Category Archives: Kajian Audio

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Muqoddimah

Alhamdulillah alladzii bi-ni’matihi tatimmush-shoolihaat…

Kita telah menyelesaikan pembahasan kitab yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan, حفظه الله تعالى. Seluruh pembahasannya bisa di baca di SINI

=======

Kini kita memasuki pembahasan baru dari kitab “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.

🌼 MUQODDIMAH 🌼

⚉   Beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman) berkata sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan manusia diatas fithrahnya.

Allah berfirman [QS Ar-Rum : 30]

‎فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Itulah Fithrah Allah yang Allah fithrahkan manusia diatasnya.” Artinya, (manusia) di fithrahkan untuk mencintai kebenaran dan menginginkannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah [Majmu’ Fataawa, 10/88] berkata,

‎وَالْقَلْبُ خُلِقَ يُحِبُّ الْحَقَّ وَيُرِيْدُهُ وَيَطْلُبُهُ

HATI itu sebetulnya diciptakan untuk mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya”.

Beliau juga berkata. [Majmu’ Fataawa 16/338]

‎فَإِنَّ الْحَقَّ مَحْبُوْبٌ فِيْ الْفِطْرَةِ

Sesungguhnya kebenaran itu disukai oleh fithrah manusia” bahkan ia (kebenaran) lebih ia cintai dan lebih agung menurutnya dan lebih lezat daripada kebathilan yang tidak ada hakikatnya, karena fithrah itu tidak menyukai kebathilan.

Dan itu merupakan perkara yang telah ada pada jiwa-jiwa manusia, dimana setiap manusia sebetulnya fithrahnya mencintai kebenaran, mengetahui “Al HAQ”.

Allah Ta’ala berfirman [ QS Thaaha :50]

رَبُّنَا الَّذِيْ أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى.

Robb kami yang telah memberikan segala sesuatu penciptaannya, kemudian Dia memberikan hidayah

Sebagaimana juga Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ صَدْرِكَ

Dosa itu yang membuat hatimu tidak tentram..

وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ.

dan kamu tidak suka orang-orang mengetahuinya” [HR. Imam Muslim].

⚉   Itu menunjukkan bahwa dosa itu membuat hati tidak tentram.

Berkata Ibnu Taimiyyah juga dalam kitab Dar-u Ta’aarudhil Aqli wan Naql ,VIII/463

‎فَيِ النَّفْسِ مَا يُوْجِبُ تَرْجِيْحَ الْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ

Dalam jiwa manusia ada sesuatu yang menguatkan kebenaran di atas kebathilan baik dalam masalah aqidah maupun juga masalah keinginan.” Ini cukup menunjukkan bahwa memang manusia diciptakan diatas fithrah.

Beliau juga berkata dalam kitab yang sama jilid 8 halaman 463: “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan hamba-hambanya di atas fithrah, yang padanya kebenaran dan membenarkannya.

⚉   Demikian pula ia merasakan kebathilan dan mendustakannya. Dan mengetahui mana yang manfaat dan mencintainya dan mengetahui mana yang mudhorot dan membencinya, maka sesuatu yang haq, apabila fithrahnya masih lurus ia akan membenarkannya.

⚉   Demikian pula perkara-perkara yang bermanfa’at, maka fithrahpun akan menyukainya dan merasa tentram dengannya. Itu adalah yang merupakan perkara yang ada pada setiap manusia, (pada asalnya demikan).

Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy dalam Kitab Taisiirul Lathiifi Al mannaan, hal. 50

 ‎فَالدِّيْنُ هُوَ دِيْنُ الْحِكْمَةِ الَّتِيْ هِيَ مَعْرِفَةُ الصَّوَابِ وَالْعَمَلِ بِالصَّوِابِ

Agama yang hakiki adalah agama hikmah yang dengannya ia mengetahui kebenaran dan beramal dengan benar. Dan mengetahui kebenaran dan beramal dengan kebenaran pada segala sesuatu”.

Berkata Mu’adz bin Jabal:

فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُوْرًا.

Sesungguhnya kebenaran itu terdapat padanya cahaya.”

Ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam datang ke kota Madinah maka kemudian Abdullah bin Salam, (seorang pendeta Yahudi), ini menemui Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, ketika Abdullah bin Salam melihat wajah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, maka ia berkata, “Aku mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah orang yang suka berdusta”.

👉🏼   Itu menunjukkan akan fithrah manusia, dimana ia ditabiatkan untuk mencintai kebenaran kecuali orang-orang yang fithrahnya dikalahkan oleh hawa nafsu, oleh kesombongan, oleh kedengkian dan yang lainnya dari perkara-perkara yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebenaran.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Perhatikan Apa Yang Membuat Hati Bahagia dan Sedih

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah

Kumpulan artikel dari pembahasan Kitab “Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola” – Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasyanya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan- karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :

  1. Yang Di Rahasiakan Dari Manusia Harus Lebih Baik Daripada Yang Di Tampakkan Kepada Manusia
  2. Bila Anda Sedang Bersendirian
  3. Bila Anda Sedang FUTUR
  4. Perhatikan Apa Yang Membuat Hati Bahagia dan Sedih
  5. Senantiasa Memperhatikan Apa Yang Masuk dan Keluar Dari Hatinya
  6. Senantiasa Menjaga Hati
  7. Allah Akan Tampakkan Kelak Di Akhirat Apa Yang Tersembunyi Di Hati
  8. Senantiasa Menjaga Niat Karena dan Untuk Allah Semata
  9. Tentang Ikhlas Dalam Ibadah
  10. Orang Yang Bertakwa Akan Selaras Antara Ucapan dan Perbuatannya
  11. Senantiasa Memperhatikan Keadaan Dengan Penuh Waro’
  12. Hati Yang Bertakwa
  13. Jika Berhadapan Dengan Pilihan
  14. Senantiasa Bertakwa Di Mana Pun Engkau Berada
  15. Wajib Mempelajari Ilmu Yang Utama
  16. Jangan Pelit Dengan Ilmu Yang Dimiliki
  17. Jangan Malas Menuntut Ilmu
  18. Perbaiki Hati Sebelum Menuntut Ilmu
  19. Menuntut Ilmu Itu Ada Tingkatannya
  20. Ilmu Sebagai Hiasan Dan Penyelamat
  21. Tujuan Menuntut Ilmu Adalah Untuk Mengambil Manfa’atnya
  22. Tujuan Menuntut Ilmu Untuk Mengamalkannya
  23. Menuntut Ilmu Yang Bermanfaat Untuk Dunia dan Akhirat Di Setiap Hari
  24. Senantiasa Menjaga Lisan
  25. Senantiasa Berkata Jujur
  26. Senantiasa Tawadhu Dan Menjauhi Kesombongan
  27. Senantiasa Menjaga Akhlak Dalam Bergaul
  28. Anjuran Untuk Berteman Dengan Orang-Orang Sholeh Dan Larangan Untuk Berteman Dengan Orang-Orang Buruk
  29. Anjuran Untuk Menjauhi Sifat Rakus
  30. Larangan Tajassus  Dan Buruk Sangka
  31. Larangan Dengki Dan Membenci
  32. Anjuran Menjauhi Marah Dan Tidak Tergesa-Gesa
  33. Larangan Berharap Bantuan Dari Manusia
  34. Anjuran Untuk Menjauhi Meminta-Minta Kepada Manusia
  35. Anjuran Untuk Senantiasa Bertawakal Kepada Allah
  36. Anjuran Untuk Senantiasa Ridho dan Sabar
  37. Anjuran Untuk Mema’afkan Orang Yang Berbuat Buruk
  38. Larangan Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu Domba
  39. Sifat Orang Mulia dan Hina
  40. Bermusyawarah Di Saat-Saat Penting
  41. Anjuran Untuk Senantiasa Menasehati Kaum Muslimin

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Bila Anda Sedang FUTUR

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

FUTUR : yaitu rasa malas, enggan, lamban dan tidak semangat, padahal sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat dalam menjalankan suatu ibadah. Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i dan penuntut ilmu.

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Bila Anda Sedang Bersendirian

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Yang Dirahasiakan Dari Manusia Harus Lebih Baik Daripada Yang Ditampakkan Kepada Manusia

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-54

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-53) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 54 🌼

Alhamdulillah… ini adalah pembahasan terakhir dari  “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, in-syaa Allah Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى akan melanjutkan dengan pembahasan kitab baru.

🌼 Kaidah yang ke 54 🌼

⚉   Ahlussunnah meyakini apa yang ditunjukan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [QS Hud : 116]

‎فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Allah Ta’ala juga berfirman [QS Hud : 118-119]

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ

Kalaulah Rabb-mu berkehendak, Allah akan jadikan mereka satu ummat (atau satupadu), namun mereka senantiasa berselisih kecuali yang dirahmati oleh Rabb-mu.”

👉🏼  Dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwasanya persatuan itu adalah rahmat sedangkan perpecahan itu adalah azab, dan Allah memerintahkan kita untuk bersatu-padu di atas kebenaran.

Allah juga berfirman [QS Al-A’raf : 159]

‎وَمِن قَوْمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِۦ يَعْدِلُونَ

Diantara kaum Nabi Musa ada sebuah kelompok yang memberikan hidayah dengan kebenaran dan merekapun bersikap adil padanya.

Allah juga berfirman [QS Al-A’raf : 181]

‎وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِالْحَقِّ وَبِهٖ يَعْدِلُوْنَ

Diantara manusia yang kami ciptakan ada suatu ummat yang memberikan hidayah dengan kebenaran dan dengan kebenaran itu mereka bersikap adil.

Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam mengabarkan bahwa ummat Islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan siapa mereka, yaitu “…orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku di hari ini…” Artinya, siapa yang seperti aku (Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam) dan para sahabatku di hari ini maka dialah yang selamat.

👉🏼  Berarti keselamatan itu adalah dengan cara mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata, “…apabila kebahagiaan dunia dan akhirat dengan cara mengikuti para Rasul berarti orang yang paling berhak terhadap para Rasul adalah yang paling tahu tentang atsar-atsar jejak-jejak para Rasul dan yang paling mengikuti mereka, maka orang-orang yang berilmu yang senantiasa mengikuti jejak kaki para Rasul, merekalah orang-orang yang diberikan oleh Allah kebahagiaan di setiap zaman dan tempat merekalahThoifah Najiyah” (kelompok yang selamat), merekalah Ahlussunnah wal Hadits dari ummat Islam ini…

Ibnu Taimiyyah rohimahullah juga berkata (dalam Majmu Fatawa di jilid 4 halaman 26), “…Ahli Hadits dan Ahlussunnah adalah orang yang paling tahu tentang sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan keadaan-keadaannya, mereka paling bisa membedakan shohih dan dho’if. Imam-imam mereka adalah orang-orang yang faqih, yang betul-betul memahami Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, dan betul-betul mengikutinya. Dengan pembenaran, dengan amalan, dengan kecintaan, loyalitas dan permusuhan semuanya karena iman diatasnya. Yang mereka membantah pendapat-pendapat yang bathil dan mengembalikan dalil-dalil yang bersifat global kepada Alqur’an dan hikmah, sehingga mereka tidak pernah menegakkan suatu ucapan siapapun sebagai pokok-pokok agama mereka APABILA ternyata tidak sesuai dengan atau tidak “tsabit” dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam…

…Bahkan mereka hanya menjadikan apa yang di bawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berupa Alqur’an dan Hadits sebagai pokok yang menjadi sandaran mereka…” (Majmu Fatawa jilid 4 halaman 347)

Beliau juga berkata, “…oleh karena itulah orang-orang mu’tazilah, murji’ah dan yang lainnya dari kalangan ahli bid’ah menafsirkan Alqur’an dengan ro’yu, ro’yu dengan akal mereka sendiri.
Oleh karena itu kamu dapati mereka tidak menjadikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, atsar sahabat dan tabi’in sebagai pegangan mereka. Mereka tidak bersandar kepada sunnah, tidak pula kepada ijma’ salafush-sholeh dan atsar mereka, akan tetapi sandaran mereka adalah akal, dan bahasa arab yang mereka takwil-takwil. Sandaran mereka juga adalah hawa nafsu sehingga pada waktu itu mereka menjadi orang-orang yang tersesat jalannya…
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-53

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-52) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 53 🌼

⚉   Orang-orang kafir itu tidak satu derajat dalam bermuamalah dengan mereka.
.
Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Imran : 75]

‎وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ

Diantara ahli kitab ada yang apabila kamu berikan amanah ia dengan harta yang banyak ia tetap melaksanakan amanahnya. Ada juga diantara mereka kalau kamu berikan amanah dengan satu dinar, ia tidak melaksanakan amanah tersebut, kecuali kalau kamu terus menerus memintanya (menagihnya).”
.
Artinya bahwa ahli kitab (yang merupakan kafir dzimmi) pun juga berbeda.
.
Allah juga berfirman [QS Al Mumtahanah : 8]

‎لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kalian dari orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian dalam agama tidak pula mengusir kalian dari negeri-negeri kalian. Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik kepada mereka dan bersikap adil kepada mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil.
.
Disini kata Ibnu Katsir rohimahullah:
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melarang berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi umat Islam dalam agama mereka. Tidak pula mereka saling tolong menolong untuk mengusir umat Islam.”
.
Berarti ini orang-orang kafir yang boleh kita berbuat baik kepadanyaLalu Allah mengatakan setelahnya di ayat ke sembilan

‎إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ

Yang Allah larang itu terhadap orang-orang kafir yang memerangi kamu dalam agama Allah
.
Dan mereka berusaha untuk saling tolong menolong untuk mengusir kamu, maka itu Allah larang berbuat baik kepada mereka.
.
Disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dari Asma’ bintu Abu Bakar, ia berkata:
“Ibuku (yang masih musyrik *) datang di zaman perdamaian Hudaibiyah, lalu aku mendatangi Nabi ‎shallallahu ‘alayhi wasallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku datang, apakah aku boleh menyambung silaturahim dengannya ?” Kata Rasulullah: “iya, sambunglah dengan ibumu.” (Diriwayatkan Bukhori dan Muslim)
.
Dan dalam riwayat Imam Ahmad juga disebutkan bahwa ibu dari pada Asma’ ini datang membawa hadiah-hadiah yang banyak. Namun Asma’ tidak menerimanya, karena di khawatirkan tentunya sesuatu yang masuk di dalam hati kita, sehingga hati kita menjadi luruh dan memberikan loyalitas… na’uzubillah.
.
Maka yang seperti ini akan dikhawatirkan malah berdampak tidak baik, maka kita tidak boleh melakukannya.
.
👉🏼  Disini ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu tidak sama. Disana ada orang-orang kafir yang boleh kita berbuat baik kepada mereka, yaitu orang- orang yang tidak memerangi kita dan tidak saling tolong menolong mengusir kita. Disana juga ada orang-orang kafir harbi yang memerangi kita, maka kita tidak boleh berbuat baik kepada kita, dan apabila orang harbi itu meminta perdamaian dengan kaum muslimin, wajib kita penuhi dan tidak boleh kita membatalkan perdamaian mereka, tidak boleh menghianatinya sebab Rasulullah menjelaskan bahwa kalau kita menghianati perdamaian itu sebab mereka bisa menguasai kaum muslimin.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Tambahan dari Admin:
(*) Di dalam audio, tersebutkan “Ayahku (yang musyrik)…” yang benar adalah “Ibuku (yang musyrik)…”

Hadits no. 5521 : Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin ‘Urwah] telah mengabarkan kepadaku [Ayahku] telah mengabarkan kepadaku [Asma` bintu Abu Bakr] radhiyallahu ‘anhuma dia berkata; “Ibuku (yang musyrik) datang pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku dalam keadaan mengharapkan baktiku, lalu saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah saya boleh berhubungan dengannya ?” beliau menjawab: “Ya.” Ibnu ‘Uyainah lalu berkata; “Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat Allah tidak melarang kalian dari orang-orang yang tidak memerangi agama kalian (QS Al Mumtahanah; 8).”

(**) Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu pernah menikah dengan Qutaylah bintu Abd al-Uzza bin Abd bin As’ad pada masa Jahiliyyah dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Abdullah dan Asma’. Qutaylah bintu Abd-al-Uzza tidak menerima agama Islam lalu Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu menceraikannya. Dalam hadits, Asma’ bintu Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhumaa sedang bercerita tentang kedatangan ibunya yang masih musyrik yaitu Qutaylah bintu Abd-al-Uzza. Wallahu a’lam
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN