Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Akhlak Mulia… Jalan Surga Yang Luar Biasa…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah ditanya:

Amal apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga?

Beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah dan AKHLAK yang mulia”.

Beliau ditanya lagi:

Amal apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka?

Beliau menjawab: “Dua rongga; mulut dan farji”.

[HR. Tirmidzi: 2004 dan yang lainnya, dihasankan Syeikh Albani].

Siapa Yang Menjamin Umurmu Bisa Bertahan Hingga Esok Hari..?!

Syeikh ‘Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan,

Jangan berangan-angan bahwa bila kamu hidup di pagi hari, akan bisa bertahan hingga sore.. Atau bila kamu hidup di sore hari, akan mampu bertahan hingga pagi..

Karena betapa banyak orang yang hidup di pagi hari, akhirnya tidak bertahan hingga sore.. Sebaliknya, betapa banyak orang hidup di waktu sore, akhirnya tidak bertahan hingga waktu pagi.

Betapa banyak orang memakai baju sendiri, akhirnya baju tersebut dilepas oleh pemandi jenazah.

Betapa banyak orang yang meninggalkan keluarganya, lalu mereka menyiapkan makan siang atau makan malam untuknya, tapi akhirnya dia tidak bisa menyantapnya.

Dan betapa banyak orang yang tidur, akhirnya dia tidak bangun lagi dari kasurnya.

Intinya: bahwa seseorang jangan sampai memanjangkan angan-angannya.

Tapi, hendaknya dia waspada, cerdas, giat, dan tidak malas.

[Syarah Riyadhus Sholihin, jilid 3, bab: mengingat kematian dan memendekkan angan]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Katanya

Katanya, kita harus SEIMBANG antara mencari dunia dan mencari akherat.

Padahal Allah berpesan untuk lebih mendahulukan dan mementingkan akherat. Renungkanlah firmanNya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia..” [QS. Al-Qosos:77].

Jujurlah, mungkinkah Anda menyeimbangkan antara dunia dan akherat..?! Sungguh, seakan itu hal yang mustahil..

Yang ada: mendahulukan dunia, atau mendahulukan akherat, dan yang terakhir inilah yang Allah perintahkan.

Makanya, Allah berfirman dalam ayat lain:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku..” [QS. Adz-Dzariyat: 56].

Ini menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan UTAMA kita diciptakan.

Jika demikian, pantaskan kita seimbangkan antara tujuan utama dengan yang lainnya..?!

Bahkan dalam do’a “sapu jagat” yang sangat masyhur di kalangan awam, ada isyarat untuk mendahulukan kehidupan akherat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka..”

Di sini ada 3 permintaan :

– SATU permintaan untuk kehidupan dunia, dan

– DUA permintaan untuk kehidupan akherat

Inilah isyarat, bahwa kita harus lebih memikirkan kehidupan akherat, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat, amin…

Penulis, 
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Waspadailah “AKU”…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Harusnya seseorang benar-benar waspada dari keburukan perkataan “aku…”, “aku punya…”, dan “di sisiku…”.

Karena, tiga kata ini telah menjadi musibah bagi Iblis, Fir’aun, dan Qorun.

“Aku lebih baik darinya”, adalah perkataan Iblis (kepada Adam).

“Aku punya kerajaan Mesir”, adalah perkataan Fir’aun.

Dan “harta yang kumiliki adalah dari ilmu yang ada di sisiku”, adalah perkataan Qorun.

Adapun tempat yang paling baik untuk menempatkan kata “Aku”, adalah pada perkataan seorang hamba: “akulah seorang hamba yang pendosa, yang bersalah, yang beristighfar, yang mengakui kesalahan, dan semisalnya.

(Tempat yang paling baik untuk menempatkan) kata “aku punya” adalah pada perkataan seorang hamba: “aku punya dosa”, “aku punya keburukan”, “aku punya kekurangan”, “aku punya ketergantungan dan kehinaan”.

Dan (tempat yang paling baik untuk perkataan) “di sisiku” adalah pada perkataan seorang hamba: “ampunilah kesalahanku, baik dalam keadaan aku serius, bercanda, tidak sengaja, maupun sengaja. Dan semuanya ada di sisiku.”

[Kitab: Zadul Ma’ad 2/434]

Alangkah Beruntungnya Ahlussunnah…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

Mereka banyak mendapatkan pahala, tanpa harus lelah dan bersusah payah.

Terutama di zaman ini…  seringkali sebagian kaum muslimin menjalankan amalan-amalan yang dianggap ibadah, tapi tidak ada tuntutannya dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Mereka mengorbankan banyak harta, tenaga, waktu, dll untuk melakukanya, tapi itu semua menjadi sia-sia, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Barangsiapa melakukan amalan (ibadah) yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka ia ditolak”.

Sebaliknya Ahlussunnah… mereka akan mendapatkan banyak pahala dengan meninggalkan amalan-amalan itu, karena mereka meninggalkannya untuk menjauhi larangan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama)”.

Jadi, janganlah merasa RUGI ketika Anda tidak melakukan amalan mereka, karena justeru dengan begitu Anda mendapatkan pahala, sedang amal mereka menjadi sia-sia, bahkan bisa jadi mereka menuai dosa.

Ingatlah bahwa KETAATAN itu bisa dalam melakukan sesuatu, bisa juga dalam meninggalkan sesuatu… Allah telah mengaskan hal ini dalam firmanNya (yang artinya):

“Apapun yang diberikan Rosul kepada kalian, maka AMBILLAH. Sebaliknya apapun yang dia larang, maka BERHENTILAH darinya”. [QS. Alhasyr:7].

Fokuslah Pada SATU HAL

Jangan khawatir dengan dunia, karena itu milik Allah.

Jangan khawatirkan pula rizkimu, karena semua itu dari Allah.

Jangan pula khawatirkan masa depanmu, karena itu di tangan Allah.

Tapi, fokuslah untuk memikirkan satu hal, bagaimana menjadikan Allah ridho kepadamu.

Karena jika engkau telah menjadikan Allah ridho kepadamu, maka Allah akan menjadikan manusia ridho kepadamu, dan Dia juga akan menjadikanmu tercukupi dan tidak bergantung pada orang lain.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله

Para Ulama Islam Sepakat Menolak KERAS Pemahaman Syiah Imamiyyah…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Syiah Imamiyyah adalah Syiah 12 Imam, disebut juga Syiah Rofidhoh… Inilah paham syiah yang menjadi dasar Negara Iran sekarang ini… Dan paham tersebut merupakan paham syiah paling radikal dan ekstrim dibandingkan dengan paham syiah lainnya.

Sungguh disamping paham mereka berpengaruh buruk pada kerukunan umat Islam, dia juga mengancam kesatuan sebuah Negara, sebagaimana dibuktikan oleh sejarah kelam mereka, semoga Allah menjaga NKRI dari makar mereka, amin.

Oleh karenanya, para ulama Ahlussunnah Empat Madzhab menolak keras paham ini, sebagaimana dijelaskan dalam nukilan-nukilan berikut ini:

Pendapat Imam Pertama, Abu Hanifah (wafat: 150 H):

“Madzhab Imam Abu Hanifah: bahwa orang yang mengingkari kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq -rodhiallohu anhu-; maka dia kafir. Begitu pula orang yang mengingkari kekhilafahan Umar bin Khottob -rodhiallohu anhu-…

Masalah ini telah disebutkan dalam kitab-kitabnya (madzhab hanafi), seperti dalam Kitab Al-Ghoyah karya Assaruji, Kitab Fatawa Zhohiriyyah dan Badi’iyyah, dan Kitab Al-Ashl karya Muhammad bin Hasan.

Dan yang jelas, mereka mengambil keterangan ini dari imam mereka Abu Hanifah -rodhiallohu anhu-, dan beliau adalah orang yang PALING TAHU tentang kelompok syiah, karena beliau adalah penduduk Kufah yang merupakan tempat munculnya paham Rofidhoh”. [Oleh: Imam Taqiyyuddin Assubki, dalam kitabnya: Fatawa Subki, 2/587].

Pendapat Imam Kedua, Malik bin Anas (wafat: 179 H):

Imam Malik -rohimahulloh- mengatakan: “Orang yang mencela para sahabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak memiliki bagian dalam Islam”. [Kitab: Assunnah, karya Abu Bakar bin Khollal, 3/493].

Pendapat Imam Ketiga, Asy-Syafi’i (wafat: 204 H):

Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan: “Siapapun yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan seorang imam (pemimpin), maka dia adalah seorang yang berpaham Rofidhoh”. [Kitab: Siyaru A’lamin Nubala’, karya: Adz-Dzahabi, 10/31].

Beliau juga mengatakan: “Aku tidak melihat seorang pun dari pengikut paham sesat; lebih pendusta dalam pengakuannya dan lebih pembohong dalam persaksiannya, melebihi kelompok Rofidhoh”. [Kitab: Alintiqo, karya Ibnu Abdil Bar, hal: 79].

Pendapat Imam Keempat, Ahmad bin Hambal (wafat: 241 H):

Abdulloh putra Imam Ahmad mengatakan: aku pernah bertanya kepada ayahku, siapakah kelompok Rofidhoh itu?, beliau menjawab: “Orang yang mencela dan mengecam Abu Bakar dan Umar”. [Kitab: Assunnah, karya: Abu Bakar bin Khollal, 3/492].

Abu Bakar al-Marrudzi mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Aisyah? Maka beliau menjawab: “Aku menganggapnya tidak berada di atas Islam”. [Kitab: Assunnah, karya: Abu Bakar bin Khollal, 3/493].

Bahkan Imam Assam’aani -rohimahulloh- (wafat: 562 H) mengatakan:

“Umat Islam telah ber-ijma’ SEPAKAT tentang kafirnya Syiah Imamiyyah, karena mereka meyakini sesatnya para sahabat Nabi, mengingkari ijma’nya mereka, dan menyandarkan kepada mereka hal-hal yg tidak pantas bagi mereka”. [Kitab: Al-Ansab, karya: Assam’aani, 6/365].

——–

Semoga bermanfaat, dan menjadi masukan bagi pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia… tidak lain, agar KESATUAN Indonesia tetap utuh, dan kaum muslimin terjaga akidahnya dengan baik…

Jangan Sampai Anda Menyakiti Nabi -shollallohu alaihi wasallam-…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Bukankah beliau sudah wafat? bagaimana bisa seseorang menyakiti beliau setelah wafatnya? simaklah perkataan ulama salaf berikut ini:

Al-Barbahari (w 329 H) -rohimahulloh- mengatakan:

“Ketahuilah, bahwa orang yang mencela salah seorang dari para sahabat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ketahuilah bahwa sesungguhnya dia ingin (mencela) Nabi Muhammad, dan dia telah MENYAKITI beliau di alam kubur beliau”. [Syarhus Sunnah, hal: 54]

——-

Jika demikian, pantaskah Syiah yang selalu menyakiti beliau dengan celaan mereka kepada para sahabatnya, mengaku sebagai pembela beliau dan Ahlul Baitnya?

Tidak diragukan lagi, Ahlussunnah-lah yang benar-benar mencintai dan membela beliau, ahlul baitnya, dan para sahabatnya.

Lihatlah bagaimana mereka menjunjung tinggi beliau dan tuntunannya… bagaimana mereka menjadikan kecintaan mereka kepada Ahlul Bait sebagai bukti keimanan… dan bagaimana mereka memuliakan para sahabat beliau, hingga menjadikan pendapat mereka sebagai hujjah yg mu’tabar.

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya, amin.

Kiamat Benar-Benar Sudah Dekat

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

“Sungguh, di hadapan hari kiamat akan ada:
(1) Mengucapkan salam kepada orang khusus.
(2) Merebaknya perdagangan, hingga seorang isteri membantu suaminya dalam berdagang.
(3) Memutus tali persaudaraan.
(4) Persaksian dusta.
(5) Menyembunyikan persaksian yang benar.
(6) Mengemukanya pena (tulisan)”

[HR. Ahmad: 3870, Syeikh Al Albani -rohimahulloh- mengatakan: “Sanadnya shohih, sesuai syaratnya Imam Muslim”, lihat di silsilah shohihah: 647].

———

Coba perhatikan 6 poin yang disebutkan dalam hadits di atas… Subhanallah, seakan Beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam- sedang menggambarkan keadaan di zaman kita ini, wallohul mustaan.

Sungguh betapa banyak kaum muslimin yang mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenalnya saja.

Betapa merebaknya perdagangan, apalagi bisnis online.

Betapa banyak kasus putus hubungan saudara, hanya karena masalah sepele.

Persaksian dusta yang menjadi permainan di mahkamah, sudah bukan rahasia lagi… bahkan persaksian yang benar, seakan dikubur dan tidak boleh dibuka.

Dan yang terakir, mengemukanya pena… Ya, setiap orang bebas menuliskan uneg-unegnya… lihatlah status FB, WA, dst.

———

Sungguh ini merupakan tanda kenabian, yang sekaligus menjadi lampu merah bagi kita agar tetap berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya, hingga ajal menjemput kita… semoga kita semua husnul khotimah… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Tidak Semua Prasangka Atau Kecurigaan Itu Buruk…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sebagai seorang muslim, kita dituntut cerdas, cerdik, dan waspada… Oleh karenanya, bila kita melihat gelagat yang mencurigakan, sudah sepantasnya kita curiga dan waspada.

Allah ta’ala telah berfirman yang artinya:

“Sungguh SEBAGIAN prasangka adalah tindakan dosa”. [Al-Hujurot:12].

Imam Qurthubi -rohimahulloh- mengatakan:

“Para ulama kami mengatakan bahwa yang dimaksud ‘prasangka’… dalam ayat tersebut adalah tuduhan, dan sasaran ancaman dan larangan untuk tuduhan itu hanya pada tuduhan yang tidak ada dasarnya, seperti orang yang menuduh orang lain berzina atau meminum khomr, padahal tidak tampak padanya sesuatu yang menunjukkan hal itu”. [Tafsir Qurthubi: 16/331].

Dan ini bukan berarti kita boleh memata-matai saudara kita, tanpa ada sesuatu yang mendesak kita melakukannya.

Karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah melarang kita memata-matai saudara kita dan menguping pembicaraan yang ingin disembunyikannya. [Muttafaqun Alaih, Bukhori: 5143, Muslim: 2563.

Intinya:

CERDASLAH dalam menilai keadaan, adakalanya kita harus ber-husnuzhon, dan adakalanya kita harus ber-su’uzhon kepada orang lain… Di sisi lain, jangan sampai kita memata-matai saudara kita bila tidak ada sesuatu yang membolehkan dan mendesak kita melakukannya. wallohu a’lam.