْ أَشَدُّ تَغَايُرًا مِنَ التِّيُوسِ فِي زُرُوبِهَا

“Timbalah ilmu dari para ulama’, namun janganlah engkau mempercayai ucapan mereka tentang kawannya sesama ulama’. Demi Allah Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kecemburuan antara mereka itu lebih parah dibandingkan kecemburuan antara domba-domba jantan yang disatukan dalam satu kandang. (jami’ bayanil ilmi wa fadhli oleh Ibnu Abdil Bar)

Fakta ini tentu terasa pahit, bahkan mungkin anda tidak percaya, namun demikianlah kenyataannya. Mungkin juga anda berkata: kok demikian, bukankah mereka itu berilmu, masak bisa terjerumuh ke dalam kecemburuan alias iri ?

Benar sobat, mereka berilmu lagi bertaqwa, namun tetap saja anda harus menyadari mereka adalah manusia biasa yang tetap saja harus menghadapi cobaan Allah dan godaan setan. Dan pada setiap cobaan dan godaan ada yang berhasil melaluinya dengan selamat namun ada pula yang terperosok.

Apapun yang terjadi pada mereka, namun tetap saja anda hanya mempertanggung jawabkan amalan anda, karena itulah kalau mereka terperosok dalam kesalahan bukan berarti anda harus ikut memerosokkan diri. Bersikaplah bijak, sebagaimana yang dipesankan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallallahu ‘anhuma, timba ilmunya, sedangkan berbagai hal yang berbau kecemburuan sesama para ulama’, ustadz, dan da’i sepatutnya anda abaikan dan serahkan sepenuhnya kepada Allah

Anda Mengorbankan Sapi Sedangkan Mereka Mengorbankan Saudara Kita

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Hari hari ini, kita sibuk dengan urusan penyembelihan korban sapi, kambing atau onta Namun sadarkah anda bahwa di sisi lain dari belahan dunia kita, ummat-ummat lain juga sibuk dengan mengorbankan saudara saudara kita ummat islam. Tua muda, pria dan wanita mereka bantai tanpa kenal rasa iba.

Bila kita hari hari ini msibuk mengasah pisau untuk menyembelih hewan ternak dan memotong dagingnya, namun mereka sibuk membidikkan senapan dan senjatanya ke perkampungan ummat Islam.

Saudaraku! Masihkah anda dapat menikmati daging hewan korban anda, sedangkan di sisi lain dari bumi Allah, saudara kita terus bersimbah darah dan meregang nyawa?

Sampai kapankah anda dan tentunya juga saya hanya mampu menajamkan pisau sembelihan . Sungguh pilu dan memilukan kondisi yang sedang melilit kita; ummat Islam.

Saudaraku! Namun demkian, mungkinkah pisau kita bisa tajam dan senjata kita dapat kita arahkan kepada musuh musuh Allah, bila ternyata hati kita tumpul bila memandang orang kafir dan tajam bila memandang saudara sendiri sesama ummat Islam?

Mungkinkah kita bernyali untuk mengobarkan perlawanan fisik, bila ternyata mental, idiologi dan perilaku musuh-musuh Allah terus melekat pada diri kita?

Sobat! Sadarilah bahwa perjuangan dan perlawanan akan bermanfaat bila diawali dari perlawanan batin dengan membangun iman dan dilanjutkan dengan perlawanan lainnya.

Adapun bila yang kita lakukan sebaliknya, berteriak dan bergerak namun batinnya tidur nyenyak, pikiran hanyut dalam buaian budaya musuh, tentu semuanya akan sia-sia.

Simaklah resep manjur perjuangan yang diramukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tergambar pada hadits berikut ini:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Tidak lama lagi ummat-ummat lain akan berlomba lomba untuk mancabik cabik kalian bagaikan para penyantap hidangan yang sedang menikmati hidangannya. Spontan seorang sahabat bertanya: apakah semua itu terjadi karena kita berjumlah keci kala itu? Rasulullah menjawab: Bahkan sebaliknya, kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian tidak ada nilai/bobotnya bagaikan buih yang dibawa hanyut oleh banjir. Dan sungguh Allah benar-benar telah menghilangkan rasa takut kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian. Sebagaimana Allah juga mencampakkan penyakit al wahanu ke dalam jiwa kalian. Lagi-lagi ada seseorang yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan al wahanu? Beliau menjawab: cinta kepada urusan dunia dan benci/takut akan kematian.” (Abu Dawud dll).

