Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Rebutan Nama Dan Julukan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, mungkin anda sering mendengar petuah bijak : di zaman sekarang, tontonan menjadi tuntunan dan sebaliknya tuntunan menjadi tontonan.

Perilaku para pemain senetron, dagelan, bintang film, penyanyi pemain sandiwara oleh banyak orang telah banyak dijadikan sebagai tuntunan sehingga diteladani.

Sedangkan, Al Qur’an dan As Sunnah kini telah diasingkan atau dicampakkan, sehingga hanya berfungsi sebagai tontonan. Karena itu, masyarakat lebih pandai dan bersemangat untuk mengkreasikan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keislaman seseorang hanya diukur dari kreasi seni kaligrafi atau yang serupa yang terpajang di rumah seseorang. Adapun amalan dan keimanan telah jauh jauh hari diabaikan.

Banyak orang hanya puas dengan sebutan dan nama, adapun hakekat dan prakteknya maka telah lama dilupakan.

Sobat! Momentum hadirnya bulan Ramadhan ini sepatutnya menjadi kilas balik bagi kita semua untuk berubah ke arah yang lebih baik. Isi lebih penting dibanding nama dan sebutan. Tidakkah saudara ingat, bagaimana dahulu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh sebagai orang gila, tuang sihir dan penyair. Namun demikian, beliau tidak menghiraukan tuduhan itu, beliau lebih mementingkan pembuktian dengan akhlak beliau yang mulia.

Karena itu, ketahuilah bahwa sampaipun puasa Ramadhan yang sesaat lagi tiba, bisa jadi hanya namanya yang kita dapat, adapun hakikat dan maknanya benar-benar terluput dari genggaman kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع

“Bisa jadi orang yang berpuasa, tiada mendapatkan manfaat dari puasanya selain rasa lapar.” (Bukhari)

View

Munafik, Memang Munafik!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Sekedar mendengar kata munafik saja terasa menyebalkan, apalagi bertemu dan berinteraksi dengan orangnya, iiih benci banget deh. Kata orang jawa: amet-amet jabang bayi. Maksudnya, semoga anak keturunan kita tidak berjumpa dan juga tidak menjadi orang munafik. Amiin.

Namun demikian, tahukah anda siapakah orang munafik itu? Adakah daftar nama, alamat dan profesinya? Tentu tidak ada, karena munafik itu adalah sikap dan perilaku, bukan nama atau identitas.

Karena itu, bila anda ingin mengetahui siapa itu munafik, maka kenalilah ciri-cirinya, niscaya anda dapat mengenali siapakah orang munafik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ”

“Ada empat hal, yang bila keempatnya ada pada diri seseorang, maka berarti ia adalah seorang munafik tulen. Dan bila pada diri seseorang terdapat salah satu dari keempat hal itu, maka itu pertanda dirinya terjangkiti kemunafikan hingga ia meninggalkannya:
1. Bila diberi kepercayaan (amanat), ia berkhianat.
2. Bila berbicara, ia berdusta
3. Bila berjanji, ia ingkar janji.
4. Bila ia bersilang pendapat, maka ia bersikap keji.” (Muttafaqun Alaih)

Ali Al Qary dalam kitabnya Mirqatul Mafatih, menjelaskan bahwa maksud dari bersikap keji ketika bersilang pendapat ialah dengan sikap gegabah menuduh orang yang menyelisihi pendapatnya dan ditambah lagi ia juga hobi untuk berkata-kata yang menyelisihi fakta.

Sobat! Marilah kita semua belajar membiasakan diri dengan sikap dan perilaku orang-orang yang beriman dan berjuang meninggalkan kebiasaan buruk semisal perilaku munafik di atas. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk berakhlak karimah dan beramal sholeh. Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Berjualan Cinta, Mengakunya Cinta Sejati

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Kasih sayang dan cinta suci antara dua insan yang berbeda jenis, sebaiknya dipadu hingga ke pelaminan. Keduanya bisa menyatukan rasa cinta dan membuktikan manisnya rasa cinta suci. Ketulusan, pengorbanan, kesetiaan, dan kedamaian sungguh terasa dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لم نر – ير – للمتحابين مثل النكاح»

“Tiada ikatan yang paling berguna bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan.” (Ibnu Majah)

Namun demikian, kadang kala, dua insan yang dahulu saling mencintai, terpaksa harus berpisah. Kodrat ilahi menentukan bahwa cinta antara kedua insan tersebut hanya cukup untuk mendorong roda-roda pedati rumah tangga mereka dalam beberapa waktu saja. Karena cinta telah pudar bahkan telah sirna, maka dengan sangat terpaksa pedati rumah tangga merekapun mogok bahkan rusak.

Dalam kondisi semacam ini, sering kali masing-masing pihak berkata: dialah penyebab perceraian ini. Langka dari kedua insan itu yang berkata dengan jujur: “sayalah biang perpisahan ini,” alih-alih mengakui semua, sekedar mengakui bahwa dirinya juga punya andil saja tidak sudi.

Sobat! Ketahuilah bahwa kesetiaan yang sejati ialah kesetian yang anda berikan ketika anda dikhianati atau dizholimi. Adapun setia di saat ia setia, berbuat baik di saat dia berbuat baik maka sejatinya itu hanyalah praktek barter alias memperdagangkan cinta dan kesetian. Cinta sejati ialah cinta yang anda berikan walaupun dia telah membenci, hingga akhirnya iapun tak kuasa untuk terus membenci. Cinta yang sejati anda tersebut dapat merubah kebencian menjadi cinta dan kesetiaan.

Namun demikian, betapa banyak orang yang belum bisa memahami arti kehidupan ini, sehingga mereka bisa tertawa terbahak-bahak, disaat melihat saudaranya terperosok dalam lumpur, walaupun dirinya sedang berada dalam lumpur yang sama. Itulah manusia, maunya tampil suci walaupun dirinya sedang berlumuran lumpur.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak orang yang ingin tampil suci dengan berkata: “mengapa dia tidak mau mengucapkan salam kepada saya setiap kali berjumpa?” Padahal orang tersebut juga berkata: “mengapa dia tidak mengucapkan salam kepada saya setiap kali berjumpa.” Bila demikian, terbayang sudah, mustahil rasanya mereka bisa bersatu dan bersahabat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, akibatnya setiap kali mereka berdua berjumpa, yang ini memalingkan wajahnya dan yang itupun juga memalingkan wajahnya. Orang yang paling baik dari mereka adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam. (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam konteks silaturrahim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»

“Tidak dikatakan menyambung tali slilaturrahim orang yang biasa membalas kunjungan atau pemberian, namun orang yang menyambung tali silaturrahim ialah orang yang berusaha menjaga/ menyambung hubungan silaturrahimnya dengan kerabat yang telah memutuskan hubungan dengannya. (Muttafaqun ‘alaih)

Sobat! Sikap dan pola pikir semacam ini sepatutnya kita pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari, agar hidup kita menjadi tentram dan nyaman.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Puasa Batin Sebelum Lahir

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! Sesaat lagi tamu istimewa bagi setiap muslim kan tiba, yaitu bulan Romadhan. Betapa tidak, pada bulan ini, pintu-pintu menuju surga dibuka lebar-lebar, sedangkan pintu-pintu menuju neraka di tutup rapat-rapat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

: «إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»

“Bila Ramadhan telah tiba, maka seluruh pintu menuju surga dibuka, dan sebaliknya seluruh pintu menuju neraka di tutup, sedangkan setan setan dibelenggu.” (Muslim)

Pada bulan ini setiap orang yang beriman berpuasa dengan menahan lapar, dahaga dan syahwat birahinya. Walaupun ketiga hal itu sebelumnya halal untuk anda nikmati.

Anda meninggalkan ketiga hal halal tersebut dalam rangka mentaati perintah Allah. Namun demikian, betapa sering anda lalai untuk meninggalkan hal-hal haram yang nyata-nyata haram, semisal berdusta, berkhianat, suuzhon, memandang yang tidak halal, riba dan lainnya.

Sobat! Coba anda renungkan, mungkinkah Allah menerima puasa anda dari perbuatan yang sebelumnya halal, yaitu makan, minum dan yang serupa, sedangkan anda tetap menjalankan berbagai perbuatan haram yang tiada pernah dihalalkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه»

“Barang siapa yang tidak kuasa meninggalkan ucapan dusta, perbuatan dusta dan perilaku bodoh, maka Allah tiada butuh/menerima puasanya yang sekedar menahan rasa lapar dan dahaga.” (Bukhari)

Sobat! Sebagaimana sejak sekarang anda telah mulai berpikir dan mempersiapkan diri untuk meninggalkan makan dan minum pada siang hari di bulan ramadhan, sudahkan anda memulai persiapan anda untuk meninggalkan segala perbuatan haram ?

View

Silau! Aneh Namun Nyata

 Ditulis oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Mentari di pagi hari, nampak begitu indah dan menyejukkan, seakan membawa sejuta harapan untuk anda, sehingga andapun senang memandanginya.

Namun tatkala sang mentari telah meninggi, sinarnya begitu terik dan sangat terang, sehingga terasa panas dan andapun tidak kuasa lagi untuk memandangnya. Bahkan kalaupun anda memaksakan diri untuk memandangnya, niscaya mata anda menjadi silau.

Bukan hanya silau di saat memandangnya, sampaipun setelah anda memalingkan pandanganpun, pandangan mata anda masih kabur, sehingga kesusahan untuk melihat. Bukankah demikian sobat? Tidak percaya, buktikan sendiri.

Kejadian di atas membawa pelajaran besar pada kita semua, betapa mentari yang begitu nyata ternyata anda tidak kuasa melihatnya, anda hanya bisa merasakan dampaknya, yaitu panas, dan terang.

Namun betapa bodohnya kita bila telah merasakan terang dan teriknya sinar mentari, kita masih menyibukkan diri untuk mencari bukti tentang keberadaannya.

Kenyataan di atas juga menjadi bukti bahwa anda memiliki banyak kelemahan, sampaipun sekedar untuk menyaksikan sesuatu yang nyata semisal sang mentari anda tidak kuasa melakukannya. Jangan salahkan mentari kenapa susah dilihat di siang hari, namun sadarilah kelemahan diri anda.

Sobat! Mentari mengajari kita untuk jujur, mengakui kelemahan dan keterbatasan kita, maka dari itu, jadilah orang yang pandai mawas diri bukan orang yang hobi menyombongkan diri.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Musang Berbulu Domba

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Pepatah di atas adalah petuah bijak yang diwariskan oleh nenek moyang kepada kita. Harapannya, kita menjadi generasi penerus yang waspada dan bijak, sehingga cerdik dalam menghadapi segala kondisi.

Betapa sering, maling berteriak maling, penjahat menangis sendu meminta iba. Bahkan dalam banyak kesempatan penjahat melalui tetesan air mata buayanya, terus melancarkan kejahatannya dan memangsa korbannya yang lugu. Benar-benar bak buaya sang pembunuh kejam berdarah dingin.

Tidakkah anda ingat bagaimana dahulu iblis atau setan mengesankan dirinya sebagai pemberi nasehat yang patut dipercaya, sehingga Nabi Adam Alaihissalam bersama istri nya terperdaya dan terperangkap dalam makarnya. Allah Taala berfirman:

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ

“Lalu setan membisikkan kepadanya (Adam) dan berkata: sudikah engkau aku tunjukkan kepada satu pohon abadi dan kerajaan yang tiada pernah sirna ?” (Thaha 120)

Pada ayat lain, Allah berfirman:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“Setan bersumpah kepada keduanya: sungguhlah aku adalah pemberi nasehat untuk kalian berdua.” (Al A’araf 21).

Di sisi lain, betapa banyak korban kejahatan dengan tegar dan tabah menerima kenyataan. Walau terjatuh, mereka segera bangkit dan kembali mengobarkan semangat juangnya. Berbekalkan jiwa besarnya, mereka memetik pelajaran dari segala yang menimpanya, menyesali, bertaubat dan tidak hanyut dalam budaya mengkambing hitamkan musuh. Demikianlah teladan yang dicontohkan oleh Nabi Adam alaihissalam, sebagaimana dikisahkan pada ayat berikut:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Adam dan istrinya berdoa: wahai Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri, dan jikalau Engkau tidak mengampuni kami dan menyayangi kami, pastilah kami menjadi orang orang yang merugi.” (Al A’raf 23)

Sobat! Ketahuilah bahwa seburuk apapun musuh anda, bila anda selalu waspada, cerdik dan kuat niscaya musuh dapat dikalahkan, telebih bila anda senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla. Namun sebaliknya selemah apapun musuh anda, bila anda memang lemah, lengah dan ceroboh niscaya anda kalah.

Pelajaran, ini dapat saya rasakan dari sikap Bapak Prabowo pada debat CAPRES CAWAPRES, yang masih saja dikorbankan dan terus dituduh sebagai penjahat HAM, namun demikian, beliau berjiwa besar dan terus berusaha membangun kekuatan diri bukan sibuk mengungkit kelicikan musuh dan lawannya. Sepatutnya kita meneladani sikap besar tersebut, sebagaimana diisyaratkan pada ayat berikut:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Dan sungguhlah orang yang bersabar dan memaafkan, sejatinya sikap tersebut benar benar bagian dari sikap besar (terpuji).” (As Syura 43).

Ref: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=646260702121773&id=405218379559341&refid=17

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Sholat Di Perempatan Jalan, Bolehkah ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA,  حفظه الله تعالى

Sobat! Menurut hemat anda, benarkah sikap seorang muslim yang mendirikan sholat wajib atau sholat sunnah di tengah-tengah jalan yang padat dilalui kendaraan? Orang tersebut sholat dengan khusyu’ dan memenuhi seluruh syarat, rukun, wajib-wajibnya. Akibat dari perbuatannya mendirikan sholat di tengah jalan tersebut, lalu lintas terganggu dan terjadi kemacetan parah.

Saya yakin, walaupun anda adalah seorang muslim yang taat beragama, dan rajin sholat, anda pasti menyalahkan bahkan membenci perilaku orang tersebut. Terlebih bila anda adalah satu korban kemacetan yang diakibatkan oleh orang tersebut.

Pertanyaan di atas hanyalah sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bahwa dalam beribadah, sepatutnya anda memperhatikan kenyamanan orang lain di sekitar anda. Jangan sampai ibadah anda mengganggu atau merugikan orang lain. Karena bila anda mengganggu dengan ibadah anda, niscaya masyarakat dapat saja membenci agama atau minimal ibadah anda.

Dan bila mereka membenci agama atau ibadah anda, bisa jadi mereka menjauh dari agama dan ibadah anda.

Sahabat Abu Said Al Khudri mengisahkan: suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’itikaf. Tiba-tiba beliau mendengar suara para sahabat yang sedang sholat sunnah dengan suara bacaan yang keras. Mendengar suara yang gaduh tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا إن كلكم يناجي ربه، فلا يؤذين بعضكم بعضا، ولا يرفعن بعضكم على بعض في القراءة في الصلاة

“Ketahuilah, bahwa kalian semua sedang bermunajat dengan Tuhannya, karena itu janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian lainnya. Janganlah sebagian kalian mengeraskan suara bacaan shalatnya, sehingga mengganggu sebagian lainnya.” ( Abu dawud dan lainnya).

Bila sesama orang yang sedang sholat tidak boleh saling mengganggu, bagaimana halnya dengan orang yang membaca sholawatan atau yang semisal sampai mengganggu orang yang sholat sunnah atau berdoa atau berdzikir ?

Ref:  https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

View

Uukh Panasnya !

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Akhir-akhir ini, terik matahari begitu menyengat, badan bercucuran keringat, dan dedauan mulai mengering.

Namun, di balik itu semua ada satu pertanyaan yang melintas di pikiran saya sore ini; matahari yang begitu panas, kok tidak pernah aus, atau meleleh sehingga lelehannya netes ke dunia, padahal letak matahari ada di atas sana? Kebayang deh, andai matahari meleleh lalu menetes ke bumi, kira-kira seperti apa jadinya.

Sobat, menurut hemat anda, apa yang menjadikan matahari tidak meleleh dan tidak menetes ke bumi ? Dan siapakah yang menjaganya sehingga tidak meleleh dan tidak pula meledak, atau meleleh ke bumi ?

Mungkin bagi anda yang cerdas, apalagi yang hobi membaca berbagai penelitian dan analisa ilmuan, ada berbagai jawaban. Namun yang pasti bagi saya ada satu jawaban yang pasti benar pula, semua itu adalah kuasa Allah Azza wa Jalla. Andai urusan matahari diserahkan kepada manusia, niscaya ummat manusia telah binasa sejak dahulu kala.

Dialah Allah Yang telah mengatur segalanya sehingga tidak terjadi kekacaaun sebelum waktu yang telah Ia tentukan, yaitu hari kiyamat. Kala itu matahari akan digulung, dan berakhirlah kehidupan dunia.

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

“Bila matahari telah digulung.” (At takwir 1)

Maha Suci Allah, yang telah menciptakan segala sesuatu dengan bijak dan membawa hikmah bagi ummat manusia.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Orang Kampung Pertama Kali Ke Kota

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Woooow, waaaah, dan ungkapan serupa sering terucap dari lisan orang kampung saat pertama kali ke kota. Semua serba mengegumkan, mengherankan dan bahkan membingungkan. Sekedar mau menyebrang jalan saja, ia grogi, salah tingkah, takut, bingung, dan bercampur kagum. Kendaraannya bagus-bagus dan banyak berseliweran. Kondisi semacam ini kadang kala menyebabkannya ditimpa celaka, di copet, ditipu, dan bahkan tertabrak, atau paling ringan ialah tersesat jalan.

Hal serupa, juga terjadi dengan orang kota yang pertama kali ke kampung. Sekedar melihat anak angsa, atau anak kambing yang baru lahir, kedua matanya terbelalak kagum, dan lisannya segera berucap: wooow, cihui, menakjubkan, atau luar biasa.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan frekwensi kedatangannya ke kota atau ke desa, sedikit demi sedikit, kondisi tersebut berubah. Hingga pada saatnya orang kampung tersebut tidak lagi canggung dan benar-benar beradaptasi dengan kondisi di kota. Dan orang kota tersebut juga terbiasa dengan pemandangan yang ia saksikan di desa.

Fenomena tentang orang desa dan kota ini sejatinya adalah ilustrasi sederhana tentang bagaimana sikap dan perilaku orang yang menghadapi hal baru dalam hidupnya.

Kondisi seperti di atas juga berlaku pada orang yang tidak pernah membuka mata dan telinga terhadap berbagai dinamika dalam dunia ilmu pengetahuan.

Perbedaan pendapat antara ulama’ dianggap sebagai satu hal yang mengherankan dan disikapi berlebihan oleh orang-orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengetahui adanya perbedaan tersebut. Mereka mengira bahwa dunia bisa hancur dan kacau balau bila terjadi perbedaan, mereka menuntut agar semua ulama’ dan juru dakwah selalu bersepakat, seiya dan sekata dalam segala masalah.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, bila ia rajin membuka mata dan telinga dan mencermati buku buku para ulama’, maka semuanya akan terasa biasa saja.

Dahulu Atha’ berkata:

لا ينبغي لأحد أن يفتي الناس حتى يكون عالما باختلاف الناس فإنه إن لم يكن كذلك رد من العلم ما هو أوثق من الذي في يديه

“Tidak pantas bagi siapapun untuk memberi fatwa kepada orang lain hingga ia mengetahui perbedaan pendapat yang terjadi antara para ulama’. Karena bila tidak mengetahuinya, bisa jadi ia menentang ilmu yang lebih kuat dibanding apa yang ia pahami/pelajari.”

View

Kambing Hitam

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Kasihan sekali kambing berwarna hitam selalu diposisikan sebagai korban. Entah, siapa dan apa alasan memilih kambing berwarna hitam untuk menggambarkan pihak yang selalu dikorbankan, padahal ia tidak bersalah.

Konon pepatah tersebut ada kaitannya dengan kisah keinginan Nabi ibrahim ‘alaihissalam untuk menyembelih putranya Nabi Ismail ‘alaihissalam yang kemudian Allah gantikan dengan seekor kambing gibas. Kebenaran anggapan ini, masih perlu ditinjau ulang keakuratannya, dan belum pantas untuk diyakini atau dibenarkan.

Namun demikian, sikap selalu mencari kambing hitam, tanpa ada kesiapan atau upaya untuk instropeksi diri bahwa sejatinya dirinya juga memiliki andil dalam masalah yang terjadi, adalah cermin dari lemahnya kepribadian pelakunya.

Fakta telah membuktikan bahwa dalam banyak kasus, pihak-pihak yang hobi menuduh dan segera cuci tangan, sejatinya merekalah yang menjadi biang masalahnya.

Sebagai contoh nyata: masalah perselisihan pendapat para ulama’ telah terjadi sejak dahulu dan akan terus terjadi hingga akhir masa. Namun demikian, walau berbeda pendapat mereka tetap bisa bersaudara dan menjalin hubungan yang harmonis.

Fakta ini dalam banyak kesempatan diabaikan oleh murid dan pengikut, yang mengesankan bahwa perbedaan antara ulama’ adalah benih perpecahan dan permusuhan. Mereka beranggapan bahwa sebagai bentuk kesetiaan kepada sang guru, atau ulama’ panutannya, maka mereka harus mengeluarkan taring dan kukunya.

Sobat! Ketahuilah bahwa perbedaan pendapat diantara ulama’ sering kali membawa banyak kebaikan, selama perbedaan tersebut mengindahkan etika dan kaedah pendalilan atau ijtihad yang telah digariskan para ulama’ sebelumnya.

Perbedaan ijitihad, sering kali mendorong ulama’ untuk terus menggali ilmu dan lebih bersungguh-sungguh dalam memahami masalah dari segala aspeknya. Dengan demikian, terwujudlah nuansa keilmuan yang berguna bagi pengembangan ilmu yang berujung pada ketajaman cara pandang dan meningkatnya kemampuan para ulama’.

Qatadah As sadusy berkata:

من لم يعرف الاختلاف لم يشم رائحة الفقه بأنفه

“Barang siapa yang belum mampu memahami perbedaan pendapat yang terjadi antara para ulama’ maka sejatinya hidungnya belum mampu mencium aroma ilmu fiqih” (apalagi menjadi ahli fiqih).

Ref:
https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

View