Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Pengen Tahu, Apakah Anda Mencintai Allah…?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kamu ingin tahu KECINTAAN kepada ALLAH yang ada pada dirimu maupun orang lain, maka lihatlah kecintaan hatimu kepada ALQURAN, dan (apakah) kelezatanmu dalam mendengarkannya melebihi kelezatan para penyanyi dan penari mendengarkan musik.

Karena sudah dimaklumi bahwa orang yang mencintai idolanya, maka perkataan dan ucapannya akan menjadi sesuatu yang paling dia cintai, sebagaimana dikatakan (dalam sebuah syair):

‘Jika kamu mengaku mencintai-Ku, lalu mengapa kamu menjauhi kitab-Ku?!

Tidakkah kamu merenungkan (dan merasakan) kelezatan perkataan-Ku yang ada di dalam kitab-Ku?!’.

Sahabar Utsman bin Affan juga mengatakan: ‘Seandainya hati kita bersih, tentunya dia tidak akan kenyang dengan kalamullah’.

Bagaimana pecinta akan kenyang dengan ucapan orang yang dicintainya, dan dia adalah tujuan akhir yang dicarinya?!”

[Kitab: Adda’ wad Dawa’, Ibnul Qoyyim, hal: 258].

Bagi Anda Yang Bentuk Tulisannya Jelek, Gak Usah Minder

Memang bentuk tulisan bagus adalah suatu kelebihan, namun bukan berarti yang bentuk tulisannya jelek harus minder.

Karena ternyata ada juga beberapa ulama zaman dahulu yang bentuk tulisannya jelek, namun sangat banyak memberikan manfaat kepada orang lain dari tulisan-tulisannya.

Diantara ulama yang terkenal bentuk tulisannya jelek adalah: Sufyan Ats-Tsauri, Shofiyyuddin Al-Hindi, Ibnu Taimiyah, Azzarkasyi, Asy-Syaukani, Syeikh Albani, dll… rohimahumulloh.

Bahkan tentang Shofiyyuddin Al-Hindi (wafat di damaskus th 715 H), Tajuddin Assubki bercerita:

“Bentuk tulisan orang ini sangat jelek sekali, orang ini cerdas dan sederhana.. dikisahkan dia pernah mengatakan :

“Suatu saat aku mendapatkan di pasar kitab; sebuah buku yang bentuk tulisannya lebih jelek dari tulisanku, maka akupun membelinya walaupun menurutku harganya mahal.

Tujuanku membeli kitab itu, untuk membantah orang yang mengklaim bahwa khotku adalah khot yang paling jelek.

Tapi sesampainya aku di rumah, tenyata kudapati itu adalah tulisanku sendiri yang sudah lama..”

[Kitab: Thobaqot Syafi’iyyah 9/163]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sampai Kapan Anda Bertaubat..?

Ada seorang ulama ditanya:

“Sungguh ada seorang yang jatuh dalam kesalahan, lalu dia bertaubat… Lalu dia jatuh lagi dalam kesalahan, dan bertaubat lagi… Kemudian dia jatuh dalam kesalahan lagi dan bertaubat lagi… Sampai kapan..?!”

Dia menjawab: “Sampai setan putus asa menggodanya..”

———

Jadikanlah setan putus asa untuk menggoda Anda… Jangan sebaliknya, Anda malah dijadikan putus asa untuk bertaubat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:

“Katakanlah: Wahai orang yang melampaui batas terhadap dirinya (dengan dosa), janganlah kalian BERPUTUS ASA dari rahmat Allah (dengan meminta ampun kepadaNya), karena Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya, sungguh Dia maha pengampun lagi maha penyayang..” [QS. Azzumar: 53].

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda dalam hadits qudsi, bahwa Allah berfirman:

“Wahai hamba-hambaKu, sungguh kalian akan terus melakukan kesalahan, baik di malam hari maupun siangnya, sedang Aku akan mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kalian..” [HR. Muslim: 2577]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Tujuan Berdo’a

Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan,

“Sungguh MENGHERANKAN, ketika manusia dilarang untuk sholat di sisi kuburan, tapi banyak dari mereka menjadikan kuburan sebagai tempat tujuan untuk berdo’a di sisinya, dan mereka mengatakan bahwa do’a di sana mustajab.

Apakah seorang muslim atau seorang yang berakal pantas mengatakan bahwa tempat yang kita dilarang untuk beribadah sholat di dalamnya adalah tempat yang mustajab untuk berdo’a, bahkan menjadi tempat tujuan untuk berdo’a..?!

Ini sama saja dengan orang yang mengatakan: “Aku tidak mau sholat saat terbit dan terbenamnya matahari, tapi aku akan sujud kepada matahari ketika itu..”, padahal dia dilarang sholat ketika itu adalah agar tidak menyerupai orang yang sujud kepada matahari..”

[Kitab: Qoidah Azhimah … , hal: 55].

———-

Memang setiap yang menyelisihi syariat, akan selalu tidak selaras dengan akal yang jernih dan kritis.

Cobalah kita perhatikan.. bagaimana mereka lebih semangat dan lebih khusyu’ ketika berdo’a di kuburan (rumah MAKHLUK yang sudah meninggal dan tak berdaya), daripada ketika mereka berdo’a di masjid (rumah ALLAH yang maha hidup dan maha kuasa).

Semoga Allah membuka hati hamba-hambaNya… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Agar Hati Anda Lembut

Syeikh Binbaz -rohimahulloh- mengatakan:

“Barangsiapa memanfaatkan waktunya untuk :
– berdzikir kepada Allah,
– membaca AlQur’an,
– berteman dengan orang-orang saleh, dan,
– menjauh dari berteman dengan orang-orang yang lalai dan buruk,

niscaya hatinya akan menjadi baik dan lembut..”

[Kitab: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 5/244]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Renungan

Sebagai kaum muslimin, kita biasa membaca Al-Fatihah sebanyak 17 kali setiap hari, sungguh jumlah yang tidak sedikit.

Dan inti dari Al-Fatihah adalah berdo’a meminta hidayah kepada Allah, agar kita tidak seperti kaum yahudi dan kaum nasrani.

Kaum Yahudi, terkenal dengan kaum yang berilmu TAPI tidak diamalkan.. sedang Kaum Nasrani, terkenal dengan kaum yang beramal TAPI tanpa ilmu.

Oleh karena itu, marilah terus menuntut ilmu AGAMA dan semangatlah dalam mengamalkannya.

Karena sungguh sangat tidak pantas bagi kaum muslimin, jika LISAN mereka mengulang-ulang do’a agar tidak menyerupai kaum yahudi dan nasrani, tapi TINDAKAN mereka seakan ingin menyerupai kaum tersebut.. enggan belajar.. enggan mengamalkan.

Semoga Allah menyelamatkan kita dan memberikan kita taufiq untuk belajar ilmu agama dan dapat mengamalkannya, amin.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kaidah Yang Sangat Ampuh

Lau kaana khoiron lasabaquuna ilaih… (Seandainya itu baik, tentu mereka para salaf telah mendahului kita).

=======

Ya… Inilah kaidah yang sangat AMPUH untuk menjawab semua amalan bid’ah dalam agama.

Sekuat apapun dalil mereka untuk melegalkan amalan bid’ah, pasti bisa kita patahkan dengan perkataan di atas: “Seandainya itu baik, tentu mereka para salaf telah mendahului kita..”

Karena tidak mungkin kita lebih ALIM dari mereka dalam masalah agama, dan tidak mungkin kita lebih SEMANGAT dari mereka dalam mengamalkan kebaikan, sehingga tidak mungkin ada amal kebaikan yang tidak pernah diamalkan oleh mereka para generasi salaf.

Kalau ada yang mengatakan, mana dalil kaedah di atas..?!

Kita katakan: Kaedah di atas diambil dari mafhumnya firman Allah ta’ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

“Orang-orang kafir itu mengatakan kepada orang-orang yang beriman: seandainya itu baik, tentu mereka TIDAK mendahului kami..” [Al-Ahqof: 11].

Seorang pakar tafsir Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- mengatakan:

“Maksud ayat ini, bahwa mereka (orang kafir Mekah) mengatakan kepada kaum yang mengimani Alqur’an: ‘Seandainya Alqur’an itu baik, tentu MEREKA tidak akan mendahului kita (dalam beriman) kepadanya’, dan perkataan ini mereka tujukan kepada Bilal, Ammar, Shuhaib, Khobab, dan yang semisal dengan mereka yang merupakan orang-orang lemah dan para hamba sahaya.. Sungguh mereka itu telah salah fatal dan jelas-jelas keliru.

Adapun AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH, maka mereka akan mengatakan dalam setiap perbuatan dan perkataan yang TIDAK valid dari para sahabat bahwa itu adalah BID’AH.

Karena ‘seandainya itu kebaikan, tentu mereka (para sahabat) telah mendahului kita dalam melakukannya.’

Karena mereka tidaklah menyisakan SATUPUN amal kebaikan, kecuali mereka telah bersegera melakukannya..”

[Kitab: Tafsir Ibnu Katsir 7/278-279].

————-

Sayangnya di zaman ini, orang yang menggunakan semboyan yang bersumber dari Alqur’an ini, selalu dijuluki sebagai wahabi.

Padahal Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- telah jelas MENEGASKAN bahwa itu adalah perkataan Ahlussunnah wal Jama’ah, wallohul musta’an.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Daripada Hanya DIET, Lebih Baik Sekalian PUASA… Bolehkah?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Syeikh Abdul Karim Al-Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:

“Tidak diragukan lagi manfaat PUASA dari sisi kesehatan, (bahkan) banyak orang sakit yang diberi resep untuk berdiet dengan meninggalkan makan dan minum.

Bagi yang diberi resep untuk meninggalkan makan minum, dan dia diharuskan untuk berdiet, lalu dia mengatakan: “Daripada aku diet, lebih baik aku puasa”. Padahal yang mendorong dia untuk puasa itu diet, apakah dia akan mendapatkan pahala atau tidak?

Kita katakan: Ini adalah penggabungan (niat) dalam ibadah, tapi ini merupakan penggabungan yang DIBOLEHKAN. Memang tidak diragukan lagi bahwa orang yang dorongan puasanya (hanya) ingin mendapatkan pahala dari Allah -subhanahu wata’ala- itu lebih sempurna dan lebih afdhol…

Masalah penggabungan (niat) dalam ibadah ini, memang membutuhkan lebih banyak perincian, penjabaran, permisalan, dan perbandingan. Penggabungan suatu ibadah dengan ibadah lain ada hukumnya sendiri, penggabungan suatu ibadah dengan sesuatu yang mubah ada hukumnya sendiri, dan penggabungan suatu ibadah dengan sesuatu yang haram ada hukumnya sendiri.

Jadi, orang yang disuruh untuk banyak jalan, lalu dia mengatakan: “Daripada saya mengelilingi pasar, lebih baik saya towaf, sehingga disamping saya mendapatkan tujuanku, aku juga dapat pahala towaf.”

Kita katakan: orang ini dapat pahala dari towafnya, karena dia tidaklah beralih dari pilihan ini ke pilihan itu kecuali karena menginginkan pahala.

Begitu pula orang yang tadi, dia tidaklah meninggalkan pilihan (untuk sekedar) diet dengan tidak makan minum tanpa puasa, lalu memilih puasa, kecuali karena menginginkan Wajah Allah subhanahu wata’ala. Memang pahalanya akan berkurang.

Seorang imam, bila dia memanjangkan rukuknya karena (menunggu) orang yang masuk masjid (agar mendapatkan rukuknya), ini merupakan penggabungan (niat) dalam ibadah. Karena imam itu asalnya berniat untuk membaca tasbih 7 kali, lalu ketika mendengar pintu masjid terbuka, dia berkata dalam hatinya: “Mungkin orang ini bisa mendapatkan rekaat ini,” maka dia pun bertasbih 10 kali karena orang yang masuk tersebut, menurut mayoritas ulama hal ini tidak mengapa, dan itu termasuk dalam bab berbuat baik kepada saudaranya…

Jika menyingkat sholat karena tangisan anak dan karena (melihat perasaan) ibunya dibolehkan, maka memanjangkan sholat -tanpa riya’- karena ingin berbuat baik kepada orang yang masuk tersebut lebih pantas untuk dibolehkan.”

[Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’ 1/17-18].

Agar Tidak Menjadi Jahil

Alim tapi jahil..

Ya.. Itu sangat mungkin terjadi, bahkan ternyata hal ini banyak terjadi di sekitar kita, semoga kita bukan dari mereka.

Mengapa bisa demikian..? Itu karena perkataan Al Fudhoil -rohimahulloh- berikut ini:

“Seorang ALIM masih dalam keadaan JAHIL dengan apa yang dia ilmui, sehingga dia mengamalkan ilmunya..”

Oleh karenanya, jika Anda tidak ingin menjadi JAHIL, maka amalkanlah ilmu Anda, lihatlah semangat para ulama dalam menerapkan ilmunya.

Ummu Habibah Isteri Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan: “Aku tidak pernah meninggalkan (sholat sunnah rowatib 12 reka’at) setelah aku mendengarnya dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-..”.

Imam Ahmad -rohimahulloh- mengatakan: “Tidaklah aku menulis hadits, melainkan aku telah mengamalkannya..”

Imam Bukhori -rohimahulloh- juga mengatakan: “Aku tidak pernah meng-ghibah siapapun, sejak aku tahu bahwa itu haram..”

Karena kebaikan ilmu itu bila diamalkan, Allah telah berfirman (yang artinya):

“Andaikan mereka MENGAMALKAN apa yang dinasehatkan kepada mereka, tentu itu lebih baik bagi mereka, dan lebih meneguhkan hati mereka..” [QS. Annisa: 66].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kasihannya Kaum Syi’ah… Allohu Yahdina Wa Iyyahum…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA,  حفظه الله تعالى

1. Kehormatan kaum wanitanya, menjadi tergadaikan dengan topeng mut’ah.

2. Kaum lelakinya, menjadi sangat rendah dan hina dengan kedok ‘mengagungkan’ ahlul bait.

(Lihat bagaimana mereka melukai diri sendiri, mengaku anjingnya husain, ‘ngesot’ ke makam husein, mandi dengan lumpur… dst)

3. Harta pengikutnya menjadi gratisan untuk para pemuka agamanya, dengan dalih khumus (kewajiban membayar seperlima harta, padahal zakat harta dalam Islam hanyalah seperempat puluh).

4. Akal mereka seakan dihilangkan, dengan bungkusan membela keluarga Nabi -shollallohu alaihi wa aalihi wasallam-.

(Lihatlah mereka mengatakan Nabi -shollallohu alaihi wa alihi wasallam- tidak berhasil dalam menggembleng para sahabat beliau, katanya husein yang menentukan siapa yang pantas di neraka atau di surga, katanya para imam merekalah yang mengatur dunia ini… dst)

5. Mereka menjadi kaum yang selalu melaknat dirinya sendiri, karena laknat mereka terhadap para sahabat dan isteri Nabi -shollallohu alaihi wa aalihi wasallam-.

———-

Kadang, hati ini merasa iba terhadap Sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman -rodhiallohu anhum- ketika dilaknat oleh mereka.

Tapi, luka itu banyak terobati, dengan sabda Nabi -shollallohu alaihi wa aalihi wasallam- berikut ini:

“Sungguh jika seorang hamba melaknat sesuatu; laknatnya itu akan naik ke langit, tapi pintu-pintu langit tertutup untuknya.

Kemudian laknat itu turun ke bumi, tapi pintu-pintu bumi pun tertutup untuknya.

Kemudian laknat itu mengambil arah ke kanan dan ke kiri, maka ketika dia tidak mendapat tempat lagi; dia pun kembali kepada orang yang dijadikan sasaran laknat (oleh pengucapnya) jika memang orang itu pantas mendapatkan laknat.

Tapi jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang melontarkannya”.

[HR. Abu Dawud: 4905, hadits hasan].

———-

Tentunya kita sebagai Kaum Muslimin sangat yakin, bahwa 3 orang terbaik umat ini tidak mungkin pantas mendapat laknat itu… sehingga pastinya laknat itu akan kembali ke diri mereka sendiri.

Jika demikian, kebaikan apa yang tersisa untuk mereka… mereka menjadi kaum yang terlaknat, bahkan oleh diri mereka sendiri… Allahu yahdina wa iyyahum.