Marilah, sobat momentum Iedul Adhha ini kita jadikan sebagai kilas balik bagi diri kita asah iman kita agar lebih tajam dibanding pisau sembelihan yang kita gunakan untuk menyebelih hewan kurban kita. Tidakkah kita ingat bagaimana iman dan semangat Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam yang begitu kuat sehingga beliau mampu mengorbankan segala sesuatu demi tegaknya agama Allah. Sampaipun ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra kesayangannya, yaitu Nabi Ismail alaihissalam, tanpa ragu sedikitpun beliau menjalankan perintah itu. Ini adalah salah satu hikmah yang semestinya kita petik dari semarak perayaan Iedul Adhha dan penyembelihan hewan kurban.

Sudahkah anda menyadari dan berusaha menanamkan semangat tersebut dalam diri anda dan juga dalam diri keluarga anda?

Wisata Kuliner

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Akhir akhir ini, sebutan wisata semakin beraneka ragam, diantaranya ialah wisata kuliner. Bepergian jauh, hanya untuk memuaskan selera makan dan mencoba berbagai menu dan masakan baru dan tentunya lezat.

Bukan hanya mencoba atau mencicipi, namun benar benar memuaskan dan melampiaskan seluruh selera makannya. Bahkan bukan hanya puas, bahkan sebagian orang benar benar memenuhi seluruh kantong perutnya hingga seluruh angin di lambungnya terusir, alias hingga gelegean ( huuugh).

Saya tidak tahu, siapakah yang pertama kali mengenalkan wisata kuliner.

Bagi sebagian orang, wisata ini telah menjadi hobi dan kegiatan rutin yang dilakukan bersama keluarganya dan bahkan bersama rombongan besar di setiap akhir pekan. Setiap saat mereka merencanakan dan mengejar berbagai informasi tentang pusat pusat jajanan atau makanan lezat. Seakan akan mereka bekerja sepekan penuh atau sebulan penuh agar dapat makan alias hidupnya seakan untuk makan, padahal sejatinya kita makan agar bisa bertahan hidup.

Bagi mereka, acara ini tentu saja mengasyikkan dan menyenangkan, dan patut dipropagandakan. Padahal acara semacam ini sepatutnya diwaspadai, karena kurang sejalan dengan adab dan tujuan hidup orang orang yang beriman. Allah Taala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Sedangkan orang orang kafir mereka bersenang senang dan melampiaskan selera makan mereka sebagaimana hewan ternak menuruti hasrat makannya, dan nerakalah tempat kembali mereka.” ( Muhammad 12)

Sebutir Nasi

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Betapa sering anda merasakan nikmatnya hidangan makan pagi atau siang atau malam. Dengan lahap anda menyantap hidangan tersebut hingga kenyang.

Namun pernahkah anda membayangkan bahwa di saat anda sedang makan, tiba tiba anda melihat seekor cacing keluar dari makanan yang sedang anda makan. Kira kira apa yang akan lakukan? Mungkinkah anda masih bisa menikmati makanan tersebut? Atau sebaliknya, anda berhenti makan dan bisa jadi anda muntah muntah.

Kalau boleh tahu, kira kira apa yang menyebabkan anda berhenti makan? Anda merasa jijik? takut terserang penyakit dan bayangan mengerikan lainnya yang dapat mencelakakan anda?

Sobat! Sah-sah saja anda untuk beralasan, namun pernahkah anda menyadari bahwa selezat apapun makanan yang anda miliki, bisa jadi menyebabkan anda binasa.

Apapun alasan anda, itu sepenuhnya hak anda. Namun demikian pernahkah anda membayangkan, andai ada sebutir nasi yang salah masuk sehingga masuk ke saluran pernapasan anda dan menyumbat lubang nafas di paru paru anda, kira kira apa yang anda alami saat itu?

Masihkah anda bisa menikmati lezatnya hidangan anda? Alih alih menikmati, sekedar bertahan hidup saja sudah sangat luar biasa.

Bila demikian, masihkan anda merasa aman setiap kali makan? Dan masihkah anda merasa bahwa hidup ini untuk dinikmati dengan melampiaskan segala syahwat dan selera termasuk selera makan?

Ketahuilah sobat! Sejatinya kita makan agar dapat bertahan hidup sehingga bisa menegakkan ibadah kepada Allah, yang merupakan kenikmatan paling lezat di dunia ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Az Dzariyat 56)

Alangkah hinanya bila hidup kita hanya untuk makan dan melampiaskan syahwat semata.

Susahnya Setengah Mati

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Woow, mengerikan sekali dengernya, seakan pernah mencicipi rasanya mati padahal tidak pernah merasakannya.

Terlebih lagi ucapan semacam ini adalah bentuk keluh kesah yang tidak sepatutnya anda ucapkan sebagai seorang yang beriman kepada Allah.

Ucapan semacam ini selain bentuk keluh kesah juga berdampak ngatif sehingga meruntuhkan semangat dan mental anda sendiri.

Dalam kondisi sesulit apapun, orang yang beriman senantiasa menyerahkan urusannya kepada Allah. Dan bila anda telah menyerahkannya kepada Allah maka percayalah bahwa urusan anda pasti baik.

Dan bila Allah yang mengurusi permasalahan anda maka tiada yang susah bagi-Nya. Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bila menghadapi kesusahan beliau berdoa dengan berkata:

اللهم لا سهل الا ما جعلته سهلا وانت تجعل الحزن اذا شئت سهلا

“Allahumma Laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa”

“Ya Allah tiada kemudahan selain yang Engkau jadikan mudah dang Engkau sungguh kuasa menjadikan sesuatu yang sulit -bila Engkau menghendakinya- menjadi mudah.” (Ibnu Hibban dan lainnya)

Waah, Tambah Muda Saja Anda!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Apa dan bagaimana perasaan anda tatkala mendapat pujian semisal di atas? Teman yang telah sekian lama berpisah, lalu ketika berjumpa ia dengan sungguh-sungguh berkata: waah, engkau awet muda atau bahkan lebih muda daripada dulu?

Anda Merasa senang? anda merasa tersanjung? Dan ketika anda mendapatkan cermin, segera anda bercermin memperhatikan dengan seksama wajah anda. Sambil senyam senyum, dan tersipu dengan penuh rasa girang atau bangga. Anda terbuai oleh sanjungan : lebih muda atau awet muda, apalagi bila yang memuji anda adalah lawan jenis yang tampan atau cantik jelita. Waah, bisa klepek klepek dan salah tingkah.

Sobat! Percayalah, bahwa siapapun yang mengatakan sanjungan tersebut kepada anda sejatinya ia telah salah atau bahkan dusta. Dan lebih mengherankan lagi, anda yang sepenuhnya mengetahui bahwa sanjungan itu adalah dusta dan menyelisihi fakta, namun ternyata bangga. Bangga ditipu atau bangga dibodohi?

Sobat! Sadarilah bahwa urusan tua atau muda yang menentukan bukanlah persepsi atau pujian orang, namun umur anda. Dan anda pasti menyadari bahwa umur anda tiada pernah berputar mundur. Alih alih mundur, sekedar berhenti saja tidak mungkin, sehingga dapat dipastikan pujian di atas adalah dusta dan membodohi.

Bila demikian halnya, mengapa anda merasa senang dan kadang kala hingga lupa daratan dengan pujian dusta tersebut?

Sobat, ketahuilah bangga atau senang dengan pujian dusta semacam di atas adalah salah satu penyakit kronis yang harus segera diobati. Sikap pandir semacam ini adalah salah satu indikasi nyata bahwa diri kita sedang dijangkiti penyakit pandir yang telah membelenggu orang orang Yahudi .

Allah Ta’ala berfirman:

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Jangan engkau kira bahwa orang orang yang girang dengan perbuatan mereka dan senang untuk dipuji dengan sesuatu yang tidak mereka lakukan, maka janganlah engkau mengira bahwa mereka dapat selamat dari siksa, dan mereka itu pastilah mendapat siksa yang pedih.” (Ali Imran 188)

Ooo, Dasar Tidak Pernah Makan Bangku Sekolah!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Di masyarakat ada celaan yang unik yaitu : “Tidak pernah makan bangku sekolah” . Celaan ini biasanya di arahkan kepada orang-orang yang berpikir atau bersikap bodoh. Namun demikian, celaan ini tentu saja sangat aneh, karena bila dipahami secara terbalik, berati orang pandai adalah orang yang pernah makan bangku sekolah.

Bila ini benar, maka tidak ada orang yang layak disebut pandai, karena sepandai apapun anda, saya yakin tidak pernah makan bangku sekolah. Bahkan kalau anda benar-benar pernah memakan bangku sekolah, maka saya meragukan kepandaian anda.

Anda bisa bayangkan, betapa pusing dan bingungnya orang asing baru belajar bahasa Indonesia, bila mendengar ucapan di atas. Bisa jadi mereka salah persepsi dan beranggapan bahwa bangsa indonesia ganas dan rakus, sampai bangku sekolahpun dilahap hingga habis.

Saudaraku! Bisa saja anda membela dan berusaha menjelaskan maksud ucapan di atas, namun munurut saya ucapan di atas tetap saja menyisakan keunikannya tersendiri.

Sobat! Kejadian di atas, hanyalah contoh sederhana bahwa untuk dapat memahami satu ucapan, sampaipun ucapan sederhana bahkan celaan semacam ini, anda harus memahami budaya dan berbagai hal lainnya. Sekedar memahami arti kata per kata tidaklah cukup.

Bila anda memahami dan menyadari hal ini, tentu sudah sepantasnya andapun menyadari bahwa untuk memahami Al Qur’an, Hadits, dan juga perkataan ulama’ dibutuhkan keahlian dan berbagai disiplin ilmu pendukung lainnya atau yang sering disebut dengan ilmu alat. Ada ilmu usul tafsir, ushul fiqih, musthalah hadits, maqashid as syar’iyah, qawaidh fiqhiyah dll.

Karena itu sudah sepatutnya kita semua mawas diri, bahwa ilmu agama bukanlah murah atau hina lebih murah atau lebih hina dibanding ilmu bahasa indonesia. Karena itu hormatilah ilmu agama kita melebihi penghormatan anda kepada ilmu sastra bahasa indonesia atau lainnya.

Mantan Istri Atau Mantan Suami ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Unik memang kehidupan dunia ini, betapa sering manusia merasa dirinya sempurna walaupun nyata-nyata salah dan menyelisihi fakta.

Setiap insan pasti menyadari bahwa hanya ada satu pilihan baginya, yaitu menjadi wanita atau pria. Saya yakin semua yang mengikuti status saya hanya memiliki satu jenis kelamin: pria atau wanta .

Namun demikian, banyak perbedaan, ada yang bilang enak jadi mantan suami ada pula yang berkata enak jadi mantan istri.

Sadarlah! bahwa hanya ada satu yang anda dapatkan yaitu : menerima. Siapapun diri anda, anda tidak berkuasa untuk memilih menjadi wanita atau pria.

Anda hanya menjalani kodrat ilahi, sebagai wanita atau pria, tanpa ada kuasa sedikitpun untuk memilih atau menolak kehendak Allah.

Bisa jadi dahulu orang tua anda berusaha dengan segala cara untuk menjadikan anda wanita atau pria. Namun toh akhirnya ketentuan Allah-lah yang terwujud pada diri anda.

Demikian pula dengan urusan mantan istri atau mantan suami, bisa jadi anda telah berusaha mati-matian untuk memilih pasangan hidup, dan berusaha semaksimal yang bisa anda lakukan untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Namun demikian, tetap saja kehendak dan keputusan Allah-lah yang menang dan terwujud pada diri anda. Karena itu terima dan syukurilah apapun keputusan Allah pada diri anda. Dan percayalah bahwa keputusan ALlah yang terbaik untuk anda.

Inilah salah satu hikmah dari sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu memuji Allah dalam segala kondisinya.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».

“Aisyah, mengisahkan: Dahulu Rasulullah jika mendapatkan hal yang beliau sukai, beliau mengucapkan : Segala puji hanya milik Allah, yang berkat kenikmatan-Nya, kebaikan ini dapat terwujud, Sedangkan jika beliau mendapatkan hal yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan “Segala puji hanya milik ALlah, atas segala kondisi yang terjadi.” (Ibnu Majah).

Rawe Rawe Rantas, Malang Malang Putung!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Ucapan di atas adalah salah satu semboyan para pejuang yang pantang menyerah dan berjiwa besar rela berkorban demi membela kebenaran. Orang-orang dengan jiwa besar biasa memekikkan semboyan di atas, demi tegaknya kebenaran dan runtuhnya keangkara murkaan.

Dahulu, di saat nenek moyang kita berjuang, semboyan di atas benar benar berhasil mengobarkan semangat juang melawan penjajahan dan kebatilan. Karena itu sebagai generasi penerus, sudah sepatutnya semboyan ini kita warisi dan terus kita kobarkan demi tegaknya kebenaran di atas keangkara murkaan. Penjajah “KOMPENI” dan “Jepang” berhasil diusir dan kemerdekaanpun terwujud.

Namun demikian, -namanya juga manusia- semboyan indah di atas kini banyak disalah pahami dan diamalkan secara menyimpang. Kita sebagai generasi penerus, dengan berkedokkan pekik penjuang di atas, menghalalkan segala macam cara dan memaksakan kehendak demi memenuhi keserakahan atau ambisi walaupun harus mengorbankan kebenaran. Akibatnya, kebenaran terjungkal dan kebatilan meraja lela, kewajiban terabaikan bahkan diingkari sedangkan keserakahan dan syahwat birahi di “SEMBAH” dan dipatuhi.

Berkedokkan semboyan di atas, banyak anak durhaka kepada orang tua, saudara memutus tali silaturrahmi, sahabat saling memusuhi dan keluarga tercerai berai demi menuruti syahwat dan ambisi. Mereka mengira bahwa semboyan di atas dapat menyegerakan rejeki dan melipat gandakan keberuntungan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرَمَ).
“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan mencari rizki yang halal dan tinggalkan yang haram.” Riwayat Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim.

Ya Allah, lindungilah kami agar tidak menjadi budak nafsu birahi dan keserakahan ambisi. Amiin.