Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Harusnya Kamu LEBIH MALU Kepada Allah, Daripada Malu Kepada Makhluk-Nya

Syeikh Sholeh Fauzan -hafizhohulloh- mengatakan:

“Harusnya kamu MALU kepada Allah. Malu kepada Allah adalah berusaha agar Dia tidak melihatmu dalam kemaksiatan kepada-Nya.

Kamu saja malu terhadap para makhluk bila mereka melihatmu dalam keadaan yang tidak pantas, lalu BAGAIMANA kamu TIDAK MALU kepada Allah bila Dia melihatmu dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya..?!

Sungguh ini perkara yang MENGHERANKAN pada manusia, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya):

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Dia bersama mereka ketika mereka pada suatu malam menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridhoi-Nya..” [An-Nisa’: 108].

Maka harusnya kamu lebih malu kepada Allah, dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya, karena Dia itu melihatmu..”

[Syarah Kitab Syarhus Sunnah, hal: 340].

Diterjemahkan oleh :
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Teruslah Menjaga KEIKHLASAN Dalam Menuntut Ilmu Agama

Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) -rohimahulloh- mengatakan:

“Ini adalah masalah yang diperselisihkan, apakah menuntut ilmu lebih afdhol, ataukah sholat sunnah, bertilawah, dan berdzikir..?!

Adapun orang yang IKHLAS karena Allah dalam menuntut ilmu dan kecerdasannya baik, maka menuntut ilmu lebih baik bagi dia, tapi dengan tetap memperhatikan bagian sholat dan ibadahnya.

Jadi, jika kamu melihatnya giat dalam menuntut ilmu, tapi tidak punya bagian dalam amalan ketaatan (sedikit ibadahnya), maka ini adalah orang yang malas dan hina, dan dia bukan orang yang jujur dalam kebaikan niatnya.

Adapun orang yang mencari ilmu hadits dan fikihnya karena hobi dan kesenangan hati, maka ibadah lebih afdhol baginya, bahkan tidak ada perbandingan antara keduanya. Dan ini pembagian (keadaan para penuntut ilmu) secara global.

Sungguh -demi Allah- SEDIKIT orang yang kulihat IKHLAS dalam menuntut ilmu (agama)..”

[Siyaru A’lamin Nubala’ 7/167].

——-

Jika di zaman beliau saja seperti ini, bagaimana keadaannya di zaman ini..?!
Ini menuntut kita untuk terus memperhatikan NIAT kita dalam menuntut ilmu, dan juga memperhatikan IBADAH kita sebagai bentuk penerapan ilmu kita.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Mari BERMAJELIS Dengan Para Ulama…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Apakah dalam menuntut ilmu cukup dengan membaca kitab-kitab dan matan-matan yang disyarah oleh ahli ilmu, tanpa menghadiri majelis-majelis para ulama?

Syeikh Sholeh alu Fauzan -hafizhohulloh- menjawab:

“Ini adalah kesesatan, mencukupkan diri dengan membaca kitab-kitab adalah jalan kesesatan, Ilmu harus diambil dari para ulama.

Adapun kitab-kitab, itu hanyalah sarana saja, seperti jika ada senjata di tanganmu, apakah kamu bisa menggunakannya tanpa belajar bagaimana menggunakannya, tentu kamu harus belajar bagaimana menggunakan senjata itu dari orang-orang yang mengetahui cara menggunakan senjata, sehingga mereka melatihmu menggunakannya.

Para ulama itulah yang melatihmu menggunakan kitab-kitab, dan mengenalkanmu mana kitab-kitab bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat.

Karena diantara kita-kitab, ada banyak kitab yang berisi kesesatan dan keburukan, dan tidak ada yang bisa memeriksanya kecuali para ulama.

(Ditambah lagi) mungkin saja kamu membaca dan memahaminya dengan pemahaman yang salah…

Para ulama itulah yang tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar, merekalah yang mengenalkanmu mana makna yang benar dan mana makna yang tidak benar, merekalah orang-orang yang ahli dalam perkara ini.

