Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Satu Nafas Yang Sebanding Dengan Lebih Dari SEMILYAR Tahun

Ibnu Qudamah -rohimahulloh- mengatakan:

“Manfaatkanlah kehidupanmu yang berharga, dan jagalah waktumu yang bernilai tinggi -semoga Allah merahmatimu-.

Ingatlah bahwa masa hidupmu itu terbatas, dan nafasmu itu terhitung, dan setiap nafas (yang keluar) itu mengurangi bagian dari dirimu.

Umur ini semuanya pendek, dan sisa dari umur itu tinggal sedikit, dan setiap bagian dari umur itu adalah mutiara berharga yang tiada bandingannya dan tiada gantinya, karena dengan kehidupan yang sedikit ini akan (didapatkan) keabadian yang tiada akhir; dalam kenikmatan atau dalam azab yang pedih.

Dan jika kau bandingkan kehidupan ini dengan keabadian yang tiada akhir itu, kamu akan tahu bahwa setiap nafas itu sebanding dengan lebih dari SEMILYAR tahun; DALAM KENIKMATAN YANG TAK TERBAYANGKAN ATAU SEBALIKNYA..

Maka, janganlah kamu sia-siakan umurmu -yang merupakan mutiara berharga itu- dengan tanpa amal, dan jangan sampai dia pergi tanpa ganti.

Bersungguh-sungguhlah agar setiap nafasmu tidak kosong dari amal ketaatan atau amal ibadah yang mendekatkanmu (kepada-Nya).

Karena seandainya kamu memiliki suatu perhiasan dunia saja; kamu akan merugi bila dia hilang, lalu bagaimana meruginya bila kamu menyia-nyiakan waktu-waktumu, dan bagaimana kamu tidak sedih karena umurmu hilang tanpa ada ganti..?!”

[Kitab: Ghidza’ul Albab 2/351].

———–

Subhanallah… ternyata setiap nafas Anda itu sangat berharga sekali… Sudahkah Anda menghargainya sesuai dengan nilainya..? Jawablah untuk diri Anda sendiri.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Para Fakir Miskin.. Sungguh Beruntungnya Mereka, Bila Sabar Menjalaninya

Seringkali orang yang hidup miskin merasa sangat rugi dan kecewa dengan keadaan hidupnya.

Tapi sungguh perasaan itu akan sirna bila dia melihat bagaimana Agama Islam memuliakannya, lihatlah beberapa poin berikut:

1. Keberadaan orang miskin sangat penting dalam masyarakat, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Tidakkah kalian diberi pertolongan dan diberi REZEKI, melainkan dengan orang-orang lemah kalian..” [HR. Bukhori: 2896]. Dan termasuk dalam kriteria orang lemah adalah mereka yang miskin sebagaimana dijelaskan para ulama.

2. Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- berharap hidup miskin dan digiring di akherat bersama para fakir miskin, Beliau dahulu berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Ya Allah hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin, dan giringlah aku pada hari kiamat bersama kelompoknya orang-orang miskin..” [HR. Attirmidzi: 2352 dan yang lainnya, hadits ini dihasankan oleh Syeikh Albani].

3. Mayoritas penduduk SURGA adalah kaum fakir miskin, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Aku telah berdiri di depan pintu surga, maka (kulihat) mayoritas orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin..” [Muttafaqun Alaih, Bukhori: 6547, Muslim: 2736].

———

Sungguh begitu mulia, para fakir miskin dalam pandangan Islam.

Semoga kita bisa mensyukuri hidup ini apapun keadaannya… dan bisa memanfaatkan kehidupan ini untuk mengumpulkan bekal akherat dengan sebaik-baiknya… amin. Ingatlah selalu firmanNya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Carilah bekal, dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan” [QS. Albaqoroh: 197].

Ketakwaan adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tujuan Semua Manusia

Tujuan semua manusia.. agar bahagia.
=======

“Sebagian ulama mengatakan: aku telah merenungkan sesuatu yang diusahakan oleh orang-orang yang berakal; kulihat mereka semua mengusahakan SATU TUJUAN, meskipun cara mereka berbeda-beda dalam meraihnya, aku melihat mereka semua hanya mengusahakan untuk menghilangkan kekhawatiran dan kesedihan dari jiwa mereka.

Orang ini (mengusahakannya) dengan makan dan minum, ada yang dengan bisnis dan mata pencaharian, ada yang dengan nikah, ada yang dengan mendengarkan nyanyian dan suara yang merdu, dan ada yang dengan hiburan dan permainan.

Maka kukatakan: memang ini yang diinginkan orang-orang yang berakal, namun semua jalan ini tidak akan menyampaikan mereka kepada tujuannya, bahkan mungkin sebagian besarnya malah menyampaikan mereka kepada kebalikannya.

Aku tidak melihat semua jalan itu bisa menyampaikan seseorang kepada tujuannya tersebut, kecuali menghadapkan diri HANYA kepada Allah semata, bermuamalah hanya dengan-Nya, dan mendahulukan keridhoan-Nya daripada segala sesuatu.

Karena orang yang berada di atas jalan ini, meskipun ada bagian dari dunianya yang terlewatkan; dia telah mendapatkan bagian paling berharga yang tidak berarti lagi apapun yang terlewatkan, dan apabila dia terlewatkan (seakan) dia tidak mendapatkan apa-apa.

Apabila orang yang berada di atas jalan ini mendapatkan bagian dunianya, dia akan mendapatkan dalam keadaan yang paling enak.

Maka tidak ada cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba melebihi jalan ini, dan tidak cara yang paling dapat menyampaikan seorang hamba kepada kenikmatan, kemapanan, dan kebahagiaan hidup melebihi jalan ini.

Dan hanya dengan Allah semua taufiq datang..”

[Oleh: Ibnul Qoyyim, dalam kitabnya: Adda’ wad Dawa’, hal: 193].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Agar Musibah Anda Berpahala.. Agar Kesedihan Anda Seakan Tiada

Seringkali seseorang sangat sedih ketika kehilangan uang, atau didenda, atau kecurian, atau dibegal, atau musibah lainnya…

Memang ini manusiawi, tapi alangkah ruginya bila kita tidak mendapatkan pahala darinya… Dan alangkah terobatinya hati ini bila dengannya kita mendapatkan pahala.

Dan itulah yang diinginkan oleh Agama Islam yang mulia ini, cobalah renungkan beberapa syariat berikut ini:

1. Dzikir saat musibah menimpa.

قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَل

“Ini adalah takdir Allah, apapun yang Dia kehendaki, pasti Dia lakukan.”

Ulangilah dzikir ini beberapa kali dan ingatkan diri Anda akan kandungan maknanya, hingga Anda benar-benar meresapinya.

Tidak lain, agar hati Anda rela dengan apa yang terjadi, karena itu adalah putusan Allah yang harus berjalan sesuai kehendakNya, dan Dia telah memberikan banyak kenikmatan di sepanjang hidup Anda.

Sungguh tidak ada pilihan yang lebih baik saat musibah menimpa, kecuali menjalankan dua syariat berikut ini:

2. Do’a saat tertimpa musibah.

اَللَّهُمَّ اأْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah berikanlah PAHALA kepadaku karena musibahku, dan berikanlah ganti untukku sesuatu yang lebih baik darinya”.

Alangkah pas dan baiknya doa ini, cobalah mengulang-ulangnya saat tertimpa musibah… sehingga doa Anda dikabulkan, dan Anda mendapatkan pahala, sekaligus ganti yang lebih baik dariNya.

3. Bersabar dalam menghadapinya.

Ini bukan berarti pasrah, namun menerima musibah tersebut dengan lapang dada, sembari melakukan perbaikan keadaan semampunya.

Ini juga akan mendatangkan pahala dan kebaikan, tentunya kita masih ingat sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan kenikmatan; dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan untuknya. Sebaliknya, bila dia tertimpa musibah, dia BERSABAR, maka itupun menjadi kebaikan untuknya.”

———

Sungguh, tiga syariat yang mendatangkan kebaikan untuk umat Islam saat musibah menimpa,
– mulai dari ketegaran jiwa,
– pahala yang akan kekal selamanya, dan
– ganti yang lebih baik saat di dunia.

Intinya, saat musibah menimpa… berdzikirlah, berdoalah, dan bersabarlah, sehingga kita mendapatkan kebaikan di akherat dan juga di dunia.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mari Merenungi Hakekat Hidup Ini

Setiap hari sebenarnya semua orang selalu mendapatkan musibah, namun seringkali dia tidak menyadarinya, apalagi mengambil pelajaran darinya.

●  Musibah pertama:
Umur yang terus berkurang.

Ironisnya pada hari ketika umurnya berkurang, dia tidak sedih karenanya, tapi apabila uangnya berkurang, dia bersedih.. padahal uang bisa dicari lagi, sedangkan umur tidak mungkin dicari gantinya.

●  Musibah kedua:
Setiap hari dia memakan dari rezeki Allah.

Bila rezeki itu haram; dia akan disiksa karenanya.. dan bila rezeki itu halal; dia tetap akan dihisab untuk mempertanggung jawabkannya, dan dia tidak tahu apakah dia akan selamat dalam hisab itu atau tidak.

●  Musibah ketiga:
Setiap hari, dia semakin mendekat kepada akherat, dan semakin menjauh dari dunia.

Meskipun begitu, dia tidak memperhatikan akheratnya yang kekal sebagaimana dia memperhatikan dunianya yang fana… padahal dia tidak tahu, pada akhirnya nanti dia akan ke surga ataukah ke neraka.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia, sebagai tujuan terbesar hidup kami dan tujuan akhir ilmu kami..

Ya Allah.. Hindarkanlah kami dari nerakaMu, dan jadikanlah rumah abadi kami adalah surgaMu, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Agar HIDUP Anda TERARAH Dan TAK GOYAH

Agar hidup anda TERARAH dan TAK GOYAH…

1. Bahwa tujuan UTAMA hidup Anda adalah untuk BERIBADAH kepada Allah, yakni mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, dengan menerapkan sunnah dan menjauhi bid’ah.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, hidup kita akan sangat terarah dan terfokus pada satu tujuan utama, hingga kita tidak akan bingung memilih pilihan hidup mana yang kita kedepankan.

Dengannya pula kita akan berusaha menjadikan pekerjaan kita sebagai ibadah, sehingga kita akan tulus menjalaninya tanpa pamrih, karena SEMUANYA akan dibalas oleh Allah yang maha mensyukuri amal para hamba-Nya.

2. Bahwa semuanya telah DITAKDIRKAN.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, kita akan TENANG dalam menjalani hidup, karena kita yakin rezeki yang menjadi bagian kita tidak akan bertambah maupun berkurang.

Dengannya juga, kita akan mantap untuk memilih jalan rezeki yang halal, karena hasilnya akan sama saja, baik kita memilih jalan yang haram maupun jalan yang halal.

3. Bahwa kita diperintah untuk BERUSAHA semampu kita, dan sesuai aturan syariat.

Dengan ini kita akan memahami, mengapa kita harus bekerja, padahal semua sudah ditakdirkan ?!

Jawabannya, karena kita DIPERINTAH untuk berusaha dan beramal, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:
“LAKUKANLAH amalan/pekerjaan, maka semua orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang menjadi tujuan dia diciptakan !”

4. Dalam melakukan usaha itu, pastinya ada cobaan dan rintangan… maka hadapilah dengan firman Allah ta’ala:

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal (sebenarnya) itu lebih baik bagimu” [QS. Albaqoroh: 216].

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya”. [QS. Annisa’: 19]

5. Banyaklah berdo’a, lalu yakinlah akan janji Allah bahwa Dia akan memuliakan dan memantaskan kehidupan orang yang beriman dan beramal saleh.

“Barangsiapa yang beramal saleh dalam keadaan beriman, baik dia pria maupun wanita, maka Allah sungguh benar-benar akan memberinya KEHIDUPAN yang baik/mulia”.[QS. Annahl: 97]

Semoga bermafaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Peristiwa MI’ROJ Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam… Apakah Dengan BUROQ?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Inilah yang diyakini oleh sebagian kaum muslimin, bahwa baik peristiwa Isro’ maupun Mi’roj, semuanya dengan menaiki Buroq.

Namun pendapat yang dikuatkan oleh MAYORITAS ulama adalah bahwa Buroq hanya digunakan dalam peristiwa Isro’ saja, yakni perjalanan dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho.

Adapun Mi’roj-nya, yakni perjalanan dari Masjidil Aqsho ke langit tujuh, bahkan hingga bertemu Allah untuk menerima syariat wajibnya sholat 5 waktu, maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menaiki MI’ROJ, yaitu: semacam tangga.

Simaklah perkataan Al-Hafizh Ibnu Katsir -rohimahulloh- berikut ini:

“Intinya: bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika selesai dari baitul maqdis, didatangkanlah “mi’roj” yaitu TANGGA, lalu beliau menaikinya hingga ke langit.

Dan naiknya beliau itu bukan di atas buroq, sebagaimana disalahpahami oleh SEBAGIAN orang, tapi Buroq ketika itu ditambatkan di pintu Masjid Baitul Maqdis untuk digunakan dalam perjalanan kembali lagi ke makkah.

Jadi beliau naik dari langit ke langit adalah dengan tangga hingga melewati langit ketujuh”.

[Kitab: Albidayah Wannihayah 3/138].

——–

Bagaimanakah sifat detil tangga itu? kita hanya bisa mengatakan; wallohu a’lam, hanya Allah yang tahu hakekatnya.

Salah Satu Sisi Hakekat DUNIA

Salah satu sisi hakekat dunia :

1. Sebelum mendapatkannya, harus banting tulang untuk mengumpulkannya… bahkan banyak yang harus melabrak aturan Allah ta’ala.

2. Ketika menikmatinya, harus hati-hati menjaganya, agar tidak cepet rusak atau hilang atau dibegal dst… atau bahkan harus disembunyikan karena takut dicuri atau kena ‘ain dst.

3. Setelah itu, dia pasti akan sirna dan fana… dan menyisakan tanggung-jawab di pundak kita, baik di alam kubur maupun di alam akherat kelak.

———-

Jika demikian, pantaskah kita dilalaikan olehnya… Pantaskah kita menggunakan segala cara untuk mendapatkannya… Padahal Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

Sungguh seseorang tidaklah akan mati, hingga RIZKINYA disempurnakan, maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan carilah cara yang baik dalam mendapatkannya.. [hadits dishohihkan oleh Syeikh Albani].

Jika yang menggunakan cara halal dan cara haram sama-sama akan disempurnakan rizkinya, tanpa berkurang dan tanpa bertambah sedikitpun… mengapa memilih cara yang haram ?!

Ya Allah, lindungilah kami dari godaan setan yang terkutuk…

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tundukkan AKALMU Pada Tuntunan Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Mungkin seringkali sebagian dari kita menghadapi situasi “tidak tahu” apa maslahat dari sebuah tuntunan agama, atau bahkan yang kita tahu adalah kerugian besar bagi manusia bila tuntunan itu diterapkan…

Jika hal ini menimpa Anda dan tuntunan itu benar-benar ada dasar dan dalilnya, maka katakanlah pada diri Anda: “Pasti ada kebaikan di dalamnya yang akalku belum dapat memahaminya”… Yakinkan diri Anda, bahwa: dibalik kerugian yang tampak, “pasti ada maslahat yang jauh lebih besar darinya”.

Kita bisa mencontohkan hal ini dalam syariat “taat dan tunduk pada pemerintah yang sah”.

Mungkin banyak dari masyarakat sekarang ini, yang tidak sabar dengan kekurangan yang ada pada pemerintah saat ini, dan akhirnya mereka memandang baik “demonstrasi” untuk memperbaiki keadaan.

Memang terlihat sangat logis, dan mungkin banyak dari kita tidak bisa menjawab mengapa cara “demo” dilarang oleh Islam?!

Tapi yang jelas, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah menyabdakan:

“Akan ada setelahku para PEMIMPIN yang tidak menjalankan petunjukku, dan tidak menerapkan sunnahku, dan akan ada ditengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah HATI SETAN di dalam jasad manusia!”

Hudzaifah bertanya: “Apa yang aku lakukan bila aku menemui hal itu?”.

Maka beliau menjawab: “Tetaplah mendengar dan menaati pemimpinmu, walaupun punggungmu dipukul dan uangmu dirampas, tetaplah untuk mendengar dan menaatinya”. [HR. Muslim, no: 1847].

Camkanlah perkataan beliau “Walaupun punggungmu dipukul dan uangmu dirampas, tetaplah untuk mendengar dan menaatinya”.

Mungkin akal sebagian dari kita tidak bisa melihat maslahat dari perintah ini, tapi jika Anda mengaku sebagai mukmin, yakni orang yang beriman bahwa beliau adalah utusan Allah, maka harusnya Anda menerima pesan beliau ini APA ADANYA… bahwa pesan ini PASTI benarnya dan lebih besar maslahatnya.

Karena Allah adalah Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang, dan Dia tidak mungkin menyariatkan sesuatu yag mendatangkan kerugian lebih besar daripada maslahatnya!

Begitu pula Nabi -shollallohu alaihi wasallam- adalah rosul yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, khususnya bagi kaum muslimin, Beliau tidak mungkin ingin membinasakan umatnya!

Yakinlah, bahwa di balik pesan ini pasti ada maslahat yang sangat besar, dan kebaikan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Lakukanlah perbaikan yang sesuai dengan Islam, diantaranya: dengan mendoakan kebaikan untuk pemimpin kita, menasehati dan memberi masukan kepada mereka dengan cara yang bermartabat dan tidak merendahkan… Kemudian bersabarlah menjalani keadaan yang ada, hingga Allah mengubah keadaan ini.

Ingatlah Firman Allah ta’ala (yang artinya): “Itulah masa-masa (kejayaan dan kehancuran) yang Kami timpakan secara bergilir kepada manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. [QS. Alu Imron: 140].

Ingat pula perkataan Hasan bin Sholeh -rohimahulloh-: “Sungguh bisa saja setan membukakan 99 pintu kebaikan untuk seorang hamba, dengannya dia menginginkan satu pintu keburukan untuknya” [Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hal: 37].

Ya, bisa jadi setan hanya menginginkan satu pintu keburukan untuk seseorang, yang dengannya dia ingin menghanguskan 99 pintu kebaikan yang dia jadikan sebagai jebakannya… semoga Allah melindungi kita semua dari godaan setan yang licik ini, amin.

Yang Lagi Demam AKIK, Apa Tujuan Anda Memakainya…?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

1. Jika tujuan Anda meniru Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, ketahuilah bahwa beliau memakainya karena tuntutan keadaan, kalau saja bukan karena tuntutan tentu beliau tidak mengenakannya, cobalah perhatikan hadits berikut:

Sahabat Anas -rodhiallohu anhu- mengatakan:

“Ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ingin menulis surat kepada raja kisro (raja persia), qoishor (raja romawi), dan raja najasyi, beliau diberi kabar bahwa mereka tidaklah menerima surat kecuali dengan STEMPEL.

Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pun membuat CINCIN yang lingkarannya terbuat dari perak, dan diukirlah padanya tulisan ‘Muhammadur Rosululloh’.” [HR. Muslim: 2092].

2. Jika tujuan Anda karena senang memakai cincin, maka silahkan memakainya, tapi janganlah mendakwakan bahwa itu sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, karena beliau memakainya bukan karena kesenangan, tapi karena tuntutan dan kebutuhan.

Pegang teguhlah perkataan Imam Syafi’i -rohimahulloh-: “Aku beriman kepada Rosululloh, dan apapun yang datang dari Rosululloh, sesuai yang DIINGINKAN oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-“. [Lum’atul I’tiqod, hal:7].

3. Jika tujuan Anda ingin menggunakannya untuk “keberuntungan” atau “pesugihan”, atau “pelet”, maka ini tidak hanya bukan sunnah Nabi, tapi sudah masuk dalam ranah kesyirikan, karena ini sama dengan menggunakan jimat, padahal Baginda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

“Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat), maka dia telah jatuh dalam kesyirikan”. [HR. Ahmad: 17422, shahih].

4. Jika Anda menggunakannya karena ikut-ikutan tren, maka ini tidak sepantasnya dilakukan, karena perangai ikut-ikutan itu menunjukkan tidak adanya prinsip/pegangan hidup.

Abdulloh bin Mas’ud -rodhiallohu anhu- pernah mengatakan:

“Janganlah kalian sekali-kali jadi orang yang ikut-ikutan… yaitu orang yang mengatakan: aku (akan) bersama manusia, jika mereka mendapatkan petunjuk; aku pun mendapatkan petunjuk, dan jika mereka tersesat; aku pun akan tersesat”. [Hilyatul Aulia 1/136].

5. Jika Anda menggunakannya, tanpa alasan apapun… maka hati-hatilah, mungkin saja Anda sedang tidak sadar atau lagi kena guna-guna penjual akik…