Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Antara Bulan Dan Matahari

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Menipu, alias berdusta adalah perbuatan keji nan kejam. Setiap orang benci kepada penipu dan perilakunya. Namun demikian, betapa banyak di dunia ini -tanpa sadar- kita menipu diri sendiri, dan seluruh orang di sekitar ini. Bahkan sampaipun setelah menyadari bahwa telah menipu diri sendiri, kita tidak kuasa atau paling kurang merasa berat untuk berbuat atau berkata jujur.

Salah satu buktinya, betapa sering anda berkata : bulan januari, atau bulan desember. Padahal tahukah anda bahwa penentuan Januari atau Desember atau lainnya tidak menggunakan bulan? Bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan bulan? Penentuan januari dan bulan bulan masehi lainnya berdasarkan perputaran Matahari.

Karena itu saya punya usul untuk kita ganti dengan berkata : Matahari Januari, dan bukan Bulan januari.

Beda halnya dengan Bulan syawwal, Bulan Ramadhan atau bulan bulan hijriyah lainnya. Semua itu pantas disebut dengan bulan, mengingat penentuannya benar benar berdasarkan perjalanan bulan.

Mungkin anda bertanya: kok bisa ya, kita bahkan masyarakat dunia berkata bulan januari bukan matahari januari?

Sobat, kalau boleh saya mereka reka: nampaknya ini adalah bagian dari efek buruk perang salib dan keterpurukan ummat Islam yang telah berkiblat kepada ummat lainya. Sehingga untuk urusan penentuan waktu ikut ikutan menggunakan perhitungan posisi matahari bukan dengan perputaran bulan.

Sobat!, marilah kita belajar dan membiasakan diri untuk jujur dan meninggalkan kedustaan, yaitu dengan menggunakan penanggalan hijriyah yang benar benar pantas disebut dengan bulan. He he he, anda tidak setuju? Ya silahkan, toh status ini hanya persepsi atau perkiraan saja.

Kutuk Marani Sunduk (Ikan Gabus Menghampiri Tusuk)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Pepatah, walaupun susah untuk ditelusuri asal usulnya, namun sering kali sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga.

Pengalaman hidup orang orang terdahulu yang tersirat dalam pepatah tersebut sepatutnya menjadi obor bagi kita dalam menjalani dinamika kehidupan. Dengan demikian, kita dapat mengulang dan bahkan melanjutkan keberhasilan yang telah mereka torehkan dalam lembaran sejarah dan menghindari kegagalan atau kesalahan yang menimpa mereka.

Dengan cara demikian kita pantas menyandang gelar sebagai: GENERASI PENERUS.

Diantara pepatah bijak masyarakat jawa yang saat ini -saya rasa- penting untuk kita amalkan ialah pepatah: KUTUK MARANI SUNDUK.

Pelajaran bijak yang dapat kita serap dari pepatah ini ialah: sepatutnya kita bersikap waspada, menjauhi petaka bukan malah mendekati dan mengundang bencana yang dapat menyusahkan diri sendiri.

Hari hari ini, ummat muslm diresahkan dengan pahaman dan perilaku ISIS (Islamic State Of Iraq And Syria).

Namun demikian, sebagian pemuda yang bersikap bak (kutuk marani sunduk) membuat plesetan dari kata tersebut dengan berkata: Istri Sholehah Idaman Suami. Mereka mengaku sebagai ISIS atau memuja muja ISIS, dengan arti ingin mendapatkan istri sholehah.

Apapun alasan dan plesetannya, namun tetap saja plesetan itu memancing masalah dan rentan dipermasalahkan. Perilaku ini adalah salah satu contoh nyata dari pepatah bijak (Kutuk Marani Sunduk).

ISIS Salah Siapa ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Tema tentang ISIS (Islamic State Of Iraq And Syria) atau Negara Islam Irak dan Syam (Siria) kini benar benar menjadi perhatian dunia. Bak bola liar, siapapun bisa memanfaatkan isu ISIS untuk mencela atau menuduh atau bertindak.

Pada kesempatan ini saya tidak ingin mengupas siapa dan mengapa ISIS ada, namun saya ingin mengajak anda untuk merenungkan: siapakah yang bertanggung jawab atas menyebarnya gerakan dan paham ISIS?

Banyak kalangan dengan rame rame mengarahkan telunjuknya kepada ummat Islam secara umum, dan kaum berjenggot lagi bercelana cingkrang secara khusus. Mereka beranggapan bahwa masyarakat dengan penampilan semacam itulah yang paling bertanggung jawab atas menyebarnya paham ISIS.

Sobat ! Di negara demokrasi yang menganut kebebasan berpendapat dan berserikat seperti negri kita tercinta ini, mustahil bagi siapapun dapat membatasi masyarakat dari berpendapat dan bersikap. Semua pihak merasa berwenang untuk berpendapat dan bahkan bersikap, sampaipun dalam hal yang sejatinya mereka sendiri tidak memahaminya.

Sekali lagi, saya tidak ingin memaksakan pendapat tentang siapa dan apa itu ISIS, namun saya ingin mengajak anda untuk berpikir, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas menyebarnya gerakan ISIS. Karena menelusuri siapa dan bagaimana gerakan ISIS pastilah memancing perdebatan panjang.

Sahabatku! Izinkan saya membuat satu ilustrasi sederhana bagi masalah ISIS ini. Kalau anda adalah seorang ayah atau ibu, lalu suatu saat dikejutkan dengan putra anda yang telah kecanduan narkoba. Dalam kondisi seperti ini, siapakah yang bertanggung jawab atas penyimpangan putra anda?

Mungkinkah anda akan berkata: ini gara gara teman-temannya para pecandu narkoba?

Ataukah anda akan berkata: Ini gara gara anak saya memang terlahir dengan bakat kecanduan narkoba?

Ataukah anda akan berkata: dasar anak-anak muda, yang seperti itulah kelakuannya, semua pemuda pastilah pecandu narkoba?

Ataukah anda akan berkata: anakku kecanduan narkoba karena polisi tidak memberantas nerkoba?

Ataukah anda akan berkata: ini karena para kiyai, atau Departemen Agama tidak giat memerangi penyebaran narkoba?

Atau mungkinkah anda berkata: ini karena sekolah anak saya tidak membentengi anak saya dari para penjaja narkoba?

Dan akhirnya anda berkesimpulan: apapun yang dilakukan oleh anak saya adalah sepenuhnya kesalahan orang lain, sedangkan saya sebagai orang tua sepenuhnya bebas dari segala tanggung jawab atas kesalahannya?

Dan selanjutnya, yang berkewajiban mengobati perilaku menyimpang putra anda adalah orang lain, sedangkan anda tetap bersikap acuh tak acuh serta terus mengarahkan telunjuk anda kepada orang lain.

Sahabat! Menurut hemat anda, siapakah yang bertanggung jawab atas terjeratnya sebagian pemuda kita oleh paham ISIS?, menurut hemat anda tanggung jawab siapa?

Apakah sepenuhnya tanggung jawab para kiyai, guru ngaji, dan juru dakwah yang salah mengasuh?

Ataukah Departeman Pendidikan yang tidak mampu memberikan pendidikan yang baik?

Ataukah Departemen Agama yang tidak mampu membina keagamaan masyarakat?

Ataukah kepolisian yang tidak mampu menangkal menyusupnya oknum pembawa paham ISIS?

Ataukah para orang tua yang gagal mendidik anak anaknya?

Ataukah Departemen Sosial yang gagal membina kehidupan sosial masyarakat?

Bayangkan bila masing masing pihak di atas rajin mengambing hitamkan pihak lain dan cuci tangan sebersih-bersihnya dari tanggung jawab yang ia pikul, mungkinkah permasalahan ISIS atau lainnya dapat diselesaikan?

Menurut hemat saya: masalah ISIS atau permasalahan lainnya yang dihadapi oleh bangsa kita adalah tanggung jawab kita bersama. Sudah saatnya kita, bersama seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan bahu membahu berkarya dan membangun bangsa, bukan malah centang berentang karena saling tuding dan saling menyalahkan.

Bangunan Bersejarah (Cagar Budaya)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di negri kita, banyak ditemukan bangunan bersejarah, bahkan sebagiannya telah diklasifikasikan sebagai cagar budaya. Akibatnya, bangunan kuno tersebut tidak boleh dihancurkan dan kalaupun dipugar, maka harus dibangun kembali seperti sedia kala, bahannya boleh baru namun bentuk dan modelnya harus mengikuti bentuk semula.

Apabila anda melanggar ketentuan ini niscaya anda berurusan dengan penegak hukum, dan sudah tentu urusannya bisa panjang, seakan akan anda telah berbuat kejahatan besar.

Kalau anda bertanya; apasih artinya cagar budaya? Jawabannya sederhana: “Kenangan sejarah agar anak cucu mengenal masa lalu atau alasan serupa lainnya.”

Wah simpel sekali kalau begitu? Ya nampaknya memang begitu.

Nah, kalau bangunan cagar budaya tidak boleh dirubah harus dipertahankan dan ternyata perilaku semacam ini dapat diterima bahkan menjadi kesepakatan internasional, lalu mengapa banyak yang sewot bila kita berusaha mempertahankan kemurnian agama?

Urusan agama tidak boleh dirubah bentuk fungsi dan tatacaranya. Kalaupun terjadi “pemugaran” maka harus dikembalikan seperti sedia kala alias “tajdid” .

Mengapa banyak ummat islam yang dapat menerima konsep “cagar budaya” namun menentang upaya pemurnian agama yang artinya ialah menerapkan islam seperti yang diamalkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya?

Padahal bila kita memurnikan agama seperti sediakalanya maka dijamin benar dan sesuai petunjuk nabi. Namun bila kita mempertahankan cagar budaya maka sangat menyusahkan, biaya perawatannya mahal, kegunaannya kurang maksimal dan alih-alih bisa mengancam keselamatan karena kondisi bangunan yang telah rapuh.

Ayo sobatku! kita semua mengenal Islam yang murni dan mengamalkannya serta membersihkan diri dari segala bentuk modifikasi alias bid’ah dalam urusan ibadah kepada Allah.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Dasar Binatang, Kera, Anjing…..

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Uuukh, kesel banget deh, dan akhirnya terlontarlah makian dan umpatan semisal di atas. Rasanya puas kalau sudah bisa mengumpat seperti di atas, seakan rasa kesalnya terbayarkan.

Umpatan di atas seakan menggambarkan bahwa bila seseorang telah dianggap serupa dengan binatang, kera atau anjing maka ia terhina. Bukankah demikian sobatku?

Di satu sisi, menyerupai perilaku hewan dianggap hina sehingga dijadikan sebagai bahan umpatan. Namun di lain kesempatan meniru hewan dianggap kebanggaan dan kelebihan. Ada yang sengaja meniru gerakan kera, anjing kencing (jurus kera atau anjing kencing) ada pula yang menato tubuhnya agar menyerupai hewan; ular, burung atau lainnya. Dan masih banyak lagi upaya sadar untuk meniru hewan, baik dalam hal penampilan maupun perilakunya.

Mungkinkah fenomena di atas adalah salah satu bentuk hukuman Allah yang disegerakan di dunia sebelum di akhirat kepada orang-orang yang menyimpang dan melanggar syariat-Nya. Dalam beberapa kesempatan Allah menegaskan bahwa orang-orang yang kufur disamakan dengan hewan bahkan lebih hina dari hewan.

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau berakal, tiadalah mereka itu melainkan menyerupai hewan, bahkan mereka lebih buruk jalannya.” (Furqan 44)

Bisa saja anda mengutarakan pembelaan atau alasan atas upaya sadar sebagian orang untuk meniru hewan, namun tetap saja anda mengakui bahwa semua itu adalah meniru hewan. Namanya juga meniru, tentu yang ditiru biasanya lebih baik dibanding yang meniru.

Saya yakin anda mengakui bahwa tidak ada manusia yang berakal dengan sadar meniru sesuatu yang ia anggap buruk atau hina.

Aduuh, ngeri juga ya?

Ngelus Dada Melihatnya

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Mungkin anda pernah berkata: ngelus dada, melihatnya! Ucapan ini anda ucapkan ketika melihat orang lain yang sedang menderita dan penderitaannya begitu besar untuk anda bayangkan. Bukankah demikian?

Suatu saat saya mendengarkan seseorang bercerita tentang seorang ahli ibadah, namun hidup dalam kemiskinan yang sangat. Orang yang bercerita seakan tidak kuasa untuk sekedar untuk menceritakan kisah orang tersebut secara terperinci. Dan akhirnya ia berkata: setiap mengingat kondisi orang tersebut, saya hanya bisa mengelus dada! Ibadahnya tekun, ngajinya pinter, namun hidupnya sangat miskin.

Cerita yang terdengar pilu dan bahkan seakan menyayat hati setiap insan yang mendengarnya. Namun demikian, suatu saat saya termenung memikirkan kisah tersebut. Mengapa kita begitu tersentuh dan iba sehingga mengelus dada, karena menyaksikan orang sholeh namun miskin?

Akan tetapi, di saat lain, sikap tersebut benar benar sirna. Kita terkagum kagum melihat orang yang tampan atau cantik rupawan, dan kaya raya, namun bergelimang dalam kekufuran atau kemaksiatan?

Bukankah, derita yang menanti pelaku dosa dan kekufuran lebih besar dibanding derita yang dipikul oleh orang miskin?

Seberat apapun derita orang sholeh, maka itu hanya sesaat! Tidak lama lagi akan berganti dengan kenikmatan yang tiada tara dan tiada kira. Seberat apapun deritanya di dunia, maka sekejap terlupakan sejak ia menginjakkan kakinya di pintu surga .

Namun sebahagia apapun orang kaya, cantik jelita dan tampan rupawan, namun fasik atau bahkan kafir maka itu hanya sesaat dan segera berganti dengan siksa neraka. Semua kenikmatan yang pernah mereka dapatkan di dunia pasti terlupakan sejak pertama kali merasakan sengatan siksa di neraka. Demikianlah dikisahkan dalam hadits riwayat Imam Muslim.

Mungkinkah sikap kita ini mencerminkan betapa lemahnya kadar iman kita yang masih silau dengan gemerlap kemewahan dunia dan minder atau malu dengan kebahagiaan jiwa orang beriman di dunia hingga di akhirat?

Nonton Singa Sirkus, Siapa Takut?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat, apa kesan yang terbetik di benak anda tatkala melihat singa jantan dengan rambut yang memenuhi leher dan kepalanya?

Waah, gagah dan menyeramkan, sekedar membayangkan saja anda sudah ciut nyali, apalagi benar benar berhadapan dengannya. Namun demikian, apa yang menjadikan anda berani dan bahkan membawa serta anak anak anda yang masih kecil untuk menonton atraksi singa sirkus?

Mungkin anda berkata: ‘karena singa sikus sudah jinak dan didampingi oleh pawangnya dan sedang berada di kandangnya.’

Andai singa sirkus lepas dari kandangnya sedangkan pawangnya lagi pergi, niscaya anda bersama keluarga anda lari terbirit birit dan tunggang langgang. Anda kembali takut karena sang pawang yang mampu menjinakkan singa sedang pergi. Bila tidak menjauh bisa jadi singat tersebut mencelakakan anda sekeluarga. Bukankah demikian sobat?

Kondisi di atas hanyalah ilustrasi sederhana yang sepatutnya anda renungkan baik baik.

Betapa sering anda merasa takut, gentar, ciut nyali dari berbagai hal, misalnya setan, hantu, atasan (juragan) dan lainnya. Adanya ketakutan tersebut karena anda mengira bahwa mereka semua bisa saja mencelakakan anda. Bukankah demikian sobat?

Andai anda sadar dan beriman bahwa semua itu adalah makhluk Allah yang lemah dan tiada kuasa berbuat apa apa tanpa izin Allah niscaya tiada sedikitpun rasa takut yang melilit jiwa anda.

Apalagi bila anda benar benar beriman bahwa Allah Yang Maha Kuasa senantiasa bersama anda.

Terlebih lagi bila anda yakin bahwa Allah pasti melindungi, niscaya anda merasa tentram. Itulah pelajaran penting yang dapat kita petik dari firman Allah Taala berikut:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang orang yang beriman dan tiada mencampuri keimanannya dengan tindak kelaliman (kesyirikan/ menyekutukan Allah dengan selain-Nya) maka mereka itu pastilah mendapatkan keamanan dan mereka itu senantiasa mendapatkan petunjuk.” (Al An’am 83)

Masihkah ada rasa takut kepada sesama makhluk yang tersisa di hati anda?

Bila masih ada rasa takut maka itu indikasi betapa lemahnya iman anda, maka pupuklah iman anda agar tumbuh dan kemudian menjadi kokoh alias teguh nan istiqomah.

Semangatlah Berusaha, Jatah Rezeki Anda Pasti Menjadi Milik Anda! (Koreksi Link – Silahkan Klik)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Pesimis dengan masa depan? Khawatir dengan keadaan ekonomi yang tidak menentu? Belum menemukan ide bisnis yang menakjubkan? Persaingan bisnis begitu ketat? jalan-jalan usaha terasa mampet dan rezeki terasa sempit?

Simak dulu video motivasi bisnis (hanya 6 menit) yang InsyaAllah dapat mencerahkan dan menginspirasi Anda oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Klik:

https://www.facebook.com/photo.php?v=688206274586840&set=vb.106192992788174&type=2&theater

Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiykum.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Jihad Islam Vs Jihad BONEK (Bondo Nekad)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Jihad, sering kali didengungkan dan dikobarkan oleh berbagai kalangan. Namun demikian, seiring dengan dengungan tersebut kata jihad salah dipahami. Kebanyakan kita mengira bahwa jihad adalah satu amalan simpel, yaitu angkat senjata lalu arahkan kepada setiap orang yang dianggap Kafir atau memusuhi agama Allah, maka selesai dan pasti surga.

Pemahaman ini semakin menjadi parah bila anda membicarakan tema ini dengan emosi dan “darah muda” dalam menyikapi kondisi ummat Islam yang tertindas dan dibantai.

Jihad sebagaimana amalan lainnya, haruslah disikapi secara proporsional dan terukur. Mengingat jihad bukan hanya dengan angkat senjata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون، وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره، ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون، ويفعلون ما لا يؤمرون، فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن، ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن، ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن، وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل رواه مسلم

“Tiada seorang nabipun yang diutus di suatu kaum sebelumku melainkan mereka memiliki pengikut setia dan sahabat. Para pengikut setia tersebut meneladani ajaran para nabinya, dan mematuhi perintahnya. Selanjutnya, datang generasi penerus mereka yang berbeda sikap; mereka bertutur kata yang tidak mereka terapkan sendiri, dan mengamalkan hal-hal yang tidak diajarkan kepada mereka. Barang siapa yang berjihad memerangi mereka dengan kekuatan yang ia miliki maka ia adalah orang yang beriman. barang siapa yang berjihad memerangi mereka dengan lisannya maka ia juga orang yang beriman. Dan barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan hati (membenci mereka) maka ia juga orang yang beriman. Dan tiada keimanan sedikitpun bagi selain ketiga kelompok tersebut.” (Riwayat Muslim)

Pada hadits ini nampak dengan jelas, bahwa jihad bisa dilaksanakan dalam bentuk ucapan dan juga keyakinan.

Sebagaimana pihak yang wajib di “jihadi” bukan hanya orang-orang kafir. Sebagaimana tidak setiap orang kafir wajib atau boleh diperangi alias dibunuh.

Bahkan diantara orang-orang yang wajib dijihadi (diperangi) adalah orang orang munafiq alias musuh dalam selimut. Allah Taala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai Nabi, tegakkanlah jihad melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik serta bersikaplah tegas kepada mereka semua, sedangkan tempat kembali mereka semua ialah neraka jahannam, dan sungguh itu adalah seburuk buruk tempat kembali.” (At Taubah 73)

Musuh dari luar semua orang mengenalnya dan mengetahui kewajiban untuk memerangi mereka. Namun musuh dalam selimut, musang yang berbulu domba hanya segelintir orang yang dapat mengenali mereka dan tentunya lebih sedikit lagi yang berani menyibak tabir yang menutupi wajah bengis mereka. Di saat yang sama, betapa banyak dari ummat Islam yang terperdaya dan bersimpati kepada mereka, sehingga bersahabat dengan mereka.

Kedua dalil di atas membuktikan bahwa anggapan bahwa jihad hanya berupa jihad melawan Israel atau Amerika saja adalah pemahaman yang “cupet”. Akibatnya banyak dari kita yang terperdaya sehingga hanyut dalam perangkap musuh dalam selimut.

Ujian Dan Sanjungan Seringkali Menjadi Kebutuhan Penting Dalam Kehidupan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sering kali Anda merasa tersinggung, bahkan merasa hidup tidak berguna hanya karena kehadiran anda tidak diperhatikan orang lain.

Betapa sering Anda murka besar, hanya karena hasil kerja keras anda tidak diakui apalagi dihargai orang lain.

Namun sebaliknya, anda menjadi tersanjung bila kehadiran anda dinanti-nantikan sehingga anda disambut dengan hangat.

Sering kali Anda menjadi salah tingkah setiap kali hasil kerja anda diakui bahkan dipuji.

Begitu besar peran sebuah pengakuan dan pujian dalam hidup kita. Bahkan betapa banyak orang rela berkorban dengan banyak hal demi mendapatkan pujian dan sanjungan.

Betapa banyak wanita yang rela membuka auratnya, memamerkan lekak-lekuk tubuhnya agar mendapat perhatian dan kekaguman orang.

Dan untuk bisa mendapatkan hal itu banyak wanita berkorban lagi yaitu dengan membekali diri dengan berbagai asesoris, dan make up yang mahal.

Lelakipun demikian, berperilaku aneh2, sok gagah, jaga image, semuanya demi mendapatkan sebuah pengakuan “anak gaul” atau trendy, modis atau sebutan “waaah atau wooow”.

Lebih parah lagi betapa banyak orang rela berhutang, menipu, korupsi, mencuri, dan perilaku serupa lainnya hanya mengejak sebuah “pengakuan” atau kata “waaaaah hebat”

Saya yakin anda tahu, sejatinya apalah arti kata “waaaah” atau “woooow.” Kata itu tidaklah mengeyangkan ketika anda lapar, menyembuhkan bila anda sakit, dan juga tidak bisa dijual agar anda mendapatkan uang.

Bahkan sering kali kita hanya bisa meniru orang lain, dan menipu diri sendiri dengan mengesankan kita serupa atau sama dengan mereka, pdahal tidak demikian.

Apalagi bila anda berpikir lebih jauh, semua kekaguman dan sanjungan itu tidaklah berarti di hadapan Allah. Tidak dapat menyelamatkan anda dari siksa dan juga tidak dapat menghantarkan anda ke pintu surga.

Bangga dengan hasil karya orang lain sedangkan diri sendiri tidak memiliki hasil karya apapun adalah budaya yahudi yang bangga karena merasa sebagai keturunan Nabi Ibrahim, atau bangga karena sering diberi kelebihan oleh Allah sampai-sampai mereka merasa bahwa mereka adalah ummat pilihan.

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah engkau menduga bahwa orang-orang yang bangga dengan apa yang mereka lakukan dan senang untuk dipuji dengan sesuatu yang bukan hasil karya mereka, bahwa mereka akan terbebas dari siksa ? dan mereka itu akan mendapat siksa yang sangat pedih.” (ali imran 188)

Jadilah dirimu sendiri, jadi orang sholeh ya karena amal ibadah sendiri, bukan karena keturunan orang sholeh.

Senang menjadi ulama’ karena memang berilmu bukan karena anak seorang ulama’.

Senang menjadi orang kaya karena memang memiliki kekayaan bukan karena anaknya orang kaya apalagi sekedar bertetangga dengan orang kaya atau bahkan sekedar dikira sebagai orang kaya.

Senang sebagai orang yang mahir dalam suatu hal, karena memang memiliki kemahiran, bukan karena mengenakan pakaian atau seragam orang yang mahir, alias sekedar sebagai fans.

Jadilah dirimu sendiri, sejatinya engkau adalah orang penting dan berarti, bila engkau mengerti.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