Category Archives: Kitab HAKIKAT BID’AH dan HUKUM-HUKUMNYA

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5b…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5a…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5b 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab.. “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”.. kita masih membahas poin yang ke 5 dari perkara yang berhubungan dengan bid’ah, dimana poin ke 5 adalah bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama.

Kemaren sudah kita jelaskan bahwa yang dimaksud dengan asal disini, yaitu dalil, (yaitu Al Qur’an, Hadits yang shohih dan ijma’).

Kemudian disini Beliau menyebutkan, yaitu

‎قول الصحابي

‘Termasuk asal itu dalil, pendapat para sahabat dan perbuatan mereka.’

Karena para sahabat adalah orang-orang yang langsung diberikan rekomendasi oleh Allah dan Rosul-Nya.
Dimana Allah memuji mereka dalam Al Qur’an seperti dalam Surat At Taubah ayat 100.

Dan Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam pun juga menyatakan bahwa mereka sebaik-baiknya generasi.

Kemudian ada beberapa permasalahan yang berhubungan dengan pendapat sahabat ini.

1⃣  Perkataan seorang sahabat yang mengatakan begini, ‘termasuk sunnah adalah ini dan itu.’

Itu adalah hukumnya sampai kepada Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam. Karena para sahabat semuanya adil, dan paling paham tentang bahasa Arab.

Maka kalau seorang sahabat berkata termasuk sunnah adalah begini, itu maksudnya sunnah Rosul ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

2⃣  Perkataan seorang sahabat, ‘kami diperintahkan untuk ini, atau kami dilarang’, itu maksudnya adalah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam yang memerintahkan dan melarang.
Maka tidak mungkin sahabat yang lain yang memerintahkan atau melarang, akan tetapi yang dimaksud adalah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

3⃣  Perkataan seorang sahabat yang mengatakan, ‘kami dahulu melakukan begini di zaman Nabi atau kami dahulu mengatakan begini.’

Ini ada 2 keadaan :

⚉  apabila itu disebutkan di zaman Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, maka hukumnya marfu’ kepada Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

⚉  Adapun kalau tidak disebutkan di zaman Nabi, maka yang terjadi  (adalah) ikhtilaf para Ulama, akan tetapi Al Hafiz Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahwa itu dihukumi marfu’, sebagaimana itu pendapat Al Hakim, Arroziy, Al Amidiy.

4⃣  Seorang sahabat menghukumi bahwa, ‘suatu perbuatan itu keta’atan kepada Allah dan kepada Rosul-Nya, atau menghukumi itu sesuatu maksiat,’ maka yang seperti inipun dihukumi marfu’,
karena untuk menghukumi ta’at dan maksiat itu adalah hak Allah dan Rosul-Nya saja tidak untuk yang lainnya.

Contoh, misalnya perkataan Ammar yang dikeluarkan oleh Bukhori, ‘siapa yang berpuasa dihari yang meragukan sungguh ia telah memaksiati Abdul Qasim’ (yaitu Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam)

5️⃣  Apabila pendapat sahabat bertabrakan dengan qiyas,
artinya apabila seorang sahabat berpendapat dan ternyata pendapatnya tidak sesuai dengan qiyas, maka kata para Ulama ini hukumnya pun juga marfu’ atas pendapat yang rojih, karena tidak mungkin seorang sahabat menyalahi qiyas kecuali karena adanya dalil dari Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam
Dan ini merupakan pendapat hanafiyah dan jumhur hanabilah dan juga pendapat Imam Syafi’i, baik pendapat yang dulu maupun yang baru.

Contoh, misalnya perkataan Ibnu ‘Abbas tentang orang yang bernazar untuk menyembelih anaknya, kata beliau

‎فيمن نذر ذبح ولده يذبح شاة

‘Maka dia harus mengganti dengan menyembelih kambing.’

Ini adalah merupakan perkataan sahabat kalau ternyata bertabrakan dengan qiyas.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Kaidah-Kaidah Bid’ah # 4…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan pembahasan kitab.. “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”.. masih berhubungan dengan poin-poin yang berhubungan dengan bid’ah..

Poin berikutnya…

⚉  KE-LIMA : Bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama.

Ini yang dikatakan oleh para Ulama, seperti Ibnu Hajar. Dimana Ibnu Hajar ketika menyebutkan tentang bid’ah, Beliau berkata

‎والمحدثات….جمع محدثة

‘Yang dimaksud dengan muhdatsaat, yaitu jamak daripada muhdatsah’

‎والمراد بها ما أحدث وليس له أصل في الشرع

‘Yang dimaksud adalah apa-apa yang dibuat-buat dan tidak ada asalnya dalam syari’at’

Dalam Kitab ‘Umdatulqoori disebutkan

‎والمراد به ما أحدث وليس له أصل في الشرع

‘Apa-apa yang diada-adakan tidak ada asalnya dalam syari’at’

Ibnu Rojab juga menyebutkan dalam Kitab Jami’ul‘uluum walhikaam hal 252

‘Yang dimaksud bid’ah adalah’

‎ما أحدث مما لا أصل له في الشر يعة يدل عليه

‘Apa-apa yang diada-adakan, sesuatu yang tidak ada asalnya dalam syari’at yang menunjukkannya’

أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة

‘Adapun bila ada asal yang menunjukannya dari syari’at, maka itu bukan bid’ah’

Apa yang dimaksud dengan asal ?
Telah disebutkan tadi sesuatu yang tidak ada asalnya dari syari’at.

Apasih yang dimaksud dengan aslun/asal ini, yaitu yang dimaksud yaitu dalil.

Artinya sesuatu yang tidak di tunjukkan oleh dalil syari’at, dan dalil syari’at itu:
1⃣ Kitabullah (Al Qur’an)
2⃣ Sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam,
3⃣ Ijma’( kesepakatan seluruh Ulama), bukan kesepakatan sebagian Ulama, tapi kesepakatan seluruh Ulama (seluruh dunia).

Dan Ijma’ ini termasuk hujjah syari’at yang ditunjukkan oleh dalil Al Qur’an dan Hadits.

Adapun Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman dalam QS An-Nisa’ : 115

‎وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

‘Siapa yang menyelisihi Rosul, setelah jelas kepadanya petunjuk/ keterangan dan tidak mau mengikuti jalannya kaum mukminin.
((Imam Syafi’i berkata yang dimaksud yaitu ijma’ mereka))

Kami akan biarkan mereka leluasa dalam kesesatannya itu dan kami akan bakar mereka dengan neraka jahanam.’

Disini Allah mengancam orang yang tidak mau mengikuti jalan
kaum mukminin dengan neraka jahanam, itu menunjukkan bahwa ijma’ itu hujjah.

Demikian pula Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‎ لن تَجْتَمِعُ أُمَّتِى عَلَى ضَلاَلَة

‘Umatku tidak akan pernah bersepakat diatas kesesatan’

Namun ada beberapa perkara yang harus diperhatikan seputar ijma’.
Apa itu ?

1⃣ Ijma’ adalah kesepakatan ahli ijtihad umat Islam, setelah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam diatas suatu hukum.
Jadi ini adalah kesepakatan ahli ijtihadnya, adapun orang yang bukan ahli ijtihad, tidak dianggap.

2⃣ Bahwa ummat Islam tidak mungkin bersepakat diatas kesesatan. Berarti ijma’ itu pasti benar.

3⃣ Bahwa ijma’ ummat Islam itu hujjah Qot’iyyah (hujjah yang pasti). Walaupun tentunya sebagian Ulama mengatakan ijma’ itu ada yang bisa dipastikan para Ulama berijma’. Dan ada yang masih diduga terjadi ijma’, dan tentu berbeda antara dua perkara ini.

4️⃣ Apabila memang telah pasti para Ulama para ahli ijtihad telah ber-ijma’ pada suatu hukum, maka tidak boleh seorangpun yang menyelisihinya, kenapa ? Karena Allah mengancam untuk membakarnya dengan api neraka (dalam surat tadi).

5️⃣ Bahwa ijma’ ada yang sifatnya ‘SUKUTI’, yaitu ‘ijma’nya diam’, artinya seorang sahabat melakukannya dihadapan para sahabat tapi tidak ada satupun yang mengingkarinya, maka inipun hujjah.

6️⃣ Kemudian ijma’ itu yang betul-betul bisa dipastikan itu kebanyakan adalah ijma’ Salafush-sholih, karena dizaman tersebut para ahli ijtihad masih bisa terhitung dizaman sahabat itu. Sedangkan dizaman-zaman setelahnya, dimana sangat banyak dan sulit sekali menghitung satu-persatu pendapat-pendapat Ulama.

➡️➡️ Maka tentunya yang berhak mengatakan ini ijma’ atau bukan, Ulama yang betul-betul pengetahuannya sangat luas sekali tentang masalah perselisihan-perselisihan Ulama dan ijma’ mereka.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Kaidah-Kaidah Bid’ah # 4…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Kaidah-Kaidah Bid’ah # 3…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Kaidah-Kaidah Bid’ah # 4 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kajian kita.. “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”.. masih berhubungan tentang poin-poin yang berhubungan dengan masalah bid’ah..

Sekarang kita masuk kepada poin yang..

⚉  KE-EMPAT : Bid’ah itu berhubungan dengan KHITOB SYAR’I.

Apa yang dimaksud dengan khitob syar’i ?
➡️ Yaitu berupa perbuatan demikian pula meninggalkan.
Adapun meninggalkan sudah kita bahas kemarin.

Adapun melakukan atau berbuat.. maka ini ada dua macam;

1⃣ Yaitu yang berhubungan dengan larangan dan perintah, demikian pula sesuatu yang sifatnya mubah.
Maka ini berhubungan dengan dua perkara, yaitu IBADAH dan MU’AMALAH.

2⃣ Yaitu berhubungan dengan perbuatan manusia (mukalaf).
Ini ada 3 macam yaitu: AQIDAH, UCAPAN dan PERBUATAN.

==============
1⃣ Sekarang kita akan bahas masalah bid’ah dalam masalah IBADAH  dan MU’AMALAH.

Adapun masuknya bid’ah dalam ibadah itu sangat jelas sekali, karena ibadah pada asalnya tidak diperkenankan sampai ada dalil yang memerintahkan, dan kebanyakan bid’ah itu dalam masalah ibadah.

Adapun mu’amalah ini masuk didalamnya seperti :
masalah akad, syarat-syarat, demikian pula perkara-perkara dunia, maka ini pada asalnya mubah, kecuali apabila mu’amalah tersebut dijadikan sebagai ibadah secara zatnya.

Contoh misalnya :
⚉  kalau ada orang yang beribadah kepada Allah dengan cara memakan makanan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa makanan tersebut mempunyai keutamaan tertentu,
⚉  atau beribadah kepada Allah dengan memakai pakaian tertentu dengan meyakini bahwa pakaian ini lebih utama daripada yang lainnya.
⚉  atau bahkan beribadah dengan maksiat, inipun jelas bid’ah, seperti beribadah kepada Allah dengan tasyabuh kepada orang kafir, ini jelas perbuatan yang haram bahkan juga termasuk bid’ah, bukan cuma maksiat tapi juga bid’ah.

Ini apabila berhubungan dengan masalah ibadah dan mu’amalah, makanya kata beliau (Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى)

‎فما ألحق من أحكام شر عية بالأمور العادية بقصد القر بة من اللّٰه وهو ليس كذلك في الشر يعة فهو بدعة

“Maka hukum-hukum yang bersifat kebiasaan, yaitu mu’amalah dan kebiasaan yang sifatnya duniawi, kalau itu dijadikan sebagai taqorrub kepada Allah, sebagai ibadah yang berdiri sendiri secara zatnya padahal tidak ada dalil yang menunjukkan akan hal itu, maka ini bisa jadi bid’ah.”

Karena masalah dunia.. yang sesuatu yang sifatnya mubah itu menjadi ibadah kalau diniatkan untuk kebaikan yang sifatnya itu sesuai syari’at.

⚉ Contoh misalnya : orang yang olah raga itu kebiasaan dan mubah, tapi ketika dijadikan wasilah untuk bisa supaya kuat ibadah, supaya sehat, itu bisa jadi ibadah. Tapi ketika olah raga itu dijadikan sebagai ibadah secara tersendiri, artinya dia beribadah kepada Allah dengan cara olah raga, dan meyakini bahwa olah raga itu ibadah secara tersendiri, dan menganggap ini sebuah keutamaan.. olah raga itu yang mempunyai keutamaan tertentu dalam syari’at tentu ini bisa jadi, jadi bid’ah.
Tapi kalau olah raga sebagai wasilah saja menuju ibadah maka itu boleh.
Maka bedakan ini.. BEDAKAN antara wasilah dengan tujuan.. olah raga bukan tujuan dalam ibadah, artinya tidak boleh dijadikan ibadah yang berdiri sendiri secara zatnya, tapi hanya sebatas wasilah untuk supaya kita bisa beribadah.
Sama halnya juga dengan makan, berpakaian.

2⃣ Adapun yang berhubungan dengan masalah yang ke dua, itu bid’ah yang berhubungan dengan aqidah, perbuatan dan ucapan.

➡️  Adapun masalah aqidah banyak sekali contohnya, bid’ahnya khowarij, murji’ah, mu’tazilah, syi’ah demikian pula asy’ariyah, jamiyah, sofiyah semua ini berhubungan dengan BID’AH-BID’AH YANG BERSIFAT AQIDAH.

➡️  Adapun BID’AH YANG BERHUBUNGAN DENGAN UCAPAN, contohnya misalnya :
⚉  mengeraskan niat dalam sholat, sama sekali tidak ada asalnya,
⚉  atau misalnya berdzikir hanya dengan kata “huwa..huwa..huwa..” seperti yang dilakukan oleh orang-orang sufi,
⚉  atau membuat wirid-wirid tertentu yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya.. maka ini semua bid’ah ucapan.

➡️  Adapun BID’AH YANG BERSIFAT PERBUATAN, contohnya adalah :
⚉  melakukan perayaan-perayaan yang tidak disyari’atkan, seperti perayaan kelahiran Nabi, jelas tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya, tidak pula para sahabat, tidak pula para Tabi’in, tidak pula Imam yang empat,
⚉  demikian pula perayaan-perayaan awal tahun, akhir tahun dan yang lainnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Kaidah-Kaidah Bid’ah # 3…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Kaidah-Kaidah Bid’ah # 2…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Kaidah-Kaidah Bid’ah # 3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”.. masih pembahasan poin-poin yang berhubungan dengan masalah bid’ah

Sekarang masuk poin yang..

‎البِدْعَةُ تَكُوْنُ بِالْفِعْلِ وَالتَرْكِ.

⚉  KE-TIGA : Bid’ah itu terjadi dengan melakukan atau dengan cara meninggalkan.

Adapun melakukan, seperti melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Sebagai Taqorrub ia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ini contohnya banyak, seperti contohnya merayakan perayaan-perayaan yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Contoh lagi membuat sholat yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya, membuat tata cara suatu ibadah yang tidak pernah di lakukan oleh Allah dan Rosul-Nya.

⚉  Maka ini namanya BID’AH FI’LIYAH, artinya melakukan perbuatan bid’ah dengan cara mengada-ada sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya.

⚉  Adapun yang kedua yaitu BID’AH TARKIYAH, yaitu dengan cara meninggalkan sesuatu yang dihalalkan oleh syari’at. Dengan keyakinan bahwa itu adalah ibadah.

Sebuah contoh misalnya (yang dikeluarkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas) ketika Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam sedang berkhutbah tiba-tiba ada orang yang berdiri dibawah terik matahari. Lalu Nabi bertanya, “Siapa dia?”
Lalu mereka menjawab, “Ia Abu Isro’il, ia bernadzar untuk berdiri terus dan tidak akan duduk, tidak akan berteduh, tidak akan berbicara, dan berpuasa.”

Maka Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “perintahkan ia untuk berbicara, berteduh dan duduk, dan hendaklah ia menyempurnakan puasanya.”

Lihat.. berbicara, berteduh, duduk adalah perkara yang mubah, tapi ia sengaja tinggalkan dalam rangka ibadah, tentu ini meninggalkan sesuatu yang mubah dalam rangka Taqorrub kepada Allah, tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya.

Namun ketika shaum (puasa) itu perkara yang disyari’atkan, Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam menyuruh untuk melanjutkan shaum (puasa)nya.

⚉  Demikian pula melakukan sesuatu yang Nabi tidak pernah lakukan, ini disebut dengan BID’AH FI’LIYAH.

Atau misalnya Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak melakukan suatu perbuatan. Contohnya, Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak adzan dan qomat untuk sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Lalu kemudian ada orang yang melakukannya, maka ini termasuk kebid’ahan.

👉🏼  Ini (pembahasan diatas) yang disebut dengan bid’ah fi’liyah dan bid’ah tarkiyah.

Kata beliau (penulis kitab) :

‎ ويمكن ضبط المسكو ت عنه بما يلي

Adapun perkara yang didiamkan oleh syari’at, ada batasan-batasan yang harus kita perhatikan

‎أولاً :
‎أنا لأصل في العبادات البطلان

Bahwa pada asalnya yang berhubungan dengan masalah ibadah itu bathil (tidak boleh)

‎حتى يقوم دليل على الأمر

Sampai ada dalil yang memerintahkan

‎والأصل في العقود و المعا ملات الصحة

Sedangkan yang berhubungan dengan akad dan muamalah pada asalnya boleh

‎حتى يقوم دليل على البطلان والتحريم

Sampai ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya.

Jadi kita perhatikan, itu masalah apa ? Masalah ibadah apa masalah mu’amalah ?
⚉  Kalau masalah ibadah wajib dia membawakan dalil.
⚉  Kalau masalah mu’amalah, wajib dia mendatangkan dalil yang mendudukan akan keharamannya, karena pada asalnya ia boleh, sedangkan ibadah pada asalnya tidak boleh.

‎ثانيا: أن السنة كما أنها تكون – بفعله صلى اللّٰه عليه وسلم – وتقر يره، فإ نها تكون بسكوته كذلك

“Sesuatu yang disebut sunnah itu sebagaimana itu perkara yang dilakukan oleh Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam dan disetujui, demikian pula perkara yang Nabi mendiamkannya”

‎وهذا ما يسمى بالسنة التر كية

“Maka yang seperti ini disebut dengan istilah sunnah tarkiyah”
yaitu Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam mendiamkan suatu perbuatan, padahal perkara tersebut, kalau ternyata itu haram, tentu Nabi akan segera mengingkarinya. Tapi ketika Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam mendiamkannya, maka itu menunjukkan akan kebolehannya.

‎فسكوته عليه السلام هو المعتبر

Maka diamnya Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam itulah yang dianggap.

‎بشرط ألا يكون فعلا جبليا

Dengan syarat (kata Beliau) itu bukan perbuatan yang bersifat tabi’at.

‎فإن تر ك الفعل الجبلي لا يعتبر سنة تر كية

Tapi jika itu sesuatu yang sifatnya tabi’at dan Nabi tidak lakukan maka yaitu tidak dianggap sebagai sunnah tarkiyah, artinya kalau kita melakukannyapun tidak apa-apa.

Contoh, bahwa Nabi tidak suka daging dhob, itu tabi’at
Kalau kita makan daging dhob ya silakan saja, tidak apa-apa.

Tapi kalau Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam meninggalkan suatu ibadah padahal itu adalah perkara yang merupakan perkara ibadah, Nabi tinggalkan padahal pendorongnya ada, penghalangnya tidak ada, itu menunjukkan bahwa itu tidak boleh kita lakukan.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Kaidah-Kaidah Bid’ah # 2…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Definisi Bid’ah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Kaidah-Kaidah Bid’ah # 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kitab “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”.. kemudian poin…

⚉  KE-DUA : yang harus kita ketahui seputar bid’ah

‎ثانيا: البدعة هي التي تُّفعل بقصد القربة

Bid’ah itu adalah yang dilakukan dengan tujuan untuk Taqorrub (pendekatkan diri) kepada Allah.

Inilah yang membedakan antara bid’ah dengan yang bukan bid’ah. dimana kalau dilakukan dengan maksud tujuan Taqorrub kepada Allah, padahal itu sama sekali bukan termasuk perkara yang disyari’atkan dalam agama, bukan juga dianggap sebuah perkara yang ibadah secara zatnya, maka ini bisa menjadi bid’ah.

Beda kalau misalnya ia melakukan itu bukan karena sebagai Taqorrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

⚉  Contoh misalnya, apabila ada orang yang mendengarkan musik tapi bukan tujuannya untuk Taqorrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ini hukumnya maksiat, karena musik jelas perkara yang haram dengan ijma’ para Ulama Salafush-sholih, tapi kalau ia mendengarkan musik itu dengan maksud tujuan untuk Taqorrub kepada Allah, dan dianggap sebagai itu dien (sebagai agama) maka ini menjadi bid’ah, karena Nabi dan para sahabat tidak pernah berTaqorrub kepada Allah dengan cara memainkan alat musik.
Bahkan Nabi ‎‎shollallahu ‘alayhi wasallam menganggapnya sebagai maksiat.

⚉  Contoh lain, misalnya kalau ada orang yang makan tempe, maka pada asalnya halal, tapi kalau ia yakini sebagai Taqorrub kepada Allah, dan dianggap bahwa tempe punya keutamaan tertentu dan ia beribadah kepada Allah dengan cara itu, maka itu menjadi bid’ah.

⚉  Contoh lagi, orang yang meninggalkan makan daging, apa tujuannya ? kalau ternyata tujuannya untuk Taqorrub kepada Allah dan itu dianggap sebagai dien, maka itu jadi bid’ah.
Tapi kalau ia tinggalkan bukan karena itu, tapi misalnya karena ia kurang suka daging misalnya, maka ini silahkan saja.

⚉  Contoh lain, misalnya, kalau ada orang yang membotak rambutnya dengan tujuan sebagai Taqorrub kepada Allah, padahal Nabi ‎‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak pernah mengajarkan ibadah dengan cara membotak kepala, maka ini jadi bid’ah. Tapi kalau sebatas membotak saja tanpa ada tujuan Taqorrub, ikhtilaf para Ulama, apakah itu hukumnya makruh atau mubah.

Jadi poin ini harus kita perhatikan bahwa…
👉🏼  bid’ah itu adalah yang dilakukan dengan maksud tujuan Taqorrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diantara dalilnya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari hadits Anas bin Malik

‎جاء ثلاثة رهط إلى بيوت أزواج النبي – صلى الله عليه وسلم

“Bahwa ada tiga orang datang kerumah istri-istri Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bertanya tentang ibadah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam , ketika mereka telah dikabari, mereka menganggapnya ringan.
Lalu mereka berkata :

‎وأين نحن من النبي – صلى الله عليه وسلم

“Dimana kita dibandingkan dengan Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam dimana Nabi telah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.”

Lalu salah satu orang berkata, “Saya akan sholat semalam suntuk”.
Yang ke dua berkata: “Saya akan berpuasa terus menerus tidak berbuka”.
Yang satu berkata: “Saya tidak akan menikah” (Mereka ucapkan itu dalam rangka Taqorrub kepada Allah tentunya) Maka sampailah ucapan tiga orang ini kepada Rosulullah ‎‎shollallahu ‘alayhi wasallam , maka Rosulullah bersabda,

‎أنتم الذين قلتم كذا وكذا

“Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu ?”

‎أما والله إني لأ خشا كم لله و أتفا كم له

demi Allah aku ini orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya.

‎لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأرقد، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني

akan tetapi aku berpuasa aku juga berbuka, aku sholat, aku juga tidur, aku juga menikah. Barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, ia bukan golonganku.”
kata Rosulullah ‎‎shollallahu ‘alayhi wasallam

Lihat tiga orang ini… yang satu ingin tidak menikah, tapi tujuannya untuk apa ?! tujuannya ia dalam rangka Taqorrub kepada Allah. Dan dalam lafadz muslim disebutkan, ‘…saya tidak mau menikah, dan sebagian lagi mengatakan, saya tidak makan daging…’, dalam rangka apa ? …dalam rangka Taqorrub kepada Allah.

Maka Nabi ‎‎shollallahu ‘alayhi wasallam berlepas diri dari perbuatan mereka, dan menganggap perbuatan seperti itu tidak boleh, karena Nabi mengatakan, ‘…barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku…’

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata

‎ينكر على من يتقرب إلى الله بترك جنس الملذات

“Orang yang berTaqorrub kepada Allah dengan cara meninggalkan sebagian makanan-makanan yang lezat, itu wajib diingkari.”
Sebagaimana Nabi ‎‎shollallahu ‘alayhi wasallam berkata kepada salah satu dari tiga orang tadi

‎أما أنا فس صوم ولا أفطر

‘…Adapun aku, aku akan terus berpuasa, tidak akan berbuka…’
artinya aku akan meninggalkan makanan, padahal makanan itu sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, tapi dia berTaqorrub kepada Allah dengan cara meninggalkan sebagian kelezatan dunia. Tentu ini tidak di benarkan dalam syari’at.”
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Kaidah-Kaidah Bid’ah # 1…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Definisi Bid’ah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Kaidah-Kaidah Bid’ah  # 1 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fawaaid dari kitab “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”.. kemudian beliau membawakan kaidah-kaidah yang berhubungan seputar bid’ah yang hendaknya kita pahami bersama.

⚉  ‎PERTAMA

‎كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Bahwa setiap bid’ah itu sesat.

Kata Beliau:

‎قاعدة عامة محكمة شاملة اكمة شاملة لكل محدثة

“Ini kaidah yang umum, yang mencakup seluruh perkara yang dibuat-buat

‎قُصد بها القربة

Dimana maksud tujuannya adalah untuk taqorrub kepada Allah

‎ ولا دليل عليها من الدين

Yang tidak ada dalil dari agama.

‎وهذه القاعدة قطعة من حديث الرسول

Dimana kaidah ini, bagian dari hadits Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.”

Diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah, ia berkata,  “…adalah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam apabila berkhutbah maka matanya menjadi merah, suaranya menjadi tinggi, dan marahnya menjadi sangat, seakan-akan Beliau memperingatkan akan adanya pasukan perang yang akan menyerang.

Beliau bersabda, “Aku diutus dalam keadaan aku dan hari kiamat seperti ini (yaitu antara telunjuk dan jari tengah).”

Lalu Beliau berkata,

‎أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah firman Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk-petunjuk Muhammad ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.”  [dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya]

Demikian pula dalam hadits Erbadl bin Sariyah, dimana Beliau shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‎إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Jauhi oleh kalian perkara yang diada-adakan karena setiap yang baru ada itu bid’ah dan bid’ah itu sesat.”

Disini Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan dengan kata “KULLU”, dan “KULLU”  itu termasuk “Alfaadzul Umum” (lafaz yang bersifat umum) tidak boleh di khususkan kecuali dengan dalil, maka ia wajib dibawa kepada keumummannya sampai ada dalil mengkhususkan dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Alhafidz Ibnu Rojab berkata (dalam kitab Jami’ Al’uluum Walhikam hal 252), kata Beliau,

“..sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

‎((كل بدعة ضلالة))
‎من جوامع الكلم

Setiap bid’ah itu sesat.. termasuk ucapan yang pendek namun menyeluruh.

‎لايخرج عنه سيء

Tidak keluar darinya sesuatupun juga

‎وهو أصل عظيم من أصول الدين

Ini adalah merupakan pokok yang agung dari pokok-pokok agama

‎فكل من أحدث شيئاً ونسبه إلى الدين ولم يكن له أصل من الدين، ير جع إليه فهو ضلالة

Maka setiap yang membuat-buat sesuatu yang ia nisbatkan kepada agama dan tidak ada asalnya dari agama ini, maka ia sesat

‎والدين بريء منه

Dan agama berlepas diri darinya

‎وسواء في ذلك مسائل الا عتقادات أو الأعمال أو الأقوال الظاهر ة والباطنة

Baik itu masalah aqidah atau perbuatan atau perkataan yang tampak maupun yang tersembunyi..”

Ibnu Hajar Al Haitsamiy berkata (kitab Al Fatawa Al Haditsiyah hlm 280)

‎البدعة الشر عية لا تكون إلا ضلالة بخلاف اللغوية

“Bid’ah yang bermakna syari’at semuanya sesat, beda dengan bid’ah secara bahasa.”

Karena sudah kita sebutkan pada pertemuan kemarin, bahwa bid’ah secara bahasa itu setiap yang diada-ada yang sebelumnya tidak ada, sedangkan bid’ah secara syari’at itu adalah khusus dalam masalah perkara agama dimana pelakunya menisbatkan itu sebagai agama dan niatnya adalah untuk taqorub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka kalau kita melihat dalil-dalil syari’at maka kita dapati bahwa dalil-dalilnya itu mutlak

‎الأدلة الشر عية جاءت مطلقة عا مت في ذم البد ع جميعها

“Dimana dalil-dalil semuanya bersifat umum, mencela seluruh kebid’ahan.”

Ibnu Taimiyah berkata (dalam Majmu Fatawa jilid 10/ hlm 370)
“..Menjaga keumuman sabda Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam yaitu ‘seiap bid’ah sesat’ itu HARUS, dan bahwasanya kita harus mengamalkan keumumannya karena tidak ada dalil yang mengkhususkan…”

Demikian pula para Salafush-sholih besepakat seluruhnya untuk mencela bid’ah dan mentahzirnya.

Maka dari itu perkataan sebagian orang akan adanya bid’ah hasanah adalah merupakan perkataan yang bathil dan bertabrakan dengan dalil-dalil syari’at.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Definisi Bid’ah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 3…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Definisi Bid’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya… sekarang kita masuk kepada pembahasan..

⚉ Definisi Bid’ah

1. SECARA BAHASA

Ada dua makna:
⚉  Makna yang pertama : Mengada-ada sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Ini adalah merupakan makna secara bahasa. Dan tentunya ada kaitannya dengan makna secara istilah. Karena bid’ah secara istilah adalah sesuatu yang tidak ada asalnya dalam syari’at.

⚉  Makna yang ke 2 secara bahasa yaitu : Terputus.
Dan tentunya ada kaitannya dengan makna secara istilah. Karena bid’ah itu terputus dari wahyu, terputus dari dalil, dimana mereka melakukan sesuatu tanpa hujjah dan dalil, hanya sebatas hawa nafsu, pendapat dan akal tanpa sama sekali ada hujjah

2. SECARA ISTILAH

Adapun secara istilah syari’at, para Ulama dalam mendefinisikannya berbeda-beda, akan tetapi definisi yang paling bagus adalah definisi Al Imam Asyatibi rohimahullah, dimana Beliau mengatakan :
“bid’ah adalah :
⚉  Yaitu ungkapan tentang tata cara dalam agama.
⚉  Yang menyerupai syari’at
⚉  Dan dibuat-buat

Dimana tujuan melakukannya adalah dalam rangka bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
(Disebutkan oleh Imam Asya tibi, kitab Al I’tishom jilid 1/ hal 37)

Disini Beliau mengatakan bahwa bid’ah secara istilah yaitu ungkapan tentang tata cara dalam agama. Berarti bid’ah secara istilah itu khusus dalam masalah agama.

Adapun dalam masalah dunia, maka tidak disebut bid’ah secara istilah syari’at, walaupun bid’ah secara bahasa. Karena secara bahasa itu artinya segala sesuatu yang baru ada sebelumnya tidak ada, maka kaca mata bid’ah secara bahasa, pesawat bid’ah secara bahasa, mobil bid’ah secara bahasa. Tapi apakah bid’ah secara syari’at? “Tidak”. Karena masalah dunia pada asalnya halal, berbeda dalam masalah agama, karena agama ini milik Allah, syari’at itu yang berhak adalah Allah yang mensyari’atkan, maka tidak boleh kita membuat-buat perkara agama ini tanpa ada izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi disini Beliau mengatakan.. bid’ah itu secara istilah:
⚉  tata cara dalam agama.
⚉  Mukhtaro’ah yang dibuat-buat, artinya tidak ada sama sekali dalilnya, hujjahnya dari syari’at.
⚉  Yang mirip dengan syari’at, menyerupai, karena disitu ada macam dari zikir atau yang lainnya sehingga orang menganggap itu agama padahal bukan, dimana maksud tujuannya adalah untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah. Karena orang yang berbuat bid’ah pasti tujuannya untuk beribadah. Sedangkan ibadah pada asalnya tidak boleh sampai ada dalil yang memerintahkan.

Maka dalam hal ini tidak hanya sebatas niat ingin ibadah, niat yang baik, kalau ternyata tata caranya tidak sesuai dengan tuntunan Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam.

Niat yang baik tidak menjadikan bid’ah itu jadi sunnah, tidak menjadikan syirik menjadi tauhid… tidak
Tidak menjadikan maksiat ta’at… sama sekali tidak

Maka niat yang baik diterima apabila caranya sesuai dengan tuntunan Rosul ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

Ini adalah merupakan definisi bid’ah yang paling baik
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 3…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 2…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya

Kemudian sebab selanjutnya yang menyebabkan terjadinya kebid’ahan yaitu…

‎اتباع العوائد

⚉  Mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang merupakan adat istiadat yang tidak sesuai dengan syari’at tentunya.

Dan ini ada beberapa macam:

1⃣  Mengikuti kebiasaan nenek moyang

Dimana Allah menyebutkan didalam Surat Az-Zukhruf Ayat 23

‎إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami diatas sebuah keyakinan dan kami mengikuti keyakinan mereka tersebut.” Karena mereka tumbuh diatas keyakinan nenek moyang, sehingga mereka menganggap bahwa keyakinan itulah kebenaran, padahal sama sekali tidak ada bukti, tidak ada dalil.

Demikian pula berlebih-lebihan dalam mengagungkan seorang Syaikh, seorang Ustadz yang ia belajar padanya. Sehingga akhirnya dia menganggap seakan-akan ucapan Syaikhnya atau Ustadznya itu bagaikan wahyu dari langit.

2⃣  Fanatik madzhab dan golongan tertentu.

Dimana ia taqlid kepada madzhab dan fanatik, yang kemudian dia menganggap bahwa kebenaran itu yang ada pada madzhabnya.
Sama halnya juga dengan organisasi, dan dianggap bahwa organisasinya itulah yang diatas kebenaran. Sehingga ia tidak mau menerima kebenaran, kecuali dari organisasinya.

Kemudian madzhab ataupun keyakinannya ataupun kelompoknya atau golongannya tersebut ternyata diatas kebid’ahan.
Akibatnya apa ? Akibatnya ia menganggap bahwa itulah sunnah padahal itu bid’ah.

Dan mengikuti golongan tertentu, madzhab tertentu baik dalam kebenaran maupun kebathilan, itu adalah merupakan kemungkaran yang paling besar, bahkan itu merupakan sifat orang yahudi.
Allah berfirman [QS Al-Baqarah: 89]

‎وَلَمَّا وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Dahulu orang-orang Yahudi senantiasa mengancam orang-orang musyrikin, akan datangnya seorang nabi. Tapi ketika datangnya Nabi, dan mereka mengetahui, tapi ternyata bukan berasal dari Yahudi, merekapun kafir kepada Nabi Muhammad, maka laknat Allah atas orang-orang yang kafir itu.

Dimana orang yahudi ketika melihat atau mengetahui bahwa ternyata nabi itu bukan dari Bani Isra’il mereka segera kafir.

Kemudian juga

3⃣  Mengikuti adat-istiadat yang tidak sesuai syari’at.

Inipun juga termasuk perkara yang bisa menimbulkan kebid’ahan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

‎فكيف يعتمد المؤمن العا لم على عاداتٍ، أكثر من اعتادها عامة، أو من قيدته العامة، أو قوم مترأسون بالجهالة

“Bagaimana seorang mukmin yang alim lebih mengikuti adat kebiasaan. Maka ini biasanya…” kata Beliau

‎لم ير سخوا في العلم

“Kebiasaan orang yang tidak kokoh dalam keilmuan.”

Karena orang yang berilmu tentu tahu bahwa adat kebiasaan masyarakat ada yang benar, ada yang sesuai dengan syariat ada juga yang menyimpang, adapun dijadikan itu sebagai sebuah sandaran, maka ini tidak di benarkan karena adat boleh diikuti kalau tidak bertabrakan dengan syari’at.

Kemudian diantara sebab munculnya kebid’ahan itu…

4⃣  Adanya penguasa-penguasa yang ahli bid’ah, lalu kemudian mereka yang berusaha untuk menyebarkan kebid’ahan tersebut. Dan berusaha mamatikan sunnah. Sehingga semakin tersebarlah kebid’ahan dan semakin padamlah sunnah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 2…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 1…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita melanjutkan kitab Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa. Masih melanjutkan…

⚉  Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah

2. Karena kedangkalan ilmu tentang syari’at yang Allah turunkan.

Sebagaimana Imam Ahmad, ketika mensifati ahli bid’ah, Beliau berkata:

‎عقدوا ألوية البدعة وأطلقوا عقال الفتنة

‘Mereka yang menegakkan benderà bid’ah dan menebarkan fitnah’

‎فهم مختلفون في الكتاب مخالفون للكتاب

‘Mereka berselisih tentang Al Qur’an dan menyelisihi Al Qur’an’

‎مجمعون على مفارقة الكتاب

‘Bahkan bersepakat untuk meninggalkan Al Qur’an. artinya mengikuti hawa nafsunya’

‎يقولون على اللّٰه وفي اللّٰه وفي كتاب اللّٰه بغير علم

‘Mereka berkata atas Allah dan tentang Allah dan tentang Kitabullah dengan tanpa ilmu’

‎يتكلمون بالمتشابه من الكلام

‘Mereka berbicara dengan kalimat-kalimat yang bersifat mutasyaabih (yang samar)’

‎ويخدعون جهّال الناس

‘Untuk menipu orang-orang yang awam’

‎بما يشبهو عليهم

‘Dengan cara menyamarkan’

‎فنعوذ باللّٰه من فتن المضلين

‘Dan kita berlindung kepada Allah dari fitnahnya orang-orang yang menyesatkan.’

Itu disebutkan dalam Kitab Arrod ‘ala zanadikoh Wal jahmiyah karya Imam Ahmad

Jadi syi’arnya orang-orang ahli bid’ah itu adalah merupakan mengikuti perkara-perkara yang mutasyaabihat.
Karena apa ?
Sedikitnya ilmu mereka dan kebodohan ilmu itu mencakup banyak perkara yang menyebabkan mereka jatuh kepada kebid’ahan diantaranya :

1⃣ Bodoh terhadap Hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, tidak bisa membedakan antara yang shohih dengan yang dho’if. Bahkan pengetahuan mereka terhadap Haditspun juga sangat minim sekali, sehingga akhirnya karena kurangnya pemahaman mereka atau pengetahuan mereka terhadap Hadits, mereka seringkali menggunakan akal pikiran.

2⃣ Bodoh terhadap atsar-atsar Salafush-sholih dan pemahaman para sahabat, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.
Sehingga akhirnya mereka tidak faham aqidah dan manhaj Salafush-sholih.

3⃣ Bodoh terhadap maksud daripada tujuan pensyari’atan,
sehingga akhirnya mereka ber buat bid’ah dengan perkiraan bahwa itu adalah maksud tujuan syari’at, padahal bukan.

4⃣ Bodoh terhadap bahasa Arab dan tata caranya, yang berakibat mereka salah dalam memahami Al Qur’an dan Hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam.

5⃣ Bodoh terhadap kaidah-kaidah syari’at dan ushul-ushul fiqih.
Sehingga akhirnya karena bodoh terhadap kaidah-kaidah mereka tidak memahami dengan benar dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits.

6⃣ Mereka suka mengambil hadits-hadits yang lemah bahkan palsu
karena kebodohan mereka terhadap ilmu hadits yang berakibat akhirnya mereka seringkali menggunakan hadits-hadits yang dhoif bahkan palsu yang mendukung pendapat mereka.

7⃣ Karena kebodohan mereka juga akhirnya suka mengambil dalil sepotong-sepotong
tidak mengumpulkan dalil dalam suatu bab permasalahan seluruhnya, tapi hanya sebatas mengambil dalil yang sesuai dengan keinginan mereka
lalu kemudian menuduh Ahlussunnah yang mengambil dalil sepotong-sepotong, bagaikan maling teriak maling.

8⃣ Mereka menganggap bahwa pendapat imam mereka itulah yang harus diikuti, itulah yang sudah matang, sementara Al Qur’an dan Hadits menurut mereka masih mentah, masih samar, sehingga harus dipahami oleh imam-imam mereka yang sama-sama juga pengikut hawa nafsu, akibatnya mereka menganggap bahwa kebenaran itu yang dipahami oleh imam-imam mereka.

Inilah akibat daripada sedikitnya keilmuan mereka terhadap Al Qur’an dan Hadits, dan tata cara memahaminya yang benar.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 1…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sejarah Munculnya Bid’ah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 1 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan Haqiiqotul Bid’ah…

Kita sekarang masuk ke…

⚉  Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah

Disini penulis buku mengatakan bahwa sebab-sebab munculnya bid’ah ada dua macam:

1⃣ SEBAB YANG BERSIFAT TAKDIR DARI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.

Artinya bahwa perpecahan itu sudah Allah takdirkan, karena adanya hikmah-hikmah yang besar dibaliknya.

Allah berfirman [QS Hud :118-119]

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
‎إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

‘Kalaulah Allah Robb-mu berkehendak, Allah akan jadikan manusia itu satu aqidah, satu ummat dan mereka akan terus senantiasa berselisih kecuali yang dirahmati oleh Robb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka dan telah sempurna kalimat Robb-mu bahwa Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dari kalangan jin dan manusia seluruhnya.’

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa perpecahan perselisihan itu sudah Allah takdirkan. Dan tentunya adanya perselisihan… banyak sekali hikmah-hikmahnya, diantara hikmah adanya perpecahan, perselisihan akan terlihat orang yang mengikuti dalil dengan orang yang mengikuti hawa nafsu, akan terlihat orang yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan orang yang tidak sungguh-sungguh.

2⃣ SEBAB DARI MANUSIA ITU SENDIRI.

Apa saja ? Ada beberapa macam:

1. Mengikuti hawa nafsu
Oleh karena itulah ahli bid’ah disebut oleh para Ulama sebagai Ahlul hawa (pengikut hawa nafsu) karena mereka beragama sesuai dengan hawa nafsu dan keinginan mereka saja, bukan sesuai dengan dalil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
‘Sebab munculnya kesesatan yang paling utama adalah mengikuti dugaan dan hawa nafsu’  [dalam kitab Majmu Fatawa jilid 3/ hal. 384]

Dan memang benar bahwa orang yang mengikuti sebatas dugaan-dugaan pendapat tanpa dalil dan hujjah, demikian pula mengikuti hawa nafsu, maka pasti akan tersesat. Tapi orang yang berusaha untuk mengikuti dalil maka ia, in-syaa Allah, akan tertunjuki.

‘Umar bin Khattab rodhiallahu ’anhu berkata sebagaimana dikeluarkan oleh Alalika’i dalam Kitab Syarah Itikod Ahlusunnah wal Jama’ah jilid 1/hal 123, kata ‘Umar:
‘Jauhi oleh kalian orang-orang yang hanya sebatas berpendapat dengan ro’yu (pendapat akal), karena mereka sebenarnya musuh-musuh sunnah, mereka merasa lelah tidak mampu untuk menghafal hadits, maka mereka kemudian berbicara sebatas dengan ro’yu (akal pikirannya saja). Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.’

Disini Beliau mengatakan bahwa orang yang hanya berpendapat dengan ro’yu (pendapat-pendapat akalnya) tanpa melihat dalil dari Al Qur’an dan Hadits pemahaman Salafush-sholih itu pasti akan tersesat.

Kenapa muncul orang yang berpendapat dengan akal ?
👉🏼  Karena mereka malas untuk mencari dalil, untuk mengkaji dalil dan tata cara memahaminya, mereka lebih senang menggunakan akal pikiran mereka saja.
Dan ini adalah merupakan kebiasaan ahli bid’ah. Munculnya kebid’ahan akibat daripada mengedepankan ro’yu daripada dalil, lebih mengedepankan dugaan-dugaan dan hawa nafsu, sehingga munculnya kebid’ahan itu adalah akibat dari itu.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN