Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Derita Seindah Ni’mat

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Dinamika kehidupan dunia menjadikan kita harus melalui berbagai hal-hal yang menyenangkan sebagaimana kita juga harus melalui berbagai derita dan cobaan.

Tiada kiatnya alias mustahil anda dapat menghindari salah seluruh derita atau semua kesenangan. Keduanya pasti anda lalui secara silih berganti.

Namun demikian, sadarkah anda bahwa kedua hal yang saling bergantian tersebut adalah kunci keindahan hidup di dunia ini? Nikmat bagi siapapun nampak indah dan terasa menyenangkan.

Di saat yang sama, derita walau nampak menakutkan dan menyakitkan, namun sejatinya indah dan menyenangkan. Walaupun pada kenyataannya anda salah persepsi sehingga memaki dan mencela derita atau cobaan.

Puasa ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa bagi ORANG YANG BERIMAN sejatinya derita semisal rasa lapar dan dahaga dapat mendatangkan kebahagiaan sebagaimana rasa kenyang juga mendatangkan kegembiraan.

Tiada seorangpun dari ummat Islam yang menangisi atau menyesali rasa lapar dan dahaga yang ia rasakan di siang ramadhan. Sebagaimana tiada seorangpun yang memaki rasa kenyang di malam ramadhan. Setiap orang yang beriman saat ini pasti mensyukuri keduanya tanpa ada bedanya sedikitpun. Allah Taala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap jiwa pastilah merasakan kematian. Dan Kami menguji kalian dengan kejelekan / musibah dan dengan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kami-lah kalian semua kembali.” (al Anbiya’ 35)

Cermatilah sobatku! Pada ayat ini Allah Azza wa Jalla menyamakan kebaikan dengan kejelekan. Keduanya adalah ujian dan cobaan yang menimpa anda. Bila anda merasa senang lalu bersyukur maka sepatutnya anda juga merasa senang lalu bersyukur atas kejelekan yang menimpa anda.

Bila anda merasa harus bersabar ketika ditimpa kejelekan, maka demikian pula sepatutnya anda bersabar sehingga tidak lupa daratan disaat mendapat kenikmatan.

Demikianlah dahulu yang diamalkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Bila mendapat kenikmatan beliau berkata:

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
“Segala puji bagi Allah, atas kenikmatannya segala kebaikan dapat terwujud.”

Dan bila mendapatkan sesuatu yang beliau benci, maka beliau berkata:

الحمد لله على كل حال
“Segala puji hanya milik Allah atas segala kondisi yang terjadi.”

Bagaimana dengan anda sobat?

Halal Bihalal Antara Budaya Dan Tuntunan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di setiap hari lebaran atau iedul fitri, ummat Islam Indonesia biasa mengadakan acara halal bihalal. Saling memaafkan dan meminta maaf, dan tentu saja diiringi dengan acara makan makan.

Meriah, semarak dan sarat dengan arti kekeluargaan. Namun demikian meriahnya acara halal bihalal sering kali menjadikan kita lalai, campur baur pria dan wanita walau tanpa hubungan mahram, bernyanyi bersama.

Seakan ied adalah alasan untuk melampiaskan hawa nafsu, makan minum sebanyak mungkin, menunda shalat, meninggalkan masjid dan melakukan apapun yang kita suka.

Seakan kewajiban menahan hawa nafsu hanya berlaku sebulan saja, sedangkan di bulan lainnya bebas kembali melampiaskannya.

Harta kekayaan hasil kerja satu tahun dihambur-hamburkan dalam rangka perayaan ied. Budaya mudik, baju baru, aneka ragam makanan, renovasi rumah, perabotan baru dan masih banyak lagi lainnya.

Pesta pora dalam rangka perayaan iedul fitri berlangsung hingga sepekan atau bahkan lebih.

Padahal sejatinya iedul fitri semasa Hidup Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya sehari dan berlangsung dengan sederhana.

Sahabat Anas mengisahkan:

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ” ما هذان اليومان؟ “، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما: يوم الأضحى ويوم الفطر»

“Pada awal-awal kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau mendapatkan masyarakat setempat biasa merayakan dua hari dengan cara bermain main.

Beliau bertanya kepada penuduk setempat: ada apa dengan kedua hari kalian ini ? Mereka menjawab: dua hari ini adalah dua hari yang padanya kami biasa bermain main sejak zaman jahiliyah.

Rasulullah menimpali keterangan mereka dengan bersabda:
Sejatinya Allah telah menggantikan kedua hari permainan kalian ini dengan dua hari yang lebih baik, yaitu iedul adhha dan iedul fitri.” (Abu Dawud)

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Lebaran Atau Ied ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Dalam kamus ummat Islam Indonesia ada sebutan lebaran dan kalau dalam kamus muslimin jawa ada sebutan ba’do atau bodo. Kedua sebuatan ini memiliki makna yang serupa yaitu telah usai atau telah berakhir.

Karena itu wajar saja bila pada hari tersebut banyak dari kita terinspirasi dengannya sehingga bersikap seperti “mantan napi” alias melampiaskan segala hasrat dan kesenangannya.

Sikap kita seakan orang yang terbebas dari belenggu, jejingkrakan seakan tidak akan terbelenggu lagi.

Sebutan tersebut mengesankan bahwa pada hari raya ini kita terbebas dari belenggu puasa ramadhan. Sehingga pada acara lebaran kita balas dendam dengan melampiaskan segala hasrat makan, minum dan syahwat kita.

Sebutan tersebut tentu saja berbeda dengan istilah syar’i yang diajarkan dalam islam. Perayaan esok hari dalam islam disebut dengan ied yang artinya sesuatu yang terulang secara terus menerus. Sehingga sebutan ini membawa pesan bahwa segala yang ada pada ramadhan pasti akan kembali lagi.

Perjuangan mengekang hawa nafsu akan terus terulang bahkan terus berkesinambungan. Keutamaan Allah kepada ummat Islam yang berhasil melepaskan diri dari jerat hawa nafsunya juga akan terus berkelanjutan. Karena itu ummat Islam terdahulu yang benar benar memahami arti iedul fitri selalu waspada walaupun ramadhan telah berakhir.

Mu’alla bin Al Fadhel mengisahkan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان ثم يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dahulu mereka (para ulama’ terdahulu) selalu berdoa kepada Allah Taala selama 6 bulan agar diberi kesempatan mendapatkan bulan ramadhan. Selanjutnya mereka juga berdoa selama 6 bulan berikutnya agar amalan mereka di bulan ramadhan dapat diterima. (Al Ashfahany)

Mereka waspada karena sadar bahwa perjuangan melawan hawa nafsu belum berakhir namun terus berlanjut. Perjuangan untuk menjadi hamba Allah yang selalu mengobarkan semangat “sami’na wa atha’na” ( kami mendengardan kamipun patuh” juga belum berakhir namun masih terus berlangsung.

Sepenuhnya mereka memahami bahwa hanya akan berakhir bila hayat mereka juga telah berakhir dengan datangnya ajal, Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kamu kepada Rab-mu hingga datang keyakinan/ ajal kepadamu (al Hijer 99)

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Obat Kuat

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di berbagai tempat di negri kita tercinta ini, banyak ditawarkan obat kuat. Berbagai propaganda seputar obat kuat disebarkan.

Sobat! Izinkan saya bertanya: apakah yang pertama kali terbayang ketika anda membaca iklan obat kuat, atau berbicara tentang obat kuat?

Menurut pengalaman, kebanyakan orang membayangkan bahwa salah satu fungsi utama obat kuat ialah; anda menjadi super perkasa ketika di atas ranjang. Bukankah demikian?

Ketahuilah bahwa persepsi semacam ini sejatinya adalah pembodohan masal. Karena orang yang perkasa di atas ranjang bisa jadi lemah. Lemah mentalnya, lemah kepribadiannya dan lemah kesabarannya.

Orang yang nafsunya besar dan kuat sering kali adalah lemah, sehingga ia mudah ditundukkan dan dikalahkan.

Di saat nafsunya telah bergemuruh maka logika, iman, dan kesabaranya mulai luntur sehingga mudah hanyut dalam kesalahan demi menuruti nafsunya.

Sobat! Ketahuilah bahwa kekuatan yang sejati terletak pada kesabaran dan ketabahan anda.

Setiap kali anda kuasa dan tabah menahan nafsu dan hasrat, nafsu birahi, nafsu makan dan minum atau nafsu lainnya, maka saat itulah anda memiliki kekuatan.

ليس الشديد بالصرعة، ولكن الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب”

“Orang perkasa itu bukan karena ia kuasa menumbangkan orang lain. Namun orang perkasa adalah orang yang kuasa menahan dirinya di saat sedang emosi/marah. (Muttafaqun Alaih).

Latih diri anda untuk menahan emosi, nafsu dan hasrat diri anda, niscaya anda menjadi perkasa.

Karena kalau anda emosional dan buru-buru alias tergesa-gesa maka itu pertanda anda lemah, lemah syahwat, lemah kepribadian, lemah iman dan lemah fisik.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Hebat! Pengemis Saja Berbahasa Inggris.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Suatu hari ada teman yang bercerita dengan ekspresi serius dan meyakinkan: ” masyaAllah ada satu daerah yang tingkat pendidikannya sangat maju, sampai-sampai para pengemis dan pemulungnya gengsi berbahasa jawa apalagi indonesia, mereka lebih memilih untuk berbahasa inggris yang begitu lancar dan fasih.

Tak ayal lagi ceritanya tersebut behasil menyita rasa penasaran saya, dan segera saya bertanya: waah hebat sekali, dimanakah itu ?

Kawan saya menjawab: ya di inggris.

Heeeeh kecewa banget deh, la kalau di inggris ngemisnya pakai bahasa jawa malah aneh atau mungkin nampak hebat, apalagi bila pengemisnya wong inggris.

Di inggris pengemisnys wong inggris wajar, akan menjadi aneh dan menggemparkan bila di inggris ada wong jowo yang menjadi pengemis.

Kisah di atas sama bodoh nya dengan celotehan sebagian orang yang di musim kampanye atau pilkada dan pilpres :
“Muslim Juga Korupsi, Mendingan KAFIR namun tidak korupsi”.

Sobat, betapa pandir dan bodoh ya celotehan di atas, betapa tidak: sebagai konsekwensi dari tinggal di negri dengan penduduk muslim , ialah semua pelaku kebaikan ataupun kejahatan ya tentu saja dari ummat islam.

Minoritas biasanya takut dan ekstra waspada karena Kalau sampai berbuat salah maka akan mendapat tekanan dan tindakan yang menjadikannya jera. Berbeda dengan mayoritas, biasanya hanyut dalam kelalaian sehingga berleha-Leha atau merasa aman alias ceroboh.

Celotehan : mendingan kafir asal adil dibanding muslim namun korupsi adalah cerminan dari lemahnya mental dan runtuhnya iman.

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Tiada mungkin engkau temukan orang orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir bermesraan/loyal kepada orang orang yang menentang Allah dan Rasul-nya.” (Al Mujadilah 22)

Celotehan di atas mencerminkan kebodohan pelakuny sehingga menjadikannya mencibirkan jasa berjuta juta ummat islam yang telah berjasa memerdekakan dan membangun negri ini.

Mereka silau dengan sikap heroik segelintir oknum dari orang kafir, namun mengingkari dan melalaikan jasa berjuta juta ummat islam.

Ya Allah lindungilah kami dari sikap pandir semacam di atas.

Malam 1,000 Bulan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Hari hari ini banyak dari kaum muslimin yang terobsesi untuk mendapatkan lailatul qadar! Mereka sibuk membicarakan dan mendiskusikan perihal keutamaan Lailatul Qadar.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui indikasi-indikasi hadirnya lailatul qadar.

Sobat! Percayalah bahwa malam tersebut pasti hadir, anda ketahui tanda-tandanya ataupun anda tidak mengetahuinya, anda menyadari kedatangannya ataupun tidak menyadarinya.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf dan meningkatkan ibadahnya di malam-malam terakhir bulan ramadhan. Sebagaimana beliau juga membangunkan keluarganya untuk bersama sama beribadah di malam-malam tersebut.

Beliau tidak menyibukkan diri dengan mengidentifikasi ciri-ciri kedatangan malam lailatul qadar. Beliau lebih memilih untuk meningkatkan amalam di kesepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan. Dengan demikian dapat dipastikan bahw beliau telah beramal hingga maksimal di malam lailatul qadar yang jatuh pada salah satu malam dari kesepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan.

Itulah pesan yang Beliau sampaikan melalui sabdanya:

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ

“Barang siapa dari kalian mencari lailatul qadar, hendaknya ia mencarinya di sepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan. (Muttafaqun ‘alaih)

Sobat! Dari pada anda memikirkan dan terus bertanya kapan lailatul qadari datang, lebih bijak bila anda bertanya: apa yang saya lakukan pada malam-malam yang tersisa di bulan ramadhan ini guna memanfaatkan kehadiran lalilatul qadar?

Percayalah bahwa anda pasti melalui momentum lailatul qadar sebagaimana orang-orang kafir dan fasikpun juga melalui momentum yang sama, namun yang membedakan antara anda dari mereka adalah amalan anda, mereka bergelimang dalam dosa dan maksiatnya, sedangkan anda mengisi lailatul qadar dengan lantunan al qur’an, dzikir, doa, dan sholat malam.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Uuh, Bau Mulutku Tidak Sedap

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Ah, aku malu untuk banyak berbicara, mulutku berbau kurang sedap.

Kira-kira demikianlah desah batin anda tatkala menyadari bahwa bau mulut anda mulai terasa tidak sedap di saat anda sedang berpuasa. Dan mungkin saja anda buru-buru berkumur dengan cairan penyegar mulut. Selanjutnya, andapun merasa lebih pede setelah berkumur untuk berbicara dan berinteraksi dengan orang lain.

Tidak perlu berkecil hati saudaraku! Bau mulut anda yang kurang sedap karena berpuasa, ternyata tidak sia-sia. Walau terasa tidak sedap pada penilaian orang, akan tetapi di sisi Allah, sangat dicintai dan bernilai tinggi.

(وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ) متفق عليه

“Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibanding aroma misik.” (Muttafaqun ‘alaih).

Saudaraku! coba anda renungkan, mengapa bau mulut orang berpuasa yang kurang sedap kok dicintai Allah, sehingga di akhirat mendapatkan balasan yang begitu indah. Mungkin pernah terbetik pikiran: iih agama Islam ini kok terkesan kotor ya.

Aduuh, gimana sih, agama yang aku cintai ini; bau mulut orang berpuasa yang kurang sedap dianggap bernilai ibadah.

Penampilan orang yang berhaji dibuat sedemikian rupa, dilarang mengenakan wewangian, memotong kuku, penampilannya tidak rapi, akibatnya bau keringatpun jadi menyengat.

Bila sholat, menempelkan wajah ke tanah atau lantai masjid yang mungkin saja karpetnya telah lama tidak dibersihkan.

Semuanya mengesankan keterbelakangan, kolot, kumuh dan kotor.

Saudaraku! Mungkin demikianlah iblis membisikkan ke dalam hati anda, dengan suara yang santun nan lirih, sehingga terkesan ia sedang membela kepentingan anda.

Tentu sebagai orang yang beriman, anda langsung memberangus berbagai bisikan biadab tersebut dan tidak pernah memberinya peluang untuk melekat di batin anda. Akan tetapi betapa banyak dari saudara-sadara kita yang lemah iman menjadi termenung dan kebingungan memikirkannya.

Ketahuilah saudaraku! Bahwa efek samping dari berbagai amal ibadah di atas, walaupun terasa tidak baik dan kurang menyenangkan, akan tetapi itu merupakan bagian dari uji keimanan anda. Akankah dengan adanya efek samping yang kurang menyenangkan itu, anda menjadi hanyut oleh badai bisikan setan ataukah anda tetap tegar berjuang mencari keridhaan Allah?

Segala hal yang kurang menyenangkan yang menimpa anda semasa menjalankan ibadah kepada Allah adalah bagian dari duri dan aral yang melintang di jalan-jalan menuju surga Allah.

Demikianlah ketetapan Allah yang berlaku pada kehidupan dunia. Pintu-pintu surga bertabirkan duri dan kesusahan. Sedangkan pintu-pintu neraka diselimuti oleh kesenangan.

Walau demikian, rasa sakit dan hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut tidak akan sia-sia begitu saja.

Semuanya bernilai ibadah dan mendapatkan balasan yang setimpal dan bahkan lebih baik.

Bau mulut anda semasa berpuasa akan berubah menjadi aroma yang lebih harum dibanding aroma misk.

Penampilan anda yang kusut lagi berdebu semasa berihram menjalankan manasik haji dan umrah, berbuah ampunan dari Allah.

(انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي شُعْثاً غُبْراً، اشْهَدُوا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ذُنُوبَهُم)

“Saksikanlah hamba-hambaku yang sedang berpenampilan kusut lagi berdebu. Persaksikanlah bahwa aku telah mengampuni seluruh dosa-dosa mereka.” (Riwayat At Thabrani, Ibnu Hibban dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani).

Bekas sujud yang melekat di dahi, hidung, lutut, tangan dan kaki anda akan terhindar dari sengatan api neraka.

(حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ مِنِ ابْنِ آدَمَ أَثَرَ السُّجُودِ)

“Allah mengharamkan atas api neraka untuk menyentuh anggota tubuh manusia yang membawa bekas sujud.” (Riwayat Bukhary).

Tidakkah anda mengimpikan untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang kelak di hari kiamat mulutnya berbau harum bak misk, dan tubuh anda selamat dari sengatan api neraka.?

Saudaraku! Besarkan hatimu dan ridhailah Islam sebagai agamamu, niscaya Allahpun meridhaimu.

Sadarlah, bahwa jalan menuju ke surga penuh dengan duri tajam, dan aral yang melintang. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan hati anda dan membulatkan tekad tekad anda, dan menjadikan perjumpaan kita di surga.

Meratapi Nasib Nenek Tua Tukang Tenun

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Ketika hari raya telah tiba, saya yakin saudara mengenakan baju baru, sehingga saudara tampil lebih cakap nan rupawan. Akan tetapi pernahkan saudara mengamati pakaian yang anda kenakan?

Tahukah anda, bagaimana pakaian anda ini dibuat, dimulai dari kapas, kemudian dipintal dan proses lain selanjutnya, hingga akhirnya sampai ke tangan anda dan anda kenakan? Semuanya dilakukan dan diproses dengan tekhnologi canggih. Sehingga sekarang ini, anda tidak perlu pusing-pusing mengetahui proses pembuatannya.

Akan tetapi tidakkah saudara pernah dibawa oleh lamunan saudara, kepada suatu pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan disaat nenek moyang saudara sedang memintal benang, lalu menenunnya, dan kemudian mewarnainya dan akhirnya dengan kedua tangannya, mereka menjahitnya menjadi pakaian lebaran untuk anak-anaknya. Semua proses dari tahap ke tahap selanjutnya dilakukan dengan peralatan yang serba sederhana dan dikerjakan dengan kedua tangan sendiri.

Saudara bisa bayangkan, betapa besar rasa bahagia putra-putri mereka tatkala mendapatkan pakaian tersebut. Bagai mereka, hari raya Iedul Fitri terasa begitu bahagia, senyuman lebar senantiasa menghiasi bibir mereka.

Demikianlah kira-kira gambaran nenek moyang saudara tatkala mempersiapkan pakaian Iedul Fitri untuk anak-anaknya.

Akan tetapi coba saudara sedikit menambahkan gambaran baru pada lamunan saudara. Tatkala salah saorang dari nenek saudara yang telah berjuang siang dan malam. Ia dengan sabar memintal kapas menjadi benang, lalu melanjutkan perjuangannya dengan merajutnya menjadi selembar kain sehingga siap untuk dijahit menjadi pakaian. Rasa gembira telah menghampiri raut wajah anak-anaknya, karena merasa tak lama lagi pakaian Ied mereka segera jadi.

Diluar dugaan, sang nenek bukannya melanjutkan perjuangan dengan menjahit kain hasil tenunannya, ia malah kembali mengurai hasil tenunannya menjadi benang. Dan ia terus mengurai benang itu kembali menjadi onggokan kapas.

Saudara bisa bayangkan, bagaimana perasaan dan sikap putra-putri sang nenek tersebut? Kebahagiaan yang telah menghampiri mereka sekejap sirna, dan tawa ria berubah menjadi jerit tangis duka.

Saudaraku! Menurut hemat saudara, perbuatan nenek itu baik atau tercela? Dan andai saudara adalah salah seorang putra atau putri nenek tersebut, bagaimana perasaan saudara menyaksikan perbuatan ibunda tersebut?

Ini adalah gambaran sederhana bagi keadaan yang semoga tidak sedang saudara alami. Setelah saudara dengan segara daya dan upaya merajut kebahagiaan dan keberhasilan di bulan Ramadhan. Setelah saudara mulai merasakan indahnya sholat berjamaah di masjid. Setelah saudara merasakan betapa damainya batin saudara yang jauh dari bisikan setan. Setelah saudara merasakan betapa bahagianya menikmati hidangan buka puasa.

Setelah saudara mulai merasakan betapa manisnya keimanan. Akankah semuanya itu kembali saudara uraikan satu demi satu?

Akankah saudara dengan kedua tangan dan kaki saudara meruntuhkan tumpukan pahala yang telah tersusun rapi di lembar catatan amal saudara? Hanya saudaralah yang mampu membuktikan berbagai pertanyaan di atas.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (An Nahl: 92)

Saudaraku! Walau demikian, ada satu indikasi yang dapat saudara jadikan pedoman dalam mengenali apakah sekarang ini saudara sedang memupuk subur pahala yang telah saudara kumpulkan atau sedang meruntuhkannya kembali.

Anda penasaran ingin mengetahui apakah indikasi tersebut? Indikasi tersebut ialah amalan saudara sendiri.

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al Mukminun 60-61)

Pada suatu hari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang maksud ayat ini: Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang yang biasa mabok-mabok minum khomer, dan mencuri? Menanggapi pertanyaan istri tercintanya ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ رواه أحمد والترمذي وابن ماجة
“Bukan, wahai Putri As Shiddiq! Akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang rajin berpuasa, mendirikan sholat, dan bersedekah, walau demikian mereka senantiasa kawatir bila amalan mereka tidak diterima Allah, karenanya mereka selalu bersegera dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Riwayat Ahmad, At Tirmizy dan Ibnu Majah)

Tidak heran saudaraku bila dahulu para ulama’ dan orang-orang sholeh senantiasa berjuang untuk beramal sholeh setiap waktu. Mereka senantiasa mengingat dan menyadari bahwa pada suatu saat nanti mereka pasti menghadap kepada Pencipta mereka yaitu Allah Yang Maha Keras Siksa-Nya. Mereka hanya memiliki satu batas waktu untuk berhenti dari perjuangan beramal sholeh:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang kepastian (ajal).” (Al Hijer: 99)

Karena perjalanan ibadah saudara demikian panjang, tidak heran bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya agar mereka bersikap yang proporsional dalam beramal. Tidak telalu memaksakan diri dengan mengamalkan amalan yang terlalu berat baginya dan tidak lemah semangat sehingga malas beramal.

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ) متفق عليه
“Wahai para manusia! Amalkanlah amalan yang kalian kuasa untuk menjalankan dengan terus menerus, karena Allah tidak akan pernah merasa bosan, walaupun kalian telah dihinggapi rasa bosan untuk beribadah. Dan sesungguhnya amalan yang paling Allah cintai ialah amalan yang diamalkan dengan kontinyu walaupun hanya sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih).

Saudaraku! Bila pada bulan Ramadhan, anda telah mengenal ibadah puasa, sholat malam, sedekah kepada fakir-miskin, membaca Al Qur’an, dan ibadah lainnya, akankah semua itu tenggelam bersama tenggelamnya bulan Ramadhan?

Tidakkah saudara merasa terpanggil untuk meneruskan amal ibadah itu walau hanya sedikit, sehingga hari-hari saudara senantiasa dihiasi dengan aliran pahala dan kedamaian karena berada dekat dengan Allah?

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat istiqamah dalam beribadah kepada-Nya. Hanya dengan demikian kita dapat menjaga rangkaian pahala yang telah tersusun rapi pada lembaran amal kita dan tidak kembali meruntuhkannya satu demi satu.

Wallahu a’alam bisshowab.

Hijau Royo-Royo

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sahabatku! Memandangi hamparan padi di sawah yang berwarna hijau sungguhlah menyejukkan hati, karena membawa sejuta harapan. Namun demikian, hijaunya padi yang semula nampak indah tidak lama lagi akan berubah warna menjadi kekuningan. Dan kala itu, kuningnya warna padi juga menyejukkan hati karena bukan lagi menjanjikan sejuta harapan, namun harapan petani kini benar benar telah menjadi kenyataan.

Di saat musim panen tiba, tiada seorangpun dari petani yang menyesali kepergian warna hijau yang beberapa hari lalu nampak begitu indah dan menyejukkan. Andai ada seorang petani yang meratapi kepergian indahnya warna hijau yang telah berganti dengan warna kuning, niscaya semua orang menganggap petani tersebut telah terperosok dalam kebodohan besar.

Namun, setiap petani pasti berduka yang mendalam andai kepergian warna hijau dan berganti menjadi coklat atau hitam karena serangan hama, sehingga gagal panen.

Demikianlah kehidupan dunia ini, kemaren anda adalah anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Kedua orang tua anda begitu bahagia mendengar canda dan tawa anda. Apapun yang anda lakukan selalu saja nampak lucu dan menyenangkan.

Saya yakin kedua orang tua anda tidak pernah menyesali kepergian masa kekanak-kanakan anda, karena kini anda telah berubah menjadi lelaki atau wanita dewasa yang berhasil mewujudkan harapan mereka.

Walau penampilan anda yang imut telah sirna dan ulah anda yang lucupun tinggal kenangan, namun semua itu tidak mereka sesali, karena kini anda telah menjadi anak sholeh yang berbakti kepada orang tua. Kini anda menjadi penawar rasa lelah dan letih perjuangan mereka mendidik dan menafkahi anda. Dengan demikian anda senantiasa menjadi penyejuk dalam hidup mereka.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang senantiasa berdoa: Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami penyejuk pandangan kami dari istri-istri dan anak-anak kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin orang orang yang bertaqwa.” (Al Furqan 72)

Namun tentu penyesalan kedua orang tua anda tiada dapat digambarkan atau dibayangkan, bila hingga kini anda gagal mewujudkan harapan mereka, bahkan tiada henti anda menambah berat beban hidup mereka. Umur mereka yang telah lanjut dan fisik mereka yang telah lemah, namun demikian anda belum kunjung juga meringankan beban hidup mereka.

Saudaraku! Dari golongan manakah anda saat ini?

Antara Penjual Emas, Intan Berlian Dan Penjual Sayuran

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Salah satu keunikan di negri kita ialah adanya pedagang keliling, dari rumah ke rumah. Kehadiran mereka sangat memudahkan urusan anda, bukankah demikian?

Mereka berhenti di setiap gang, bahkan di depan setiap rumah menawarkan dagangannya. Sayur, sayur, bumbu bumbu, daging daging, atau belanja buk? Bahkan dagangannya digelayutkan di kendaraan mereka, seakan tanpa rasa kawatir ada yang mencuri atau paling kurang terjatuh.

Demikian teriak para pedagang sayuran keliling. Mereka optimis setiap rumah yang mereka lalui berpotensi untuk membeli dagangannya, karena itu mereka menawarkan dagangannya kepada semua orang.

Kondisi yang sangat berbeda dengan penjual emas atau bahkan intan berlian. Sebatas yang saya ketahui belum ada pedagang emas atau berlian keliling yang menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah. Biasanya mereka memasarkan dagangannya dengan cara membuka toko yang didesain mewah dan penuh dengan fasilitas pengamanan yang ketat, CC TV, teralis besi, satpam dan lainnya.

Saudaraku, saya yakin anda memaklumi dan dapat menerima perbedaan antara penjual sayuran dari penjual emas dan intan berlian, walaupun tujuan mereka sama yaitu mencari keuntungan.

Barang kali anda akan berkata: nilai barang dagangannya yang membedakan, dan tentunya juga konsumennya. Emas dan intan berlian bernilai super mahal, dan konsumennya juga terbatas.

Saya yakin anda akan curiga dan was was bila diminta membeli emas atau intan berlian dari pedagang keliling. Namun sebaliknya anda ketakutan untuk belanja sayuran di toko yang didesain mewah dengan pengaman maksimal seperti yang ada di toko emas.

Kemurnian emas menjadi salah satu hal yang anda perhatikan, karena anda pasti enggan untuk tertipu atau merugi gara gara membeli emas SEKARAT dengan harga emas 24 karat.

Saudaraku! Perbedaan semacam di atas sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi kita bahwa sikap atau metode dapat dan bahkan sepatutnya dibedakan selaras dengan perbedaan jenis amalan dan obyek amalan kita.

Bila perbedaan obyek jual beli anda mengharuskan anda menerima perbedaan seperti tergambar di atas, tentu sikap serupa sepatutnya anda lakukan pada urusan agama dan dunia anda.

Betapa banyak ummat Islam yang menyikapi urusan agama seperti sikapnya terhadap urusan dunianya. Betapa sering kita menjadikan logika, budaya dan perasaan ( kepuasan pribadinya ) menjadi standar kebenaran dalam urusan agama sebagaimana halnya dalam urusan dunia.

Seharusnya dalam urusan agama, kita memiliki kehati hatian melebihi kehati hatian kita ketika membeli emas atau intan berlian. Kemurnian agama seperti yang diajarkan oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam menjadi salah satu pertimbangan utama sebagaimana halnya yang anda lakukan ketika membeli emas atau intan berlian.
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa mengamalkan satu amalan yang tiada contohnya dari kami niscaya amalannya itu tertolak. ( Bukhary)

Sahabatku! Betapa meruginya diri anda bila beramal dengan semangat besar ternyata amalan anda telah tercampuri oleh hal hal yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana anda merugi bila membeli emas SEKARAT seharga emas 24 Karat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