Lebih jelas lagi, ambillah salah satu kitab tentang kedokteran, dan bacalah, lalu lakukanlah operasi dan bedahlah perut orang-orang, lalu katakan bahwa aku dokter! Tentunya ini tidak boleh.

Jika ini dalam bidang kedokteran, lalu bagaimana bila dalam hal ilmu (agama), lalu bagaimana bila berhubungan dengan Kitabullah dan Sunnah Rosul-Nya?! Tentunya harus mempelajarinya dari para ulama.”

Jika Imam Sujud Sahwi Setelah Salam, Apakah Makmum Mengikutinya?

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Intinya: Jika sujud (sahwi) nya imam sebelum salam, maka makmum wajib mengikutinya, apapun keadaannya.

Jika sujud (sahwi) nya imam SETELAH SALAM, maka apabila makmum tidak ketinggalan sama sekali; dia wajib mengikuti (sujud sahwinya) imam.

Namun, apabila makmum ketinggalan sebagian dari sholat imamnya, maka dia tidak usah mengikuti imamnya, karena adanya udzur bagi dia untuk mengikutinya (yaitu: adanya pemisah antara dia dengan sholatnya, berupa salam)…

Maka, apabila makmum mendapati lupanya imam, dia wajib sujud sahwi setelah salam. Dan apabila lupanya imam terjadi sebelum dia masuk bersamanya, maka dia tidak wajib sujud sahwi (setelah itu).

[Majmu’ Fatawa Syeikh Al-Utsaimin 14/46].

Belajarlah Bahasa Arab…

Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Belajarlah bahasa arab, agar Anda dapat memahami Alqur’an dan Sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

=====

Dalam sebuah kajian di sebuah masjid di Inggris, Syeikh Sa’ad Asy Syatsri -hafizhohulloh- mengatakan:

Allah -jalla wa’ala- mengutus Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- dengan BAHASA ARAB yang jelas, bukankah Allah mampu untuk menjadikan Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- mengetahui semua bahasa dunia, lalu dia berbicara dengan semua kaum dengan bahasa mereka?! Meskipun demikian Dia menjadikannya tidak berbicara KECUALI dengan bahasa arab.

(Allah) Rabbul Izzah wal Jalal (juga) mampu untuk menurunkan banyak kitab dengan semua bahasa dunia, meski demikian Dia tidak menurunkan KECUALI Alqur’an yang berbahasa arab.

Oleh karena itu … KALIAN HARUS BELAJAR BAHASA ARAB, agar kalian dapat memahami Alqur’an dan dapat memahami Sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Dan dengan begitu kalian dimungkinkan untuk sampai pada derajat ijtihad, dan tidak perlu bertaklid.

Jika Meruqyah…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Jika MERUQYAH… cukuplah dengan membaca ayat suci Alqur’an dan doa yang diajarkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-… Itu sudah cukup… Tidak perlu banyak DIALOG yang kemungkinan besar BANYAK dustanya.

======

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda tentang setan yang mendatangi Abu Huroiroh: “Dia telah jujur kepadamu, padahal dia itu BANYAK BERDUSTA, itulah setan”. [HR. Bukhori 3275].

———

Syeikh Albani -rohimahulloh- mengatakan:

Sekarang ini, sebagian Kaum Muslimin malah terjatuh dalam kesesatan “meminta bantuan jin” dengan kedok agama, karena memang Rosul -alaihissalam- terbukti pernah membacakan beberapa ayat kepada sebagian orang yang kerasukan jin, maka Allah menyembuhkan mereka; ini benar.

Namun mereka memulai dari titik ini, kemudian membesarkan lingkarannya hingga sampai pada pembicaraan: “Apakah kamu muslim? Apa agamamu? Nasrani, Yahudi, Budha?”.

Dan setelah itu mereka mengatakan kepadanya: “Masuklah islam agar kamu selamat!”.

Kemudian dia mengatakan: “asyhadu Alla ilaaha Illallah, wa asyhadu anna muhammadan rosululloh”, orang tersebut yakin dengan perkataan jinnya, padahal mereka tidak melihatnya dan tidak merasakannya sama sekali.

Kita sekarang ini hidup bertahun-tahun lamanya, dan kita berinteraksi dengan orang yang sejenis dengan kita, manusia dengan manusia, itu pun setelah bertahun-tahun bisa jadi kamu melihat orang yang dulunya kau ajak berinteraksi ternyata menipumu! Lalu bagaimana kamu ingin berinteraksi dengan salah seorang dari jin yang tidak kamu ketahui hakekatnya (sama sekali)?!

Lalu dia mengatakan kepadamu: “Aku sudah masuk islam”… “Aku seorang mukmin”, “Aku siap melayanimu”, “Apa yang kau mau dariku”, “Saya hadir”, dan ini kita banyak mendengarnya, subhanalloh.

Dari sinilah masuknya kesesatan kepada Kaum Muslimin, sebagaimana dikatakan: “tidaklah api yang besar, melainkan dari percikan yang kecil”…

Dan nasehatku… seorang muslim TIDAK BOLEH menambah lebih dari ruqyah dalam mengobati orang yang dirasuki jin, (yaitu dengan) dia membacakan kepadanya ayat-ayat dari Kitabullah yang dia kehendaki dan doa-doanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- yang shahih, dan ITU SUDAH CUKUP.

Adapun MENAMBAH lebih dari ruqyah, (seperti): ada sebagian dari mereka yang menggunakan kemenyan, ada juga dari mereka yang menggunakan minyak… dan hal-hal lain yang sangat banyak dan aneh. Ini semuanya adalah pengelabuhan terhadap manusia dan usaha agar terlihat berbeda dengan yang lain dalam profesinya itu, karena kalau masalahnya hanya sebatas membaca ayat-ayat, maka semua orang bisa membaca sebagian ayat-ayat dan ternyata jinnya juga akan keluar.

Mereka mengatakan: Jangan, kita ingin mengemasnya dengan sedikit tipuan dan kerahasiaan, sehingga dia menjadi special hanya untuk kalangan tertentu saja.

Aku ingatkan (mereka) kepada firman Allah ta’ala:

“Bahwasanya ada beberapa orang dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin, maka jin-jin itu menambahkan ketakutan kepada mereka”. [Aljin: 6].

Kita memohon kepada Allah -azza wajall- semoga Dia menjaga kita, sehingga kita tidak meminta bantuan kepada jin.

Fokuslah Pada Al Qur’an Dan Sunnah Sesuai Pemahaman Salaf Dalam DAKWAH Anda… Walaupun Sedikit Yang Nge-LIKE..

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Syeikh Sholeh Fauzan -hafizhohulloh- mengatakan:

Lihatlah Syeikhul Islam ini, dia disiksa dan meninggal di penjara, namun dakwahnya berhasil setelah itu, mengapa?

Karena dakwahnya kokoh, berlandaskan kepada Al Qur’an dan Sunnah. (Hal ini) sebagaimana Firman Allah ta’ala:

“Adapun yang berupa buih, ia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun sesuatu yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia akan MENETAP di bumi”. [Arro’d: 17]

Para dai kesesatan -walaupun didukung ratusan ribu orang-, maka itu hanyalah buih seperti buih di air bah.

Jadi, dakwah yang benar akan LANGGENG kebaikan dan pengaruhnya hingga turun temurun.

Adapun dakwah yang tidak benar, atau dakwah yang mempunyai tujuan lain yang tersembunyi, maka dakwah seperti ini, walaupun diikuti oleh manusia di masa tertentu, namun dakwah tersebut tidak akan ada berkahnya, tidak akan ada kebaikannya, dan tidak akan berpengaruh baik pada manusia.

[Kitab I’anatul Mustafid Syarah Kitab Tauhid, hal 159-160].

KHUSYU’ Karena Suara Yang INDAH Dan Merdu…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

زينوا القرآن بأصواتكم، فإن الصوت الحسن يزيد القرآن حسنا

“Hiaslah Alqur’an dengan suara kalian, karena suara yang indah itu bisa menambah indahnya Alqur’an”. [Silsilah Shohihah: 771]

Imam Ibnul Arobi -rohimahulloh- mengatakan:

“Hati akan khusyu’ dengan suara yang indah, sebagaimana dia akan luluh dengan wajah yang mempesona.

Dan sesuatu yang bisa menjadikan hati terpengaruh karenanya dalam ketakwaan, maka pahalanya menjadi lebih agung, lebih dapat melembutkan hati dan lebih dapat menghilangkan kekerasannya…

SUARA YANG INDAH adalah nikmat dari Allah, kelebihan dalam ciptaan, serta karunia (dari-Nya).

Dan sesuatu yang paling pantas mengenakan pakaian berharga dan karunia mulia ini adalah KITABULLAH.

Maka, nikmat Allah bila telah disalurkan untuk ketaatan, berarti kewajiban dari nikmat tersebut telah ditunaikan”.

[Ahkamul Qur’an 4/5].

Cara Setan Dan Para Pengikutnya Dalam Menyebarkan Keburukan

1. MENGHIASI keburukan dengan sebutan yang indah dan kata-kata yang manis.

Diantara contohnya:

– menamai RIBA dengan nama bunga
– menghias GHIBAH dengan istilah nasehat atau menjaga agama
– memakai nama ‘madzhab cinta’ untuk menutupi kebencian mereka kepada para sahabat Nabi-
– memelihara kesyirikan, bid’ah, dan tahayul atas nama memelihara dan melestarikan adat leluhur
– menutupi budaya asusila barat dengan nama budaya modern
– enamai akidah kufur ‘membenarkan semua agama dan keyakinan’ dengan istilah pluralisme… dst.

2. MEMBERI KESAN dan JULUKAN BURUK kepada hal-hal baik yang menjadi lawan keburukan yang diperjuangkan.

Diantara contohnya:

– mengesankan Islam identik dengan teroris
– menamai orang yang memperjuangkan tauhid dan Sunnah sebagai wahabi
– mengatakan bahwa jilbab itu hanyalah budaya arab, mengekang kebebasan, dan terbelakang
– menamai amar ma’ruf nahi mungkar dengan julukan membuat onar dan meresahkan masyarakat
– menjuluki Ahlussunnah yang menetapkan sifat bagi Allah sebagai mujassimah, hasyawiyyah, musyabbihah, dll.

3. MENYANDARKAN keburukan tersebut kepada orang atau sesuatu yang TERHORMAT.

Diantara contohnya:

– kaum Syiah yang menyandarkan agama mereka kepada keluarga Nabi, untuk menjual ritual syirik, bid’ah, dan khurofat yang mereka bawa
– tarekat-tarekat sufi yang menyandarkan tarekatnya kepada beberapa sahabat Nabi agar pengikutnya yakin dengannya
– mengatakan bahwa ritual ibadah tertentu pernah dilakukan oleh Imam Syafi’i -rohimahulloh- atau Imam lainnya
– menyandarkan ilmu hitam tertentu kepada Sunan Kalijaga atau sunan lainnya
– menyandarkan kesesatan atau khurofat tertentu kepada kota Makkah, atau Madinah, dst.

[Tiga hal di atas telah disinggung oleh Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, sebagaimana disebutkan dalam kitab Mukhtashor Showa’iq Mursalah 78-80].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Beberapa Tips Mudah Dalam MENGHAPAL…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Syeikh Abdul Karim Alu Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:

“WAKTU yang paling cocok untuk menghapal adalah waktu tenang, waktu yang kosong dari kesibukan, dan setelah rehat yang sempurna, karena otak membutuhkan istirahat sebagaimana badan. Maka hendaklah menghapal itu di akhir malam atau di waktu dini hari.

Jika seseorang ingin menghapal, hendaknya dia MENGERASKAN dan mengangkat suaranya. Berbeda bila dia ingin memahami, maka hendaknya dia memelankan suaranya.

Dan TEMPAT yang cocok untuk menghapal adalah tempat yang terbatas dan sempit, berbeda dengan tempat yang cocok untuk memahami, dia membutuhkan tempat yang lapang. Dan pengalaman menunjukkan hal ini.

Bagi yang mengeluhkan kelemahan hapalannya, maka dia harus banyak MENGULANG-NGULANG”.

[Syeikh adalah salah seorang anggota hai’ah kibar ulama di Negara Tauhid Saudi Arabia, beliau terkenal dengan keluasan ilmu dan hapalannya].