Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Antara Mulut Besar Dan Jiwa Besar

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Dalam kehidupan, sering kali kita mendengar si fulan bermulut besar. Satu ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang pandai berkata-kata, namun faktanya jauh dari apa yang ia ucapkan. Tutur katanya banyak dan terdengar indah, namun tanpa didukung oleh tindakan nyata.

Sebaliknya, ada orang-orang yang disebut berjiwa besar. Sedikit ucapannya namun berjuta-juta tindakan dan jasanya. Karya demi karya tiada henti ia torehkan, pengorbanan demi pengorbanan tiada putus ia persembahkan. Jasa besarnya dirasakan oleh semua orang, namun demikian ia tiada lelah bersembunyi dari sorotan orang.

Popularitas adalah musuh terbesar yang ia perangi, sanjungan adalah ancaman terbesar yang ia waspadai. Sebaliknya, nasehat dan teguran adalah hadiah istemewa yang senantiasa ia nanti dan hargai, dan kesalahan dirinya tiada lelah ia benahi dan sesali.

Jasa baik orang lain kepadanya tiada henti ia ingat dan syukuri sedangkan kesalahan mereka segera ia maafkan dan lupakan.

Merekalah orang orang besar dan pejuang sejati yang sering kali dilupakan dan bahkan tiada dikenal oleh banyak orang.

Sobat! Bermimpi, berjanji, mengkhayal tentulah mudah, dan bisa dilakukan oleh setiap orang, namun membuktikannya belum tentu kita mampu melakukan. Tindakan dan bukti nyata itulah yang membedakan antara si mulut besar dari si jiwa besar.

Bulan Ramadhan, siapa yang tidak tahu dan tidak bermimpi mendapatkan keutamaannya. Janji manis, mulai mengalir dari bibir setiap muslim, dan khayalan indah setinggi langit mulai membumbung dari benak ummat islam termasuk kita. Namun benarkah semua itu dapat menjadi kenyataan?

Bahkan, sudahkah anda mengenali maksud dan memahami hakikat dari ibadah puasa di bulan Ramadhan ini?

Sobat! Ketahuilah, puasa ramadhan adalah semacam pusat pelatihan mental, iman, kepribadian dan akhlaq bagi kita sebagai ummat Islam, sebagaimana tergambar pada hadits qudsi berikut:

يدع طعامه وشرابه وشهوته من أجلي،

“Orang yang berpuasa meninggalkan makan, minum dan syahwat birahinya karena patuh kepada perintah-Ku.”

Dengan berpuasa, anda membuktikan bahwa perintah Allah lebih anda dahulukan daripada tuntutan biologis, syahwat atau selera pribadi. Dan bila sikap reliji ini terus anda asah, niscaya suatu saat nanti menyatu dengan jiwa anda, sehingga mewarnai kepribadian anda. Dengan demikian, setiap kata yang anda ucapkan atau tindakan yang anda lakukan bahkan pola pikir anda benar benar terkendali dibawah perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla.

Karena itu, pada hadits qudsi di atas, Allah lebih jauh menggambarkan hakekat puasa dengan berfirman:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يرفُثْ، وَلَا يَفْسُقْ، وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنْ جُهِلَ عَلَيْهِ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صائم

“Bila engkau sedang berpuasa janganlah engkau:
1. berkata kata keji ( kotor),
2. jangan pula berbuat kefasikan ( dosa)
3. dan jangan pula berlaku bodoh ( berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan bagi agama maupun dunianya). Dan bila ada orang yang berbuat jahil kepadanya, maka katakan: sejatinya ku adalah orang yang sedang bepuasa. ( Ahmad, Bukhari, Muslim dan lainnya)

Cermatilah bagaimana pada hadits qudsi ini, Allah menganjurkan anda ketika sedang berpuasa untuk menginspirasi diri anda dengan berkata : aku adalah orang yang sedang berpuasa. Dengan demikian anda selamat dan tidak hanyut dalam badai emosi dan ambisi ingin membalas dendam kepada orang lain yang menyakiti anda.

Sobat! Sudahkah puasa menjadi inspirasi dalam hidup anda? Dan sudahkah inspirasi ibadah puasa anda mampu mengalahkan badai emosi, perasaan dan kepuasan pribadi anda ?

– – – – – •(*)•- – – – –

 

Hak Asasi Hewan, Adakah?

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita bahwa suatu hari beliau di beri kesempatan untuk melihat neraka.

Pada kesempatan itu, beliau melihat seorang wanita bani Israil yang masuk neraka karena seekor kucing. Ia mengikat kucingnya. Ia tidak memberinya makan, dan tidak pula membiarkannya makan serangga. (Bukhari & Muslim)

Pada kisah lain, suatu hari sahabat Ibnu Umar melintasi beberapa anak-anak Quraisy yang sedang berlatih memanah dengan membidik seekor burung.

Tatkala mereka melihat sahabat Ibnu Umar, segera mereka berlarian.

Melihat pemandangan ini Ibnu Umar berkata : ‘siapakah yang melakukan hal ini ?’

Ketahuilah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaknati pelakunya. (Muslim)

– – – – – •(*)•- – – – –

Percayakah Anda Bahwa Anda Tampan Atau Cantik Jelita ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat, betapa banyak orang yang tidak percaya bahwa dirinya tampan atau cantik jelita. Akibatnya banyak orang yang berusaha mempertampan atau mempercantik diri mereka dengan merubah-rubah penampilan mereka yang merupakan karunia Allah.

Dari mereka ada yang menato badannya agar menyerupai kulit atau warna berbagai hewan.

Dari mereka ada yang mengubah sebagian tubuhnya melalui oprasi plastik yang tentunya memakan biaya yang sangat mahal.

Sikap mereka ini tentu sangat mengherankan. betapa tidak, Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling bagus, karena itu syukurilah nikmat ini.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh manusia telah Kami ciptakan dalam bentuk yang paling baik.” (At Tien 4)

Dan dengan memahami fakta ini, maka wajarlah bila Allah melaknati orang-orang yang berusaha merubah-rubah fisiknya yang merupakan ciptaan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَعَنَ اللَّهُ الوَاشِمَاتِ وَالمُوتَشِمَاتِ، وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ، لِلْحُسْنِ المُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ»

“Allah melaknati wanita-wanita yang menato dan yang meminta ditato, yang mencukur bulu alisnya, dan yang mengikir giginya demi mendapatkan kecantikan dengan merubah ciptaan Allah.” (muttafaqun alaih)

– – – – – •(*)•- – – – –

Egois

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat!
Di dunia ini banyak tindak kejahatan: ada perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, penindasan, korupsi, dan masih banyak lagi.

Pernahkah saudara berpikir, mengapa para pelaku kejahatan itu sampai hati melakukan kejahatannya tersebut?

Bisa saja anda menemukan berbagai alasan yang berbeda-beda. Namun tahukah anda bahwa salah satu alasan terjadinya kejahatan tersebut ialah adanya pola pikir ego yang mengalahkan akal sehat.

Pelaku kejahatan berpikir: saya suka, saya mau, saya butuh, saya senang atau ucapan serupa lainnya. Adapun orang lain benci atau merugi atau sengsara atau bahkan celaka, maka semua itu luput dari benak mereka

Mereka berpikir ego hanya memikirkan diri sendiri tan tidak peduli dengan perasaan atau nasib orang lain.

Adanya pola pikir picik semacam ini pada diri pelaku kejahatan mungkin bisa dianggap wajar. Betapa tidak, mereka adalah para pelaku kejahatan, yang tentunya lemah iman dan akal pikirannya.

Namun tahukah anda bahwa pola pikir ego, yang hanya mikirkan diri sendiri juga menjangkiti banyak dari orang-orang baik.

Mereka beranggapan yang penting saya tidak berbuat kejahatan, yang penting saya sudah beribadah. Asalkan saya dan keluarga saya selamat dari kemaksiatan, dan ucapan serupa lainnya.

Coba anda bayangkan: andai semua orang bersikap dan berpikir semacam ini, siapakah yang akan menjadi juru dakwah?

Siapakah yang sudi memerintahkan kebaikan dan melarang dari kejelekan? Siapa pula yang sudi berkorban memperingatkan ummat dari berbagai ancaman bencana dan petaka yang setiap saat membayangi kehidupan masyarakat?

Andai semua orang berkata:
Aah itu bukan urusan saya!
Aah itu tidak bersinggungan langsung dengan masalahnya!
Aah, kejadian itu tidak merugikan atau menguntungkan saya dan keluarga saya!

Kira kira bila semua orang seperti ini cara pikirnya; masih adakah juru dakwah? Masih adakah guru ngaji? Masih adakah orang yang bersedekah? Masih adakah yang siap memikul pahit getirnya amar ma’ruf dan nahi mungkar?

Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda:

لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر، أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عقابا من عنده، ثم لتدعنه فلا يستجيب لكم”.

“Hendaklah kalian semua menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, atau bila kalian tidak melakukannya bisa saja sesaat lagi Allah menurunkan siksa/hukuman/bencana dari sisi-Nya. Dan bila telah demikian kondisinya maka kalaupun kalian gigih memanjatkan doa, niscaya Allah tidak mengabulkan doa kalian.” ( At Tirmizy dan lainnya)

– – – – – •(*)•- – – – –

Siapakah Yang Mungkin Menanti Anda ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Pernahkah terpikir di hati ketika anda hendak keluar rumah bahwa bisa jadi malaikat maut sedang menanti di depan pintu ?

Atau barang kali ketika anda hendak pergi ke suatu tempat, bisa jadi malaikat maut sedang menanti anda di tempat tersebut ?

Simak dan renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

لَا يُقَدَّرُ لِأَحَدٍ يَمُوتُ بِأَرْضٍ، إِلَّا حُبِّبَتْ إِلَيْهِ وَجُعِلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَةٌ ”

“Bila Allah telah menentukan kematian bagi seseorang terjadi di suatu negeri, maka Allah pasti akan menjadikannya cinta atau merindukan negeri itu, dan Allah akan menjadikannya merasa berkepentingan untuk pergi ke negeri itu.” (riwayat Ahmad dll).

Pikirkan baik-baik sobat, diri anda, jangan-jangan malaikat maut saat ini sedang menanti anda di tempat yang hendak anda tuju pagi ini.

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami. Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Keterbatasan Dan Kelemahan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sebagai manusia, Kita memiliki berbagai keterbatasan dan kelemahan.

Di saat musim panas sedikit berkepanjangan, maka kita merasa menderita dan segera mengeluh dan menanyakan: kapan hujan tiba?

Sebaliknya juga demikian, ketika hujan sedikit curah, kita merasa tersiksa sehingga berkeluh kesah dan bertanya: kapan terang akan datang kembali?

Rasa senang bila berlebihan, dapat mengancam kesehatan, bahkan banyak orang gila atau meninggal dunia karena rasa senang. Sebaliknya demikian, betapa banyak orang meninggal dunia dengan tragis karena tidak kuasa menahan duka. Semua ini bukti nyata bahwa saya dan anda semua adalah makhluk lemah. Allah berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”

Hanya orang yang beriman kepada Allah, yang kuasa berbahagia selalu dalam segala kondisinya. Bila saudara benar-benar beriman kepada Allah niscaya anda dapat memandang positif segala yang menimpa anda.

Karena itu dahulu Nabi senantiasa bersyukur dan mengucapkan hamdalah, apapun yang menimpa beliau.

Bila mendapat kebaikan, beliau mengucapkan :

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

“Alhamdulillahil-ladzi bi ni’matihi tattimush sholihaat.”
(Segala puji hanya milik Allah yang berkat nikmat-Nya segala yang baik dapat terwujud)

Dan bila ditimpa sesuatu yang menyedihkan, beliau juga bersukur karena beliau yakin bahwa itu mendatangkan keberkahan. Beliau berkata :

الحمد لله على كل حال

“Alhamdulillah ‘ala kulli Haal”
(Segala puji hanya milik Allah, atas segala kondisi yang menimpa)

Sobat! Bagaimana dengan diri anda ? Apa yang terucap dari lisan anda bila mendapat nikmat ? Aku hebat atau syukur alhamdulillah ?

Dan bila ditimpa kesusahan, apa yang terucap: sial, celaka, mati, ataukah syukur alhamdulillah atas segala yang terjadi ?

 

Ketika Jiwa Yang Sakit

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di saat anda menderita sakit, akankah anda minum asal obat yang direkomendasikan sembarang orang ?  Saya yakin anda selektif dalam memilih obat, karena anda sadar bahwa salah obat berarti celaka.

Namun unik bin ajaib, ketika jiwa anda yang sakit, sering kali anda ceroboh atau kurang selektif dalam memilih obatnya. Padahal anda tahu bahwa salah obat jiwa berdampak petaka bukan hanya di dunia namun hingga di akhirat, alias neraka, siksa yang kekal abadi.

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُهُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالًا، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا، وَأَضَلُّوا»

“Sejatinya Allah tidaklah mencabut ilmu secara tiba- tiba dari dada-dada para ulama’. Namun Allah mencabutnya dengan cara mematikan para ulama’. Hingga bila telah tidak tersisa lagi ulama’ maka masyarakat akan mengangkat pemimpin/panutan-panutan dari orang-orang bodoh. Masyarakat bertanya kepada panutan-panutan bodoh tersebut, lalu mereka berfatwa dengan kebodohannya tanpa dasar ilmu, akibatnya mereka tersesat dan menyesatkan. (Muttafaqun alaih)

Saudaraku, ketahuilah bahwa keselamatan Jiwa anda lebih penting dari kesehatan raga anda.

 

Jangan Kawatir

Biasanya anda berlari karena mengejar sesuatu agar tidak menjauh. Sebagaimana biasanya sesuatu bila ditinggal atau diabaikan akan hilang, sehingga anda kawatir setiap kali ketinggalan sesuatu.

Namun anehnya selama ini anda berlari mengejar rejeki, padahal untuk urusan rejeki, ia tidak pernah lari. Sebaliknya, anda menjadi gundah, lagi panik bila menyadari ada dari sebagian harta anda yang ketinggalan di suatu tempat karena anda kawatir kehilangan.

Sobat..!
ketahuilah sikap semacam ini sejatinya adalah kesalahan besar yang selama ini melilit diri anda.

Percayalah bahwa rejeki anda tidak akan pergi menjauh sehingga tidak ada perlu anda berlari tunggang langgang mengejarnya.

Sebaliknya rejeki anda juga tidak akan hilang dipungut orang walaupun telah ketinggalan di suatu tempat.

Cukuplah anda berusaha sewajarnya yaitu dengan tetap mengindahkan batasan dan hukum syari’at, niscaya seluruh rejeki anda pasti berhasil anda dapatkan dan nikmati.

Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

إن الروح الأمين نفث فى روعى أنها لا تموت نفس حتى تستوفى رزقها فأجملوا فى الطلب

“Sesungguhnya Malaikat Jibril (Ruhul Amiin) membisikkan ke dalam jiwaku bahwa tiada seorang jiwapun yang meninggal dunia hingga ia benar-benar telah mengenyam jatah rizkinya, karena itu tempuh jalan-jalan yang baik dalam mencari rizki..” (Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqy dan lainnya).

Percayalah sobat..! niscaya anda bahagia.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Andakah Pemilik Agama Islam ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Betapa banyak tokoh ummat Islam yang telah mengukirkan sejarah perjuangan dan pengorbanannya untuk kejayaan Islam. Jiwa, raga, tenaga dan segala yang mereka miliki dicurahkan untuk Islam. Tiada pamrih yang mereka nantikan dari perjuangan dan pengorbanan itu selain kejayaan Islam.

Mereka berjuang, bukan untuk dikenang atau dianggap pahlawan.

Mereka berkorban bukan karena menanti imbalan selain imbalan dari Allah.

Mereka berperang bukan karena Islam adalah agama warisan nenek moyang yang harus diperebutkan atau dilestarikan agar tetap menguntungkan.

Semua itu mereka lakukan demi menuruti tuntutan suara iman dan panggilan Islam.

Suatu hari ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ، الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُذْكَرَ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ، فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللهِ؟

“Ya Rasulullah, ada lelaki yang berperang demi mendapatkan rampasan perang, ada pula yang berperang agar dikenang, dan ada pula lelaki yang berperang agar dikenal perjuangan/keberaniannya, siapakah dari mereka yang pantas disebut berperang di jalan Allah ?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

«مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ أَعْلَى، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ»

“Siapapun yang berperang guna menegakkan kalimatullah / agama Allah, maka dialah yang pantas disebut berperang di jalan Allah.” (Muttafaqun Alaih)

Mengilhami hadits ini, Imam Syafii rahimahullah berkata:

وددت أن الناس تعلموا هذا العلم ولا ينسب لي منه شيء

“Aku mendambakan, andai semua manusia mempelajari ilmu-ilmuku ini, walaupun tiada satupun yang mereka akui sebagai ilmuku.”

Perkataan Imam Syafii ini menggambarkan betapa sempurnanya keikhlasan beliau. Berdakwah dan mengajarkan ilmu bukan agar diakui sebagai ulama’ atau dianggap sebagai penemu atau yang disebut dengan “YANG BABAT ALAS” alias perintis.

Hanya ada satu harapan beliau, dicatat di sisi Allah telah berjuang dan menyebarkan dan mengajarkan kebenaran kepada orang lain.

Beliau berjuang dan berdakwah bukan karena merasa sebagai pemilik agama Islam atau penguasa ummat Islam. beliau melakukan semua itu demi mendapatkan keridhoan Allah Azza wa Jalla.

Islam adalah milik Allah Azza wa Jalla, sedangkan kita adalah penerima anugrah islam. Kalaulah bukan anugrah dari Allah, niscaya hati kita tidak pernah terbuka untuk menerima Islam.

فَمَن يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Maka barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, maka Allah pasti melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Namun orang yang Allah kehendaki agar tersesat, maka Allah jadikan dadanya terasa sempit dan terhimpit (susah menerima kebenaran), seakan akan ia naik menuju ke atas langit. Demikianlah Allah menjadikan kehinaan/ kesesatan menimpa orang orang yang tidak beriman.” (Al an’am 125)

Sobat! Jangan pernah anda sibuk memperebutkan klaim islam adalah milik anda, dan anda adalah penguasa atau pemimpin Islam. Namun menjeritlah dalam batin anda: apa yang telah saya perbuat untuk kejayaan Islam?

Islam senantiasa memanggil anda.

Islam senantiasa menanti bukti keislaman anda.

Islam senantiasa menanti pengorbanan dan kesungguhan anda membela dan memperjuangkan Islam.

Sampai kapankah anda terus menunda dan menunda pengorbanan untuk Islam ?

View

Jangan Kawatir !

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! Rasa-rasanya puasa tahun ini sedikit membutuhkan persiapan spesial. Betapa tidak, puasa tiba disaat yang sama musim kemaraupun juga tiba. Siang terasa terik, dan siangpun terasa lebih lama dibanding malamnya. Kondisi ini barang kali menjadi momok bagi sebagian kita, terlebih bagi yang jarang berpuasa atau bahkan Ramadhan ini adalah kesempatan perdananya menjalankan puasa sebulan penuh.

Namun demikian, apapun yang terjadi percayalah bahwa anda pasti kuasa menjalankan ibadah puasa ini dengan baik dan benar. Karena kalaupun anda sedang sakit atau bahkan telah menginjak umur senja maka ada solusi bagi semua kondisi yang sedang anda alamai.

Bisa jadi anda membatalkan puasa bila dirasa perlu dengan ketentuan menggantinya di lain hari bila telah sehat sehingga mampu berpuasa. Atau bila memang tidak ada harapan untuk bisa berpuasa maka anda bisa menggantikannya dengan membayar fidyah yaitu dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya.

Dan kalaupun anda belum terbiasa dengan ibadah puasa, sehingga sering rentan lupa makan dan minum, maka jangan kawatir, karena kalau benar-benar lupa maka puasa anda tidak batal walaupun anda telah makan hingga kenyang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Barang siapa lupa di saat ia sedang berpuasa sehingga ia makan atau minum, maka hendaknya ia melanjutkan puasanya, karena sejatinya Allah-lah yang memberinya makan dan minum.” (Muslim).

Jadi jangan kawatir, walaupun anda adalah pemula, apalagi bila anda telah terbiasa berpuasa.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
View