Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

BERJALAN KAKI Untuk Sholat Jum’at… Sunnah Yang Dapat Mendatangkan Pahala Besar, Tapi Sering Dilewatkan…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Perhatikanlah hadits yang agung berikut ini, Nabi shollallohu alaihi wasallam telah bersabda:

“Barangsiapa:

1. Membasuh (kepala) dan mandi di hari jumat.
2.kemudian datang awal dan mendapati khutbah dari awalnya.
3. dia BERJALAN dan TIDAK NAIK tunggangan.
4. dia mendekati imam, mendengarkan, dan tidak berbuat sia-sia.

Maka baginya dengan setiap langkahnya amalan setahun; pahala puasanya dan sholat malamnya”.

[HR. Abu Dawud, Attirmidzi, dan yang lainnya. Hadits ini dishohihkan oleh Albani].

Subhanallah… betapa besarnya pahala ini.

Oleh karenanya… mari hidupkan sunnah BERJALAN ke masjid di hari jumat… dan amalkan semua syarat yang disebutkan Nabi shollallohu alaihi wasallam dalam hadits di atas.

Semoga bermanfaat.

———-

Kalau di tengah Anda berjalan ada tawaran boncengan, berarti iman Anda sedang diuji… 😊

Lupakan Celaannya, Lalu JAUHI Dia Dengan Cara Yang Baik

Orang yang menerapkan kebenaran, apalagi yang mendakwahkannya dan ingin memperbaiki keadaan, tentu akan banyak menuai celaan dari manusia.

Dan itu adalah sunnatullah yang biasa dialami oleh para pembawa dan pejuang kebenaran.

Tapi ingatlah, Allah berkehendak demikian bukan untuk menghukum mereka yang baik, namun untuk memuliakan mereka dan memberikan banyak pahala.

Semakin berat cobaan yang mereka alami, tentu semakin besar PAHALA yang Allah berikan, dan semakin tinggi kedudukan yang mereka dapatkan.

Oleh karena itu, lupakanlah celaan mereka, dan ingatlah pahalaNya, lalu jauhilah para pencela itu dengan cara yang baik.

Ingatlah perintah Allah kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-, Sang Pejuang kebenaran:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

“Bersabarlah terhadap apapun yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Muzzammil:10)

Ya.. kita tidak hanya diperintah untuk bersabar, tapi juga diperintah menjauhi mereka.

Karena dengan itu hati kita akan terjaga, dan kita bisa terus berjalan untuk mendakwahkan kebenaran kepada yang lainnya, wallohua’lam.

Semoga kita bisa teguh dan istiqomah di atas jalan kebenaran, di atas Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para salafush shalih, amin.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Agar Pahala Puasa Anda Terjaga, Maka Berpuasalah Dari DOSA

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Orang yang berpuasa adalah orang yang anggota badannya berpuasa dari dosa-dosa..

lisannya berpuasa dari kedustaan, kekejian, dan penipuan..

Perutnya berpuasa dari makanan dan minuman..

Kemaluannya berpuasa dari tindakan keji.

Sehingga bila berbicara; dia tidak berbicara dengan sesuatu yang dapat menodai puasanya, dan apabila berbuat; dia tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak puasanya..

Sehingga semua perkataannya bermanfaat dan baik, begitu pula amal-amalnya..

Dia seperti bau yang dicium oleh orang yang duduk bersama orang yang membawa parfum misik..

Begitu pula orang yang duduk bersama orang yang berpuasa, dia akan mendapatkan manfaat dari duduk bersamanya, dia juga akan selamat saat duduk bersamanya dari kata tipuan, kedustaan, kekejian dan kezaliman..

Inilah puasa yang disyariatkan, bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman..

Jadi, puasa adalah puasanya anggota badan dari dosa dan puasanya perut dari makanan dan minuman..

Maka, sebagaimana makanan dan minuman bisa membatalkan puasa dan merusaknya, begitu pula dosa bisa membatalkan pahalanya dan merusak buahnya, sehingga dia seperti orang yang tidak berpuasa..”

[Alwabilush Shoyyib, hal 32-32]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Semakin Manusia Jauh Dari ISLAM; Cara Pandang Dan Praktek Hidup Mereka Akan Semakin Terbalik…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal itu sangat kita rasakan di zaman ini:

1. PAKAIAN kaum wanita semakin terbuka dan sempit, dibanding pakaian lelaki.

Celana lelaki melebihi mata kaki, yang wanita ngatung di atas mata kaki, bahkan hal itu tampak pada seragam resmi sekolah dan instansi antara lelaki dan wanita.

Padahal wanita harusnya lebih tertutup daripada lelaki.

2. KUBURAN orang saleh, lebih rame daripada masjid… Padahal, masjid rumah Allah yang Maha Hidup, sedang kuburan rumah makhluk yang sudah mati.

Kalau mereka menginginkan keberkahan, bukankah rumah Allah lebih pantas dijadikan tujuan, karena Allah adalah sumber semua keberkahan.

3. Lebih KHUSYU’ ketika berdoa di kuburan daripada ketika berdoa di masjid, bahkan lebih khusyu’ daripada ketika dia sedang sholat menghadap Allah.

Padahal harusnya dia lebih khusyu’ ketika menghadap Allah dan sedang berada di rumahNya, daripada ketika berdoa dalam ziarahnya menghadap mayat yang tak berdaya.

4. Memerintahkan orang yang taat beribadah, untuk MENGHORMATI orang yang meninggalkan ibadah… padahal harusnya sebaliknya…

Bahkan harusnya yang meninggalkan ibadah tanpa udzur itu diingkari dan ditindak secara hukum… begitu pula orang yang memberikan sarana untuk melanggar syariat ibadah.

5. Memerintahkan orang yang diserang dan dirusak rumahnya, agar arif dalam bermasyarakat dan toleran.

Padahal sebenarnya, siapakah yang sebenarnya tidak arif dan tidak toleran, yang dianiaya ataukah yang menganiaya… siapakah yang tidak rahmatan lil alamin.

Sungguh mengherankan, mereka bisa diajak toleran dengan orang kafir, tapi antipati bila diajak toleran dengan saudaranya sendiri.

6. Memandang aneh orang berjilbab besar atau cadaran, sedang mereka tidak menganggap aneh terhadap saudarinya yang berpakaian minim dan ketat.

Padahal, harusnya sebagai kaum muslimin, manakah yang lebih dicintai Allah dan Rosul-Nya shollallohu alaihi wasallam?

7. Mereka lebih zuhud terhadap akherat, daripada terhadap dunia… padahal mereka tahu, bahwa akherat itu lebih kekal dan lebih sempurna nikmatnya.

Bukankah seharusnya mereka lebih berzuhud terhadap dunia, daripada terhadap akherat?

8. Ortu lebih semangat memilihkan anak kecilnya untuk sekolah umum yang minim agama, daripada sekolah yang agamanya kuat… bukan karena keuangan yang kurang, tapi karena motivasi duniawi… padahal harusnya sebaliknya, karena akherat lebih penting daripada dunia.

9. Orang lebih sedih ketika kehilangan harta daripada saat kehilangan pahala… banyak kesempatan mendapatkan pahala mereka lewatkan tanpa sedikitpun ada rasa kecewa… bahkan mereka menikmati ghibah, yang dengannya pahalanya banyak yang hilang.

Coba, bila yang hilang itu adalah harta… bagaimana kecewa dan sedihnya mereka.

10. Kalau untuk masalah dunia penginnya yang wah… kalau masalah akherat ecek-ecek tidak ada yang salah.

11. Kalau untuk masalah agama, semua berhak bicara… kalau masalah dunia hanya orang ahlinya saja yang berhak bicara.

12. Kalau ingin berbuat baik, ada rasa malu.. bahkan berpenampilan islami saja malu.. padahal di sana banyak orang berbuat buruk dan bebas berpenampilan tak senonoh tanpa malu.

Selanjutnya, silahkan tambah sendiri..

Wahai kaum muslimin, berbenahlah… mendekatlah kepada Islam yang mulia… Dan pakailah kacamata Islam dalam memandang sesuatu, bila Anda mengaku sebagai bagian dari Islam.

Semoga bermanfaat…

Dunia Dan Akherat, Manakah Yang Dominan Di Hati Anda…

Sayyar Abul Hakam -rohimahulloh- mengatakan:

Dunia dan akherat akan berkumpul di hati seorang hamba, maka mana yang dominan, berarti yang lain mengikutinya“.

[Hilyatul Auliya 8/313]

———

Oleh karenanya, jadikanlah akherat sebagai isi hati Anda yang dominan, agar dunia mengikutinya dan menjadi sarana untuk meraihnya.

Jangan sampai sebaliknya, sehingga akherat Anda hanya sebagai sarana untuk meraih dunia… sungguh musibah yang sangat dahsyat buruknya.

Bagaimana pantas kehidupan hakiki sebagai ganti dunia yang lebih rendah daripada seonggok bangkai?!

Suatu saat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam melewati BANGKAI anak kambing yang cacat telinganya, maka beliau menyabdakan:

Sungguh dunia di mata Allah, lebih hina daripada (bangkai) ini di mata kalian“.

[HR. Muslim: 2957].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Amalan Yang LUAR BIASA Tapi Banyak Yang Melalaikannya

Itulah amalan membantu seorang JANDA, Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

“Orang yang membantu kebutuhan seorang JANDA dan seorang miskin; itu seperti orang yang berjihad perang di jalan Allah, atau seperti orang yang malamnya sholat siangnya puasa..”

[Muttafaqun Alaih, Bukhori: 5353, Muslim: 2982].

Subhanallah… pahala jihad atau pahala orang yang malamnya sholat siangnya puasa, ternyata bisa kita raih dengan membantu SATU orang janda..! Sungguh betapa maha pemurahnya Allah ta’ala.

Tidakkah Anda ingin mendapatkan keutamaan ini… Mari peduli dengan para janda yang ada di sekitar kita.. bantulah kebutuhannya dalam mengarungi sisa hidupnya, apalagi bila memiliki banyak anak yang menjadi tanggung jawabnya.

Bantulah dia karena Allah… sungguh kebutuhan kita terhadap pahala amalan ini, jauh lebih besar daripada kebutuhan dia terhadap bantuan kita.

Karena pahalanya disamping sangat besar, juga akan KEKAL menjadi milik kita.

Sedang bantuan kita, seringkali tidak seberapa dibanding kebutuhannya, itupun hanya akan dinikmatinya untuk sementara, wallohu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

=====
mau ikutan..?

Terbuka program Santunan Bulanan dalam bentuk sembako bagi sekitar 150 janda dan dhu’afa, info lengkapnya, silahkan baca artikel berikut :

https://bbg-alilmu.com/archives/59605

Rahasia Di Balik Lamanya Ruku’ Dan Sujud Dalam Sholat

Mungkin orang Indonesia yang pernah pergi ke dua tanah suci heran dengan lamanya ruku’ dan sujud saat sholat di sana.

Melamakan ruku’ dan sujud itu bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan sandaran dari tuntunan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, simaklah hadits berikut ini:

Suatu hari Abdullah bin Umar -rodhiallohu ‘anhumaa- melihat seorang pemuda sedang sholat, dia memanjangkan sholatnya dan melamakannya, maka beliau bertanya: “siapa yang kenal orang itu..?” Maka ada yang menjawab: ” saya..”

Beliaupun mengatakan: “seandainya aku mengenalnya, tentu aku akan menyuruhnya untuk MEMANJANGKAN ruku’ dan sujudnya, karena aku pernah mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

Sungguh, jika seorang hamba berdiri untuk sholat, semua dosanya didatangkan, dan diletakkan di atas pundaknya. Maka setiap kali dia ruku’ dan sujud, dosa-dosa tersebut menjadi berjatuhan..”

[Lihat Silsilah shohihah: 1398, sanadnya shohih].

Ternyata semakin lama kita ruku’ dan sujud, semakin banyak dosa kita yang dilepaskan dari kita, tidak inginkah dosa Anda banyak diampuni..?!

Maka lamakanlah ruku’ dan sujud Anda.

Silahkan disebarkan, semoga bermanfaat.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Jika Anda Sepertiku, Maka Berubahlah Sebelum Terlambat

Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

Shalat sunnah “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah sholat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali sholat sunnah fajar, itu pun tidak setiap hari.

Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan sholat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan.. berdalih denga sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil.. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan do’a kaffarotul majlis.

Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan.. tanpa rasa syukur.

Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yang terbawa arus lingkungan..?

Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi..?

Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing.. semoga Allah mengampuni keteledoran kita selama ini.

Sebagian ulama mengatakan:

“Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shoff terakhir melengkapi rokaat sholatnya yang tertinggal..”

Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kita dengan pesan ini.

[Terjemahan dari status berbahasa arab dengan sedikit penyesuaian].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sunnah Yang Telah Banyak Dilupakan

Jangan lupa SELINGI OBROLAN ANDA DENGAN DZIKIR dan SHOLAWAT.. Jika tidak ingin RUGI di hari kiamat.

Ini diantara sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang telah banyak dilupakan dan ditinggalkan.

Padahal sebagian ulama mewajibkan hal ini, dan pendapat ini dikuatkan oleh sabda Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- berikut ini:

ما جلس قوم مجلسا لم يذكروا الله فيه ولم يصلوا على نبيهم إلا كان عليهم ترة فإن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم

“Tidaklah suatu kaum duduk berkumpul, di dalamnya mereka TIDAK berdzikir kepada Allah dan TIDAK bersholawat kepada Nabi mereka, melainkan ada ‘tiroh’ (kerugian dan penyesalan) pada mereka. Allah akan SIKSA mereka jika berkehendak, atau mengampuni mereka jika berkehendak..”

[HR. Attirmidzi: 3380 dan yang lainnya, Attirmidzi mengatakan: hadits ini hasan shohih, lihat juga silsilah shohihah: 74].

Dalam hadits lain Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda:

ما قعد قوم مقعدا لم يذكروا فيه الله عز وجل ويصلوا على النبي إلا كان عليهم حسرة يوم القيامة

“Tidaklah suatu kaum duduk, di dalamnya dia tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bersholawat kepada Nabi, melainkan ada kerugian pada mereka di hari kiamat..”

[HR. Ahmad: 9965, sanadnya shohih, lihat: silsilah shohihah: 76].

Syeikh Albani -rohimahulloh- mengatakan:

“Hadits yang mulia ini -dan yang senada dengannya- menunjukkan wajibnya berdzikir kepada Allah, begitu pula bersholawat kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- di setiap majelis.

Oleh karena itu, harusnya setiap muslim waspada dalam hal ini, jangan sampai dia melalaikan dzikir kepada Allah ‘Azza wajall dan sholawat untuk Nabinya -shollallohu ‘alaihi wasallam- di setiap majelis, karena jika tidak demikian kerugian dan penyesalan akan menimpanya pada hari kiamat..”

[Lihat: Silsilah Shohihah 1/162].

Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Tentang Menghias Bacaan Alqur’an…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Nabi -shollallohu alahi wasallam- telah menganjurkan:

“Hiasilah Alqur’an dengan suara-suara kalian, karena suara yang indah akan menambah keindahan Alqur’an” [Lihat Silsihah Shohihah: 771].

Tapi yang perlu digaris-bawahi; bahwa menghias bacaan Alqur’an adalah dengan suara yang indah, disertai dengan irama yang ALAMI dan mengalir… bukan dengan suara dan nada yang dibuat-buat dan dipaksakan, sehingga malah memudarkan indahnya Kalamullah dan merendahkan kedudukannya, wallohul mustaan.

Perlu diingat pula, bahwa tujuan menghias bacaan Alqur’an adalah agar pembaca dan pendengarnya bisa lebih menikmati dan menghayati bacaan tersebut dengan lebih khusyu’… sehingga apabila bacaannya malah menjauhkan pembaca dan pendengar dari tujuan ini, tentu ini kesalahan yang harusnya dijauhi dan ditinggalkan.

Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh-, seorang pakar tafsir abad 8 H, sejak dahulu sudah mengingatkan hal ini, beliau mengatakan:

“Yang diinginkan oleh syariat adalah mengindahkan suara bacaan, yang dapat membawa seseorang untuk merenungi dan menghayati Alqur’an, menjadikannya khusyu’, tunduk, dan semangat dalam ketaatan.

Adapun suara bacaan dengan nada-nada baru yang disusun dari ritme yang melalaikan dan aturan musik, maka Alqur’an harusnya disucikan dari hal ini,

Alqur’an yang agung dan mulia, tidak pantas dilantunkan dengan cara seperti ini. Dan telah datang Sunnah Nabi yang memperingatkan manusia dari hal itu”.

[Fadho’il Qur’an, Ibnu Katsir, hal: 98].

——-

Ingatlah bahwa Alqur’an adalah Firman Allah, dan Allah telah berjanji untuk menjaganya, sehingga Alqur’an pasti akan tetap terjaga, baik kemurnian maupun kemuliaannya… Barangsiapa merendahkannya, tentu Allah tidak akan membiarkannya.

Karena itu, harusnya kita TAKUT kepada Allah dalam memperlakukan Alqur’an ini… Jika kaum muslimin tidak mampu memberi hukuman, maka Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. wallohu a’lam.