Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Semangat Untuk Berpisah

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat, perpecahan atau sengketa adalah satu hal yang menyakitkan dan menyedihkan. Duka pasti tertancap di hati, dan derita pasti telah menanti di balik setiap perpecahan dan sengketa.

Namun demikian, betapa banyak orang yang dengan sadar bahkan tiada kenal lelah untuk mengobarkan api perpecahan!

Sebagian ummat Islam senang bila ada saudaranya sesama muslim ditimpa petaka, bahkan turut andil menyiapkan perangkap agar saudaranya celaka.

Islam yang dahulu berhasil menyatukan ummat manusia, Kini sering kali menjadi alasan untuk berpisah dan bersengketa.

Ada apa gerangan sehingga semua ini bisa terjadi?

Ketahuilah bahwa hasad, dengki dan iri adalah salah satu biang terjadinya kondisi pilu ini. Simak dan camkan baik baik petuah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling hasad/ iri, saling membenci, saling memusuhi, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (Muttafaqun alaih)

Sobat! Kapankah persaudaraan ini dapat terwujud di tengah-tengah kita?

Jawabannya sederhana: bila saya, dan juga anda dengan sadar telah memulai merajut persaudaraan tersebut. Jangan pernah menanti agar orang lain yang memulai namun marilah kita yang memulainya.

Jangan pernah menyalahkan orang lain yang belum terketuk hatinya, namun salahkanlah diri kita yang belum kunjung bernyali untuk memulai.

Jangan pernah menuntut agar orang lain mengesampingkan ego dan kepentingan pribadinya, namun jadilah orang pertama yang mengesampingkan ego dan kepentingannya.

Siapkah anda sobat untuk memulainya ?

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Wah, Kok Jenggotan Kayak Teroris

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Suatu hari semasa saya masih kuliah di kota suci Madinah Munawwarah, saya menemui seorang tamu jamaah haji di penginapannya (hotel).

Setelah bertemu dengan tamu yang saya maksud, saya berkenalan dengan seorang anggota DPRD Propensi Banten, yang kebetulan satu kamar dengan tamu saya.

Setelah berkenalan, anggota dewan tersebut langsung berseloroh: wah jenggotan kayak teroris.

Mendapat todongan keji ini saya berusaha untuk tenang, dan dengan perlahan saya berusaha meluruskan pemahamannya tersebut.

Saya bertanya: maaf pak, apakah bapak mengikuti berita seputar para aktor teroris yang ditangkap karena meledakkan bom di Bali dan juga di JW Mariot?

Tentu saja politikus tersebut menjawab: tentu saja mengikuti.

Segera saya tanggapi jawaban beliau dengan berkata: kalau begitu bapak tidak mengikuti dengan baik. Andai bapak mengikuti dengan baik niscaya bapak tahu bahwa para aktor teroris tersebut ketika tertangkap tidak berjenggot. Mereka berjenggot setelah mendekam di penjara.

Karena itu bila bapak mengidentikkan jenggot dengan terorisme maka saya juga bisa balik berkata: bila setiap yang berjenggot adalah teroris -namun mereka teroris kelas teri karena belum siap menjadi pengantin ( aktor pengeboman bunuh diri)- maka yang mencukur jenggot juga pantes dicap sebagai teroris, namun kelas kakap karena telah siap menjadi pengantin ( aktor bom bunuh diri).

Karena itu bila densus88 mau menangkap maka yang paling mendesak untuk ditangkap ialah yang cukur jenggot bukan yang masih berjenggot, karena yang cukur jenggot dalam kondisi siap melaksanakan aksi terornya.

Demikian pula yang rajin ke masjid dan mengaji al qur’an. Bila mereka diidentikkan dengan terorisme, maka yang pergi ke hotel berbintang lima, bar, mall lebih mendesak untuk ditangkap, karena kebanyakan pengeboman terjadi di Hotel berbintang, bar, dan yang serupa, bukan di masjid atau tempat pengajian.

Bila cara berpikir seperti ini dibiarkan tentu saja terjadi kekacauan besar. Berjuta juta ummat islam dicurigai dan ditangkap.

Mendengar penjelasan saya di atas, politikus tersebut terdiam dan berubah sikap menjadi ramah dan santun.

Karena itu pahamilah saudaraku, bahwa terorisme adalah pola pikir ekstrim yang berkelanjutan hingga pada pengkafiran orang lain dan diikuti dengan tindakan anarkis yang semua itu menyimpang dari ajaran Islam.

Cerdaslah saudaraku!

Hidung Belang, Apa Salahnya?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Allah menciptakan ummat manusia di dunia ini dengan berbagai kondisi dan keadaan. Ada yang berkulit putih, hitam dan ada pula yang berkulit kecoklatan.

Namun demikian ada sebagian hamba Allah yang tercipta dengan kelainan warna kulit, sehingga sebagian tubuhnya berwarna putih sedangkan lainnya berwarna kecoklatan atau hitam. Kondisi warna kulit seperti ini sering kali disebut dengan belang.

Adanya perbedaan warna kulit pada diri seseorang adalah kodrat yang wajib diterima dengan tabah, karena itu adalah cobaan dan bukan pilihan.

Karena itu satu hal yang aneh bila masyarakat, menjadikan belangnya hidung seseorang sebagai celaan.

Celaan sebagai “hidung belang” biasanya disematkan kepada lelaki yang mengobral kehormatannya sehingga melampiaskan nafsu biologisnya kepada wanita wanita yang haram untuknya.

Celaan ini tentu menyakitkan orang yang menjaga khormatan dirinya namun menyandang cacat pada warna kulitnya .

Alangkah baiknya bila celaan ini ditinggalkan dan kita menggunakan celaan lain yang lebih tepat, semisal: mata keranjang.

Bagi masyarakat pedesaan yang biasa “ngaret” alias nyari rumput dengan keranjang bambu pasti mengetahui bagaimanakah mata keranjang; lebar, ada di seluruh sisi keranjang dan tidak pernah ditutup.

Demikianlah gambaran para lelaki mata keranjang, matanya diumbar, selalau melotot ke semua wanita yang ia lihat. Na’uzubillah dari perilaku hina ala mata keranjang. Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Janganlah kalian mendekati zina karena sejatinya zina itu perbuatan keji dan jalan (untuk melampiaskan syahwat) paling buruk.” (al isra’ 32)

Mantan Santri Dan Mantan Pencuri

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Mantan santri bisa saja jadi kiyai, ulama’, tokoh panutan masyarakat atau figur lainnya yang bermanfaat.

Namun mantan santri bisa saja jadi pencuri, perampok, koruptor atau pembunuh berdarah dingin.

Mantan pencuri bisa saja saat ini menjadi perampok besar, koruptor ulung atau pembunuh bayaran.

Namun bisa saja mantan pencuri saat ini menjadi santri, ulama’, tokoh masayarakat atau figur bagus lainnya.

Apapun status anda saat ini, yang penting adalah anda istiqomah dalam kebaikan hingga akhir hayat, dan menyesali atau membenahi kesalahan.

Ibadah dan amal kebaikan bukan hAnya untuk sehari atau dua hari. ibadah dan amal kebajikan untuk sepanjang hayat masih dikandung badan.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah engkau kepada Tuhan-mu hingga datang kepadamu satu kepastian (yaitu al maut).” (Al hijer 99)

Maka janganlah anda congkak atau sombong dengan ibadah dan kesholihan anda saat ini, karena jalan di depan anda masih panjang. Siapakah yang menjamin bahwa anda akan husnul khatimah.

Siapakah yang menjamin bahwa anda akan kuasa istiqomah terus baik, sebaik para santri dan tidak berubah menjadi pencuri? Mengapa ada kesombongan?

Sebagaimana, sadarilah bahwa tidak ada manusia yang tidak berbuat Salah.

Hari ini bisa saja anda khilaf dan berbuat dosa, namun jangan putus asa, pintu taubat masih terbuka lebar untuk anda.

Segera manfaatkan kesempatan untuk bertobat, dan membenahi diri dengan meniti jalan ilahi.

Sebesar apapun dosa anda, bila anda telah menyesalinya dan kembali ke jalan Allah, niscaya Allah mengampuninya.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakan kepada hamba-hamba-Ku yang telah melumuri dirinya dengan dosa: janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sejatinya Allah mengampuni seluruh dosa, sejatinya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar 53)

Sobat, kapan lagi bila bukan sekarang, anda bersimpuh di hadapan Allah, mengakui kesalahan dan memohon ampunan kepada-Nya?

Percayalah seburuk apapun amalan anda, bila anda menyesalinya dan memohon ampunan serta tidak mengulanginya niscaya Allah mengampuninya.

 

Facebook

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Facebook adalah media bagi semua orang, teman, lawan, orang cerdas, bodoh, terhormat, hina, bengis, kejam, penyayang, dan seluruh jenis manusia lainnya.

Sebagaimana di facebook juga banyak ditemukan orang yang sesat, kafir, munafik, dan juga mukmin.

Karena itu, waspadalah selalu sobat, sehingga anda yang berakhlaq baik lagi beriman tetap mampu mempertahankan akhlaq dan iman anda.

Kejelekan orang lain, kekafiran dan kefasikan siapapun yang ada di media ini dapat anda hindari, walau mereka mungkin terhubung dengan anda.

Sobat, Ikutilah petunjuk ayat berikut, niscaya anda selamat:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Ar Rahman yang bila berjalan di muka bumi, mereka berjalan dengan senantiasa menjaga wibawanya. Dan bila ada orang pandir yang mengajak mereka berbicara, maka mereka hanya menanggapinya dengan berkata : selamat tinggal.” (Al furqan 63)

Karena itu, selektiflah dalam menanggapi komentar siapapun di facebook. Tidak semua komentar pantas anda tanggapi, dan tidak semua ucapan pantas anda percayai, tidak semua orang pantas anda dengarkan ucapannya.

Semoga bermanfaat.

 

Larung Kepala Kerbau

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Sahabat Salman Al Farisi mengisahkan:
Ada seseorang (dari ummat terdahulu) yang masuk surga karena seekor lalat dan ada lain lagi yang masuk neraka karena seekor lalat pula.

Spontan murud-murid sahabat Salman Al Farisi bertanya: kok bisa demikian?

Beliau menjelaskan : ada dua orang lelaki muslim yang melintasi perkampungan satu kaum yang sedang menjalankan ritual penyembahan kepada berhala.

Para penyembah berhala itu tidak akan membiarkan siapapun melintas di perkampungan mereka kecuali mengorbankan (mempersembahkan) sesuatu untuk berhalanya.

Mereka memerintahkan orang pertama agar berkoban untuk berhala mereka.

Lelaki itu menjawab : aku tidak punya apapun yang dapat saya korbankan (persembahkan).

Mereka menjawab: persembahkan walau hanya seekor lalat.

Tanpa pikir panjang lelaki itu segera menangkap seekor lalat lalu mempersembahkannya untuk berhala mereka. Dan merekapun segera membiarkannya melintasi perkampungan mereka.

Selanjutnya mereka berkata kepada orang kedua: segera persembahkan untuk berhala kami, walau hanya seekor lalat.

Lelaki itu dengan tegas berkata: aku tidak akan mempersembahkan apapun untuk selain Allah Azza wa Jalla.

Segera mereka -dengan tanpa ampun – menebas leher lelaki itu, dan akhirnya iapun masuk surga. (Ahmad dalam kitab az zuhud, Ibnu Abi Syaibah dan lainnya)

Perlu diketahui bahwa pada syari’at sebelum Islam, memang tidak ada keringanan karena alasan dipaksa. Karena itu wajar bila lelaki pertama dinyatakan masuk neraka karena telah mempersembahkan sesuatu walau seekor lalat kepada selain Allah.

Adapun dalam syari’at Islam, orang yang dipaksa semacam pada kisah ini mendapat keringanan dan diampuni dosanya, sebagaimana dijelaskan pada ayat ١٠٦ an surat an nahel.

Bersyukurlan sebagai ummat islam, dan hindarilah perbuatan persembahan untuk selain Allah, walau hanya seekor lalat, apalagi kepala seekor kerbau atau kambing.

 

Uji Nyali

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, pernahkah anda minum air panas, sehingga lidah anda terasa terbakar?

Akibat seteguk air panas yang anda minum, lidah anda sakit dan untuk beberapa waktu anda tidak dapat merasakan enaknya makanan yang anda makan.

Coba anda bayangkan bila air panas yang anda minum ternyata membakar lidah, mulut, kerongkongan hingga lambung anda. Kira-kira bagaimana rasa sakit yang menimpa anda?

Tahukah anda bahwa salah satu siksa penghuni neraka ialah ketika penghuni neraka kehausan dan minta minum, mereka diberi minum air mendidih yang sangat panas hingga menghancurkan lambung mereka.

Simaklah firman Allah berikut:

وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ
“Mereka diberi minum air panas mendidih yang mengakibatkan lambung mereka terpotong-potong.” ( Muhammad 15 )

Bagaimana tidak hancur lambungnya, walau telah masuk ke lambung, air minum atau makanan penghuni neraka masih mendidih dengan keras.

طَعَامُ الْأَثِيمِ
“Makanan orang yang banyak berbuat dosa.”

كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ
“Bagaikan timah panas yang mencair dan terus mendidih dengan keras di dalam perut mereka.”

كَغَلْيِ الْحَمِيمِ
“Bagaikan air panas yang mendidih.” (ad Dukhan 44-46)

Sobat! Mungkinkah anda penasaran atau tertantang untuk uji nyali mengincipi makanan dan minuman penghuni neraka ?

 

“Saya” Berbeda Pendapat Dengan Imam Syafii

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sahabatku! Ucapan anda adalah cermin dari diri dan pola pikir anda. Bukan hanya kepribadian dan pola pikir, bahkan ucapan dan perilaku anda juga mencerminkan akan hakekat iman anda. Jangan pernah mengira bahwa anda dapat sepanjang masa menyembunyikan jati diri anda dari semua orang.

Bisa saja anda menipu, atau mengelabuhi atau berkamuflase untuk sekali dan dua kali, namun bukan untuk seterusnya. Dalam pepatah dinyatakan: sepandai pandai tupai meloncat pasti terjatuh jua, atau sepandai pandai anda menyembunyikan bangkai pasti tercium juga. Simaklah firman Allah Taala berikut :

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

“Andai Kami menghendakinya, niscaya Kami tunjukkan perihal mereka kepadamu, dan kamupun pasti dapat mengenal mereka dari ciri cirinya dan kamu juga pasti dapat mengenali mereka dari gaya bicaranya. Dan Allah mengetahui semua amal perbuatan kalian.” (Muhammad 30)

Kesombongan adalah satu penyakit hati dan selanjutnya terwujud dalam ucapan dan perbuatan. Namun demikian, betapa sering kita mempropagandakan bahwa diri kita tidak sombong, walaupun sejatinya jiwa kita dibanjiri dengan kesombongan besar.

Diantara indikator kesombongan yang sering terucap dari lisan kita, ialah dengan berkata: saya berbeda pendapat dengan Imam Syafii, atau saya menyelisihi pendapat imam Ibnu Taimiyyah, atau bahkan saya menentang pendapat Ibnu Abbas atau bahkan Abu Bakar dan Umar bin al khatthab radhiallahu ‘anhum.

Padahal kalau kita sedikit mau jujur dan bercermin, niscaya kita menyadari bahwa kita tidak pantas untuk berpendapat apalagi berijtihad dalam urusan agama. Alih alih berijtihad, sekedar mengerti arti berbagai dalil saja tidak, apalagi tentang metode pendalilan dan etika berijtihad.

Sejatinya kita ini adalah salah satu contoh nyata dari orang orang yang disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar berikut ini:

أجمع الناس على أن المقلِّد ليس معدوداً من أهل العلم، وأن العلم معرفة الحق بدليله.

“Para ulama’ telah sepakat bahwa seorang muqallid (pengikut buta) tidak pantas dianggap sebagai ulama’ karena yang disebut ilmu ialah mengetahui kebenaran lengkap dengan dalilnya.”

Aneh memang, betapa sering kita bersikap lancang, tidak tahu diri, tidak tahu malu, sehingga merasa telah selevel dengan para Imam ahli ijtihad, dan hobi berkata: “Saya berbeda pendapat dengan ulama’ fulan atau fulan.” Padahal faktanya, kita hanya mengikuti pendapat ulama’ fulan dan bukan berijtihad sendiri.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil

Dasar Kampungan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Banyak orang dengan ringannya mencela teman atau orang lain dengan sebutan: kampungan kamu! Mereka mengira bahwa orang kampung itu biasanya berpikir terbelakang, gaptek, dan lainnya.

Namun demikian, sebaliknya juga demikian; betapa banyak orang kampung yang ketka mencela atau meledek dengan berkata: dasar orang kota, lemah ndak bisa manjat, ngupas kelapa saja ndak bisa, nangkap ayam lepas saja tidak bisa, takut nyembelih ayam, dll.

Demikianlah, budaya saling mencibirkan, seakan dirinya sempurna dan segala kekurangan ada pada orang lain. Jeli melihat kekurangan orang lain dan lalai akan kekurangan dirinya. Padahal pada kenyataannya orang kota membutuhkan kepada orang desa dan demikian pula sebaliknya.

Sobat! Belajarlah menghormati orang lain dan syukurilah peran orang lain. Bisa jadi hari ini anda belum membutuhkan atau mungkin juga belum menyadari pentingnya peran mereka. Namun demikian, bisa jadi esok hari anda akan memohon dengan penuh iba kepada mereka agar membantu anda.

Boleh jadi hari ini anda lebih berjasa kepada mereka namun demikian sangat mungkin esok hari andalah yang sangat membutuhkan kepada mereka.

Sobat! Sadarilah bahwa ucapan: dasar kampungan atau dasar orang kota sarat dengan kesombongan, karena itu hindari ucapan ini dan juga ucapan lain yang serupa.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

The King Without A Kingdom (Raja Tanpa Kerajaan)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Nama atau sebutan akan berarti bila dilengkapi dengan bukti nyata. Apalah artinya suatu nama atau sebutan yang indah namun hampa bahkan menyelisihi fakta dan kenyataan.

Bisa jadi anda bernamakan indah, namun apalah arti nama itu bila ternyata perilaku dan bahkan fisik anda tidak indak alias buruk.

Boleh saja anda bernamakan sholeh, namun apalah artinya nama itu bila ternyata perilaku anda menyimpang dan melanggar agama Allah.

Bagi masyarakat banyak, indahnya nama yang menyelisihi fakta seringkali berubah menjadi celaan: namanya indah namun perilakunya bubrah ! Namanya sholeh namun perilakunya fasik alias tholeh.

Kondisi ini banyak terjadi di masyarakat, nama hanya sebatas nama karena menyelisihi faktanya.

Diantara nama indah yang terbukti menyelisihi fakta ialah sebutan imam yang disematkan kepada ke 10 figur dari 12 imam imam syiah (selain sahabat Ali bin Abi Thalib dan Al Hasan Bin Ali)

Mereka disebut imam (khalifah/pemimpin) padahal faktanya ke10 figur tersebut tidak pernah menjadi khalifah atau imam walau hanya sesaat.

Bahkan sebagian mereka gugur gara gara upayanya merebut kekhilafahan dari imam yang sah pada masanya.

Sebagaimana fakta sejarah telah membuktikab bahwa Imam mereka ke 2 yaitu Al Hasan bin Ali telah menyerahkan imamah / kepemimpinan kepada sahabat Mu’awiyah radhiallahu anhuma.

Praktis sejak saat itu imamah berada di tangan sahabat Muawiyah dan kemudian berpindah kepada tokoh tokoh dari Bani Umayyah selanjutnya.

Faka sejarah ini meruntuhkan konsep imamah 12 yang diyakini dan diajarkan oleh sekte syiah .

Dan kalau ada yang berkelit: bahwa yang dimaksud dengan imamah adalam kepemimpinan dalam urusan agama, maka sejarah telah membuktikan bahwa imam agama buaanyak sekali, diantaranya imam-imam keempat mazhab .

Dengan demikian fakta ini membuktikan kesesatan doktrin imamah syiah.

Konsep mereka menyelisihi dalil dan fakta sehingga lebih pantas disebut dengan hoak atau penipuan, atau pembodohan, sehingga pantas disebut dengan the king without a kingdom yang hanya ada dalam dongeng alias dipaido keneng (boleh didustakan) he he he, kasian deh, kecewa para pengikut syiah.