Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Jangan Mau Disamakan Dengan (maaf) Anjing…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Sebuah nasehat mengatakan:

“Ada tiga makhluk yang bekerja, tapi hasilnya untuk orang lain:

1. ANJING yang mengejar hewan buruannya, lalu menyerahkannya kepada pemiliknya.

2. Orang yang PELIT, dia mengumpulkan harta, tapi setelah banyak terkumpul, harta itu menjadi milik ahli warisnya.

3. Orang yang menggunjing (GHIBAH), sehingga pahala-pahala amal baiknya diberikan kepada orang lain.”

Al Qur’an… Mana Perhatian Anda Untuknya…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

Kita wajib memberikan perhatian khusus kepada Al Qur’anul Karim, dan berusaha mengetahui kandungan ayat-ayatnya, sehingga kita dapat MENGAMBIL MANFAAT darinya.

Sehingga Al Qur’an itu bisa menjadi jalan hidup kita dalam berakidah, beribadah, dan bersosial.

Karena Al Qur’an ini adalah “obat bagi hati yang ada dalam dada, petunjuk hidayah, dan juga rahmat bagi semesta alam”. [QS. Yunus: 57].

[Kitab: Ahkam Minal Qur’anil Karim, 1/360].

————

Penulis ingin bertanya… Kapankah Anda membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, lalu mengambil pelajaran berharga darinya…

Anda tidak perlu mengelak, karena jawaban itu untuk diri Anda sendiri…

SATU Ucapan Salam Dengan 30 Kebaikan…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Pernah ada seseorang datang kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: “SEPULUH (kebaikan).”

Kemudian datang orang lain, dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum warohmatulloh”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka beliau mengatakan: “DUA PULUH (kebaikan).”

Kemudian datang orang lain lagi, dan dia mengucapkan: “Assalamualaikum warohmatulloh wabarokatuh”, maka beliau menjawab salamnya, lalu duduk. Maka beliau mengatakan: “TIGA PULUH (kebaikan).”

[HR. Albaihaqi dalam Al-Adab: 214, Syeikh Muqbil mengatakan: hadits hasan sesuai syaratnya Imam Muslim].

———

Subhanallah… Begitu Maha Pemurahnya Allah ta’ala terhadap hambanya… Tinggal Anda sekarang, apakah Anda “pemurah” terhadap diri Anda sendiri?!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yg beramal saleh, maka itu untuk dirinya sendiri”. [QS. Fush-shilat: 46].

Anggaplah Diri Anda LEBIH RENDAH Harganya Dari Seekor LALAT Jika Untuk Memperjuangkan Agama ALLAH…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Jauzi ketika mensifati Imam Ahmad -rohimahumalloh- mengatakan:

Orang ini menganggap rendah dirinya demi (memperjuangkan agama) Allah ta’ala, sehingga dia mengorbankan dirinya, sebagaimana (sahabat) Bilal dahulu menganggap rendah dirinya.

Dan kami telah meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab bahwa dia menganggap dirinya lebih rendah daripada seekor lalat demi (memperjuangkan agama) Allah.

“Harga diri” mereka rendahkan, karena mereka menatap hasil akhir yang baik, karena penglihatan yang didasari ilmu akan melihat hasil akhir, bukan keadaan sekarang.”

[Manaqib Imam Ahmad, hal: 446].

———–

Dan hendaknya seperti inilah para pejuang tauhid mendudukkan dirinya…

Ingatlah, bahwa semakin kita merendahkan diri di hadapan Allah ta’ala, maka semakin tinggi dan mulia kedudukan kita di sisi-Nya.

Oleh karena itulah, seringkali Allah menyebut Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- dalam Al Qur’an sebagai HAMBANYA… sungguh ini bukan untuk merendahkan beliau, sebaliknya itulah cara Allah memuliakan dan meninggikan kedudukan beliau, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat…

Kita Akan Ditanya Tentang Semua Nikmat Yang Kita Terima

Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيم

“Kemudian kalian benar-benar akan ditanya tentang semua nikmat (yang diberikan)..” (At-Takatsur: 8)

Syeikh Sholeh Assindi -hafizhohulloh- mengatakan,

“Dan nikmat apakah yang lebih agung dari TAUHID..?!

Maka barangsiapa ingin menjadi orang yang mensyukuri nikmat ini, maka hendaklah dia memberikan waktu dan usaha utamanya untuk BERDAKWAH (mengajak ummat) kepadanya.

Hendaklah dia semangat dalam memberikan hidayah kepada seluruh makhluk.

Dan Hendaknya dia menganggap MURAH dzatnya demi (memuliakan) Dzat Allah..”

(Addakwah ilat Tauhid, 42-43)

———-

Mari dakwahkan TAUHID dan SUNNAH kepada orang di sekitar kita .. sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing .. dan dengan cara yang paling baik dan paling mudah diterima oleh mereka.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

3 Kunci Keselamatan

Sahabat Uqbah bin Aamir -rodhiallohu ‘anhu- pernah bertanya: “Apakah (kunci) keselamatan itu ?”

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan: “Kendalikanlah lisanmu, jadikanlah rumahmu lapang untukmu, dan menangislah karena dosamu.”

[HR. Ahmad dan Attirmidzi, dihasankan oleh Attirmidzi dan Syeikh Albani].

——–

Dalam hadits ini Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyebutkan bahwa keselamatan itu bisa diraih dengan 3 hal:

1. Menjaga lisan dari perkataan yang mendatangkan dosa, maupun bahaya dari orang lain. Hendaklah seseorang tidak mengatakan kecuali kebaikan, sebagaimana dalam hadits lain.

2. Sebisa mungkin untuk selalu di rumah, kecuali bila ada kebutuhan untuk keluar rumah… Karena dengan begitu seseorang akan semakin memperhatikan keluarganya, dan dapat mengurangi kemungkinan berbuat salah kepada orang lain.

3. Menyesali dosa-dosa yang telah dia perbuat, dia menangis dan bersimpuh di hadapan Allah meminta ampun kepadaNya, sehingga dengannya dia terhindar dari murka Allah dan selamat di dunia dan akheratnya, wallohu a’lam.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Semua Kebaikan Bermuara Dari Do’a

Muthorrif bin ‘Abdillah (w 87 H) mengatakan:

“Aku merenungkan, apakah yang mengumpulkan semua kebaikan..?

Ternyata semua kebaikan adalah dengan banyaknya puasa dan sholat, dan ternyata banyaknya puasa dan sholat itu di Tangan Allah ‘azza wajall..

Dan ternyata engkau tidak mendapatkan apa yang di tangan Allah ‘azza wajall, kecuali dengan MEMINTA kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu.

Jadi ternyata yang mengumpulkan semua kebaikan adalah DO’A..

[Kitab: Azzuhd, Imam Ahmad, hal: 241]

————

Do’a, amal yang sangat ringan, sangat besar manfaatnya, namun sedikit yang memperhatikannya dengan semestinya, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da290115-1331

Ayat Yang Paling “Menakutkan” Untuk Para Ulama…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Imamnya para ahli tafsir Ibnu Jarir Ath-Thobari rohimahulloh dalam tafsirnya (10/449) mengatakan:

Dahulu para ulama mengatakan: tidak ada dalam Alquran ayat yang lebih ‘menjelekkan’ para ulama dan lebih ‘menakutkan’ mereka, melebihi ayat ini, yakni firman Allah ta’ala:

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Mengapa para ULAMA dan para pendeta mereka TIDAK melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh AMAT buruk apa yang telah mereka lakukan itu”. [QS. Alma’idah: 63]

———-

Sungguh tindakan membiarkan kemungkaran adalah tindakan yang sangat buruk, bahkan mendatangkan LAKNAT para nabi [QS. Alma’idah: 78-79].

Sebaliknya mengingkari kemungkaran merupakan salah satu sebab umat ini menjadi umat yang TERBAIK. [QS. Alu Imron:110].

Oleh karena itu, bersemangatlah untuk bernahi mungkar, sebagaimana bersemangat dalam beramar ma’ruf…

Tentunya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing, dan dengan cara yang hikmah.

Semoga Allah memberikan taufiq kita semua dalam menjalankannya, amin.

Sakit Hati

Sakit hati..
mengapa terus dipelihara.. ?!
tidakkah anda segera mengobatinya..?!

Tidak seperti ketika sakit di badannya.. seringkali seseorang malah ‘memelihara’ sakit hatinya, padahal harusnya dia bisa segera mengobati lara hatinya itu, sebagaimana dia bisa segera mengobati sakit badannya.

Dan diantara OBAT pelipur lara hati yang PALING AMPUH adalah dengan MEMAAFKAN kesalahan orang yang menyakiti kita.. karena itulah sumber dan sebab utama sakitnya hati kita, oleh karenanya ketika sumber sakitnya sudah teratasi, maka tentunya sakit hati kita akan hilang dengan sendirinya.

Seringkali seseorang tidak mau, atau gengsi, atau merasa rugi untuk memaafkan orang lain, padahal sebenarnya dengan begitu dia akan rugi sendiri, karena hatinya akan sakit, tersiksa, dan TERBEBANI terus-menerus.

Seringkali seseorang TIDAK INGIN memaafkan kesalahan orang lain, kecuali bila orang tersebut yang meminta maaf kepadanya, padahal apakah dia akan melakukan hal yang sama saat badannya disakiti orang lain..?! Apakah dia mau menunggu hingga orang lain mau mengobati sakit di badannya..?! Tentunya tidak.

Maafkanlah kesalahan orang lain… karena dia sama sekali tidak akan mampu mengubah TAKDIR Anda..

Maafkanlah dia.. karena Allah menjanjikan pahala yang tiada tara kepada Anda:

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya itu Allah (yang menentukannya)” [QS. Asy-Syuro: 40].

Maafkanlah dia.. karena Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda:

“Maafkanlah, dan berlapang dadalah..! Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian..?!” [QS. Annur: 22].

Maafkanlah dia.. bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan Anda lebih tinggi darinya… Anda yang disalahi, bukan anda yang menyalahi..

Maafkanlah dia, agar sakit hati Anda segera hilang… Agar hati Anda menjadi lapang, ringan, dan bahagia..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mulutmu… Surgamu, Atau Nerakamu!

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Jagalah LISAN Anda, syukurilah nikmat itu untuk menghibur dan membahagiakan orang lain…

Jangan malah menjadikannya sebagai pemuas hawa nafsu Anda untuk menyakiti dan menusuk hati orang lain… karena lisanmu itu; surgamu atau nerakamu… Simaklah hadits berikut ini:

Sahabat Abu Huroiroh -rodhiallohu anhu- mengatakan:

Ada seorang lelaki mengatakan: “Ya Rosulullah, sungguh si fulanah itu dikenal dengan banyaknya amalan sholatnya, puasanya, dan sedekahnya, hanya saja dia biasa menyakiti tetangganya dengan lisannya.”

Beliau menjawab: “Dia di NERAKA”.

Orang itu mengatakan lagi: “Ya Rosululloh, sungguh si fulanah (yang lain), dia dikenal dengan sedikitnya amalan puasanya, sedekahnya, dan sholatnya… namun dia TIDAK menyakiti tetangganya dengan lisannya.”

Beliau menjawab: “Dia di SURGA”.

[HR. Ahmad: 9675, sanadnya hasan, Al-Musnad 15/421].