Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Bagaimana Mengatur Rasa Takut Dan Rasa Harap Kepada Allah

Al-Fudhail bin Iyadh -rohimahulloh- pernah mengatakan:

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.

Jika pada saat keadaannya sehat dia melakukan kebaikan; tentu akan menjadi besar rasa harap dan husnuzhonnya (kepada Allah) saat kematian (menghampirinya).

(Tapi) bila pada saat sehatnya dia melakukan keburukan; tentu dia akan su’uzhon ketika kematian (menghampirinya), dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah).”

[Hilyatul Auliya’ 8/89].

——

Inilah cara yang sangat baik dalam mengatur hati kita.. dengan rasa takut saat keadaan baik, maka kita tidak akan terlena dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.. kita akan menggunakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pahala yang dapat memuliakan kita nantinya.

Dan dengan rasa berharap baik kepada Allah saat ajal menjemput kita, maka kita akan tenang, bahagia, dan bisa menghadapi kematian dengan baik, sehingga Allah akan memudahkan kita dalam menutup hidup dengan kalimat “Laa ilaaha illallah”

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah; pasti dia masuk surga..”[HR. Abu Daud: 3116]

Semoga Allah memberikan kita semua husnul khotimah… amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Jadikanlah Amalmu Sebagai Kekasihmu..!

Hatim -rohimahulloh- mengatakan:

“Aku telah memperhatikan semua makhluk,
kudapati setiap orang memiliki kekasih, tapi
jika sampai ke kuburnya, kekasih itu pun
meninggalkannya.

Oleh karena itu, aku jadikan kekasihku adalah
amal-amal baikku, agar dia di alam kubur
bersamaku”
.

[Sumber: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal:28]

Penterjemah :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله

da121215-0449

Apa Maksud Dari Kalimat “Hisab Yang Dimudahkan” Dalam Do’a Ini..?

Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

 

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Tips dan Pahala Istimewa Bagi Para Istri Dalam Menjalani Kehidupan Rumah Tangga

Simak penjelasan Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

Ada DELAPAN PINTU SURGA.

● Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda,

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita :
– menunaikan sholat lima waktu,
– berpuasa di bulan Ramadhan,
– menjaga kemaluannya dan
– menta’ati suaminya
niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau..”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu  dan  dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

●   Salah satu pintu surga dinamakan Ar-Royyan dan pintu ini khusus bagi orang yang berpuasa. Dalam hadits disebutkan,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »

Dari Sahl bin Sa’ad rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Royyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Al Bukhari no. 3257)

Pintu lainnya adalah pintu untuk orang-orang yang rajin mengerjakan sholat, pintu untuk yang rajin bersedekah, pintu untuk para mujahid.

●   Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli sholat maka ia akan dipanggil dari pintu sholat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah…”

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut..?”

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka..” (HR. Al Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Saat Rasa Jenuh Dalam Menuntut Ilmu Datang..

Abu Hatim Al-Warroq, murid dan pencatat Imam Bukhori -rohimahumalloh- mengatakan:

Suatu hari Imam Bukhori meng-imlakkan kepadaku hadits yang banyak, sampai beliau khawatir aku jenuh, maka beliau pun mengatakan:

Hiburlah hatimu, sungguh mereka yang di dunia hiburan; sibuk dalam dunia mereka.. mereka yang di dunia produksi, sibuk dalam produksinya.. mereka yang di dunia bisnis, sibuk dalam bisnisnya.

Tapi engkau, bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau ! [Siyaru A’lamin Nubala’ 12/445]

——

Sungguh suntikan semangat yang sangat penting dan sangat ampuh.. coba bayangkan, bila kita berada di majlisnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.. betapa semangatnya kita, dan betapa bahagianya hati ini.

Itulah sebabnya mengapa ada orang yang sangat senang menyibukkan diri membaca Alqur’an.. karena dia merasa senang, tenteram, dan bahagia bersama Allah, mendengarkan firman-Nya, dan merenungi maknanya..

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

 

da161216-1343

Mari Koreksi NIAT Saat Menghadiri Ta’lim Dan Kajian…

Ibnu Qutaibah -rohimahulloh-:

“Dahulu, di zaman yang telah lalu, penuntut ilmu agama mendengarkan ta’lim agar dia berilmu. Dia berilmu untuk diamalkan.

Dia mencari ilmu agama Allah untuk mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada yang lain.

Namun sekarang, keadaannya menjadi lain; penuntut ilmu mendengarkan ta’lim untuk mengumpulkan maklumat. Dia mengumpulkan maklumat itu agar disebut-sebut. Dan dia menghapal maklumatnya untuk menang dalam debat dan membanggakan diri.”

[Madzhab Mufashshol Li Madzhab Imam Ahmad bin Hambal 1/13]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da200515-1442

Sholawat…

Mari semarakkan malam Jum’at dan harinya dengan sholawat kepada Nabi tercinta, Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Jangan LUPA sabda beliau : “Perbanyaklah ber-SHOLAWAT untukku, pada hari JUM’AT dan malam JUM’AT! Maka barangsiapa bersholawat kepadaku sekali, ALLAH bersholawat kepadanya SEPULUH kali.” [HR. Albaihaqi, dihasankan oleh Syeikh Albani]

Siapa yang tidak ingin ALLAH ta’ala bersholawat kepadanya 10 kali, setiap kali dia bersholawat kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam ? Amal yang ringan dengan pahala yang AGUNG dan ISTIMEWA.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da050117-1948

Renungkanlah Baik-Baik…

Diantara sesuatu yang paling menyedihkan dan menyayat hatimu di hari perhitungan nanti adalah ketika kamu tidak mampu memberikan SATU kebaikan pun untuk orang-orang yang sangat kau CINTAI; ayah dan ibumu, begitu pula kepada anak-anak dan isteri tercintamu.

Namun, engkau terpaksa harus memberikan BANYAK kebaikanmu untuk orang lain yang kau BENCI yang pernah kau ghibahi atau zalimi selama di dunia.

Mari lindungi tabungan amalmu dari ghibah, jangan terkecoh dengan alasan-alasan indah yang menghiasnya …

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

===============
Tambahan :

Rosulullah shollallahu ’alayhi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan (seperti ghibah. pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukiran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudia dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449, hadis Abu Hurairah.

Anda bisa bayangkan, betapa ruginya. Anda yang susah payah beramal, eeh… orang lain yang memetik buahnya. Orang lain yang berbuat dosa, tapi Anda yang merasakan pahitnya. Dan Allah tidak pernah berbuat zholim sedikitpun terhadap hamba-Nya. Iya benar… ini adalah disebabkan kesalahan manusia itu sendiri. Ini dalil betapa tingginya harkat martabat seorang muslim, dan betapa besar bahaya daripada dosa ghibah.

Apakah hadis ini mengisyaratkan adanya pertentangan dengan ayat,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Fathir: 18)?

Jawabannya adalah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari,TIDAK ADA SEDIKITPUN pertentangan antara hadis tersebut dengan ayat. Karena sejatinya, dia medapatkan hukuman seperti itu karena disebabkan oleh perbuatan dosanya sendiri, bukan karena dosa orang lain yang dibebankan kepadanya begitu saja. Jadi, pahala kebaikan yang dikurangi, dan keburukan orang lain yang dibebankan kepadanya, sejatinya adalah bentuk dari akibat dosa dia sendiri. Dan ini adalah bukti akan keadilan peradilan Allah ta’ala.”

(Lihat: Fathul Bari jilid 5, hal. 127)

241015-1550
ref artikel muslim.or.id

Jangan Menilainya Dari Keadaan Kebanyakan Orang…

Dalam masalah AGAMA… jangan menilainya dari keadaan kebanyakan orang…

Tapi, nilailah dengan dalil… agar keadaan selalu selaras dengan dalil, bukan dalil yang sering dipaksa selaras dengan keadaan.

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:

“Siapapun yang mengetahui syariat sebagaimana mestinya, dan dia tahu keadaan Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan para ulama besar; tentu dia tahu bahwa sebagian besar manusia tidak dalam keadaan yang lurus (dalam agamanya).

Namun mereka itu berjalan seiring dengan adat kebiasaan.

Mereka biasa saling mengunjungi, tapi kemudian saling menggibah.

Ada dari mereka yang mencari aib saudaranya, dia hasad bila saudaranya dalam kenikmatan, dia mencela bila saudaranya dalam musibah.

Dia bersikap takabur bila dinasehati, menipunya untuk mendapatkan sesuatu dari hartanya, dan memanfaatkan kesalahannya bila mungkin untuk dia lakukan.”

[Kitab: Shoidul Khothir, karya Ibnul Jauzi, hal:301]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da270615-1710

Kaidah Umum Yang Belum Banyak Dipahami Terkait Memberi dan Menerima Hadiah…

Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih