“Aku dapati orang yang ‘beramal untuk akherat’, jika dia diuji dengan sesuatu yang dibenci di jalannya itu; dia tidak sedih, bahkan dia malah bahagia, karena harapannya terhadap apa yang akan diterimanya (di akherat) itu menjadi penolong baginya pada hal yang dia inginkan, dan itu melebihi target yang dia inginkan.
Dan aku dapati bila dia terhenti langkahnya oleh sesuatu hal di jalannya itu; dia tidak sedih, karena dia (tahu) tidak disalahkan karena itu, sehingga hal tersebut tidak berpengaruh terhadap apa yang dia inginkan (di akherat).
Aku melihat bila dia dijadikan sasaran gangguan; dia bahagia. Bila ditimpa kesulitan; dia bahagia. Dan bila dia lelah karena apa yang dijalani; dia gembira, sehingga dia dalam keadaan bahagia selamanya…
Dan ketahuilah, bahwa yang diinginkan (oleh manusia) hanyalah satu; MENGUSIR KESEDIHAN, dan tidak ada jalan untuk itu melainkan satu jalan, yaitu: beramal karena Allah ta’ala.”
[Al-Akhlaq was Siyar, Ibnu Hazm, hal: 15-16].
——-
Inilah yang jauh hari telah disinggung oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya adalah kebaikan, dan itu tidaklah ada melainkan pada diri seorang mukmin.
Bila dia menerima nikmat; dia bersyukur, sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa ujian, dia bersabar, sehingga itu menjadi kebaikan pula baginya”. [HR. Muslim: 2999].
Ditulis oleh, Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
“Telah berlaku ketetapan Kami untuk para hamba Kami yang menjadi rasul, bahwa sungguh mereka benar-benar golongan yang dimenangkan”. [QS. Ash-Shoffat: 172-173]
Sebagian orang tidak bisa memahami ayat ini dan mengatakan: “Sebagian dari mereka telah dibunuh, bagaimana mereka dikatakan menang?!”
Maka jawabannya:
Terbunuhnya seseorang apabila dengannya Agama dan pengikutnya menjadi mulia, maka itu merupakan penyempurna kemenangan.
Karena kematian adalah suatu keniscayaan, sehingga bila seseorang mati tapi dengannya dia menjadi bahagia di akherat, maka ini adalah PUNCAK kemenangan.
Sebagaimana keadaan Nabi kita -shollallohu alaihi wasallam-, banyak dari sahabatnya yang mati syahid dan mereka menuju kepada kemuliaan yang paling agung, sedang sahabatnya yang masih hidup menjadi mulia dan menang…
Jadi orang yang dibunuh seperti ini, terbunuhnya dia akan menjadi penyempurna kemenangannya dan kemenangan para pengikutnya.
Dan termasuk dalam bab ini; hadits riwayat muslim yang menjelaskan tentang seorang ghulam (anak kecil lelaki) yang mengikuti agamanya seorang rahib dan meninggalkan agamanya tukang sihir, lalu mereka ingin membunuhnya berkali-kali tapi mereka tidak mampu, sehingga ghulam itu mengajari mereka bagaimana membunuh dirinya, dan ketika dia terbunuh, BERIMANLAH seluruh manusia, sehingga ini merupakan kemenangan untuk agamanya.
Oleh karenanya, ketika Umar bin Khottob dibunuh di tengah-tengah kaum muslimin sebagai syahid; dibunuh pula pembunuhnya.
Begitu pula ketika Utsman dibunuh sebagai syahid; dibunuh pula para pembunuhnya dan golongannya menjadi menang.
Begitu pula ketika Ali dibunuh oleh kelompok khowarij dengan menghalalkan darahnya; mereka termasuk orang yang diperintahkan Allah dan Rosulnya untuk dibunuh, dan mereka (setelah itu) selalu dikalahkan oleh golongan Ahlussunnah Waljama’ah, dan hal tersebut tidaklah menghalangi kemuliaan Islam dan pemeluknya.
Apalagi para nabi yang dahulu dibunuh itu telah dibalaskan oleh Allah, sampai ada yang mengatakan dari darahnya (Nabi) Yahya bin Zakariya ada sebanyak 70 ribu orang yang terbunuh karenanya.
[Almasa’il wal Ajwibah, hal: 218-219].
———
Kesimpulannya: bahwa para pembela Agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya akan menjadi pemenang, apapun keadaannya.
Dan kemenangan tersebut bisa dilihat dari 3 sisi:
1. Agama yang diperjuangkannya akan selalu dijaga dan dimenangkan oleh Allah azza wajall.
2. Bila dia terbunuh karena membela Agama Allah, maka dia menjadi syuhada’, dan tentunya ini jauh lebih baik daripada keadaan musuhnya, yang nantinya juga pasti mati walaupun dengan cara biasa.
3. Allah akan membalaskan kejahatan musuhnya dengan cara-Nya sendiri, dan itu bukanlah hal yang sulit bagi-Nya.
Wallohu a’lam.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
“Jika kamu melihat dirimu berpaling dari sebagian (tuntunan) Agama Allah, atau kamu melihat dirimu berpaling dari kitabullah azza wajall, baik berpaling dari membaca hurufnya, atau membaca dengan perenungan, atau membaca dengan pengamalan
Maka harusnya kamu mengobati dirimu, dan ingatlah bahwa sebab ‘berpaling’-mu ini adalah kemaksiatan-kemaksiatan (yang kamu lakukan)”.
[Tafsir Surat Alma’idah 1/348].
Diterjemahkan oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Saat Anda berlumuran dosa; memperbanyak ISTIGHFAR lebih afdhol daripada banyak bertasbih.
Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:
“Ada seorang ulama ditanya: Manakah yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, bertasbih atau beristighfar?
Dia menjawab: Bila sebuah pakaian bersih, maka parfum dan air mawar lebih bermanfaat baginya.
Tapi apabila pakaian itu kotor, maka sabun dan air panas lebih bermanfaat baginya”.
[Alwaabilus shoyyib, Ibnul Qoyyim, 92]
———
Mungkin ada yang bertanya, berarti kita akan beristighfar saja, karena kita selalu merasa berlumuran dosa..?!
Kita katakan: “memperbanyak istighfar”, bukan berarti tidak membaca dzikir yang lain sama sekali.
Dan tidak diragukan lagi bahwa perasaan ‘berlumuran dosa’ tidak akan selamanya menghinggapi diri kita, pasti ada saat-saat kita merasa dekat dengan Allah ta’ala, wallohu a’lam.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
“Barangsiapa yang memohonkan ampun kepada Allah untuk kaum mukminin dan mukminah, niscaya allah akan mencatat baginya SATU PAHALA DARI SETIAP MUKMIN DAN MUKMINAH..”
( HR. ath Thobroni dan Imam Al Bukhori dalam Adab Mufrod dishohihkan oleh syekh Al Albani )
Bila jumlah orang-orang yang beriman baik yang masih hidup atau yang sudah wafat mencapai 1 milyar, maka Allah akan memberikan 1 milyar pahala SETIAP kali kita ber-istighfar
5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].
6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]
7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]
Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
jangan lupa salah satu adab berdo’a adalah memulainya dengan :
.
▪️memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh) : yaa Hayyu yaa Qoyyuum..
.
▪️lalu membaca sholawat (contoh) : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad..
.
▪️lalu mulailah berdo’a..
Cinta Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu WAJIB, dan lebih mencintai beliau bukan berarti tidak mencintai para ulama, ataupun orang tua.
======
Hal ini bisa kita simpulkan dari sabda beliau:
“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian, hingga aku lebih dia cintai melebihi orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya..” [HR. Bukhori dan Muslim].
Hadits ini juga menunjukkan bahwa harus ada derajat CINTA yang berbeda-beda di hati manusia. Dan beliau mengurutkannya sesuai dengan urutan yang semestinya: Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, lalu orang tua, lalu anak, baru orang lain.
Bila mereka sepakat dalam memerintahkan sesuatu, maka itulah yang harusnya dilakukan, contohnya: perintah berbakti kepada orang tua.
Namun bila perintahnya bertentangan, maka di sinilah manfaat mengetahui derajat cinta yang berbeda tersebut, misalnya:
Apabila Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- melarang kita untuk membuat perkara yang baru dalam agama, apapun bentuknya.. Lalu ada sebagian ulama atau orang tua menganjurkan untuk melakukan ‘maulid’ yang jelas termasuk perkara yang baru dalam agama.. Maka, manakah yang harusnya kita dahulukan..?!
Jika CINTA kita kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- lebih tinggi, tentu kita akan lebih mendahulukan larangan beliau dan tidak melakukan ‘perayaan maulid’.. dan inilah bentuk cinta yang sesungguhnya.
Sungguh tidak pantas, orang yang melanggar larangannya mengaku mencintai beliau.. Apalagi sampai menuduh orang yang ingin menerapkan larangan beliau dengan tuduhan ‘tidak cinta’ kepada beliau.
Salah seorang penyair mengatakan:
“Jika cintamu itu tulus, tentunya kau telah mentaatinya.. Karena pecinta sejati itu akan mentaati orang yang dicintainya..”
“MENUNTUT ilmu (agama) itu berat, MENGHAPALNYA lebih berat dari menuntutnya, MENGAMALKANNYA lebih berat dari menghapalnya, dan menjadi orang yang SELAMAT dengan ilmu agama itu lebih sulit dari mengamalkannya”.
[Alkabair, Adz Dzahabi]
———
Lalu kapan rasa ujub menghinggapi seorang penuntut ilmu, bila dia selalu mengingat pesan ini.
Inilah obat bagi penuntut ilmu agama yg mengeluhkan rasa ujub dlm dirinya.
Heh.. Si fulan itu wali lho… dia punya banyak KAROMAH.. Masa dia salah?
Itulah yang sering kita dengar saat kita menyampaikan tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang telah menjadi asing di tengah-tengah masyarakat zaman akhir ini. Padahal karomah itu tidak menjadikan pemiliknya maksum.
Sekaliber Imam Syafi’i -rohimahulloh- saja mengatakan:
“Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi SUNNAH rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, maka ambillah perkataan beliau itu, dan TINGGALKAN perkataanku!” [Siyaru A’lamin Nubala’ 10/34].
Jika Imam Syafi’ saja demikian, bagaimana dengan orang yang di bawah beliau…
Dan tentang KAROMAH para wali dan kekasih Allah ini, Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:
“Karomahnya orang-orang saleh itu menunjukkan kebenaran agama (Islam) yang dibawa oleh Rosul, dia TIDAK menunjukkan bahwa wali itu maksum, TIDAK pula menunjukkan bahwa wali itu harus dita’ati dalam semua perkataannya.
Dari sinilah banyak orang dari kaum nasrani dan yang lainnya tersesat, karena orang-orang hawariyyun (pembela Nabi Isa alaihissalam) dan yang lainnya, mereka dahulu memiliki banyak karomah, sebagaimana orang-orang saleh dari umat ini memiliki banyak karomah.
Kemudian mereka mengira bahwa karomah tersebut menjadikan mereka maksum, sebagaimana mukjizat para nabi menjadikan mereka maksum, sehingga mereka mengharuskan mengikuti para pemilik karomah tersebut dalam semua ucapan mereka.
Dan ini kesalahan, karena Nabi itu wajib diikuti semua perkataannya, karena beliau seorang nabi yang mendakwakan kenabian, dan mukjizat itu sebagai bukti kejujurannya, dan Nabi adalah seorang yang maksum.
Adapun karomah, dia tidaklah menunjukkan kenabian, tapi menunjukkan (benarnya) mengikuti Nabi dan benarnya agama Nabi, oleh karenanya karomah itu tidak menjadikan pengikut Nabi (pemilik karomah) itu menjadi maksum”.
[Kitab: Annubuwwat 1/143].
———
Keterangan di atas bukan bertujuan merendahkan kedudukan karomah para wali, TAPI untuk mendudukkannya pada tempatnya yang layak, sehingga dapat menyelamatkan kaum muslimin dari godaan setan yang sangat lihai memanfaatkan karomah ini untuk menyesatkan manusia.
Semoga Allah menjaga dan meneguhkan kita di atas jalan-Nya yang lurus, amin.
Syeikh Abdul Karim Al Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:
“Sayangnya banyak dari kaum muslimin yang meninggalkan membaca Alqur’an karena sibuk dengan gosip, koran, majalah, dan nonton TV.
Kamu dapati sebagian penuntut ilmu siap menghabiskan koran semuanya, atau kamu dapati seorang pegawai muslim setelah pulang dinas hingga tidur dia membolak-balik koran, untuk apa..? Apa yang dia dapatkan dari koran itu..? Yang ini kabar buruk, yang itu bicara ‘ngawur’ tentang agama, yang lain menghina mereka yang taat, yang lain lagi gambar tak senonoh, ada juga tentang kabar. Apa semua ini..!
Meskipun begitu, tapi inilah kebiasaan banyak orang, sehingga berlalu waktu sehari, dua hari, seminggu, bahkan SEBULAN, sedang dia tidak membuka MUSHAF sekalipun..!
Paling-paling jika dia bisa hadir untuk sholat sebelum iqomat dua menit, tiga menit, atau lima menit, dia membaca dengan bacaan yang (kualitasnya) hanya Allah yang tahu. Dia paling membaca selembar, dua lembar, dan bosan.
Bahkan sebagian orang tidak tahu Alqur’an, kecuali di Bulan Ramadhan..! ini MASALAH..”
———-
Oleh karenanya jika ada yang bertanya kepada Anda, “Mengapa sedih..?”
Jawablah dengan jujur: “Karena aku menjauhi Alqur’an dan sedikit beristighfar..”
Tapi, pengakuan saja tidak akan berguna dan tidak akan memperbaiki keadaan.
Jika ingin keadaan berubah, maka mulailah berubah dari sekarang..
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, amin.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى