Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Ya Akhi, Saya Ikhlas Kok !

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! siapa yang tidak tahu pentingnya keikhlasan dalam amal ibadah anda. Betapa banyak atau betapa sering kita mendengar bahkan kita mengucapkan: saya ikhlas melakukan hal ini, atau itu, saya ikhlas memberi ini dan itu, atau saya tulus melakukan ini dan itu untuk anda. Dan masih banyak ucapan senada yang terucap dari lisan kita.

Sobat! Pernahkah anda merenungkan makna ucapan “saya ikhlas” atau “saya tulus” ?

Terdengarnya menyejukkan dan meyakinkan, namun sejatinya sangat mencurigakan dan meragukan. Andai benar-benar tulus dan ikhlas, buat apa ketulusan dan keikhlasan diucapkan dan bahkan diceritakan ke sana dan kemari ?

Andai benar-benar ikhlas, mengapa ada rasa gembira di saat dipuji dan sebaliknya tersinggung ketika ditolak atau bahkan dimaki ?

Sobat! Ketahuilah, sejatinya Orang yang benar-benar ikhlas adalah orang yang tidak berubah sikap atau perasaan ketika dipuji atau dimaki. Pujian dan makian sesama manusia bagi orang yang ikhlas tiada bedanya, karena itu mereka lebih suka menyembunyikan amalannya dibanding menampakkannya.

Demikianlah paling kurang gambaran tentang keihlasan yang dapat kita simpulkan dari hadits berikut:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ “وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Diantara orang yang mendapat jaminan akan dinaungi di bawah Aresy Allah kelak di hari qiyamah ialah : lelaki yang menyedekahkan sebagian hartanya, lalu ia merahasiakan sedekahnya sampai sampai tangan kirinya tiada mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan orang yang berdzikir mengingat Allah di tempat sunyi, lalu kedua air matanya berlinang menangis.”
( Muttafaqun ‘alaih)

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Pemimpin Bodoh Dan Bermental Kerdil

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Said bin Sam’an mengisahkan bahwa dirinya pernah mendengar sahabat Abu Hurairah rahdiaAllahu anhu memohon perlindungan kepada Allah dari pemimpin yang bermental kerdil / kekanak kanakan dan pemimpin pemimpin pandir. (Bukhary dalam Kitab Al Adab Al Mufrad)

Sobat! Kalau anda memilih golput, saya yakin anda dengan ikhlas selalu berdoa agar Allah memilihkan pemimpin yang terbaik buat ummat Islam di negri kita ini. Saya yakin anda bukanlah orang yang malas berdoa, dan hanya hobi mencela.

Dan andai anda akan menggunakan hak suara anda besok hari sebagai ikhtiyar memilih yang paling menguntungkan. Maka saya yakin andapun juga selalu berdoa dengan tulus agar Allah membimbing anda sehingga tepat memilih.

Ya Allah lindungilah kami dan seluruh ummat Islam di negri ini dari pemimpin kerdil lagi pandir.

Ya Allah, lindungilah kami dari pemimpin yang hobi berdusta, kemarin berkata: akan pulang kampung mendidik cucu, namun kini terbukti dusta dan ambisinya.

Beginilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Menyikapi Nuzulul Qur’an

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?

Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur’an; diturunkannya Al Qur’an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al Baqarah 185)

Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.

Pernahkan pada suatu anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama’ terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?
Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas tentang apa yang beliau lakukan.

(كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ) رواه البخاري
“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari).

Demikianlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?

Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

)الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ)
Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. ….
Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur’an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.

Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.

Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?
Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu pada bulan Ramadhan?

Imam As Syafi’i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak enam puluh (60) kali.

Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi’i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur’an.

Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi’i yang sebenarnya.

Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al Qur’an.
Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur’an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.

Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.

Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah.Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az Zumar 23).

Dan oleh firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ الأنفال 2-4
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Al Anfaal 2-4)

Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.

Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?

Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur’an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?

Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur’an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?

Aduuh, Sombongnyaa !

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Kerongkongan terasa kering keronta, perut terasa lapar, akibatnya badan terasa lemas, konsentrasi berkurang, dan produksi turun. Mood andapun berantakan; emosional, mudah tersinggung, dan empati kepada orang sekitarpun tak menentu.

Coba anda berdiri di depan kaca, amatilah raut wajah anda. Lesu, muram dan mungkin ketampanan atau kecantikan yang selama ini melekat di wajah anda terkikis atau bahkan telah sirna.

Mungkin demikianlah gambaran tentang diri anda pada setiap siang hari di bulan Ramadhan, terlebih-lebih bila pada pagi harinya anda tertidur sehingga tidak sempat menyantap makan sahur.

Apa gerangan yang menjadikan diri anda demikian adanya? Bukankah selama ini anda dikenal sebagai seorang yang gagah perkasa,cerdas, cakap, sigap dan berpenampilan menawan?

Mengapa semua ini terjadi pada diri anda? Apa yang menjadikan diri anda berubah total sedemikian rupa, padahal anda tidak sedang menderita sakit, atau didera masalah berat, juga tidak sedang dililit hutang?

Selanjutnya, coba bandingkan diri anda setelah anda meneguk seteguk air dan menyantap sesuap nasi. Semuanya jadi berubah, anda kembali ceria, raut wajah anda kembali menawan, mood andapun kembali normal, ketangkasan dan kecerdasan andapun kembali seperti sedia kala.

Subhanallah! Ketampanan, kecerdasan, ketangkasan, kegagahan, yang selama ini anda sandang ternyata tergantung dengan sesuap nasi dan seteguk air.

Sedemikian besarkah peranan sesuap nasi dan seteguk air dalam hidup anda, sampai-sampai kehidupan anda menjadi berubah hanya karena telat makan dan minum?

Mungkinkah kepandaian anda, kegagahan, dan ketampanan anda selama ini sebenarnya terletak pada nasi sesuap dan air seteguk?

Bila demikian adanya, mengapa selama ini ada keangkuhan dan kesombongan dalam kehidupan anda? Mengapa kecongkakan senantiasa menghiasi lembaran sejarah hidup anda?

Bila demikian, mengapa anda seakan tidak butuh kepada kasih sayang dan pertolongan Allah, sehingga anda jarang mengangkat tangan untuk berdoa kepada-Nya?

Saudaraku! Simaklah petuah Luqman Al Hakim kepada putranya:

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Al Isra’ 37)

Apa yang dapat anda lakukan bila ternyata segala kehebatan anda tergantung kepada sesuap nasi dan seteguk air? Mungkinkah dengan kesombongan dan keangkuhan anda mampu menembus bumi dan mengalahkan ketinggian gunung

Saudaraku! Apalah artinya kesombongan dan keangkuhan, bila ternyata nilai kegagahan, kecakapan, dan kecerdasan anda hanya seberat sesuap nasi dan seteguk air, sehingga sekedar anda telat makan dan minum sejenak saja, semuanya mulai meredup.

Coba anda bayangkan, andai rasa lapar dan haus yang anda rasakan sekarang ini berkepanjangan sebagaimana yang dirasakan oleh banyak orang, akankah kegagahan, ketampanan dan ketangkasan masih melekat pada diri anda?

Subhanallah! Ternyata semua yang anda miliki tidak lagi berguna, di saat anda terhalang dari seteguk air dan sesuap nasi. Betapa hinanya kehidupan dunia yang anda perjuangkan selama ini.

Pada suatu hari Ibnu As Simaak manemui Harun Ar Rasyid. Tak berapa lama, Harun Ar Rasyid merasa haus, sehingga iapun segera memerintahkan agar diambilkan air minum. Tanpa pikir panjang seorang pelayan segera membawa bejana yang berisi air dingin. Sebelum Harun Ar Rasyid meminum air itu, ia berkata kepada Ibnu As Simaak: Berilah aku petuah! Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Ibnu As Simaakpun segera berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin! Berapakah engkau akan menebus air minum itu bila engkau sedang kehausan dan ternyata aku kuasa menghalangimu darinya? Harunpun menjawab: Dengan separoh kerajaanku. Selanjutnya Ibnu As Simaak berkata: Silahkan engkau menikmati air minummu.

Seusai Harun Ar Rasyid minum air itu, Ibnu As Simaak kembali bertanya: Bayangkan, andai aku kuasa menghalang-halangi air minum yang telah engkau minum untuk keluar dari tubuhmu (menyumbat saluran air senimu), berapakah biaya yang akan engkau keluarkan agar air senimu dapat keluar? Harun Ar Rasyidpun kembali menjawab: Sebesar sisa kerajaanku.

Mendengar jawaban ini, Ibnu As Simakpun menimpalinya dengan berkata: “Suatu kerajaan yang separohnya dihargai dengan seteguk air, dan sisanya dihargai dengan air seni, tidaklah pantas untuk diperebutkan.” Mendengar petuah ini, spontan Harun Ar Rasyidpun menangis tersedu-sedu. (Tarikh At Thobary 6/538 & Al Bidayah wa An Nihayah 10234)

Demikianlah fakta diri anda, masihkah anda tergoda untuk bersikap angkuh, sombong dan merasa hebat?

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya kesempurnaan diri anda terletak pada kerendahan hati anda, semakin anda rendah hati, maka semakin tinggi derajat anda disisi Allah dan di sisi masyarakat.

Akan tetapi semakin anda merasa angkuh dan merasa tinggi, maka semakin rendah kedudukan anda di sisi Allah dan juga di sisi masyarakat.

(مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ) رواه أحمد وغيره وحسنه الألباني

“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya.” (Riwayat Ahmad dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani).

Dan sebagian ulama’ terdahulu berkata:

مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ ، فَهُوَ فِي نَفْسِهِ صَغِيرٌ ، وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ عَظِيمٌ ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ، فَهُوَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ صَغِيرٌ ، وَفِي نَفْسِهِ كَبِيرٌ ، حَتىَّ لَهُوَ أَهْوَنَ عَلَيهِمْ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيرٍ

“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya. Dengan demikian ia merasa dirinya kecil tidak berarti, akan tetapi masyarakat memandangnya sebagai orang yang mulia nan terhormat. Dan barang siapa yang berlaku sombong, niscaya Allah menghinakannya, sehingga masyarakat memandangnya sebagai orang hina, walaupun ia merasa sebagai orang besar, sampai-sampai di mata masyarakat ia lebih hina dibanding anjing atau babi.”

Demikianlah saudaraku! Ibadah puasa telah menyingkap siapa sebenarnya jati diri anda. Bersyukurlah kepada Allah Yang masih memberi kesempatan kepada anda untuk mengenal siapa sebenarnya diri anda. Dengan demikian anda tidak hanyut oleh kenikmatan Allah sehingga lupa daratan dan bersikap angkuh lagi sombong.

Apa yang saya paparkan di atas, bukan berarti larangan anda menikmati makanan yang lezat, mengenakan pakaian yang bagus dan menikmati kehidupan dunia lainnya. Nikmatilah karunia Allah, akan tetapi pada waktu yang sama, ketahuilah bahwa kekayaan dunia bukanlah standar kemuliaan seseorang.

(إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلاَقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ اللهَ لَيُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ أَحَبَّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الدِّينَ إِلاَّ مَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ) رواه الحاكم وغيره وصححه الألباني

“Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi akhlaq/perangai kalian, sebagaimana Allah telah membagi-bagi rizqi kalian. Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan kekayaan dunia kepada orang yang Ia cintai dan juga kepada orang yang tidak Ia cintai. Sedangkan Ia tidak pernah memberi kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) kecuali kepada orang yang Ia cintai. Dengan demikian, orang yang telah dikaruniai kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) berarti Allah telah mencintainya.” (Riwayat Al Hakim dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)

Jelaslah, bahwa apa yang selama ini didoktrinkan oleh sebagian orang tua: “harga diri seseorang dipandang dari penampilannya”, tidak pada tempatnya.

Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang dinilai dari kesucian jiwa dan keluhuran akhlaqnya.

(رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ) رواه مسلم

“Mungkin saja orang yang berpenampilan kusut, senantiasa diusir dari pintu rumah orang, akan tetapi bila bersumpah memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah mengabulkannya.” (Riwayat Muslim).

Bila anda berjiwa luhur dan berakhlaq mulia, maka dimata anda segala gemerlap dunia menjadi remeh.

Semoga ibadah puasa anda dapat meninggikan derajat jiwa anda dan merubah akhlaq anda menjadi semakin mulia.

Wallahu a’alam bisshowab.

Iih Pelitnya, Amit-Amit!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku!
Apakah anda rajin membaca Al Qur’an, terutama di bulan suci ini? Atau mungkin juga anda telah rajin menghadiri pengajian, sehingga telah banyak menguasai ilmu agama?
Mungkin jawaban anda: Wah kurang tahu ya, apakah saya telah tergolong yang banyak membaca Al Qur’an, atau bukan?!. Dan saya juga bingung, apakah saya telah berhasil mendapatkan ilmu agama yang cukup banyak dari pengajian-pengajian yang saya hadiri atau belum?

Anda ingin mengetahui posisi diri anda dalam dua hal tersebut?
Tenang saudaraku tidak usah bingung, tidak sulit kok mengetahui posisi anda. Anda penasaran ingin mengetahuinya? Mudah saudaraku, renungkan hadits berikut dengan baik, niscaya anda dapat mengetahui posisi anda dalam dua hal tersebut di atas.

عَنِ ابْنِ عَبَّاس قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه

“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas , ia mengisahkan: “Dahulu Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi membaca Al Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar Al Asqalaani menjelaskan bahwa kedermawanan dalam syari’at adalah memberi sesuatu yang pantas/layak kepada yang pantas/layak menerimanya. Dengan demikian, kedermawanan lebih luas cakupannya dibanding sedekah. (Fathul Bari 1/31)

Saudaraku! Kedermawanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan terutama setelah bertadarus Al Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihissalam mencapai puncaknya. Tahukah anda, apa sebabnya kedermawanan beliau berubah mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan?

Bukankah pada bulan ini produktifitas seseorang berkurang, sehingga kemungkinan besar penghasilannyapun berkurang?

Bukankah pada bulan ini kita berpuasa sehingga lapar dan haus, akibatnya kitapun semakin berambisi untuk menguasai dan menikmati seluruh makanan dan minuman yang kita miliki? Coba antum ingat-ingat kembali apa yang anda lakukan ketika persiapan berbuka? Rasanya, seluruh hidangan yang tersedia di meja makan hendak disantap seorang diri. Bukankah demikian?

Para ulama’ menjelaskan hikmah perubahan kedermawanan Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ramadhan, terlebih-lebih seusai bertadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Dijelaskan bahwa membaca Al Qur’an dan memahami kandungannya mendorong beliau untuk semakin merasa kecukupan, dan terbebas dari sifat tamak. Dan perasaan kecukupan semacam inilah yang mendasari setiap kedermawanan. Ditambah lagi pada bulan Ramadhan karunia Allah kepada umat manusia berlipat ganda, karenanya beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senang untuk meneladani sunnatullah dengan melipat gandakan kedermawanan beliau.

Dengan bersatunya beberapa hal di atas, keutamaan waktu ditambah perjumpaan dengan Malaikat Jibril bersatu padu dalam diri beliau sehingga kedermawanan beliau berlipat ganda. (Fathul Bari 1/31)
Anda ingin mengetahui sejauh mana kedermawanan beliau? Berikut adalah salah satu contohnya:

عن أنس قال: جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ.

“Sahabat Anas mengisahkan: “Pada suatu hari ada seseorang yang datang menemui Rasulullah , lalu beliau memberinya hadiah berupa kambing sebanyak satu lembah. Spontan lelaki itu berlari menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, hendaknya kalian semua segera masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang sangat besar, seakan ia tidak pernah takut kemiskinan.” (Riwayat Muslim)

Saduaraku! Coba saudara kembali membaca hadits di atas.
Pada hadits itu kedermawanan beliau digambarkan lebih baik dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus. Ini adalah pertanda bahwa kedermawanan beliau tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, akan tetapi dapat dirasakan oleh seluruh orang, tanpa ada perbedaan, walaupun diantara mereka ada perbedaan martabat, kekerabatan atau lainnya. Sebagaimana ini sebagai isyarat bahwa kedermawanan beliau terus mengalir dan tidak pernah terhenti.

Nah, sekarang anda sudah mengetahui apakah anda telah banyak membaca Al Qur’an dan telah banyak mendapatkan ilmu agama?

Ketahuilah saudaraku! bila bacaan Al Qur’an dan pengajian yang anda hadiri memotivasi anda untuk semakin bersikap dermawan, berarti anda termasuk orang yang benar-benar rajin membaca Al Qur’an dan telah berhasil menguasai ilmu agama. Sebaliknya, bila bacaan Al Qur’an anda dan juga pengajian anda di hadapan para ustad dan juru ceramah tidak menjadikan anda bersikap dermawan, maka bacaan Al Qur’an anda dan pengajian anda perlu dikoreksi ulang.

Al Qur’an dan ilmu agama senantiasa menuntun anda untuk bertambah iman kepada Allah Ta’ala dan janji-janji-Nya kepada orang yang berlaku dermawan. Ilmu anda membimbing anda untuk semakin beriman bahwa setiap uluran tangan anda kepada orang lain pasti mendapatkan gantinya dari Allah.

(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.)

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun padanya, kemudian salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah orang yang berinfaq pengganti, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfaq) kehancuran.” (Muttafaqun ‘alaih).

Saudaraku! Bagaimanakah dengan diri anda di bulan suci ini, apakah anda semakin bertambah dermawan atau sebaliknya? Hanya anda yang mengetahui jawaban pertanyaan ini, karenanya buktikan pada diri anda bahwa anda pada bulan suci ini juga bertambah dermawan.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita pada bulan suci ini termasuk orang-orang terbukti bersifat dermawan. Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Budaya Jadi Agama Atau Agama Jadi Budaya ?

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Menurut anda, manakah yang lebih baik: menjadikan budaya sebagai agama atau menjadikan agama sebagai budaya?

Mungkin bagi banyak orang, membudayakan agama lebih baik dibanding menjadikan budaya sebagai agama. Menjadikan budaya sebagai agama sama saja membuat agama baru.

Menjadikan agama sebagai budaya berarti agama telah menjadi rutinitas dan dibubuhi nilai-nilai seni dan “kearifan” lokal. Dengan demikian, terwujudlah keunikan praktek beragama selaras dengan keunikan budaya lokal. Karena itu muncullah sebutan Islam Jawa, Islam Sumatra, Islam Arab, Islam Cina dan lainnya.

Puasa adalah momentum tepat bagi anda untuk dapat membedakan antara kedua perilaku di atas dan selanjutnya memilih sikap yang tepat.

Anda berhenti makan ketika telah terbit fajar bukan karena budaya atau kebiasaan, namun karena menjalankan perintah Allah dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana anda makan di saat telah terbenam matahari bukan karena tidak katahuan, namun juga karena menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya setelah anda terbiasa berpuasa sebulan penuh, anda menghentikan kebiasaan tersebut bukan karena telah lelah berpuasa, namun karena menjalankan perintah. Bila bulan sabit Syawwal telah terbit anda berhenti berpuasa walaupun anda telah terbiasa dengan puasa. Hanya ada satu alasan anda menghentikan puasa yang telah terbiasa anda lakukan, yaitu dalam rangka patuh dan tunduk kepada syariat Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah semangat ibadah puasa bila telah menyatu dengan jiwa anda, anda berbuat karena perintah dan izin Allah dan anda meninggalkan juga hanya karena perintah Allah Azza wa Jalla semata.

Andai semangat ini berhasil anda aplikasikan dalam setiap aspek kehidupan anda, maka sungguh anda telah berhasil menjadi muslim sejati dan hamba Allah yang sebenarnya. Semua urusan sepenuhnya anda serahkan kepada Allah Azza wa Jalla.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masukkan kalian semua ke dalam agama Islam secara Kaafah/menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah langkah setan, sejatinya setan itu adalah musuh kalian yang nyata.” ( Al Baqarah 208)

.

Kaki Manusia Dan Kaki Semut

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Banyak perbedaan antara kedua kaki ini.

Namun diantara pelajaran yang dapat kita petik ialah disaat kaki anda kesemutan, anda segera berusaha menanggulangi atau mengobatinya. Anda sadar sepenuhnya bila kaki kesemutan berarti ada sesuatu yang tidak beres pada kaki atau diri anda. Terlebih bila kesemutannya berlangsung cukup lama, maka pikiran anda mulai kesana sini, kawatir anda diserang penyakit.

Namun demikian sangat mengherankan betapa banyak orang yang sekian lama matanya jelalatan hingga disebut bermata kuda /mata keranjang kok tidak segera sadar untuk mengobatinya?

Demikian pula perilaku hewan lainnya, banyak menular kepada manusia namun dibiarkan berkepanjangan tidak segera diobati.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Iiih, Ternyata Hanya PENCITRAAN

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Bulan Ramadhan, dan ibadah puasa mengajarkan anda untuk bisa mengikhlaskan amalan anda hanya untuk Allah. Yang demikian itu karena Ibadah puasa mengajarkan anda untuk hanya tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan Allah Ta’ala. Anda dilarang makan, minum dan melampiaskan syahwat birahi anda, semua itu hanya karena patuh kepada perintah dan larangan-Nya.

Sejatinya, anda bisa sembunyi-sembunyi makan atau minum dan tentunya melampiaskan syahwat anda, tanpa diketahui oleh manusia siapapun dia. Bahkan bisa saja dengan mudah anda berpura-pura lupa, namun demikian anda tidak melakukan hal itu karena patuh kepada perintah Allah semata.

Bukan hanya itu, selama berpuasa anda juga diajarkan untuk menahan emosi dan ambisi manusiawi anda, demi menjaga keutuhan ibadah puasa anda. Karena itu, bila ada orang yang memaki atau menyakiti anda, anda dilarang untuk membalas dan dianjurkan untuk terus menginspirasi diri dengan berkata : aku sedang berpuasa.

Dengan demikian, Ibadah puasa benar benar berbeda dari ibadah ibadah lainnya, karena puasa membentuk kepribadian anda agar bisa ikhlas lillah selalu. Berbuat karena perintah Allah dan meninggalkan juga karena Allah semata, walaupun dalam hal-hal yang bersifat duniawi, semisal makan, minum dan melampiaskan syahwat birahi.

Di pagi hari ketika terbit fajar anda berhenti makan, dan ketika terbenam matahari anda segera makan / berbuka, dan semua itu anda lakukan dalam rangka menjalankan perintah Allah. Dan sudah barang tentu Allah-pun memberi pahala yang berlipat atas makan sahur dan buka anda.

Jikalau anda benar-benar berhasil mengilhami ibadah puasa anda, niscaya anda menjadi sosok muslim yang tulus alias ikhlas, seperti dalam pepatah jawa: rame ing gawe sepi ing pamprih ( banyak berkarya namun tiada memiliki ambisi/ harapan).

Fakta ibadah puasa ini tentu bertentangan dengan budaya PENCITRAAN yang dilakukan oleh sebagian manusia, berbuat agar dikenal lalu diberi posisi sosial atau politis. Semoga Allah melimpahkan keikhlasan kepada kita dan melindungi kita dari budaya PENCITRAAN dan dari pelakunya.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Satu Beradab Sedangkan Dua Serakah

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Di bulan Ramadhan ini, biasanya ummat Islam sampaipun yang di negri kita Indonesia, menikmati buah kurma. Satu kenikmatan yang patut disyukuri. Betapa tidak, dahulu,bagi banyak orang, kurma hanya diperoleh bila ada kerabat atau sahabat yang pulang dari negri arab. Kurma menjadi salah satu oleh-oleh istimewa yang dinanti-nantikan, namun kini semuanya telah berubah, sehingga buah istimewa ini dengan mudah kita dapatkan di pasar dengan harga yang terjangkau.

Walau demikian, di bulan Ramadhan ini, buah kurma kembali menjadi istimewa, karena mayoritas ummat Islam menyadari bahwa disunnahkan untuk menjadikan buah kurma sebagai santapan pembuka puasa kita.

Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم يكن رطبات فعلى تمرات فإن لم يكن تمرات حسا حسوات من ماء
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka puasa dengan menyantap beberapa biji kurma segar (Ruthab) sebelum mendirikan shalat Maghrib. Dan bila tida ada kurma segar (ruthab) maka beliau menyantap beberapa biji kurma, dan bila tidak ada kurma, maka beliau meneguk beberapa teguk air.” (Ahmad dan lainnya)

Saya yakin, semangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang menjadikan anda membeli dan menyajikan buah kurma di rumah anda di setap bulan Ramadhan.

Sobat! Untuk semakin menyempurnakan keteladanan anda kepada beliau dalam amalan ini, maka ada baiknya bila anda mengindahkan adab makan kurma, terlebih bila anda sedang makan bersama keluarga atau sahabat anda.

Jabalah mengisahkan: Suatu hari kami sedang berada di kota Madinah bersama beberapa orang dari negri Irak. Kala itu, kami sedang dilanda paceklik, sehingga Abdullah bin Az Zubair membagi-bagikan kurma kepada kami. Di saat kami menerima pembagian kurma, sahabat Abdullah bin Umar melintas, lalu beliau berkata:

إن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الإقران إلا أن يستأذن الرجل منكم أخاه
“Sesungguhnya rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kalian dari memakan dua biji kurma dalam sekali suap (secara bersamaan), kecuali bila teman makanmu mengizinkannya.” (Bukhari & Muslim)

Para ulama’ menyebutkan beberapa hikmah dari larangan menyuap dua biji kurma sekaligus:
1) Menyantap DUA biji sekaligus semacam ini mencerminkan sikap SERAKAH atau RAKUS.

2) Bila buah kurmanya milik bersama, bukan milik pribadi, maka menyuap Dua biji sekaligus ini bisa menjadi bentuk dari PERAMPASAN hak sahabat anda yang juga memiliki hak atas buah kurma tersebut, karena anda makan lebih banyak dari mereka.

3) Sikap ini mencerminkah ketergesa-gesan yang sudah barang tentu tercela, bahkan bisa MENGANCAM KESELAMATAN ANDA.

Ketiga alasan ini, melandasi sebagian ulama’ untuk berfatwa HARAM hukumnya menyantap DUA biji sekaligus, bila buah kurmanya milik bersama dan bukan milik anda sendiri.

Sobat! Bila anda menghadiri acara buka bersama, maka terapkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, ambil SATU dulu dan jangan sekali kali serakah dengan mengambil DUA sekaligus.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

 

Wooow, Alhamdulillah Segarnya!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Lega deh, haus dan laparnya kini telah sirna, enak nian masakan ibu sore ini!

Dua ungkapan di atas hanyalah tebak reka saya tentang ungkapan yang keluar dari lisan anda seusai menyantap hidangan buka puasa anda. Dua ungkapan yang menggambarkan betapa nikmatnya hidangan buka puasa anda.

Di saat yang sama dua ungkapan di atas juga menggambarkan betapa bahagia dan senangnya hati anda dengan acara buka puasa anda. Betapa tidak setelah melalui satu siang yang berat, haus, lapar, dan letih bercampur baur menjadi satu, sekarang anda berhasil melepaskan semuanya.

Betapa indahnya gambaran anda yang sedang berada di tengah-tengah keluarga tercinta, bersama-sama menikmati hidangan buka puasa anda.

Rasa bahagia yang anda temukan ditengah-tengah keluarga anda pada saat berbuka puasa hanyalah sebagian kecil dari kebahagiaan yang tersimpan di balik ibadah puasa anda. Kebahagiaan yang belum anda rasakan masih terlalu besar.

Semoga anda bersama keluarga anda berhasil menemukan sisa kebahagiaan yang terpendam di balik ibadah puasa anda.

Anda ingin tahu apa kebahagian bagian kedua yang seyogyanya anda nikmati bersama keluarga anda? Temukan jawabannya pada sabda Rasulullah berikut:

(لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ) متفق عليه
“Orang yang berpuasa akan menikmati dua kebahagiaan : bila ia berbuka puasa ia berbahagia, dan bila kelak ia berjumpa dengan Tuhan-nya iapun kembali berbahagia dengan puasanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! Coba sekali lagi anda membayangkannya kembali senyum yang terkulum di bibir anda di saat anda menyantap hidangan buka puasa anda. Indah bukan?

Akan tetapi, tahukah anda bahwa di sekitar anda masih banyak saudara-saudara anda seiman dan seakidah, walaupun adzan Maghrib telah berkumandang, tidak dapat merasakan nikmat dan bahagianya berbuka puasa.

Apalagi turut merasakan indahnya senyuman seperti yang anda rasakan. Isak tangis anak-anak mereka saja tak kuasa mereka hentikan.

Tahukah anda apa sebabnya? Sebabnya sepele; yaitu walaupun adzan telah dikumandangkan, ternyata mereka terpaksa meneruskan puasa mereka. Rasa lapar berkelanjutan, haus berkepanjangan, dan letih tak kunjung sirna. Betapa tidak, tidak sesuap nasipun yang dapat mengusir rasa lapar mereka, apalagi hidangan makanan yang lezat dan beraneka ragam. Seteguk air putihpun tidak mereka miliki, apalagi berbagai jus dan minuman segar lainnya.

Tidakkah anda dapat membayangkan betapa berat penderitaan mereka?

Tidakkah pintu hati anda terketuk untuk turut menyertakan mereka dalam kebahagiaan anda ketika berbuka puasa.

Jangan khawatir saudaraku! Uluran tangan anda kepada mereka tidak akan sirna begitu saja. Bahkan kebahagiaan puasa anda akan semakin berlipat ganda, dengan menyertakan mereka dalam kebahagian berbuka puasa.

(مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا ) رواه الترمذي وابن ماجة وابن خزيمة وصححه الألباني
“Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah)

Bayangkan! Andai anda memberi makanan untuk berbuka puasa kepada sepuluh orang, maka anda mendapatkan pahala sebesar pahala puasa kesepuluh orang tersebut.

Semakin banyak yang anda beri, maka semakin banyak pula pahala yang anda dapatkan.

Saudaraku! sudah berapa banyakkah orang yang anda beri makanan buka puasa?  Mumpung kesempatan masih terbuka lebar, bergegaslah saudaraku untuk berlomba-lomba merebutkan kesempatan menumpuk pahala di sisi Allah ini.

Saudaraku! coba bayangkan betapa beruntungnya diri anda, bila pada bulan puasa ini yang hanya berjumlah 30/29 hari, anda berhasil mengumpulkan pahala puasa beribu-ribu hari!

Selamat berjuang mengumpulkan pahala puasa sebanyak mungkin, semoga berhasil.