Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Yakinlah

Hidup ini bisa saja tertatih-tatih dan berliku-liku, tapi dia tidak akan berhenti. Cita dan asa bisa saja menjadi kabur, tapi dia tidak akan mati.

Kesempatan bisa saja hilang, tapi dia tidak akan habis. Dan betapapun terasa berat dan sempitnya hidup ini, yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat.

Ingatlah selalu firman Allah ta’ala (yang artinya): 
“Bukankah shubuh itu dekat.”
[Hud:81]

Sepanjang apapun kelamnya malam, pasti nantinya akan disusul oleh kemunculan fajar sebagai permulaan terangnya kehidupan…

“Maka sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan. Sungguh pada setiap kesulitan ada kemudahan”. [Asy-Syarh:5-6].

Perhatikanlah bagaimana Allah mengulangi redaksi yang sama hingga dua kali, oleh karena itu carilah dengan seksama celah kemudahan itu, saat Anda menghadapi kesulitan dalam hidup ini.

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Penciptaan SETAN Termasuk NIKMAT Yang Agung Bagi Kaum Mukminin ?!

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Memang Iblis dan para setan adalah makhluk terburuk dan musuh nyata bagi manusia, TAPI di sisi lain mereka termasuk diantara NIKMAT yang agung bagi Kaum Mukminin, mengapa?

Mari kita simak penjelasan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini:

“Penciptaan setan-setan, para pengikutnya, dan bala tentaranya termasuk diantara NIKMAT (Allah) yang paling agung bagi kaum mukminin.

Karena sebab keberadaan merekalah kaum mukminin menjadi para MUJAHIDIN di jalan Allah, mereka mencintai dan membenci karena Allah, mereka membela dan memusuhi karena Allah, dan tidaklah jiwa seorang hamba menjadi sempurna, suci, dan berbahagia kecuali dengan jalan itu…

Tindakan kaum musyrikin mendustakan (Nabi) Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- dan usaha mereka untuk menghapuskan dan memerangi dakwah beliau juga termasuk diantara nikmat teragung untuk beliau dan umatnya…

Betapa banyak kenikmatan yang didapatkan dari langkah mereka memusuhi dan memerangi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya, betapa banyak derajat kemuliaan yang mereka dapatkan darinya, betapa banyak hujjah menjadi tegak untuk mendakwahinya, dan betapa banyak kenikmatan dan kebahagiaan abadi yang muncul setelahnya…

Jadi, termasuk nikmat Allah yang paling agung untuk hamba-Nya yang beriman, bahwa Dia menciptakan bagi mereka musuh yang seperti ini.

[Mukhtashor Showa’iq Mursalah 2/630].

———

Jika penciptaan Iblis dan setan saja, bisa mendatangkan kenikmatan bagi kita sebagai kaum mukminin, lalu bagaimana dengan hal-hal lain yang level keburukannya di bawahnya..!

Sungguh benar sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang MUKMIN, seluruh keadaannya penuh dengan kebaikan”. [HR. Muslim: 2999]

Kemuliaan Ditentukan Oleh AMAL Ketakwaan, BUKAN Oleh Asal Usul Dan Keturunan

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata :

Perkataan Iblis “Saya lebih baik darinya” adalah kedustaan, dan alasannya bahwa dia diciptakan dari api sedang Adam diciptakan dari tanah juga batil.

Karena kelebihan asal-usul penciptaan, tidak otomatis menunjukkan kelebihan hasil yang diciptakan darinya.

Karena Allah bisa saja menciptakan dari unsur yang biasa; makhluk yang lebih mulia dari yang Dia ciptakan dari unsur yang lebih baik, dan ini merupakan kesempurnaan kekuasaan Allah ta’ala.

Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad, Ibrohim, Musa, Isa, Nuh, serta para nabi dan rasul lainnya -alaihimus sholatu wasallam- lebih mulia dari para malaikat. Dan madzhab Ahlussunnah; bahwa manusia yang saleh itu lebih mulia dari para malaikat, WALAUPUN asal ciptaan mereka dari cahaya, sedang asal ciptaan manusia dari tanah.

Jadi, kemuliaan bukan karena asal-usul.

Oleh karenanya, para budak dan hamba sahaya yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah melebihi orang yang merdeka, meskipun dari keturunan Quraisy dan Bani Hasyim.

Dan alasan Iblis inilah yang akhirnya di warisi oleh para pengikutnya dalam mengedepankan seseorang HANYA karena asal-usul dan nasab, bukan karena keimanan dan ketakwaan. Padahal Allah ta’ala telah mementahkannya dalam firman-Nya:

“Sungguh orang yang paling mulia dari kalian adalah orang yang paling bertakwa..” [Al-Hujurot: 13].

——

Ditambah lagi, alasan Iblis bahwa api lebih baik dari tanah, ini juga batil. Karena sebenarnya tanah lebih baik dari api dari banyak sisi, bahkan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- menyebutkan 13 alasan mengapa tanah lebih baik dari api.

Diantaranya: bahwa api itu tidak mampu berdiri sendiri, dia membutuhkan media yang asalnya dari tanah agar bisa hidup. Adapun tanah, dia mampu berdiri sendiri, dia tidak membutuhkan api untuk bisa hidup.

Diantaranya: Tanah menumbuhkan banyak kebaikan, sedang api malah sering menghancurkan kebaikan-kebaikan itu.

Diantaranya: Tidak seorang pun mampu hidup tanpa tanah dan apa yang dihasilkannya, tapi orang bisa hidup -dalam waktu yang panjang- tanpa api sama sekali. wallohu a’lam.

[Diringkas dari perkataan Ibnul Qoyyim dalam kitab “Mukhtashor Showa’iq Mursalah” 2/377-383]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Hidayah Di Tangan Allah

SEKUAT apapun hujjah kita, tetap saja HIDAYAH itu di tangan Allah.. maka berusahalah semampunya, lalu serahkanlah hasilnya kepada Allah.

=======

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Pernah terjadi debat antara aku dengan seorang ulama ahli kitab, hingga diskusi itu sampai pada topik bahwa Kaum Nasrani telah mencela Robb semesta alam dengan celaan yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun.

Ku katakan kepada mereka: “Dengan pengingkaran kalian kepada kenabian Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- berarti kalian telah mencela Allah ta’ala dengan celaan yang paling parah..”

Dia mengatakan: “Bagaimana bisa seperti itu..?”

Ku katakan:
“Karena kalian beranggapan bahwa Muhammad adalah raja lalim, bukan rosul tepercaya. Bahwa dia keluar menawarkan (agamanya) kepada manusia dengan pedangnya, lalu dia menghalalkan darah, wanita, dan anak-anak mereka.

Tidak hanya itu, bahkan hingga dia berdusta atas nama Allah dan mengatakan, ‘Allahlah yang menyuruhku melakukan ini dan membolehkannya untukku..’ padahal sebenarnya (menurut kalian) Allah tidak menyuruhnya dan tidak membolehkannya.

Dia (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) mengatakan, ‘Aku mendapatkan wahyu..’ padahal (menurut kalian) dia tidak mendapatkan wahyu sedikitpun.

Dia (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) mengganti sendiri syariat para nabi, membuang dari syariat itu apa yang dia kehendaki dan menetapkan darinya apa dia kehendaki. Dan dia menyandarkan semua itu kepada Allah.

Maka, ada dua kemungkinan, Allah ta’ala melihat dan mengetahui itu semua atau tidak.

Jika kalian katakan: ‘Itu semua tidak diketahui dan tidak dilihat Allah..’ berarti kalian menyandarkan sifat bodoh dan dungu kepada-Nya, dan itu termasuk celaan paling buruk.

Jika kalian katakan: ‘Itu semua diketahui Allah..’ (maka ada dua kemungkinan): Allah mampu untuk menghentikan dan melarangnya dari tindakannya itu atau tidak.

Jika kalian katakan: ‘Allah tidak mampu menghentikannya..’ berarti kalian menyandarkan sifat lemah kepada-Nya.

Jika kalian katakan: ‘Allah mampu menghentikannya, tapi tidak melakukannya..’ berarti kalian menyandarkan sifat tolol dan zalim kepada-Nya.

Dan inilah keadaan beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-), dari semenjak dia muncul (sebagai nabi) hingga Robbnya mewafatkannya, Dia mengabulkan do’anya, memberikan hajat-hajatnya, bahkan tidaklah ada musuh melainkan Allah menjadikan beliau menang atasnya.

Dan inilah keadaan beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-), dari semenjak dia muncul (sebagai nabi) hingga Allah ta’ala mewafatkannya, seiring berjalannya siang dan malam beliau semakin tenar, semakin tinggi, dan semakin mulia. Sebaliknya keadaan musuhnya semakin hari semakin hina dan sirna. Semakin hari kecintaan para hamba kepada beliau semakin bertambah, dan Robbnya menguatkannya dengan berbagai macam cara.

Inilah orang yang menurut kalian termasuk musuh Allah yang paling jahat, dan paling berbahaya bagi manusia. Celaan apa yang melebihi ini terhadap Robbul alamin..?! Penghinaan apa yang lebih parah dari ini semua..?!

Maka, orang tersebut menerima sebagian dari keterangan ini, dan dia mengatakan:
“Tidak mungkin kami mengatakan terhadap Allah ini semua, bahkan beliau (Muhammad) adalah seorang nabi tepercaya, siapapun yang mengikutinya menjadi bahagia, dan setiap orang yang obyektif dari kami akan berikrar seperti ini dan mengatakan: para pengikutnya adalah orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akherat..”

Aku pun mengatakan: “Lalu apa yang menghalangimu untuk ikut mendapatkan kebahagiaan itu..?”

Dia mengatakan: “Begitu pula pengikut seluruh nabi, para pengikut Nabi Musa juga bahagia..”

Aku katakan: “Jika kamu mengakui bahwa beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) adalah nabi tepercaya, dan dia telah mengkafirkan siapapun yang tidak mengikutinya, maka bila kamu membenarkannya dalam hal ini, harusnya kamu mengikutinya.

Tapi jika kamu mendustakannya dalam hal ini, berarti dia bukanlah nabi tepercaya, lalu bagaimana para pengikutnya adalah orang-orang yang bahagia..?!

Maka dia pun tidak bisa menjawab, dan mengatakan: “Kita bicarakan yang lain saja..”

[Mukhtasor Showa’iq Mursalah, hal: 56]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny Lc, حفظه الله تعالى

Jangan GANTUNGKAN Kebenaran Kepada Manusia, Tapi Gantungkanlah Kebenaran Kepada KITAB Dan SUNNAH

Suatu saat Syeikh ‘Utsaimin -rohimahulloh- dipuji oleh muridnya dengan syair yang isinya:

“Wahai umatku, sungguh (kelamnya) malam ini akan disusul oleh fajar yang sinarnya menyebar di muka bumi. Kebaikan akan datang dan kemenangan tinggal menunggu.

Kebenaran akan menang bagaimanapun keburukan itu diusahakan.. selama di tengah-tengah kita ada Ibnu Sholih (Al-‘Utsaimin) yang menjadi syeikh kebangkitan kita..”

Mendengarnya Syeikh langsung menghentikannya dan mengatakan:

“Aku tidak setuju dengan bait ini, aku tidak setuju MENGGANTUNGKAN kebenaran kepada orang per-orang, karena setiap orang akan mati, maka jika kita gantungkan kebenaran kepada orang per-orang, artinya jika orang itu mati, manusia akan menjadi putus asa (dari kebenaran) karena kematiannya.

Oleh karena itu, jika kamu sekarang bisa mengubah bait itu, (gantilah dengan redaksi) : “selama di tengah-tengah kita ada KITABULLAH dan SUNNAH Rosul-Nya..”

Aku nasehatkan kepada kalian untuk saat ini dan seterusnya, janganlah kalian menggantungkan kebenaran kepada orang per-orang, karena:

● PERTAMA: Orang itu bisa tersesat.

sampai-sampai Ibnu Mas’ud mengatakan: ‘Barangsiapa ingin mengikuti seseorang, maka ikutilah orang yang sudah meninggal, karena orang yang masih hidup itu tidak aman dari fitnah (kesalahan)..’

Jika kebenaran digantungkan kepada orang per-orang, ada kemungkinan orang tersebut terlena dengan dirinya sendiri sehingga dia meniti jalan yang salah -na’uudzu billah min dzaalik- .. Aku memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan kami dan kalian (di atas kebenaran).

● KEDUA: Orang itu akan mati, tidak ada seorang pun yang kekal.

(sebagaimana firman Allah): ‘Kami tidak jadikan manusia sebelummu hidup kekal, apakah jika kamu mati mereka akan akan kekal..?!’ [Al-Anbiya’: 34].

● KETIGA: Sesungguhnya anak cucu Adam adalah manusia.

mungkin saja dia akan terlena bila melihat orang-orang mengagungkannya, memuliakannya, dan mengerumuninya. Mungkin saja dia terlena lalu mengira dan mengaku dirinya maksum, bahwa semua yang dilakukannya itu yang benar, dan setiap jalan yang dipilihnya itulah yang disyariatkan, sehingga dengan begitu datang kebinasaan.

Oleh karena itu, ketika ada seseorang memuji orang lain di depan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, beliau (ingkari dengan) mengatakan: ‘Celaka kamu, kamu telah memotong leher sahabatmu..’ [Muttafaq ‘Alaih]

Kemudian Syeikh mengatakan kepada muridnya tersebut:

“Aku berbaik sangka kepadamu, tapi aku tidak suka (isi syair) ini. Aku akan memberimu beberapa hadiah insyaa Allah, semoga Allah ta’ala membalasmu dengan kebaikan..”

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Mereka Mengira PASAR FATWA Itu Seperti Pasar Barang Dagangan…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Menjadi syarat bagi seorang mufti: dia harus mujtahid.

Dan betapa banyak mufti-mufti yang tidak mujtahid! Ada yang hanya bertaklid, dan ada yang masih kerdil (ilmunya) hanya tahu satu dua hadits, lalu memberanikan diri untuk berfatwa.

Mereka mengira PASAR FATWA itu seperti pasar barang dagangan, sehingga setiap orang bisa masuk di dalamnya dan bisa untung!

Mereka tidak tahu bahwa ‘pasar fatwa’ itu termasuk pasar yang paling membahayakan… Dahulu para ulama salaf -rohimahulloh- saling menolak untuk berfatwa, setiap dari mereka mengatakan (saat ditanya): ‘pergilah kepada si fulan’ dan yang lain mengatakan: ‘pergilah kepada si fulan’.”

[Syarah Nazhom Waroqot, hal: 219].

———

Sungguh fatwa itu punya konsekuensi yang sangat berat, karena saat berfatwa sebenarnya seseorang sedang berkata atas nama Allah sebagai pembuat syariat… Jika berkata atas nama RAJA saja seseorang harus extra hati-hati, bagaimana bila dia berkata atas nama RAJANYA PARA RAJA?!

Syeikh Sholeh Fauzan -hafizhohulloh- mengatakan:

“Seorang mufti haruslah takut kepada Allah, jangan sampai dia berkata tanpa ilmu, dan jangan sampai dia berfatwa dengam kejahilan atau hawa nafsu. Harusnya dia takut kepada Allah, karena dia akan menanggung dosa orang yang dia beri fatwa.

Adapun orang yang meminta fatwa: Jika dia tidak tahu bahwa si mufti itu telah berfatwa tanpa ilmu atau tanpa kebenaran, maka si peminta fatwa itu diberi uzur, dan dosanya ditanggung si mufti.

Tapi bila si peminta fatwa itu tahu bahwa si mufti itu berfatwa tanpa ilmu dan tanpa kebenaran, maka dia tidak boleh (mengamalkan fatwanya) lalu mengatakan bahwa ini dalam tanggungan si mufti.

Jika memang si peminta fatwa tahu hal itu, maka (dosanya) itu ditanggung si peminta fatwa juga, dua-duanya menanggung dosa, baik si mufti maupun si peminta fatwa”.

Membaca Qur’an Di Kuburan Itu Tidak Berpahala, Lalu Apanya Yang Akan Dihadiahkan…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya tentang hukum berkumpul dan membaca (Qur’an) di kuburan, apakah si mayit bisa mendapatkan manfaat dari bacaan tersebut?

Maka beliau menjawab:

[[ Ini termasuk amalan munkar yang tidak pernah dikenal di zaman Para Salafus Saleh, yakni berkumpul dan membaca (Qur’an) di kuburan.

Adapun tentang apakah si mayit bisa mendapatkan manfaat dari bacaan tersebut, maka kita katakan:

Jika maksudnya si mayit bisa mendapatkan manfaat dari MENDENGARKAN (bacaan tersebut), maka ini tidak benar adanya; karena dia telah mati, dan telah terbukti bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

“Jika seorang hamba mati, niscaya semua amalnya terputus, kecuali 3: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”… dan hadits ini tegas MEMBATASI bahwa mayit hanya bisa mengambil manfaat dari tiga hal yg disebutkan dalam hadits tersebut.

Adapun jika maksudnya si mayit bisa mengambil manfaat dari PAHALA yang dihasilkan dari pembacanya, artinya si pembaca meniatkan pahalanya untuk mayit tersebut, maka apabila telah ditetapkan bahwa ini termasuk amalan bid’ah, maka semua bid’ah itu TIDAK ada pahalanya, “Semua bid’ah adalah sesat” sebagaimana disabdakan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, dan tidak mungkin kesesatan berubah menjadi hidayah (petunjuk kebenaran).

Ditambah lagi bacaan ini biasanya ada bayarannya, dan bayaran untuk amal-amal taqarrub kepada Allah itu batil… Jadi si pembaca tersebut yang meniatkan pahala duniawi dari bacaannya, kita katakan kepadanya: bacaannya tersebut tidak diterima, bahkan itu adalah bacaan yang sia-sia, tidak ada ganjaran dan pahalanya.

Sehingga dengan demikian si mayit tidak bisa mendapatkan manfaat dari pahala yang dihadiahkan kepadanya, karena memang hal tersebut tidak ada pahalanya.

Jadi itu adalah tindakan menyia-nyiakan harta, membuang-buang waktu, dan keluar dari jalannya para salafus saleh -rodhiallohu anhum-.

Terutama bila harta yang dikeluarkan (untuk keperluan itu) adalah dari harta peninggalan si mayit, dan di dalamnya terdapat hak orang yang belum ditunaikan, ada haknya anak-anaknya yang masih kecil, dan hak mereka yang belum sempurna akalnya, kemudian orang (yang melakukan tindakan) itu mengambil uang mereka tanpa alasan yang benar, sehingga dosanya bertambah-tambah, wallohul mustaan ]].

[Kitab: Majmu’ Fatawa Syeikh Utsaimin 17/226].

————–

Mungkin akan banyak yang tidak ‘sreg’ dengan status ini, tapi kebenaran harus disampaikan… Ahmad bin Harb -rohimahulloh- (w 234 H) mengatakan:

“Aku tidak menemukan manisnya ibadah hingga aku tinggalkan 3 perkara:

Aku tinggalkan KERELAAN manusia, sehingga aku mampu mengatakan kebenaran.

Aku tinggalkan persahabatan dengan orang-orang fasik, sehingga aku dapatkan persahabatan dengan orang-orang saleh.

Dan aku tinggalkan manisnya dunia, hingga aku dapatkan manisnya akherat”.

[Siyaru A’lamin Nubala’ 11/34].

Agar Tersebar Dan Bermanfaat

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Agar ilmu Anda tersebar dan bermanfaat, Anda tidak harus jenius, atau lihai bicara, atau ahli dalam ilmu tertentu, atau berkedudukan tinggi, atau kaya raya.

Namun hal itu lebih ditentukan karena taufiq dan pertolongan dari Allah ta’ala.

Kenyataan ini sangat banyak kita temukan di lapangan.

Lihatlah bagaimana Nabi Harun, dia lebih fasih lisannya dari Nabi Musa, Namun ilmu Nabi Musa ternyata lebih dominan.

Lihatlah Imam Malik, ternyata ilmunya lebih tersebar melebihi ulama-ulama yang lebih luas ilmunya dari beliau di zamannya.

Lihatlah bagaimana Syeikh Binbaz lebih diterima perkataannya, padahal suara dan cara penyampaian beliau apa adanya, bahkan ‘kurang’ menarik.
Lihatlah betapa banyak orang kaya di sekitar Anda tidak ada manfaatnya sama sekali bagi masyarakatnya.

Lihat pula betapa banyak orang yang bertahta, namun malah banyak menyumbangkan kerusakan kepada bawahannya.

Sekali lagi, karena semuanya itu tergantung kepada Allah, kemudian kepada usaha kita.

Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah agar menjadikan ilmu Anda menyebar dan berkah… Wallohu a’lam.

Sunnahnya BERSEDEKAH Ketika BERTAUBAT

Mungkin banyak yang belum tahu sunnah ini, sehingga jarang yang melakukannya.

Dalil sunnah ini diambil dari kisah Ka’ab bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu- ketika dia BERTAUBAT dari ‘ketergelincirannya’ tidak ikut dalam Perang Tabuk.

Setelah Allah menurunkan wahyu kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tentang diterimanya taubatnya, yaitu dalam Surat Attaubah: 118, maka dia mengatakan kepada beliau shollallahu ‘alaihi wasallam:

“Wahai Rosululloh, sungguh termasuk dari (kesungguhan) TAUBATKU adalah aku akan melepaskankan diri dari hartaku sebagai SEDEKAH kepada Allah dan kepada Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wasallam-..”

Maka beliau mengatakan: “Tahan sebagian hartamu untukmu, karena itu lebih baik bagimu..” [HR. Bukhori: 2757, dan Muslim: 2769].

———-

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- ketika mensyarah hadits di atas mengatakan,

“Dalam hadits ini … terdapat anjuran BERSEDEKAH ketika bertaubat, dan bahwa orang yang bernadzar untuk bersedekah dengan SELURUH hartanya; dia tidak wajib menunaikan semuanya..” [Fathul Bari 8/124-125].

* Dalam hadits ini juga terdapat pelajaran, bahwa BELUM TENTU bersedekah dengan seluruh harta lebih afdhol daripada bersedekah dengan sebagian harta.. karena kemampuan dan tingkat keimanan yang berbeda pada setiap orang.

Lihatlah bagaimana Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengijinkan Abu Bakar -rodhiyallohu ‘anhu- menyedekahkan SELURUH hartanya [HR. Abu Dawud: 1678, hasan], namun tidak mengizinkan Ka’ab bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu-, wallohu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Apapun Keadaannya

1. Kebanyakan orang maunya sesukanya, mereka hanya memikirkan apa menguntungkan mereka.. Sayangilah mereka apapun keadaannya..!

2. Jika Anda berbuat baik, akan Ada yang menuduh bahwa Anda menyembunyikan ambisi pribadi.. Berbuat baiklah apapun keadaannya..!

3. Jika Anda sukses, akan ada banyak ‘kawan palsu’ dan banyak ‘lawan nyata’… Jadilah orang sukses apapun keadaannya..!

4. Kebaikan yang Anda lakukan hari ini, nantinya akan dilupakan orang… Lakukanlah kebaikan apapun keadaannya..!

5. Sikap jujur dan terbuka akan menjadikan Anda sasaran kritikan.. Jadilah orang yang jujur dan terbuka apapun keadaannya..!

6. Orang paling hebat sekalipun dengan ide-ide paling briliannya, bisa saja dikalahkan oleh orang yang paling bodoh dengan akal paling kerdilnya.. Bawalah ide-ide brilian apapun keadaannya..!

7. Kebanyakan orang menyukai kaum yang lemah, tapi mereka mengikuti kaum yang kuat.. Tetaplah membela orang-orang yang lemah apapun keadaannya..!

8. Bangunan yang telah kamu rintis bertahun-tahun bisa saja hancur dalam waktu yang singkat. Tetaplah membangun apapun keadaannya..!

9. Manusia sangat butuh bantuan, tapi bisa saja mereka memusuhi Anda ketika Anda berusaha membantu mereka.. Bantulah mereka apapun keadaannya..!

10. Jika Anda memberikan yang terbaik kepada dunia; sebagian dari mereka akan membalasnya dengan keburukan.. Berikanlah yang terbaik pada dunia, apapun keadaannya..!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى